Tuesday, May 1, 2007

IMRON SADISTIS 5

Sore, jam 4:30, di Universitas ******, gedung D, tempat perkuliahan
fakultas arsitektur, kuliah terakhir selesai sejam yang lalu, tempat
itu sudah 90 persen kosong karena sebagian besar dosen dan
mahasiswanya sudah pulang. Imron baru saja selesai menyapu di lantai
tiga, dia berjalan membawa sapu dan ceruk hendak turun dan
beristirahat di ruangnya. Ketika melewati ruang jurusan dia
mendengar suara desahan disertai rintihan kecil, semakin mendekati
ruangan itu, semakin jelas pula suara-suara itu terdengar. Seringai
mesum muncul di wajah kasarnya, 'mangsa baru' demikian yang langsung
terlintas dalam pikirannya. Mengendap-endap dia mendekati ruangan
itu, namun…'sialan' katanya dalam hati, jendela itu yang bagian
atasnya kaca bening tertutup tirai. Akalnya jalan, buru-buru dia ke
menuruni gedung itu menuju gudang, sapu dan ceruk itu ditaruhnya
lalu diambilnya sebuah bangku tinggi dan segera kembali ke tempat
tadi. Dengan hati-hati dia menaiki bangku itu tanpa menimbulkan
suara mencurigakan, melalui lubang angin lah dia dapat melihat
sumber suara itu.
Mata Imron yang cekung ke dalam itu melotot menyaksikan apa yang
dilihatnya. Di atas sofa, Pak Dahlan, dosen sekaligus ketua jurusan
arsitektur sedang mencumbui payudara seorang gadis cantik. Si gadis
duduk di pangkuannya dengan kaos dan cup bra tersingkap ke atas,
kepalanya menengadah dengan mata terpejam sesekali mendesah. Tangan
Pak Dahlan memasuki rok gadis itu mengelusi paha putih mulusnya,
sebentar kemudian tangannya keluar dari rok itu, kali ini beserta
sebuah kain warna putih, oh rupanya dia menarik lepas celana dalam
gadis itu. Si gadis juga menggerakkan kakinya membantu celana dalam
itu lolos. Setelah celana dalam itu jatuh ke lantai, Pak Dahlan
melumat bibir mungil gadis itu, mereka saling kecup, lidahnya pun
saling sedot, tangan Pak Dahlan meremasi payudara montok gadis itu,
sedangkan tangan gadis itu melingkari punggung Pak Dahlan. Mereka
demikian hanyut dalam birahi sampai tidak tahu sepasang mata sedang
menintip mereka bahkan memotret mereka dengan cameraphone. Sungguh
kontras perbedaan keduanya, si gadis berparas cantik dan bertubuh
putih langsing, sementara Pak Dahlan bertubuh tambun dan berkulit
sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir
tebalnya. Dari segi usianya, Pak Dahlan adalah duda berumur
limapuluhan, sebaya dengan Imron, seusia dengan ayah si gadis itu.
Ternyata benar yang dikatakan kabar burung selama ini bahwa Pak
Dahlan, bandot tua itu, memang bisa disogok dengan 'daging mentah'
untuk mengkatrol nilai, dan hal ini berlaku bagi mahasiswi yang
punya modal kecantikan. Akal bulus Imron bekerja, kalau saja dia
bisa mendekati bandot tua itu, tentunya dia mempunyai koneksi dari
kalangan atas yang bisa melindunginya kalau sampai terjadi apa-apa,
dengan kata lain ada backing, selain itu juga dia mungkin dapat ikut
menikmati korban si bandot tua ini sekaligus memuluskan aksi
gilanya. Sungguh rencana jangka panjang yang cemerlang, pengalaman
masa mudanya di dunia hitam membentuk dirinya untuk berpikir cepat
dan jitu. Dia pun turun dari bangku dan mengetuk pintu. Imron
menunggu beberapa saat sebelum pintu terbuka, pastilah yang di dalam
sana sedang kelabakan menutupi kejadiannya. Pak Dahlan nongol dari
pintu sambil tersenyum menutupi kegugupannya. "Eh, Pak Imron, ada
apa nih, maaf ya tadi ada kerjaan yang tanggung, jadi nunggu lama
nih !" katanya sambil keluar dan menutup pintu.
"Ooo…gapapa kok Pak Dahlan, harusnya kan saya yang maaf karena
udah ngeganggu kalian" Kata terakhir itulah yang membuat raut wajah
Pak Dahlan berubah tak bisa lagi menyembunyikan rasa bersalahnya.
'Kalian' ini berarti penjaga kampus itu telah mengetahui bukan cuma
dia sendiri di dalam kantornya, ditambah dia juga melihat bangku
tinggi ketika menoleh ke samping. "Ahaha…Pak Imron ini, anda…!"
katanya masih berusaha berkelit "Tenang aja Pak Dahlan kita ini kan
sama-sama laki-laki, saya ga akan mempersulit atau memeras anda kok,
malah saya ada penawaran menarik buat anda !" Imron memotong
kata-kata Pak Dahlan dan meletakkan tangannya di pundak pria tambun
itu. "Maksud anda ?" tanyanya lagi. Imron merangkul pundak Pak
Dahlan dan menjelaskan tentang kerjasama yang ditawarkan, dengan
kelicikannya dirinya dapat menjebak dan menarik wanita yang dia
inginkan untuk menjadi budak seksnya, dan dengan kuasanya Pak Dahlan
dapat membacking dirinya seandainya satu hari nanti ada situasi
darurat, dan juga memberi bantuan informasi mengenai profil
korbannya seperti korban dan nomor yang dihubungi.
