Tuesday, May 1, 2007

NICK C...2

Sabtu, tengah hari. Workshop X-Com.
Gubrakkkkkkk!!!!! dua rim kertas kuarto mendarat di atas meja. Nick
yang sedang termenung, melotot marah pada orang yang menariknya
kembali ke alam nyata. Jim, sang Purchasing Manajer dari X-Com, toko
komputer tempat Nick mencari tambahan uang saku, berkacak pinggang
di hadapannya.
"Thinking of her, eh??"
"None of your business, Jim."
"Emang bukan sih, tapi Boss ngomel tuh ngeliat kerjaan elo belum
beres. Wake up man, kita banyak kerjaan nih."
Nick menghela napas sebelum kembali menekuni pekerjaan yang harus
diselesaikannya hari ini. Sebenarnya tidak ada bos atau karyawan di
XCom. Semua yang terlibat memiliki bagian dari toko tersebut, karena
modal awalnya memang berasal dari mereka sendiri. Hanya saja Ken,
yang tadi disebut Boss oleh Jim, ditunjuk secara tidak resmi menjadi
semacam "organizer" di kantor tersebut. Jabatan Nick sendiri, bila
mengikuti apa yang tercetak di kartu namanya, adalah Customer
Service. Kartu nama itu sendiri menjadi semacam lelucon bagi mereka,
karena pada prakteknya sehari-hari mereka saling menggantikan tugas
temannya yang berhalangan, bahkan si Boss sendiri sering turun ke
lapangan bila Jim atau Nick berhalangan. Sering Jim bercanda bila
ingin mencetak ulang kartu nama yang sudah habis, bahwa Ia ingin
'menaikkan' jabatannya sendiri menjadi boss.
Nokia di saku Nick bergetar. Dengan cepat dilepasnya obeng yang tadi
digunakan untuk memasang power supply pada casing yang baru setengah
diperbaiki itu. Matanya mencari nama Tessa di Layar HP-nya. Andre
HP, demikian tulisan yang berkedap-kedip di layar. Dengan sedikit
kecewa di jawabnya panggilan itu.
"Kenapa Dre?"
"Nick, nanti malem loe mo ikutan anak-anak ke .... nggak?". Andre
menyebut sebuah Cafe yang terletak di daerah Kuningan, tempatnya
biasa menghabiskan malam, dan uang, tentunya.
"Uhhmmm...... nggak deh. Gue lagi nggak mood."
"Susan ikut loh, gue udah bilang kalo mo ngajakin elo, makanya dia
ikut. Dia kan naksir elo Nick."
Nick menghela napas sebal. Susan. Bukan Susan yang merusak
konsentrasinya setiap kali Ia mulai bekerja. Bukan dia yang setiap
malam dibayangkan Nick berbaring di sampingnya. Bukan. Susan
hanyalah sebuah nama tak berarti baginya.
"Bilang sorry sama Susan. Gue nggak ikut," ucap Nick.
"Yahh...... kalo elo berubah pikiran langsung aja deh susul kita di
sana, ok??"
"Ok Dre. Bye."
"Bye."
Ditaruhnya kembali Nokia silver itu di sakunya. Nick ingin sekali
menghubungi Tessa, tapi Ia ingat bahwa tadi pagi ketika
menjemputnya, Tessa sudah berpesan supaya Nick tidak menelponnya
hari ini, kecuali untuk hal yang sangat penting. Nick tidak berani
menelpon Tessa bila sudah dipesan begitu. Pernah sekali, Nick nekat
menelpon walaupun Tessa sudah bilang bahwa Ia tidak ingin dihubungi
dan akibatnya Tessa marah besar. Nick masih ingat mereka bertengkar
hebat dan tidak saling berbicara selama seminggu. Akhirnya Tessa
berhasil membuat Nick berjanji untuk tidak menghubunginya bila Ia
tidak ingin diganggu.
