Tuesday, May 1, 2007

NICK C...1

Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri, saya seorang mahasiswa
sebuah universitas swasta di daerah Jakarta Barat yang terkenal
banyak menghasilkan lulusan di bidang IT. Sebut saja saya Nick (nama
samaran, tentu saja !!). Saya sendiri menganggap penampilan fisik
saya tidaklah istimewa, biasa biasa saja, hanya saja banyak yang
mengatakan kalau saya memiliki mata tajam seperti elang (beberapa
teman menyebutnya mata bandit yang sedang mengincar korbannya, tak
apalah :P) dengan tinggi yang rata-rata (176/71 kg). Sekarang ini
saya bekerja part time di sebuah toko komputer kecil yang didirikan
patungan dengan bekas teman teman SMA saya. Cerita ini merupakan
pengalaman saya bertemu dengan wanita yang memiliki tempat khusus di
hati saya, sampai kapan pun juga. Bagi pembaca yang menyukai cerita
'tembak langsung' mungkin akan kecewa dengan cerita ini karena cukup
panjang dan kurang 'berapi-api'. Jadi bila anda merasa bosan,
silakan melewatkan cerita ini, sedangkan yang ingin tetap membaca,
saya ucapkan selamat membaca.
Suatu hari di bulan November, lewat tengah hari.
Hujan turun dengan derasnya dari pagi sehingga memnyebabkan
kemacetan di kota Jakarta yang memang biasanya macet menjadi semakin
padat. Nick mengawasi keadaan sekeliling dari balik kaca jendela
Feroza hijau toska berkilat yang setia menemaninya sejak SMA.
Sia-sia, tirai hujan terlalu pekat ditambah lagi langit mendung
sehingga tidak memungkinkan mata minus satu-nya melihat lebih jauh
dari 2 meter. Karena terburu-buru tadi kacamata Nick tertinggal di
kantor. Hari ini Ia kebagian jatah untuk menanggapi complaint
seorang customer di daerah Kebon Sirih. Karena hujan tidak juga
mereda, ditambah macetnya jalan dan perutnya yang mulai menjerit
minta di-isi maka Ia mengarahkan mobilnya memasuki Wisma GKBI. Di
dalam restoran Hoka-Hoka Bento yang sepi ia memandang berkeliling,
lalu melangkahkan kaki menuju ke arah counter. Setelah memilih
sepiring salad, sup miso, seporsi Ekkado dan segelas lemon tea, Nick
menuju kasir untuk membayar pesanan-nya.
Ia mengantri di belakang seorang gadis berusia 20-an. Tanpa kacamata
pun Nick bisa melihat betapa menariknya gadis itu. T-shirt Armani
hitam ketat membungkus tubuhnya yang langsing, dipadu dengan celana
jeans biru tua dan sepatu high heel bertali, menunjukkan mata kaki
dan punggung kaki yang putih bersih. Kuku bersih tanpa kuteks
menambah keindahan alami kakinya yang panjang dan ramping, tipe
kesukaan Nick. Rambutnya yang hitam dijepit ke atas, memperlihatkan
lehernya yang jenjang dengan rambut halus tenguknya.
Dari balik bahu gadis tersebut, tampak petugas kasir kebingungan
mencari kembalian untuk secangkir kopi pesanan gadis tersebut yang
dibayar dengan uang bergambar Bung Karno dan Bung Hatta.
Melihat kebingungan petugas kasir, Nick maju ke depan cash register.

"Sekalian saja masukkan dalam pesanan saya, mbak".
Gadis itu memandang Nick dengan tatapan aneh, tapi akhirnya ia
mengedikkan bahu dan berjalan ke arah luar pagar besi antrian. Nick
membayar pesanan-nya dan berjalan ke arah meja dekat jendela dimana
gadis itu duduk.
"May I ??" tanyanya, mengisyaratkan kursi kosong di seberangnya.
Seabad rasanya Nick menunggu ketika gadis itu menatap matanya
dalam-dalam, sebelum menggerakkan kepalanya ke arah kursi kosong
sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan.
"Thanks for the coffee" katanya. Suaranya jernih, ada kesan sedih
yang sulit dijelaskan di dalamnya.
"No big deal" senyum Nick. "Enjoy your coffee" sambungnya.
Di luar, hujan masih saja turun dengan deras. Nick menikmati
makanannya dengan suapan-suapan kecil yang tidak terburu buru,
sedangkan si gadis sesekali menghirup kopinya lalu melanjutkan
lamunannya. Di antara suapannya Nick memperhatikan hujan di luar
gedung. Beberapa orang pengojek payung menunggu di Pintu Utama.