Senyum kembali mengembang dari wajah Pak Dahlan, ini namanya
simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan namanya,
begitu pikir Pak Dahlan, berarti dia dapat mencicipi gadis-gadis
lain di luar fakultas arsitektur juga, menyediakan informasi dan
melindungi baginya masalah kecil mengingat posisinya cukup
terpandang di kampus itu. "Pak Imron hehehe…tau gini kenapa ga
cari saya dari dulu hehehe !" Mereka tertawa-tawa dan berjabat
tangan tanda terjalinnya suatu persekongkolan jahat yang akan
menghantui setiap gadis-gadis cantik di kampus itu. "Pak, sekarang
itu cewek di dalam gimana, kasian tuh nunggu lama dia !" kata Imron
"Ok deh, biar saya omong ke dia biar kita nikmati bersama, tapi
janji yah, besok kasih saya nyicipin hasil anda !" ujar Pak Dahlan
dengan antusias. "Beres deh Pak, pokoknya saya jamin Bapak juga
seneng kok !" Merekapun masuk ke dalam, Pak Dahlan memanggil gadis
itu keluar dari persembunyiannya di bawah meja kerja. Dia sempat
kaget melihat ada orang lain yang ikut masuk. "Maaf ya Fan, mari
saya jelaskan sebentar…" Pak Dahlan menjelaskan masalahnya dan
meyakinkannya agar tidak perlu kuatir skandal ini terbongkar dengan
jaminan jabatannya.
Gadis itu lalu dikenalkannya pada Imron. Dia bernama Fanny, 21
tahun, seorang gadis indo bule dengan tinggi 167 cm, berat 49 kg dan
berdada 34C, lekuk tubuhnya indah bak biola ditunjang kaki yang
panjang dan mulus, rambutnya berwarna kemerahan sebahu, wajahnya pun
cantik apalagi saat itu dia memakai soft lens hijau. Terlepas dari
itu semua dia adalah mahasiswi yang dikenal bispak dan tukang
gonta-ganti pacar. Karena nilai UTS nya yang jeblok, dia nekad
menggadaikan tubuhnya ke bandot tua yang kebetulan mengajar mata
kuliah yang itu dengan tujuan memperbaiki nilainya. Fanny awalnya
merasa risih harus melayani orang rendahan seperti Imron, ditambah
lagi tatapan mata Imron yang penuh aura kemesuman. Dia lalu disuruh
duduk di sofa diapit kedua pria itu. Imron menatap kagum bentuk
tubuh Fanny yang ideal yang terbungkus kaos kuning ketat dengan
bawahan rok putih yang menggantung 5cm diatas lutut, putingnya
nampak tercetak karena tidak sempat membetulkan letak bra-nya yang
tersingkap waktu Imron datang tadi.
Imron mulai membelai lengan mulus Fanny sehingga membuatnya
merinding, di sebelah kanannya Pak Dahlan juga kembali merangkul
tubuhnya. Lengannya yang gempal masuk lewat bawah bajunya dan
mencaplok payudaranya. Pak Dahlan mencaplok bibir Fanny dan
melakukan French kiss yang panas. Fanny sendiri semakin naik
gairahnya karena remasan Pak Dahlan pada payudaranya dan di
sebelahnya Imron juga sudah memegang putingnya dengan dua jari dari
luar kaos ketatnya, lalu dia menunduk mengisap puting itu sehingga
liurnya membekas di kaos kuning itu. Fanny dengan pasrah
merenggangkan pahanya ketika tangan Imron menjalar ke sana,
birahinya yang belum tuntas membuatnya menerima kehadiran tamu tak
diundang itu. "Eemmhh…mmmhh !" terdengar lenguhan nafasnya di
sela-sela ciuman ketika Imron menyentuh bagian kemaluannya yang
sudah tidak tertutup celana dalam. Imron mengangkat kaki kiri Fanny
ke sofa sehingga pahanya terbuka dan menampakkan kemaluannya yang
berbulu jarang. Tidak puas cuma memainkan puting itu dari luar,
disingkapnya kaos gadis itu mengeluarkan payudaranya, segera
terlihat jempol Pak Dahlan sedang menggosok-gosok puting kanannya.
Imron memainkan vagina Fanny dengan dua jari sambil mengenyot
payudara kirinya, sementara tangan satunya mengelusi pahanya.
Tanpa melepas ciuman, tangan Fanny meraih selangkangan Pak Dahlan
dari luar celananya. Dipijatnya bagian yang sudah menggelembung itu
dengan lembut. "Hehehe…udah gatel yah Fan, bentar yah Bapak buka
dulu !" Pak Dahlan melepas ciuman untuk membuka celananya. Fanny
tertegun melihat penis Pak Dahlan yang panjangnya sekitar 17cm,
hitam dan mengacung diantara pahanya yang besar dan berbulu. Saat
itu Imron juga menarik lepas rok yang dikenakan Fanny disusul
melucuti pakaiannya sendiri hingga bugil. Perhatiannya beralih
sejenak dari penis Pak Dahlan ke tubuh Imron yang lebih berotot
dengan bekas luka di dadanya, kulitnya hitam kasar karena sering
mengerjakan pekerjaan keras dan dimakan usia, panjang penisnya tak
beda jauh dari Pak Dahlan, namun lebih gagah dan keras, terlihat
dari guratan-guratan urat di sekitarnya. Belum ditusuk Fanny sudah
merasa dirinya luluh lantak tersugesti oleh apa yang dibayangkannya
sendiri.
