Tuesday, May 1, 2007

NEVA 1

Hujan begitu deras sore ini. Istriku, wanita sederhana yang kunikahi
3 tahun yang lalu nampak asyik menekuni kegemarannya mengisi TTS.
Ah, mengapa setiap memandang wajah sederhananya selalu terbersit
perasaan bersalah? Mengapa tidak bisa kuberikan seluruh cintaku
padanya? Hujan memang bangsat. Setiap titik airnya selalu
menggoreskan rinduku padanya. Istriku? Bukan, Neva. Wanita yang
selama sepuluh tahun ini dengan setia mengisi satu pojok hatiku.
Wanita yang selalu membuatku merasa bersalah pada istriku.
Perkenalan pertamaku dengannya terjadi sepuluh tahun yang lalu.
Waktu itu aku harus mengikuti KKN dari universitas paling ternama di
Yogyakarta. Pertama kali kenal, aku tidak peduli karena waktu itu
aku baru putus dari pacarku. Bayangkan saja 4 tahun aku pacaran dan
dia memutuskanku begitu saja. Neva bertubuh sedang, rambut dipotong
pendek ala Demi Moore, wajahnya lumayan manis. Tapi yang paling
menarik adalah sinar matanya yang hangat, tulus , bersahabat dan
selalu tertawa. Seminggu orientasi aku masih tidak begitu peduli
bahkan sering terganggu dengan gaya ketawanya yang begitu spontan.
Kebetulan kami satu regu. "Mas.. mau kopi?" sapaan istriku
membuyarkan lamunanku ttg Neva. Dengan cepat aku mengangguk. Entah
mengapa aku kesal karena lamunanku terhenti.
"Aduh... Yok... bagus ya desanya... Uih... kayak negeri para dewa,"
Neva spontan berkomentar saat kami tiba di desa yang terletak di
lereng Merbabu. Hm.. bener juga gumanku. Tempat regu kami tinggal
adalah rumah kosong di pinggiran hutan karet. Tiap pagi embun turun
dan menari di sela-sela hutan karet itu dimana sinar matahari dengan
lembut menyeruak di antaranya. Dan setiap bangun pagi, aku selalu
dikejutkan senyum Neva sambil menyeruput kopinya (entah jam berapa
dia bangun pagi). "Pagi.. Yok! uh... tadi bagus deh..." dan
berceritalah dia tentang kegiatan jalan-jalan paginya.
Entah, akhirnya setiap pagi kami selalu bercerita tentang bayak hal
sambil menikmati kopi. Baru kusadari wanita ini di samping begitu
mandiri dia juga cerdas luar biasa. Dia bisa bercerita mulai dari
Nitsche, harga saham, Picasso, Pink Flyoid sampai kemiskinan. Yang
luar biasa dia ternyata pernah mendapat beasiswa pertukaran pelajar,
pinter main piano dan bekerja part time (meski dia berasal dari
keluarga yang cukup berada). Aku semakin suka berada di sampingnya.
Di mataku kecerdasannya membuat dia begitu menarik, cantik dan
seksi. Hingga suatu malam saat kami ngobrol berdua saja di teras dia
mengejutkanku dengan pernyataannya, " Yok... aku ini sudah nggak
perawan." Aku begitu terkejut, bagi orang sepertiku yang dididik
sejak kecil bahwa seorang wanita harus menyembunyikan emosinya,
pernyataan seperti ini begitu mengguncang emosiku "Ya... Tuhan...
wanita seperti ini yang aku cari..." seruku dalam hati. Betapa
jujurnya dia.
Dia bercerita tentang rasa cintanya yang begitu besar pada pacarnya,
kesedihannya karena pacarnya tak pernah memintanya menjadi istrinya
meski mereka telah pacaran hampir 6 tahun. Tanpa kutahu pasti, aku
telah jatuh cinta padanya dan yang menyedihkan aku tidak berani
menyatakannya. Aku nikmati saja hari-hari KKN ku. Kami main air di
sungai, jalan-jalan. Setiap pacarnya datang, kutekan rasa cemburuku
dan sakitku bahkan aku dengan gaya yang sok berbesar hati sering
mengantarnya ke terminal untuk pulang menengok pacarnya. Setiap kali
sehabis pulang, dengan gaya lucunya dia bercerita tentang
persetubuhannya dengan pacarnya. Neva... tahukah kau aku
mencintaimu? Sampai suatu hari, aku dan dia pergi ke kota asalku
Solo untuk mencari sponsor bagi pasar murah yang akan kami
selenggarakan. Tanpa terasa kami kemalaman.
