Tuesday, May 1, 2007

IMRON SADISTIS 1

Imron adalah karyawan penjaga kampus sebuah perguruan tinggi swasta
berusia pertengahan limapuluh. Sosoknya sedang dengan body lumayan
berisi, wajahnya jauh dari tampan, hitam dan agak bopengan, matanya
pun cekung ke dalam berkesan ngantuk. Masa lalunya bisa dibilang
kelam, dulunya dia adalah seorang penjahat yang ditakuti dan
beberapa kali keluar masuk penjara, bekas luka sepanjang sejengkal
di dadanya adalah hasil pertarungan antar geng dulu. Tampangnya yang
seram dan tidak bersahabat itu, ditambah masa lalunya yang seram
plus sifat penyendirinya membuatnya seringkali dipandang rendah oleh
mahasiswa, dosen, maupun sesama rekan karyawan di kampus itu.
Dia tetap menjalankan tugasnya dengan rapi tanpa mempedulikan
omongan orang-orang di sekitarnya. Bekerja di lingkungan itu
membuatnya sering menelan ludah melihat tingkah polah para mahasiswi
cantik dan dosen-dosen muda yang berpakaian seksi memperlihatkan
paha mulus, pusar, maupun belahan dada mereka dengan pakaian
berleher rendah, juga sesekali dia memergoki beberapa diantaranya
berhubungan badan di areal kampus seperti mobil, toilet, ruang
kuliah, dan lain-lain. Semua itu dia anggap sebagai hiburan semata
sampai suatu ketika naluri jahat dalam dirinya kembali muncul ketika
dia menemukan sebuah cameraphone yang yang tertinggal di kelas.
Benda itu diambil dan dipelajarinya, sebentar saja dia sudah paham
penggunaannya terutama cara pengambilan gambar dan merekam video
klip. Dari sinilah terbesit niat jahat untuk membalas segala
perlakuan yang selama ini dia terima dan mewujudkan angan-angannya
menikmati tubuh para wanita cantik di kampus dengan cara memeras
mereka dengan foto-foto memalukan yang bisa dia ambil dengan alat
itu.
Chapter I : Ellen's Tragedy
Hari itu, Imron mulai menyeleksi siapa yang akan dijadikan mangsa
pertamanya. Dia bingung menentukan pilihan karena begitu banyak
gadis-gadis cantik disana baik dari kalangan mahasiswi maupun dosen,
dan kesempatan untuk mengambil gambar pun perlu momen yang tepat.
Keberuntungan berpihak padanya ketika sore jam limaan dimana kampus
mulai sepi, dia menemukan sepasang muda-mudi yang sedang
berasyik-masyuk di ruang senat. Jendela ruangan itu dicat sebagian,
tapi jika berjinjit sedikit maka kita akan bisa mengintip ke dalam
melalui bagian yang tidak bercat. Di atas sofa nampak Ellen dan Leo
(keduanya mahasiswa fakultas ekonomi) sedang beradegan panas saling
melepas hasrat birahinya. Pakaian keduanya sudah tersingkap
sana-sini, Leo sudah melepaskan celana panjangnya dan menindih tubuh
Ellen yang sudah setengah bugil dengan kaos dan bra tersingkap dan
tinggal memakai celana dalam saja, celana panjang Ellen sudah
tergeletak di lantai.
"Mmhhh…eenngghhh !" desah Ellen sambil meremasi rambut Leo ketika
pemuda itu mengisapi payudaranya.
Tangan Leo merayap ke bawah dan menyusup ke balik celana dalamnya
sehingga pada celana dalam itu nampak gumpalan yang bergerak-gerak.
Dengan gemetaran, Imron mengeluarkan cameraphone itu dari saku
celananya dan mulai mengarahkan lensanya ke arah pasangan yang
sedang bermesraan itu. Dengan sabar dan hati-hati, direkamnya adegan
demi adegan dalam bentuk foto maupun video klip. Sambil mengambil
gambar, tangan satunya tidak bisa menahan diri mengocok penisnya
yang sudah mengeras dari luar celana. Ketika mereka sudah mau
selesai dan hendak keluar dari ruang itu, Imron pun segera pergi
dari situ, rencananya dia akan segera menjalankan aksinya setelah
itu, tapi sayangnya kedua muda-mudi itu pulang bersama, lagi pula
lebih baik sabar menunggu besok agar gadis itu sudah bersih dan
segar kembali dari sisa-sisa persetubuhannya, demikian pikirnya.