Fanny disuruh menungging di sofa, tangannya menggenggam penis Pak
Dahlan dan mulai menjilati kepala penisnya sesuai permintaan pria
itu. Sambil mengoral Fanny merasa ada sesuatu yang basah di bawah
sana, ternyata Imron sedang menjilati bongkahan pantatnya yang
montok. Tubuh Fanny menggelinjang, apalagi waktu mulut Imron bertemu
dengan vaginanya, lidah itu beraksi dengan ganas di daerah itu
membuatnya semakin becek. "Diisep Fan !" perintah Pak Dahlan yang
langsung dituruti Fanny dengan memasukkan penis itu ke mulutnya, di
dalam mulut dia mainkan lidahnya sehingga memberi sensasi nikmat
pada penis itu. Pak Dahlan melenguh nikmat merasakan sepongan Fanny
yang profesional itu, tangannya menjulur ke bawah meraih buah
dadanya yang menggantung. Kini titik-titik sensitif tubuhnya
diserang habis-habisan. Imron menyedot vaginanya hingga mengeluarkan
suara-suara ciuman. Kenikmatan itu diekspresikan Fanny dengan
semakin bersemangat mengulum penis Pak Dahlan, desahan halus
terdengar di sela-sela oral seksnya.
Sementara wajah Imron makin terbenam diantara bulu kemaluan Fanny,
dengan jarinya dibukanya bibir vagina itu memperlihatkan bagian
dalamnya yang merah basah. Dia lalu menjilati klitorisnya dengan
rakus. Fanny makin menggelinjang dan menggoyangkan pantatnya akibat
sensasi yang ditimbulkannya. Imron sangat menikmati vagina itu
sambil menggeram-geram penuh birahi "Yeeaahh…enak, wangi Non,
sslluurrpp…sssrrpp !!" "Oohh…iyahhh…terus Fan, enak
banget…emut terus !" Pak Dahlan juga blingsatan karena sepongan
Fanny, dia meremasi rambut gadis itu sesekali juga payudaranya.
Tiba-tiba Fanny menghentikan sepongannya dan mengerang tertahan, dia
lepaskan sejenak penis Pak Dahlan dari mulutnya. Wajahnya meringis
karena di belakang sana Imron mendorong penisnya ke vaginanya.
"Uuhhh…pelan-pelan Pak, oohh…oohh…!!" rintihnya dengan
menengok ke belakang melihat penis itu pelan-pelan memasuki
vaginanya. Fanny merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu,
benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Melayani orang seusia
Imron memang bukan yang pertama kali, karena pernah juga dia 2-3
kali melayani om-om setengah baya dengan bayaran tujuh digit, namun
mereka tidak seperkasa yang satu ini, Pak Dahlan yang sedang dia
oral pun penisnya tidak sekeras dan sepadat Imron.
Imron mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, gesekan-gesekan
nikmat langsung terasa baik oleh yang si penusuk maupun yang
ditusuk. Fanny menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke
belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. Erangan Fanny lalu teredam
karena Pak Dahlan menekan kepalanya dan menyuruhnya mengoral
penisnya kembali. Fanny pun mencoba kembali berkonsentrasi pada
penis Pak Dahlan di tengah sodokan-sodokan Imron yang makin kencang.
"Pelan-pelan aja toh Pak Imron, ntar anu saya kegigit gimana ?"
himbau Pak Dahlan melihat Fanny agak kesulitan mengoral penisnya
karena tubuhnya berguncang terlalu hebat. "Huehehe…maaf deh Pak,
keenakan sih sampe lupa, ini saya turunin giginya deh !" Imron
terkekeh lalu mulai mengurangi sedikit kecepatannya. Dengan begitu
Fanny bisa lebih nyaman melayani penis Pak Dahlan sambil mengimbangi
gerakan Imron. Fanny mengkombinasikan hisapan dengan kocokan dan
belaian pada batang dan puah pelir Pak Dahlan.
Pria itu merem-melek menikmati pelayanan gadis itu, tak lama
kemudian dia merasa sudah mau keluar, penisnya berdenyut-denyut
semakin cepat sehingga dia menggeram, dan akhirnya
cret…cret…muncratlah spermanya ketika Fanny sedang mengocok
sambil menjilatinya. Cairan putih kental itu membasahi wajah dan
tangannya, lalu Fanny kembali memasukkan benda itu ke mulutnya
sehingga semprotan berikutnya tertelan olehnya, dihisapnya dengan
bernafsu sampai batang itu berangsur-angsur berkurang ketegangannya,
lidahnya membersihkan benda itu sampai benar-benar bersih. Kemudian
Fanny melepaskan sepongannya dan wajahnya terangkat, namun tangannya
masih menggenggam batang penis itu, nampak dia menggerakkan lidah
menjilati sperma di sekitar bibirnya. Pak Dahlan bersandar lemas
pada sofa setelah mencapai klimaksnya, dia membuka bajunya sendiri
karena kepanasan sehingga perutnya yang bulat dengan dada yang
sedikit berbulu itu terlihat. Tubuh hitam kedua pria itu terlihat
kontras dengan tubuh Fanny yang putih mulus. Di tubuh Fanny sendiri
kini hanya tersisa bra dan kaosnya yang sudah tersingkap.
Di belakang sana, Imron kembali menaikkan tempo genjotannya,
tangannya yang tadi cuma berpegangan pada pinggangnya menjalar ke
depan meremasi dua payudaranya. "Oooohhh…aaahhh….eehhmm…Pak !"
suara lirih keluar dari mulut gadis itu setiap kali Imron
menyodok-nyodokkan penisnya. Cairan pelumas dari vagina Fanny makin
banyak sehingga penis Imron yang sedang keluar-masuk di sana semakin
lancer. Perasaan nikmat menjalari tubuhnya hingga akhirnya
membobolkan pertahanannya. Tubuhnya mulai mengejang seiring nafasnya
yang makin memburu. Sebuah erangan panjang menandai orgasmenya.
