Tuesday, May 1, 2007

IMRON SADISTIS 2

Siang itu, sekitar jam sebelas, suasana kampus Universitas *****
tempat Imron bekerja sedang ramai-ramainya. Saat itu, ketika Imron
sedang mengepel lantai di dekat kantin, lewatlah serombongan
mahasiswi yang terdiri dari empat orang di depannya. Keempatnya
memang cantik-cantik, namun ada satu diantaranya yang menarik
perhatian Imron, si penjaga kampus itu, bukan karena dia yang
tercantik, karena tiga lainnya juga sama cantiknya, melainkan karena
Imron merasa pernah melihat gadis ini sebelumnya, tapi entah dimana,
dia memutar otak mencoba mengingatnya. Aha…akhirnya dia teringat
dimana dia melihat gadis ini, dan ini berarti ada mangsa empuk hari
ini tanpa harus susah-susah berusaha, demikian katanya dalam hati
dengan seringai licik. Untuk lebih jelasnya marilah kita kembali
sejenak ke beberapa hari sebelumnya untuk melihat apa yang
sebenarnya terjadi.
LIMA HARI SEBELUMNYA :
Imron sedang berbaring di biliknya sambil jarinya mengutak-atik
tombol-tombol HP hasil temuan itu. Belakangan ini dia memang sedang
sibuk mempelajari penggunaan cameraphone itu, setting bahasa yang
telah diatur ke dalam Bahasa Indonesia dan otaknya yang pada
dasarnya cerdas mempercepatnya mengerti penggunaan teknologi abad-21
ini. Sebuah program aplikasi dalam ponsel itu membuatnya penasaran
karena tidak bisa dijalankan, setiap masuk ke program itu pasti akan
ditanya password, program itu tidak lain "Handy Photosafe" yang
berfungsi menyimpan file gambar yang bersifat pribadi. Tadinya mau
dia biarkan atau kalau perlu hapus saja program tidak berguna itu,
namun ketika dia melihat-lihat notes pada ponsel itu, mulailah dia
berpikir siapa tahu passwordnya ada di sini, karena selain jadwal
disitu juga terdapat beberapa catatan aneh. Iseng-iseng dicobanya
satu-satu kata-kata dalam notes itu, kalau bisa syukur, tidak pun
tak mengapa.
Tanpa diduga, salah satu kata dalam notes itu ternyata memang kata
sandi yang diminta sehingga dia dapat mengakses lebih jauh program
itu. Di dalamnyalah terdapat sekitar duapuluhan foto-foto perempuan
telanjang dan setengah telanjang yang sepertinya hasil jepretan
cameraphone itu. Hehehe…asyik rejeki nomplok, katanya dalam hati
sambil menikmati gambar-gambar itu. Waktu itu belum terpikir olehnya
kalau salah satu gadis di file itu adalah mahasiswi di kampus
tempatnya bekerja, dia baru tahu hari ini ketika gadis tersebut
lewat di depannya.
Chapter II : Jesslyn's Tragedy
Masih belum yakin, dia buru-buru masuk ke gudang peralatan di dekat
situ dan mengeluarkan cameraphonenya, dilihatnya sekali lagi gadis
dalam gambar itu untuk memastikan. Ya, sepertinya tidak salah lagi
itu memang dia, nama filenya jesslyncute03.jpg. Hmmm…apakah
namanya Jesslyn pikirnya, kalau benar kemungkinan besar nomor HPnya
juga ada dalam daftar teleponnya. Buru-buru dia membuka daftar nomor
pada cameraphone itu dan benar disitu memang ada nama Jesslyn, tapi
apakah itu nomornya. Dihubungilah nomor itu sambil mengamati lewat
kaca nako, senyum kemenangan muncul di wajahnya ketika gadis itu
mengangkat ponselnya dari tasnya menjawab panggilannya. "Eh, Ricky
udah ketemu yah HP lu !" katanya begitu mengangkat HP-nya "Hai
Jesslyn, foto-fotonya bagus sekali senang loh melihatnya,
hehehe…!"
