Tuesday, May 1, 2007

BIRAHI MODEL

Namaku Sony, wajahku lumayan ganteng, tubuh tinggi dan sexy. Tetapi
keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Makanya aku pergi ke kota untuk
mencari pekerjaan yang dapat memenuhi masa depanku. Pada waktu aku
sedang mencari pekerjaan, kulihat ada papan iklan di sudut jalan,
"DICARI COWOK DAN CEWEK UNTUK JADI MODEL..." Aku tertarik dan
langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan papan iklan itu. Setelah
sampai, kulihat tempatnya ramai dengan orang yang ikut mendaftar
menjadi model. Aku langsung saja masuk ke tempat itu.
Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya sama Mbak yang mengurus
bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih...
"Namanya siapa Mas..?" katanya.
"Sony, Mbak.." kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.
"Boleh lihat kartu identitasnya Mas..?" katanya lagi.
"Ini Mbak.." kataku sambil menyerahkan KTP.
"Ok.., sekarang Mas masuk ke ruangan test ya... Mas jalan aja lurus,
terus belok kanan.., nach disitu Mas masuk aja ya..!" katanya.
Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.
Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa
cewek-cowok yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk.
Pasti mereka tidak lulus test... aduh aku jadi takut dan badanku
jadi gemetar tidak karuan. Lalu.., "Mas Sony..." tiba-tiba ada suara
memanggil namaku. Langsung saja aku masuk ke ruangan test. Disitu
ada 2 cewek cantik, mereka berdua memakai baju ketat, sehingga susu
yang besar terlihat seperti menyembul, dan di bagian bawah mereka
hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari 'anu'-nya.
"Mas Sony ya..? Aduh gantengnya. Sudah pernah jadi model
sebelumnya..?" katanya.
"Belum pernah Mbak... Saya baru aja datang dari desa..." kataku
lugu.
"Ooo... sekarang coba buka baju dan celananya Mas ya..?" katanya.
"Lho kok pake buka baju segala sih Mbak..? Emangnya Sony mau
diapain..?" kataku.
"Mas mau jadi model nggak..? Kalau mau jadi model, ya harus nurut..!
Ya.., ayo cepet gih buka bajunya... sini biar kami bantu." katanya
sambil terus menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara
temannya yang satunya melepaskan celanaku.
Lalu sekarang aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua
yang cantik itu. Gundukan batang kejantananku di balik celana
dalamku terpampang dengan jelas di depan mereka.
"Wow, besar juga ya kontol Mas. Mas Sony udah pernah ngeseks
sebelumnya..?" tanyanya ketika melihat gundukan senjata kemaluanku
di balik celana dalamku.
"Belum pernah Mbak... Emangnya kenapa sih Mbak kok nanya yang
gituan..?" kataku sambil memandang mereka yang kelihatannya tertarik
dengan batang kejantananku yang lumayan besar.
"Begini Mas, kami mencari beberapa model yang masih 'hijau'
pengalamannya..."
"Apa hubungannya Mbak jadi model sama pengalaman... khan lebih
banyak pengalamannya maka semakin bagus dia nantinya..." kataku.
"Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan
begitulah... sekarang saya mau ngetest kontol Mas... ok..?" katanya
sambil terus membuka pakaiannya satu-persatu, sementara yang satunya
mendekatiku.
Dia memeluk tubuhku, menciumiku dan meraba-raba tubuhku. Sementara
Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya, sehingga susunya yang
besar tergantung bebas. Rupanya dia tidak memakai BH. Wow..,
ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat susu sebesar itu. Lalu
dia melepas rok mininya, dan... ohhh.., terpampanglah bentuk
kemaluannya yang gundul dan montok itu. Setelah itu dia mendekatiku
sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi
teransang, dan akhirnya batang kejantananku menegang dan bertambah
besar gundukannya di celana dalamku. Dia menggoyangkan tubuhnya
sambil menempelkan kemaluannya ke gundukan batang kejantananku.
Ohhh.., batang kejantananku bertambah keras saja mendapatkan
perlakuan seperti itu.
"Mas Son, CD-nya dibuka ya..? Kasihan yang di dalam pengen ketemu
temennya..." katanya sambil dipelorotkannya celana dalamku. Seketika
itu juga batang kejantananku berdiri dengan kokohnya bagaikan
"Pedang Nagapuspa".
