Tuesday, May 1, 2007

NICK C...3

Kepalaku sakit. Seperti otakku terlempar ke sana kemari setiap kali
aku menggerakaan leher. Segelas Screwdriver yang kuminum tadi masih
saja menunjukkan pengaruhnya. Aku memang tidak biasa minum, hanya
saja malam ini aku merasa ingin mabuk. Malam yang melelahkan, dan
menyakitkan. Aku memejamkan mataku, kejadian di lift tadi kembali
melintas dalam pikiranku. Ooohhh, mengapa Tuhan sedemikian kejamnya
sampai Nick harus melihat aku malam ini ? Begitu banyak cafe di
Jakarta, mengapa kami bertemu di cafe yang sama ?? Begitu ramai
orang di sana, mengapa ia harus melihatku ?
Di sampingku duduk seorang asing. seorang yang tidak kukenal sama
sekali sampai malam tadi. Seorang yang telah menikmati tubuhku malam
ini. Aku merasa kotor, ingin rasanya cepat sampai ke rumah sehingga
aku bisa membersihkan diriku. Di luar masih gerimis rintik-rintik
sisa hujan lebat semalam. Siapa gadis yang bersama Nick tadi ??
Kekasihnya kah ? Haruskah aku marah melihatnya berdua denganmu Nick
?? Suara-suara bergema di kepalaku. Tidak Tessa, sadarlah. Memangnya
siapa dirimu ?? Suara lain mengiang, mengingatkan keadaan diriku.
"Sudah hampir sampai nih, yang mana tempatmu ?" terdengar suara
orang asing itu. Mobilnya berjalan perlahan mendekati tempat
kontrakanku, hanya tinggal satu gang lagi. Tidak, jangan sampai dia
mengetahui tempatku.
"Di sini saja, aku ingin membeli sesuatu dulu" kataku ketika
mobilnya melewati warung Mbok Sum, janda beranak satu yang merupakan
langgananku kalau kehabisan sesuatu.
"Di sini ?? Apakah aman ?" keningnya berkerut mendengar
permintaanku.
"Tidak apa, warung itu adalah langgananku, dan aku sudah terbiasa
dengan lingkunganku" aku berkeras.
"Baiklah" ia menyerah. "Dan terima kasih untuk malam tadi".
Aku menganguk sekilas dan menyaksikan mobilnya meluncur pergi
ditelan kegelapan malam.
Aku melewati warung Mbok Sum. Bisa kulihat ia tidur di bagian dalam
warungnya. Terharu aku melihatnya. Betapa berat perjuangan perempuan
tua itu mencari makan di Jakarta ini. Untunglah anaknya sudah mulai
bekerja sebagai loper koran, bisa diharapkan untuk membantu ibunya.
Aku tidak jadi membeli permen untuk menghilangkan rasa tidak enak di
mulutku. Biarlah, aku toh sudah hampir sampai, tinggal menyikat
gigiku untuk itu.
Di remang malam pagar rumah kontrakanku sudah terlihat. Lalu tong
sampah yang kepenuhan. Lalu, hey, tidak salahkan mataku ? Agak jauh
di samping tong sampah, di bawah kerimbunan pohon akasia, sebuah
mobil jip berwarna hijau parkir miring dengan satu roda di atas
trotoar. Rupanya si empunya buru-buru, atau mabuk. Aku mendekat
dengan ragu-ragu. Sticker V-Kool di sisi pemgemudi itu serupa benar
dengan milik seorang yang kukenal baik. Perasaanku semakin tak
keruan ketika membungkuk untuk membaca nomor polisi mobil tersebut.
B 24......