Ekspresi kaget terlihat dari wajahnya begitu mendengar jawaban
dengan suara berat itu, dia nampak meminta ijin meninggalkan meja
pada teman-temannya dan berjalan ke tempat yang lebih sepi. "Siapa
ini, apa maksudlu !" katanya dengan nada panik "Hehehe…saya cuma
ngomentarin foto Non di HP ini kok, abis cantik, terus bodynya
wuiihhhh, jadi saya sekalian mau minta ijin buat dicetak terus
dijual…hehehe" "Heh bangsat, apa sih maulu sebenernya, kalo berani
keluar, jangan jadi pengecut !" nadanya mulai marah.
"Huehehe...jangan marah-marah gitu Non, jadi takut ah, padahal kan
Non besok bakal jadi selebritis di kampus setelah foto-foto asoy Non
dipajang di papan pengumuman" Perkataan barusan sontak membuat
Jesslyn bagai disambar petir, dia sadar dirinya telah terjebak dalam
situasi tidak menguntungkan sekaligus menyesali dulu pernah membuat
foto-foto seperti itu untuk Ricky, mantan pacarnya yang juga pemilik
HP yang tertinggal itu.
"Tolong, jangan, lu mau apa sebenarnya, kita rundingkan dulu gimana
?" katanya gugup "Hmm…boleh memang itu yang mau saya bicarakan,
gini aja Non, kita ketemu jam tiga nanti di mini teater, di gedung
sastra lantai lima untuk membicarakannya, dan oo..iya pastikan
jangan ada yang tahu apa yang kita bicarakan sekarang kalau tidak
mau yang lain tahu" katanya sebelum menutup pembicaraan. Gadis itu
kembali ke mejanya dengan wajah lesu, dia menggeleng dengan senyum
dipaksa saja ketika teman-temannya menanyakan hal itu dan menjawab
dengan alasan dibuat-buat. Dia tetap bersikap biasa dan pura-pura
riang di depan mereka agar tidak ada yang curiga. Selama mengikuti
perkuliahan di kelas dia tidak konsen memikirkan apa yang akan
dilakukannya nanti dan apa yang akan diperbuat orang tak dikenal itu
terhadapnya, juga merasa kesal dan marah pada orang keterlaluan itu.
Jesslyn, nama gadis itu, baru berumur 19tahun dan memasuki tahun
keduanya kuliah di fakultas teknik industri. Parasnya cantik,
berkulit putih bersih dengan tinggi 170cm dan berat 49kg,
payudaranya berukuran sedang, pas dengan postur tubuhnya, rambutnya
yang dicat kemerahan terurai sedada. Orang bilang dia mirip Lee
Hyori, personel group penyanyi Fin. K.L. asal Korea. Hari itu dia
memakai tanktop pink berdada rendah dengan setelan luar berwarna
putih, bawahannya memakai celana panjang putih 3/4 yang menjiplak
tungkainya yang ramping dan panjang serta memperlihatkan betisnya
yang putih mulus. Foto-foto itu memang pernah dia buat waktu
berpacaran dengan Ricky yang baru saja putus baik-baik dua bulan
lalu. Sebenarnya ketika mendengar Ricky kehilangan HPnya itu,
hatinya sudah was-was kalau saja foto itu ada yang melihat, dia cuma
bisa berharap orang yang menemukan HP itu tidak mengetahui
passwordnya. Sekarang apa yang ditakutinya itu benar-benar terjadi,
orang itu telah menemukan passwordnya gara-gara kecerobohan Ricky
sendiri yang memang pelupa sehingga dia menaruh password di notes.