Malamnya, Imron menikmati gambar-gambar dan video klip yang
diambilnya barusan sambil mengocok penisnya, selain itu dia juga
memikirkan saat yang tepat untuk mengerjai Ellen besoknya. Keesokan
harinya, setelah beberapa saat mencari orang yang ditunggu, Imron
akhirnya menemukan gadis itu sedang mengikuti kuliah di sebuah
kelas. Tidak mau kehilangan buruannya, dia terus membuntuti
diam-diam dan menunggu waktu untuk berbicara dengannya. Ellen nampak
begitu cantik hari itu, dia memakai kaos ketat warna merah yang
mencetak bentuk tubuhnya dipadu dengan rok jeans selutut, rambutnya
yang hitam sedada itu diikat ke belakang memperlihatkan lehernya
yang jenjang dan putih mulus. Tahun ini dia memasuki usianya yang
ke-21, anak seorang pemilik toko emas ini selalu berdandan modis
tapi tidak norak, sehingga termasuk salah satu bunga di kampus ini.
Leo, pemuda yang kemarin bercinta dengannya adalah senior satu
angkatan diatasnya, belum sampai sebulan Leo menyatakan cintanya dan
diterima dengan mulus.
Saat itu adalah jam satu siang di basement parkir, Ellen baru saja
melemparkan tas dan diktat kuliahnya ke dalam mobil dan hendak masuk
ke kemudi ketika terdengar Imron, si penjaga kampus itu muncul dan
menyapanya dari belakang.
"Siang Non !! Sudah mau pulang ya !" sapanya dengan suara pelan
"Haduh…ngagetin aja bapak ini, ada apa sih Pak !" jawabnya agak
ketus sambil mengelus dada.
"Hehe…anu non, bapak cuma mau ngasih liat sesuatu buat non yang
sepertinya penting" jawabnya dengan terkekeh.
"Apan sih Pak, cepetan deh saya mau pulang nih !"
Imron pun mengeluarkan HP-nya dan memperlihatkan file-file gambar
itu kepada Ellen. Betapa kagetnya gadis itu, ekspresi wajahnya
seperti melihat setan, pucat dengan mulut ternganga begitu melihat
gambar pertama yang ditunjukkan yaitu dirinya sedang mengulum penis
Leo kemarin sore, disusul gambar-gambar berikutnya yang semua berisi
adegan syur dirinya bersama kekasihnya itu.
"A-a-apa-apaan ini Pak, apa…apa maksudnya semua ini !?" tanyanya
terbata-bata dengan ekspresi kebingungan bercampur kaget.
"Hehehe…bagus yah non ? kalo saya cetak fotonya gimana non ?"
wajah Imron menyeringai mesum
"Kurang ajar, apa sebenernya mau Bapak ?" Ellen menjadi geram
sehingga hampir berteriak, keringat mulai menetes di dahinya.
"Ssttt…ssssttt…jangan keras-keras dong non, nanti yang lain
denger gimana" Imron mengacungkan telunjuk di depan hidungnya dengan
tetap cengengesan, "nah, gimana kalau kita bicarakan di gudang sana
aja deh, biar lebih enak !" katanya lagi dengan pandangan ke arah
sebuah pintu di salah satu pojok basement itu. Ellen tidak bisa
berkata-kata lagi, jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya panas
dingin, namun karena tidak ada jalan lain dia terpaksa mengikuti
saja Imron yang terlebih dahulu berjalan ke ruang itu.
Ruang itu tidak begitu besar, diterangi lampu neon 10 watt, sebuah
tangga lipat tersandar di dinding diantara setumpuk barang bekas,
juga terdapat sebuah rak yang berisi kaleng-kaleng cat, tiner, dan
macam-macam peralatan. Setelah keduanya masuk, Imron menyalakan
lampu dan menggeser slot pintu membuatnya terkunci dari dalam. Ellen
begitu terkejut dan tersentak kaget begitu merasakan pantatnya
diraba dari belakang, dia langsung berbalik dan menepis tangan
Imron.
"Ahhh…kurang ajar, jangan keterlaluan ya Pak !!" bentaknya marah
"Ahahaha…ayolah Non, kemarin juga Non nafsu banget kan ?"
seringainya "lagian apa Non punya pilihan lain buat ngejaga rahasia
ini" mimiknya mulai serius.
