Tuesday, May 1, 2007

SELINGKUH VS INTIM

Kisah ini sengaja saya tulis untuk sedikit membantu saya membebaskan
perasaan yang benar-benar terpendam dalam diri saya untuk sekian
lamanya. Saya adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Semua orang
memuji kecantikan diri saya walaupun kulit saya tidak bisa dikatakan
putih. Entah mereka yang saya kenal maupun selentingan dan kekaguman
orang di luar sana. Baik yang mengungkapkan langsung maupun yang
disampaikan melalui orang lain.
Nama saya Nanik. Saya adalah anak pertama dari sebuah keluarga yang
serba berkecukupan. Ayah saya adalah seorang pengusaha di bidang
perbankan yang cukup diperhitungkan di daerah saya. Saya menikah
atas dasar paksaan ayah saya. Sungguh tidak mengenakan menikah
dengan orang yang tidak saya cintai, walaupun sudah kurang lebih
sembilan tahun usia pernikahan kami. Suami saya, Bramono, adalah
seorang dokter yang sedang mengambil spesialisasi bedah di Rumah
Sakit pemerintah di kota kami. Terlihat hebat memang. Tapi sayangnya
keluarganya ternyata memiliki bibit keturunan "orang stress". Ini
yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk lebih baik
mengadopsi daripada memiliki keturunan 'stress'.
Sikapnya sebagai suami sama sekali tidak mencerminkan seorang suami.
Terlebih saat dia menyadari bahwa dirinya adalah kesayangan ayah
saya, mertuanya. Beberapa alasan ayah saya sangat menyayanginya
adalah karena suami saya adalah seorang dokter dan (katanya) adalah
keturunan orang terhormat. Terhormat? Menjaga nama baik diri sendiri
saja tidak bisa, apalagi nama baik keluarga dan rumah tangga? Sudah
cukup lama saya bertahan menjaga nama baik keluarga, hingga akhirnya
saya menyadari bahwa ada pihak ketiga yang mengganggu rumah tangga
kami.
Namanya Erna. Dia seorang mahasiswi kedokteran hewan yang menjadi
gundik suami saya untuk sekian tahun lamanya. Sama sekali tidak ada
yang menarik dari dirinya. Kalau boleh saya menyombongkan diri,
perbedaan saya dan dirinya ibarat langit dan bumi. Entah apa yang
diinginkan suami saya dari dirinya. Bukan hanya nama baik rumah
tangga kami yang tercoreng, tapi juga nama baik orang tua saya. Dia
membawa 'gundik'nya itu dengan leluasa menggunakan kendaraan pribadi
ayah saya, karena memang ia belum mampu memiliki sebuah mobil.
Bahkan untuk membeli bautnya pun mungkin masih meminta uang dari
saya.
Di tengah kebingungan, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti
program Magister Manajemen yang baru saja dibuka di sebuah
universitas negeri di kota saya. Di sini saya banyak menjumpai teman
baru. Kejenuhan dan kebingungan saya mulai sedikit terobati dengan
aktivitas belajar baik di kampus maupun di luar.
Entah angin darimana yang berhembus, saya mendengar bahwa salah
seorang teman kuliah saya bertempat tinggal di daerah perumahan yang
sama dengan Erni. Tiba-tiba timbul kembali rasa penasaran terhadap
'gundik' suami saya itu. Ibarat wartawan, saya pun mulai melancarkan
beberapa pertanyaan daerah seputar perumahan tersebut.
Namanya Eri. Begitu setidaknya ia dipanggil. Pertama memang ia
menaruh curiga terhadap pertanyaan saya. Saya berusaha membohonginya
agar aib rumah tangga saya tidak terbongkar. Namun karena rasa
penasarannya yang begitu besar, saya tidak dapat lagi menutupinya.
Terlebih dia begitu jelas memberi informasi mengenai dimana lokasi
tepatnya Erni tinggal dan keadaan sekelilingnya. Hingga akhirnya
saya meminta tolong untuk sesekali mengintip apakah suami saya
pernah berkunjung ke sana. Akibatnya, saya sering berhubungan
dengannya untuk mendapatkan informasi lebih darinya.