"Aduh Mas.., kontolnya besar sekali... eehhmmm..." katanya lagi
sambil mengurut batang kemaluanku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah,
dia terus dengan lembutnya mempermainkan kemaluanku. Lalu aku
disuruh tidur telentang. Sementara aku tidur di lantai yang dingin,
Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang kemaluanku.
Sementara itu Mbak yang satunya yang baru saja selesai membuka
pakaiannya, langsung saja mengangkangkan kakinya di atas wajahku.
Kemaluannya yang dikelilingi bulu lebat itu ditempelkannya di
wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut. Lalu.., "Jilatin
dong Mas Son... eehhmm..." katanya memelas. Akhirnya kudekatkan juga
kepalaku ke lembah kemaluannya. Tercium bau khas vagina, dan
kujulurkan lidahku menjilati kemaluannya yang sudah basah itu. Dia
mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia
meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting
susunya.
"Oh... yesss..., jilat terus Mas.., ohhh.. yess..!" katanya sambil
tangannya diangkat sebelah, sempat terlihat olehku bulu ketiaknya
yang lebat sekali. Mbak ini sungguh maniak sekali.
Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat, "Aaahh... ohh..
yesss... aargghh..," lalu dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu
menekan tubuhnya ke bawah agar kepalaku menempel lebih kuat lagi ke
vaginanya. Aku jadi susah bernafas dibuatnya. Dia tambah mengerang,
sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang jenatananku
yang tambah mengeras.
"Lagi Mas... arghh.. sshhh.. yah.. yah.. lagi.. oohh.." makin
menggila lagi dia ketika aku mencoba mengulum klitorisnya dan
memainkannya dengan lidahku di dalam mulut. Aku memasukkan lidahku
sedalam-dalamnya ke dalam lubang kemaluannya. Bau cairan kewanitaan
semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba
dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan badannya naik
turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang. Saat
itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar
dari liang kewanitaannya. Kujilati semuanya.
"Ohhh.. God... Bener-bener hebat kamu Mas Son... ahh... ngak kuat
lagi deh untuk berdiri... shitt..!" dia terbujur lemas di sampingku.
Aku hanya tersenyum, lalu Mbak yang tadi mengulum batang
kejantananku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas senjataku.
Dan, "Bless..." dimasukkannya batangku pada lubangnya yang hangat
dan sudah basah sekali. Dia pun mulai menggoyangkan tubuhnya
perlahan-lahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul
dengan gerakan memutar. Wah.., Mbak ini rupanya sudah profesional
sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia juga
hanya berani gerak perlahan-lahan tetapi teratur.
Dengan posisinya itu, Mbak itu terlihat sangat cantik dan seksi,
buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah
duduk berusaha untuk menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya
bertambah cepat, jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang saat
ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas batang
kejantananku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam
lubang pantatnya. Cairan dari vaginanya dan penisku membasahi lubang
pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan
jariku mengikuti irama turun naik badannya, dia terlihat menikmati
sambil melempar kepalanya ke belakang. Dia kemudian mengerang,
"Ooocchhh... aachhh... yesss..!"
Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya, dan
berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua
jari memasuki lubang pantatnya, dan batang kejantananku di
vaginanya, dia setengah berteriak bilang, "Mas Son.., aku mau
keluar.., ohhh... yesss..!" Dia berhenti naik turun dan menekan
vaginanya keras-keras ke pangkal batangku, dan tidak lama terasa
lubang kemaluannya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dengan
keras sambil memelukku dengan kuat. Dengan pijitan vaginanya, aku
tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku juga akan
keluar.
"Please.., give it to me, I want to feel it inside me.." katanya
menjawab desahanku tadi.
Semprotan spermaku terasa sangat kuat dan banyak sekali. Bersamaan
dengan semprotan itu, dia bilang, "Aku keluar lagi Mas Son..,
oocchh.. it so gooddd..." Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah,
seakan-akan batang kejantananku kurang dalam memasuki liangnya.
Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil
digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kemaluanku di dalam
dibatasi oleh dinding pantat dan vaginanya. Dengan tetap memeluk
tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin itu. Kakinya
melingkar di pinggangku dan penisku tetap berada di dalam vaginanya.
Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh
Mbak itu sambil berkata, "Terima kasih Mas... Mas Sony memang
perkasa."
Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur itu,
Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang
kejantananku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang
kemaluanku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang penisku dihisap
dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Dengan cepat batang kejantanku
menjadi keras lagi, dan dia berkata, "Mas Son, please fuck me from
behind." Dia terus membelakangiku, dan pantat serta vaginanya
terlihat merekah dan basah. Sebelum aku memasukkan bnatang
kemaluanku, kujilat dulu vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau
sabun LUX di kedua lubangnya, dan sangat bersih.
"Boleh juga nih cewek.." kupikir. Cairan dari vaginanya mulai
membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku.
Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan
penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan perlahan
sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar
dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan
posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil
membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas,
dari bawah vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo Mas.., masukkan kontolnya... please now." katanya sudah tidak
sabaran. Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan penisku ke
vaginanya. Dengan posisi ini aku bergerak mememasuk-keluarkan
penisku.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, "Mas Son aku mau
keluar, kita sama-sama Mas... ohhh... yesss..!" Vaginanya diperkecil
dan memijat penisku, dan dengan bersamaan kami emncapai puncak
kenikmatan itu. Aku masih dapat juga keluar, walaupun tadi sudah
keluar banyak sekali. Dan yang kali ini sama enaknya.
Kami bertiga tertidur, aku dipeluk sama dua Mbak-Mbak yang asoy itu.

Tetapi tiba-tiba.., "Sari.. Mira.., apa-apaan ini..? Disuruh kerja
kok malah tidur. Ayo bangun..!" tiba-tiba suara itu muncul. Aku
terbangun dan melihat wanita cantik yang umurnya mungkin diatas
Mbak-Mbak itu. Langsung saja kedua Mbak-Mbak itu berpakaian. Ketika
aku mau berpakaian, "Kamu anak muda... cepet masuk dan jangan
dipakai dulu bajunya... kamu belum selesai ditest.. ngerti..? Ayo
cepet masuk ke ruanganku..!" katanya. Setelah itu aku masuk ke
ruangannya, tante cantik itu pamit ke kamar mandi.
Setelah menunggu sendirian di ruang kerjanya, aku iseng-iseng
membuka album foto di depanku. Setelah kubuka, betapa terkejutnya
diriku, semua foto disitu membuat batang kejantananku menjadi naik
lagi. Ada foto seorang cewek dan cowok telanjang. Aku takut nanti
ketahuan, maka langsung kututup album itu. Di ruangan itu terdapat
rak-rak audio-video. Setelah kuperiksa, ternyata ada beberapa keping
CD dan VCD. Aku curiga dengan dua keping VCD yang tidak ada
sampulnya. Maka, langsung saja kumasukkan CD-nya, terus kuputar.
Saat muncul opening scene, disitu tertulis, "SEX Intertainment, Ltd"
"Aduh..! Pasti film biru.." pikirku. Dan ternyata benar, isinya film
BF, judulnya "Daun Muda". Disitu adegan antara cewek seusia
tante-tante yang vaginanya dimasuki penis para perjaka muda. Terus
ada juga adegan 69, tante-tante itu dengan rakusnya melahap batang
kemaluan para cowok-cowok muda.
Karena teransang, aku mengelus-elus batangb kejantananku yang sudah
tegang. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil di belakangku. Aku
kaget, malu dan salah tingkah, karena tante cantik itu sudah berada
di belakangku. Langsung saja kumatikan TV-nya, lalu aku tertunduk
malu sambil melihat batang kemaluanku yang mulai mengecil. "Kamu
suka juga ya rupanya. Aduh besar juga ya punyamu. Kamu benar-benar
cowok yang masih hijau Sayang..."
Aku tersenyum, dan tidak berani melihat wajahnya.
"Eee... siapa namanya tadi..?" katanya.
"Sony, tante.." kataku.
"Ooo.., Sony. Sony sayang, kamu udah sering gitu juga kan..?"
katanya.
"Eeee... cuman sekali Tante, dengan pacar Sony di kampung." kataku.
"Satu apa dua.. hayooo ngaku aja dech. Tadi ama pegawai Tante kamu
ngeseks juga khan..?" katanya.
"Oh... ya.. ya... Sony lupa... hee.. heee..." jawabku sambil
menatapnya.