Ini membuat Nick penasaran. Setelah kurang lebih 3 bulan Ia mengenal
Tessa masih banyak hal yang misterius tentang gadis itu. Dari sekian
banyak yang diketahuinya tentang Tessa, ada sisi gelap yang belum
terungkap olehnya. Ia tahu Tessa bekerja di sebuah kantor di kawasan
Sudirman sebagai Junior Accountant setelah menyelesaikan S1-nya
dalam waktu 3,5 tahun. Nick juga tahu tanggal ulang tahunnya, bahwa
Tessa setahun lebih tua darinya, bahwa orang tua Tessa tinggal di
Bandung setelah pensiun, dan Tessa tinggal sendiri di Jakarta sejak
Ia kuliah, tapi ada saat tertentu dimana Nick merasa bahwa Ia
sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai gadis itu. Seperti saat ini
misalnya, ketika kerinduannya memuncak, justru Ia tidak tahu apa
yang dikerjakan Tessa siang ini.
Frustasi karena ketidak berdayaannya melawan perasaan aneh dalam
dirinya setiap kali Ia memikirkan Tessa, Nick membenamkan diri dalam
pekerjaanya. Bahkan ajakan makan siang dari Ken dan teriakan Jim
yang mengumumkan kalau dia akan pulang hanya dijawab dengan angukan
tak perduli. Ken tahu, kalau temannya itu sedang sibuk bekerja
seperti itu, jangankan tidak makan siang, bahkan dua hari tidak
makan pun Nick sanggup. Ia tahu pasti, karena Nick adalah sahabatnya
sejak SMA.
Jam kukuk antik di dinding kantornya berbunyi 7 kali. Menyadarkan
Nick dari keasikannya bekerja. Tinggal sedikit lagi, pikirnya. Jim
bisa menyelesaikan sisanya Senin nanti. Ia beranjak menuju ke
ruangan sempit berukuran 2X3 meter yang hampir seluruh dindingnya
tertutup oleh poster bergambar Rinoa Heartily. Kantor si boss. Nick
tersenyum sendiri ketika melihat koleksi terbaru Ken yang bergambar
Rinoa dalam keadaan telanjang, entah dapat darimana. Temannya itu
memang terobsesi oleh Rinoa. Pernah suatu ketika Ken mengaku kalau
Ia membayangkan Rinoa ketika sedang bercinta. Gila, bercinta dengan
tokoh kartun, pikir Nick geli. Kursi boss kosong, tapi Ia tahu itu
bukan berarti Ken tidak ada di kantornya. Nick mencari ke kolong
meja dan menemukan Ken sedang tertidur di tempat favoritnya itu.
Memang temannya itu punya kebiasaan dan hobi yang nyentrik, tapi
Nick tahu Ia bisa diandalkan sebagai teman. Setelah meninggalkan
pesan di meja, Nick melangkah keluar. Pulang.
******
Sabtu, 21:10. Kamar kos Nick.
Nick membersihkan Gillette Mach 3 nya dengan cermat, lalu membasuh
bekas cukuran di mukanya dengan aftershave. Ia merasa segar setelah
mandi tadi. Tapi tetap saja ada 'empty feeling' di hatinya. Nick
memeriksa HP nya. Tidak ada missed call. Tessa tidak meneleponnya.
Perasaan sepi yang melanda dirinya sejak siang tadi mendadak hilang,
digantikan oleh rasa marah dan kesal, Ia merasa dirinya tidak
berarti bagi Tessa. Ia ingin Tessa mempercayainya, membagi semua
suka dan duka yang dirasakannya, tapi Nick mendapat kesan setiap
kali Ia mencoba setiap kali pula Tessa menarik dirinya menjauh,
menjaga jarak. Memang resminya mereka hanya teman, tapi Nick tahu
ada sesuatu yang lebih dari itu. Getar tubuh Tessa ketika Nick
memeluknya, setiap ciuman penuh kepasrahan di mulutnya, desah penuh
kepuasan Tessa di telinganya, Nick tidak percaya itu hanya sex
semata. There must be something more than that between them, he know
it for sure.
