Tuesday, May 1, 2007

GARA VS MITHA

Kota X, pertengahan September
Suasana sepulang sekolah merupakan suasana yang cukup menyenangkan
apabila semua orang bisa memandangnya dari sudut pandang Mitha. Dan
Mitha menikmati setiap peristiwa yang terjadi di depan matanya,
merasakan tawa yang keluar dari bibirnya ketika melihat seorang
siswa menjatuhkan jajanannya dari kantung tasnya, dan menggelengkan
kepalanya ketika melihat dua anak yang saling berpegangan tangan
menyusuri lorong-lorong kelas dan tersipu malu tatkala beberapa
siswa yang berkerumun menyoraki mereka. Indahnya cinta.
"Mitha," sebuah suara menyapanya, "maaf aku membuatmu menunggu."
Mitha menoleh dan melihat Gara berlari-lari kecil menghampirinya
sambil terengah-engah. "Ah, ngga apa-apa kok." jawabnya sambil lalu,
toh ia menikmati suasana ini.
"Yuk." Gara menggamit lengannya dan menggandengnya menuju parkiran
sepeda motor di depan sekolah.
Mitha membiarkan angin menyibak rambutnya saat sepeda motor Gara
menelusuri jalan raya menuju ke rumahnya. Tangannya terjulur memeluk
pinggang Gara erat-erat, tangannya yang lain memegangi helm yang
menutupi kepalanya supaya tidak terbawa oleh angin saat mereka
melaju. Mendadak Gara memelankan laju sepeda motornya.
"Mitha," Gara berkata lembut, "kita cari tempat untuk ngobrol yuk."
Mitha mendesah mengiyakan dan merasakan kegalauan yang sejak kemarin
mengamuk di hatinya semakin menjadi-jadi.
Gara membelokkan sepeda motornya memasuki sebuah gang kecil,
menelusuri jalanan sempit itu, dan berhenti di pekarangan sebuah
rumah kecil yang rindang ditumbuhi pepohonan. Mitha semakin kacau.
Gara menurunkan penopang sepeda motornya, menunggu sampai Mitha
turun, dan melangkah ke arah teras rumah. Mitha menggenggam tali
tasnya erat-erat, mencoba mengusir galau hatinya dan mengikuti
langkah Gara. Mitha mendudukkan dirinya di atas kursi taman di depan
Gara duduk, menatap lurus ke ujung-ujung sepatunya.
Mitha memejamkan matanya mendengar setiap kata-kata penjelasan Gara.
Air mata mulai mendesak keluar dari kantung matanya. "Maafkan aku,"
desis Gara. Ah, mungkin kata-kata itulah yang paling banyak
dilatihnya semalaman supaya bisa diucapkannya saat ini. "Aku mau
pulang," Mitha akhirnya berbisik lirih. "Aku antar ya?" Gara bangkit
berdiri dari kursinya. "Thanks, tapi aku sebaiknya pulang sendiri,"
Mitha mengeraskan hatinya, tak ingin kelihatan cengeng di depan
Gara. Gara memandang punggung Mitha yang berjalan menyusuri
pekarangan dan menghilang di balik pagar, Gara menendang meja
tamunya, merasakan nyeri di ujung kakinya dan di dalam hatinya.
Mitha merasakan hatinya sedikit tenang saat kakinya melangkah
semakin jauh dari rumah Gara, Mitha menolehkna kepalanya, menatap
atap rumah itu yang menyembul di atas pepohonan. Tak ada lagi Gara
yang manis, yang membelai rambutnya dengan lembut, membuatnya
tertawa riang, yang ada hanyalah angin yang menghembus sepoi,
menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan cinta yang telah empat tahun
terjalin di antara mereka.
Mitha tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatapnya
bertanya-tanya selama perjalanan pulang di dalam angkutan umum itu,
yang diinginkannya saat ini adalah menjatuhkan tubuhnya di atas
tempat tidurnya, membenamkan kepalanya di dalam bantal dan berteriak
sekuat-kuatnya melepaskan beban di hatinya.
Kota X, sehari menjelang lebaran
"Tiga...dua...satu..." Ray mengikuti detak jam dinding di atas
kepalanya. Tepat pada hitungan kesatu Ray mengangkat tangannya,
menopang tubuhnya, menggoyangkan kepalanya, dan memandang kegelapan
ruang di sekelilingnya.