Tante itu memakai baju ketat, sehingga susunya yang lebih besar dari
kedua mbak tadi seakan memanggilku untuk menyentuhnya. Bagian
bawahnya hanya memakai rok super mini, sehingga kedua kaki
jenjangnya terlihat begitu putih dan mulus. Kemudian tante cantik
itu duduk di sebelahku. "Tante tadi lagi buang air, tapi terus
terdengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah..,
uh. Terus tante intip kamu lagi ngocok punyamu. Kamu nggak tahu
ya..?"
"Ya Tante.." kataku.
"Sony sayang, kamu benar-benar ingin jadi model..? Apa sih tujuanmu
Sayang..?" tanyanya.
"Sony cuman butuh uang dan pekerjaan, Tante." kataku.
"Cuman itu, nggak ada yang lain, Sayang..?" katanya."Ya Tante...
cuman itu." kataku.
"Kamu mau kalau Tante suruh apa aja..?" katanya lebih mengorek.
"Sony akan nurut ama Tante, asalkan Sony dapat uang, Tante..."
kataku.
"Kamu betul-betul cowok lugu Sony sayang... Tante akan menolong
kamu. Kamu mau Tante ajarin sex tingkat tinggi, Sayang..?" katanya.
"Sony akan lakukan apa yang Tante suruh, tapi Sony ingin tahu nama
Tante dulu, khan kita belum berkenalan tadi.." kataku.
"Nama lengkap Tante, Juliet atau biasa dipanggil Nyi Ringin Ireng.."
katanya.
"Kok namanya aneh Tante... apa maksudnya nama itu..?" tanyaku.
"Begini Syang, 'Nyi' itu 'cewek dewasa', terus 'Ringin' itu 'pohon
beringin' atau bisa dimaksudkan 'hutan', yang artinya bulu-bulu di
tubuh Tante, di ketek, di kemaluan, dan lain-lain... terus 'Ireng'
itu 'hitam'. Kamu khan tahu bulu itu warnanya hitam... begicu Sony,
ngerti khan..?" katanya.
"Sony ngerti Tante. Oh ya, Tante jadi nggak ngajarin Sony ilmu sex
tingkat tinggi..?" kataku.
"Tentu Sony sayang. Tante akan tunjukin kebisaan Tante yang telah
membuat cowok-cowok di seluruh nusantara ini ketagihan..."
Tangannya memegang kedua pipiku, "Son kamu ganteng dech..." Lalu
kupeluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya.
"Ayo Tante.., ajarin Sony, bimbing Sony.., kasih tau Sony harus
gimana saja. Tante khan juara dunia sejati. Tante khan udah punya
jam terbang banyak. Tunjukin itu dong Tante..!" kataku.
"Sabar Sony sayang.., Tante akan ajarkan bagaimana ngesex dengan
benar.." katanya seraya mencium bibirku.
"Ayo peluk Tante, Sony sayang..!" Lalu aku mengangguk, terus
memeluknya dan mengelus rambutnya yang indah itu. Tante Juliet
berdiri, dan menghampiri rak audio, terus dia memutar CD lagu-lagu
House.
Lalu tante kembali menghampiriku.
"Sony sayang..," bisiknya.
"Mm.., beri Sony ilmu itu, Tante..!" Lalu kupeluk Tante Juliet
dengan erat.
"Apa yang harus Sony lakukan, Tante..?" kataku.
"Sony pingin merasakan sesuatu yang indah bersama Tante..? Tante
juga Sony sayang, Tante ingin merasakan batangmu itu merobek punya
Tante." katanya sedikit bermanja.
"Sony sayang, menurut kamu Tante masih menarik nggak sih..?" Aku
agak bingung dan hanya dapat mengangguk memberi jawaban.
"Sony sayang, ayo cium bibir Tante sayang..!" Lalu adegan pagutan ke
bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Tante
Juliet mulai bergetar.
Dengan instingku yang baru saja dipupuk, kuraba puting kirinya
perlahan.
"Uhh, ya gitu Sayang, teruskan..!" dengusnya. Kurasakan debar
jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup
bahunya yang terbuka, karena baju atasnya kubuka sedikit. Dia
menggeliat.
