Tuesday, May 1, 2007

ILALANG 1

Namaku Ilalang. Itu nama sejenis rerumputan. Aku sengaja menggunakan
nama ini, karena dalam pengamatanku tumbuhan ilalang gampang hidup
dimana-mana. Berserak di pepinggiran jalan. Ia menjadi saksi dari
setiap kejadian di sekelilingnya, tanpa harus menonjolkan diri. Tapi
terus terang, ada juga kegetiran di situ. Ilalang tak pernah
diperhatikan makhluk lain, tak sebagaimana tumbuhan mawar atau
melati. Ia terkucil sendiri. Dan kadang, sesekali dalam hidupku aku
juga merasakan itu. Jangan heran bila nanti di beberapa tulisanku,
nada getir ini bakal kental terasakan. Anggap saja itu perspektif
penulis yang tak perlu diindahkan.
DIARY (1): TERAMUK GELOMBANG
Pagi itu Lang mulai hari dengan hati gembira. Seperti biasa, Kamis
ini ia musti siaran radio jam 12 siang. Siaran untuk mengantar
pendengar menikmati istirahat makan siangnya. Lang paling suka
siaran jam-jam segini, hanya perlu sesedikit mungkin bicara, dan
lebih banyak memilih lagu dengan beat-beat rada tenang, sekedar
membangun suasana istirahat yang nyaman.
(sebuah opening tune terdengar)...Hallo kawan muda, jumpa lagi
dengan Deva di 108.5 FM. Udah siap maksi atau masih terbenam dalam
pekerjaan Anda? Terlalu banyak PR yang harus Anda kerjakan rupanya.
Tak perlu berkeluh kesah, Deva akan menemani Anda hari ini hingga
pukul 13 nanti dengan tembang-tembang manca negara... dan sebagai
pembuka terimalah Phil Collins dalam Both Side of the Story.
Jemari Lang menurunkan panel mike di mixer dan menaikkan volume CD
player 2, dan menurunkan volume CD player 1 di track mixer secara
bertahap, hingga fade in dan fade out antara opening tune dan intro
lagu itu terdengar mulus di telinga.
Deva adalah nickname siaran Lang. Tanpa terasa hampir dua tahun ini
suaranya mengudara menambah sibuk frekuensi di pelataran udara sana.
Ia menikmati kegiatannya itu di antara kesibukannya kuliah dan
mengasuh anak. Asal tahu saja, usia Lang baru 22 tahun, tapi gadis
ini sudah naik nikah dua tahun yang lalu. Meski sudah menikah ia
tetap melanjutkan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri di
kotanya itu.
Suaminya, Denni terpaut 15 tahun lebih tua dari Lang. Ia adalah
salah satu dari penyiar senior di radio yang sama. Selain siaran,
Denni juga menjadi AE di radio itu. Dari honor mereka inilah,
kebutuhan keluarga itu terpenuhi.
Dari perkawinannya itu mereka dikarunia seorang anak laki-laki,
Randu namanya, baru 1 tahun usianya. Bocah itu membetot simpati
siapapun yang melihatnya. Wajahnya bundar lucu. Matanya belok
seperti ibunya, menyiratkan kecerdasan. Lang sayang sekali
kepadanya. Sesekali diajaknya bocah itu ke tempat kerjanya ini, tapi
kebanyakan ia menitipkannya di rumah ibunya setiap ia berkegiatan.
Mulut Lang ikut bersenandung, ketika pintu boks siarannya terbuka.

"Lang, ntar malem elo jadi bisa rekaman gak," kepala Abi muncul dari
balik pintu itu. Abi adalah produser musik kontemporer di radio itu.

"Hmmkayaknya bisa deh. Mulai jam 9 malam aja yach?"
"Oke, no problem. Ruang rekaman 2 bebas kok kita gunakan sampai jam
berapapun," tutur laki-laki itu.
"Kita jadi mo garap Enigma?" tanya Lang sambil memasukkan kaset ke
CD satu, yang bakal jadi player lagu kedua.
"Yupp, itu aja. Ntar kita padukan dengan suara gambang. Aku pengen
kita bereksperimen dengan gamelan jawa. Gimana menurut elo?"