"Nev... kita nginap di rumah ibuku yuk?" Sungguh! Waktu itu aku
tidak punya pikiran apapun. Dan seperti yang sudah kuduga,
keluargakupun sangat menyukainya. Bahkan ibuku bilang, "Dia lain ya
sama Rini? Anaknya ramah dan baik". Ah.. betapa inginnya aku bilang,
"Dia wanita yang kuinginkan jadi istriku, bu".
"Yok... aku tidur dimana?" tanya Neva.
"Dikamarnya Iyok aja, nak. Itu di kamar depan." ibuku begitu
bersemangat menata kamarku.
"Wah... ntar Iyok tidur dimana?"
"Biar tidur di sofa ruang tamu".
Rumah ku memang agak aneh, hampir seluruh kamarnya ada di belakang,
hanya kamarku yang terletak di depan. Malam itu aku gelisah tak
dapat tidur. Entah mengapa aku begitu rindu pada Neva. Gila! Padahal
seharian tadi aku bersamanya. Seperti ada yang menggerakkan aku
pergi ke kamarku di mana Neva tidur dengan memakai daster ibuku!.
Nampak tidurnya begitu damai. Ya... ampun baru kusadari betapa besar
cintaku padanya. Tanpa terasa aku belai pipinya dengan lembut. Dia
menggeliat. Oh.. sungguh seksi sekali. Tiba-tiba saja tanpa dapat
kubendung kucium bibirnya dengan kelembutan yang tak pernah
kuberikan dengan pacarku dahulu. Neva membuka matanya, dan baru
kusadari betapa indah mata itu. "Yok?" Tapi dia tidak berbuat
apa-apa. Kembali kukulum bibirnya, diapun menyambut dengan hangat
ciumanku. Lidahnya bermain begitu luar biasa di lidahku. Tanpa
terasa sesuatu yang keras menyembul dari balik celanaku. Kuciumi
dengan hangat lehernya, dia menggelinjang geli. Dibalasnya ciumanku
dengan ciuman lembut di leherku, turun ke dadaku. Lalu dengan
gerakan yang begitu lembut, dilepasnya kaosku. Kubalas ciumannya
dengan ciuman di dadanya. Ya... ampun... dia tidak memakai bra.
Terasa putingnya mengeras dan dadanya begitu kencang. Tanganku masuk
dari bawah dasternya. Ugh... dadanya begitu penuh. Gelinjangannya
begitu mempesona. Dia begitu meenikmati sentuhanku. Tiba-tiba dia
menggerang, " Don... ah...". Bagai tersengat listrik, kulepaskan
cumbuanku. Ada rasa nyeri menyeruak di dalam dadaku. Dia menyebut
nama pacarnya! Neva pun tersadar.
"Yok... maaf..." segera diambilnya kaosku.
"Pergilah... maaf... aku... aku... kangen sama Don". Diapun
menundukan kepalanya. Mungkin orang menanggapku gila karena
keterusterangannya justru membangkitkan gairahku. Entah aku begitu
yakin akan perasanku padanya, rasa cintaku dan aku ingin dia
memilikiku. Akan kuberikan keperjakaanku padanya. Ya... aku masih
perjaka! Meski aku pacaran serius selama 4 tahun dengan Rini, aku
adalah laki-laki yang begitu menghargai keperjakaan. Bahkan aku
pernah bersumpah hanya kepada istriku akan kuberikan keperjakaanku.
Seperti ada kekuatan gaib tiba-tiba aku bertanya.
"Nev... maukah kamu mengambil keperjakaanku?"
"Tapi... Yok?"
