Tuesday, May 1, 2007

ILALANG 2

Mata-mata jelalatan, mencari sasaran
Dengus napas menggesa, tak sabar meniti jeda
Jantung birahi berdegup, menuntut meminta
Rakus..., kuhirup darah perawan
Hooii...!!
Perawan-perawan jelita
Puaskan aku dengan darah kalian!!!
(Tuhan, kapan kau renggut darah perawanku?)
Malam semakin tua, tetapi gelak tawa di stasiun radio itu masih
sesekali menggema. Semuanya suara cowok. Rupanya meski siaran sudah
habis tengah malam itu, masih ada saja orang yang tinggal, kongkow
ngrumpi sana-sini, membicarakan apa lagi, kalau bukan soal cewek.
Maklum, satu-satunya obyek pembicaraan antara cowok, yang tak lekang
dimakan jaman, adalah soal cewek.
"Cerita dong Boy, gimana kamu memerawani Meity," pinta salah seorang
diantaranya.
Meity adalah pacar Boyke. Mereka dikenal sebagai pasangan 'panas'
yang tak segan berciuman dan menunjukkan keintiman mereka di depan
umum. Edan pokoknya. Mereka bahkan saling foreplay di depan
rekan-rekan mereka selagi kongkow begitu.
"Kapan ya? Waktunya sih aku sudah lupa. Tapi masih terpatri di
ingatanku peristiwa itu terjadi saat pesta perpisahan SMA kami. Di
bawah panggung pementasan tepatnya," jawab Boyke sambil nyengir.
"Wah, sebelum pementasan tutup tahun?" tukas Pri, yang merupakan
sobat Boyke sejak lama. Kini mereka berdua sama-sama siaran di radio
itu.
"Hahahaha," gelak yang ditanya, "Nggak! Nggak Pri. Kamu salah.
Justru tepat ketika anak A2 nge-band sehabis kita itu Pri."
"Hah?"
"Masih ingat nggak, kan band kita kan tampil pertama kali? Abis itu
si Meity, Andin, dan Tri nge-dance?" tanya Boy sambil menatap Pri
dan kemudian senyum-senyum ke dua pendengar lainnya. Pri mengangguk.
"Nah, saat itulah otakku bersiasat, mencari cara untuk mendapatkan
Meity. Habis, konak aku liat pusat perutnya yang diobral sewaktu
nari itu. Mulus bok!! Ketika tubuhnya meliuk-liuk di panggung,
mataku udah melotot saja. Jakunku sampai gelegak-gelegek nelen air
liur beberapa kali. Busyet deh," mata Boy menerawang.
"Trus, gimana kamu berhasil menyeretnya ke bawah panggung tanpa
orang lain tahu?" tanya si Agil. Agil adalah fans lawas. Ia bahkan
sesekali membantu ketika stasiun radio itu membuat acara offair.
Aktif pokoknya.
"Hehehe, pertanyaan cerdasss," seringai Boy sambil mengacungkan
jempolnya. "Waktu itu kalau nggak salah, panggung kesenian tutup
tahun itu terpaksa dibuat di lapangan basket. Aula besar baru
direnovasi deh. Trus, belakang panggung tuh didirikan backdrop
hitam, kanan kirinya ditambahi batas kain, hitam juga, jadi ada gang
di antara kain itu, untuk pengisi acara mondar-mandir dari panggung
ke kamar ganti tanpa ketahuan penonton. Asal tahu saja, ketika Meity
turun panggung, aku langsung menggeret tangannya. Aku tarik dia ke
belakang panggung yang hanya sanggup menyembunyikan tubuh
kerempengku ini."
"Ah ya, waktu itu kamu memang nolak aku ajak ke area penonton,
rupanya karena alasan itu," tukas Pri seolah baru ngeh kenapa
sahabatnya menolak ajakannya waktu itu.
