Tuesday, May 1, 2007

IMRON SADISTIS 4

"Ok, kalau tidak ada pertanyaan lagi kuliah hari ini sekian dulu,
jangan lupa minggu depan kita kuis" demikian Rania mengakhiri mata
kuliah Teori Ekonomi Mikro hari itu. Rania adalah seorang dosen muda
di fakultas ekonomi itu, usianya 26 tahun, berparas cantik dengan
rambut sebahu direbonding dan bertubuh indah dengan tinggi 170cm,
berat 54 kg, juga kulit putih mulus plus payudara 34B. Kadang orang
sering sulit membedakan mana yang mahasiswi mana yang dosen kalau
dia berada diantara mahasiswanya dengan pakaian modis. Kebagian mata
kuliah yang diajarkannya merupakan suatu berkah bagi para mahasiswa,
karena selain ngajarnya enak dan orangnya gaul sehingga mudah dekat
dengan yang diajar, juga menyegarkan mata dengan melihat wajah
cantiknya yang kata mereka mirip Kelly Lin dan tubuh indahnya
terutama kalau memakai pakaian ketat atau rok agak pendek.
Setelah kuliah selesai semua mahasiswa keluar dari kelas, kecuali
satu mahasiswi, Ellen (baca eps. 1), dia menutup pintu ruang kuliah
setelah yang lain keluar dan menghampiri Rania yang sedang
membereskan barang-barangnya. "Eeemm…Ci Nia(beberapa mahasiswa
memanggilnya demikian karena umurnya tidak beda jauh dengan mereka)
bisa kita bicara sebentar ?" kata Ellen "Ada apa Len, masalah tugas
lagi yah ?" jawab Rania tersenyum ramah Awalnya memang Ellen
menanyakan tentang pelajaran yang tidak dia mengerti, kemudian topik
beralih, Ellen mulai curhat mengenai dirinya yang sedang cekcok
dengan pacarnya sehingga tidak konsen dalam belajar. Rania yang
memang dekat dengan mahasiwa/i nya mendengar dan menghiburnya
sehingga mereka malah makin hanyut dalam obrolan wanita sementara
jam sudah hampir menunjukkan pukul enam, langit pun mulai gelap,
suasana di lantai itu sudah sepi karena itu kuliah terakhir.
Akhirnya Rania pun bangkit dan mengajak Ellen pulang mengingat hari
sudah malam "Yuk kita sambil jalan aja ngobrolnya, udah malem gini,
jadi serem nih" ajaknya. "Ci, bisa bantu saya satu hal lagi ga ?"
tanya Ellen lagi, kali ini dia mendekati Rania, digenggamnya kedua
lengan dosennya itu sambil menatap matanya. "Nggg…eh ada apa lagi
sih Len ?" Rania jadi gugup karena sikap mahasiswinya itu Suasana
hening beberapa detik, keduanya saling tatap sebelum tiba-tiba Ellen
memagut bibir dosennya itu. Rania tersentak kaget, dia melepaskan
ciuman itu dan melotot memandangi Ellen. "Len…kamu…mmmhh!"
sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya Ellen sudah kembali
menciumnya. Rania sempat berontak selama beberapa saat namun ciuman
dan belain Ellen pada daerah sensitifnya membuat gairahnya naik,
baru kali ini dia melakukannya dengan sesama jenis, dirasakannya
kenikmatan yang berbeda yang menggodanya untuk meneruskan lebih
jauh.
Rangsangan dari dalam dirinya dan menyebabkan Rania pun menyambut
ciuman mahasiswinya itu. Lidah mereka bertemu, saling jilat dan
saling membelit. Sementara itu tangan Ellen meremas lembut payudara
Rania dari luar, Rania sendiri sudah mulai berani mengelus punggung
Ellen, tangan satunya mengelus pantatnya yang masih terbungkus
celana ketat sedengkul warna hitam. Keduanya terlibat dalam ciuman
penuh nafsu selama lima menit, dan ciuman Ellen pun mulai turun ke
lehernya. "Sshhh…kurang ajar juga kamu Len !" desisnya dengan
nafas memburu. Ellen mulai menciumi pundak Rania sambil kedua
tangannya memegangi leher kaos lengan panjangnya yang berleher lebar
itu dan mulai memelorotinya sehingga bra putih di baliknya terlihat,
dia turunkan juga cup bra itu hingga terlihatlah sepasang gunung
kembarnya yang membusung kencang. Jari-jari lentik Ellen
mengusapinya dengan lembut sehingga Rania pun hanyut dalam
kenikmatan.
"Gimana Ci, asyik kan ? Ci Nia jadi tambah cantik kalau lagi horny
gitu loh" Ellen tersenyum nakal sambil memilin-milin kedua puting
dosennya. "Mmhh…eengghh…udah dong Len, sshh…ntar ada yang tau
!" desahnya merasakan kedua putingnya makin mengeras. "Tenang Ci,
disini aman kok, ini kan tingkat empat, kita have fun bentar yah !"