Frustasi, Nick membuka lemari bajunya dan mulai memilih baju yang
akan Ia kenakan malam ini. Ia telah memutuskan untuk mengikuti
ajakan Andre untuk bersenang-senag malam ini. Mungkin dengan sedikit
refreshing Ia akan berhasil melupakan Tessa dari pikirannya, paling
tidak untuk malam ini saja. Tak lupa digantinya kacamata minus yang
sedang digunakannya dengan sepasang contact lens hijau miliknya.
Kemudian ia menyelipkan sebungkus karet yang terendam larutan
Nonoxynol 9 di dompetnya. Bukannya Ia merencanakan untuk berhubungan
sex malam ini, hanya berjaga-jaga bila Ia sampai di 'point of no
return', kalau menuruti istilah Jim.
Nick menyalakan mobilnya, sambil menunggu mesin mobilnya panas, Ia
mencabut sebatang Mild Seven dari saku bajunya. Setelah asap rokok
memasuki para-parunya Ia merasa sedikit lebih rileks. Semua kejadian
yang dialaminya bersama Tessa selama 4 bulan terakhir ini
berlangsung dalam kilas balik di ingatannya. Sejak Ia tidur bersama
Tessa hidupnya berubah drastis, dari seorang workaholic yang
'dingin' tanpa perasaan menjadi seorang pencari kenikmatan yang
seakan-akan tidak pernah terpuaskan. She's good in bed, pikir Nick.
Ia tahu Tessa bukan perawan ketika pertama kali tidur dengannya,
tapi bukan masalah besar baginya. Ia tidak ingin menjadi munafik,
berlagak seperti seorang suci padahal dirinya sendiri bergelimang
dosa. Tapi benarkah yang dicarinya hanya kenikamtan semata? Mengapa
hatinya panas setiap kali ada pria yang memandang Tessa penuh nafsu?
dan mengapa pula setiap kali mereka berjauhan serasa ada sebagian
diri Nick yang hilang ? Nick tidak dapat menjawabnya.
Selama perjalanan Nick mencoba untuk benar-benar rileks, Ia berniat
untuk tidak memikirkan Tessa malam ini. Tak lama kemudian mobil Nick
memasuki tempat parkir sebuah gedung tempat Cafe yang disebutkan
Andre siang tadi. Nick meraih Nokia-nya. Dicarinya nomor HP Andre,
lalu Ia memijit tombol bergambar telepon hijau.
"Dre, gue udah di bawah nih. Elo tunggu di mana?"
"Langsung aja ke atas Nick, gue tunggu elo di tempat biasa."
"OK, wait for me then." Masih sempat di dengarnya Susan berteriak
kegirangan di latar belakang sebelum hubungan terputus.
*****
Sabtu, 23:30. JJ Cafe.
Speaker berkekuatan 30.000 watt menggelegarkan Magic Carpet Ride
versi remix dari Fatboy Slim. Irama house bercampur sedikit latino
mengundang para pengunjung untuk menggerakkan badannya. Segera saja
lantai disko yang tadinya tidak begitu ramai mendadak dipenuhi pria
dan wanita yang bergoyang dengan panasnya. Nick mengamati Susan yang
sedang bergoyang dengan asyik. Hmmmm, Ia harus mengakui malam itu
Susan tampil sangat luar biasa.
Tank-top keperakan membungkus tubuh bagian atasnya dengan terpaksa,
sekedar mencegah bagian dada yang membuat begitu banyak pria di
lantai disko, yang entah disengaja atau tidak bergerak mendekati
Susan, terekspose dengan bebas. Di bagian bawah, Susan mengenakan
rok pendek ketat dari kulit. Entah rok tersebut dipakai terlalu ke
bawah ataukah tank-top silver-nya yang dikenakan terlalu tinggi
sehingga menunjukkan perut dan pinggang yang rata. Sesekali tangan
Susan bergerak menggerai rambutnya yang sebahu, membuat dadanya yang
sudah menonjol penuh itu meronta-ronta. Sepatu Bot setinggi betis,
juga dari kulit, menonjolkan bentuk kakinya yang bagus sekaligus
menambah kesan seksi dan sedikit nakal.