"Betul Pri. Dan di balik backdrop itu deh aku garap Meity, yang
waktu itu belom menerima cintaku. Aku cium bibir dia. Meity semula
menolak, tapi akhirnya mandah saja, rupanya dia nggak tahan menerima
hujan ciuman yang aku berikan." Jelas Boy seraya ngakak.
"Dan akhirnya aku geret deh dia ke bawah panggung, dan jebol
keperawanannya di situ. Habis itu, jadilah Meity pacarku sampai
sekarang, ketagihan dia rupanya ama dedek aku. Hahaha...," Boy
ngakak semakin keras.
"Asyik juga kali kalau dapet perawan gitu ya?" gumam Agil kepingin.
"Lho, ya kamu tinggal cari dong," seru Boy.
"Cari gimana Boy? Masak kita harus ujicoba terus ampe nemu yang
perawan gitu? Kamu kan tahu sendiri sekarang ini jarang banget cewek
yang masih virgin gitu,"
"Yupp. Harus. Caranya ya emang trial terus deh. Soalnya kalau sampai
kita blon ngerasain darah keperawanan, hhmmm, bakal penasaran terus
deh," tutur Boy.
Belum lagi salah satu dari mereka bereaksi terhadap perkataan itu,
pintu di sebelah kanan mereka bergeser kasar, bahkan daun pintu itu
ditutup lagi dengan sebuah bantingan. "Brakkk..!!!" Sepertinya si
pembuka pintu kesal.
"Eh, Lang, buka pintunya perlahan saja dong," ujar Pri setelah tahu
siapa yang membanting pintu. Kaget juga dia, tidak biasanya Lang
muncul selarut ini.
"Ah, pasti elo lagi perang ya ama Denni?" tanya Boyke sambil
cengengesan, merasa lucu dengan guyonannya sendiri.
Fatal.
"Nggak usah ngurusi urusan orang! Sana cari terus darah perawanmu ke
ujung dunia..!!" teriak Lang dengan muka memerah menahan amarah.
Bibir gadis itu bahkan terlihat bergetar.
"Kalian benar-benar biadab. Kalian pikir aku nggak mendengar setiap
pembicaraan tentang keperawanan tadi? Jangan salah, cukup lama aku
berdiri di luar dan mendengar semuanya. KALIAN BIADAB..!! Kalian
tidak adil mempermainkan nasib kaum perempuan!!"
"Lho..!" Boyke, Pri dan Agil sempat terlonjak mendapatkan tanggapan
yang sangat tidak biasa ini. Biasanya Lang begitu sabar, tidak
gampang terprovokasi amarahnya. Dan sekarang terlihat banget kalau
gadis itu tersinggung berat dengan obyek pembicaraan mereka.
"Lang," tiba-tiba terdengar suara Abi dari ujung atas tangga ke
lantai dua. Suara yang begitu sabar. Yang membuat Lang tiba-tiba
teringat bukan pada tempatnya dia berteriak penuh amarah ke orang
yang tidak tahu masalahnya.
Muka Lang tertunduk. Ia menghela nafas panjang, mencoba meredam
gejolak hatinya. Ditatapnya tiga orang cowok di depannya.
"Hhh,.... sorry," ucapnya lirih. Kemudian cepat-cepat ia
meninggalkan mereka sebelum mereka sadar betapa matanya dipenuhi air
mata yang menjelang runtuh.
Lang setengah berlari menaiki tangga. Abi masih berdiri di ujungnya.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, ia kemudian menggenggam tangan
Lang, membimbingnya masuk ke ruang rekam 2. Dibiarkannya perempuan
itu meringkuk di pojok ruangan sambil menangis.
Abi bisa menduga kenapa Lang tadi begitu reaktif. Baru tiga hari
yang lalu ia tahu betapa perempuan yang ada didepannya ini didera
musibah. Suami Lang berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri.
Kenyataan mana yang bisa lebih pahit dari itu bagi seorang
perempuan?