Jam tiga, waktu yang ditentukan pun tiba, kampus sudah mulai sepi,
terutama di lantai-lantai atas. Ketika dia memasuki lift pun sudah
tidak ada siapa-siapa lagi, jantungnya semakin berdebar-debar
seiring dengan angka pada lift yang makin menaik. Ting ! pintu lift
membuka, tibalah dia di lantai lima, langkahnya terasa berat
menyusuri koridor yang sudah sepi itu hingga akhirnya dia tiba di
depan mini teater yang dimaksud, ruangan itu berfungsi sebagai ruang
multimedia bagi anak sastra, untuk menonton film ataupun presentasi,
untuk itu piranti seperti vcd/dvd player, video tape, dan proyektor
lengkap tersedia disana. Jam-jam segini fakultas sastra umumnya
sudah tidak ada kuliah lagi, itulah mengapa Imron memilih tempat
ini. Setelah lima menit menunggu tanpa melihat seorangpun, diapun
menghubungi nomor (bekas) Ricky. "Aahh…Non Jesslyn, gimana janji
kita ?" jawab suara di seberang sana begitu diangkat. "Ga usah
basa-basi lah, lu dimana, gua ini udah di depan mini teater tau"
jawabnya ketus "Oohh…bagus-bagus, akhirnya Non dateng juga, saya
kira mau batalin janji, kalau gitu silakan buka aja pintunya Non, ga
dikunci kok, saya udah seperempat jam disini, khusus nungguin Non,
hehehe !" Dengan tegang dia membuka pintu itu dan seraut wajah tua
tak bersahabat muncul.
"Ooo…Non Jesslyn, mari masuk sudah saya tunggu daritadi" sapa
orang itu "Jadi Bapak orangnya, kurang ajar, berani-beraninya…!"
bentak Jesslyn memelototkan matanya. "Kurang ajar yah,
heheheh…udah ah Non, jangan marah-marah gitu lagi, serem ah !"
katanya dengan nada mengejek "kita disini kan buat berunding Non,
lupa ya ?" "Tolong Pak, serahkan HPnya ke saya atau paling tidak
hapus foto-fotonya !" pintanya "Yeehh…masa gampang gitu Non, saya
susah payah ngundang Non kesini cuma buat itu" katanya mencibir
"Heh…denger yah, Bapak bisa saya laporkan ke polisi tau !"
bentaknya bertambah emosi "Wah…asyik dong, polisinya untung tuh
bisa ngeliatin foto-foto ini terus yang lain juga bakal tau juga"
timpalnya kalem sambil menunjukkan foto bugil dirinya di HP itu.
Jawaban itu langsung membuatnya terkesiap tanpa sanggup berkata-kata
lagi selain menatap Imron yang tersenyum penuh kemenangan, ruangan
itu sunyi sejenak.
"Foto-foto ini ga akan Bapak publikasikan dan Bapak juga akan tutup
mulut" katanya memecah kesunyian "asal Non…" sambil melanjutkan
kata-katanya dia mendekati Jesslyn dan meraih kerah setelan luarnya
untuk dilucuti. "Tidak, jangan macam-macam Pak !" katanya dengan
menahan tangannya. "Hhmmhh…jadi ga setuju nih ? ya udah, ga maksa
kok, kalau gitu sekarang Bapak ke tempat cetak digital aja" Tak
berdaya Jesslyn dibuatnya, pikirannya kalut dan panik membayangkan
apa yang bakal terjadi kalau foto-foto itu tersebar. Karena tak ada
jalan lain lagi, dia menurunkan tangannya membiarkan Imron membuka
setelan luarnya, kain itu pun jatuh ke lantai sehingga kini bahu dan
lengannya yang putih mulus itu dapat dilihat Imron. Dia tidak tahu
harus bagaimana lagi selain yang satu ini. "Nah, gitu dong, ternyata
Non pinter memilih mana yang lebih baik" kata Imron seraya berjalan
ke pintu di belakang Jesslyn lalu menguncinya.