Serangan Imron semakin ganas dan dia menyusul ke puncak beberapa
menit kemudian. Spermanya yang hangat mengisi liang kemaluannya, dia
melenguh melepaskan cairan itu serta mendekap erat tubuh Fanny
hingga jatuh telungkup menindihnya. Setelah orgasmenya reda, Imron
beringsut dan duduk di posisinya semula. Fanny masih telungkup
dengan satu kaki menjuntai ke lantai, keringat membasahi tubuh dan
wajahnya, dari selangkangannya cairan itu meleleh membasahi daerah
itu juga sofa kulit di bawahnya.
Pak Dahlan mengangkat lengan Fanny dan menyandarkan punggungnya ke
sofa, dengan tissue disekanya ceceran sperma di wajah gadis itu.
Dengan tenaganya yang mulai pulih, Fanny meraih tas kecil yang dia
letakkan di meja dekat situ, diambilnya sesachet tissue basah untuk
mengelap wajahnya agar lebih bersih dan mengurangi aroma sperma itu.
Pak Dahlan rupanya sudah ingin mencoba vagina Fanny, disuruhnya
Fanny tidur telentang di sofa dan langsung dituruti tanpa disuruh
kedua kali. Imron menawarkan pahanya pada Fanny untuk bersandar,
sehingga dia pun bisa mendekap tubuhnya. Setelah posisinya pas, Pak
Dahlan merenggangkan kedua belah paha Fanny dan menempelkan ujung
penisnya pada bibir vagina Fanny. "Ooohh…!" desah Fanny dengan
tubuh bergetar ketika penis Pak Dahlan mulai memasukinya. Tangannya
meraih telapak tangan Imron dan meletakkannya di payudaranya
seakan-akan meminta diremasi. Perlahan Pak Dahlan mulai
memaju-mundurkan pantatnya, di sisi lain Imron mendekap tubuh Fanny
sambil menggerayangi payudaranya, putingnya dia cubit pelan,
sesekali digosok-gosokkannya jarinya di sana, sesekali mulutnya juga
nyosor melumatnya sehingga benda itu makin mengeras.
"Enak yah Non, kapan nih pertama kali ngentot ?" tanya Imron dekat
telinganya tanpa melepas tangannya dari payudaranya. "Dulu
di…sma…hhhmmmhh…enam…aah…belas tahun !" jawabnya dengan
lirih "Sekarang udah ada pacar Non ?" tanyanya lagi sambil
memelintir putingnya. "Lagi ngga…aahhh…aahh…iyah Pak…enak !"
Imron mengakhiri pertanyaannya dengan memagut bibir Fanny,
dicumbunya gadis itu dengan penuh nafsu, Demikian halnya dengan
Fanny yang tengah dilanda birahi, dia tak kalah seru membalas
serangan mulut Imron sampai terdengar suara-suara kecupan disamping
desahan yang teredam, lidah Imron yang tebal dan kasar menyapu
segenap rongga mulut Fanny, air liur nampak menetes dari sudut bibir
keduanya. Pak Dahlan terus menggenjoti vagina Fanny sambil menggumam
tak jelas, terkadang dia melakukan gerakan memutar sehingga Fanny
merasa kemaluannya diaduk-aduk. Setelah puas berciuman, Imron lalu
menarik lepas kaos dan bra Fanny yang sudah terangkat hingga tak
sehelai kain pun tersisa di tubuhnya.
Imron bergeser sedikit sehingga bisa mengarahkan penisnya yang sudah
mengeras lagi ke mulut Fanny. "Ayo Non, servis mulutnya dong !"
pintanya. Fanny pun mulai menggenggam penis itu dan mendekatkan
mulutnya. Gila perkasa banget, keras dan urat-uratnya nonjol gini,
demikian kata Fanny dalam hati, diam-diam dia mengagumi keperkasaan
penis Imron yang barusan mengocok vaginanya. Batang itu sedikit
lengket karena masih berlumur sperma dan cairan kemaluannya yang
hampir kering. Fanny membuka mulut selebar mungkin untuk memasukkan
benda itu yang tidak muat seluruhnya di mulutnya yang kecil.
Kemudian dia mulai mengisapnya sambil mengocok pangkalnya yang tidak
masuk mulut dengan tangannya. Kurang dari lima menit Imron menyudahi
oral seks itu, kini dia menaiki dada Fanny dan menjepitkan penisnya
yang basah diantara kedua gunung kembar itu. Payudara Fanny yang
bulat montok itu rupanya menggoda Imron untuk mencoba 'breast
fucking', digesek-gesekkannya penisnya diantara himpitan
payudaranya. Terkadang Fanny mengerang dan meringis menahan sakit
karena Imron melakukannya dengan brutal, belum lagi sodokan-sodokan
Pak Dahlan pada vaginanya.
Pak Dahlan makin mendekati puncak kenikmatan, genjotannya semakin
cepat dan mulutnya makin menceracau. Hal serupa juga dialami Fanny
yang syaraf-syaraf pada organ kewanitaannya bereaksi makin dahsyat
mengirimkan sensasi nikmat ke seluruh tubuhnya. Keduanya pun
mencapai orgasme berbarengan, sekali lagi cairan sperma mengisi
vaginanya, sampai meluber sebagian melalui pinggir bibir vaginanya.