"Nikmat sekali Sayang... kamu pinter Son..!" bisiknya sambil matanya
tetap terpejam. Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya
masih terpejam. Lalu tangan Tante Juliet memegangi tanganku.
Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya lembut,
lalu pipinya, telinganya, dan tengkuknya.
"Apa lagi sekarang, Tante..?" bisikku. "Ayo ciumi leher Tante yang
jenjang ini Sony sayang..!" katanya. Lalu kucium lehernya, kurasakan
debar jantungnya dan bunyi nafasnya yang mengeras. Lalu tangan
kirinya diangkat untuk memegangi tengkuknya sendiri. Saat sekilas
kutatap bagian ketiaknya, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu
ketiak Tante Juliet ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow..!
seperti tidak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian
bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow..! Aku
belum pernah melihat bulu ketiak selebat itu. Dengan lembut kuraba
kedua ketiak itu.
"Nggak pernah dicukur ya Tante..?" kataku penasaran.
"Sony sayang, seorang cewek yang bulu keteknya lebat itu berarti
nafsunya tinggi sekali sayang... Coba kamu rasakan nikmatnya..."
katanya. Lalu kucium ketiak berbulu lebat itu. Wow..! Enak e rek..!
Bau asli tubuh aduhai itu menyergap hidungku. Bau alami itu
bertambah dengan bulu lebat, sepanjang hampir 6-9 cm. Dari ketiak
kanan, aku pindah ke ketiak kiri. Sama, ternyata aroma dan sensasi
bulunya yang sebelah kiri dengan yang kanan tidak berbeda. Aku
terangsang sekali, sehingga batang kejantananku tambah menegang.
Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba
kedua puting susunya. Keras sekali. Kupegang lembut susunya yang
tergantung itu. Kenyal sekali. Nafsuku semakin berkobar.
Akhirnya baju atasnya itu kulepas. Dan, wow..! Susunya besar dan
kencang, dengan puting mungilnya yang mengeras. Puting itu berwarna
kecoklatan.
"Ayo remas susu Tante, Son..!" katanya. Lalu kuremes pelan kedua
susunya.
"Oh yesss..! Nikmat Son.., teruskan Sayang..!" Kuciumi lehernya,
tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya sambil mempermainkan
puting dan payudaranya.
"Tante, Sony suka ketek berbulu lebat Tante, tetek dan puting Tante
juga, ehm..." Tante Juliet tersenyum, kupandangi tubuh indah itu
yang sekarang tinggal bercelana dalam tipis.
Baru kusadar, di bawah pusarnya tampak segitiga warna hitam.
Bentuknya mirip celana dalam, jadi bila tante tidak pakai celana
dalam, itu bukanlah masalah, karena bulu-bulu kemaluannya sudah
membentuk celana dalam. Itu pasti bulu kemaluannya yang dia bilang
seperti hutan beringin. Aku jadi tambah penasaran. Aku tambah begitu
bernafsu ingin tahu, dan Tante Juliet rupanya tahu hal itu.
"Sony sayang, kamu pingin liat 'hutan Kalimantan'-ku yang lain
ya..?"
"Biar Sony lihat sendiri ya Tante..?" kataku. Lalu aku menciumi
pusarnya, dan turun ke bawah tanpa membuka celana dalamnya, hingga
kurasakan bulu tebal tergesek ke hidungku, hingga jadi geli ingin
bersin. Setelah itu kusisipkan jariku ke celana dalamnya. Kurasakan
ketebalan bulu kemaluannya yang lebat. Aku tidak tahu dimana
klitoris dan labia mayoranya.
"Rasakan Son, pasti kamu tahu, ayo... do it..!" katanya. Berkat
tuntunannya, jemariku mulai tahu mana yang klitoris, mana yang labia
mayora. Jemariku basah sekali karena cairan dari vagina yang berbulu
lebat itu. Celana dalam tante jadi basah, sehingga semakin menempel
ke vulva, dan bulu lebat itu makin terlihat jelas.
"Ayo sekarang buka CD Tante... please..! Tante udah nggak tahan
nich..!" katanya. Lalu dipeganginya kepalaku yang setengah plontos,
lalu digesek-gesekkan ke celana dalamnya yang basah kuyup dengan
aroma yang khas dari vaginanya itu.
"Stop Son... Tante udah nggak tahan Son..!" katanya. Tiba-tiba dia
melepas celana dalamnya, dan melemparkannya ke lantai. Lalu, wow..!