"Yeeee...kan elo yang punya konsep. Soal gamelan kan aku blank sama
sekali, jadi elo aja deh yang leading. Aku cukup bantuin elo
meng-colect source suara yang lain, kay? Rekaman detak jantung gue
jadi kepakai kan? Semalam aku juga sudah mampir kok ke Stasiun Tugu
untuk ambil suasana pemberangkatan kereta. Jadi kayaknya udah
lengkap deh kebutuhan kita," jawab Lang nyerocos aja.

Abi menahan senyum melihat kata-kata keluar dari bibir gadis itu bak
metraliur.
"Oh, okay," sahut Abi sambil beranjak akan keluar boks siaran. "Tapi
Lang..."
"Apa?"
"Elo serius nanti malam bisa kan?"
"Iya, serius dong, mosok main-main sih. Aku udah pamit kok ke Denni,
dan dia bilang terserah, jadi ya lebih baik jalan lah," jawab Lang.
"Kenapa sih Bi?"
"Eeh, nggak apa-apa ingin memastikan saja kau akan ada di sini malam
ini," kata Abi setengah terbata.
Lang sebenarnya agak heran melihat wajah Abi penuh keraguan. Tapi
diam-diam ia bisa menebak apa yang ada di dalam hati laki-laki itu.
Beberapa waktu ini dia mengamati perubahan sikap Abi kepadanya. Cara
laki-laki itu memandangnya, gerak tubuhnya, suaranya ketika
memanggil namanya, semua hanya mengacu ke satu arah, laki-laki itu
mencintainya. Memang selama ini Abi masih berlaku sopan, menjaga
jarak, tapi sebagai perempuan dewasa, ia tahu persis isi hati Abi.
Tiba-tiba ada rasa perih menyelinap...hhh...andaikata...andaikata
dia bisa membalas perasaan indah itu. Lang menjenguk isi dadanya
sendiri, tatapan Abi selalu menembus relung hatinya. Kadang ia
tergoda membiarkan dirinya terbuai dalam perasaan itu. Membiarkan
tatap kasih Abi membasuh rasa kering yang ia rasakan dari
perkawinannya sendiri. Tapi secepat niat itu terbersit di otaknya,
secepat itu pula rasionya menolaknya. Tidak! Ia tak boleh terlena
dengan tawaran madu yang sangat jadi bakal berbuah kepahitan itu.
Dia bertekad menjaga kehormatannya sebagai seorang istri.
Dada Lang tiba-tiba terasa sesak. Beban, yang selama ini
dirasakannya menyeruak. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres antara
dia dan Denni, tapi ia tak mampu mendeskripsikan apa masalahnya. Ia
hanya merasakan hubungan mereka dingin. Keintimannya dengan Denni
tak sehangat yang dia harapkan. Lang sangat suka dimanja, tapi
suaminya biasa aja. Lang sangat ingin tidur sambil dipeluk,
perlakuan yang menurutnya sangat biasa sebagai suami istri, tapi
jangankan dipeluk, ketika tangannya menyentuh tangan Denni secara
tidak sengaja dalam tidur seranjangan mereka, dengan cepat suaminya
bergerak, seolah tak terencana meniadakan sentuhan itu. Tapi, Lang
tahu persis, Denni menghindar!
Hhhh... apa yang salah dari dirinya? Ia memang tak begitu cantik,
tapi wajahnya manis. Tubuhnya sintal berisi, terkesan enak dilihat
malah. Tinggi berat 160/60 tak kentara di permukaan karena tubuhnya
proporsional dan olahraga telah menjadikan badannya kencang. Moleg.
Otaknya pun cerdas. Tingkat kemampuan adaptasinya superhebat dan
toleransinya sangat luas - hal yang sangat membantunya bertahan
survive selama ini. Bahkan, ia menerima ketika ia harus bekerja
karena gaji Denni tak cukup memenuhi kebutuhan mereka. Dan itu
berarti dia harus membagi waktu antara bekerja, kuliah, dan
mengurusi rumah!