Pikirannya kembali beralih ke hujan di luar. Tetes air hujan jatuh
menimbulkan bunyi ritmik yang aneh, tapi menyenangkan. Seperti
nyanyian.
"Nyanyian hujan" gumam si gadis.
Hampir saja Nick tersedak karena tepat pada saat itu ia sedang
mendengarkan irama aneh menyerupai nyanyian yang ditimbulkan tetes
air hujan ke jalanan aspal.
"Aneh" Nick menatap gadis tersebut dengan pandangan bertanya. "Aku
baru saja memikirkan hal yang sama".
"Aku suka hujan. Mereka seperti bernyanyi untukku" kata si gadis,
pandangan mereka bertemu.
Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke balik kepalanya untuk
membetulkan jepit rambutnya. Gerakan ini membuat dadanya membusung,
memperlihatkan siluet dua buah bukit yang tidak terlalu besar, namun
berbentuk indah di balik bajunya. Ia melakukannya dengan bebas,
seakan-akan tidak menyadari keberadaan Nick yang sedang
memperhatikannya.
Nick baru sadar betapa menariknya wajah di hadapannya. Seraut wajah
bertulang pipi tinggi, menimbulkan kesan anggun, dengan hidung
mancung dan bibir yang merah basah. Dan matanya, belum pernah Nick
begitu terpesona melihat mata seorang wanita seperti sekarang ini.
Mata gadis itu agak sipit dengan sedikit garis lengkung di ujungnya,
menimbulkan kesan misterius. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang
menyiratkan kematangan yang tidak biasanya ada pada gadis seumurnya.
Pun begitu, ada keceriaan dan gairah hidup yang memancar dari sinar
matanya, seakan-akan mengajak orang di sekitarnya untuk tersenyum
seandainya saja tidak ada secercah sorot kesedihan di sana. Begitu
kontradiktif, pikir Nick. Dan sangat menarik, tambahnya dalam hati.
"Nick" katanya sambil mengulurkan tangan. Dalam hati ia menyumpah
mengapa sampai lupa memperkenalkan diri sebelumnya.
"Tessa" sambutnya lembut. Seperti ada aliran listrik ketika tangan
mereka bertemu, sesuatu yang baru dua kali di alami Nick selama
hubungannya dengan wanita-wanita dalam hidupnya. Setelah perkenalan
tersebut, percakapan pun berjalan lancar. Ternyata Tessa memiliki
wawasan yang luas sehingga enak di ajak ngobrol, layaknya mereka
teman lama saja. Nick mengagumi keluwesan Tessa dalam bergaul, jelas
bukan golongan remaja tanggung yang masih mentah seperti kebanyakan
gadis-gadis seumuran Tessa pada umumnya. Entah mengapa, Nick merasa
tertarik sekali pada gadis ini. Padahal baru kali pertama mereka
bertemu.
Hujan akhirnya berhenti. Tessa menatap ke luar restoran, kegiatan di
jalan mulai hidup kembali setelah matahari bersinar mengusir
sisa-sisa hujan tadi.
"I gotta go, thanks for the coffee" Tessa bangkit dari kursinya.
Mengulurkan tangan kepada Nick. Setiap gerakan gadis itu begitu
luwes, menimbulkan desir aneh di hati Nick
"Nice to meet you, Tessa. Have a nice day" sambut Nick. Nick masih
termenung sesaat ketika menyadari Ia lupa menanyakan nomor telepon
Tessa. Gadis itu sudah hampir mencapai pintu ketika dengan setengah
berlari NIck mengejarnya.
"Boleh aku meneleponmu kapan kapan ?" tanyanya.
"Sure, you can call me anytime". Tessa menuliskan 11 digit nomor
teleponnya pada selembar struk pembayaran yang disodorkan NIck.
Kemudian Ia meneruskan langkahnya setelah melemparkan senyum
manisnya.
Perkenalan itu menjadi awal hubungan mereka yang penuh liku, dimana
tawa, tangis dan air mata akan mewarnai hubungan mereka.
*******
Suatu Hari Sabtu, 3 bulan kemudian. 3:29 pm. Nick termenung di
tempat kos-nya. Hujan turun deras di luar. Membuat ritme aneh dengan
suara tetes hujan yang menimpa atap genteng dan jalanan beraspal. Ia
teringat pertemuannya dengan Tessa beberapa hari yang lalu. Sudah 2
minggu Ia tidak menghubungi Tessa karena ada pekerjaan yang
membuatnya sangat sibuk di kantor. Hampir tanpa berpikir Ia
menyambar HP Nokia 5510 silver yang tergeletak di atas meja. Setelah
ragu sesaat, akhirnya dorongan hatinya yang menang.