Abi justru heran, beberapa hari ini Lang tetap masuk kerja. Padahal
sejak kejadian itu, ia mengira gadis itu pasti akan mangkir dari
tugasnya. Makanya ia sudah minta Pri untuk stand by menggantikannya.
Nyatanya tidak. Lang hanya mangkir terhadap janjinya rekaman malam
itu, tapi paginya, ia sudah datang bahkan dua jam sebelum jam
siarannya! Cuma, memang tak ada lagi warna ceria di wajahnya. Mata
Lang juga terkesan sendu, tidak 'hidup' seperti biasanya.
Abi masih diam. Ia bahkan tak berani mengajak Lang bicara. Tak tega
hatinya melihat perempuan yang diam-diam dicintainya itu menangis.
Ingin sekali dipeluknya gadis itu, membisikkan kekuatan bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tak berani. Tidak. Tidak
sekarang.
Akhirnya badai tangis Lang mereda. Gadis itu kini menatap Abi dengan
matanya yang sembab. Dhuh, rapuhnya dia, bisik Abi dalam hati.
"Sudah lega?" tanya Abi sambil mencoba mengajak tersenyum gadis itu.
Bibir Lang tersenyum getir. Ia mengangguk lemah.
Waktu seakan terhenti. Diam. Mata Lang menatap langit-langit,
sementara Abi menunduk menatap ujung sepatunya sendiri, membiarkan
Lang mengendapkan perasaannya.
"Bi" suara Lang memecah kebekuan itu.
"Hmm?" mata abi beranjak ke gadis itu.
"Seberapa besar sih arti keperawanan buat seorang cowok?"
Pertanyaan yang tidak terduga. Abi mengira gadis itu akan bertanya
soal perselingkuhan, ia adalah laki-laki yang sering berselingkuh,
tapi ternyata ia keliru. Otaknya bergerak cepat. Pasti soal ini
tetap ada hubungannya dengan kasus Denni dan Windy.
"Hm, tergantung Lang. Ada yang sama sekali nggak mempedulikan itu.
Tapi untuk sebagian lain kayaknya itu penting banget. Kenapa?"
Lang masih memandangi langit-langit ruangan itu. Dari ujung matanya
mengalir lagi buliran air. Tanpa isakan.
"Aku... aku sekarang tahu apa yang membuat perkawinanku tak beres
Bi. Selama ini rupanya Denni mengabaikanku karena menyimpan amarah.
Ia kecewa... aku aku tak mengeluarkan ..darah.. perawanku... ketika
berhubungan pertama dengannya," bibir gadis itu bergetar, suaranya
tercekat menahan isak tangis.
Abi terdiam. Bajingan, rupanya itu yang menjadi momok selama ini.
"Dan apa karena alasan itu pula dia menggauli adikmu?"
Dilihatnya Lang mengangguk. "Malam ini dia mengakui itu Bi. Aku
mendesaknya bicara setelah beberapa hari ini dia diam seribu bahasa.
Dia bilang kecewa pada diriku karena hal itu. Tapi, aku retas
protesnya. Aku bilang kepadanya betapa tidak adilnya dirinya. Kenapa
dia tidak menyampaikan protesnya sejak saat kami melewatkan malam
pertama kami, biar aku bisa langsung visum dokter."
"Eh, eh, dan kau yakin memang masih perawan saat itu?" tanya Abi
ragu-ragu, takut kalau pertanyaannya semakin membuat perempuan itu
gundah.
Lang terdiam. Tapi Abi menyeksamai betapa gadis itu terlarut dalam
lamunannya
******
Lang selalu malu-malu ketika mereka mulai saling menggerayang. Gadis
itu bahkan terlihat tersipu ketika tangan Krisna melepas pakaiannya.
Selalu begitu. Tapi Krisna tahu persis, Lang selalu menginginkannya.
Dan biasanya, ciuman-ciumannya di daerah sensitif si gadis akan
melumerkan kekakuannya.