Masih banyak sebenarnya kelebihan yang bisa dilukiskannya, tapi apa
manfaatnya? Tidak ada! Suaminya tetap saja menganggapnya sebagai
perabot rumah lainnya; meja, kursi, ranjang tidur, atau bak cuci
yang bisa digunakannya, atau dibiarkannya penuh debu dan berlumut
kerak.
Sementara, saat ini, kehadiran Abi begitu menggoda. Laki-laki itu
begitu memahami dirinya. Ia tahu bagaimana membesarkan hati Lang,
membuatnya tertawa dengan leluconnya yang kadang konyol itu. Abi
kadang bahkan bisa menebak apa yang dipikirkannya tanpa ia
menjelaskan panjang lebar.
Tapi...tapi...Abi bukan laki-laki bebas, ia suami Indi.
Abi dan Indi. Dua makhluk ini di mata Lang nyaris menakjubkan.
Laki-laki itu kadang bercerita tentang kehidupannya dengan Indi yang
penuh suka duka. Betapa Abi sangat mencintai istrinya itu, dengan
caranya yang khas. Konsep cinta bagi Abi bukanlah sesuatu yang
mengikat. Ia tak ingin mengikat Indi, sebagaimana ia haus akan
kebebasannya sendiri. Abi mengaku kadang jatuh cinta kepada orang
lain di luar istrinya, tapi ia menegaskan perasaannya kepada Indi
tak berkurang sedikitpun. Ia mengaku jengkel ketika sesekali Indi
tak dapat memahaminya dengan utuh.
Di sisi lain, Indi pun sering curhat kepada Lang! Ia mengeluhkan
perilaku Abi yang sangat seniman dan impulsif, kadang bahkan
kelewatan. Indi jengkel sekali ketika Abi beberapa kali mengaku
cinta kepada perempuan lain, tanpa tedeng aling-aling! Ia mengakui
perlakuan suaminya tak berkurang sedikitpun, tapi pengakuan semacam
itu selalu membuat hatinya panas.
"Aku ini cuma perempuan Lang. Rasanya ingin aku mengakhirinya sampai
di sini," kata Indi suatu saat. Tapi, Lang tahu persis, Indi tak
bisa dipisahkan dari Abi.
Hanya ketika Abi ada di depannya, Lang mencoba mendeskripsikan
perasaan perempuan yang paling enggan dibandingkan, apalagi dimadu.
Sedangkan sewaktu Indi yang curhat kepadanya, maka Lang menyarankan
agar dia kuat, memahami bahwa suaminya tak pernah berniat buruk
kepadanya. Toh selama ini Abi hanya menjadikan perempuan-perempuan
lain itu sebagai pacarnya. Sekedar inspirasi buatnya menciptakan
nada-nada, berkarya sebagai pemusik. Tidak kurang, tidak lebih.
Tiba-tiba terbersit perasaat perih... jangan-jangan, perhatian Abi
kepadanya selama ini juga hanya bagian dari spirit itu? Sekali lagi
Lang melihat ke dalam dirinya: Lang sang Deva, memang inspiratif.
Dan ia juga bukan orang bebas. Itu pasti...hhhh
"Lang..Lang..hoii, ngelamunin apa sih?" panggilan Abi membuat ia
tersadar. Apalagi ketika laki-laki itu memberi tanda kalau lagu yang
diputarnya hampir habis. Sambil tersenyum kecut Lang sigap memutar
lagu di CD satu, setelah memberi pengantar kata secukupnya. Dan
ketika dilihatnya Abi masih berdiri di dekatnya, menunggu
jawabannya, Lang hanya bisa mengangguk, mengisyaratkan
kesanggupannya hadir nanti malam.
"Sehabis aku menidurkan Randu, kay"
Baru saja Abi meninggalkan ruangan itu, ketika tiba-tiba Emma
memberi isyarat pada Lang, mengatakan ada telepon untuknya di line
3. Lang menjawab dengan isyarat nggak mau diganggu siarannya, tapi
gerakan bibir Emma mengatakan telepon itu penting sekali.
"Hhhh... siapa lagi sih yang gak tahu aturan. Udah tahu aku baru
siaran gini kok malah ngeganggu," rutuknya, tapi diangkatnya juga
gagang pesawat telepon yang terletak di samping kirinya itu.