My God, ternyata benar dia !!! Apa yang dilakukannya pukul setengah
4 pagi di sini ? Kuperiksa mobil tersebut. Kosong. Dengan risau
kulihat sekelilingku, di bawah pohon, di kolong mobil, bahkan di
selokan. Tapi tak kutemukan juga orangnya. Dengan setengah berlari
aku menuju pintu pagar. Terkunci, tepat seperti ketika kutinggalkan
tadi. Lalu kemana dia ? Cemas, lekas kubuka pintu pagarku. Dengan
buru-buru kukunci kembali pintu pagar. Kucoba menelepon Nick dari
cell-phone ku. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh tergeletak
di depan pintu rumah. Aku ingin menjerit, ketika tiba-tiba nampak
nyala hijau samar dari bagian saku tubuh itu diikuti lagu Mission
Impossible, tepat ketika cellphoneku mendapatkan nada dering.
"Nick !!!" aku berlutut di samping tubuh lunglai itu. Wajah Nick
tampak pucat, matanya terkatup rapat. Dalam keadaan tidak sadarpun
aku bisa melihat jelas gurat-gurat kesedihan di wajahnya. Karena
akukah ? Ingin menangis aku rasanya. Baju dan rambutnya basah kuyup.
Botol minuman keras yang sudah hampir kosong tergeletak agak jauh
dari kaki Nick, ada bekas muntah di situ. Dengan sebelah tangan
berusaha membuka pintu, tanganku satunya menahan kepala itu dalam
pangkuanku. Pintu terbuka dengan derit tajam. Kutepuk pelan pipinya,
"Nick, come on. Wake up Nick, you scared me". Lega hatiku ketika
akhirnya mata itu membuka, merah dan berair.
"Uhh.... Tess.... kau bersamanya........ aku..... menunggumu"
gumamnya kacau.
"Shhhh...... Nick, ayo bangun. Kau bisa sakit di luar" kucoba
menariknya bangun.
"Aku......dia bukan....apa-apa......cuma kamu Tess"
Berdarah hatiku mendengarnya. Tidak ada yang lebih jujur daripada
perkataan orang mabuk ketika menyesali sesuatu.
"Aku tidak layak untuk itu Nick, ayo bangun. Kita bicarakan nanti".
Sedikit kupaksa, akhirnya ia berusaha berdiri. Dengan susah payah
kuseret tubuh kami berdua. Bisa kurasakan berat badan Nick yang
bersandar pada lenganku.
******
Entah bagaimana, aku berhasil membawanya ke kamar mandi kamarku.
Kubaringkan Nick di bathtub. Kunyalakan water heaterku dan kubuka
keran airnya, lalu dengan penuh perjuangan aku berhasil membuka
pakaian dan celananya. Kulitnya pucat karena kedinginan. Semoga
tidak terkena pnemonia, pikirku. Dengan gayung, kusendok air yang
mengalir dari keran. Air hangat yang kusiramkan ke tubuhnya mulai
bekerja. Berangsur-angsur rona merah menjalari tubuhnya. Aku
memandikan Nick malam itu, seperti seorang bayi yang tidak berdaya,
penuh kepasrahan kepada ibunya. Tuhan, betapa aku mencintainya.
Kulepaskan pakaianku, lalu masuk ke dalam bathtub. Berimpitan dalam
bathtub itu, kubasuh tubuhku di bawah pandangan memuja Nick yang
terlihat jelas di matanya. Ia tidak berkata sepatahpun. Matanya
terus mengikuti setiap gerakanku.
Setelah selesai di kamar mandi, aku memapah Nick yang sudah lebih
kuat sekarang ke kamarku. Kusuruh ia berbaring di ranjangku
sementara aku menyiapkan kopi panas dan dua tangkup roti selai. Yah,
aku tidak suka susu, jadi tidak ada susu di rumahku. Terpaksalah,
tak ada susu kopi pun jadi. Sementara menunggu coffee maker-ku
bekerja, aku duduk di pinggiran ranjang. Kubelai rambutnya,
wajahnya, pipinya, merasakan setiap inci wajahnya, wajah yang
terkadang membuat malamku penuh air mata. Nick tidur meringkuk di
balik selimut, dengan tangan kananku dipeluk erat di dadanya, tangan
kiriku yang bebas bermain di wajah dan rambutnya. Wish this could
last forever. Aku ingin selalu menjaganya, berada di sampingnya bila
dia membutuhkanku, menjadi tempatnya menumpahkan duka dan tangis.