Nick sendiri hanya bergerak sekedarnya mengikuti irama yang
menghentak lantai disko. Rupanya Susan tidak tahan melihat Nick
begitu dingin. Ia bergerak semakin mendekat. Dengan ahlinya Ia
mengangkat kedua lengannya yang bergerak mengikuti beat ke atas,
seperti seorang penari ular Ia mulai menggeserkan tubuhnya menyentuh
dada Nick. Sentuhan halus yang hanya sesekali mengenai tubuhnya itu
membuat Nick terpancing untuk bergerak lebih panas. Susan
menggerakkan bokongnya yang indah ke kiri kanan, se-sekali dengan
nakal di dorongnya pinggang ramping tersebut sehingga menyentuh
kemaluan Nick. Boy, she's really a teaser, pikirnya. Sebenarnya
Susan bukanlah wanita tipe Nick. Ia lebih suka yang bertubuh tinggi
langsing, dengan lekuk liku yang tidak terlalu menonjol.
Tapi apa dayanya, suasana lantai disko yang panas, setengah butir
Inex yang tadi dimimumnya dengan dua gelas Long Island mulai
menunjukkan pengaruhnya. Nick mulai mengikuti gerakan Susan, tubuh
mereka bersentuhan berkali-kali di tengah gerakan-gerakan mereka
yang semakin liar. Berpasang mata memandang mereka berdua dengan
iri, terutama yang pria memandang ke Susan dengan pandangan penuh
nafsu. Nick tidak memperdulikan semua itu. Mukanya terasa panas,
jantung dan pelipisnya berdenyut keras, mulutnya terasa kering,
pandangannya mengabur. Lampu spot-light warna warni dan lightning
berpendaran membuat gerakan di sekelilingnya bagai film yang diputar
dalam adegan lambat. Dilihatnya kepala Susan bergerak liar,
tangannya membuat gerakan membelai buah dadanya sendiri. frame demi
frame adegan tersebut terlihat dalam gerakan lambat di mata Nick.
Kemudian tanpa peringatan tangan Susan meraih bahu Nick, setengah
menariknya sehingga kini muka mereka berdekatan.
Ia bisa merasakan napas Susan yang hangat di pipinya, wangi Bvlgari
lembut bercampur dengan aroma keringat membelai hidungnya. Halusnya
kulit punggung Susan terasa bagai sutra di jemarinya. Dada Susan
lembut menekan dadanya sendiri, mengalirkan kehangatan yang tak
asing lagi di tubuhnya. Nick sedikit membungkuk, berbisik lembut di
telinga Susan.
"Bad girl, are you trying to tease me??"
"Hmm...... I'm trying Nick, you know I want you," bisik Susan.
"Guess you've made it, Sue."
"Really??" tanya Susan penasaran. Tangan kirinya menghilang ke
bawah, ke arah selangkangan Nick. Dibelainya dengan lembut tonjolan
keras di balik celana Nick.
Kepala Nick terasa ringan. Musik yang keras menghentak terdengar
timbul tenggelam di telinganya, serasa ada cahaya terang di otaknya.
Dinikmatinya belaian tangan Susan. Ia sendiri mulai meraba punggung
dan leher Susan, lalu berlanjut ke samping, ke arah payudara dan
perut yang langsing menantang. Didengarnya Susan mendesah di antara
musik hingar bingar. Pandangannya sayu, mulutnya setengah terbuka,
merah, menantang....
"Jangan di sini, di tempatmu saja," bisik Nick ketika Susan dengan
setengah sadar berusaha membuka ikat pinggangnya.
"Uhhh..... Ok, sori gue gak sadar," jawab Susan terengah-engah,
jelas Ia sudah mabuk. Mabuk oleh minuman keras dan oleh nafsunya
sendiri.