"Hallo," ucap Lang.
"Apakah aku bicara dengan Lang?" suara laki-laki terdengar di
seberang sana. Suaranya agak tidak jelas, seolah si penelpon sengaja
menyamarkan suaranya. Nadanya juga bukan bersahabat, menggoreskan
perasaan tak enak di hati Lang.
"Betul, siapa ini?"
"Tidak penting siapa aku. Kau lebih baik segera meluncur ke hotel
Andika, kamar 120." Suara laki-laki itu terdengar tegas tak
terbantahkan.
"Sekarang? Tidak bisa, aku siaran. Lagian untuk apa sih?" tanya Lang
penasaran. Enak saja orang menyuruh-nyuruh dia. Emangnya mo
dikemanakan jam siarannya.
"Terserah!!!! Tapi kau akan menyesal setengah mati kalau tidak ke
sana sekarang juga. Ini berkait dengan masa depan rumah tanggamu!"
suara itu semakin tandas, dan "klik.. tuuutt.. tuuutt.. " telepon
itu putus. Tampaknya laki-laki itu meletakkan teleponnya.
Lang tak habis pikir, untuk apa ia ke hotel itu? Apa sih yang bakal
dilihatnya di sana? Apa yang dimaksud laki-laki tadi? Berkait dengan
kehidupan rumah tangganya, kehidupan yang mana? Kehidupan 'tanpa
rasa' yang ia pertahankan? Tapi suara laki-laki misterius di balik
telepon tadi menyiratkan ancaman, ada nada yang membuat hatinya
mencelos tak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Randu? Tapi
tidak, ini pasti bukan karena anak semata wayangnya itu. Lantas?
Segera Lang memencet nomor telepon rumahnya, mencari Denni, tapi tak
ada seorangpun yang mengangkat telepon itu. Rumah kosong. Kemana
Denni? Bukankah tadi ini pamit nggak ngantor karena kepalanya
pusing?
Sambil mengganti lagu demi lagu, tanpa lagi menggubris kata
pengantar, Lang meneruskan pencariannya ke rumah orangtuanya. Ketika
ibunya mengangkat telepon di seberang sana, Lang sedikit lega karena
ternyata Randu di titipkan di sana.
"Setengah jam yang lalu Denni ke sini menitipkan Randu, trus mau ke
dokter katanya," Ibu Lang menjawab. Ke dokter? Tidak biasanya Denni
ke dokter hanya untuk sekedar sakit kepalanya yang biasa itu.

"Lang..." Ibunya memanggil di balik telepon.
"Ya?"
"Eh..eh..kalian baik-baik saja kan? Tidak ada sesuatu antara kau dan
Denni kan?" suara ibunya terdengar berhati-hati sekali.
"Tentu saja tak ada apa-apa di antara kami. Memang kenapa sih?"
tegas Lang.
"Hhhh, tidak. Tidak apa-apa," jawab ibunya.
Tapi jawaban ibunya itu bukannya menenangkan hatinya, justru semakin
membuatnya terkesiap. Ia merasa ibunya menyembunyikan sesuatu. Pasti
ada apa-apa. Pasti.
*****
wahai setan iblis penghuni neraka, bagi aku hangat nikmat dunia,
mabokkan kesadaran dalam iming-iming, jebloskan nurani dalam kemaruk
nafsu birahi
Dua tubuh itu bergumul sedemikian liar. Mereka saling berciuman, si
laki-laki tampak gemas. Terlihat sesekali ia menggigiti bibir bawah
si perempuan, sampai Windy, gadis itu berteriak manja. Dan ia
membalas perlakuan itu dengan sama panasnya.
Windy sejak lama memang menginginkan laki-laki yang saat ini
mencumbuinya itu. Paras laki-laki itu begitu tampan menarik.
Kulitnya yang kuning langsat dan tubuhnya yang kekar itu membuatnya
mimpi setiap malam. Dulu ia hanya bisa memandanginya saja.