Tubuh gadis itu kini tergolek di kasur yang terletak di pojokan
kamar. Krisna memandanginya sejenak. Kulit Lang tampak bersih,
matanya sayu mengundang. Payudaranya kencang berisi. Di bagian
bawah, rambut kemaluannya tak begitu lebat, menonjolkan bukit
kewanitaannya. Sangat menggairahkan.
Krisna kembali mendekat, menciumi leher gadis itu. Bau keringatnya
begitu khas, harum, bukan harum parfum karena Lang memang tak pernah
menggunakan pewangi, tapi aroma alami gadis ini sangat menggoda.
Dengan sigap Krisna menindih tubuh menggiurkan yang telanjang bulat
tanpa sehelai benang itu. Ditariknya kedua lengan Lang ke atas
kepalanya, diciuminya pangkal lengan si gadis yang nyaris tak
berbulu. Gadis itu menggelinjang. Tangan Krisna kemudian
menggerayang ke bawah pusat. Gadis itu menahan nafas dan menggigit
bibir saat jemari Krisna mempermainkan bibir kemaluannya yang basah
terangsang. Perlahan kedua paha Lang terkangkang semakin lebar.
Krisna memegangi kejantanannya, menyapukan ujung kepalanya yang
memerah ke bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin
memburu.
Lenguhan manja terdengar dari bibir Lang, semakin membuat tegangan
birahi Krisna naik ke ubun-ubun. Ia tak lagi bisa mengendalikan
diri. Ia tak lagi mengusapkan kepala kejantanannya, dan bersiap
menghujamkan senjatanya itu ke liang vagina si gadis. Perlahan,
kejantanannya hampir menerobos masuk ke dalam kehangatan tubuh
kekasih perawannya itu, ketika tiba-tiba tubuh Lang menyentak
bangun.
"Tidak. Kris, jangan!" Lang menarik tubuhnya yang telanjang itu
duduk merepet ke dinding
"Kenapa sih kau selalu menolak?! Kau tidak ingin memberikannya
kepadaku? Kau tidak mencintaiku?" tanya lelaki itu gusar.
"Kris, lihat mataku. Apakah kau meragukan perasaanku kepadamu?"
Krisna memandang wajah bulat telur yang ada di depannya. Dia tahu
Lang sangat mencintainya. Mereka memang saling mencintai. Lang
bahkan mau pacaran sembunyi-sembunyi dengan dia, mahasiswa seni
design, yang miskin dan belum jadi apa-apa. Padahal kalau gadis itu
mau, pasti ia bisa mendapatkan pacar yang lebih bonafid.
Sejak tiga bulan lalu, ketika orangtua Lang positif melarang mereka
pacaran, mereka tampaknya ingin anak gadisnya mencari pasangan yang
lebih baik masa depannya. Tapi nyatanya, gadis itu justru setiap
hari mampir ke kost-kost-an Krisna sepulang kuliah. Sejam-dua jam
mereka berbagi rindu, berbagi mimpi akan masa depan. Kuliah Krisna
di institut seni sudah di tingkat akhir. Dia sebentar lagi lulus dan
dia akan melamar pekerjaan secepatnya. Ingin dipinangnya gadis itu
meski orangtua Lang tak boleh. Dan seperti rencana mereka, bila
perlu, mereka akan kawin lari. Tapi itu nanti, ketika ia sudah
bekerja dan mampu bertanggungjawab.
"Kris," panggilan Lang menyadarkannya kembali, "bukannya aku tak
ingin memberikan keperawananku kepadamu. Bukankah sudah pernah kita
bahas, kita akan menjaga yang satu itu sampai nanti waktunya. Aku
ingin memberikan hal paling hakiki dari kewanitaanku itu pada
suamiku,"
"Dan apa aku bukan calon suamimu?" sela Krisna masih setengah gusar.
"Kris, pahamilah, aku sangat berharap kaulah yang akan menjadi
suamiku nantinya. Kau tahu, aku sangat mengharapkan itu, makanya aku
abaikan larangan orangtuaku untuk berhubungan denganmu. Kau pikir
itu mudah?" kata Lang merajuk merayu.