"Halo ?" di ujung sambungan terdengar suara lemah menyahut. Suara
yang tidak akan terlupakan oleh Nick.
"Tessa, remember me ??".
"Nick, is that you ?" setelah beberapa detik Tessa terdiam, mencoba
memeras memorinya yang masih kabur, mencari siapa pemilik suara
bariton yang mengganggu acara tidur siangnya.
"Yupe. How are you girl ??". Terdengar suara tawa gadis itu, yang
terdengar begitu sexy di telinga Nick, sebelum menjawab.
"Ngantuk. Kamu kan tahu jam segini termasuk dalam jam tidur
siang-ku".
"I know, sorry to wake you up dear. But I can't help it, i wanna
hear your voice." Sesaat mereka berdua terdiam.
"I miss you girl" bisik Nick lembut.
"oooh Nick, I miss you too" balas Tessa pelan. Nick tercekat.
Benarkah suara Tessa bergetar tadi ?
"Nick, mau main ke sini ?? kita ngobrol sambil minum kopi".
"Takkan ada yang bisa menghalangiku menemuimu Tess. Give me an hour
ok ?". Terdengar lagi tawa Tessa, "nggak usah mandi dulu Nick,
langsung aja ke sini".
"Hehehehehe....ketahuan yah. OK, wait for me then".
Setelah menutup telepon Nick meraih tas ransel yang sudah menjadi
trade mark-nya sejak SMA dulu. Isinya macam-macam mulai dari baju
ganti, underwear, satu stel kemeja, dasi, perlengkapan mandi, pisau
cukur beserta aftershavenya, Charger, sebuah kotak plastik berisi
satu set obeng mikro, pinset, senter elastis, dan tang serbaguna.
Dan tak lupa sebotol Drakkar yang sudah hampir habis. Sejak SMA Nick
sering harus bepergian tanpa pulang ke rumah sehingga ia selalu
membawa keperluan-nya dalam ransel tersebut. Apalagi sejak Ia
bekerja part timer, bertambah lagi isi ranselnya dengan satu set
peralatan untuk perbaikan kecil bila dibutuhkan pelanggan
sewaktu-waktu. Dengan agak tergesa Ia melompat masuk dalam mobilnya.
Nick memacu mobilnya secepat Ia bisa dalam hujan yang masih juga
turun dengan deras. Kacamata minus satunya telah berganti dengan
softlens berwarna hijau tua yang biasanya hanya dipakai bila ada
acara pesta.
Sampai di rumah kontrakan Tessa, setengah berlari Nick membuka
gerbang. Tidak dikunci, seperti biasa. Lalu Ia menuju pintu utama
dan memencet bel. Pintu terbuka dan Tessa tersenyum menyambutnya.
"Ayo masuk, sudah kutungguin dari tadi". Nick mengikuti Tessa menuju
kamar tidurnya. Dingin. Rupanya Tessa menyalakan AC-nya walaupun
hari hujan seperti ini. Tessa menutup pintu kamar dan berbalik
menghadap Nick. Entah siapa yang mulai, tahu tahu mereka sudah
berpelukan erat. Nick berbisik di telinga Tessa berulang-ulang.
"Oooooh Tess, I miss you. Miss you so much". Hanya gumaman terdengar
dari Tessa. Nafas Nick yang hangat di telinganya membuat badannya
terasa menggigil.
Nick merasakan kehangatan mengaliri dirinya. Ia dapat merasakan
tubuh Tessa yang lembut di dalam pelukannya. Hidungnya menangkap
aroma tubuh Tessa yang merangsang. Halusnya kulit pipi Tessa bertemu
dengan bibirnya. Tahu-tahu Nick mendapati dirinya ereksi.
Kemaluannya menekan perut Tessa. Pastilah Tessa merasakannya sebab
Ia melepaskan diri dari pelukan Nick.
"Naughty boy, what's on your mind eh ?" Tessa tersenyum menggoda
kepada Nick.
"Sorry, aku gak tau kenapa. Tahu-tahu aja berdiri" ujar Nick dengan
muka sedikit merah. Bukan hanya kali ini Nick ereksi ketika sedang
bersama Tessa. Pernah ketika sedang melantai pada suatu pesta yang
mereka hadiri bersama Nick juga ereksi. Waktu itu Tessa tak
henti-hentinya menggoda sampai Nick salah tingkah.