Kemudian Ellen mencumbui payudara Rania, lidahnya menyapu-nyapu
puting kemerahan yang sudah menegang itu. Rania hanya bisa mendongak
dan mendesah merasakan nikmatnya. Tangan Ellen sudah mulai
menyingkap rok selutut Rania dan merabai pahanya yang putih mulus
itu. "Hhhssshh…eeemmmhh !" Rania mendesis lebih panjang dan
tubuhnya menggelinjang ketika tangan Ellen menyentuh kemaluannya
dari luar celana dalamnya. Seperti ada getaran-getaran listrik kecil
yang membuat tubuhnya terasa tersengat dan tergelitik saat jari
lentik Ellen menyusup lewat pinggir celana dalamnya dan menyentuh
bibir vaginanya, daerah itu jadi basah berlendir karena
sentuhan-sentuhan erotis itu.
Kenikmatan mereka tiba-tiba dibuyarkan oleh suara pintu dibuka,
seseorang muncul dari sana sambil tertawa-tawa.
"Hahaha…bagus-bagus, adegan yang hebat, Bu Rania yang terpelajar
itu ternyata begini kelakuannya di luar jam kuliah, hebat sekali !"
Imron, si penjaga kampus bejat itu tertawa dan bertepuk tangan Rania
pun refleks melepaskan diri dari pelukan Ellen dan merapikan
pakaiannya dengan tergesa-gesa, wajahnya memerah menahan malu. "Saya
pernah baca di tata tertib kampus bahwa kalau ada ketahuan mahasiswa
yang berbuat tidak senonoh di kampus akan dipecat, tapi sekarang
dosen yang harusnya ngasih teladan malah berbuat gini, wah-wah mau
jadi apa nih bangsa ini kalau pendidiknya saja kaya ini !" tambahnya
sambil geleng-geleng kepala. "Eehhmm…maaf Pak kita sedikit khilaf,
ini ada sedikit uang rokok buat Bapak, anggap aja yang tadi ga ada
yah Pak !" Rania berbicara agak gugup dan mengambil selembar
limapuluh ribuan dari tasnya.
"Aahh, simpan saja uang Ibu itu, supaya rahasia Ibu aman saya cuma
mau…!" Imron menatapi tubuh Rania dari atas sampai bawah sebagai
ganti kata-katanya yang tidak diteruskan. Tatapan matanya sangatlah
mesum dan membuat kedua wanita itu merinding. "Jangan yang
engga-engga lah Pak, ini ambil atau nggak sama sekali !" Rania yang
mengerti apa kemauan Imron dengan kesal menjatuhkan lembaran uang
itu ke bangku di dekatnya. "Lagian siapa sih yang bakal percaya
omongan Bapak, paling juga dianggap gosip murahan, jadi jangan mimpi
, ayo Len kita pulang !" tambahnya sambil mengambil tasnya bersiap
untuk meninggalkan ruangan. Terlihat sekali dia bersikap judes untuk
menutupi kegugupannya. "Tapi kalo disertai bukti ini tentunya bakal
jadi gosip mahal kan ?" Imron mengeluarkan cameraphone itu dari
sakunya dan menunjukkan beberapa gambar adegan lesbian barusan.
Kontan saat melihat itu semua Rania kaget sekali, dia tertegun
sesaat berharap ini hanyalah mimpi.
"Bajingan !" bentaknya, Rania naik darah dan mau merangsek ke depan
namun Ellen menahannya. "Hahaha…marah ya ? kenapa ga marahin juga
perek di sebelah Ibu itu, dia kan juga ikutan dalam rencana ini ?"
Imron mengejek dengan senyum kemenangan. "Hah…Ellen, jadi
kamu…?" Rania tercekat seakan tidak percaya semuanya. Jelaslah
kini bahwa yang terjadi sejak bubaran kelas tadi sudah diatur dalam
rencana jahat Imron, Ellen yang sudah menjadi budak seksnya hanyalah
pion untuk menjebak dosennya itu dan diam-diam Imron mensyuting
mereka dari lubang angin di atas pintu ketika mereka bermesraan
tadi. "Maafin saya Ci, saya juga dijebak dan dipaksa jadi gak ada
pilihan lain" Ellen tertunduk tak berani melihat wajah dosennya dan
terisak. "Nah, sekarang gimana nih keputusannya Bu, saya yakin Ibu
juga masih konak gara-gara tadi sempat tanggung, ya ga ?" Imron
mulai berjalan mendekatinya.