Imron yang sedang bergumul diatas dadanya bagaikan cowboy yang
sedang main rodeo di atas tubuh Fanny yang terlonjak-lonjak diterpa
orgasme. Tak lama kemudian spermanya menyemprot ke wajah dan
dadanya. Setelah semprotannya reda, Imron menempelkan penisnya ke
bibir Fanny. Tahu apa yang harus dilakukan, Fanny pun menjilati
penis itu hingga bersih dan membersihkan sisa-sisa spermanya.Kedua
hidung belang itu bersandar lemas pada sofa, Fanny juga terbaring
melepas lelah sambil mengelap sperma di dadanya dengan jari dan dia
jarinya menikmati ceceran sperma itu. Acara hari itu selesai sampai
disitu, Pak Dahlan menyuruh Fanny datang lagi keesokan harinya atas
permintaan Imron, Imron pun berjanji menawarkan salah satu
'budak'nya untuk dicicipi dosen bejat itu.
Malam hari itu sekitar jam delapan, sebuah SMS berbunyi 'besok di
lt3 tiga gedung D, jam empat sore' masuk ke ponsel Sherin, gadis
yang pernah diperkosa Imron di sebuah kelas kosong bersama sopirnya
(eps. 3). Dia meneguk ludah, pasrah dengan nasibnya karena tidak ada
pilihan lain baginya dibawah intimidasi Imron terhadapnya, juga dia
khawatir keselamatan pacarnya yang sangat dia sayangi kalau tidak
menuruti kemauan bajingan itu. Memang sebuah dilema baginya, namun
tak dapat disangkal dirinya juga mulai menikmati diperkosa oleh
Imron dengan gayanya yang liar itu. Selanjutnya diapun mengirim SMS
pada temannya yang berencana akan ke kafe keesokan harinya untuk
berangkat duluan, dia akan menyusul belakangan karena ada urusan
keluarga.
Dalam tidurnya dia bermimpi menemukan dirinya dalam sebuah ruangan
dengan hanya memakai bra dan celana dalam. Tiba-tiba sepasang lengan
kokoh mendekapnya dari belakang, dia tidak bisa melihat wajahnya
karena suasana yang remang-remang, yang jelas tangan itu mulai
menggerayangi tubuhnya. Kemudian di hadapannya muncul dua sosok lain
dari keremangan itu. Wajah mereka mulai terlihat jelas, yang satunya
bertubuh kurus dengan kumis tipis, yang lain tubuhnya lebih berisi
dengan bekas luka di dada, keduanya cuma bercelana dalam. Dia
meronta dan menjerit mengetahui orang itu adalah bekas sopirnya yang
memperkosanya habis-habisan sebelum pergi, sedangkan yang satu lagi
tak lain si maniak pemerkosa di kampusnya. Keduanya terkekeh-kekeh
melepas celana dalam mereka mengeluarkan penis mereka yang sudah
tegang. Mata mereka memandang nanar pada tubuh mulus yang hanya
terbungkus pakaian dalam itu. Tangan gempal dari belakangnya
menyusup ke cup branya dan bersentuhan dengan kulitnya. Kemudian
kedua orang di hadapannya menarik robek pakaian dalamnya,
tangan-tangan kasar itu berkeliaran di sekujur tubuhnya dan
membuatnya menggelinjang hebat. Diapun terbangun dengan tubuh
berkeringat dan selangkangannya sedikit basah. Jam telah menunjukkan
pukul tiga dinihari, setelah meminum seteguk air, akhirnya dengan
susah payah dia tertidur lagi.
Keesokan harinya, setelah selesai main basket Sherin menaruh
barang-barangnya di mobil tanpa salin terlebih dahulu. Dengan
langkah berat diapun menuju gedung D dengan pakaian timnya berupa
kaos putih agak longgar dan celana pendek ketat yang memperlihatkan
paha jenjangnya. Rambutnya diikat ke belakang agar tidak terlalu
panas setelah berolahraga. Di gedung D tinggal sedikit orang disana,
disana tidak ada lift karena tempat itu memang gedung lama dan
lantainya memang hanya tiga. Makin berjalan ke atas makin sepi saja
rasanya, ketika menaiki tangga lantai dua menuju ke tiga dia
dikagetkan oleh sebuah tangan yang menepuk pantatnya. "Huh…jaga
dong sikapnya Pak, ini kan tempat umum !" gerutu Sherin dengan
kesal. "Hehehe…gitu aja marah ah !" katanya santai "yuk kita
keatas, udah ditunggu tuh !" "Hah, apa Bapak bilang ? ditunggu ?"
Sherin terkesiap "saya emang salah apa ? kok Bapak malah buka mulut
sih !" suaranya meninggi karena marah. "Lha, Non kan sukanya
rame-rame, seperti waktu sama sopir Non itu kan, jangan sewot gitu
dong !" "Tapi kan Bapak janji ga bakal ngebuka rahasia, tapi kok
gini sih !" Sherin tambah kesal "Heh-heh, katanya ini tempat umum
kok sendirinya omong keras-keras, mau ketahuan apa?" timpal Imron
"hayo mau ke atas ga, tambah seorang aja kok, atau mau yang lain
juga ikutan tau" ancamnya
Tanpa ada pilihan lain, akhirnya Sherin pun mengikutinya ke atas.