Matanya menangkap geliatan tubuh telanjang di sampingnya, bibirnya
menyunggingkan senyuman nakal. Ray membungkukkan tubuhnya, menggigit
kecil daun telinga gadis di sebelahnya dan berbisik, "I love you..".
Gadis di sampingnya hanya mengeluh pendek, ketidak acuhan itu cukup
untuk mengusik ego Ray. Tangannya terjulur menyusup ke balik kain
sprei, memeluk si gadis dari belakang, menemukan, meraba, dan
meremas payudara si gadis di sampingnya, membuat si gadis terbangun
dan menggeliat, "Ray...." "Ssshh...enak begini," desis Ray di
telinga si gadis. Ray mengangkat paha kanannya, memeluk pinggul si
gadis dengan kakinya, menurunkan pinggulnya dan menyusupkan batang
penisnya di lipatan paha si gadis. Si gadis mendesah kecil dan
membuka pahanya. Ray membenamkan hidungnya di rambut si gadis,
menciumi aroma segarnya, dan menggerak-gerakkan pinggulnya,
menggesekkan penisnya di bibir vagina si gadis. Telapak tangannya
meremas dan memijat payudara si gadis, membuat si gadis
terengah-engah dalam kenikmatan yang diberikannya. Ray mendesis dan
tertawa lirih saat si gadis menjerit kecil ketika ujung penisnya
menusuk liang vagina si gadis. Ray menikmati kegusaran gadis itu
yang secara impresif membalikkan tubuhnya dan berusaha menamparnya.
Ray memegang pergelangan tangan si gadis, mengecup bibirnya, "Sakit
ya? Kasihan deh." Dan merasakan tangan si gadis melemas, membalas
ciumannya dan melumat bibirnya. Ray memandang jam di dinding yang
sudah menunjukkan pukul empat pagi. "Ah, puasa terakhirpun
kulewatkan," desahnya. Ray bangkit dari tempat tidur dan memunguti
bajunya yang berserakan, mengenakannya, dan mengecup bibir Enni dari
pinggir tempat tidur sebelum melangkah menuju jendela. Maling. Dan
tuduhan itu membuatnya geli.
CHAPTER I
Pantai Z, lebaran kedua, pukul 03.00 pagi
"Tapi, Ray, aku masih susah untuk melupakannya." Ray menatap mata
sendu Mitha dalam-dalam, memandang kearah pasang yang mulai terlihat
surut, menghisap rokoknya dalam-dalam, "Walau bagaimanapun, yang
namanya cinta, memang cenderung berakhir menyakitkan, menorehkan
luka kenangan yang sulit dilupakan, karena di situlah letak
karasteristik sebuah perasaan cinta."
"Ah, tapi ada kan yang cintanya tetap kekal dan membawa
kebahagiaan?"
Ray mengembangkan senyumnya, membuang puntung rokok yang masih
setengah panjangnya itu jauh-jauh ke pasir pantai, "Jangan
mengacaukan cinta dengan kasih." Mitha mengikuti gerakan puntung
rokok yang melayang lalu padam setelah mencapai permukaan pasir,
"Maksud kamu?" Ray bangkit berdiri, menggosokkan telapak tangannya
yang terasa dingin ke pahanya, membersihkan butir-butir pasir yang
menempel, "Kasih, tidak terbawa oleh nafsu, karena itu ia abadi
adanya. Tetapi cinta lekat dengan nafsu, nafsu ingin memiliki, ingin
mengikat, menguasai, memuaskan, dan egoisme adalah inti utama dari
cinta," sampai di sini Ray menghela nafasnya, berusaha menimbulkan
kesan dalam pada setiap ucapannya, "dan bukankah itu yang selalu
disenandungkan orang-orang dalam lagu-lagu mereka? Pernahkah mereka
membicarakan tentang kasih? Kasih yang tidak menuntut, hanya
memberi, berlandaskan pengorbanan, tidak cemburu, murah hati, dan
sebagainya seperti yang pernah engkau pelajari?" Mitha mengalihkan
pandangannya dari Ray ke arah pantai, "Kamu tahu banyak, Ray,"
gumamnya, "dan mungkin kau benar." Ray tertawa, melompat kecil ke
belakang Mitha, memegang pundaknya dan memijat perlahan, "Kau
mengerti sekarang?"
