Tuesday, May 1, 2007

IMRON SADISTIS 3

Sebagai seorang gadis 21 tahun yang sedang mekar-mekarnya, kehidupan
Sherin, mahasiswi sastra Inggris semester lima di Universitas ******
dipenuhi keceriaan, hari-harinya dilalui dengan kuliah, dugem,
ngerumpi bareng teman-teman, shopping, pacaran, dan
kegiatan-kegiatan gadis kuliahan pada umumnya. Anak tunggal seorang
pemilik pabrik makanan ringan ternama, dia juga dianugerahi wajah
cantik dan tubuh jangkung yang indah serta kulit yang putih,
rambutnya coklat sebahu lebih dan ujungnya agak bergelombang. Sherin
juga amat menjaga penampilannya dengan fitness, spa, dan ke salon
secara rutin, dia memang ingin selalu terlihat cantik di depan
Frans, pacarnya sehingga banyak cowok lain sirik dengan Frans ketika
sedang jalan bareng.
Terlepas dari itu semua, Sherin juga memiliki perangai buruk,
sebagai seorang anak tunggal keluarga kaya yang hidup serba
berkecukupan seringkali dia memandang rendah orang yang lebih rendah
kedudukannya, salah satunya yang sering kena marah olehnya adalah
Nurdin, sopir yang bertugas mengantar-jemputnya. Pernah sekali waktu
dia telat menjemput karena jalan macet akibat ada demo, sesampainya
disana Sherin menyemprotnya habis-habisan dengan judesnya di
lapangan parkir sampai terlihat beberapa orang lewat dan satpam
disana. Sungguh pedih hati sopir itu direndahkan di depan umum oleh
nona majikannya, dia sudah lama bersabar menghadapi keangkuhan gadis
ini, kali ini dia sudah tidak tahan lagi dan berpikir akan
mengundurkan diri saja, tapi sebelum mundur sebuah kesempatan emas
untuk memberi 'pelajaran' pada nona majikannya yang sombong itu
menghampirinya lewat obrolan dengan Imron, si penjaga kampus bejat
yang hobi memperkosa korbannya lewat foto-foto memalukan yang
diambil dengan cameraphone hasil temuannya.
Mimpi buruk Sherin berawal ketika suatu hari setelah bermain basket
di bangsal kampus, dia bersama teman-temannya menuju toilet di sana
untuk ganti baju. Dia memasuki toilet kedua dari ujung yang ternyata
adalah sebuah pilihan fatal, karena di sebelahnya Imron telah lama
menanti mangsa yang masuk kesana selama hampir setengah jam. Dengan
sabarnya dia menanti dan melihat situasi melalui celah di pintu.
Memang yang memasuki toilet sebelahnya bukan cuma Sherin, sebelumnya
telah ada beberapa orang masuk ke sana, namun saat itu di depan
toilet juga masih banyak orang, sehingga kalau Imron menjulurkan
tangannya melalui tembok pembatas yang bagian atasnya terbuka untuk
mengarahkan cameraphonenya tentu akan ketahuan oleh orang dari luar.
Diapun sempat melihat tubuh-tubuh mulus mereka yang ganti baju di
luar toilet, tapi untuk mengambil gambarnya susah, risiko untuk
ketahuan terlalu besar dan ketika dia coba memotret dari celah pintu
yang sempit itu hasilnya tidak maksimal, maka dia memutuskan
menunggu orang memasuki toilet sebelah ketika situasi di luarnya
sudah sepi, sambil berharap orang itu cantik.
Kesalahan Sherin adalah dia memasuki toilet saat orang lain banyak
yang sudah keluar, karena sebelumnya dia ke kantin dulu membeli
minum dan duduk sebentar merenggangkan otot. Ketika dia memasuki
toilet, dua temannya yang masih disanapun sudah hampir selesai,
Imron tersenyum kegirangan begitu dilihatnya kedua orang itupun
akhirnya keluar juga. "Yuk, Sher…kita duluan yah !" seru salah
satunya sambil membuka pintu keluar "Iya-iya, see you, duluan aja
gih !" balasnya dari dalam Sherin melepaskan bajunya yang
berkeringat dan disusul celana olah raganya bersamaan dengan celana
dalamnya, hanya dengan memakai bra pink dia duduk di kloset untuk
buang air kecil. Dia tidak menyadari diatasnya Imron dengan
hati-hati mengintipnya sambil menyutingnya dengan kameraphone. Tiga
menit saja, video klip yang terekam cukup jelas memperlihatkan
wajah, tubuh, dan adegan buang air kecilnya. Sebelum gadis itu
keluar, Imron cepat-cepat turun dari pijakannya lalu keluar dari
toilet itu dengan hati-hati.