"Ok…ok Pak, gimana kalau Bapak bilang aja mau berapa, pasti saya
kasih" Ellen sudah demikian panik sampai-sampai suaranya gemetaran.
"Ooohh…uang, dasar orang kaya, saya selama kerja disini ngerasa
cukup-cukup aja kok Non, tanpa anak istri yang perlu dibiayai, yang
susah didapat itu ya kesempatan untuk mencicipi cewek seperti Non
ini" sambil menatapnya dalam.
Ellen benar-benar kehabisan akal, dia tidak tahu harus bagaimana
lagi. Dia merasa jijik untuk melayani lelaki yang seumuran ayahnya
ini yang juga dari status dan ras yang berbeda, tapi nampaknya tidak
ada pilihan lain untuk menutupi skandalnya ini, jangankan foto,
beritanya yang tersebar saja sudah cukup membuatnya jadi bahan
gunjingan sekampus, kedua tangannya terkepal keras menahan emosi.
"Sekarang ya terserah Non aja, bapak ga mau maksa kok, kalo non ga
mau silakan pergi, kalau setuju silakan non duduk disini biar kita
bisa berunding lagi"kata Imron sambil mengambil kursi lipat yang
lapisan kulitnya telah sobek, dibentangkannya kursi itu di dekat
Ellen yang masih tertegun. Akhirnya dengan berat hati, Ellen pun
menghempaskan pantatnya ke kursi itu.
"Nah gitu dong baru anak manis, pokoknya asal Non nurut, saya jamin
rahasia ini aman"
Kemudian Imron membuka resulting celananya dan menyembullah penis
yang sudah mengeras itu di depan wajah Ellen. Matanya melotot
melihat penisnya yang hitam berurat dengan ujungnya disunat
menyerupai jamur serta jauh lebih besar daripada milik kekasihnya.
"Gede kan Non, pasti punya pacar Non ga segede gini kan !" katanya
dengan bangga memamerkan senjatanya itu. "Nah, ayo Non sekarang
servisnya mana !" Dengan tangan gemetar, dia mulai meraih penis itu
dan mengocoknya pelan.
"Servis mulutnya mana Non, masa cuma tangan doang sih !" suruhnya
tak sabar Pelan-pelan, Ellen memajukan wajahnya sambil memandangnya
jijik, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada
kepala penis itu dengan ragu-ragu, sehingga Imron jadi gusar.
"Heh, apa-apaan sih, disuruh pake mulut malah cuma pake lidah
disentil-sentil gitu !" bentaknya "gini nih yang namanya pake mulut
!" seraya menjambak kuncir rambut Ellen dan menjejalkan penisnya ke
dalam mulutnya.
"Mmmhhppphh…!!" hanya itu yang keluar dari mulut Ellen yang telah
dijejali penis, air mata menetes dari sudut matanya. Mulut Ellen
yang mungil itu membuatnya tidak bisa menampung seluruh batang itu,
ditambah lagi bau yang keluar dari benda itu menambah siksaannya.
"Ayo, yang bener nyepongnya, kemaren kan hebat ke pacarnya, kalau
gak muasin rahasianya ga Bapak jamin loh !" Imron mendesah merasakan
belaian lidah Ellen pada penisnya serta kehangatan yang diberikan
oleh ludah dan mulutnya. Pertama kalinya sejak dipenjara belasan
tahun yang lalu dia kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Ellen
sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai
terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.
"Uuhhh…gitu Non, enak…mmmm !" gumamnya sambil memegangi kepala
Ellen dan memaju-mundurkan pinggulnya. Ellen merasakan wajahnya
makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Imron yang berbulu
lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan
sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya
dia harus melakukan hal itu, sampai Imron menekan kepalanya sambil
melenguh panjang. "Ooohh…keluar nih Non, isep…awas kalo
dimuntahin, sekalian bersihin kontolnya !" perintahnya dengan nafas
memburu. Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya
dan mau tidak mau, Ellen harus menelannya, rasanya yang asin dan
kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat
kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Ellen langsung
terbatuk-batuk begitu Imron mencabut penis itu dari mulutnya.
Nafasnya terengah-engah mencari udara segar, air mata telah mengalir
membasahi wajah cantiknya.
"Sudah…cukup ya Pak, saya mohon lepaskan saya !" Ellen memohon.
"Cukup apanya Non, baru juga pemanasannya, pokoknya dijamin puas deh
Non !" ujar Imron sambil berjongkok di depannya, tangannya meraih
ujung baju Ellen hendak menyingkapnya.