Dari sekedar menerima informasi dan meminta tolong lagi, akhirnya
saya tidak dapat menahan lagi penderitaan yang saya alami. Saya
akhirnya sering berkeluh kesah mengenai keadaan rumah tangga saya
yang sebenarnya. Entah kenapa saya lakukan ini. Eri adalah totally
stranger, yang seharusnya sama sekali tidak mengetahui kondisi
intern rumah tangga kami. Tapi bagaimana lagi? Saya sudah sering
berkeluh kesah dengan orang tua mengenai suami saya. Mereka hanya
menyuruh saya untuk bersabar. Dengan adik saya, mereka memang merasa
kasihan kepada saya, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak
karena kesibukan bisnisnya. Saya juga pernah berkeluh kesah dengan
bibi (tante) saya yang belum menikah, namun dengan cepat dia
menjawab, "Waduh, janganlah bicara itu kepada saya, saya tidak sama
sekali tidak tahu masalah seperti itu!" Kemana lagi saya harus
berkeluh?
Pada awal cerita saya kepada Eri, dia memang menganjurkan agar saya
berbicara kepada orang tua saya. Namun itu merupakan anjuran basi
bagi saya. Eri tidak putus asa. Dia terus memberi dukungan secara
moral. Yang membuat diri saya seolah semakin tenang berada di
sisinya untuk mendengarkan dan menerima dukungannya. Kemudian dia
pun membuka rahasia mengenai dirinya. Mengenai siapa dirinya
sebenarnya dan bagaimana kondisi orang tuanya. Dari situ saya
melihat beberapa kemiripan diantara kami berdua. Saya pun mulai
comfortable apabila sudah berada di sisinya. Dan pertemuan pun
sering kami atur. Entah itu berkedok kelompok belajar atau lainnya.
Hingga akhirnya, entah kenapa tumbuh rasa suka saya kepada dirinya,
dan di suatu saat Eri memberanikan diri untuk menyentuh tangan saya
dan memegangnya. Saya merasakan getaran yang ia jalarkan ke diri
saya. Akhirnya tanpa saya sangka, ia mengutarakan perasaannya.
Perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan terhadap dirinya.
Singkat cerita, kami mulai sepakat saling mengasihi. Dan kami pun
mulai secara rutin bertemu untuk berbagi kasih. Walau pun hanya
sebatas di dalam mobil saya.
Kekagetan saya yang berikutnya adalah sewaktu Eri tiba-tiba mencium
bibir saya. Lucu rasanya saya mengenang kejadian tersebut. Seolah
saya adalah seorang gadis yang baru pertama kali dicium oleh pria.
Saya tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, saya memang
mencintainya. Di sisi lain, saya sudah menikah dan bersuami. Kembali
dia melayangkan kecupan dibarengi dengan sedikit lumatan pada bibir
saya. Saya tetap tidak berkutik. Hingga akhirnya dia
bertanya,"Kenapa tidak dibalas?" Setelah kami saling tatap untuk
beberapa saat. Akhirnya..... saya pun membalas lumatan bibirnya.
Kisah kasih kami terus berjalan dengan sedikit bumbu saling cemburu
apabila saya terkesan mulai den\kat dengan suami saya, atau saya
mendengar isu bahwa Eri berkenalan dengan seorang gadis. Tapi itu
semua tetap tidak mempengaruhi cinta kami. Percumbuan kami semakin
hangat. Dia pun mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh saya.