Entahlah, mungkinkah hal itu terjadi ?? Setelah apa yang terjadi
malam tadi ?? Di luar hujan kembali deras. Bisa kudengar bunyi titik
air menghantam genting. Untunglah aku pulang lebih cepat, kalau
tidak mungkin Nick masih di luar, kehujanan dan kedinginan
menungguku.
Kubangunkan Nick ketika kopi sudah matang, setengah kupaksa akhirnya
ia mau juga menghabiskan roti dan kopi yang kusiapkan untuknya. Lucu
melihatnya mengatupkan mulut rapat, kepalanya menggeleng kuat ketika
aku berusaha memasukkan gigitan terakhir roti selai ke mulutnya.
Tentu saja akhirnya aku yang menang, Nick tidak akan sampai hati
membuatku menangis. Seorang gentlemen sejati, dan seorang anak kecil
yang haus belaian sayang. Akhirnya kopi dan roti habis juga. Matanya
tidak merah lagi, dan sorot matanya yang kukenal baik sudah kembali.
Kami berpandangan dalam diam. Aku tahu, saat ini pasti akan tiba.
Moment yang selalu membuatku bermimpi buruk. Tiba-tiba aku merasa
kecil, mataku menghindar tatapannya. Aku tahu, ia ingin penjelasan
atas kejadian semalam. And he deserve one. Perutku tiba-tiba sakit.
"Tess, you remember when we first met ??" tanyanya memecah
kesunyian.
"Clearly. Hujan, Hoka-Hoka Bento, kopi, ekkaddo, salad dan sup miso"
mau tak mau aku tersenyum membayangkan pertemuan kami yang pertama.
Ia menyeringai, "Kau lupa lemon tea. Tapi bukan itu yang kumaksud.
Apakah kau pernah membayangkan kita jadi seperti ini sebelumnya Tess
?".
"I mean, resminya kita teman, but there's so much things involved
here. I love you. You love me. Why can't we be more than friends ??"
sambungnya lagi. Kali ini tidak ada senyum di wajahnya. Berbahaya.
"Cause it's better this way Nick" jawabku.
"So you can go out with other guy ? That stupid man on elevator
whose trying to touch your breast ???" terdengar suaranya naik satu
oktaf. Mata Nick mulai berkilat marah.
"Nick, don't yel at me. If you keep that tones, get out of my sight.
If you want explanation, keep your voices low" jawabku tenang.
Perdebatan panjang penuh dengan bentakan adalah hal terakhir yang
kuinginkan. Bila harus berakhir di sini, biarlah. Aku pasrah. Aku
tak bisa lagi menutupi rahasia ini, tidak terhadapnya.
Hening sejenak. Tampak Nick berusaha menguasai dirinya. Lalu ia
menganguk, "Okay. Cukup fair. But I have one condition".
"Apa ?" tanyaku.
"Sini, selimutan bareng-bareng" katanya lucu.
Aku tersenyum. Nick memang unpredictable. Sesaat lalu ia
marah-marah, sekarang sudah bisa bercanda. Aku menyusup ke dalam
selimut, berbaring di sebelahnya. Dengan tangan kanan aku meraih
tombol lampu ruangan. Sekarang penerangan yang ada hanyalah lampu
tidur kecil dengan sinar kuningnya yang lembut.
"Okay, let's get started" kataku.
"I don't care about your past, Tess. Only from the time we're
together. Rasanya cukup fair kalau aku berhak tahu hidupmu. You
change my life since that rainy day, 6 month ago, when first i met
you." katanya tenang.
"Okay Nick. Ready ?" Ia menganguk, maka kuceritakan semuanya.
******
Why, you run away from me ?
