Tuesday, May 1, 2007

NEVA 2

"Pada sepi yang tiba
Keyakinanku yang rapuh
Kuusik sendiri...
Wajahmu tak tahu berjanji
Dalam sinar baur kabur
Dan bunyi seretan sandal
Kusumpahi engkau
Yang terus membuntutiku
Membuntukan seluruh
perjalananku..."
Hutan karet itu masih seperti dulu. Bau tanah basahnya, getah
karetnya, bahkan dangau tempat para pemanen karet beristirahatpun
masih ada di tepinya. Neni istriku tampak sesekali merapatkan
pegangannya di pinggangku. Langit sangat gelap, mendung menari
dengan seenaknya dan membawa udara dingin menerpa perjalanan kami
menuju rumah kepala desa tempatku dulu KKN dan motorku dengan usia
rentanya nampak terpatah-patah mendaki jalanan yang berbukit. Ah,
semoga kami belum terlambat menghadiri pemakaman kepala desa yang
baik hati itu. "Kenapa sih mas... motor butut ini nggak dijual saja.
Beli motor Cina juga nggak apa-apa." keluh istriku. Dan seperti
biasanya aku hanya terdiam tak tahu bagaimana cara menerangkannya
alasanku sesungguhnya.
"Ha.. ha.. Yok... ini sih sepeda onthel bukan motor" tawa lepas Neva
waktu motorku mogok di jalan dekat hutan karet itu saat itu.
"Biarin, kenapa kamu mau aku goncengin?" Aku pura-pura marah.
Mendengar nada suaraku yang kelihatan kesal. Mata Neva yang bulat
segera membelalak dengan lucunya.
"Ah.. kamu nggak asyik. Gitu aja marah" Dia gantian memberengut dan
mulutnya terkatup rapat. Garis mukanya mengeras, dahinya mengrenyit.
Lho? Aduh gimana nih? Sumpah, aku tidak bermaksud membuatnya
tersinggung. Aku kelabakan "Ngg... anu. Nev... aku... aku... maaf...
tadi... ngg" Aku tidak bisa meneruskannya karena tak tahu harus
bagaimana. Sungguh mengapa aku begitu takut membuatnya marah, takut
dia tak mau lagi bersamaku. Saat aku bergulat dengan kekawatiranku,
tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipiku "Mmuah!" Neva menciumku
sambil terkekeh-kekeh geli karena berhasil mengecohku. Antara lega,
kaget, senang dan malu. Terlebih beberapa penadah karet yang
berpapasan dengan kami nampak jengah dan malu melihat kespontanannya
yang tak bosan-bosannya memukauku.
"Nev.. sst.. ntar dilihat orang"
"Ha.. ha... biarin! ha.. ha... gotcha!
Takut aku marah ya? He.. he..." Dia masih ketawa geli. Begitu
menggemaskan, ingin rasanya kupeluk erat-erat. Segera kuusap-usap
rambutnya yang mulai memanjang dan awut-awutan itu dengan penuh
kasih.
"Sayang ya?" tanyanya manja (baru kusadar, dia tidak penah
menampakkan kemanjaan ini kepada siapapun selama kami KKN. Beginikah
dia sama Don? Persetan! Segera kuusir perasaan buruk ini). Kupandang
dalam ke mata lucunya. Aku tahu pasti, dia bisa membaca apa yang
terukir indah di dalam hatiku. Hujan tumpah tanpa terbendungkan
lagi. Angin menjadi semakin kencang seolah mengejek motorku yang
semakin terseok. "Nen.. kita berteduh di dangau itu saja" segera
kupinggirkan motorku ke dangau di tepi hutan itu. Daun kelapa kering
yang menjadi atapnya nampak koyak di beberapa bagian. Tapi masih
lumayanlah di pojok sebelah kanan masih ada tempat yang kering.
Sebelum kami duduk di bangku bambu yang sudah tampak lusuh dan
banyak sisa pohon kering, kubersihkan bangku itu dengan tanganku,
dan dengan ketergesaanku itu mengakibatkan sebuah paku kecil yang
menyembul menyayat jari telunjukku. Darah segar segera mengalir.
"Oouch!"