Hari itu masih sekitar jam dua siang dan masih banyak tugas yang
harus diselesaikan Imron, terutama karena sempat tertunda ketika
menanti mangsa di toilet itu. Maka niat buruknya lebih baik
ditundanya daripada melakukannya dengan diburu-buru pekerjaan,
lagipula rekaman tiga menitan itu sudah menjadikan gadis itu sudah
dalam genggamannya, selain itu juga dia mengenal sopir yang
mengantar jemputnya yang sering ngobrol di waktu senggang. Kebetulan
belum lama ini dia mendengar keluhan Nurdin, si sopir itu tentang
anak gadis majikannya dan berencana mengundurkan diri mencari kerja
lain. Imron sendiri pernah mendapat perlakuan tidak enak dari gadis
itu setahun sebelumnya.
Saat itu Sherin sedang terburu-buru menuruni tangga, karena memakai
sepatu sol tinggi dan tidak hati-hati dia terpeleset jatuh, jatuhnya
tidak tinggi sehingga tidak berbahaya, tapi karena waktu itu dia
memakai rok diatas lutut tentu saja paha mulus dan celana dalamnya
sempat tersingkap. Imron, yang waktu itu sedang menyapu dekat tangga
itu memunguti tasnya dan membantunya bangkit, namun Sherin malah
membalasnya dengan makian kasar "Tua bangka, lepasin tangan lo, mau
cari kesempatan yah pegang-pegang !" katanya dengan sengit menepis
tangan Imron "Emang saya ga tau apa daritadi mata lu ngeliat kemana
aja ? lu pikir siapa lu, dasar kampungan ga tau diri !" bentak
Sherin sambil berlalu darinya, tangannya masih memegangi pantatnya
yang kesakitan. Imron hanya tertunduk menerima penghinaan itu tanpa
sempat memberi penjelasan, walaupun ada rasa marah tapi dia mencoba
memendamnya mengingat usahanya merubah diri, namun begitu menemukan
cameraphone itu niat jahat dan nafsu balas dendamnya bangkit kembali
dan menghantui kampus itu.
Hari itu, Sherin sedang di perpustakaan mencari buku untuk tugas
ketika sebuah MMS masuk ke ponselnya. Dibukanya pesan dengan nomor
tak dikenal itu. Wajahnya langsung pucat dengan mulut ternganga,
jantungnya seakan berhenti berdetak sehingga buku yang dipegangnya
jatuh terlepas dari genggamannya begitu melihat rekaman yang
memperlihatkan dirinya sedang ganti baju dan buang air kecil di
toilet, dibawahnya juga ada pesan : "kalau tidak mau ini tersebar,
saya tunggu di gedung kesenian ruang F-307 jam empat hari ini"
"Sher, kenapa lu ? ga enak badan ?" tanya temannya yang sedang
mencari buku tidak jauh darinya. "Ohh…ngga-ga papah kok, cuma buku
jatuh aja ehehhe !" Sherin menutupi kekagetannya dengan tawa
dipaksa.
Setelah itu buru-buru dia keluar dari perpustakaan mencari tempat
sepi untuk menelepon nomor itu. "Hehehe, udah diterima pesannya Non
? bagus kan ?" kata suara berat diseberang sana begitu ponsel
diangkat. "Heh, kurang ajar lu yah, siapa lu sebenernya hah !"
suaranya meninggi menahan amarah dalam dadanya. "Udah gak sabar yah
Non, tunggu aja nanti sore, kita bakal membicarakan penawaran
menarik buat film Non itu !" jawab Imron dengan kalem "Bajingan, lu
emang setan, jangan macem-macem yah sama gua !" Sherin demikian
marah dan frustasinya sampai mau nangis. "Udahlah Non, capek
marah-marah gitu, pokoknya saya tunggu nanti di F-307, saya sekarang
masih banyak kerjaan, dan satu lagi, pastikan jangan ada orang lain
yang tahu kalau ga mau dapat susah !" selesai berkata Imron menutup
ponselnya.
Sebenarnya jam tiga kurangpun dia sudah tidak ada kuliah lagi.