I'm not gonna hurt you
let me reach your heart
here's mine
keep it for me
why you're crying ??
people look down at you ?
a buch of hypocrite !!
to hell with them !
ssshhh baby, don't cry
I'm here now
share the pain with me
even a sinner need love
I'm sinner, too
you and i are the same
I'll take care of your heart
never let it breaks
won't let it loose
please ???
will you trust me ??
Part two : NICK.
Wanita itu melepaskan sackdress hitamnya perlahan, meninggalkan
sebentuk garis hitam melintang di punggungnya yang putih. Tangannya
menggapai ke belakang, melepas secarik kain yang menyangga dua bukit
di dadanya. Tulang belikatnya bergetar menahan dinginnya AC. Kakinya
yang panjang melangkah perlahan. Di depannya, seorang pria terbaring
di atas ranjang. Telanjang. Matanya memandang penuh nafsu
pemandangan yang tersaji di depannya. Napasnya terengah. Panas.
Nafsunya bergolak. Sang naga menggeliat. Keras. Si gadis menunduk.
Rambutnya sebahu, jatuh menyembunyikan wajahnya. Tangan si pria
meraih sang gadis. Ditariknya tubuh langsing itu ke bawah himpitan
tubuhnya sendiri. Butiran peluh berkilauan memantulkan cahaya lampu.
Mulutnya mencari sumber air kehidupan di bukit penuh pesona
tersebut. Kering. Tentu saja. Kehidupan belum lagi terbentuk di
rahim sang gadis. Si pria dengan rakus menghisapnya, tak perduli
rintihan pedih sang gadis. Kedua tangannya meluncur ke bawah,
melucuti selubung hitam yang menutupi lembah berhutan kelam. Si pria
terpana, ilusi membawanya terbang tinggi. Ia buta, bukan keindahan
yang tampak. Kenikmatanlah yang terbayang. Matanya tertutup oleh
nafsu, pikirannya kabur terselubung kabut birahi. Sang gadis
tergolek pasrah di bawah tindihannya. Sang naga menari ganas,
menyelusuri hutan dan lembah, terbang menghindar di angkasa. Ketika
ditemukan apa yang dicarinya, ia terhenyak, sang naga menghujani
hutan dan lembah tersebut dengan lava panasnya. Sang gadis
menyibakkan rambutnya yang hitam, lembut bagai sutra. Wajahnya
terlihat jelas sekarang.........
"Tidaaaaaaakkkkk !!!!" Aku menjerit keras. Bayangan itu kembali
menghantuiku. Mengejarku bagai hantu penasaran. Aku ingin
melupakannya. Ingin menghapusnya dari memoriku. Tapi aku tidak bisa.
Betapapun aku ingin melupakannya, aku tidak mampu. Aku terduduk di
tempat tidur, nafasku memburu. Telepon berdering di samping tempat
tidurku. Kuacuhkan. Akhirnya deringan mengganggu itu berhenti.
Kucabut batang Mild Seven terakhir yang tersisa di bungkusnya.
Dengan tangan masih gemetar kunyalakan Zippo-ku. Kunikmati hisapan
demi hisapan taktala asap penuh racun itu memasuki paru-paruku.
Pikiranku melayang kembali ke dua minggu yang lalu. Ke malam di mana
Tessa menceritakan kisah hidupnya kepadaku. Tessa, hatiku hancur
mengingat dirinya. Betapa berat beban yang harus ditanggungnya.
Haruskah aku meninggalkannya ? Kalau begitu apa bedanya aku dengan
orang-orang yang membayar untuk menikmati tubuhnya ? Tidak. Bukan
salahnya menjadi seorang........ahhh, tidak tega aku menyebutkannya.
Orang mengutuk wanita seperti dirinya, tapi secara munafik juga
mencari-cari kaumnya sebagai pelampias nafsu. Aku mencintainya,
bukan hanya tubuhnya. Seutuhnya. Dengan segala kekurangannya. Dan ia
mencintaiku, teramat sangat. Ia menangis malam itu, bukan untuk
dirinya, untuk diriku. Menangisi hatiku yang hancur karena dirinya.