"Jangan…jangan Pak, saya mohon !" ucapnya mengiba sambil menahan
tangan Imron yang akan menaikkan bajunya. Namun tenaganya tentu saja
kalah dari pria setengah baya itu yang menepis tangannya dan langung
menyingkap kaos sekaligus bra hitam di baliknya. Kini mulut Imron
dengan rakus menjilat dan menyedot puting Ellen yang merah dadu itu,
setelah beberapa saat tangannya yang menggerayangi payudara yang
lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulusnya lalu menyusup masuk
ke roknya. Di dalam rok, tangan kasar itu menjejahi kemulusan paha
dalam Ellen sebelum akhirnya menjamah selangkangannya yang masih
tertutup celana dalam.
Ellen hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu, dia mendesah dan
sesekali terisak saat tangan itu mulai meraba-raba kemaluannya dari
luar. Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga
tangan Imron terjepit diantara kemulusan kulitnya. Hal ini
membuatnya semakin bernafsu, dia mulai menyusupkan jari-jarinya
melalui pinggiran celana dalam itu dan menyentuh bibir vaginanya
yang telah becek. "Hehehe…nangis-nangis tapi ikut konak juga !"
ejeknya sambil nyengir lebar ketika merasakan daerah kewanitaan
Ellen yang basah itu. Kemudian dengan mengaitkan dua jari,
ditariknya lepas celana dalamnya yang juga warna hitam itu, lalu
diangkatnya juga roknya sehingga kini angin menerpa tubuh bagian
bawah yang telah terbuka itu.
"Buka kakinya Non !" perintahnya pada Ellen yang merapatkan pahanya
dengan rasa malu yang mendalam.
"Buka ga…atau fotonya saya sebarin !" katanya lagi dengan lebih
keras. Dengan amat terpaksa, Ellen mulai membuka pahanya
perlahan-lahan memperlihatkan kemaluannya yang berbulu cukup lebat
kepada Imron yang berjongkok di depannya. Dia menggigit bibir dan
memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melakukan hal ini
di depan lelaki seperti itu.
"Wah…udah lama sekali Bapak gak ngerasain yang satu ini !" katanya
sambil menatapi daerah pribadi itu dan mengelusnya. Tak lama
kemudian Imron pun melumat vaginanya dengan ganas, diserangnya
setiap sudut vagina itu mulai dari bibir hingga klitorisnya disertai
gigitan-gigitan kecil, tangan kanannya meraih payudaranya dan
meremasinya, sedangkan yang kiri menelusuri kemulusan pahanya.
"Uh…uhh…jangan…sudah, ahhh… !" desah Ellen dengan tubuh
menggeliat-geliat menahan rasa geli yang bercampur nikmat luar biasa
itu, suatu perasaan yang tidak bisa ditahannya lagi.
Tubuh Ellen telah basah oleh keringat, wajahnya memerah dan nafasnya
makin memburu. Mendadak dia merasakan bulu kuduknya merinding semua,
secara reflek dia merapatkan kedua pahanya mengapit kepala Imron
karena sebuah sensasi dahsyat, ternyata Imron membenamkan lidahnya
pada bagian yang lebih dalam dari vaginanya, dia merasakan dinding
vaginanya menjepit lidah Imron. Selain itu dia juga merasakan
putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet
oleh Imron. Puas bermain-main dengan vagina itu, Imron mengangkat
tubuh Ellen bangkit berdiri, kini posisi mereka berhadap-hadapan.
Tanpa perlawanan berarti Imron melucuti kaos dan bra-nya. Yang
tersisa di tubuhnya tinggal rok yang telah tersingkap ke atas dan
sepatu haknya, sementara Imron masih memakai kaos dan seragam
karyawannya yang kancingnya terbuka sebagian tetapi tanpa celana.
Diangkatnya wajah Ellen yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan
disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat
bibir mungil itu dengan ganas.
Mata gadis itu membelakak menerima serangan kilat itu, dia
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Imron, namun
sia-sia karena Imron memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya
memegangi kepalanya. Lidahnya mendorong-dorong dan menjilati
bibirnya, ditambah lagi tangannya merabai kulit punggung dan
pantatnya menyebabkan Ellen makin terangsang sehingga bibirnya mulai
membuka membiarkan lidah Imron masuk menyerbu rongga mulutnya.