"Yok... aduh... tanganmu berdarah" Neva berteriak dengan kecemasan
yang tak dapat disembunyikannya. Segera diambilnya jari telunjukku
dan dikulumnya di bibirnya yang tak tersentuh lipstik. Pemandangan
di depanku membuatku tak mampu berkata sepatah katapun. Begitu
indah, begitu ingin kubekukan dan kubingkai selamanya. Rambut dan
mukanya yang basah karena guyuran hujan membuat bibirnya sedikit
kebiruan. Celana jeans dengan dengkul sobek plus kaos putihnya basah
kuyup dan membuat lekukan di dadanya menjadi sangat jelas. Warna
hitam dari branya memberi aksen pada lukisan indah dihadapanku ini.
Dengan perlahan dan lembut dikulum dan disedotnya darah dari jariku.
Kurasakan di ujung jariku kelembutan lidahnya menyentuh lukaku.
Perih yang tadinya begitu kuat menggigit ujung jariku secara
perlahan berganti menjadi kehangatan yang menjalari seluruh ujung
kepekaanku. Masih kurasakan kebahagiaan yang kuperoleh beberapa hari
yang lalu di rumahku saat kami menginap. Aku rindu sentuhannya, aku
rindu....
"Nah... sudah mendingankan?" jariku yang dicabut dari mulutnya
membuyarkan kenanganku. Ada sedikit rasa kecewa di perasaanku. Tapi
rasa maluku mampu menekannya dalam-dalam. Entah, sejak kejadian di
rumahku itu, aku merasakan kedekatan yang luar biasa di antar kami.
Nevapun semakin jarang membicarakan Don, meski dihadapan
teman-temanku seregu dia nampak dengan sengaja melontarkan
kerinduannya pada kekasihnya itu dengan ujung mata yang sesekali
mencuri pandang ke diriku. Kekasihnya? Siapa? Don? Aku? Aku takut
dengan jawaban pertanyaan itu dan aku tidak pernah
mempertanyakannya. Aku hanya yakin, Neva juga melakukannya dengan
hatinya.
"Hey.. jangan melamun dong, Mas!" sapaan istriku lembut tapi
kurasakan ada kejengkelan di dalamnya. "Nggak... cuma hujan kayak
gini pasti lama... kita terjebak di sini nih!" sambil kupeluk
istriku. Ada rasa syukur yang besar saat hujan turun dengan derasnya
diiringi angin besar. Neva merapatkan duduknya sambil tak bisa
menyembunyikan gigilan dingin yang menerpanya. Sepenuh hati segera
kupeluk karunia indah ini dan kuberikan seluruh kehangatan jiwaku
padanya. Kurasakan balasan pelukannya begitu lembut tapi tegas.
Dengan rasa sayang yang luar biasa kucium rambut basahnya. Nampak
dia terpejam menikmati rasa sayangku itu. Tanpa sadar kuteruskan
ciumanku di telinganya, dia mengelinjang kegelian, kutelusuri
belakang telinganya dengan ujung lidahku, kemudian lehernya. Dia
lalu menengok dan dengan hangat diciumnya bibirku. Lidah-lidahnya
bermain di rongga mulutku dan tangan kanannya mengambil tangan
kiriku untuk diletakkan di atas dadanya.
Hujan yang semakin deras melarutkan percumbuan kami. Ditariknya
mulutnya dari mulutku "Yok... tapi nggak usah main ya?". Dengan kelu
kuanggukkan kepala. Neva kemudian pindah ke depanku menghadap ke
arahku, bra hitam basahnya yang nampak samar di kaos basahnya tepat
di hadapanku. Disorongkannya dadanya ke mulutku, segera kulumat kaos
basah itu sambil mulutku sesekali menggigit lembut ke dua bukit
indahnya. Sambil memekik kecil karena gigitan itu ditariknya kasonya
ke atas, nampak bra hitamnya memiliki bukaan di depan. Dibukanya
bukaan itu. Ya ampun, kedua bukit itu tegak berdiri dengan puncak
hitamnya yang mengeras (entah karena kedinginan atau keinginan).