Sebenarnya Nick juga tidak lebih baik keadaannya, kejantannya terasa
sakit karena tidak bisa berdiri dengan leluasa. Kepalanya makin
ringan, berputaran, jantungnya masih berdenyut keras, tetapi Ia
memaksakan kakinya kembali ke Bar di lantai atas untuk berpamitan
dengan Andre yang berkumpul dengan teman-temannya yang lain di
sebuah reserved table.
"Guys, gue cabut dulu, ada urusan nih. Biar Susan gue anterin pulang
sekaligus, katanya dia kurang enak badan."
"Elo bisa nyetir Nick?? Apa perlu gue anterin?" tawar Andre.
"It's okay, gue cabut dulu ya, see ya all. Have fun," salam Nick
kepada mereka semua.
Terdengan sahutan dari sekelilingnya. Nick tidak tahu apakah mereka
percaya dengan alasan "kurang enak badan" nya Susan, dan sejujurnya
dia juga tidak perduli. Dengan langkah agak diseret, Ia bersama
Susan melangkah menuju Lift. Saat itulah Ia melihatnya. Kira-kira 5
meter di depannya, menghadap ke arah lain, tampak sepasang pria
wanita yang rupanya juga menunggu Lift.
Tidak mungkin salah, bahkan dalam keadaan setengah mabuk dan masih
'high' dengan penerangan secukupnya, Ia bisa mengenali seraut wajah
yang kerap kali mengisi lamunannya. Wajah yang menemaninya dalam
mimpi. Wajah yang bisa membuat hidupnya secerah mentari pagi, atau
sebaliknya bisa membuat hatinya begitu sakit dan perih seperti saat
sekarang ini.
Tessa tidak melihat Nick, tapi Nick bisa melihatnya dengan jelas.
Seorang pria tegap berusia 30-an merangkulnya ketat, tangannya
dengan kurang ajar menggerayangi payudara Tessa dari samping.
Bibirnya mencuri-curi kesempatan untuk mencicipi mulusnya leher
jenjang milik Tessa. Si empunya leher dan payudara itu sendiri
kelihatannya menanggapi dengan agak dingin perlakuan tersebut.
Pandangannya kosong, menerawang seakan-akan Ia tidak berada di sana.
Nick merasa hatinya tercabik-cabik. Wanita yang dicintainya sepenuh
hati, yang dikiranya sedang sibuk menyelesaikan tugas kantornya,
yang teleponnya ditunggu penuh harap oleh Nick seharian ini,
ternyata sedang berada dalam pelukan pria lain. Kakinya mendadak
lemas sehingga Ia terpaksa sedikit bersandar ke Susan bersamaan
dengan terbukanya pintu lift. Tessa menoleh ke arahnya, mulutnya
mendadak terbuka kaget, matanya membelalak seakan-akan melihat
hantu. Susan menariknya masuk ke dalam lift, diikuti oleh belasan
orang lain, termasuk Tessa dan pasangannya.
Di dalam lift posisi mereka memungkinkan Nick dan Tessa saling
berpandangan. Nick bisa melihat kelam mata Tessa dengan jelas. Ada
seribu kesedihan di sana. Sejuta tangis tanpa air mata. Herannya,
tidak ada kilat marah di mata Tessa. Ia bisa melihat bahu Tessa
bergetar halus, sedangkan pasangannya yang tolol itu masih saja
berusaha mencium daun telinga Tessa. Nick merasakan bibirnya
bergerak tanpa sadar memanggil nama Tessa tanpa suara. Matanya panas
terbakar cemburu dan amarah. Pelipisnya berdenyut dengan hebat
sampai Nick bisa merasakan tarikan otot wajahnya sendiri. Ia sadar
tidak adil untuk marah dan cemburu kepada Tessa karena bukankah Ia
pun sedang merangkul Susan sekarang ini? Tapi rasa hatinya
mengalahkan semua pertimbangan tersebut. Ia masih memandang Tessa
lekat-lekat. Cantiknya Ia malam ini, pikir Nick pahit. Kenyataanya,
Ia selalu nampak cantik di mata Nick, bahkan dalam keadaan seperti
sekarang ini.