Walaupun kesal, namun sisi lain dirinya juga mulai menyenangi
dikeroyok seperti waktu itu, dan sekaranglah dia akan kembali
mengalaminya. Imron mengetuk pintu ruang Pak Dahlan dan terdengar
suara dari dalam mempersilahkan masuk. "Nah, ini nih Pak cewek yang
saya janjiin kemarin, sip kan !?" Wajah Sherin merah padam mendengar
ocehan Imron, serendah itukah dirinya, seperti seorang pelacur yang
sedang dipromosikan oleh germonya saja. "Ini gila, aku ini anak dari
keluarga baik-baik, punya cowok yang baik, bajingan inilah yang
menyeretku ke dalam lembah nista ini, tapi kok aku malah bergairah
diperlakukan tidak senonoh gini" Sherin bergumul dalam hatinya. Pak
Dahlan menatapinya sejenak dari bawah sampai atas, lalu
mempersilakannya duduk. Sherin yang masih canggung menurutinya
setelah diberi syarat gerakan mata oleh Imron. Pak Dahlan
berbasa-basi dulu dengan menanyakan nama, kuliah di fakultas apa,
dan bagaimana studinya. Sherin merasa tidak nyaman dengan tatapan
pria itu yang seakan menelanjangainya sehingga selama diajak ngobrol
dia agak nervous.
"Habis main basket ya ?" tanyanya lagi yang dijawab dengan anggukan
"Minum dulu ya, biar segar !" katanya sambil bangkit ke arah
dispenser dekat situ dan mengisi sebuah gelas kecil. Sherin menerima
gelas yang disodorkan Pak Dahlan seraya mengucapkan terima kasih.
Diminumnya air itu beberapa teguk. Kemudian tangan Pak Dahlan
memegang tenguknya serta memijatnya pelan. Hal itu membuat bulu
kuduknya merinding karena tangan itu juga mengelusi lehernya.
"Gimana udah lebih enakan sekarang ?" tanyanya sambil terus
memberikan pemanasan melalui pijatannya. Sherin terdiam tak mampu
menjawab apapun, pijatan lembut pada pundak dan lehernya itu
membuatnya merasa nyaman sehabis berolahraga barusan sekaligus
membangkitkan nafsunya. "Wah, badannya keringatan gini, dibuka aja
bajunya biar ga gerah ya !" ucapnya kalem Mungkin karena bagusnya
foreplay Pak Dahlan, Sherin tak mampu menolaknya, malahan dia
mengangkat sendiri tangannya membiarkan kaos timnya dilucuti pria
itu sampai terlihat tubuhnya yang indah dengan perut rata dan
payudara yang masih tertutup bra krem.
Pak Dahlan memandang kagum akan keindahan tubuh Sherin yang akan dia
nikmati sebentar lagi. Dia tak ingin menikmatinya terburu-buru agar
lebih terasa enaknya. "Celananya sekalian yah Sher !" katanya lagi
sambil merunduk meraih bagian pinggang celana sport itu. Seperti
sebelumnya, kali ini pun dia pasrah celana itu diloloskan lewat
kedua kakinya sehingga kini di tubuhnya hanya tersisa satu stel
pakaian dalam warna krem dan kaos kaki dan sepatu basket. Dia
menyilangkan lengan ke dada dengan wajah memerah karena malu. Imron
sejak masuk tadi masih duduk di sofa memperhatikan gadis itu
diwawancarai hingga dikerjai seperti sekarang, wajahnya terlihat
nyengir-nyengir memperhatikan adegan itu. Pak Dahlan menarik lepas
ikat rambut Sherin hingga rambutnya terurai hingga bahunya.
"Wah...wah, bener-bener kaya bidadari, Pak Imron ini pinter milih ya
!" sahutnya mengagumi kecantikan Sherin "coba berdiri Sher, ayo
jangan malu-malu" Dia melihat tubuh gadis itu tanpa berkedip,
kemudian mulai mengelus pipinya, tangannya, elusannya terus turun
hingga menyusup lewat atas celana dalamnya.
Sherin menggigit bibir sambil memegangi lengan Pak Dahlan yang
memasuki celana dalamnya, tapi hanya sekedar memegangi bukannya
menahan. Kata-kata penolakan gadis itu yang hanya retorika belaka
malah membuat Pak Dahlan semakin gemas dengannya. Tangan itu mulai
membelai permukaan vagina yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu,
semakin jauh menyentuh bibir kemaluannya. "Sshhhh…eemmhh !!"
akhirnya Sherin pun tak sanggup lagi menahan desahannya Dengan nafsu
sudah diubun-ubun, Pak Dahlan langsung memeluk gadis itu dan
menyerbu bibirnya. Lidahnya menyeruak masuk ke mulutnya yang terbuka
ketika mendesah. Jari-jari Pak Dahlan mulai terasa memasuki
vaginanya dan bergerak liar seperti ular sehingga menyebabkan daerah
itu semakin becek. Erangan tertahan terdengar dari antara percumbuan
yang panas itu. Puas berciuman, Pak Dahlan kembali mendudukkan
Sherin di kursi tadi, lalu di depan gadis itu dia membuka celananya,
burungnya yang sudah bangun tadi seakan meloncat dari sangkarnya
begitu dia menurunkan celana dalamnya. Sherin terhenyak melihat
benda yang mengacung tegak mengarah ke wajahnya itu.
Pak Dahlan meraih kepala Sherin sambil tangan yang satunya
menggenggam penisnya dan mendekatkan ke mulutnya. "Ayo, diemut yah
!" pintanya. Dengan pasrah Sherin mulai menggenggam penis itu dengan
tangan bergetar, mulutnya dia buka untuk memasukkan batang itu. Pria
tambun itu menggeram nikmat merasakan kuluman Sherin dan permainan
lidahnya. Sekitar tiga menitan dia mengoral Pak Dahlan, terdengarlah
ketukan di pintu, semua di ruang itu diam dengan mata memandang ke
pintu. "Gapapa…Non Fanny kok !" Imron memberitahu setelah
mengintip lewat tirai. "Siapa Pak !" Sherin nampak bingung dan
mengambil pakaiannya yang tercecer untuk menutupi tubuhnya
"Aah…tenang aja Sher, ntar kamu juga kenalan kok, udah ini taro
lagi deh !" kata Pak Dahlan seraya mengambil kaos dari tangan gadis
itu. Fanny agak kaget ketika melihat di ruang itu ada gadis lain
yang hanya berpakaian dalam dan dosennya dengan celana sudah melorot
itu.