Beberapa saat kemudian Imron merasakan badan Ellen sudah lebih
rileks dan tidak meronta lagi, maka diapun melepaskan pegangannya
pada kepala Ellen agar bisa menjamah daerah lainnya. Tanpa sadar.
Ellen pun merespon permainan lidah Imron walaupun awalnya bau mulut
Imron terasa tak nyaman baginya, sekalipun nuraninya mengatakan
tidak, dia tidak bisa menahan gelombang birahi yang menerpanya,
terlebih saat itu tangan Imron sedang menggerayangi segenap penjuru
tubuhnya.
Kedua telapak tangan kasar itu berhenti di pantatnya dan
masing-masing mencaplok satu sisi. Dirasakannya kedua bongkahan
daging itu, bentuknya padat berisi dan bulat indah karena memang
sebagai anak dari kalangan berada, Ellen merawat benar tubuhnya
dengan fitness dan diet. Ciuman Imron makin merambat turun ke leher
jenjangnya lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi
payudaranya. Ellen sudah tidak bisa menahan diri lagi, birahi telah
membuyarkan akal sehatnya. Lagipula yang pernah menikmati tubuhnya
bukan cuma bajingan tua ini dan Leo, kekasihnya, sebelumnya dirinya
pernah terlibat one night stand dengan beberapa pria dan juga mantan
pacarnya semasa SMA, yang membedakannya dengan pria-pria lain cuma
status sosial, ras, dan perbedaan usia yang mencolok. Jadi untuk apa
lagi menahan diri dan jaga image, toh sudah telanjur basah, jadi
sebaiknya tuntaskan saja agar masalah selesai, demikian yang
terlintas di benaknya.
Dari leher mulut Imron turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar
bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yang montok itu.
Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh
ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi
tersendiri bagi Ellen. Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya
dan memainkan jarinya disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.
"Pak…Pak…ga mau…ahh-ah !" desahnya antara menolak dan
menerima. Sambil terus memainkan jarinya Imron mendorong tubuh Ellen
hingga punggungnya bersandar di tembok. Sekali lagi dia menyergap
bibir Ellen, sambil berciuman tangannya menempelkan kepala penisnya
ke bibir vagina Ellen. Gesekan kepala penis dengan bibir vagina itu
membuat Ellen merasa geli sehingga tubuhnya menggelinjang. Lalu
pelan-pelan Imron menekan penisnya ke liang senggama Ellen.
"Sshhh…sakit, aawhhh…!!" rintih Ellen ketika penis Imron yang
besar itu menerobos vaginanya. Ellen meringis dan merintih menahan
rasa sakit pada vaginanya, meskipun sudah tidak perawan tapi
kemaluannya masih sempit, lagipula penis para pria yang pernah
kencan dengannya tidak ada yang sebesar ini. Sementara Imron terus
berusaha memasukkan senjatanya sambil melenguh-lenguh. Setelah
beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh penis
itu ke vaginanya, walaupun nafsu sudah di ubun-ubun, Imron masih
berhati-hati agar korbannya tidak menjerit dan suaranya terdengar
keluar, maka itu dia lebih memilih pelan-pelan daripada memakai
sodokan mautnya untuk melakukan penetrasi. Saat itu airmata Ellen
meleleh lagi merasakan sakit pada vaginanya. "Huhh…masuk juga
akhirnya, memeknya seret banget Non, Bapak suka yang kaya gini"
katanya dekat telinga Ellen.
Sesaat kemudian, Imron sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula
gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat.
Ellen benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali Imron
penis Imron menghujam sambil berharap tidak ada orang lewat yang
mendengar suara persenggamaan mereka. Saat itu adalah hari Sabtu,
jam-jam seperti ini memang kegiatan kuliah sedikit sehingga yang
parkir di basement itu pun tak banyak, tapi tidak menutup
kemungkinan kalau seseorang lewat situ dan mengetahui yang terjadi
di ruang ini. Gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat
kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh
Ellen sehingga matanya membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap
mengeluarkan rintihan. Imron lalu mengangkat paha kirinya sepinggang
agar bisa mengelusi paha dan pantat Ellen sambil terus menggenjot.
Menit demi menit berlalu, Imron masih bersemangat menggenjot Ellen.
Sementara Ellen sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia
kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa
lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah bajingan tua itu.