Kulahap habis kedua puncak hitam itu bergantian. Kugigit-gigit
lembut dan Nevapun mengelinjang kegelian. Kuremas-remas pantatnya
yang tergolong besar itu sehingga dia dengan gerakan yang begitu
ekspresif semakin menyorongkan dadanya ke mulutku. Kedua bukit itu
makin keras. Tiba-tiba dengan gerakan yang agak kasar ditariknya
kedua dadanya dari mulutku. Neva segera berjongkok, dibukanya
risleting celana jeansku dan dikeluarkannya kelelakianku, segera
dilumatnya kelelakianku dengan gerakan yang menagihkan.
Digigit-gigit kecilnya ujung kelelakianku, ditelusurinya batang
tubuhnya dengan ujung lidahnya hingga ke pangkal. Gelinjang sensasi
kenikmatan yang kurasakan membuatnya mempercepat gerakan makan es
krimnya. "Ugh... ah...... akhhhhhhhh... Nev.. ahhhhhhh" tak mampu
aku berkata apa-apa. Lavaku sudah mendekati puncak dan Neva akan
menekan pangkal batang kelelakianku bagian bawah, tiba-tiba...
Grung... grung... suara mobil membuat kami bagaikan kesetanan segera
membenahi baju kami. Dengan napas tersengal, kami segera duduk
sambil ngobrol yang tak jelas.
"Mbak.. Mas... bareng aja yuk?" pak lurah yang baik hati itu
menghentikan mobil kijang bak terbukanya. Dengan senyum sedikit
kecut kami terpaksa numpang mobil itu dengan motor tuaku nangkring
di bak belakang. "Nev.. aku pusing!" bisikku. Neva hanya mengangguk
sambil jarinya meremas jemariku. "Yah... memang hujan seperti ini
membuat kita gampang masuk angin, pusing. Nanti sampai di rumah biar
ibunya anak-anak bapak suruh ngerokin nak Iyok." Pak lurah yang baik
hati itu dengan polosnya menyahut. Aku dan Nevapun berpandangan
dengan senyum antara geli dan kecut.
"Kematian adalah tantangan,
Kematian mempertegas kita untuk tida melupakan waktu,
Kematian memberi tahu kita untuk saling mengatakan saat ini juga
bahwa....
kita saling mencintai..."
Rumah pondokan KKNku juga masih seperti dulu. Dinding batakonya,
kedua kamarnya (satu untuk Neva dan Santi, sedangkan yang lainnya
untuk Hendra, Made, Sugeng dan aku. Ah... teman-teman sereguku itu
juga tak kuketahui rimbanya kini...) kini ditempati keponakan pak
lurah yang baik hati itu. Rumah pak lurah hanya beberapa ratus meter
dari rumah itu. Bu lurah dengan mata yang masih sembab menyambut
kedatanganku dengan keharuan yang mendalam. Kukenalkan Neni,
kemudian kusalami dia. Masih kurasakan kehangatan perhatiannya saat
mengerokiku dulu ditangannya
"Makanya mas Iyok... mbok motornya diganti saja. Kalo gini kan
kasihan mbak Neva nggak bisa nonton ke Salatiga sama mbak Santi dan
yang lain. Mereka tadi nunggunya lama lo... mas Made yang ngusulin
ninggal. Marah lo dia" sambil sesekali dipijitnya tengkukku. Sambil
tersenyum menahan kerokan yang tak kuinginkan ini aku hanya diam
saja. Kalau kutanggapi bisa-bisa sampai subuh bu lurah yang masih
menyisakan kecantikan masa mudanya ini tak bisa menghentikan
obrolannya. Padahal aku begitu ingin segera kembali ke pondokanku
menyusul Neva yang tapi pura-pura pamit menyelesaikan persiapan
mengajarnya di SMP desa. Akhirnya siksaan kerokan itu berlalu,
sambil pura-pura mengantuk karena Procold aku bergegas ke
pondokanku. "Nen.. ini kamarku dulu, dan yang itu kamar Santi dan
Neva" waktu kusebut namanya ada kelu yang mnyekat di kerongkonganku.
Untunglah keponakan pak lurah segera menyuruh kami minum teh hangat.
"Nev... mau teh hangat?" kuambilkan secangkir teh dari rumah pak
lurah, jangan-jangan Neva sakit beneran? Ada rasa cemas yang
menyusup saat aku masuk kamarnya dan kulihat dia meringkuk tak
bergerak. "Mau dong" sambil mengeliat bangun dari tidur ayamnya.