Tiba-tiba Ellen maju ke depan menghalangi Imron yang hendak memeluk
Rania. "Pak, saya rela Bapak perlakukakan apapun, tapi tolong jangan
libatin Ci Nia, dia itu orang baik !" mata Ellen yang berkaca-kaca
saling tatap dengan Imron dan memohon padanya. Imron hanya
menyeringai membalas tatapannya, diangkatnya dagu gadis itu,
tiba-tiba…'plak !' sebuah tamparan mendarat di pipinya. Ellen
limbung ke belakang dan Rania sempat menjerit kecil sambil mendekap
tubuh mahasiswinya itu. "Masih mau jadi pahlawan, heh ?" kata Imron,
dengan santainya dia meraih sebuah bangku dan duduk disana. "Non
Ellen, sini !" perintahnya Rania menatap mahasiswinya itu seraya
menggelengkan kepala seolah mengatakan 'jangan turuti dia', namun
Ellen malahan melepas genggaman tangan dosennya dan berjalan ke arah
pria setengah baya itu. "Maaf !" cuma itulah yang terucap dari
mulutnya.
Kini Ellen telah menjadi salah satu budak seks Imron yang mau tidak
mau menuruti apa yang dikehendaki Imron terhadapnya. Sejak diperkosa
di basement parkir beberapa bulan yang lalu, beberapa kali Imron
kembali melampiaskan nafsu binatangnya padanya baik dalam seks
kilat, oral seks, maupun hubungan badan sepenuhnya. Lama-lama
dirinya pun mulai menikmati disamping ada perasaan malu dan bersalah
juga pada pacarnya. Imron kini membuka lebar pahanya dan disuruhnya
gadis itu berlutut di depannya. Kemudian dia memberi syarat dengan
menggerakkan bola matanya ke bawah. "Sekarang?" Ellen yang sudah tau
apa yang diinginkan Imron sepertinya ragu melakukannya. "Iya dong
Non, biar dosen kamu tahu enaknya, kita ajarin juga dia caranya !"
Seolah dihipnotis, Ellen pun mulai membuka resleting celana Imron
dan menurunkan celana dalam di baliknya sehingga tersembullah penis
yang sudah mengacung tegak itu. "Ellen, hentikan !" Rania berseru
mencegah hal lebih lanjut. "Lho kok Ibu main larang-larangan sih,
orang dianya sendiri yang mau kok, tuh liat !" kata Imron "Ayo Non,
sekarang mana servisnya, ayo jangan malu-malu, dia juga nanti ikutan
kok !"
"Ya Tuhan, Ellen…kenapa…kenapa !?" Rania terperangah sampai
membekap mulutnya sendiri melihat mahasiswinya mulai mengoral penis
Imron, tangannya yang mungil itu sesekali mengocoknya, yang lebih
gila dia juga terlihat begitu menikmatinya, padahal dirinya sudah
merinding melihat penis hitam bersunat yang kepalanya agak merah
itu. "Aahh…enaknya, lihat sendiri kan Bu, murid Ibu aja ketagihan
sama kontol saya" Imron mengelus rambut Ellen menyuruhnya terus
mengulum "Cepetan Bu gimana keputusannya, mungkin Ibu gak takut
risiko perbuatan Ibu tadi, tapi apa Ibu gak kasian kalo
gambar-gambar syur murid Ibu ini tertempel di papan pengumuman ?"
Ellen terhenyak dan menghentikan kulumannya "Heh, siapa suruh
berhenti, cepet terusin ! jangan ikut campur !" bentak Imron
menyuruh Ellen meneruskan kegiatannya. "Iya-iya, oke, saya menyerah
Pak, tapi tolong jangan mempersulit dia lagi !" jawab Rania panik
"dan tolong, jangan omong apa-apa tentang semua ini" tambahnya
gugup. "Nah, gitu dong Bu, baru namanya dosen yang baik, ayo dong,
sini mendekat kalau memang setuju !" Imron melambaikan tangan
menyuruhnya mendekat.
Rania berhenti di sebelah Imron, perasaannya luar biasa galau,
marah, jijik, dan takut, namun dia juga mulai terangsang melihat
Ellen mengoral Imron di depan matanya. Semua dia lakukan karena
tidak ada pilihan lain untuk menutupi aibnya, juga demi muridnya.
Darahnya berdesir ketika tangan kasar itu meraih betisnya, tangan
itu terus naik mengangkat roknya dan mengelusi pahanya yang mulus.
"Paha yang indah, pasti waktu Ibu ngajar mahasiswanya ngebayangin
bisa ngeliat ke dalam sini heheheh !" celoteh Imron Rania hanya
memalingkan wajahnya ke samping dengan perasaan sangat terhina
dengan perlakuan seperti itu. Sikap pasrahnya membuat Imron makin
menjadi, tangannya makin menjalar ke atas hingga meremas pantatnya.
"Wuih, montok amat sih Bu, betah deh saya lama-lama di kelas kalo
jadi murid Ibu" katanya mengagumi keindahan tubuhnya "dibuka aja Bu
roknya, biar lebih afdol !"