"Aku tidak peduli Nev... aku mencintaimu... aku ingin kamu yang
mengambilnya... aku ingin kamu menjadi istriku" sambil kugenggam
tangannya. Ada buliran air mengalir dari mata bulatnya. Neva hanya
terdiam, dan dengan lembut diambilnya tanganku dan dibawanya ke
dadanya.
"Kamu begitu tulus...Yok...". Hanya itu kalimat yang keluar dari
mulutnya. Selanjutnya dia mencium bibirku, pertama lembut sekali
tapi makin lama makin liar, dibaringkannya tubuhku di tempat tidur.
Lidahnya menjilati belakang telingaku, turun.. keputingku... ke
tanganku... lalu turun ke ibu jari kakiku.. ke.. atas... ke paha...
ya ampun! Aku belum pernah melakukan ini. Dulu dengan Rini aku hanya
melakukan sebatas 'pas foto', itupun dengan baju yang terpakai.
Tiba-tiba gigitan kecil dikelelakianku membuatku tersentak, dengan
giginya, dibukanya celana pendekku, lalu celana dalamku. Ya.. aku
telanjang bulat di hadapannya. Lalu dengan gerakan lembut dia
membuka dasternya, lalu celana dalamnya. Aku masih dalam posisi
terlentang. Antara bingung dan gejolak yang luar biasa. Dengan
senyum manisnya, Neva menjulurkan lidahnya ke arah lelakianku.
Dimainkannya ujung lidahnya di pangkal kelelakianku. Aaggh... ya
Tuhan... inikah Surga-Mu? Aku tak mampu berkata apa2 saat mulutnya
mengulum kelelakianku sambil sesekali diselang-seling dengan
mencepitkan buah dadanya.. Aku hampir saja tak kuat menahan lava di
dalam kelelakianku. Tapi di saat aku hampir menyemburkannya,
tangannya dengan lembut memijat pangkal kelelakianku itu. Ajaib,
lava itu tak jadi keluar meski tetap bergejolak.
Demikianlah... hal tersebut dilakukannya berulang kali. Hingga dia
berkata... "Yok... aku ingin memberimu hadiah yang tak kan kamu
lupakan". Dia lalu duduk di atasku, tepat di atas kelelakianku.
Diambilnya kelelakianku terus dengan gerakan begitu lembut
dimasukkannya ke dalam kewanitaanya. Ugh... ah.. erangannya begitu
mempesona. Dan akupun memegang pantat bulatnya. Tapi segera dia
berkata" Ssst... I will make you happy Yok!". Terus dengan gerakan
memompa dan memutar, kurasakan seluruh darah mengalir ke bawah.
Keringat membasahai seluruh tubuhnya. Sambil berciuman kurasakan dia
memompa kewanitaaanya. Lalu dicengeramnaya tubuhku kuat-kuat. Aggh..
agh... seluruh ototnya meregang. Putingnya tegak berdiri dan
disorokannya ke mulutku. Lalu dengan keliaran yang tak kubayangkan
sebelumnya kulumat habis puting itu sambil membalas pompaannya.
"Ah... terus.. Yok.. terus... jangan berhenti" rangannya semakin
mebuatku liar. "Lagi... Yok.. lagi... ini ketiga kalinya... ayo
Yok..." Dan tanpa dapat kutahan lavaku menyembur. Neva segera
menariknya keluar. Lalu dijilatinya cairan lava itu. Kenapa dia
tidak jijik? Dengan senyum manisnya seakan dapat membaca pikiranku.
"Nggak Yok... aku ingin membuatmu senang". Ya Tuhan, aku sangat
terharu mendengarnya. Bagiku dia telah menjadi istriku. Malam itu,
kami tiga kali bercinta dan ketiganya Neva yang 'memberiku'. Hm...
aku berjanji, suatu saat aku akan memberikan 'sesuatu' yang sangat
hebat... "Mas... kopinya kan sudah dingin. Kok nggak diminum?"
Ah...lagi-lagi sapaan istriku membuyarkan lamunanku. Neva... dimana
kamu sekarang (istriku)?
Bersambung...