Tessa melihat ekspresi wajah Nick. Ada kemarahan di mata Nick. Sinar
matanya membayangkan sakit hatinya, seperti juga hati Tessa yang
serasa disayat-sayat pisau berkarat. Tidak Nick, kau tidak mengerti,
jerit Tessa dalam hati. Hatiku pun sakit, sakit sekali. Tapi aku
tidak mampu menceritakannya kepadamu Nick. Maafkan aku Nick. Tessa
berhasil memaksakan seulas senyum getir.
Lift sampai di lantai dasar. Pintunya membuka, kerumunan orang
berdesakan keluar. Nick dan Susan keluar terakhir, berusaha agar
tidak terdorong masuk kembali oleh kelompok yang hendak memasuki
lift. Sesampainya di luar lift, Nick mencari bayangan Tessa, tapi
tak terlihat di manapun juga siluet punggung dan bahu yang kurus
itu. Nick dan Susan melangkah ke lapangan parkir, menghampiri mobil
Nick.
*****
00:47, Apartemen Susan.
"Oohhhhhh............ Nick. Yeah, feels so good."
Nick sedang menciumi leher Susan. Tangannya meremas lembut payudara
Susan yang kini tinggal mengenakan celana dalamnya. Nick sendiri
telah kehilangan bajunya, dan sekarang tangan Susan sedang
menyelesaikan pekerjaannya membuka ikat pinggang Nick yang tadi
tertunda di lantai disko. Tiba-tiba bayangan Tessa yang digerayangi
oleh partnernya melintas kembali. Nick merasa amarahnya mulai naik
ke ubun-ubun. Dengan sedikit kasar di dorongnya Susan sehingga
terbaring di ranjang. Ditendangnya celana panjangnya yang sudah
melorot sampai ke paha, sekarang Nick tinggal bercelana dalam. Susan
tak mau kalah. Dengan ahli dilepaskannya celana dalam Nick,
dibelainya kejantanan Nick, diremasnya pelan. Nick semakin buas, Ia
bergerak ke atas tubuh Susan. Bibir mereka bertemu, saling pagut,
saling gigit, lidah mereka berbelitan, air ludah mereka bercampur
menjadi satu. Setelah ciuman yang panas itu bibirnya turun ke arah
dua bukit yang bergetar, menunggu bibir Nick mengambil alih tugas
tangan yang kini berpindah ke pinggul Susan, berusaha melepas sisa
penutup tubuh yang masih menempel.
"Mmmmmppphhhh..... ohhhhhh, don't stop Nick, ahhhhhhh......."
"I want you NOW Nick, ahhhhhhhhh........"
"Pleaseee......."
Nick tidak menanggapi rintihan Susan, kini setelah segitiga pengaman
Susan terlepas, bibirnya berhenti menghisap puncak kedua bukit yang
memerah tersebut. Dijilatnya kedua putik itu, membuat Susan
lagi-lagi merintih. Kemudian diambilnya gelas red wine yang tadi
disuguhkan Susan, dengan perlahan Nick menuangkan sisa isi gelas
tersebut ke belahan dada yang membusung itu, dijilatnya dengan satu
jilatan panjang dan basah. Susan menggelinjang kegelian, kemudian
berteriak kecil ketika cairan merah tersebut mengalir ke perut dan
pinggangnya karena dengan segera Nick mengejar dengan lidahnya,
seakan-akan tidak rela kalau ada setetes cairan yang terlewat. Lidah
Nick akhirnya sampai ke daerah kewanitaan Susan. Daerah bukit
kemaluan yang menonjol itu bersih tanpa ada rambut. Nick mengambil
bantal dan mengganjalnya di bawah pinggul Susan sehingga keindahan
itu kini terbuka dengan jelasnya. Dengan tangannya Nick membuka paha
Susan lebih lebar, diurutnya dengan lembut pangkal paha Susan.