"Tujuh puluh lima persen," senyum Mitha menikmati pijatan Ray. Ray
mencium pipi si gadis dari belakang, berlari menuju mobilnya,
membukakan pintu samping dan membungkuk, "Shall we go?" Mitha
tertawa melihat gayanya yang konyol, menjewer kuping Ray sebelum
melangkah masuk ke dalam mobil.
Kota X, awal tahun baru
Mitha merasa bingung dengan dirinya sendiri, menyaksikan Gara yang
berlutut memeluk kakinya dan memohonnya kembali adalah bunga
mimpinya setiap hari, dan seperti kebanyakan mimpi, Mitha hanya
menganggapnya sebagai suatu pelampiasan keinginan perfeksionis yang
tidak tercapai di kehidupan nyata. Namun kini......
"Mitha, aku tak bisa hidup tanpa kamu," Gara membenamkan wajahnya di
sela-sela kaki gadis yang duduk di hadapannya dan membasahinya.
"Gara....." Mitha merasakan air mata mulai mengalir di pipinya.
Bahkan sampai sekarang aku masih tetap menyayangimu. Mitha
membungkukkan tubuhnya, memegang bahu Gara, dan mengecup
ubun-ubunnya, "Bagaimana dengan keluargamu?" Gara mendekap kaki
Mitha lebih erat, "Persetan dengan mereka."
Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 03.15
pagi
"Alangkah susahnya melupakan cinta pertama."
Ray tersenyum, memperhatikan pepohonan yang berlari di sekitarnya,
"Kata orang, cinta pertama dibawa mati, 'tul ngga?" Mitha menarik
nafas panjang, "Aku tak pernah mencoba membayangkan untuk mengecup
bibir seseorang dan menyerupakannya dengan Gara."
Ray menggerakkan stirnya ke kanan, menghindari kucing liar yang
mendadak melintasi jalan.
"Bukankah beberapa orang justru melakukannya?"
Masa-masa kebahagiaan dan kedewasaan
Mitha memperoleh kembali kebahagiaannya yang terenggut saat
perpisahannya dengan Gara. Hubungan 'backstreet' mereka berlangsung
seakan begitu sempurna, penuh dengan canda tawa dan keceriaan. Namun
Mitha harus rela menempuh hubungan jarak jauh tatkala Ray lebih
memutuskan untuk mengikuti amanat orang tuanya sebagai seorang anak
tunggal, yaitu dengan berkuliah di Surabaya, sementara Mitha
memperoleh PMDK-nya dari sebuah universitas negeri terkemuka di
Bandung. Gara berjanji akan menjenguknya sebisa mungkin. Mitha sadar
bahwa Gara bukanlah berasal dari keluarga yang mampu, namun yang
diingat dan diinginkannya saat itu adalah bahwa bagaimanapun ia
harus mempertahankan hubungan ini sebisa mungkin. Mitha mengalami
berbagai cobaan yang berat selama kuliahnya di Bandung, banyak
lelaki yang terpikat oleh kemolekan dan keanggunannya sebagai
keturunan putri keraton dan berusaha memikatnya dengan berbagai cara
yang luar biasa yang cukup untuk menjatuhkan hati gadis manapun
juga. Tapi Mitha masih mampu bertahan dan mengeraskan hatinya,
menolak setiap uluran tangan dan godaan yang datang, dan hanya bisa
melampiaskannya ketika Gara datang menjenguknya dengan kecintaan dan
kerinduannya, membelai tubuhnya dan bercinta di wisma-wisma murah
yang berserakan di sekitar kampusnya.
Mitha tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang lebih dewasa,
dan seiring perkembangannya, Mitha menjadi semakin khawatir akan
masa depan hubungan mereka yang semakin kabur semenjak rakyat mulai
tersegmentasi oleh kekacauan-kekacauan berbau SARA yang marak di
daerah-daerah. Hal inilah yang mampu menahan dan menguatkan dirinya
ketika Gara mengendus telinganya di atas kasur murahan dan
memohonnya untuk melakukan hubungan suami istri. Keinginan dan
hasratnya tertahan oleh ketakutannya sendiri akan masa depan yang
kabur itu, dan Gara sepertinya mengerti akan ketakutan itu, mencoba
menghormati keputusannya, walaupun terkadang menjadi emosionil
ketika hasratnya tak terlampiaskan.
