Tuesday, May 1, 2007

LIBIDOKU

Kurasa banyak juga wanita di
muka bumi ini, yang sebenarnya juga punya banyak petualangan sex,
namun belum ada yang berani mengungkapkannya.
Kenapa mesti takut dan malu? Itu semua hak kita, memangnya hanya
laki-laki saja yang punya hasrat dan libido? Wanita juga punya,
hanya mereka biasanya malu dan takut mengungkapkannya, apa lagi
untuk menyalurkannya. Lain halnya denganku, apa yang kumau kujalani
saja apa adanya, yang penting aku belum mau ada ikatan.
Banyak juga yang mengatakan kalau hubungan antar suami istri pasti
lebih nikmat, karena ada dasar saling mencintai, siapa bilang?
Banyak juga kaum istri yang merasa tidak puas dan tidak mengalami
orgasme karena sang suami melakukannya dengan cepat tanpa foreplay
dan tidak peduli apakah lawan mainnya sudah puas atau belum, yang
penting dirinya sudah orgasme. Akibatnya apa yang dilakukan sang
istri? Mau nyeleweng juga takut, mau masturbasi malu, walau
terkadang ada juga yang sembunyi-sembunyi melakukan masturbasi, Hi..
hi.. hii..! Kacian deh loe!
Kali ini akan kuceritakan pengalaman pertamaku melakukan hubungan
sex atau make love (ML) yang sebenarnya. Ini kulakukan saat aku
memasuki bangku kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Aku memang kuliah di sana mengambil jurusan kedokteran hewan. Di
antara teman cowokku saat itu, yang paling akrab denganku adalah
Charles, anaknya cukup ganteng dan pandai.
Namun sayangnya Charles akhirnya tidak meneruskan kuliahnya karena
dia merasa patah hati denganku (bukan GR lho!). Charles memang
merupakan cowok yang pertama kali merasakan mahkota kegadisanku,
kulakukan semua itu dengan suka rela tanpa ada tuntutan.
Kuanggap saat itu kami memang saling suka sama suka dan saling
membutuhkan, bukan berarti itu sebagai suatu ikatan yang mana aku
harus bersedia menjadi istri Charles kelak. Hal inilah yang membuat
Charles akhirnya harus terpukul dan patah hati, karena setelah
kupersembahkan mahkota kegadisanku, Charles merasa harus bertanggung
jawab dan akan menikahiku. Sedangkan aku tidak ingin mendapat ikatan
apa-apa, maka akhirnya Charles patah hati dan berhenti kuliah, sejak
saat itu aku juga tidak tahu dia ada dimana, kalau seandainya saat
ini di manapun Charles berada dan sedang membaca kisahku ini, aku
mohon maaf, bukannya aku bermaksud menyakiti hatinya, tapi begitulah
aku, Natalia yang masih tetap seperti yang dulu.
Sejak awal perkenalanku dengan Charles, kami memang telah merasa
saling cocok satu sama lain. Banyak hal yang kami selalu lakukan dan
lalui bersama, entah bagaimana perasaan Charles padaku saat itu,
namun aku menganggap Charles tak lebih sebagai seorang teman yang
akrab dan enak diajak berbincang maupun bergaul, atau mungkin
sebagai kakak yang bisa diajak curhat misalnya.
Hubungan kami makin hari makin dekat dan akrab, kami juga mengawali
dengan saling berciuman, berpelukan sambil terkadang saling raba dan
saling remas, tentunya di tempat-tempat sepi yang memungkinkan.
Belakangan kami juga sering melakukan petting atau oral sex.
Kalau yang satu ini kami lakukan terkadang di rumahku saat tidak ada
siapa-siapa, terkadang juga di tempat kost Charles, atau di
losmen-losmen murah dengan membayar patungan, maklum Charles bukan
asli anak Surabaya, kedua orang tuanya asli dan tinggal di Medan
sana.
Kami gapai kepuasan itu melalui hubungan oral sex, kami saling cium,
saling lumat dan saling cumbu. Tangan-tangan kami saling meraba dan
mengelus daerah sensitif kami masing-masing, hingga pada puncaknya
kami saling jilat dengan posisi 69. Kepala Charles membenam di
selangkanganku, mengoral vaginaku dan menjilati klitorisku.