Ia memberikan dirinya untukku. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga
hatinya, jiwanya. Dan sekarang mimpi buruk itu terus mengejarku. Aku
tidak rela laki-laki lain menikmati tubuh Tessa, tidak Tessa-ku. Aku
harus berbuat sesuatu. Kuraih telepon di samping tempat tidurku.
Banyak hal yang harus kulakukan hari ini.
"Tidak, tidak Nick. Bukan begitu caranya. Lagipula kau pasti
membutuhkannya" dari nada suaranya aku tahu Tessa tersinggung.
Bagaimanapun juga aku harus mencoba.
"Tess, bukan maksudku merendahkanmu. Tapi aku tidak ingin
membayangkan kau......bersama laki-laki lain" aku mencoba
membujuknya untuk menerima sejumlah uang yang kutransfer ke
rekeningnya. Pendapatan rutinku tiap bulan.
"Apa perdulimu Nick??? Kau tahu aku seorang pela....."
"Stop !!!! Aku tidak perduli siapa kau, aku hanya tahu aku
mencintaimu, aku tidak rela orang lain menikmati tubuhmu. Biar aku
membayarmu supaya kau tidak usah..." kata-kataku yang penuh amarah
terhenti di tengah jalan ketika tamparan Tessa meledak di mukaku.
Kulit mukaku pedih. Tapi tak ada artinya dibanding sakitnya hati
ini. Serasa ada ribuan jarum menusuk perutku. Mata Tessa yang indah
terbelalak, tangannya menutupi mulut yang mengeluarkan rintihan
lirih. Aku masih terdiam mematung ketika ia mendapatkanku dalam
pelukannya.
"Nick, ohh, Nick, i'm so sorry" bisiknya penuh penyesalan.
Masih kurasakan panas di mukaku. Belum reda perih di hatiku.
"Tess, jangan katakan aku tidak perduli. I love you, and i never
regret it. Did you know how much it hurts me just to think you
sleeping with another guy ?? I want you only for myself " kataku
pelan.
Kutatap matanya. Tuhan, akan kuberikan semua yang kumiliki agar mata
itu bersinar lagi. Agar gadis mungilku tidak menderita lagi. Ia
menganguk. Sebutir air mata jatuh menuruni hidungnya yang mancung.
"Baiklah Nick, aku menerimanya. Bukan sebagai bayaran atas diriku
karena aku menyerahkan diri kepadamu bukan untuk uang. Untuk
persahabatan kita".
Hubunganku dengan Tessa memang aneh. Aku mencintainya. Sedangkan
dari dirinya belum pernah sekalipun terucap kata yang satu itu. Ia
pun berkeras hubungan kami hanyalah teman baik. Sesuai perjanjian
yang kami buat, Tessa tidak lagi pergi bersama orang lain. Kini ia
bekerja full time sebagai junior staff accounting di tempatnya yang
lama. Aku memasukkan sejumlah uang ke rekeningnya sebagai 'ganti'
pendapatannya yang hilang. Tak sebanding tentu saja. Namun aku
bertekad untuk melepaskannya dari kehidupannya yang dulu. Dan ya,
aku tidur bersamanya. Tapi bukan karena itu aku membutuhkannya. Aku
membutuhkan dirinya karena ia selalu mengerti diriku. Persetan apa
kata orang mengenai hubungan kami. Hanya satu kata itu yang kutunggu
dari mulutnya. Sungguh penasaran aku dibuatnya. Setiap bagian
tubuhku mengatakan kalau iapun mencintaiku. Mengapa begitu berat
baginya untuk mengucapkan sepatah kata itu ?