"Gara, bagaimana dengan kita?" Mitha mendesah, merasa berat
melepaskan kepergian Gara selama dua bulan ke Gresik. Di lain pihak,
Mitha sadar posisi Gara yang menjadi harapan satu-satunya sebagai
calon tiang penopang perekonomian keluarganya. Gara memeluk tubuh
telanjang Mitha, membisikkan janji-janji indah ke kupingnya, "Aku
akan menyuratimu." bisik Gara.
"Aku akan mencoba bertahan," Mitha mendesah lirih.
Gara membungkuk di atasnya, mengecup puting susunya, menindihnya dan
meletakkan batang penisnya di bibir vagina gadisnya. Malam itu
menjadi milik mereka, namun bagi Mitha, kenyataan itu justru
menimbulkan alasan baru untuk segera mengakhiri ketidak pastian
cerita cinta mereka. Dan kembali malam itu, Gara merasakan penolakan
Mitha saat gadis itu mendorong tubuhnya ke samping, memegang batang
penisnya dan memaksa spermanya keluar.
Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 03.45
pagi
Ray merasakan pengaruh caffein itu membuat kantung kemihnya
beroperasi lebih cepat. Ray mengurangi laju mobilnya dan
menghentikannya di bahu jalan, "Pipis dulu." Mitha melengos dengan
perasaan geli, "Gokil, ah." Ray tertawa dan keluar dari mobil.
"Aku kagum padamu," Ray berkata ketika mobil yang mereka tumpangi
kembali melaju di atas jalanan hutan.
"Ah, Ray. Aku bukan gadis selemah yang kau kira."
"Mungkin cowokmu yang bego," tawa Ray, yang segera meringis ketika
kepalan tinju Mitha mendarat di lengan kirinya.
Tawa mereka mengiringi instrumental Richard Clayderman yang mengalun
dari tape mobil, menyeruak kegelapan hutan dan kerumunan serangga
malam.
CHAPTER II
Ilustrasi Dosa
Gadis itu merintih kecil ketika bibir si Pria menyentuh dan
menghisap lebut puting susunya, badannya menggelinjang di atas kasur
yang mulai basah oleh keringat. Si Pria memainkan jemarinya di paha
si Gadis, membelainya, menelusurinya, menemukan dan membuka lipatan
paha si Gadis. Erangan dan keluhan keluar dari bibir si Gadis ketika
jemari itu memasuki dan membelai dinding-dinding vaginanya,
tangannya terangkat dan memeluk leher si Pria yang kini menjilati
seluruh permukaan dadanya. Tangan si Pria terjulur, menuntun
pergelangan tangan si Gadis ke arah penisnya, membiarkan jemari si
Gadis bermain-main dengan batang penisnya yang menegang, sementara
tangannya sendiri kembali menyelip di selangkangan si gadis dan
memainkan bibir-bibir vagina si gadis.
Mereka berdua mengeluh, mendesah, dan menggelinjang akan setiap
rangsangan yang saling mereka bagi satu dengan lainnya.
Si Pria mengangkat tubuhnya, menatap lurus ke mata si Gadis,
mencari-cari jawaban atas permintaan abstraknya, mendesah saat si
Gadis menganggukkan kepalanya dengan gerakan samar. Si Pria
menurunkan pantatnya perlahan, memegang batang penisnya dengan
tangan kanannya, dan menyentuhkan ujung penisnya menyibak bibir
vagina si gadis memburu liang kehangatannya. Si Gadis menjerit lirih
ketika ujung penis si Pria menusuk dan berusaha membuka jepitan
liang vaginanya. Si Pria mengerang tertahan, mendengus, dan menekan
penisnya lebih kuat, kepalanya menunduk dan menciumi wajah si Gadis
yang mulai basah oleh keringat. Erang kesakitan keluar dari bibir si
Gadis saat penis si Pria berhasil menembus selaput daranya, memenuhi
liang vaginanya yang terasa berdenyut-denyut. Si Pria membiarkan
gerakannya terhenti, meresapi kenikmatan denyut otot liang vagina si
Gadis, menciumi lehernya, dadanya, ketiaknya yang bersih. Kesakitan
dan rasa nyeri yang dirasakan si Gadis membuatnya terengah dan
mengerang, meronta saat penetrasi batang penis si Pria seakan jarum
yang menusuk saraf-saraf sekujur tubuhnya. Si Pria mendengus-dengus,
menggerakkan pinggulnya semakin cepat, tidak mengacuhkan geliatan si
Gadis dan erangan kesakitannya, mengencangkan otot pinggulnya, dan
menarik keluar penisnya sebelum spermanya membanjiri liang vagina si
Gadis. Kepala si Pria terangkat, mulutnya mengeluarkan desahan penuh
kenikmatan. Si Gadis merasakan otot-otot tubuhnya melemas, merasakan
beban yang menindih dadanya saat kepala si Pria menempel di
permukaan kulit payudaranya.
Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 04.15
pagi
"Sssshhh.. hhh...." Ray mengepulkan asap rokok dari tepi bibirnya.
Mitha memandangi langit yang mulai berwarna kebiruan, pertanda
matahari akan segera muncul. Beberapa pecari kayu bakar terpaksa
meminggirkan sepeda mereka saat mobil yang dikendarai kedua anak
manusia itu melaju melintas dengan kecepatan yang cukup untuk
menekan udara menggoyangkan sepeda mereka. "Ray, benarkah banyak
terdapat cowok oportunis di dunia ini?" Mitha membuyaran kesunyian
di antara mereka. Suatu pertanyaan yang merepotkan, pikir Ray saat
itu, "Seandainya saja kebanyakan pria tidak tercipta dengan
pemikiran yang lebih kuat dari perasaannya, dan dengan tanpa libido
yang luar biasa, mungkin jawabannya adalah tidak."
Mitha menghela nafasnya dalam-dalam, matanya masih memndangi
pepohonan dari balik jendela di samping tubuhnya. "Namun," Ray
meneruskan, "sekarang semuanya kita kembalikan saja kepada yang
dinamakan nafsu. Nafsu mampu membuat segala cahaya menjadi
kegelapan, sebaik apapun manusia, apabila nafsu menguasainya...."
"Aku tahu itu," Mitha memotong perkataan Ray.
Bandung, pertengahan Mei
Mitha merasakan kepiluan hatinya saat menyaksikan Gara yang menutupi
hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Maafkan aku,"
bahkan Mitha tidak menjadi geli merasakan anekdot ini, selintas
ingatannya betapa iapun berusaha menghapalkan perkataan ini
sepanjang malam untuk melatih keberaniannya, persis seperti Gara
beberapa tahun lalu.
Mitha berusaha mengeraskan hatinya untuk tidak mengakui
kebohongannya, berusaha mengalihkan pandangan matanya ke ujung-ujung
jemari kakinya.
"Bunuhlah aku, Gara," Mitha terisak, "karena kelemahanku, apapun
asalkan kau merasa puas." Mitha mencoba membangkitkan kebencian Gara
kepadanya, karena ketidak mampuannya menahan godaan di saat-saat
kesepiannya. Gara menurunkan tangannya, menatap Mitha dengan mata
berair, merasakan saraf-sarafnya terbakar di sisi keningnya,
menggeram lirih, "Alangkah ringannya kematian atas luka yang
kautorehkan di jangka kepercayaanku."
Gara bangkit berdiri, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 04.35
pagi
"Mungkin kamu akan menyetujui pendapat bahwa cinta yang bergelimang
nafsu akan selalu menuntut kesetimpalan perbuatan apapun yang
mengkhianatinya. Bukankah begitu, Ray?" Mitha memandang Ray yang
mencoba memecah konsentrasinya.
"Kamu membuatku semakin terbawa oleh ceritamu," Ray tertawa dan
membuang rokok di jepitan jemarinya keluar jendela.
Bandung, pertengahan Mei
"Gara!" jeritan lirih itu tak dihiraukannya. Gara memegang tangan
Mitha dengan kasar dan menarik gadis itu berdiri, Mitha melihat
pandangan mata Gara dibayangi kebencian bercampur dengan air mata,
bulu-bulu roma gadis itu berdiri dan adrenalin di sekujur tubuhnya
engalir semakin cepat. Gara menempelkan tubuhnya di tubuh Mitha,
menjambak rambut gadis itu dan menarik kepalanya ke belakang,
mendesis, "Terlalu ringan...."
Mitha dapat merasakan hawa kebencian itu menghembus wajahnya. Gara
membalikkan tubuh Mitha, tetap menjambak rambut gadis itu, menekan
punggungnya sampai setengah tertelungkup di atas sofa.