Sebaliknya aku juga sibuk mengocok batang kemaluan Charles sambil
mulutku mengulum kepala batang kemaluannya, kujilat biji pelirnya
hingga ke bagian kepala batang kemaluannya. Awalnya aku tidak
mengizinkan sperma Charles tumpah keluar di mulutku, namun
akhir-akhirnya sering kali kubiarkan spermanya menyembur di dalam
mulutku.
Bahkan beberapa kali sperma itu yang awalnya tidak sengaja tertelan
menjadi sengaja kutelan sampai habis. Memang awalnya aku merasa
jijik dan hampir mau muntah rasanya, apa lagi kalau semburan
spermanya muncrat dengan keras hingga langsung menyumbat
kerongkonganku.
Memang pengalaman adalah guru yang terbaik, akhirnya aku pun
terbiasa dan boleh dibilang piawai dalam melakukan oral sex sampai
lawan mainku orgasme, dan spermanya menyembur keluar di mulutku,
kemudian langsung kutelan habis sampai bersih kembali.
Hal yang sama justru sudah dilakukan Charles sejak dari awal kami
melakukan hubungan oral sex, dan Charles pula yang mengawali
mengoral vaginaku, jauh hari sebelum aku berani dan mau melakukan
oral sex pada dirinya. Charles selalu tidak membiarkan cairan hangat
yang keluar dari dalam liang vaginaku, tumpah begitu saja membasahi
sprei tempat tidur yang kami pakai.
Charles selalu menjilat dan menelas habis semua cairan beningku saat
aku mengalami orgasme saat dioralnya, soal kenikmatan yang kualami
saat itu, sungguh sangat sulit kulukiskan dengan kata-kata, karena
rasanya tidak ada kata atau kalimat yang dapat mengartikan bagaimana
nikmatnya saat orgasme itu.
Suatu siang yang tanggal dan harinya aku sudah lupa, aku dan Charles
pulang kuliah agak siang karena memang tidak ada kegiatan di kampus.
Kuajak Charles mampir ke rumahku seperti biasanya, dan waktu itu di
rumahku juga sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku sibuk
dengan urusannya masing-masing, sedang adikku ada yang masih kuliah
dan yang kecil juga belum pulang dari sekolahnya.
Suasana dan kondisi rumahku yang kosong dan sepi memungkinkan
Charles untuk bebas mencumbuku, Charles mengawalinya dengan mencium
lembut bibirku yang tipis dan mungil. Kami saling berciuman dan
berpagutan, bibir kami saling mengulum, dan tangan kami saling
meraba dan meremas daerah-daerah yang sensitif.
Cukup lama kami bergumul di tempat tidurku, sampai akhirnya kami
saling menanggalkan busana kami masing-masing, seperti biasanya saat
kami melakukan oral sex. Lalu kami sudah telanjang bulat tanpa
sehelai pun benang yang menutupi tubuh kami.
Dan cumbuan dan ciuman tadi sudah berubah menjadi jilatan yang kami
lakukan, kami saling menjilati hingga mencapai posisi favorit kami
yaitu 69. Ternyata aku lebih dahulu mengalami orgasme saat melakukan
oral sex kali ini, aku benar-benar hanyut dan terobsesi dengan
permainan lidah Charles yang menyapu rata setiap bagian vaginaku.
Terus terang aku paling tidak tahan saat klitorisku dijilat apa lagi
dikulum-kulum. Biasanya darahku seakan serentak secara bersamaan
mengalir ke atas kepalaku dan berkumpul di ubun-ubun kepalaku, kalau
sudah demikian bendungan pertahananku jebol diterjang badai dan
gelombang birahiku yang dahsyat.
Namun kali ini rupanya Charles lebih lama bertahan daripada
biasanya, memang tidak biasanya Charles mampu mempertahankan
orgasmenya sebegitu lama saat kukulum batang kemaluannya. Kali ini
rupanya lain, dan karena orgasmenya tak kunjung tiba, Charles
mengubah posisinya dengan menindih tubuhku dengan posisi kami saling
berhadap-hadapan.