Setelah menyuruh Nurdin yang telah menjemputnya untuk menunggu dia
pergi ke kantin untuk menunggu waktu yang ditentukan. Matanya
tertuju ke novel yang dibawanya tetapi pikirannya tidak di sana,
yang ada di pikirannya adalah bayangan mengerikan tentang apa yang
diinginkan pengintip misterius itu pada dirinya dan bagaimana kalau
rekaman itu tersebar. Saking stressnya, tanpa terasa dua batang
rokok telah dihabiskannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pengintip
misterius itu menghubunginya. "Udah keluar yah Non, kalo gitu
sekarang aja ke atas aja supaya lebih cepat beres, saya sudah nunggu
di sini juga kok" Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sherin langsung
mematikan ponselnya dan beranjak ke tempat yang ditentukan. Lantai
itu memang sudah sepi, ketika naik tangga saja dia cuma berpapasan
dengan dua orang pegawai tata usaha fakultas yang baru selesai
kerja. Semakin langkahnya mendekati ruang itu, semakin berdebar pula
jantungnya.
"Halo Non Sherin, datang juga akhirnya !" sapa Imron begitu Sherin
memasuki pintu yang setengah terbuka itu."Mungkin Non lagi nyari
orang yang merekam ini ya ?" tanyanya sambil menunjukkan
cameraphonenya. Sherin melihat dalam layar kecil itu dimana dirinya
sedang ganti baju lalu buang air kecil, wajahnya kontan memerah
karena marah dan malu. "Bajingan, serahkan barang itu !" Sherin
berteriak sambil merangsek ke depan. Dia berusaha merebut
cameraphone itu, tapi pria setengah baya itu lebih sigap dan
tenaganya lebih besar. Dengan mudah didorongnya gadis itu hingga
tersungkur di lantai. Sambil menyeringai matanya memandang tajam
tubuh Sherin yang terbungkus baju biru bermotif bunga tanpa lengan,
rok putihnya yang mini sedikit tersingkap memperlihatkan pahanya
yang panjang dan mulus. "Mau apa kamu bangsat, jangan mendekat,
pergi !" Sherin menggeser-geser tubuhnya menjauh dari Imron yang
mendekatinya, dalam kepanikannya dia tidak sadar bahwa roknya
semakin tersingkap dan celana dalamnya pun sempat terlihat.
"Tenang Non, jangan takut, bapak ga bakal nyakitin Non kok, malah
ngasih Non kenikmatan yang luar biasa !" katanya sambil cengengesan.
Baru pernah seumur hidupnya Sherin mendengar perkataan yang sangat
merendahkannya itu, omongannya benar-benar rendah dan menjijikkan
menyebabkan bulu kuduknya merinding ketakutan. Susah payah akhirnya
dia bisa bangkit kembali dan berusaha mencapai pintu, namun ketika
sudah dekat pintu itu membuka, Nurdin, sopirnya muncul di depan
pintu. "Bang Nurdin, tolong Bang…ada orang gila !" katanya
terbata-bata karena masih gemetar. Namun kelegaannya cuma sebentar
saja, karena Nurdin malah mendorongnya ke arah Imron yang dengan
sigap menangkap tubuhnya, ketika dia mau menjerit, tangan kokoh
Imron langsung membungkam mulutnya sementara tangan satunya mengunci
kedua pergelangannya yang telah ditelikung ke belakang. Nurdin
menggeser meja dosen untuk mengganjal pintu, setelahnya dia mulai
menghampiri nona majikannya itu.
"Lebih baik Non berhenti ngelawan, inget Non kesini buat apa ? Non
pengen rekaman ini diliat orang lain ? dimana nanti mukanya mau
ditaruh Non ?" ancam Imron sambil tetap membekap mulut Sherin "Coba
aja kabur atau teriak, rekaman ini bakal tersebar, tinggal kirim ke
sembarang nomor di HP ini !" Sherin tidak tahu harus berbuat apa
lagi dalam situasi seperti itu. Ketakutan akan dicelakai dan
rekamannya tersebar membuat rontaannya berkurang dan pasrah pada
nasibnya. "Binatang lu, tega-teganya berbuat gini ke gua, kacung ga
tau diuntung !" maki Sherin pada Nurdin dengan tatapan penuh
kebencian. "Hehehe, udah gini masih bisa galak juga Non !" Nurdin
terkekeh sambil mengelus pipi majikannya "denger yah, saya juga udah
ga tahan kerja buat cewek sombong kaya Non ini, besok saya juga mau
keluar kok, tapi sebelum keluar saya mau ngasih Non kenangan manis
dulu dong !" Wajahnya makin pucat mendengar perkataan itu, dia sadar
sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia sudah dalam cengkeraman
mereka. Keangkuhannya runtuh seketika itu juga, dadanya sesak
dipenuhi emosi karena dikhianati, direndahkan dan diancam.