"Ambillah ini nanti pada saat yang tepat. Aku akan menjaganya
untukmu." Sambil berkata demikian gadis itu merangkulkan kembali
lengannya ke leher Krisna. Ditatapnya laki-laki itu penuh kasih, dan
kemudian Lang mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya, disusul
dengan ciuman-ciuman lain yang membangkitkan nafsu kelelakiannya.
Tubuh Krisna menegang, birahinya kembali bergolak. Gadis itu selalu
pandai meruntuhkan kemarahannya. Ia juga paling bisa membangkitkan
nafsunya. Sudah beberapa kali ini mereka melakukan persetubuhan,
meski tanpa memasukkan kelelakiannya ke liang vagina si gadis.
Kissing, petting, necking, sudah bukan hal asing bagi mereka berdua,
dan harus diakui, tanpa intercourse pun, ia sudah mendapatkan
ejakulasinya.
Tubuh mereka kembali bergelut, seperti lintah yang saling lekat,
menghisap satu sama lain. Erangan-erangan lirih dari mulut Lang
kembali terdengar ketika perlahan Krisna membaringkannya lagi di
atas kasur di pojok kamar itu, dan ia menghujani ciuman bertubi-tubi
ke payudara si gadis. Sesekali dijilatnya puting Lang yang sensitif,
digigitnya lembut puting berwarna cokelat itu. Dan biasanya pada
tahapan ini erangan Lang semakin keras.
Tangan gadis itu pun aktif menggerayang tubuh bugil Krisna.
Diremasnya bokong lelaki itu, dan perlahan tapi pasti gerayangannya
berpindah semakin ke depan. Ditemukannya kejantanan lelaki itu tegap
berdiri, siap untuk sebuah pendakian. Lang merespon ciuman laki-laki
itu dibibirnya penuh gairah, dan ia mengarahkan kejantanan Krisna ke
sela jepitan pahanya yang kenyal. Krisna paham kekasihnya
menginginkan kepuasan dan mulai menggenjot kejantanannya di antara
kedua labia mayora si gadis. Gesekan demi gesekan menyentuh kelentit
Lang, membuatnya memejamkan mata, merasai kenikmatan. Tubuhnya
menggeliat, rangsangan batang kejantanan Krisna di bagian itu selalu
membuatnya terbang. Ia selalu merindukan sentuhan nikmat ini. Dan
tanpa terasa jepitan pahanya semakin kuat, membuat Krisna
terombang-ambing dalam ayunan birahi.
"Lang, aku mencintaimu," Krisna membisikkan kata sihir yang semakin
memacu goyangan pinggul gadis itu.
Keduanya kini seolah bersicepat. Tubuh mereka semakin basah dalam
gerakan ritmis. Dan tak lama kemudian mereka bersama mengerang.
Tubuh gadis itu melenting, ditekannya bokong Krisna agar ia tak
kehilangan rasa nikmatnya. Sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa.
Dan muntahan 'lahar' panas dari ujung kepala kejantanan Krisna
mengguyur kemaluan luar Lang. Rasa hangat yang masih ditingkahi
dengan gesekan batang kemaluan Krisna itu telah membawa Lang ke
ujung orgasmenya.
******
"Tidak! Aku yakin, aku masih perawan ketika kawin dengan Denni. Aku
tak pernah membiarkan pacarku yang dulu memerawaniku," lemah Lang
berbisik seolah meyakinkan dirinya sendiri.
"Tapi, kemana darah perawanku?" kembali sebulir airmata membasahi
pipi gadis itu.
Abi tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia beranjak mendekati Lang.
Digenggamnya tangan gadis itu yang kini dingin dan gemetar.
"Sudahlah Lang, percuma kau menangisinya saat ini. Kau hanya harus
teguh pada keyakinanmu bahwa kau memang tidak pernah melepas
keperawananmu pada orang lain. Lagi pula, tidak semua keperawanan
pecah mengalirkan darah," Abi mencoba membesarkan hati Lang,
"Pulanglah! Hari semakin larut. Aku antar, yuk!"