Kemudian mulailah lidahnya menari-nari. mencari klitoris yang sudah
membengkak penuh. Tidak digubrisnya erangan penuh kenikmatan yang
keluar dari mulut Susan, dinikmatinya cairan kental dengan bau khas
feromone bercampur red wine yang mengalir tanpa henti seiring dengan
gerakan lidahnya yang kini menggelitik kedua bibir luar vagina
Susan. Sesekali di sedotnya bibir tersebut, membuat Susan
meronta-ronta liar penuh kepuasan.
"Nick, please, I can't take it any longer. Get inside of me,
please......... AAAAHhhhhhhhhhhhh," tiba tiba kedua paha Susan
menjepit kepala Nick dengan kuat, tangannya mengepal mencari
pegangan di rambut Nick, pinggulnya terangkat tinggi, tubuhnya
bergetar hebat menyambut gelombang orgasme yang menghantamnya dengan
sejuta kenikmatan. Susan masih terengah-engah ketika didengarnya
bungkus plastik tersobek, Nick sedang mengeluarkan karet pelindung
dan mengenakannya.
"Jangan pakai Nick, I wanna feel you, the real you inside of me,"
kata Susan lemah. Ia masih lemas setelah orgasmenya yang pertama,
tapi rupanya Nick tidak akan memberinya kesempatan beristirahat.
Nick mengelus-ngelus sekujur tubuh Susan untuk meredakan gelombang
kenikmatan yang tersisa. Ia membuang bungkusan kondom yang terbuka
itu ke lantai. Kemudian dengan kasar Ia menaiki tubuh Susan,
Ditariknya kedua tangan Susan, ditindihnya dengan tangannya sendiri
di samping telinga Susan. Dijilatnya daun telinga Susan, dengan
keras lidahnya bermain di situ, kemudian bergeser ke belakang
telinga, lalu ke leher, turun ke bahu, kembali ke payudara Susan
yang kini terguncang bebas. Dirasakannya kejantannya bersentuhan
dengan kewanitaan Susan yang basah dan hangat. Dengan satu gerakan
keras Ia mendorong dirinya memasuki Susan, bibirnya mencari bibir
Susan, mencegahnya berteriak. Terasa oleh Nick betapa lidahnya di
hisap kuat, lidah Susan menari di langit-langit mulutnya menimbulkan
rasa geli yang nikmat. Ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur,
menerobos kewanitaan Susan berulang-ulang.
Pinggul Susan bergerak mengimbangi tusukan-tusukan Nick dengan
otomatis. Ke kiri dan ke kanan, lalu memutar, kejantanan Nick serasa
dipijat dan ditelan sekaligus. Rintihan Susan memancing gairah Nick
naik semakin tinggi, dipercepatnya gerakan pinggulnya.
"ooohhh..... feels so good babe....... yeah........"
Entah berapa lama Nick menyetubuhi Susan, menerima kenikmatan
bersatunya kedua jenis kelamin itu. Susan pun merasakan hal yang
sama, mulutnya menggumamkan nama Nick. Pinggulnya bergerak semakin
liar. Ia bisa merasakan gelombang orgasmenya yang kedua mulai
datang. Lebih nikmat dari yang pertama, seakan-akan ada sesuatu yang
makin besar dalam dirinya, siap meledak sewaktu-waktu. Sementara itu
Nick bergerak semakin cepat, mulutnya meracau.
"Uhhhh....... I'm cumming......, ohhhhhhhhhhhh."
Seiring dengan itu Susan menjerit panjang, Ia dilanda orgasmenya
yang kedua, lebih panjang, lebih nikmat, meledak dalam kontraksi
otot-otot vaginanya yang membuat Nick mencapai orgasmenya dalam
waktu yang hampir bersamaan.
"Ooooohhhhhhhh!!!" tubuh Nick menegang, kemudian ambruk, lemas,
disamping tubuh Susan.
Basah oleh keringat, tangan Susan membelai dada Nick. Gemetar.
Matanya membasah oleh air mata. Nick masih terdiam, menikmati
belaian Susan. Kemudian disadarinya isak tertahan dari tubuh
telanjang di sampingnya.
"Elo nangis Sue???" tanyanya.