Tatapan mata Nurdin yang penuh nafsu binatang itu membuat nyalinya
ciut sehingga memalingkan muka tak berani menatapnya, wajahnya jadi
memelas memohon belas kasih. Tiba-tiba dirasakan darahnya berdesir
ketika Nurdin menggerayangi pahanya yang jenjang. "Udah daridulu gua
pengen megang nih paha, akhirnya bisa juga sekarang, gile mulusnya!"
komentarnya Tangan Nurdin meraba makin naik hingga menyingkap roknya
dan meremasi bongkahan pantatnya, sementara dari belakang Imron
meremas payudara kirinya. Air mata Sherin pun mengalir dan
memohon-mohon minta dilepaskan. "Jangan, jangan perkosa saya, ampun
!" katanya terisak "Santai Non, nanti juga enak kok" sahut Imron
Nurdin mulai menciumi pipi Sherin, leher dan telinga juga tak luput
darinya, Hembusan nafas dan lidahnya membuatnya bergidik juga
merasakan sensasi aneh yang meskipun dia menolaknya tapi ingin terus
merasakannya.
Kemudian tangannya meraih kepala Sherin dan mencium bibirnya yang
tipis dengan kasar, dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha
menolak, namun Nurdin pegangan Nurdin pada kepalanya terlampau kuat
sehingga terpaksa diterimanya serbuan bibir sopirnya itu.
Eeemmhh…emmphhh !" hanya itu yang terdengar dari mulutnya yang
tersumbat bibir Nurdin yang atasnya ditumbuhi kumis tipis seperti
tikus. Tangan Nurdin kini sudah meraba kemaluannya yang masih
tertutup celana dalam, jari-jarinya bergerak liar mengosoki belahan
kemaluannya. Sementara Imron makin bernafsu meremasi payudara
Sherin, perlakuan kasarnya membuatnya ingin menjerit kesakitan tapi
mulutnya tersumbat bibir Nurdin sehingga bibirnya yang terkatup
malah terbuka dan lidah Nurdin pun menerobos masuk, lidahnya menyapu
rongga mulut Sherin dan beradu dengan lidahnya.
Imron mulai mempreteli kancing baju Sherin dan menarik lepas baju
itu dari tubuhnya. Kini tubuh atas Sherin cuma tersisa bra pink.
"Bukain kaitnya Pak Imron, daridulu gua penasaran pengen liat toked
majikan gua ini !" kata Imron tak sabaran Imron pun melucuti branya,
Sherin menutupi payudaranya dengan tangan dan terus memohon agar
mereka tidak meneruskan aksinya. Tanpa mempedulikan ocehannya,
Nurdin menyingkirkan tangan yang menghalanginya itu. Terpesonalah
keduanya melihat keindahan buah dada Sherin yang putih, kencang dan
berputing kemerahan itu. "Wah majikanlu tokednya bagus banget, putih
bulat kaya bakpao !" kata Imron sambil mengusap-usap payudara itu.
"Iya nih, pentilnya juga ngegemesin, imut gini !" timpal Nurdin yang
tangannya memencet puting itu dan menarik-nariknya."Nah, sekarang
coba kita liat bawahnya !" Sherin berusaha menahan roknya dengan
tangan ketika Nurdin akan memelorotinya, tapi kemudian Imron kembali
menelikung tangannya ke belakang sehingga dengan leluasa
Nurdin membuka sabuk dan resletingnya, rok itu pun meluncur jatuh
melalui kakinya, disusul celana dalamnya dipeloroti hingga ke lutut.
Kedua orang itupun kini dapat menikmati tubuh polos Sherin,
tangan-tangan hitam kasar itu berkeliaran menggerayangi lekuk
tubuhnya yang indah. Nurdin yang berjongkok mulai menyentuh
kemaluannya yang dilebati bulu-bulu tipis yang tercukur rapi.