"It's okay. Tess tahu koq kamu nggak pernah kurang ajar sama Tess"
katanya. Lalu ia kembali memeluk Nick lembut dan menyandarkan
kepalanya di dada Nick.
"Tess......" tahu tahu jemari lentik Tessa sudah berada di bibirnya.

"Sssshhhh, it's okay Nick. I don't mind" Ia lalu menarik leher Nick.
Perlahan bibir mereka mendekat. Nick bisa merasakan bibir Tessa yang
lembut bergetar ketika mereka berciuman dengan lembut. Lidah Tessa
menyapu bibir Nick, memberikan sensasi yang luar biasa. Hangat,
basah, perlahan lidah mereka saling mencari, membelit, bermain dalam
mulut Nick. Terdengar keluhan Nick. Ia tak dapat menahan gejolak
dalam dirinya lebih lama lagi.
"I want you, please don't torture me any longer. I want you" desah
Nick di antara ciuman mereka. Tessa mulai membuka kancing kemeja
Nick satu per satu.
"I want you too, Nick. I'm yours" bisik Tessa di telinga Nick.
Kemeja Nick sudah terlepas, sekarang ia bertelanjang dada. Tangan
Nick menyelinap ke balik T-shirt longgar yang dikenakan Tessa.
Halusnya kulit punggung Tessa di tangannya. Dengan lembut Ia melepas
T-shirt longgar tersebut. Tampak olehnya dua bukit putih yang tidak
terlalu besar, tapi proporsional terbungkus half-cup bra berwarna
pink. Dibelainya bahu Tessa yang telanjang, Ia bisa merasakan betapa
Tessa menggigil taktala belaian tangannya mencapai belahan dada yang
sangat indah tersebut. Nick mulai menjelajahi lehernya dengan
kecupan-kecupan lembut diringi desah tertahan dari Tessa. Tangannya
meraih kebelakang punggung dan dalam sekejap dada indah itu terbebas
dari belitan bra. Dinginnya AC membuat sepasang puting kecoklatan
itu berdiri tegak, menantang. Dikulumnya kedua puting itu
bergantian, dihisapnya dengan lembut. Terdengar Tessa mengerang tak
terkendali.
Sementara itu Nick merasa tiba-tiba kaki dan pahanya dingin. Rupanya
Tessa sudah berhasil membuka celana Nick dan sekarang sedang
mengelus kemaluan Nick yang meronta-ronta di balik celana dalam
Bodymaster Nick. Tangannya menyusup masuk dan membelai, mengelus
kejantanan Nick, lalu menyusur turun ke arah anus, melewati dua buah
bola yang diremasnya lembut. Nick mendesah penuh kenikmatan di
tengah kegiatannya membelai seluruh tubuh bagian atas Tessa yang
kini telanjang. Dengan satu gerakan tiba-tiba Tessa mendorong Nick
hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Lalu satu gerakan lagi, dan
kejantanan Nick berdiri dengan gagahnya tanpa adanya penghalang.
Perlahan, Nick memeluk Tessa dan membalikkan tubuhnya sehingga kini
Nick berada di atas. Nick menggeser tubuhnya turun, tangannya
membelai perut Tessa yang rata, sesekali menggelitik pinggangya
sehingga Tessa meronta lemah. Dikecupnya perut dan pinggang halus
itu, dengan lembut di lepasnya celana pendek yang dikenakan Tessa
sekaligus dengan celana dalamnya. Kini mereka berdua telanjang
bulat. Nick bisa melihat rambut halus yang tumbuh di bawah pusar
Tessa. Tangannya bergerak mengelus bukit berambut tersebut, lalu
bergerak ke bawah, ke arah kedua bibir vagina yang bertemu membentuk
tonjolan sebesar kacang tanah. Diusapnya tonjolan itu dengan gerakan
memutar dan menekan. Tubuh Tessa mengejang, punggungnya terangkat
dari kasur. Dari mulutnya keluar rintihan halus yang membuat Nick
makin bersemangat. Dikecupnya kedua paha bagian dalam Tessa, lalu
dilanjutkan ke arah liang kenkmatannya. Tangannya kembali ke arah ke
dua bukit di dada Tessa, di remasnya perlahan, jemarinya bermain
dengan puting yang sudah sangat tegang. Dari pusat tubuh Tessa
tercium aroma khas feromone yang membuat Nick begitu terangsang.
Dirasakannya vagina Tessa sudah basah. Dengan satu gerakan perlahan
tanpa putus dijilatnya liang kenikmatan bagian bawah sampai ke
clitoris yang sudah membesar.
"Nick, mmmmmmhhhhh........... ohhhhhhhhh" tubuh Tessa menegang,
pinggulnya berkontraksi dengan hebat. Ia mencapai orgasme
pertamanya.