Imron mengulurkan tangannya yang satu untuk membuka ikat pinggangnya
dan disuruhnya Rania membuka resletingnya di belakang. Dengan berat
hati Rania pun membuka resletingnya hingga rok itu meluncur jatuh.
Setelah rok itu lepas, maka yang nampak adalah sepasang paha jenjang
Rania yang mulus dengan celana dalam pink menutupi daerah
terlarangnya. Imron lalu merangkul pinggang ramping itu membawa
tubuhnya lebih mendekat. Paha mulus itu lalu dia ciumi inci demi
inci sementara tangannya mengelusi paha yang lain. Rania merinding
merasakan sapuan lidah dan dengusan nafas pria itu pada kulit
pahanya, libidonya makin naik apalagi melihat Ellen yang tengah
menjilati kepala penis itu sambil memijit zakarnya. "Ssshhh…!"
sebuah desisan keluar dari mulutnya ketika jari Imron menyentuh
bagian tengah celana dalamnya. Secara perlahan Imron menurunkan
celana dalam itu hingga ke lutut, matanya nanar memandangi kemaluan
Rania yang masih rapat dan berbulu lebat itu. "Pelan-pelan yah,
usahain jangan cepat keluar, ntar dosen Non ga kebagian !" dia
berpesan sejenak pada Ellen sebelum kembali memusatkan perhatiannya
pada vagina Rania.
Selanjutnya Imron membenamkan wajahnya pada kemaluan Rania, dengan
rakus menjilati vaginanya. Tangan kirinya mengelusi paha dan
pantatnya, terkadang jarinya iseng menyusup ke pantatnya.
"Aahhh…Pak…aahhh…jangan !" Rania mendesah antara menolak dan
menikmati saat lidah Imron menelusuri gundukan bukit kemaluannya
Tanpa disadari kakinya melebar sehingga memberi ruang lebih luas
bagi Imron untuk menjilatinya. Tubuh Rania seperti kesetrum ketika
lidah Imron yang hangat membelah bibir kemaluannya memasuki liangnya
serta menari-nari di dalamnya. Di tempat lain, Ellen juga makin
terangsang melihat adegan Imron dengan dosennya, sambil menjilati
penis Imron perlahan, dia juga meremasi payudaranya sendiri. Kedua
buah pelir Imron sesekali diemutnya bergantian membuat pemiliknya
keenakan, apalagi dengan dilayani dua wanita cantik ini. Rania
semakin tak kuasa menahan kenikmatan itu, dia bergerak tak karuan
akibat jilatan Imron sehingga Imron harus memegangi tubuhnya.
"Pak…ahhh…oohh !" desahnya dengan tubuh bergetar merasakan lidah
Imron memainkan klitorisnya.
"Mmmm….enak kan Bu ?" sahut Imron."udah dulu ah, sekarang giliran
Ibu yang mainin punya saya, ayo jongkok sini !" katanya seraya
membuka paha lebih lebar. Terus terang Rania merasa sangat tanggung
Imron menghentikan jilatannya, dalam hati kecilnya sebenarnya masih
ingin menikmatinya, namun tidak mungkin dia memintanya lagi demi
menjaga harga dirinya. Maka ketika disuruh Imron mengoral penisnya
diapun tanpa diperintah dua kali berlutut di hadapan pemerkosanya.
"Eit-eit tunggu dulu Bu, bajunya dibuka aja biar enak" Imron
melucuti baju Rania yang baru berlutut di depannya, cup branya sudah
melorot karena tidak sempat dinaikan waktu kepergok tadi sehingga
langsung mempertontonkan payudaranya "Non juga, yang namanya ngentot
mana enak pake baju !" katanya lagi pada Ellen Ellen pun berdiri
sejenak, pakaiannya satu-persatu terlepas dari tubuhnya sampai yang
terakhir yaitu celana dalamnya. Diam-diam Rania memperhatikan tubuh
indah Ellen dan sempat membandingkan dengan dirinya, dia kagum dan
iri dengan lingkar pinggang mahasiswinya yang lebih ramping darinya,
namun dia juga merasa bangga dengan payudaranya yang lebih bulat dan
membusung dibanding Ellen, bagaimanapun secara keseluruhan keduanya
memiliki bentuk tubuh ideal.
Imron menarik tubuh Ellen yang telah polos dan didudukkan ke paha
kirinya, dia mulai mengelusi payudaranya, putingnya dia pilin-pilin
seperti malam mainan, tangan lainnya menyelusuri lekuk tubuh
lainnya. "Tunggu apa lagi Bu, sekarang giliran Ibu ngelayanin burung
saya !" sahut Imron pada Rania yang bengong menyaksikan mereka.