"Hhmm…memek yang bagus, masih rapat, jembutnya juga rapih, gua
suka yang kaya gini !" celoteh Nurdin Dari belakang Imron mencaplok
kedua payudaranya, jari-jarinya memencet-mencet dan memilin-milin
putingnya sehingga Sherin pun terpancing libidonya, nafasnya makin
berat. Walaupun sesekali dia memelas minta dilepaskan, namun
tubuhnya berkata lain, terlebih ketika lidah panas Imron menyapu
telak leher dan belakang telinganya. Saat itu satu tangan Imron
turun ke bawah dan meremas pantatnya, jarinya terkadang menyentuh
anusnya, belum lagi jari dan lidah Nurdin yang kini sedang bermain
di vaginanya. Perbuatan mereka membuat Sherin semakin tak berdaya,
tak berdaya karena nikmat dan tak cukup tenaga untuk melawan.
Mereka lalu menurunkan tubuhnya hingga terbaring di lantai, dia
merasakan dinginnya lantai menyentuh punggungnya. Nurdin melepas
celana dalam yang menyangkut di tungkainya dan dibukanya sepasang
paha itu, wajahnya mendekati kemaluannya, lidahnya menjilati paha,
pangkal paha, hingga akhirnya menyentuh bibir vaginanya. Di tempat
lain Imron dengan rakus mencium dan menghisap payudaranya, lidahnya
yang menari-nari liar itu menyebabkan puting itu makin mengeras.
"Toked yang montok, eemmhh…sluurpp…!" Beberapa menit lamanya
Imron mengeksploitasi payudara Sherin sebelum akhirnya jilatannya
meluas ke lekuk tubuh lainnya, ketiak, bahu, leher, hingga akhirnya
bibir mereka bertemu. Dari matanya yang terpejam air mata terus
mengalir, namun birahinya terus naik tak terkendali.
"Hhhmmpphh…!" rintih Sherin tersendat saat lidah sopirnya
menyentil-nyentil klitorisnya, tubuhnya menggeliat-geliat menahan
siksaan birahi itu. "Udah mulai kerasa enaknya kan Non,tuh udah
banjir gini !" ejek Nurdin sambil terus menjilatinya. Kalah oleh
desakan nafsunya, Sherin pun tak terasa membalas permainan lidah
Imron, untuk mengurangi rasa jijik dia membayangkan yang dicium itu
adalah Frans. Dia merasakan kemaluannya sudah sangat basah akibat
jilatan sopirnya, tak lama kemudian dirasakan badannya
menggelinjang. Mereka tertawa-tawa melihat reaksinya.
"Hahaha…akhirnya nikmatin juga kan !" ejek Imron "Dasar perek,
munafik, tadi sok jual mahal, tapi baru digituin dikit aja udah
keenakan !" timpal Nurdin Betapa panasnya telinga Sherin mendengar
hinaan seperti itu, apalagi yang mengucapkan adalah sopirnya
sendiri, dia tak menyangka sopirnya sampai setega itu padanya, dia
mulai menyesali seandainya dulu dia bersikap baik padanya mungkin
kejadian hari ini tidak akan menimpanya, tapi segalanya sudah
terlambat.
Kini Nurdin menariknya hingga berlutut di depan selangkangannya,
lalu dia membuka celananya sendiri. Dan terlihatlah kemaluannya yang
membuat Sherin terkesiap karena panjangnya, lebih kaget lagi saat
dia melihat milik Imron yang sudah berdiri di sebelahnya karena
miliknya walaupun tak sepanjang sopirnya namun lebih kokoh dan
berurat. Sambil berkacak pinggang seolah tanda kemenangan, Nurdin
memerintahkan anak majikannya mengoral penisnya. Di bawah ancaman,
Sherin meraih penis itu dengan tangan gemetar lalu sambil menutup
mata menahan rasa jijik dimasukkannya benda itu ke mulutnya.
"Huehehe…baru kali ini gua liat majikan nyepongin sopirnya, hebat,
hebat !" ejek Imron melihat adegan itu. "Sepongannya yahud banget,
daripada nyepongin pacar Non yang kontolnya kecil itu mendingan yang
saya kan, lebih gede, lebih muasin lagi !" Nurdin menimpali "Ayo
Non, yang saya juga pengen diservis !" Imron meraih tangan Sherin
dan meletakkannya pada penisnya.
Sherin mengulum dan mengisap penis sopirnya sambil tangannya
sesekali mengocoknya, sementara tangan satunya mengocok punyanya
Imron. Sepuluh menit lebih dia mengocok dan mengulum penis kedua
jahanam itu secara bergantian. Dia menyadari betapa kotor dirinya
saat melakukan hal itu, tapi entah dorongan apa yang membuatnya
merasa terangsang dan menikmati perlakuan mereka.