Situasinya jelas tidak memungkinkan dia mendapatkan perhatian dari
lelaki itu. Tapi Seiring berjalannya waktu, Windy tahu harapannya
tak bertepuk sebelah tangan. Setiap laki-laki itu datang ke rumah
menitipkan ananknya, sinyal-sinyal saling terpancarkan dari kerling
mata mereka. Mereka akhirnya berpacaran diam-diam. Dan ia tak
keberatan ketika si lelaki mengajaknya bersebadan. Nafsunya sendiri
selalu berkobar setiap dia berdekatan dengannya.
Lidah laki-laki itu kini berpindah menjilati payudara Windy,
membuatnya menggelinjang penuh kenikmatan. Putingnya mengeras,
nafasnya pendek-pendek, sudah tak beraturan, tanda nafsunya sudah di
puncak. Laki-laki itu kemudian menyambar pinggang si perempuan agar
lebih ke atas, tangannya menyambar sebuah bantal yang terletak tak
berjauhan, mendorongnya ke bawah pantat si gadis. Tubuh telanjang
gadis itu agak melengkung terganjal bantal, dan tanpa basa-basi
laki-laki itu memegang kejantanannya, mengarahkan ke vagina si
gadis. Kembali ia menindih tubuh langsing itu, menancapkan
kejantanannya ke kemaluan yang masih sempit.
Laki-laki itu masih ingat betul. Ini kali ketiga ia menyetubuhi
gadis ini. Dan tercetak dibenaknya betapa persetubuhan pertama telah
memuaskan hatinya. Gadis itu masih perawan, dan dia, dia lah yang
memerawaninya. Betapa beruntungnya dia. Dan kini, ia kembali
bersetubuh dengan Windy. Gadis yang begitu muda, paling baru 17
tahun usianya.
Dengan posisi pantat terganjal, klitoris Windy yang peka menjadi
sedikit mendongak. Sehingga ketika si lelaki kembali melanjutkan
hujaman kelelakiannya, ia menggelinjang dan memekik merasakan
sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan. Apalagi si
laki-laki terus merangsang putingnya. Sesekali menggigitnya.
Windy menceracau di tengah kenikmatannya. Ditingkahi lenguhan si
lelaki yang menggenjot pinggulnya lebih cepat. Dan tubuh-tubuh itu
kembali bergerak ritmis, saling bergumul satu sama lain.
Persenggamaan itu hampir selesai, ketika sebuah ketukan terdengar di
pintu kamar. Tak ada respon. Mereka tetap melecut nafsu demi nafsu
untuk ke puncak. Ketukan itu kembali menggema. Masih didiamkan.
Mereka ingin menyelesaikan senggamanya dulu. Sebodo dengan siapapun
yang mengetuk kamar itu.
Ketukan itu berulang lagi, lebih keras. Gangguan berikutnya.
"Siapa?" teriak Denni gusar. Gelegak birahinya terhenti.
"Room service," terdengar lamat-lamat suara seorang wanita dari
luar.
Flash. Suara itu seperti pernah di dengarnya. Seperti suara..., ah,
pasti bukan dia, nggak mungkin dia tahu aku ke sini. Selak kata
hatinya sendiri menghibur. Toh ia tadi sudah memastikan situasinya
aman untuk pergi ke tempat ini. Tangan si lelaki kini meraih selimut
untuk menutupi tubuhnya. Ia memberi tanda kepada kekasihnya yang
masih tergolek setengah tidur agar bergegas masuk, bersembunyi di
kamar kecil yang menyatu dengan kamar hotel itu. Windy pun beranjak
menurut.
Dengan enggan laki-laki itu bersijingkat mendekat ke lubang fisheye
di pintu yang memungkinkannya meneropong situasi luar.
Kekasihnya yang kini berdiri di pintu kamar mandi, yang berdekatan
dengan pintu kamar itu menatapnya dengan pandangan bertanya,
"Siapa?" gerak bibir Windy berbisik
"Nggak ada siapa-siapa kok," bisik si lelaki menyeringai dan segera
ditariknya tubuh bugil si wanita ke dalam pelukannya. Mereka kembali
berciuman penuh nafsu, berusaha meluncaskan kembali birahi yang
tertunda. Tapi, sebuah ketukan,...bukan ketukan...tapi gedoran
kembali mendarat di pintu kamar itu. Gedoran itu bertalu-talu,
menuntut agar pintu dibuka.