Tidak ada jawaban, hanya bahu Susan yang berguncang menahan agar
tidak lebih banyak air mata yang keluar. Sepi. Hanya tangis pelan
Susan, ditambah dengung AC 3/4 pk di pojok ruangan yang terdengar.
Nick menghela napas. Ia membelai-belai tubuh Susan untuk
menenangkannya. Ditariknya selimut menutupi tubuh mereka berdua.
"Do you love her Nick???" tanya Susan tiba-tiba, memecah keheningan.

"Siapa?" Nick tersentak mendapat pertanyaan tiba-tiba tersebut.
"Wanita yang kita temui di lift tadi, namanya Tessa?? Jangan kaget,"
tambah Susan ketika dirasakannya tubuh Nick menegang.
"Walaupun setengah mabuk tapi gue masih bisa ngeliat gimana elo
orang berdua liat-liatan," kata Susan. Perih hati Nick kembali
meruyak, teringat pertemuannya dengan Tessa tadi.
"Do you??" kejar Susan lagi.
"Yes. I love her very much. Sometimes it hurts me coz i know i can't
live without her," bisik Nick pelan.
"Apa elo selalu nidurin cewe yang nggak elo suka cuma sebagai
pelampiasan kekecewaan elo aja Nick??" pertanyaan Susan itu menusuk
hatinya, membongkar rasa bersalah yang membuncah di hatinya.
"Elo tau Nick, gue sayang elo udah dari dulu, gue rela tidur sama
elo walaupun elo gak sayang gue. Tapi malem ini elo bener-bener
nyakitin gue," Susan mengusap air mata yang kembali mengalir di
sudut matanya.
"Sori kalo gue agak kasar tadi," ucap Nick.
"Bukan itu Nick, bukan fisik gue yang sakit. Tau nggak betapa
sakitnya gue begitu tau elo bercinta sama orang lain, bukan gue,
barusan," kata Susan lagi.
"Tapi..." kata kata Nick dipotong di tengah jalan.
"Elo manggil-manggil namanya tanpa sadar tadi," potong Susan
perlahan.
Seperti disambar petir rasanya. Nick termenung mendengar ucapan
Susan. Betapa Ia telah menyakiti hati gadis ini. Betapa jahatnya dia
terhadap Susan. Nick bergerak untuk memeluk Susan, untuk menyatakan
betapa menyesalnya dia atas perbuatannya. Tetapi Susan membalikkan
tubuhnya, kini punggungnya yang telanjang menghadap Nick.
"Nick, don't....." cegah Susan. "Tinggalin gue sendirian Nick, gue
butuh waktu buat mikir," katanya lagi.
Nick bangkit perlahan. Ia memakai kembali pakaiannya, lalu duduk di
pinggir ranjang. Tangannya meraih jemari Susan.
"Sue, gue jahat sekali sama elo. I'm sorry. Please, can we......"
Nick tidak melanjutkan kalimatnya. Ia berpikir apakah terlalu kejam
untuk meminta Susan tetap menjadi temannya, setelah apa yang Ia
perbuat malam ini. "Gue pergi Sue," Nick akhirnya berkata.
Dikecupnya kening gadis itu lembut. Sempat dilihatnya Susan
memejamkan mata, sia-sia mencegah dua butir air mata mengalir
keluar. Ia menganguk.
"Don't worry about me. Kunci pintunya Nick, trus balikin besok. biar
gue pake kunci cadangan."
Pelan-pelan, Nick melangkah ke luar dari kamar Susan. Sebotol wine
masih berdiri di atas meja, di sampingnya ada sebotol Black Label
yang masih setengah penuh, diambilnya botol itu. Ia ingin mabuk
malam ini. Di kepalanya segala pikiran bercampur aduk. Perasaannya
terhadap Tessa, kejadian tadi di cafe, persetubuhannya dengan Susan,
kata-kata Susan tadi. Ia ingin melupakan semuanya sejenak. Nick
melangkah keluar, ke tempat parkir.
Bersambung...