Kemudian tanpa melepas penisnya, dia mengangkat paha Ellen yang
satunya dan digendongnya menuju kursi dimana dia mendaratkan
pantatnya. Anehnya, tanpa disuruh, Ellen memacu dan menggoyangkan
pinggulnya pada pangkuan Imron karena kini bukan lagi pikiran dan
perasaannya yang bekerja melainkan naluri seksnya. Ketika memandang
ke depan, dilihatnya wajah tua gelap pria itu sedang menatapnya
dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum
kemenangan karena telah berhasil menaklukkan korbannya. Dengan
posisi demikian, Imron dapat mengenyot payudara Ellen sambil
menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang
gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya
secara bergantian.
Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Ellen
merintih kesakitan. Namun dia merasakan sesuatu yang lain dari
persenggamaan ini, lain dari yang dia dapat dengan pria lain yang
pernah bercinta dengannya yang umumnya bersikap gentle, gaya
bercinta Imron yang barbar justru menciptakan sensasi yang khas
baginya yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Di ambang
klimaks, tanpa sadar Ellen memeluki Imron dan dibalas dengan pagutan
di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Ellen mendesis panjang dengan
tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat-erat lengan kokoh Imron.
Sungguh dahsyat orgasme pertama yang didapatnya, namun ironisnya hal
itu bukan dia dapat dari kekasihnya melainkan dari seorang pria
mesum yang memanfaatkan situasi tidak menguntungkan ini. Setelah dua
menitan tubuhnya kembali melemas dan bersandar dalam pelukan Imron.
Penis Imron yang masih menancap di vaginanya belumlah terpuaskan,
maka setelah jeda beberapa menit dia bangkit sehingga penis itu
terlepas dari tempatnya menancap. Ellen yang belum pulih sepenuhnya
disuruhnya menungging dengan tangan bertumpu pada kepala kursi.
"Oohh…udah dong Pak, saya sudah gak kuat, tolong !" Ellen memelas
dengan lirih Mendengar itu, Imron cuma nyengir saja, dia
merenggangkan kedua paha Ellen dan menempelkan penisnya pada bibir
kemaluannya.
"Uugghh…oohh !" desah Ellen dengan mencengkram sandaran kursi
dengan kuat saat penis itu kembali melesak ke dalam vaginanya.
Tangannya memegang dan meremas pantatnya sambil menyodok-nyodokkan
penisnya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Ellen menimbulkan
bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Ellen
membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Ellen dan
meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.
Limabelas menit lamanya Imron menyetubuhinya dalam posisi demikian,
seluruh bagian tubuh Ellen tidak ada yang lepas dari jamahannya.
Sekalipun merasa pedih dan ngilu oleh cara Imron yang barbar, namun
Ellen tak bisa menyangkal dia juga merasakan nikmat yang sulit
dilukiskan yang tidak dia dapatkan dari pacarnya. Akhirnya, Imron
menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya, penisnya
dia tekan lebih dalam ke dalam vagina Ellen, serangannya juga makin
gencar sehingga Ellen dibuatnya berkelejotan dan merintih. Kemudian
dia melepaskan penisnya dan cret…cret…cret, spermanya muncrat
membasahi pantat Ellen. Belum cukup sampai situ, disuruhnya Ellen
menjilati penisnya hingga bersih, setelahnya barulah dia merasa puas
dan memakai kembali celananya. Ellen bersimpuh di lantai dengan
menyandarkan kepala dan lengannya pada kursi itu, wajahnya tampak
lesu berkeringat dan bekas air mata, dalam hatinya berkecamuk antara
kepuasan yang sensasional ini dan rasa benci pada pria yang baru
saja memperkosanya.
Imron mendekatinya dan berjongkok, lalu berkata "Nah sekarang
rahasia Non aman, tapi Non juga harus pastikan cuma kita berdua yang
tau yang terjadi barusan kalau tidak, foto-foto Non ini akan saya
kirim ke sembarang orang atau mungkin akan terpajang di papan
penguman, ngerti !" Setelah Ellen berpakaian kembali, dia
menyuruhnya pergi setelah memastikan keadaan sekitar situ aman.
Dalam perjalanan pulangnya, Ellen hampir saja menabrak mobil lain
karena melamun memikirkan kejadian barusan yang membuat dirinya
serasa hina, namun juga merasakan kepuasan yang lain dari biasanya.
Sementara itu Imron menanti kesempatan untuk memangsa korban
berikutnya. Ikuti terus petualangan Imron, the pervert janitor.
Bersambung...