Luar biasa, benar dugaanku... bulu lebatnya membentuk segitiga
seperti celana dalam. Lalu kunaikkan kaki kanannya ke kursi
kerjanya. Wah..! Luar biasa. Kelebatan bulu kemaluannya menutupi
vulva. Kusibakkan bulu kemaluannya itu, lalu tampaklah vulva yang
berwarna agak gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda.
Aku terkesima. Kusibak dan belai bulu kemaluannya yang sedikit basah
itu. Aku terus memandanginya. Lalu kuraba klitorisnya yang menyembul
keras dan agak gelap itu.
"Ohhh... hhmmm... kamu nakal ya..!" katanya.
Batang kemaluanku kian menegang, kulihat ada tetesan maniku. Aku
menghela nafas.
"Sekarang giliran batangmu ya, Sayang..?" kata Tante Juliet yang
kemudian duduk di kursi kerjanya itu. Aku yang dari tadi sudah
telanjang dengan batang kejantanan yang menegak lalu mendekat ke
tempat Tante Juliet duduk. Tante Juliet terkesima, terus
dipandanginya batang kemaluanku. Tante Juliet langsung menggenggam
batang kejantananku dengan kedua tangannya sekaligus, sepertinya dia
mengukur panjang batang kemaluanku.
"Wow.., Son punya kamu dua kali genggaman tanganku..." katanya.
Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu
dilepas.
"Panas sekali punyamu Son.." bisiknya mesra.
Tidak lama kemudian, batang kejantananku mulai dilahap oleh Tante
Juliet. Mulutnya yang sensual itu seperti karet, mampu mengulum
hampir seluruh batangku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit
ke-7 merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut
Tante Juliet menyedoti penisku, seakan-akan ingin menelan habis
seluruh isi batangku. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan
Tante Juliet nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap batang
kejantananku tersebut. Belum puas dengan yang itu, Tante Juliet
mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat penisku hampir keluar
setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu
terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang
terjadi antara permukaan penisku dengan dinding mulut Tante Juliet
membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi
ditambah dengan permainan mulut Tante Juliet yang semakin bertambah
ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah.
"Ohhh... yesss... Tante sungguh hebattt... ohhh... Tante udah ya...
Sony nggak tahan nich..!" kataku. Kami menuju sofa, terus duduk
berdua berhadapan telanjang. Terus kucium bibirnya, pipinya, dan
keningnya. Terus dia berdiri.
"Mau kemana Tante..?" tanyaku.
"Ambil minuman Sayang.., tenggorokanku kering habis ngemut
punyamu.." Tante Juliet berjalan menuju kulkas, mengambil botol
besar Coca-Cola. Aku sangat teransang sekali sewaktu dia berjalan
membelakangiku. Dia berjalan dengan menggoyangkan pinggulnya sambil
kedua tangannya diangkat ke atas, sehingga kedua ketiaknya yang
lebat itu terlihat samar. Ohhh... pantatnya yang bulat dan besar itu
seakan membuatku jadi salah tingkah, sehingga kemaluanku bangun
lagi. Lalu saat dia kembali ke sofa, terlihatlah sekarang dengan
jelas bulu ketiaknya dan bulu kemaluannya yang lebat itu, dan lagi
susunya yang besar itu, ohhh...
Lalu kami minum bergantian dari botol yang sama. Kemudian bersandar
ke sofa, sama-sama diam.
"Gimana Tante, udah segar sekarang..?" tanyaku.
"Ya dong Sayang... aduhhh... punya kamu koq kecil lagi..?" katanya
sambil mengelus kemaluanku, dan aku hanya tersenyum.
"Sony sayang, jilatin punya Tante dong Sayang..!" katanya sambil
terus berdiri di depanku. Lalu kucium paha kanannya, lalu kiri, lalu
kanan, lalu kiri lagi, lalu pusarnya.
"Ohhh.. yeesss... teruskan Sayang... ohhh... sedeppp.. ahhh..!"
katanya. Karena nafsunya, akhirnya Tante dengan tidak sabar langsung
menarik kepalaku dan wajahku ditempelkannya ke bibir kemaluannya
yang penuh dengan bulu lebat itu. Kunaik-turunkan lidahku di vagina
yang lebat bulu itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa.