Dengan tangan gemetar dia melingkarkan telapak tangannya pada penis
itu, basah dan mengkilap karena sisa ludah Ellen. Baru kali ini dia
melihat penis secara langsung, bahkan milik tunangannya yang sedang
S2 di Australia pun baru pernah dirasakan bergesekan dengannya
ketika petting, namun belum pernah mencoba yang lebih jauh. "Ayoh
cepat, mau foto-fotonya dipajang apa ?" ulangnya tidak sabar sambil
memencet payudara Ellen sehingga gadis itu merintih kesakitan. Tidak
tega melihat muridnya disiksa, diapun mulai memasukkan kepala penis
itu ke mulutnya. Imron mendesah merasakan kehangatan mulut Rania,
sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya. Dengan menahan
jijik dia menjilati sekujur batang penis itu.
"Eeenngghh…aahh…aahh !" terdengar desahan Ellen yang payudaranya
sedang dikenyot-kenyot si penjaga kampus itu, di vaginanya bercokol
tangan kasar itu mengelusi serta mengocok liang kemaluannya. Rania
menggerakan mata melihat ke atas, apa yang dia lihat di sana malah
membakar nafsunya yang pelampiasannya dia curahkan dalam bentuk oral
seks. Penis itu semakin mengeras dan berkedut-kedut di dalam mulut
Rania serta menebar rasa asin. Dia sendiri tidak tahu bagaimana dia
bisa segila ini, namun situasi saat itu ditambah jilatan Imron yang
tanggung tadi membuat gairahnya menggebu-gebu. Penis yang besar
mengerikan itu tidak muat seluruhnya ke dalam mulutnya yang mungil,
maka sesekali Imron menekan kepalanya agar bisa masuk lebih dalam
lagi "Lagi Bu, kurang masuk, aahhh…yak gitu dong !" demikian
katanya. Sementara itu vagina Ellen makin banyak mengeluarkan cairan
akibat kocokan jari Imron, cairan itu membasahi paha Imron tempatnya
berpangku. Imron sedang asyik menjilati payudara kanan Ellen sampai
basah kuyup oleh ludahnya, sengaja dia tidak menggigit maupun
mengenyotnya dengan maksud mempermainkan nafsu gadis itu, dan benar
saja Ellen mendesah makin tak karuan karenanya.
Rasa jijik yang tadinya begitu melingkupinya perlahan-lahan sirna,
Rania mulai menikmati oral seks pertamanya, dimaju-mundukannya
kepalanya seperti yang pernah dia dengar dari obrolan dengan
teman-temannya, lidahnya menjilat memutar kepala penisnya, akibatnya
Imron keenakan dan mengerang-ngerang. "Uuaaahh…terus Bu, enak
banget, harusnya Ibu ngajar mata kuliah ngentot juga hehehe !" ejek
Imron Kurang ajar sekali kata-kata itu, Rania merasa harga dirinya
direndahkan sebagai seorang wanita terhormat, terpelajar, dan
berprofesi sebagai pendidik pula, namun dia telah terpelosok ke
dalam perangkap birahi ini, kini dia telah menjadi salah satu budak
seks Imron. Tak lama kemudian, dengan tangan kiri tetap
menggerayangi payudara Ellen, tangan kanannya menjambak rambut Rania
serta menekannya ke selangkangannya. Mata Rania membelakak, dia
gelagapan karena mulutnya penuh sesak dengan penis, lebih kaget lagi
ketika dirasakan cairan kental hangat memenuhi mulutnya, dia meronta
hendak melepaskan diri namun kekuatannya tidak cukup untuk itu.
Selama beberapa detik cairan itu menyemprot mulutnya, lalu Imron
menarik lepas kepalanya dari penis itu, maka semprotannya yang belum
habis pun mengenai wajahnya
Rania langsung batuk-batuk begitu benda itu lepas dari mulutnya
karena sempat tersedak dan baru pertama kali mengalami seperti itu.
Aroma sperma yang menusuk itu membuatnya jijik dan ingin muntah.
"Non, bantuin tuh dosennya bersihin peju !" perintahnya pada Ellen.
Ellen pun berlutut di samping dosennya dan memegangi pundaknya.
"Maaf Ci !" ucapnya diteruskan menjilati sperma Imron yang tumpah di
wajahnya. Dengan lidahnya Ellen membersihkan sperma yang menyiprat
di pipi, hidung, dan dagu dosennya hingga akhirnya mulut mereka pun
bertemu. Rania mulai berani melingkarkan tangannya ke tubuh Ellen
dan meraba punggungnya yang halus. Demikian juga Ellen, dia membuka
kait bra Rania yang sudah tersingkap sehingga bra tanpa tali pundak
itu pun terjatuh. Perasaan malu, risih, dan lain-lain hilang karena
kenikmatan yang terus menerpa tubuh, kedua wanita muda yang telah
telanjang bulat itu berciuman dengan panasnya. Imron benar-benar
telah menguasai mereka dengan menjadikan mereka menuruti apa saja
fantasi dan hasrat gilanya, segaris senyum pun muncul di wajahnya
melihat hasil perbuatan jahatnya.