Baik dengan menggunakan tangannya atau dengan mulutnya. Buah dada
saya yang berukuran 36B ini sudah sering kali menjadi sasaran empuk
mulutnya. Dan saya sangat menikmatinya. Saya pun sering mencumbu
dadanya yang lapang, dan sesekali mempermainkan mulut dan lidah saya
di pentilnya. Dia pun sangat menikmatinya. Hingga akhirnya permainan
kami mengalami peningkatan. Jemarinya mulai terampil menyusup kepada
celana dalamnya dan mempermainkan klitoris saya. Saya mulai
merasakan geli dan nikmat bercampur menjadi satu, terlebih apabila
ia kombinasikan dengan mencumbu tubuh saya. Kami saling bergantian
mencumbu hingga akhirnya pun saya hanyut dalam kebiasaan melakukan
oral sex terhadapnya. Dia begitu surprise saat saya melakukan oral.
Eri tidak menyangka, seperti halnya saya. Saya bahkan sempat
terheran pada diri saya sendiri. Banarkah saya melakukan ini?
Pertama kali saya melakukan oral sex terhadapnya, memang saya kikuk
sekali. Eri hanya membuka sedikit celana dalamnya hingga kepala
penisnya tersembul. Entah kenapa, saat saya sedang mencumbu
tubuhnya, saya sangat terdorong untuk mencumbu penisnya dan
memasukkannya ke dalam mulut saya. Dan sejak saat itu, percumbuan
kami belumlah lengkap apabila saya belum melakukan oral sex
terhadapnya. Bagi saya, saya merasa memiliki hobby baru. Membuatnya
nikmat melalui oral sex.
Hingga suatu saat di tengah percumbuan hebat kami dimana pakaian
kami sudah hampir terbuka semua, di jok belakang mobil saya di
pelataran parkir department store "R" yang terletak di jalan yang
menggunakan nama seorang pangeran, ia mengangkat rok saya dan
menyingkap sedikit celana dalam saya, lalu kemudian dengan cepat dan
lembutnya, Eri mencumbu dan menyapu vagina saya dengan lidahnya.
Sungguh saya dibuatnya kaget dan bingung yang bukan kepalang. Suami
saya sama sekali tidak pernah melakukan hal ini terhadap saya. Di
tengah kebingungan itu, saya sama sekali tidak tahu harus berbuat
apa. Saya mencintainya, tapi saya sama sekali tidak menyangka hingga
sejauh ini kisah asmara kami. Begitu lembutnya dia mempermainkan
klitoris saya dengan sapuan lidahnya, hingga akhirnya rasa bingung
itu lenyap ditelan rasa geli dan nikmat yang sudah menjalar di
sekujur tubuh saya. Saya hanya bisa meremas rambut kepalanya,
menekan kepalanya lebih dekat di vagina saya yang kian membasah.
Kenikmatan itu juga yang akhirnya membuat saya mengangkat kedua paha
dengan lebih membuka kangkangan keduanya. Setelah kurang lebih lima
belas menit dia menjilati klitoris saya dengan berbagai cara, saya
disuruhnya rebah di jok belakang dan segera dia menindih saya.
Rupanya Eri telah menurunkan celananya tanpa sepengetahuan saya
sewaktu saya masih melayang-layang. Dengan cepat Eri menyodorkan
penisnya menuju bibir vagina saya. Dan mempermainkan kepala penisnya
di bibir vagina saya. Saya kembali menggelinjang. Sama sekali tidak
terbesit di benak saya, bahwa kami masih bermain di area parkir
sebuah pusat belanja yang terletak di jalan "D". Yang suatu saat
dapat dipergoki satpam. Kembali saya tersentak hebat saat kepala
penisnya menggesek-gesek klitoris saya dengan agak kuat. Tubuh saya
mulai bergetar hebat. Apa ini yang dinamakan luapan birahi? Karena
vagina saya yang sudah basah sejak tadi, Eri tidak mendapat
kesulitan untuk akhirnya dengan cepat dan lembut menyelipkan
penisnya di liang vagina saya.