Syukurlah, dia tak apa-apa. Sesaat setelah menghabiskan teh dia
menengadah...
"Yok?" bisiknya
"Ya?"
"Selesain yuk?". Ah.. betapa inginnya aku agar Neni bisa
mengutarakan keinginannya seperti dia. Segera kukunci pintu depan.
Dan dengan setengah berlari aku kembali ke kamar Neva. Begitu kubuka
kamar, Neva ternyata telah menanggalkan seluruh celana pendek dan
kaosnya. Hanya tinggal bra hitam dan celana hitamnya (aku tak tahu
kenapa dia begitu tergila-gila warna hitam, hampir seluruh pakaian
dalamnya hitam). Dengan reflek kubuka bajuku segera kutubruk dia.
Neva sedikit meronta dan itu membuatku semakin bergairah. Tak tahu,
rasanya kami terburu-buru, mungkin karena rasa takut ketahuan. Neva
segera menanggalkan pakaian dalamnya dan segera memintaku untuk
memasukkan kelelakianku di lubang kewanitaannya. Entah, aku justru
menunduk dan kuciumi dengan lembut. Bau kewanitaan itu begitu khas,
aku belum pernah membauinya.
Dengan reflek kujilati pinggirannya dan benda kecil yang tampak
memerah tegang ditengahnya. Neva mengelinjang dengan hebat tangannya
sedikit menjambak rambutku dan membenamkan kepalaku semakin dalam ke
lubang itu. Aku begitu menikmati permainan ini. Sumpah aku belum
pernah melihat gambar atau film seperti ini. Semuanya kulakukan
dengan reflek naluriku belaka. Lidah-lidahku semakin liar
menari-nari di lubang itu dan kumasukkan semakin dalam dan dalam.
Kedua tanganku ke atas memegang bukit indahnya yang semakin keras
dan mengeras. Kupelintir kedua puncak hitamnya, kumainkan sampai
kurasakan air semakin deras di kewanitaannya. Kujilati air itu,
kuhisap, kutumpahi ludahku bercampur dengan air itu. Kuhisap lagi.
Kedua puncak hitam bukit indahnya semakin keras kupelintir,
kugemggam dengan liar kedua bukit itu, kuremas-remas, kuperas dan...
"aaaahhhhh... oh yes... yes. uh...... ahhhh.." panggul Neva dengan
sangat liarnya melakukan gerakan memompa. "Oooohhhhh... Yesss!!!!"
dibenamkannya semakin dalam kepalaku ke dalamnya. Ya.. Tuhan..
begitu bahagianya diriku melihatnya begitu puas. Segera kucabut
lidahku dan dengan ujung lidahku kujilati seluruh tubuhnya. Neva
semakin menggelinjang, kulumat habis kedua bukit indahnya dengan
puncak yag begitu keras. Ah... aku tak kuasa menahannya lebih lama
dan... Blesss!!! Kumasukkan kelelakianku ke dalam kewanitaannya.
Dipegangnya kedua pantatku dan ditariknya ke dalam lubang itu
semakin dalam. Sambil kulumati kedua bukit indahnya, kelelakianku
terus mempa dengan rasa cintaku yang luar biasa. "Yok... ayo...
yok... ah... terus... terus.. oh yesssss!" saat itu kusemburkan lava
kelelakianku di atas tubuhnya. Segera dioles-oleskannya ke seluruh
tubuhnya. Ah betapa cantik dan seksinya dia... Saat Santi dan
teman-temanku pulang, Neva sudah tertidur kelelahan. Dan aku
pura-pura nonton TV di rumah pak lurah. Waktu teman-temanku
menceritakan betapa hebatnya film yg ditonton. Aku hanya pura-pura
kesal dengan kebahagiaan yang tak terkira. "Mas.. pulang yok.. udah
sore nih..."
Angin senja membawaku kembali ke Solo sambil masih terngiang dengan
jelas bisikan Neva sesudah mengakhiri permainan kami.
"Aku ini badai dan samudera,
hutan tergelap dan pegunungan terjal dan liar.....
betapa inginnya kualamatkan selalu kerinduanku
pada tempat ini"
Bersambung...