Imron bangkit dan melepaskan seragam karyawannya, terlihatlah
tubuhnya yang berisi dan bekas luka memanjang di dadanya yang
menambah kesan sangar. "Ayo-ayo, yang disini juga dibersihin, masih
ada sisanya nih !" sambil menyodorkan penisnya yang masih basah pada
mereka. Imron mendesah merasakan sapuan lidah kedua wanita cantik
itu pada penisnya, mereka berbagi mengoral penis itu, ada yang
memasukkan ke mulut ada menjilati zakarnya. Cuma sebentar saja Imron
memberikan penisnya dioral mereka, setelahnya dia mengangkat lengan
Rania hingga tubuhnya berdiri. Rania disuruh nungging dengan tangan
bertumpu pada meja, dia sudah merasakan benda tumpul menyentuh
vaginanya dari belakang yang berarti sudah memasuki detik-detik
akhir kehilangan keperawanannya. Kepala penis itu mulai masuk
membelah bibir vaginanya perlahan-lahan, erangan Rania mengiringi
masuknya benda itu. Hingga suatu saat Imron mendorong keras penisnya
hingga mentok. "Aaahhkkkk….!!" Rania menjerit dengan mata
membelakak, sakit sekali rasanya pertama kali sudah ditusuk penis
sebesar itu.
Imron juga melenguh panjang karena penisnya terasa terjepit kencang
sekali oleh dinding vagina Rania yang masih sempit. Dia mendiamkan
dulu penisnya disana selama beberapa saat menikmati himpitan
vaginanya sehingga Raniapun memiliki waktu untuk beradaptasi dan
menghirup udara segar. "Ternyata Ibu emang dosen yang baik yah,
murid ibu si perek itu aja waktu saya entot udah jebol duluan, tapi
Ibu masih perawan, enak banget loh, huehehe…!!" kata-kata Imron
membuat telinga Rania dan Ellen panas. Penis itu rasanya sungguh
menyesakkan bagi Rania, tapi terus terang barang itu juga
menuntaskan hasratnya yang sempat tertunda tadi. Perlahan Imron
mulai menggenjotnya, dengan bantuan cairan kewanitaan dan ludah
penisnya keluar masuk lebih lancer. Tanpa dapat disangkal Rania
mulai merasakan nikmat yang tak terlukiskan disamping rasa perih
tentu saja. Sambil menggenjot, Imron juga meremasi payudara Rania
yang menggantung, putingnya dia main-mainkan sehingga nafsu Rania
makin meningkat saja.
Di tempat lain, Ellen berdiri dengan tangannya membelai-belai
vaginanya sendiri menyaksikan dosennya diperkosa di depan matanya
sendiri. Dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan, di satu sisi
dia merasa kasihan melihat dosennya yang ramah dan begitu dekat
dengan anak didiknya harus mengalami nasib serupa dengan dirinya dan
dia tidak berdaya untuk menolongnya malahan turut andil menjebaknya,
namun disisi lain dia juga begitu terangsang melihat penis yang
sering menusuknya itu keluar masuk di vagina Rania yang masih
sempit. Secara naluriah, Ellen naik ke tengah meja menghadap Rania,
kemudian kedua pahanya dia buka. "Ci Nia, tolong yah…saya gak
tahan !" pintanya dengan dua jari membuka bibir vaginanya. Dorongan
birahi yang tinggi menyebabkan Rania mendekatkan wajahnya ke
selangkangan muridnya itu, lidahnya pun menyentuh bibir vagina yang
merah merekah itu sehingga pemiliknya mendesah.
"Sshhh…uuummm….aaahhh !" desah Ellen menikmati jilatan dosennya
pada vaginanya "Emmhh…yahh…disitu Ci, terusin…aaahh !"
desisnya lagi ketika lidah Rania bertemu klitorisnya.
Rania membuka pahanya lebih lebar seiring dengan sodokan Imron yang
semakin ganas agar tidak terlalu perih. Selain itu dia juga mulai
menggerakkan pinggulnya mengikuti irama goyangan Imron. Sementara di
atas meja, Ellen mendesah makin tak karuan oleh jilatan-jilatan
Rania pada vaginanya, tangannya meremasi dan memainkan putingnya
sendiri. Tak lama kemudian, diapun orgasme dengan melelehkan cairan
bening dari vaginanya membasahi meja, awalnya Rania merasa aneh
begitu cairan itu keluar, sebelumnya belum pernah dia merasakan
cairan sesama jenisnya, tapi gelombang birahi yang menerpanya
menggerakkan dirinya menjilati cairan itu. Nafas Ellen nampak
ngos-ngosan sehingga dadanya turun-naik akibat orgasme yang
dialaminya. Hal serupa juga mulai dirasakan Rania, otot-otot
vaginanya terasa berkontraksi lebih cepat seperti ada yang mau
meledak di bawah sana, cairan yang keluar dari sana juga sepertinya
semakin banyak. Akhirnya tubuhnya benar-benar mengejang semua
bersamaan dengan erangan panjang, cairan kewanitaan meleleh dari
vaginanya tanpa terbendung membasahi paha dalamnya, cairan itu
kemerahan karena bercampur darah keperawanannya.