Nick terus membelai lembut sekujur tubuh Tessa sampai gelombang
kenikmatannya mereda. Tessa lalu meraih bahu Nick, menariknya ke
atas tubuhnya dan berbisik di kuping Nick.
"I want you inside of me Nick..." bisiknya lemah. Nick berlutut di
atas tubuh Tessa, siap untuk menyatukan tubuh mereka dalam gelombang
kenikmatan. Tessa berbisik lagi.
"Pakai pelindung Nick, please..". Nick meraih dompetnya dan
mengeluarkan sebungkus Durex Premium, lalu memakainya. Never leave
home without it, pikir Nick lega karena masih ada sebungkus di
dompetnya.
Dengan sangat perlahan Nick menindih Tessa, sebelah tangannya
menopang sebagian berat badannya sendiri, dihayatinya sensasi yang
nikmat ketika kejantanannya memasuki Tessa. Pandangan mereka
bertemu. Dilihatnya ekspresi wajah Tessa dalam ekstase, serasa waktu
berhenti bagi mereka berdua. Nick merasakan lampu di kamar Tessa
memancarkan sinar berpendar warna-warni. Suara rintihan Tessa
menjadi musik indah di telinga Nick. Mereka bergerak menyatukan
irama tanpa tergesa-gesa. Nick merasakan dirinya terbang
tinggi........, semakin tinggi seiring dengan nafas mereka yang
memburu. Tessa pun merasakan kenikmatan yang sama. Semakin tinggi Ia
melayang menuju puncak orgasmenya yang kedua. Mengerang dan
merintih, Tessa bisa merasakan tubuh Nick mulai bergetar, demikian
juga dengan tubuhnya. Mereka terbang semakin tinggi menembus
gelombang kenikmatan, dan akhirnya menabrak awan yang mencurahkan
hujan......... Tessa menjerit berbarengan dengan erangan Nick yang
mencapai puncak pada saat yang hampir bersamaan.
Hening. Peluh membasahai tubuh mereka. Keduanya saling berpelukan,
membelai tubuh masing-masing. Menikmati sisa-sisa orgasme yang
melanda begitu hebat. Tidak perlu kata-kata. Setiap rabaan dan
usapan sudah berbicara dengan sendirinya. Bersatunya tubuh dan emosi
membuat mereka mengerti apa yang dirasakan masing-masing. Di luar,
hujan masih turun, makin deras bahkan.
"Nick, kau ingat pertama kali kita bertemu dulu ?" Tessa memecah
keheningan yang terasa indah tersebut.
"Ya, waktu itu hujan deras seperti sekarang. Aku bertemu dengan
seorang wanita yang luar biasa" jawab Nick. Ia menarik selimut
menutupi tubuh mereka, kemudian mengecup kening Tessa lembut.
"Kau masih bisa mendengar nyanyian hujan, Nick ?".
"How can I forget ?? setiap kali hujan aku selalu teringat padamu".
"Always ?" tanya Tessa manja.
"Always".
"Kamu menyesal kita jadi seperti ini Nick ??" tanya Tessa lagi.
"Tidak Tess. Sejujurnya pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku
memang menginginkanmu. Hanya saja aku tidak berani bertindak, takut
merusak persahabatan kita. I think I fall in love......." Nick tidak
dapat menyelesaikan kalimatnya karena jari Tessa sudah menutup
bibirnya dengan lembut. Don't say something you might regret it
later, Nick". Suara Tessa tiba-tiba terdengar sedih.
"Tess sayang kamu, dan Tess juga tau kamu sayang Tess. Tapi untuk
saat ini......let us be just friend. A good friend" ucap Tessa lagi.

"Tapi...." lagi-lagi kalimat Nick tergantung di udara, Tessa
menciumnya dengan lembut, penuh perasaan. Seakan-akan Ia memberikan
seluruh dirinya pada Nick melalui ciuman tersebut.
"Jangan bertanya-tanya lagi, Nick. Someday, I promise you, someday
you will understand why". bisik Tessa di telinga Nick.
Jeritan Coffee Maker membuat mereka berdua tersentak. Tessa tertawa,
suaranya sudah biasa lagi. "Itu kopi yang kujanjikan tadi. Right on
time, I think" senyum Tessa nakal. Nick tersenyum melihatnya. Tessa
masih bertelanjang ketika melompat dari tempat tidur menuju ke
coffee maker yang terletak di meja. Sungguh, dunia terlihat lebih
cerah bagi Nick bila bersama dengannya.
Bersambung...