"Sshhh…sshh…mau ngecrot nih Non, ditelen yah…awas kalo
dimuntahin !" perintah Imron sambil melenguh nikmat. Akhirnya dengan
satu lenguhan panjang Imron, menekan kepala Sherin ke
selangkangannya sehingga batang itu melesak lebih dalam ke
tenggorokan gadis itu lalu menumpahkan isinya yang kental disana.
Cairan itu langsung memenuhi mulutnya dan tertelan tanpa bisa
ditahan. Sherin gelagapan dan meronta ingin melepaskan benda itu
tapi Imron menahan kepalanya dan kalah tenaga. Dia langsung
terbatuk-batuk dan nafasnya terengah-engah mencari udara segar
begitu Imron mencabut penisnya, aroma sperma yang menusuk itu masih
terasa di mulutnya.
Sherin sempat beristirahat sekitar dua menitan sebelum Nurdin
menarik pergelangan kakinya dan membentangkan kedua pahanya, lalu
dia mengambil posisi diantara kedua paha itu. "Ok, Non sekarang
saatnya ngejos hehehe!" seringainya mesum "Jangan Bang, saya
mohon…oohh, maafin saya !" Sherin mengiba dengan berurai air mata.
"Waktu saya minta maaf dulu, Non juga ga maafin, enak aja sekarang
minta maaf !" cibir Nurdin tanpa menghentikan aksinya mendorong
penisnya memasuki vaginanya. "Sakit…akh…lepaskan…uuhh !"
rintihnya saat penis sopirnya menyeruak masuk menggesek dinding
kemaluannya. "Ooohh…enak tenan memeknya Non biar udah ga perawan
tapi masih seret !" komentar Nurdin "Tuh kan kebukti kontol pacarnya
kecil, kalo ngga pasti udah ga seseret sekarang, ya ga Din !" sahut
Imron disambut gelak tawa keduanya.
"Siap yah Non, saya bakal ngebuktiin kalo saya lebih bisa muasin Non
daripada pacar Non itu, hiihh !" habis mengucapkan kalimat itu
Nurdin langsung menyodokkan penisnya diiringi erangan panjang
Sherin. Nurdin terus menghentak-hentakkan pinggulnya membuat tubuh
Sherin berkelejotan, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan rintihan
yang justru membuat kedua orang itu tambah bernafsu. "Ayo liat sini,
asyik nih buat nambah koleksi gua !" sahut Imron mengarahkan
cameraphone itu pada mereka. "Jangan…tolong jangan
ahhh…direkam…ahhh !" Sherin mencoba menutupi wajahnya dengan
tangan Namun Nurdin malah merentangkan kedua tangannya itu ke
samping sehingga Sherin tidak bisa menutupi wajahnya lagi. Nurdin
tertawa-tawa melihat ke arah kamera seolah bangga bisa menikmati
tubuh majikannya yang cantik itu. Sekitar tiga menit Imron
mengabadikan adegan perkosaan itu sebelum dia sendiri bergabung
menikmati tubuh mulus itu.
Imron menggerayangi seluruh tubuh Sherin serta menjilatinya, leher
jenjang itu dicupangi sampai memerah. Lidah Imron yang menggelitik
tubuhnya membuatnya makin menggelinjang. "Busyet, baru pernah gua
main sama anak juragan sendiri, ternyata asoynya ga ketulungan !"
kata Nurdin sambil terus menyetubuhinya tanpa ampun. Tak lama
kemudian, tubuh Sherin mengejang dan menekuk ke atas sampai
tulang-tulang rusuknya terjiplak di kulitnya. Dia merasa seperti ada
suatu ledakan hebat dari dalam tubuhnya yang tidak bisa ditahan dan
menyebabkan tubuhnya menggelepar-gelepar bak ikan keluar dari air.
Tidak dapat disangkal bahwa perasaan itu nikmat luar biasa melebihi
kenikmatan yang pernah dirasakan bersama pacarnya. Nurdin masih
terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia
pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati wajah Sherin dimana
dia menyemprotkan spermanya. Cairan putih kental pun berceceran
membasahi wajah dan rambut gadis itu. Sebelum sempat membersihkan
cairan berbau tak sedap itu dari wajahnya, Imron sudah mengambil
giliran memperkosanya.