Selanjutnya, Imron membaringkan tubuh Rania di lantai yang dingin
lalu dia menindihnya. Diciuminya Rania dengan penuh nafsu.
Hhmmphh….Rania gelagapan dan mencoba mendorong badannya tapi tidak
mampu. Lidah Imron terus menyapu-nyapu bibirnya yang tipis dan
akhirnya memasuki mulutnya, liurnya pun tercampur dengan liur Rania.
Bau nafasnya yang tidak sedap membuat Rania terganggu, tapi itu
tidak lama karena Imron dengan lihainya membangkitkan kembali gairah
Rania dengan menggerayangi tubuhnya, ditambah lagi desahan Ellen
yang bermasturbasi di atas meja. Naluri seks Rania bereaksi dengan
mengimbangi serbuan mulut Imron, digerakkannya lidahnya membalas
lidah Imron yang menjelajahi mulutnya. Sesaat kemudian, mulut Imron
turun ke dadanya dan langsung menyambar putingnya, tangannya
mempermainkan payudaranya yang satunya. Dengan cepatnya nafsu Rania
naik lagi, dia mendesah sambil menggigiti jari, sesekali merintih
kalau Imron menggigitnya. Sebentar saja wilayah dada Rania sudah
basah bukan cuma oleh keringat tapi juga oleh air liur Imron.
Imron membuka kedua belah paha Rania dan menempatkan dirinya
diantara kedua pahanya hingga alat vital mereka bersentuhan.
Tangannya mengarahkan penisnya yang besar itu ke sasarannya yang
telah pasrah. Badan Rania bergetar begitu penis itu kembali
menusuknya, tangannya mencengkram erat bahu Imron. Imron merasa
sangat puas melihat ekspresi wajah Rania yang meringis dan
merintih-rintih, Imron melakukannya dengan kombinasi kasar dan halus
yang tepat sehingga Rania menikmati hubungan badan pertamanya ini.
Setelah masuk sebagian, Imron menekan pantatnya hingga penisnya pun
terdorong masuk ke vagina Rania. "Aaaa…aaauuhhh !" terdengar
jeritan kecil kesakitan yang bercampur nikmat. Imron pun mulai
menaik-turunkan tubuhnya diatas tubuh telanjang Rania. Rania
menggigit bibir bawah menahan nikmat, sesekali mulutnya mengeluarkan
desahan. Tanpa disadari tangannya memeluk Imron, si pemerkosa itu,
kedua kakinya juga melingkari pinggang Imron seolah mengisyaratkan
'terus Pak, masukin lebih dalam please'. Bibir tebal Imron
menelusuri leher jenjangnya, meninggalkan jejak ludah dan cupangan,
selain itu lidah itu juga menggelikitik telinganya.
"Aahh…ahhh…memek Ibu enak banget, baru tau enaknya ngentot kan,
heh dosen perek uuhh…mmmhh !" kata Imron dekat telinganya. Rania
sudah tidak mempedulikan lagi hinaan yang merendahkan dirinya itu,
sebaliknya kata-kata itu seperti mantra yang meningkatkan gairahnya
dan membuatnya patuh bagaikan budak, dan itulah kenyataannya, dia
telah menjadi budak seks Imron yang harus patuh dan bersedia
diapakan saja. Rania sempat menggulirkan bola matanya untuk melihat
keadaan Ellen, mahasiswinya, dia menemukan Ellen diatas kursi sedang
mengeluar-masukkan ujung bolpen yang tumpul ke kemaluannya, tangan
satunya meremasi payudaranya sendiri sambil menyaksikan dirinya
digumuli. Wajah Ellen yang putih itu merona merah akibat terangsang
berat. Imron semakin cepat menggerakkan pinggangnya naik turun,
nafas keduanya memburu dan mendesah tak karuan. "Aahhh…aahhh !!"
akhirnya Rania kembali mencapai klimaksnya, vaginanya semakin banjir
saja karenanya. Gelombang orgasme bagaikan mengangkatnya ke langit
ketujuh, matanya merem-melek tidak tahu bagaimana lagi
mengekspresikan kenikmatan itu selain dengan desahan panjang.
Sepertinya Imron mengerti keadaan Rania yang sudah kelelahan, dia
pun mencabut penisnya yang masih tegak dari vagina Rania.