Imron mengitari sejenak tubuhnya mengamat-ngamati kesempurnaan tubuh
yang langsing bak biola itu. Tatapan Imron yang jalang itu
menyebabkan wajahnya tertunduk malu dan kedua tangannya disilangkan
di dada padahal belum juga ditelanjangi. Tak bisa lagi menahan
nafsunya, Imron mendekap tubuh Jesslyn dari belakang. "Pak jangan,
aahh…sudah lepaskan !" Jesslyn berusaha berontak ketika tangan itu
mulai merambahi payudaranya. "Udahlah Non, nurut aja biar kita
sama-sama enak, kalau Non berontak terus saya bakal main kasar loh,
mau ?!" Kemudian tangannya mencengkram buah dada Jesslyn dari luar
dan meremasinya dengan gemas, rambut panjangnya dia sibakkan ke kiri
dan menghirup aroma tubuhnya yang harum. Perasaan jijik ditambah
putus asa membuatnya meneteskan air mata, dirasakannya ada benda
mengganjal pantatnya dari balik celana Imron, dia mulai terangsang
ketika lidah Imron menyapu telak lehernya sehingga membuat bulu
kuduknya merinding. Imron meneruskan rangsangannya dengan mejilati
telinga Jesslyn, lidahnya didorong-dorong ke lubang telinganya
menyebabkan Jesslyn menggelinjang dan meronta kecil antara menolak
dan terangsang. "Jangan…jangan, ahhh…ahh !" katanya menghiba
Tangan kanannya kini mulai menyusup lewat bawah baju Jesslyn
menyentuh perutnya dan menyusup ke balik bra-nya. Jesslyn menggeliat
karena tangan kasar itu terasa geli di payudaranya yang halus,
terlebih ketika Imron menggesekkan jarinya pada putingnya. Sambil
merasakan kepadatan dan kehalusan payudara Jesslyn, Imron terus
mencupangi lehernya yang jenjang meninggalkan bekas merah pada kulit
putih itu. Jesslyn hanya bisa menggigit bibir bawah dengan mata
terpejam menerima serbuan-serbuan erotis pria setengah baya ini.
Sekarang tangan satunya bergerak ke bawah perut melepaskan sabuknya.
"Nggak Pak, jangan disitu !" desisnya dengan terisak Tanpa
mempedulikan ocehan Jesslyn, Imron terus bergerak membuka kancing
disusul resleting celananya, dan masuklah tangan kirinya lewat atas
celana dalamnya, dirasakannya bulu-bulu halus yang menyelimuti
daerah kewanitaannya.
Tangannya mula-mula hanya mengelus-elus permukaanya, lalu sebentar
kemudian jarinya mulai merayap masuk ke belahannya mengaduk-aduk
bagian dalamnya. Hal ini membuat tubuh Jesslyn bergetar dan nafasnya
semakin tidak teratur, rupanya dia sudah tak kuasa menahan diri
lagi. Mulutnya menceracau tak jelas dan kakinya terasa lemas, kalau
saja tidak didekap Imron mungkin tubuhnya kehilangan topangan. Imron
meningkatkan serangannya untuk membuat gadis itu takluk sepenuhnya
dengan cara memainkan klitorisnya, daging kecil itu dia gesekkan
pada jarinya dan sesekali dipencet-pencet sehingga pemiliknya
tersentak dan mengerang, Jesslyn tinggal pasrah saja membiarkan
Imron mengocok-ngocok vaginanya dengan jarinya. "Haha…mulai konak
ya Non, liat udah basah gini !" ejeknya dekat telinga Jesslyn Kalau
mau terus terang, memang Jesslyn sudah terangsang berat, namun
disisi lain dia juga merasa harga dirinya direndahkan oleh penjaga
kampus itu, hal ini jelas-jelas pemerkosaan.
Beberapa saat kemudian, Imron mengeluarkan tangannya dari celana
Jesslyn, jari-jarinya basah oleh lendir vagina. Dia lantas
mengangkat Jesslyn dengan kedua lengan kokohnya. "Aaww…mau apa
Pak, lepasin, lepasin !" Jesslyn menjerit kecil sambil meronta-ronta
Dibaringkannya tubuh itu diatas sebuah meja dengan kedua kaki
terjuntai. Begitu menurunkan tubuh Jesslyn, Imron langsung mencopot
tank-top beserta bra dibaliknya lalu dilemparkan ke belakang,
rontaan Jesslyn malah membuat Imron semakin bernafsu. Dengan sigap
ditangkapnya kedua pergelangan tangan Jesslyn lalu mencondongkan
tubuhnya ke depan sampai hampir menindihnya. Jesslyn menggelengkan
kepalanya kekiri dan kanan menghindari Imron yang makin mendekatkan
wajahnya untuk menciuminya.