Imron membalikkan tubuhnya yang masih lemas itu ke posisi telungkup,
kemudian pantatnya dia tarik hingga menungging. "Aaahhkkk…aahh !"
erang Sherin dengan mata terbelakak, kedua tangannya mengepal keras
ketika Imron melakukan penetrasi dari belakang. Setidaknya dia masih
bersyukur karena Imron tidak mengincar anusnya, terbayang olehnya
betapa sakitnya di anal seks dengan penis sebesar itu sementara
anusnya masih perawan. Berkat bantuan cairan kemaluannya, penis
Imron lebih mudah menusuk vaginanya, itupun masih terasa nyeri.. Dia
mulai mengocok vaginanya, mulanya perlahan tapi lama-lama
kecepatannya semakin meningkat. Sherin sebentar mendesah, sebentar
menggigit bibir merasakan kenimatan yang diberikan Imron, sepertinya
dia sudah begitu mengikuti permainan yang dipimpin oleh dua
pemerkosanya itu. Rasa jijik dan marah yang sedaritadi
menyelubunginya berubah menjadi gairah kenikmatan, setidaknya untuk
saat ini. Semakin kasar perlakuan yang diterimanya semakin nikmat
rasanya, pinggulnya pun ikut bergoyang mengimbangi irama genjotan
Imron. Desahan yang keluar dari mulutnya makin menunjukkan
kenikmatan bukannya desahan korban perkosaan.
Nurdin menaruh kursi di depan Sherin dan duduk di sana, selain kaos
berkerahnya, bagian bawahnya sudah telanjang. Tubuh atas Sherin yang
bertumpu di lantai itu diangkatnya ke antara dua pahanya. "Ayo…Non
tadi belum dibersihin nih, jilatin sampai bersih yah !" suruhnya
Tanpa harus disuruh kedua kalinya, Sherin yang sudah setengah sadar
itu, meraih batang itu lalu menyapukan lidahnya membersihkan cairan
yang belepotan di sana, sesekali dimasukkan ke mulut dan diemut
sehingga pemiliknya merem-melek dan melenguh keenakan, penis itu pun
perlahan-lahan membesar lagi di dalam mulutnya. Sementara dari
belakang Imron masih asyik menyodok-nyodok vaginanya sambil kedua
tangannya berpegangan pada kedua payudaranya. Butir-butir keringat
sudah nampak pada kulit punggungnya seperti embun, wajahnya pun
sudah bersimbah peluh bercampur sperma. Suatu saat Imron membenamkan
penis itu hingga mentok dan memuntahkan isinya di dalam sana, tubuh
pria itu mengejang sambil mengerang dengan suara berat. Nampak
cairan putih itu meluber di sela-sela kemaluan Sherin membasahi
daerah sekitar selangkangannya.
Mereka berganti posisi lagi, Nurdin berkata bahwa dia ingin mencoba
posisi yang pernah dilihatnya di sebuah film porno. Mula-mula
diperintahkannya Sherin naik ke pangkuannya berhadapan. Dia sudah
memegangi penisnya yang mengacung tegak itu ketika Sherin menurunkan
tubuhnya sehingga otomatis penis itupun melesak ke vaginanya
diiringi desahan. "Pegangan yah Non, kalo jatuh jangan salahin saya
ntar !" suruhnya Setelah Sherin berpegangan pada bahunya, Nurdin
pelan-pelan bangkit dari bangku, kedua tangannya menopang pantat
Sherin sehingga kini posisinya digendong Nurdin dengan kedua tungkai
menjepit pinggang Nurdin. Merasa pijakannya telah mantap, Nurdin pun
menyentakkan badannya menggenjot vagina majikannya dengan gaya
berdiri. "Wow…boleh juga jurus baru lu Din, sekali-sekali bisa gua
coba nih !" kata Imron "Berguna juga tuh film bokep, dapat pelajaran
baru yang emang sip" sahut Nurdin yang makin ganas menggenjot
Sherin. Dengan posisi demikian Sherin merasa vaginanya ditusuk
dengan lebih keras dan dalam, payudaranya pun turut bergoyang-goyang
seirama badannya.
Nurdin dapat bertahan sekitar belasan menit dalam posisi yang cukup
menguras tenaga itu, namun selama itu dia berhasil mengirim Sherin
mencapai klimaks. Mereka terus menggarapnya tanpa mempedulikan
kondisi Sherin yang sudah kepayahan. Sekarang Imron berbaring di
lantai dengan memakai pakaiannya sebagai alas kepala, disuruhnya
Sherin melakukan gaya woman on top dengan bergoyang di atas
penisnya. Dengan pertimbangan mengakhiri perkosaan itu secepatnya,
Sherin pun menaiki penis Imron lalu mulai menaik-turunkan tubuhnya.