*******
Aku terjaga dari tidurku. Udara pagi Megamendung yang dingin terasa
menyegarkan setelah sehari-hari menghirup udara kota Jakarta yang
penuh debu. Entah mengapa setiap kali pergi ke daerah gunung atau
pantai, aku selalu bangun pagi. Sejak mengikuti kegiatan pecinta
alam kala SMA, pagi hari di daerah yang masih alami selalu merupakan
momen yang paling indah bagiku. Matahari masih malu-malu memancarkan
sinarnya, tertutup oleh awan mendung kelabu, embun yang bergayut di
pucuk rumput, kabut tipis yang menggantung menyusur tanah. Semuanya
terasa begitu sempurna. Di sampingku terbaring Tessa-ku. Rambutnya
yang hitam sebahu berantakan di atas bantal. Matanya yang indah
terpejam rapat. Wajahnya begitu damai dalam tidurnya. Tak ada yang
akan menyangka dibalik wajah damai itu terdapat begitu banyak
kepahitan. Kurendahkan tubuhku. Kekecup lembut keningnya. Ia
menggeliat. Piyama yang dikenakannya tak mampu menutupi perut dan
pinggangnya yang putih. Aku tak tahan melihatnya. Kugelitik pinggang
putih itu. Ia menggeliat lagi. Tangannya menarik selimut menutupi
daerah yang menjadi incaran tangan nakalku. Aku tertawa. Ia
menggumam tak jelas.
"Anak nakal, sini masuk kalau berani" katanya mengantuk. Tentu saja
kuladeni tantangannya. Aku menyusup masuk ke dalam selimut itu.
Tanganku bersiap melanjutkan serangan ke pinggangnya. Tapi ia lebih
cepat. Tahu-tahu tubuhku sudah ditindihnya. Sia-sia kedua tanganku
yang dipegangnya di bawah himpitan punggungku sendiri mencoba
berontak. Dengan gemas digigitnya perutku sampai aku berteriak minta
ampun, barulah dilepas gigitannya itu.
Kupeluk tubuh langsing itu. Kubenamkan kepalaku di lehernya.
Kurasakan kehangatan tubuhnya, begitu mengundang. Aroma tubuhnya
membelai hidungku.
"Tess...."
"Hmmm...?"
"You smells good " aku berbisik di telinganya. Ia tersenyum. Masih
senyum yang sama yang mempesonaku, yang membuat hari-hariku cerah.
Kupuji diriku sendiri untuk membawanya ke sini, ke villa milik
keluarga Ken yang dipinjamkan kepadaku. Tessa tampak begitu bahagia
di sini. Tidak tampak sekalipun sinar matanya yang keruh selama kami
berada di sini.
"Did i taste good too ???" tanyanya menggoda.
"Delicious " jawabku tak kalah nakal. Aku teringat kembali adegan
semalam. Bersatunya tubuh dan hati kami. Begitu indah. Saling
memberikan kenikmatan kepada partnernya. Baru pada malam tadi Tessa
memperbolehkanku melakukannya tanpa pelindung. Selama ini ia selalu
memaksaku menggunakannya karena takut aku tertular penyakit. Terharu
aku ketika ia mengatakannya kepadaku. Kupeluk ia lebih erat. Kami
berdua terdiam, menikmati 'rasa' pelukan tersebut. Aneh juga,
bagaimana aku bisa mendeskripsikan 'rasa' yang abstrak itu ?
"Love you girl" bisikku di telinganya.
Seperti biasa, ia hanya tersenyum, kemudian mencium bibirku lembut.
Tiba-tiba ia bangun.
"Nick, ke jacuzzi yuk. Tess ingin mencobanya".
Aku menganguk menyetujui. Bersama-sama kami melangkah ke halaman. Ke
sebuah gazebo yang di tengahnya terdapat kolam bulat berdiameter
sekitar 1,5 meter. Kolam jacuzzi. Ken telah memberitahuku di mana
letak pompa air dan heaternya sehingga aku bisa mengisi dan
menghangatkan airnya sendiri tanpa harus memanggil penjaga villa
yang tinggal di kampung sebelah. Aku sengaja menyuruhnya pulang pada
hari kedatanganku, tidak ingin kehadirannya mengganggu saat
kebersamaanku dengan Tessa. Kunyalakan sebatang Mild Seven sambil
menunggu penuhnya kolam itu. Sebatang rokok itu kuhisap bergantian
dengan Tessa.