"Nggak mau Pak, jangan…minggir...mmmhh !" kata-katanya terhenti
saat bibir Imron akhirnya melumat bibir mungilnya. Jesslyn
merapatkan bibirnya kuat-kuat sebagai tanda penolakan, namun
lama-lama pertahanannya bobol juga karena Imron terus merangsangnya
dengan menjilati bibirnya dan mendesak-desakkan lidahnya. Mulut
Jesslyn mulai membuka dan secara refleks menyambut lidah Imron dan
beradu dengan panasnya. Merasa korbannya sudah berhasil dijinakkan,
Imron melepas pegangannya pada tangannya dan beralih mengelusi
payudaranya. Nafas Jesslyn sudah putus-putus ketika Imron melepas
ciumannya, dia memalingkan wajahnya ke samping, tapi Imron menatap
wajah cantiknya dan mengelus wajahnya. "Non ini cantik sekali, Bapak
emang beruntung hari ini Non mau ngentot sama Bapak !" pujinya.
"Siapa yang mau main sama lu kalo ga dijebak gini, dasar bajingan
licik !" umpat Jesslyn dalam hati dengan tatapan penuh kebencian.
Sekarang sasarannya adalah kedua payudara montok Jesslyn, Imron
dengan rakus melumat daging kenyal itu dengan mulutnya, dikenyot dan
dijilati, sementara tangannya meremasi yang sebelahnya. Jesslyn
meringis di tengah desahannya karena payudaranya terasa sakit oleh
remasan Imron yang kasar. "Ooohh…!" desahnya ketika Imron
menyentil-nyentilkan lidahnya pada putingnya yang sensitif, kadang
disertai gigitan kecil yang membuatnya makin menggelinjang. Setelah
puas menyusu, Imron melepaskan sepatu bertumit tinggi yang dipakai
Jesslyn agar bisa meloloskan celananya. Kembali Jesslyn hanya bisa
pasrah saja ketika celana berikut celana dalamnya ditarik lepas
sehingga kedua paha mulus dan kemaluannya yang berbulu lebat pun
terlihat. Hawa dingin dari AC menerpa tubuhnya yang sudah telanjang
bulat. Segera setelah menelanjanginya, Imron pun membuka seluruh
pakaiannya hingga sama-sama bugil.
Jesslyn terhenyak dengan menyilangkan kedua tangan menutupi dada dan
mengatupkan kedua belah pahanya melihat penis Imron yang hitam besar
itu sudah mengacung dengan gagahnya. "Tenang aja Non, sekarang Bapak
mau ngelicinin memek Non dulu biar Non ga kesakitan nanti !" katanya
seraya mendorong tubuh Jesslyn kembali rebah di meja. Diambilnya
sebuah kursi dan dia duduk tepat di depan kemaluan Jesslyn seperti
dokter kandungan sedang memeriksa pasiennya saja. Kedua tungkai
Jesslyn yang menjuntai diangkatnya dan diletakkan di bahunya.
Matanya menatap tajam kearah kemaluan yang sudah basah itu, hembusan
nafasnya makin terasa bersamaan dengan wajahnya yang makin mendekat.
"Aahhh…Pak !" desahan halus keluar dari mulutnya saat Imron
menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya. Lidah Imron semakin liar
saja, kini lidah itu memasuki liang vaginanya dan bertemu dengan
klitorisnya. Badan Jesslyn bergetar seperti tersengat listrik dengan
mata merem-melek Bukan saja menjilati, Imron juga memutar-mutarkan
telunjuknya di liang itu, sementara tangan lainnya mengelusi paha
dan pantatnya yang mulus.
Permainan mulut Imron pada daerah yang paling pribadinya itu mau
tidak mau membawa perubahan pada dirinya. Geliat tubuhnya sekarang
tidak lagi menunjukkan perlawanan, dia nampak hanyut menikmati
perlakuan Imron, hati kecilnya menginginkan Imron meneruskan aksinya
hingga tuntas. Dibawah sana Imron makin meningkatkan serangannya
menjilat dan mengisap vaginanya. "Mmmhh…memeknya asoy banget Non,
rajin dirawat yah ?" gumam Imron ditengah aktivitasnya. Sepuluh
menit kemudian, tanpa dapat ditahan lagi cairan pelumas membanjir
keluar dari vaginanya diiringi erangan panjang,tubuhnya
menggelinjang tak terkendali, ya…dia telah orgasme, orgasme dari
orang yang menjebak dan memperkosanya. Imron dengan rakusnya
menyeruput cairan yang keluar seperti orang kelaparan, terdengar
bunyi sslluurpp….sssrrppp…! dari hisapannya.