"Ayo jilat lebih dalam Sony sayang..!" katanya. Dengan lembut
kugesekkan lidahku ke klitorisnya, lalu labia mayoranya. Aku
merasakan begitu banyak cairan yang keluar.
"Ayo sayang sedot cairan Tante... ohhh.. yeess..!" katanya sambil
mendesis. Lalu langsung saja aku menyedotnya, "Slurping.., lumayan
juga ya Tante... segar juga.." Mungkin inilah jamunya seorang pria,
cairan vagina wanita lajang yang masih virgin. Tante Juliet tidak
tahan dengan perlakuanku, badannya terutama kakinya sampai gemetar
bagai terkena setrum, lalu dia duduk di sofa dengan kakinya
dibukanya lebar-lebar.
"Ayo sayang, bikin Tante keluar... ohhh... yesss..!" katanya.
Kepalaku menyeruak masuk ke dalam, terus kedua kakinya kuangkat,
sehingga terkuaklah bagian bibir kemaluannya. Kujulurkan lidahku ke
liang senggamanya yang basah itu. Kujilat.., lepas.., jilat..,
lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet jadi gemas
dibuatnya.
"Ayo dong Sayang. Kamu jahat deh.., Son. Tante udah nggak tahan
nich..!" katanya.
"Ya Tante, maafkan Sony..." kataku.
"Ayo Son, tunggu apa lagi... cepet bikin Tante keluar..!" katanya
sambil mendesis lagi. Dengan kedua jempolnya, tante merentangkan
bibir vaginanya agar lebih terbuka. Merah tua kecoklatan dan
mengkilat basah terlihat jelas warna vaginanya. Klitorisnya
mengeras, seperti biji kacang garing cap "Garuda".. ini kacangku.
Lalu dengan lembut kutempelkan ujung lidahku ke klitorisnya yang
mulai keras itu. Terus kulanjutkan dengan ilmu jilatan ala Shaolin
seperti yang diajarkan Tante Juliet.
"Ahhh... yesss.., nikmat.., terus dong Sayang..!" katanya. Sekarang
lidahku mulai bermain dengan kecepatan 350 km/jam... Klitoris itu
kujilati terus... terus... dan terus... Hingga tubuh tante bergetar
hebat. Lidahku terus menjelajah ke labia mayora, sampai banjir
permukaan vaginanya.
"Ouhh... yesss... Son... kamu pintar deh..." katanya. Lalu aku
sekarang duduk di sofa dan tante langsung jongkok di depanku dan
menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah
tegang itu tepat berada di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati
kakiku, mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke
betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Ohhh... lalu
naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, ohhh... setelah itu
dia berpindah ke lubang anusku. Diciumnya, dijilatinya dan ohhhh...
dimasukkannya jari tengahnya ke lubang anusku. Ohhhh... nikmatnya.
Lalu dia mulai mengelus-elus batang kemaluanku dan tangan satunya
memijit-mijit 'my twins egg'-ku. Aahhh... aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap
batang penisku, terus diemut-emutnya. Dia gerakkan kepalanya
naik-turun dengan batang kemaluanku masih berada di dalam mulutnya.
Terasa ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokannya dan masih
terus dia tekan. Semua batang kejantananku ditelan oleh Tante
Juliet, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya
dibesar-kecilkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batang
kemaluanku kemudian dikeluar-masukkan, tetapi tetap masuk seluruhnya
ke tenggorokannya.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan
yang satu memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi
dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar,
dan kubilang sama Tante Juliet, "Tante... Sony mau keluar...
ohhh..." Dikeluarkannya batang penisku dan bilang, "Go on come in my
mouth. I want to taste and drink your cum, Sony... hhhmm..!"
Batangku dimasukkannya lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan
lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.
Setelah beberapa kali keluar masuk, cairanku keluar di dalam mulut
tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya, terasa tengorokannya
mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi,
sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit
dikatakan. Perlahan-lahan dikeluarkannya batang kemaluanku.
"Punya kamu enak Sony sayang... Tante suka..!" katanya. Lalu
kuangkat tubuh Tante Juliet ke lantai, dan kubaringkan. Perlahan
kubuka pahanya lebar-lebar. Liang senggamanya yang tertutup bulu
lebat itu mungkin sudah terbuka agak lebar, habis pandanganku
tertutup bulu yang lebat itu.