Akhirnya air kolam penuh juga. Kutarik lengan Tessa mendekati kolam.

"Nick, Tess ganti baju renang dulu"
"Hmm.....cuma ada kita berdua di sini. Kenapa harus pakai baju
segala?"
Mukanya sedikit merah mendengarkan ajakanku. Sebelum ia berubah
pikiran kutarik dia masuk ke kolam. Ternyata cukup dalam juga.
Kira-kira seleher Tessa kalau ia duduk. Kulepas pakaianku yang basah
kuyup. Kulempar begitu saja ke rumput. Demikian juga nasib sama
dialami sisa kain yang menempel di tubuhku. Kuraih Tessa. Dalam
beberapa detik tubuh atasnya tidak mengenakan apa-apa lagi. Aku
berhenti sejenak, mengagumi keindahan yang terpampang di depanku.
Kubenamkan mukaku di kehangatan dua bukit kecil di dadanya.
Tangannya lembut mengusap kepalaku. Kulepas celana piyama yang
digunakannya. Sekarang kami berdua telanjang. Kupeluk dia erat,
merasakan setiap inci kulit tubuhku menempel pada tubuhnya. Angin
dingin bertiup, membuat pundaknya menggigil. Kutarik dia ke bawah.
Terasa kehangatan air kolam melingkupi tubuhku. Semburan air hangat
dari lubang-lubang di sekeliling kolam bagai pijatan erotis yang
memanjakan tubuh kami berdua. Dalam posisi duduk berdampingan,
tangan nakalku kembali menyelusuri tubuhnya. Membelai, mengusap,
memijat, menggelitik bagian bagian yang sensitif. Air kolam merendam
tubuhnya, menyisakan bagian leher ke atas di atas air.
Tangannya menarik leherku mendekat. Bibirnya bergerak mencari
bibirku, antara bersentuhan dan tidak. Menggunakan lidahnya
membasahi bibirku, memancing lidahku keluar ikut bermain dengan
lidahnya. Di sela-sela ciuman itu masih sempat kubisikkan betapa aku
mencintainya. Kudengar rintihan lirih dari tenggorokannya. Tanpa
sadar tubuhnya sudah berada dalam pangkuanku. Kurasakan berat
tubuhnya pada paha atasku. Kejantananku beradu dengan bukit berambut
halus miliknya. Kakinya melingkari pingganggku, tangannya mencakar
punggungku. Pinggulnya bergerak, mencari posisi yang tepat agar
kejantananku bisa mencapai pasangannya. Tiba-tiba hujan turun.
Mula-mula hanya tetes ringan di atas rumput dan atap gazebo,
kemudian bertambah deras. Kejantananku memasuki dirinya pelan-pelan.
Setiap gerakan tubuhnya memberikan kenikmatan yang tak terlukiskan.
Matanya setengah terpejam, alisnya berkerut menahan nikmat yang juga
kuberikan kepadanya. Mulutnya mengeluarkan suara-suara rendah dari
tenggorokannya. Wajah dalam ekstase. berbeda dengan semalam, kali
ini gerakanku dan Tessa tidak tergesa. Ke atas, ke bawah, memutar,
semua kulakukan dengan gerakan lembut. Uap air naik menutupi
pandanganku, membuat sekelilingku berwarna putih susu.
Entah berapa kali aku hampir sampai ke puncak, tetapi setiap kali
aku hendak mencapai orgasme gerakan kami melambat, menunda puncak
kenikmatan yang menghampiri diriku. Tanpa kata-kata. Hanya erangan
dan rintihan yang menjadi komunikasi kami. Heran, darimana ia tahu
apa yang kumaksud dalam setiap eranganku. Dan darimana aku tahu apa
yang diinginkannya hanya dengan mendengar rintihannya. Tapi itulah
yang terjadi. Kilatan petir membelah langit. Kututup mulutnya dengan
mulutku. Kubawa kepalanya menyelam ke bawah air. Aku tahu ia takut
mendengar suara halilintar. Di dalam air mulutku bisa merasakan
kepasrahan dirinya. Suara deras hujan tiba-tiba tak terdengar lagi,
digantikan bunyi gelegak air yang menyembur. Dalam air seakan waktu
berhenti, paru-paru kami berbagi udara yang sama, tubuhnya bergetar.