Charles kembali mencium dan melumat bibirku, masih terasa sisi bekas
lendirku yang menempel di mulut Charles, rasanya sedikit asin dengan
aroma yang khas sekali, karena aku juga pernah menjilati jari-jariku
setelah melakukan masturbasi, saat itu jari-jariku juga dipenuhi
oleh cairan kenikmatan sisa orgasmeku.
Sambil menciumku, Charles memegang batang kemaluannya dan
menggosok-gosokkan ujung kepala batang kemaluannya di antara celah
belahan bibir vaginaku, aku merasakan geli yang bercampur
kenikmatan, ada rangsangan tersendiri yang kurasakan saat itu,
sehingga membuat liang vaginaku kembali basah dibanjiri oleh cairan
birahi yang mengalir dari dalam rahimku.
Charles mulai menusuk-nusukkan ujung kepala batang kemaluannya di
celah liang vaginaku, desakan batang kemaluannya terasa agak sakit
saat memasuki terlalu dalam ke liang vaginaku, hingga terkadang aku
sedikit tersedak dan mengaduh, namun lama kelamaan aku juga menjadi
tidak tahan dengan perlakuan seperti itu, ingin rasanya aku
merasakan batang kemaluan Charles dimasukkan lebih dalam lagi ke
liang vaginaku.
Charles sepertinya juga tahu apa yang kumau, ia mulai menggosokkan
batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi ke liang vaginaku. Aku
kembali merasakan sakit di dalam liang vaginaku yang memang belum
pernah dimasuki benda apa pun, kali ini ada sedikit rasa perih dari
dalamnya.
Charles rupanya juga mengerti akan hal itu, dan ia tidak
melanjutkannya dengan gegabah, sambil sesekali meneruskan
dorongannya agar batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi, Charles
juga memberikan aku waktu luang untuk menarik nafas menahan rasa
sakit dan perih yang bercampur nikmat di vaginaku.
Akhirnya setengah dari batang kemaluan Charles berhasil menyeruak
masuk ke dalam liang vaginaku, dan Charles mulai memompanya
pelan-pelan sambil terus melakukan tekanan hingga batang kemaluannya
benar-benar dapat masuk secara utuh di dalam kemaluanku.
Rasa sakit dan perih yang kualami juga makin lama makin hilang
berganti dengan rasa nikmat yang selama ini belum pernah kualami.
Charles makin mempercepat pompaannya, batang kemaluannya digenjot
keluar masuk di liang vaginaku, yang makin becek oleh lendir yang
tak terbendung, keluar dari dalam rahimku.
"Oo.. Ooh! Aduu.. Uuh!"
Aku hanya bisa menyeracau tidak karuan, tanganku berusaha meraih apa
saja yang ada di sekitarku, dan kain sprei tempat tidurku yang
menjadi sasaran jambakan tanganku, kuremas kain spreiku hingga
tempat tidurku makin acak-acakan. Tubuhku sedikit bergetar,
kurasakan ada sesuatu yang aneh di dalam liang vaginaku, aku
sepertinya sedang kencing namun bukan air seniku yang mengalir
keluar, namun kutahu itu adalah semburan pelumasku, yang kembali
membasahi liang vaginaku.
Vaginaku mengedut kuat meremas batang kemaluan Charles yang masih
asyik terus memompa liang vaginaku, kedutan vaginaku itu akhirnya
juga membuat pertahanan Charles ikut jebol juga. Dapat kurasakan
semburan dahsyat di dalam liang vaginaku saat Charles melepaskan
orgasmenya.
Cukup lama kami berpelukan sambil posisi batang kemaluan Charles
masih tertancap di dalam liang vaginaku, kurasakan batang kemaluan
Charles pelan-pelan kembali mengecil seukuran normal di dalam liang
vaginaku. Cairan birahi kami berdua yang bercampur di dalam liang
vaginaku merembes keluar melalui celah lipatan bibir vaginaku,
belakangan baru kutahu diantara rembesan tersebut ada bercak merah
yang membasahi sprei tempat tidurku.
Selamat tinggal mahkotaku, demikian bisikku dalam hati sambil
mencium bibir Charles, orang pertama yang memberikan kepuasan sejati
padaku.