"Tante, Sony udah nggak tahan nich..!" kataku memohon.
"Sabar dong Sayang... biar Tante yang memasukkan batangmu, ya..?"
katanya. Lalu tangan tante memegang penisku, dan membimbingnya ke
lubang kenikmatannya.
"Tekan disini Son... pelan-pelan yaaa..!" Lalu dengan hati-hati dia
membantuku memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Belum
sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
"Aaa.. sabar Sayang... oohhh... pelan-pelan Son..!" tangan kirinya
masih menggenggam batang kejantananku, menahan laju masuknya agar
tidak terlalu keras, sementara tangan kanannya meremas-remas
rambutku. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam
liang kewanitaannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi,
tetapi tangan tante membuat panisku susah untuk memasukkan lebih
dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang penisku, lalu kupegang
erat-erat pinggulnya.
Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi, "Ohhh..
yeess.. ohhh... ssshhh.. aachh... ohhh.. Sayang..!" kembali tante
mengerang dan meronta. Aku juga merasakan kenikmatan yang luar
biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia
berhenti meronta. Lalu kudorong sekuatnya batangku ke dalam lagi.
Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya. Aku berhenti
sejenak, menunggunya tenang dulu, lalu, "Lho koq berhenti.., ayo
goyang lagi donk Son..!" katanya. Lalu aku menggoyangkan penisku
keluar masuk di dalam vaginanya. Tante terus membimbingku dengan
menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami
bertahan diposisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis sambil
memejamkan mata, menikmati irama permainan kami.
Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit penisku dengan sangat
kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan,
dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
"Ohhh... ohhh... Sayang.., Tante udah mo keluar nich... sshh...
aaahhh.." katanya dengan goyangan pinggulnya sekarang sudah semakin
tidak beraturan, "Kamu kuat sekali Sayang..!" sambungnya. Aku
semakin mempercepat goyanganku.
"Aaahh... Tante... keluar Son.., ohhh... endanggg..!" dia
mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi
pahaku.Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasakan bahwa
aku akan keluar tidak lama lagi, dan akhirnya, "Ahhh... sshhh...
ohhh..!" kusemprotkan cairanku ke dalam liang kenikmatannya. Lalu
kucabut batang kemaluanku dan terduduk lemas di lantai.
"Kamu hebat Sayang... udah lama Tante nggak pernah klimaks...
oohhh..!" katanya girang.
"Ohhh... Sony cape' Tante.., udah tiga kali baginian... uhhh..!"
Tante kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sehabis
tante dari kamar mandi, dia menuju ke arahku lagi dan membersihkan
batang kejantananku dengan lap. Sambil membersihkan penisku, dia
berkata, "Son.., kamu belum selesai ditest... sekarang kamu kerjain
Tante dari belakang ya..?" katanya. Dia terus membelakangiku dan
pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tetapi
bekas-bekas spermaku sudah tidak ada.
Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu kemaluannya dan
lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya, dan sangat
bersih. Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya,
ditambah dengan ludahku. Dari ujung penisku terlihat cairan menetes
dari lubangnya. Kuarahkan batang penisku ke lubang vaginanya, dan
menekan ke dalam dengan pelan sambil merasakan gesekan daging kami
berdua. Suara becek terdengar dari kemaluan kami berdua, dan cukup
lama aku memompanya dengan posisi ini.
Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka
pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah,
vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo.., masukin lagi sekarang, Son..!"
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang penisku ke
lubang vaginanya. Dengan posisi ini aku mengeluar-masukkan
kejantananku lebih bersemangat. Setiap kali aku mendorong batang
kejantananku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia berkata, "Son.., Tante mo
keluar nich..!" Lalu bibir vaginanya diperkecil dan memijat batang
penisku. Kami keluar bersamaan, aku masih bisa juga keluar walaupun
tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya dengan
yang sebelumnya. "Sony.., kamu benar-benar hebat... kamu lulus
Sayang..!" katanya sambil memeluk dan mencium bibirku. Terus kami
berdua mandi untuk membersihkan badan kami.
Nah.., mulai sejak itu, aku menjadi seorang gigolo yang kerjanya
hanya memuaskan cewek-cewek kaya yang butuh kepuasan.