"Gara....." Mitha mulai merasakan kengerian itu memaksa air matanya
mengalir lebih deras, sejenak keraguan akan rencananya menyeruak di
benaknya, namun akankah sesorang mampu membagi alternatif lain dari
kekerdilan pemikirannya saat itu?
Gara menyelipkan tangannya ke balik pakaian Mitha, meremas kasar
payudara si gadis, menggeram, "AKU sekarang..." Mitha mengerang
kesakitan saat kuku-kuku Gara menancap di kulitnya. Setelah merasa
puas meremas, Gara mengeluarkan tangannya dan mengangkat rok Mitha
melewati pinggulnya, menarik celana dalam si gadis dengan paksa,
membuka kaki Mitha dengan dengkulnya. Mitha merasakan kepiluan dalam
dirinya, kenyataan ini adalah yang kemudian disadarinya sebagai
konsekuensi yang harus diterimanya dari pengorbanannya sebagai
seorang kekasih, membuatnya membatalkan setiap keinginannya untuk
meronta dan melepaskan diri. Gara menyusupkan jemarinya ke
selangkangan Mitha, meremas dan menggesek dengan kasar kemaluan si
gadis, membuat Mitha meringis menahan rasa sakitnya. Gara menggeram
dan menggigit pinggul si gadis dalam-dalam. meninggalkan jejak
kemerahan di kulit Mitha yang putih, dan menusukkan telunjuknya ke
lubang vagina gadis di bawahnya. Mitha menjerit kesakitan, merasakan
setiap kengerian itu menusuk dan mengoyak kemaluannya, namun
jeritannya berubah menjadi isak tertahan saat Mitha mengeraskan
hatinya kembali dengan menggigit bibirnya dalam-dalam. "Kamu
menyukainya, KAN?" Gara menggeram, merasa puas akan kepasrahan
Mitha. Gara mengeluarkan jarinya dan membuka celananya, mengeluarkan
penisnya yang menegang sejak tadi karena rangsangan dari ilusinya
atas persetubuhan Mitha dengan si pria itu.
Gara menahan tubuh Mitha dengan sikut kirinya, sementara tangan
kanannya menggenggam batang penisnya, memainkannya seakan ragu akan
tindakannya sendiri. Namun hawa kebencian dan imajinasi yang
menyakitkan hatinya membuatnya seakan gila. Gara memegang pantat
Mitha, membukanya dan menghujamkan penisnya sekuat tenaga ke liang
vagina si gadis. Mitha membenamkan mulutnya ke sofa, mengerutkan
keningnya dan menjerit sejadi-jadinya, perutnya seakan ditusuk oleh
pisau tajam yang mengoyak dan mengguncang otot-otot selangkangannya.
Gara mengerang merasakan kesempitan liang vagina gadis di bawahnya,
dan mendesis saat menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Mitha
merasakan kenyerian yang amat sangat, air matanya membanjiri kain
penutup sofa, gadis itu menggigit kain itu sekuat tenaganya,
berusaha menyalurkan semua rasa sakit di selangkangannya, tangannya
menggapai-gapai dan mencengkeram pergelangan tangan Gara yang
menjambak dan menekan kepalanya. Gara menggerakkan pinggulnya
semakin cepat, hanyut dalam kenikmatan kebenciannya, "MAMPUS!" Gara
mengerang dan menekan penisnya dalam-dalam. Mitha menjerit tertahan
dari mulutnya yang terkatup, merasakan cairan sperma itu menyembur
membasahi saraf-saraf di dinding liang vaginanya. Gara menekan-nekan
beberapa saat, menarik keluar batang penisnya yang basah dan
berwarna kemerahan, merasa puas membayangkan betapa tindakannya
telah menorehkan luka di kemaluan Mitha.
Mitha terisak dalam kenyerian dan kepedihan yang dirasakannya.
Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 05.05
pagi
Ray menyalakan lagi sebatang marlboro yang sudah terselip di ujung
bibirnya.
"Impulsif dan emosionil," Ray mendesis, mengepulkan asap rokok
keluar jendela, berusaha untuk menahan emosinya sendiri yang sedikit
terhanyut. Rumah-rumah mulai banyak terlihat di pinggir jalan,
pertanda bahwa mereka sudah mulai memasuki kota. "Tapi tepat seperti
apa yang kuharapkan darinya."