Belum sampai semenit bergoyang, dari belakangnya Nurdin mendorong
punggungnya ke depan sehingga pantatnya agak terangkat. "Ntar Pak
Imron, gua belum keluar nih tadi, sekarang mo nyoba ngejos disini
nih !" katanya sambil memasukkan dua jari ke anusnya. "Jangan Bang,
jangan disana, saya takut !" mohonnya saat Nurdin mulai meludahi
daerah itu agar licin serta mengeluarmasukkan jarinya sejenak. "Heh,
udah diem aja Non, ntar juga enak kok !" Nurdin mulai membuka lubang
itu dan tangan satunya mengarahkan senjatanya ke sana. Imron yang
dalam posisi berbaring memegangi kedua lengan Sherin agar tidak
berontak.
"Aaahh…aduh…sakit, ampun Bang, tolong hentikan !" rintih Sherin
menyayat hati, tubuhnya mengejang, dan wajahnya meringis menahan
perih Tanpa merasa iba, sopir bejat itu terus saja melesakkan
penisnya dan menikmati jepitan dubur itu terhadap penisnya, begitu
juga Imron di bawahnya, dia malah makin bergairah melihat ekpresi
kesakitan Sherin, sesekali dia menyapukan lidahnya pada payudara
yang menggelantung dekat wajahnya. Mereka berdua pun mulai
menggenjot tubuh Sherin, dua penis menghujam-hujam vagina dan
anusnya, sungguh suatu derita birahi yang luar biasa dialami gadis
malang itu. "Gile, masih perawan loh pantatnya, sempit banget sampe
berdarah gini !" kata Nurdin sambil meremasi bongkahan pantatnya.
Darah segar memang mulai nampak pada kulit pantatnya yang putih dan
tangisan Sherin pun makin menjadi, namun itu tidak mengurangi
kebiadaban kedua orang itu.
Beberapa saat kemudian ketiganya mencapai orgasme dalam waktu hampir
bersamaan, yang paling awal adalah Nurdin, mungkin karena sempitnya,
sperma itu menyemprot di dalam pantatnya dan meluber keluar
bercampur cairan darah. Sherin pun menyusul beberapa menit kemudian
bersamaan dengan Imron yang menumpahkan spermanya di dalam vagina
Sherin. Tubuh Sherin pun akhirnya ambruk menindih Imron dengan penis
masih menancap. Nurdin memakai kembali celananya, dia tersenyum puas
sambil menyalakan sebatang rokok. Sebentar kemudian Imron pun
bangkit dan melihat jam yang sudah menunjukkan jam lima kurang, dia
membuka pintu dan memantau keadaan sekitar, sepi tidak ada ada tanda
seseorang lewat sini. Sherin masih terbaring di lantai menangis
sesegukan, keringat telah membasahi badannya, daerah selangkangannya
penuh lelehan sperma dan di pantatnya sperma itu bercampur darah.
Imron mengancamnya bahwa bila dia berani buka mulut atau pindah ke
kampus lain, foto dan video klip itu akan disebarluarkan bahkan
keselamatan pacarnya pun mungkin terancam.
Setiba di rumah, kedua orang tua Sherin masih belum ada di rumah,
papanya memang sedang di luar kota sejak kemarin lusa dan mamanya
sedang ikut arisan. Kesempatan ini tidak disia-siakan Nurdin untuk
menikmati tubuh Sherin sepuas-puasnya. Dia memperkosa nona
majikannya itu di kamar gadis itu serta di kamar mandi yang menyatu
dengan kamar itu sekaligus mandi bersama. Sherin sendiri sepertinya
sudah pasrah saja menikmati dirinya diperkosa seperti itu, pikirnya
toh sudah telanjur basah, mandi saja sekalian. Perkosaan itu baru
berhenti ketika mamanya pulang sekitar jam sembilan. Di depan nyonya
besar itu, baik Nurdin dan Sherin bersikap seperti biasa, yang satu
demi menutupi perbuatan bejatnya, yang lain demi menutupi rasa malu
dan tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Besoknya memang benar
Nurdin mengundurkan diri dengan alasan ingin bekerja di kota lain
bersama saudaranya, namun derita Sherin belum berakhir karena dia
telah menjadi salah satu budak seks Imron, si penjaga kampus bejat
itu.
Bersambung...