Tubuh Jesslyn pun melemas setelah menegang sesaat, matanya terpejam
dengan nafas terengah-engah. Tiba-tiba dia membelakakan matanya
karena merasakan suatu benda tumpul menyentuh bibir vaginanya.
"Jangan…jangan masukin !" katanya dengan suara lemas Dia terlalu
lemas untuk meronta setelah orgasmenya barusan. Kini Imron telah
berdiri diantara kedua pahanya dengan kepala penis sudah menempel di
vaginanya, kedua betis Jesslyn dia sangkutkan di bahunya yang lebar.
"Nah, sekarang udah licin Non, ga bakal sakit, tahan yah, uuhh…!!"
begitu menyelesaikan kata-katanya ditekannya penis itu masuk.
Jesslyn merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak ke
dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Imron meringis menahan
sakit merasakan penisnya tergesek dinding vaginanya. Dengan beberapa
kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu
akhirnya terbenam seluruhnya. Mata Jesslyn sudah basah oleh air mata
ketika itu, tangisan yang disebabkan rasa frustasi, nyeri, dan
ketidakberdayaan.
Penis itu terasa sangat sesak di liang vaginanya, ini memang bukan
pertama kalinya bagi Jesslyn, namun penis mantan pacarnya, Ricky
tidaklah sebesar milik Imron. "Oohh…enak banget Non, sempit,
legit, padahal udah gak perawan, hehehe…!" katanya sambil
menggenjot. Imron meningkatkan tempo goyangannya, penis yang besar
dan berurat itu menggesek dan menekan klitorisnya ke dalam setiap
kali menghujam. Kedua payudaranya yang membusung tegak itu ikut
berguncang hebat seirama guncangan badannya. Imron meraih yang
sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah Jesslyn mulai
bangkit lagi, dia merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya,
yang tidak didapatnya saat bercinta dengan mantan pacarnya itu,
ditambah lagi sudah sejak putus dua bulan yang lalu tubuhnya
merindukan belaian pria. Tanpa disadari dia juga ikut menggoyangkan
pinggulnya seolah merespon gerakan Imron.
"Turun Non, kita ganti gaya !" perintahnya
Mungkin karena saking terangsangnya, Jesslyn menurut saja apa yang
dimintanya, Imron mengatur posisinya berdiri dengan pantat agak
ditunggingkan, tangannya bertumpu pada meja di depannya. Dan, penis
Imron kembali memasuki vaginanya dari belakang. Dalam posisi
demikian, Imron memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada
kedua payudara Jesslyn. Mulutnya sibuk menciumi pundak dan lehernya
membuat Jesslyn serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa
diperkosa karena turut menikmatinya. Ditariknya wajah Jesslyn hingga
menengok ke belakang dan begitu wajahnya menoleh bibir tebalnya
langsung memagut bibirnya. Karena sudah pasrah, Jesslyn pun ikut
membalas ciumannya, lidah mereka saling membelit dan beradu, air
liur mereka menetes-netes di pinggir bibir.
Setelah sepuluh menit dalam posisi berdiri itu, Jesslyn merasa
genjotanya makin kencang dan disusul cairan hangat memenuhi
rahimnya. Imron melenguh panjang, penisnya masih menghujam-hujam
namun frekuensi goyangannya menurun, sperma yang ditumpahkannya
sebagian meleleh membasahi selangkangan Jesslyn. Untuk yang satu ini
Jesslyn merasa agak lega karena saat itu bukan masa suburnya, tapi
juga merasa kesal Imron menumpahkan spermanya sembarangan tanpa
bertanya terlebih dulu, bagaimana seandainya kalau saat itu sedang
subur, tapi…kalaupun ya, apakah Imron mau tahu. "Ohh…apa yang
terjadi padaku, ini pemerkosaan, tapi kenapa…kenapa aku malah
menikmati, dengan orang macam ini pula !" Jesslyn mengalami konflik
batin sedemikian rupa, tak habis pikir dia bagaimana mungkin dirinya
begitu bergairah menikmati persetubuhan barusan, "bagaimana mungkin
seorang penjaga kampus rendahan seperti ini bisa berbuat seperti itu
terhadapku, seorang mahasiswi terpelajar, anak dari keluarga
terhormat, ini gila…gila!" seribu satu konflik berkecamuk dalam
pikirannya.