"Dia kesini mau ngeramein suasana, tenang aja aman kok !" Imron
menjelaskan pada Fanny. Sementara itu Pak Dahlan kembali
mengeluarkan penisnya dan medekatkannya ke mulut Sherin. Karena
waktu itu Sherin masih merasa risih, Pak Dahlan menjejalkannya ke
mulut dengan setengah paksa. "Ayoh…gapapa kok, jangan malu-malu
gitu !" katanya. Dari belakang, Imron memeluk pinggang Fanny yang
masih terbengong menyaksikan kelakuan dosennya itu. Diciumnya leher
jenjang Fanny sehingga bulu kuduknya merinding dan semakin horny.
Tangannya dengan lincah melepas sabuk dan membuka resleting gadis
itu, maka meluncur jatuhlah celana jeans panjang itu memperlihatkan
keindahan sepasang paha mulus dibaliknya serta celana dalam G-string
yang seksi. Telapak tangan Imron menyelinap ke balik celana dalam
itu dan memegang kemaluannya. Tubuh Fanny bergetar dan matanya
terpejam menahan nikmat terlebih ketika jari-jari Imron menggosok
bibir kemaluannya.
Hembusan nafas dan ciuman Imron pada telinganya membuat nafsunya
makin naik. Kemudian dia mengangkat tangannya dan melingkarkan ke
belakang kepalanya. Wajahnya menengok ke samping dan langsung
mendapat pagutan panas dari Imron. Sambil berciuman, Imron
menggerakkan tangan satunya menyingkap kaos 'NEXT' tanpa lengan yang
dikenakan Fanny. Tangannya pun mulai menggerayangi tubuh bagian
atasnya hingga akhirnya menyusup ke cup bra kanannya.
"Eemmpphhh…mmm !" desah Fanny tertahan setiap kali Imron mengorek
liang vaginanya dengan jarinya atau mempermainkan putingnya.
Sementara di hadapan mereka, Pak Dahlan sudah menghentikan oral seks
bersama Sherin. Sekarang pria tambun itu sedang duduk memangku
Sherin yang tinggal memakai celana dalamnya saja sambil menyusu dari
payudaranya. Tangan satunya menopang tubuh Sherin dan tangan lainnya
bergerilya menyusuri keindahan tubuhnya. Pipi pria itu sampai kempot
menyedot puting Sherin, sepertinya dia sangat gemas dengan payudara
Sherin yang putih montok dengan puting kemerahan itu. Sherin sendiri
nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam.
Imron menggiring Fanny ke sofa tempat kemarin bertarung, dia melepas
pakaian karyawannya hingga bugil memperlihatkan penisnya yang sudah
mengeras itu. Kemudian dia naik ke sofa menindih tubuh Fanny,
kembali dia mencumbunya dengan ganas, keduanya berpelukan erat
sambil memainkan lidah masing-masing. Berbeda dengan korban Imron
lainnya yang umumnya harus ditaklukkan dengan cara paksa, Fanny
nampaknya ok-ok saja melayani si penjaga kampus ini, bahkan cukup
antusias. Dengan predikat sebagai gadis nakal semua itu tentu hanya
sekedar tambah pengalaman baginya. Dari bibir ciuman Imron merambat
turun sambil lidahnya menjilati leher dan pundaknya hingga ke
payudaranya yang sudah keluar dari cup branya. Terlebih dulu Imron
melepaskan kaosnya yang sudah tersingkap, selanjutnya dia keluarkan
payudara yang satunya dari cupnya. Bra itu tetap melingkar di
dadanya, hanya saja cupnya sudah dipeloroti. Mulut Imron mengenyoti
kedua gunung itu secara bergantian, daerah itu jadi basah oleh
ludahnya. "Aahh…ahhh…mmmhh !" desah Fanny sambil meremasi rambut
Imron. Tangan Imron turun ke bawah memeloroti celana dalam G-string
itu perlahan-lahan sambil mengelusi pahanya hingga celana itu pun
akhirnya terlepas tapi masih nyangkut di kaki kiri Fanny.
Tidak jauh dari situ, nampak Sherin yang duduk di tepi meja kerja
dengan Pak Dahlan masih duduk di kursi tadi dengan kepala terbenam
di selangkangan gadis itu. Lidah Pak Dahlan menari-nari menyapu
dinding vagina Sherin, terkadang juga menyentuh klitorisnya. Tangan
kirinya menjulur ke atas memijati payudara kirinya, sedangkan tangan
kanannya mengelusi paha dan pantatnya, sesekali juga ikut memainkan
jarinya pada vaginanya. Sebentar saja badan Sherin sudah menegang.
"Oohh…Pak, aaahh !" kedua paha mulusnya makin menghimpit wajah Pak
Dahlan. Pak Dahlan dengan rakus menyedoti cairan cintanya sampai
terdengar bunyi menyeruput. Setelah itu dia bangkit berdiri di depan
Sherin yang masih duduk di tepi meja, kaki kanannya dia buka lebih
lebar dan diarahkannya kepala penisnya ke vagina Sherin. Dia lalu
menekan penisnya pada vagina Sherin yang sudah becek itu. Sherin
tersentak ketika batang itu menyeruak masuk dengan agak kasar ke
dalam vaginanya, terasa sekali benda itu menggesek dinding vaginanya
yang penuh lendir. "Aaww…aagghh !" desahnya dengan badan tertekuk
ke atas.