Tapi gadis itu tak bereaksi terhadap ajakan Abi. Matanya justru
menatap Abi lekat-lekat.
"Tidak Bi, andaikata ada tempat lain untukku pulang, saat ini,"
keluh gadis itu, "dan, aku tadi sengaja datang ke sini untuk sesuatu
urusan, berkait dengan kamu."
"Dengan aku?"
Lang mengangguk. "Tadi ketika aku bantah tuduhannya atas
keperawananku, Denni tahu kalau dia tak punya pijakan kuat untuk
menjadikan keperawananku sebagai alasan perselingkuhannya dengan
Windy. Dandan dia menarikmu dalam badai ini."
"Apa maksudmu?" Abi masih belum tanggap dengan perkataan itu.
"Di tengah keputus-asaannya, Denni mencari seribu satu pembenaran
atas perselingkuhannya itu, dan IA MENUDUHKU BERSELINGKUH DENGAN
KAMU. Dan ia berkata perselingkuhannya hanyalah upaya dia membalas
hal itu."
"Tapi, Kau tahu itu tidak benar! Salah besar! Aku tak pernah
menyentuh seujung pun rambutmu. Hubungan kita selama ini sangat
profesional bukan, selalu urusan kerja," bantah Abi.
Ada rasa perih di hati Lang mendengar jawaban Abi. Hhh, jadi
laki-laki itu tidak mencintainya. Semua perhatiannya semata berkait
dengan kesenimanannya itu. Hampir ia menundukkan kepalanya ketika
Abi memegang kedua pipinya, memaksanya menatap laki-laki itu.
Abi melihat kilatan pedih itu di mata Lang. "Tidak Lang, jangan
salah paham! Maafkan aku. Selama ini aku berusaha tetap profesional,
karenakarena aku ingin menyembunyikan perasaanku."
Mulut Abi tiba-tiba berat sekali. Di hatinya berkecamuk keinginan,
antar ingin mengatakan perasaannya, tapi takut hal itu akan
menimbulkan komplikasi baru pada masalah ini. Tapi di sisi lain ia
juga khawatir, gadis itu semakin terpuruk dalam rasa tidak percaya
dirinya, padahal itu sangat dibutuhkannya. Dan ia, Abi Wicaksono
bisa memberikannya!
Akhirnya, Abi menyerah pada kata hatinya yang paling dalam. "Lang,
aku tak sanggup lagi menyimpan perasaan ini. Aku.aku mencintaimu."
Mendengar pengakuan itu, mata Lang membelalak lebar. Perasaannya
serasa diguyur air es, dingin, menyejukkan. Tak kuasa lagi ia
menahan diri. Ia menghambur ke pelukan Abi, dan menangis di dada
laki-laki itu, yang segera merengkuhnya erat. Sangat erat.
Memberikan seribu rasa yang dibutuhkan perempuan itu. Rasa aman,
rasa sayang, dan rasa betapa ia dibutuhkan.
Ingin sekali Lang menghentikan gerak waktu, hanya sampai di sini.
Dilupakannya masalahnya. Ditepisnya ingatan bahwa laki-laki itu
bukan lajang. Tak lagi dia ingat betapa ada Indi yang akan kesakitan
oleh pengakuan ini. Lang hanya tak ingin beranjak dari kebahagiaan
ini. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Abi, tersenyum di antara
tangisnya. Ia letakkan sejenak bebannya dalam pelukan itu. Lang
menemukan oase setelah pengembaraannya yang panjang.

Di sini aku temukan kau,
Di sini aku temukan daku,
Di sini aku temukan arti,
Serasa tiada..sendiri.
(Di ujung sana, sebuah jalanan terjal menanti Lang, terjalan baru
yang tidak diduganya sama sekali)
Bersambung...