"Ah?"
Epilog :
Pasca kejadian
Semenjak kejadian hari itu, Gara tak pernah lagi menghubungi Mitha.
Mitha sendiri tidak pernah mencoba untuk mengganggu Gara, bahkan
saat Gara diwisuda, Mitha hanya mendengar kabarnya dari salah
seorang temannya, dan hanya bisa berdoa bersyukur karena akhirnya
cita-cita Gara dan keluarganya tercapai, tanpa gangguan apapun
darinya.
Kepuasan Mitha digapainya dengan keberhasilan setiap rencana
pengorbanannya untuk keberhasilan Gara, kepuasan menyaksikan
kebencian Gara yang mampu membuat lelaki itu melupakannya, kepuasan
melihat Gara dan keluarganya berbaikan kembali setelah sekian lama
berkutat atas hubungan mereka, kepuasan atas keberhasilan Gara
memenuhi tuntutan orang tuanya, dan terutama, kepuasan karena
akhirnya ia berhasil menyerahkan keperawanannya kepada satu-satunya
orang yang ia kasihi, Gara, walaupun semuanya terasa begitu
menyakitkan, dan lebih menyakitkan ketika sudut-sudut matanya
menyaksikan linangan air mata di pipi dukun bayi itu saat mengangkat
bakal janin dari rahimnya yang kini invalid.
Mitha merasakan hidupnya selesai, hasratnya akan keindahan dan
kemolekan keduniawian yang semu di masa depannya lenyap sudah. Namun
kematian ini dianggapnya sebagai sebuah kebangkitan hidup baru
berwujud penyerahan seluruh jiwa dan raganya ke tangan Penciptanya
dalam pelayanannya di sepanjang sisa hidup baru itu. Kenangan akan
cintanya yang hanya sekali selamanya merupakan pemicu kedekatannya
pada Tuhannya, dan dalam tangis pertobatannya setiap malam, nama
Gara adalah satu yang takkan pernah terlewatkan.
Kota X, lebaran kedua
Ray menghentikan mobilnya, memandang matahari yang mulai melewati
atap-atap rumah, "Ahh, tak terasa hari mulai pagi." Mitha tersenyum,
memutar tubuhnya menghadap Ray, sahabat bermainnya sejak kecil, satu
sosok yang diletakkannya di urutan kedua setelah Gara. "Ray..." Ray
membalas pelukan Mitha, merasakan tanggul di kantung matanya hancur,
membasahi pundak Mitha dengan air matanya, "Cengeng ah, aku tidak
apa-apa kok." Ray membenamkan kepalanya, merasa bingung, karena
apapun yang akan dilakukannya tidak akan mengubah apapun yang telah
terjadi. Mitha menepuk punggung Ray, merasakan air matanya sendiri
mengalir membasahi baju sahabatnya. "Jangan lupa kunjungi aku di
sana, Ray." "Aku takkan melewatkan kesempatan itu, untuk melihat
kerudung menghiasi keanggunanmu." bisik Ray di telinga Mitha. Mitha
tertawa kecil di sela isaknya, "Perayu bodoh." "Tetaplah berdoa
untukku," Mitha mengecup kening Ray,"terima kasih karena telah
mengingatkanku bahwa kasih dan pengorbanan adalah lebih utama
daripada cinta." Mitha menghapus air mata yang mengalir di pipi
sahabatnya dengan ibu jarinya, merasakan kasih sayang seperti
seorang ibu kepada anaknya, seperti seorang kakak kepada adik
kesayangannya. "Selalu." Ray menjawab lirih, enggan melepas
kepergian Mitha dan kehangatan kenangan persahabatan mereka yang
sebulan berikutnya tidak akan dapat terulang seperti dulu lagi.
Ray mengamati Mitha yang keluar dari mobilnya, melangkah membuka
pagar rumahnya, dan melambaikan tangan mengiringi tekanan kakinya
pada pedal gas di bawahnya.
Ray menghentikan mobilnya beberapa meter kemudian, melompat turun,
menghapus air mata yang mengalir kembali di pipinya, melambaikan
tanganya dan berteriak,"Selamat Natal, Mitha!!" Mitha berlari kecil
keluar pagar, meletakkan telapak tangannya di sisi pipinya.
"Selamat Lebaran, Ray!!"
Persahabatan dan kasih, adalah harta yang tak ternilai harganya.