Tuesday, May 1, 2007

PERAWAN TING TING

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi
penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera
disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong.
Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang,
karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku
ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu
berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya.
Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. "Wah gawat
gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno
seharian", gumamku.
Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air
es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda.
Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku
kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat
terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena
penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada
obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku
terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini
adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus
nancap. "Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha menenangkan
diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang
belum tersentuh.
Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan
pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat. "Selamat sore
Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.
ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi
kosong sebelahku. "Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om
bisa bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar
itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang
tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu
mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti. "Cari sendiri di rak bawah
televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan
majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa
tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya.
Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya
putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh
yang mulai berkembang itu.
"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana" Selama ini
aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku.
Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru
kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal.
Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar
tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah kesempatan bagi
penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan
anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting
birahimu terlampiaskan".
Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu
berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci
pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku
memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia
tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan
adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak
berusaha memalingkan pandangannya.
Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari
belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang
melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari
belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya.
Dia melenguh dan hendak memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."
Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat
jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang.
Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan
di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi
segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna
hitam.
"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua
kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian
kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu.
Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan
dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak
menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya.
Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah
masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan
mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku,
seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding
vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik
ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali
orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan.
Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas
buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku
bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.
"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan
kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"
Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua
kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah.
Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku
harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak
kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah
kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke
bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin
terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih
sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin
melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku
masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan
nyeri.
"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas. Dia
mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya.
Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah
ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk. "Auw.. sakit Om.." Renny
menjerit tertahan. Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya
terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian
aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju.
Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi. Aku merasa penisku
menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik
darah membasahi sprei.
Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk
menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai
turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya
pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis
itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya
dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau
pundakku.
"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu enak sekali Om.." Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai
posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu
macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan
itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum
spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya
menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk
tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin
hamil dong" Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku
tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.
"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai
gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong" Beberapa saat kemudian birahiku
bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia
sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya
memerawani ABG tetangga.