Dipanggilnya Ellen mendekat lalu disuruhnya berposisi doggie, begitu
juga Rania yang masih lemas diaturnya hingga menungging bersebelahan
dengan Ellen. Kali ini dia menusuk vagina Ellen sedangkan jarinya
mengaduk-aduk vagina Rania. Kemaluan Ellen yang sudah basah
berlendir menyebabkan penis Imron tambah kencang sodokannya. Erangan
kedua wanita itu memenuhi ruang itu bahkan terdengar keluar dalam
jarak dua ruang kelas, namun siapa yang mengetahui apa yang terjadi
di ruang itu, pada saat itu sudah tidak ada siapapun disana, satpam
pun hanya berjaga di pos depan yang jauh dari situ. Tidak sampai
sepuluh menit Ellen yang sejak tadi terangsang berat mencapai
orgasmenya, tubuhnya mengejang disertai desahan panjang. Imron
melepaskan penisnya dan Ellen pun terkulai lemas di lantai, kembali
dia beralih ke Rania. Hari itu Imron memperlakukan Ellen sebagai
menu sampingan karena dia masih ingin merasakan kenikmatan lebih
jauh dengan menu utama atau mainan barunya, Rania.
Kini disuruhnya Rania dalam posisi merangkak di atas tubuh Ellen
yang dia telentangkan. Buah dada keduanya bertemu dan saling
menghimpit, Imron mulai menghentakkan tubuhnya yang telah menyatu
dengan Rania. Aahh…nikmatnya, Rania merem-melek menikmati sodokan
Imron yang dengan puas menggarapnya. Dengan Ellen dia berpelukan dan
saling memagut bibir, keduanya beradu lidah dengan liarnya. Lagi
enak-enaknya menikmati genjotan dan ciuman, Rania merasa rambutnya
ditarik, lengan Imron satu melingkari dadanya juga menariknya ke
belakang. Imron mendudukkan diri di lantai sehingga kini Rania
berada di pangkuannya dengan memunggunginya. Awalnya Imron menyentak
pinggulnya agar penisnya menyodok-nyodok vagina Rania, namun setelah
dua menitan Imron menghentikannya dan kini malah Ranialah yang
dengan sendirinya menaik-turunkan tubuhnya dengan bersemangat. Dia
juga membiarkan Imron mencupangi leher dan bahunya, di depannya
Ellen juga ikut mengenyot payudaranya sambil menggosok-gosok
kemaluannya sendiri. Dengan mata terpejam, Rania menghayati
permainan itu, mulutnya terus menceracau tak jelas.
Tak lama kemudian kembali gelombang orgasme melandanya, daerah
selangkangannya semakin basah karenanya. Imron terus menekan-nekan
tubuh Rania selama beberapa saat ke depan sampai akhirnya dia pun
memenggeram dan memeluk erat Rania. Sesuatu yang hangat terasa di
dalam kemaluannya, ya, cairan sperma Imron memang sudah mengisi
rongga kewanitaannya, sebagian berleleran ke luar bercampur dengan
darah dan cairan vagina. Di saat itu juga Ellen juga mencapai
kepuasan hasil gesekan dengan jarinya sendiri, jari-jarinya yang
lentik telah basah oleh cairan itu. Setelah puas dengan kehangatan
tubuh Rania, Imron melepas pelukannya sehingga Rania tergolek lemas.
Setelah reda birahinya, Rania baru mulai didera penyesalan telah
mengkhianati tunangannya dan terjerumus ke dalam perangkap seks ini,
bahkan sempat menikmatinya. Sekalipun dia seorang wanita yang tegar,
saat itu air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ellen mengangkat
punggungnya dan menyandarkannya pada tubuhnya dengan maksud
menenangkannya, dalam pelukan Ellen lah Rania menangis terisak-isak.
Sementara Imron melihat mereka sambil merokok dan menyeringai puas.
Sejak malam itulah kehidupan Rania berubah seperti halnya para
korban Imron lainnya. Di satu waktu mereka memang mahasiswi dan
dosen yang terpelajar, wanita-wanita muda yang menikmati hari-hari
mereka, wanita yang menjadi teman atau pacar yang baik, namun di
lain waktu, ketika ponsel mereka berbunyi atau ketika isyarat dari
pria setengah baya itu muncul, mereka harus siap menjadi mesin
pemuas nafsu binatang yang entah sampai kapan berakhir, karena
merekapun telah terjerat dalam hasrat terliar mereka sendiri.
Akankah lingkaran setan ini bertambah besar seiring dengan aksi
Imron yang makin merajarela ? Akankah muncul seorang pahlawan yang
akan membebaskan wanita-wanita malang ini kelak ? Belum ada yang
bisa menjawabnya, setidaknya untuk sekarang.
Bersambung...