Si lelaki gusar kegiatan erotisnya terganggu, ia lepaskan pelukannya
pada dari tubuh kekasihnya dan tangannya membuka pintu, siap
menyemprot siapapun yang ada di luar. Tapi, ketika pintu itu telah
setengah membuka, si lelaki spontan pucat. Jantungnya seolah copot
melihat Lang, istrinya telah berdiri di luar dengan wajah kaku.
Lang mendorong pintu kamar hotel itu agar terbuka lebih lebar. "Aku
menjemput Windy, dia ada di dalam bukan?" tanyanya dengan suara
bergetar. Kentara sekali ia menahan tangis. Mukanya dingin, tak
menunjukkan ekspresi apapun. Ketika dilihatnya Windy adik kandungnya
berdiri terpaku tanpa busana di depannya ia cuma berbisik lemah.

"Pulang.." Tak terbantahkan.
Lang tak lagi dapat menahan airmatanya mengalir di pipi. Ia membalik
tubuhnya dan berjalan terhuyung menjauh dari kamar itu. Tubuhnya
gemetar menahan tangis yang menyesakkan dadanya. Perasaannya beku.
Kenyataan pahit yang baru saja dihadapinya telah membuat otaknya
berkabut tak mampu diajak berpikir apa-apa. Kenapa mesti Windy?
Kenapa harus adik kandungnya?
Di tengah isaknya, perlahan gontai Lang meninggalkan hotel itu.
Berjalan kaki.... berjalan, dan berjalan. Arah bukan lagi penting.
Ia bahkan tak peduli hendak kemana kakinya membawa. Orang-orang
memandangnya heran, perempuan dengan derai airmata tanpa suara. Ia
tak lagi peduli. Mereka hanya sosok tanpa makna.
Lang kebingungan merasakan rasa sakitnya. Tak pernah ia siap dengan
perasaan seperti ini.
"Aku harus mengalahkan tikaman rasa perih ini! Lang, kau tidak boleh
patah hanya karena kejadian ini. Kuat Lang, kuat," bibirnya berkemik
lirih, berulang-ulang ia berkata pada dirinya sendiri. Tangisnya
tanpa terasa berhenti.
Lang mencoba mengebaskan perasaannya. Dibiarkannya ingatannya
semakin membeku. Tanpa sadar ia memblokir memorinya, mengubur
dalam-dalam fakta yang tidak ingin dihadapinya. Bahkan di kemudian
hari, ia tak ingat bagaimana ia sampai di hotel itu, dan menggunakan
kendaraan apa.
Lang hanya ingat ketika Abi mengguncangkan tubuhnya yang terpaku
diam. Merebut gagang telepon yang masih dipegangnya kuat. Menariknya
keluar dari boks siaran, dan meminta penyiar lain menggantikan
siarannya yg terhenti 2-3 menit tanpa suara.
Terngiang jawaban ibunya, yang akhirnya menjawab desakannya....
"Lang, tadi tidak lama setelah Denni pergi,...eh, eh...Windy juga
tiba-tiba pamitan mau pergi ke tempat temannya,"
Lang diam menunggu.
"Dan perasaanku tidak enak melihat kepergian adikmu itu,"
Dada Lang menyesak mendengar itu. Denny & Windy sama sekali tak
terpikir di benaknya. Mrngkinkah terjadi sesuatu di antara mereka?
Inikah yang dimaksud si misterius tadi?
"Aku harus tahu," bisik Lang pada dirinya sendiri. Dan tak
dipedulikannya lagi kelebatan orang yang melarangnya pergi.
Ternyata kekhawatirannya terjawab. Sangat menyakitkan.
Dan Lang sang Deva hanya bisa menangis. Hanya menangis. Tangis tanpa
suara, tanpa airmata. Tangis yang bahkan semakin tidak menemukan
katupnya. Apalagi ketika ia tahu nanti, bahwa darah perawanannya lah
yang jadi momoknya selama ini.
(Tuhan, kapan kau renggut darah perawanku?)
Bersambung...