Saya kembali tersentak dalam sejuta kenikmatan. Sebuah benda yang
besar dan panjang menyelinap masuk secara perlahan, sehingga
menimbulkan gesekan halus pada klitoris saya. Tubuh saya mengejang
sesaat. Tiba-tiba muncul rasa heran yang amat sangat dalam diri
saya. Selama ini saya tidak pernah merasakan nikmatnya sex dengan
suami saya. Yang saya tahu selama ini, sex adalah menyakitkan. Saya
hanya menjadi mesin pemuas nafsu sex suami saya tanpa peduli apakah
saya menikmatinya atau tidak. Nikmat sex seolah-olah hanya dongeng
belaka di telinga saya. Tapi Eri... seolah-olah dia kini memberikan
bukti bahwa nikmat sex itu ada. Dan nyata. Kini saya sadar
sepenuhnya. Saya semakin mencintainya. Saya pun kembali larut dalam
kebahagiaan nikmatnya sex. Saya pun menyambut cintanya, juga
menyambut goyangannya tidak kalah hebat. Seolah saya ingin
menumpahkan dan mencapai kenikmatan sex yang baru saya rasakan dan
ingin memberitahunya untuk bersama menikmati sex ini sepuas-puasnya.
Entah berapa lama kami bercinta dan saling berpacu dalam nafsu
birahi di dalam mobil Genio berwarna gelap bernomor polisi D* 1**9
**. Akhirnya dia membiarkan saya selesai terlebih dahulu. Sungguh
saya tidak menyangka bahwa kenikmatan sex itu begitu indah,
menyenangkan dan memuaskan. Saya pun dibuatnya lemas dan tidak
bertenaga, terkapar di jok mobil. Telentang tidak berdaya, dengan
rasa sejuta bahagia dan kepuasan yang tidak ternilai. Sementara Eri
akhirnya mempercepat ritme ayunan pinggulnya dan saya merasakan
adanya semburan hangat di dalam vagina saya. Semburan sperma Eri.
Saya sempat khawatir akan kehamilan akibat hubungan kami. Tapi Eri
segera berbisik bahwa dia ingin saya hamil dan membesarkan anak
tersebut. Berangsur-angsur kekhawatiran saya menghilang. Di satu
sisi, keinginan saya untuk hamil bisa saja terkabul. Dan ini yang
saya tunggu. Akhirnya siasat pun diatur, apalagi golongan darah Eri
sama persis dengan suami saya. Sejak saat itu, kami pun rutin
melakukan hubungan sex untuk saling meluapkan cinta dan memuaskan
nafsu birahi kami, dimana pun kami sempat. Bahkan pernah di ruangan
kantor saya pada saat sepi, Eri meminta saya untuk berdiri
membungkuk di tepi meja kerja saya dan dia menyetubuhi saya dari
belakang dengan terlebih dahulu mengangkat rok dan menurunkan celana
saya dan kemudian mempermainkan vagina saya dengan lidahnya yang
kasat.
Kini bukan saja suami saya yang berselingkuh. Saya pun turut
terjerumus dalam dunia perselingkuhan. Perselingkuhan yang saya rasa
adalah abadi. Apakah ini semua karena cinta sejati saya dengan Eri?
Apakah karena awalnya kawin paksa oleh ayah saya, hingga tidak
pernah ada cinta antara saya dan suami saya? Hingga kini hubungan
saya dan Eri telah berusia dua tahun, baik hubungan komunikasi
maupun secara sexual. Kami tetap saling memperhatikan, mengasihi,
menjaga dan juga saling mengisi kekurangan satu sama lain. Seperti
layaknya suami istri sejati. Kini saya sudah tidak peduli lagi
terhadap apa yang dilakukan suami saya. Anak kandung saya dari hasil
hubungan intim saya dengan Eri dan anak angkat saya pun lebih dekat
dengan Eri ketimbang suami saya. Entah kenapa, saya sangat
berbahagia menjalani semua ini. Saya sudah menemukan cinta sejati
saya. Untuk Eri, apabila Anda membaca cerita ini, saya ingin
mengatakan kepada Anda bahwa kami bertiga sangat mencintai dan
merindukanmu. Salam dari Surya, putra kandungmu dan Nindi, putri
angkatku.