Pria tambun itu menyetubuhinya dengan ganas sehingga payudara Sherin
nampak tergoncang-goncang seirama hentakan tubuhnya. Matanya
merem-melek merasakan tusukan penis Pak Dahlan yang datang
bertubi-tubi. Dia mengarahkan pandangannya ke depan dan dilihatnya
wajah lebar berkumis itu sedang menatapnya dengan takjub. Pria itu
terus menyetubuhinya sambil berpegangan pada kedua pahanya. Sherin
melingkarkan tangan kirinya ke leher Pak Dahlan dan tangan kanannya
bertumpu di meja. "Ah…iyah Pak…aahh-ah-terus !" Sherin
menceracau demikian secara refleks. Sebuah benda basah yang hangat
mendadak terasa menggelitik telinganya, rupanya Pak Dahlan sedang
menjilati daerah itu. Jilatan dan hembusan nafasnya di sana membuat
gairahnya semakin meledak-ledak. Selanjutnya bibir Pak Dahlan
bergeser ke pipinya, sapuan kumisnya terasa pada wajahnya yang halus
hingga bertemu dengan bibir Sherin yang tipis. Desahannya pun
teredam karena mulutnya dilumat oleh Pak Dahlan. Mulut Pak Dahlan
yang lebar itu seolah-oleh ingin menelan Sherin, lidahnya yang kasap
itu menjelajahi rongga mulutnya membuatnya agak gelagapan.
Di atas sofa, tubuh Fanny terbaring dengan kepala bersandar pada
sandaran tangan, satu-satunya pakaian yang tersisa di badannya hanya
bra yang cupnya sudah diturunkan, Imron yang menindihnya
menaik-turunkan tubuhnya sambil menciumi lehernya. Rasa nikmat itu
diungkapkan Fanny lewat desahannya, sesekali dia menggigiti jarinya
sendiri, kedua tungkainya melingkari pinggang Imron seolah meminta
ditusuk lebih dalam lagi. Imron meningkatkan frekuensi genjotannya
sambil melenguh nikmat merasakan seretnya vagina yang menghimpit
penisnya. Duapuluh menit berlalu, Imron kini mengubah gayanya. Tubuh
Fanny dia baringkan menyamping, paha kirinya dia angkat ke bahu,
kemudian penisnya kembali memasuki vaginanya lewat samping. Dengan
begini penis itu dapat melakukan penetrasi lebih dalam. Imron
melanjutkan genjotannya dan meraih sebuah payudaranya, diremasnya
benda itu dengan gemas sehingga pemiliknya merintih. Tubuh Fanny
maupun Imron sudah berkeringat, keduanya saling memacu tubuhnya
masing-masing. Di ambang klimaks Imron makin ganas menyodoki Fanny
yang orgasme tak lama kemudian, dia menggeram panjang lalu mencabut
penisnya dan, crot…crot…isi penis itu berceceran di perut Fanny.
Kembali kita menengok Sherin dan Pak Dahlan di meja kerja. Mereka
kini sedang dalam gaya berdiri, Sherin berpegangan pada tepi meja,
dia tinggal memakai kaos kaki dan sepatu olahraganya saja, sementara
Pak Dahlan menyodoki vaginanya dari belakang. Sebelumnya Sherin
sudah mencapai orgasme sewaktu posisi duduk di meja, sisa-sisa
cairan orgasme itu masih nampak membasahi pinggir meja. Kedua tangan
Pak Dahlan mendekap dadanya, telapak tangannya menggerayangi kedua
buah dada yang bergoyang-goyang itu. Sherin jadi teringat mimpinya
semalam, tangan yang sedang bermain di payudaranya berjari-jari
besar, persis dalam mimpinya itu, apakah mimpi itu suatu pertanda,
apakah merupakan sebuah peringatan, demikian yang berkecamuk dalam
pikirannya. Lamunan itu terhenti ketika ada suatu sensasi dahsyat
mengalir dalam tubuhnya, semakin terasa hingga akhirnya tubuhnya
mengejang hebat, dan cairan vaginanya sekali lagi membasahi
selangkangannya, posisinya yang sedang berdiri membuat cairan itu
meleleh ke pahanya. Bersamaan dengan itu juga terasa cairan hangat
mengisi vaginanya. Pak Dahlan yang telah orgasme terus memompa
Sherin dengan kecepatan makin menurun, sperma itu ikut meleleh
bercampur dengan cairan kewanitaannya.
Setelah gelombang orgasme itu reda, Sherin merasa tubuhnya lemas
kehilangan topangan, mungkin sudah roboh kalau saja tidak didekap
Pak Dahlan. Pak Dahlan menarik pinggan Sherin seraya menjatuhkan
diri ke kursi sehingga Sherin pun mendarat di pangkuannya. "Hebat
Sher, makasih ya, kapan-kapan kita main lagi ok !" katanya sambil
memeluk dan menciumnya. "Huh, dasar gendut mesum, yang kaya gini
jadi dosen bukannya jadi germo, amit-amit deh !" omel Sherin dalam
hati. Demikian setelah istirahat sebentar mereka bertukar pasangan
dan pesta seks di ruang itu berlangsung lagi sampai jam lima lebih
ketika langit mulai menguning. Fanny akhirnya berhasil mengkatrol
nilainya setelah membayar dengan tubuhnya. Hari-hari berikutnya Pak
Dahlan benar-benar puas mencicipi korban-korban Imron yang lain
seperti Ellen, Jesslyn, dan Rania. Korban itu akan terus bertambah
apalagi setelah kedua penjahat kelamin itu kini telah bersekongkol.