Aku tahu, ia menantikan gelombang kenikmatan melanda dirinya.
Demikian juga denganku. Kubuka mataku dalam air yang menggelegak,
aku ingin melihat wajahnya ketika orgasme mengahantamnya. Aku sudah
tidak mampu bernafas, kuberikan semua persediaan udara dalam
paru-paruku kepadanya. Matanya juga terbuka, tepat ketika diriku
seakan-akan meledak oleh kenikmatan. Gelegar halilintar terdengar
samar dalam air. Tubuhnya mengejang dalam pelukanku. Tubuh kami
masih bergerak, memompa semua kenikmatan yang datang melanda.
Seperti ikan dilemparkan ke darat, kami berdua megap-megap ketika
kepala kami keluar dari air. Mengisi paru-paru kami dengan udara
segar yang membawa aroma hujan. Melayang tinggi, kesadaranku belum
kembali sepenuhnya. Bunyi hujan putus-putus terdengar di telingaku.
Kilat putih masih sambar menyambar dalam kepalaku. Lalu hening.
"That was.....incredible" kataku terbata-bata di telinganya. Tidak
ada kata yang mampu melukiskan keadaan itu dengan tepat. "Thanks".
Ia masih terdiam. Dadanya bergerak naik turun. Hanya matanya
memandangku penuh cinta. Kasihku. Aku tahu aku ingin menghabiskan
sisa hidupku bersamanya. Kami akan bersama selamanya.
Part three : Epiloque.
Dear Nick,
Tess baik-baik saja di sini. Hanya sedikit kedinginan. Bagaimana
denganmu ?? Jangan lupa dengan kesehatanmu. Tess akan marah sekali
kalau kau sampai sakit Nick. Makan yang teratur dan kurangi rokokmu.
Nick, jaga dirimu baik-baik ya.
Kau masih marah kepadaku Nick ?? Perusahaan bersedia mensponsori
pendidikanku di sini Nick. Tess pergi tanpa pamit karena aku tahu
bila aku bertemu denganmu mungkin sekali pikiranku akan berubah.
Maafkan Tess ya Nick.
Ingat ketika kita berdua di Villa ?? It was great Nick. One the best
time in my life. Kemudian ketika pulang dari villa kau bertanya
apakah aku bersedia hidup denganmu selamanya. Oh Nick, bahagianya
hatiku. Betapa inginnya bibir ini menjawab ya. Tess yakin kau akan
membahagiakanku Nick. Tess mencintaimu, sayangku.
Kau menangis Nick ?? Jangan menangis, cintaku. Tess pun sedih harus
meninggalkanmu. Tapi bukankah kaupun ingin agar Tess meninggalkan
kehidupan lama Tess ?? Ini jalan keluarnya Nick. Terima kasih atas
segala dukunganmu. Doakan aku berhasil Nick.
Kadang Tess berpikir, apakah kita berdua bisa bersama selalu. Tapi
aku terlalu menyayangimu untuk itu. Ketika kau mengenalkan Tess pada
orang tuamu mereka belum tahu siapa aku Nick. Relakah mereka
membiarkanmu bersamaku ? Tess tidak ingin hubunganmu dan orang tuamu
terganggu karena aku. Bagaimana bila suatu saat nanti, bila kita
bersama lalu bertemu dengan orang yang pernah bersama Tess ??? Tidak
Nick. Saat ini jalan hidup kita bersisian, tapi takkan pernah
bertemu. Mungkin nanti Nick, suatu saat bila memang kita ditakdirkan
bersama, kita akan bertemu lagi.
Aku pergi Nick, you will always in my heart. Lanjutkanlah hidupmu.
Jangan lupakan Tess, sayangku.......