Jesslyn masih terbengong-bengong dengan tatapan mata kosong ketika
gairah Imron mulai bangkit lagi. Dia menarik tubuhnya dari meja dan
berpindah ke lantai tanpa melepas penisnya yang masih menancap, lalu
diaturnya posisi Jesslyn seperti merangkak. Rasa dingin dari lantai
marmer putih menjalari tubuh Jesslyn begitu lutut dan tangannya
menempel di sana. Kembali Imron menghujam-hujamkan penisnya dengan
berbagai variasi, Jesslyn pun mengiringinya dengan desahan. Sensasi
nikmat mengaliri tubuh gadis itu, sampai suatu saat dia merasa
dinding-dinding kemaluannya makin berdenyut-denyut serta makin
menjepit kuat penis yang sedang menghajarnya. "Aahh…Pak…Pak…!"
desisnya saat diambang klimaks Desahan Jesslyn semakin seru sampai
dia merasa ada sesuatu yang meledak-ledak dalam dirinya, tubuhnya
mengejang hebat, dan cairan kewanitaannya bercampur dengan sperma
yang tadi ditumpahkan Imron meleleh keluar membasahi paha dalamnya.
Ketika gelombang klimaks mulai surut, Imron melepas penisnya dan
pindah ke depan, rambut kemerahannya dia jenggut sehingga tubuhnya
terangkat ke posisi berlutut. "Isap Non, cepet !" perintahnya
setengah memaksa. Karena ingin secepatnya menuntaskan penderitaan
ini, Jesslyn pun meraih penis yang sudah penuh lendir itu, sambil
memejamkan mata dimasukkannya benda itu kemulutnya. Walaupun merasa
jijik dengan baunya dan bulu-bulu kasarnya yang sudah basah, dia mau
tidak mau mengulumnya, menghisap dan memainkan lidahnya dengan
harapan bajingan ini keluar secepatnya dan membebaskannya.
"Mmmm…gitu Non, gitu, ternyata Non nyepongnya jago yah !" komentar
Imron sambil merem-melek menikmati emutan Jesslyn. Lima menitan
kemudian, Imron mengerang panjang bersamaan dengan menyemprotnya
spermanya di dalam mulut Jesslyn. Jesslyn gelagapan karena keluarnya
cukup banyak, sebagian cairan kental itu meluap membasahi bibirnya.
Sebelum semprotannya berhenti, Imron sudah menarik penisnya dari
mulut Jesslyn sehingga sisanya yang tinggal sedikit mendarat di pipi
dan hidung mancungnya.
Tubuh Jesslyn ambruk di lantai yang dingin, nafasnya naik turun
mengambil udara segar setelah beberapa saat disumpal penis besar.
Badannya terasa pegal-pegal, keringat membasahi sekujur tubuhnya
walaupun ruangan itu ber-AC. Imron menyuruhnya tutup mulut tentang
kejadian ini, juga tentang ponsel yang ternyata milik mantan
pacarnya itu kalau mau rahasianya aman. Begitu sampai di rumahnya,
Jesslyn langsung menyiram dirinya di bawah shower, membersihkan
tubuhnya dari kenajisan yang baru dialaminya. Tubuhnya terduduk di
box shower itu dan mulai menangis menumpahkan segala perasaannya
yang campur aduk itu. Di saat yang sama Imron pun sedang mandi, cuma
bedanya Imron sambil senyum-senyum, sebuah senyum kepuasan karena
telah berhasil menambah satu nama lagi dalam daftar korbannya yang
akan terus bertambah.
Bersambung...