Tuesday, May 1, 2007

ILALANG 3

Hujan deras baru saja reda, menyisakan gerimis dan rasa tintrim di
hati mereka yang belum bisa tidur. Pintu-pintu rumah di kampung itu
telah rapat tertutup sejak sore. Lampu-lampu kamar banyak yang telah
redup. Hanya lampu teras dan neon jalanan saja yang tetap menyala
terang. Padahal, jam belum lagi menunjukkan pukul 10 malam. Rupanya
orang enggan keluyuran di tengah guyuran hujan, memilih meringkuk
dalam hangat selimut dan merajut mimpi-mimpi.
Suasana sepi itu terkoyak oleh pekik tangis bocah dari rumah bercat
putih di samping masjid. Tangis kanak-kanak yang terbangun dari
tidurnya yang lelap. Tapi tangis itu segera terhenti. Terdengar
gumaman tak jelas, disusul dendangan lagu ‘nina-bobok’.
Tidurlah insan, tidurlah kekasih hati Hari sudah larut, pejamkanlah
mata..
Di sebuah kamar, di rumah itu, Lang sedang berbaring miring sambil
menyusui Randu. Bibirnya masih berdendang lirih. Tangan
menepuk-nepuk bokong si kecil. Dipandanginya wajah bening yang kini
tampak lega, sibuk menghisap putingnya, rakus menghisap air susu.
Kehidupannya.
“Randu, jadilah anak yang baik. Berkacalah pada cermin hidup ini,
Sayang. Tidak semuanya sebening kristal, tapi yakinlah tak semua
juga segelap kelam malam,” lirih Lang berucap. Punggung jemarinya
mengusap pipi bocah itu, mengusapkan sejuta kasih yang tak akan
terwakili oleh kata-kata.
Dilihatnya nafas Randu semakin teratur, lelap telah membius anak itu
ke dalam mimpi antar berantah. Lang beranjak perlahan, turun dari
ranjangnya. Ia beringsut ke meja rias dekat jendela. Dipandanginya
gerimis yang membasah di kaca. Dingin udara semakin menambah gamang
hatinya. Saat ini, detik ini, Lang tak tahu harus berbuat apa.
Ia menoleh ke bayangan di depan cermin. Dilihatnya seorang perempuan
menatap dengan bola mata hitam kecokelatan bersalut sendu. Rambutnya
yang ikal panjang sepinggang membuatnya terlihat lebih dewasa dari
usianya. Ia baru 22 tahun, tapi pasti tak ada yang akan menduganya
seperti apa adanya. Tempaan hidupnya sejak kanak-kanak telah
menjadikannya perempuan yang dewasa sebelum waktunya. Ia praktis
menjadi anak tertua. Satu-satunya saudara tua adalah kakak
laki-lakinya, yang seperti umumnya, kedewasaannya segera terserobot
oleh Lang. Perempuan biasanya jauh lebih cepat dewasa. Itu yang
terjadi padanya.
Tidak mengherankan jika ia kemudian menjadi tumpuan ibunya untuk
ikut membesarkan adik-adiknya. Tekanan sosial ekonomi membuatnya
terbiasa berbagi dengan enam saudaranya, ia tak pernah beroleh
sesuatu untuknya sendiri, dan ia tak pernah mengeluh. Bahkan saat
ini ketika miliknya, suaminya, juga ‘diminta’ Windy, adik
kandungnya, ia seolah tak punya kekuatan untuk mengatakan tidak. Ia
bahkan rela jika suami dan adiknya kawin. Biarlah ia tidak menjadi
apa-apa, meski itu sangat menyakitkan.
Tapi tapi kenapa Denni tak menerima tawarannya waktu itu?
“Kawinlah dengan Windy, jika itu bisa membuat kalian bahagia. Tapi
ceraikan aku dulu karena agama kita tak mengijinkan dua saudara
kandung diperistri oleh orang yang sama,”
Suaminya hanya diam, seperti biasa. Apakah tawarannya kurang
menarik?
“Kau mau aku melamarkan Windy untukmu?”
Tetap diam. Ada nuansa gelisah di mata Denni yang beberapa hari ini
cuma terduduk di ranjang. Ia tak berani menatap Lang.
Itu kejadian dua bulan yang lalu. Denni sama sekali tak menanggapi
tawarannya. Bahkan seminggu kemudian ia pamit akan ke Jakarta, butuh
waktu berpikir katanya.
Berpikir.
Apalagi yang hendak dipikirkannya? Apakah ia akan memilih Windy atau
dirinya? Apakah perkawinannya akan berjalan terus? Akan kemana nasib
membawanya? Seribu tanya berkecamuk dalam benak Lang.
Diraihnya sisir di meja rias, ia mulai menyikat rambutnya. Masih
dipandanginya bayangan di cermin.
Wahai Cermin,
Cermin di dinding,
Katakan padaku,
Siapakah aku?
Lang seolah berdiri di padang pasir gersang, sendiri. Ia kehilangan
arah. Kasus Denni dan Windy telah memporakporandakan keyakinannya
atas kesetiaan dan kesakralan sebuah perkawinan. Perkawinan ternyata
cuma seikat komitmen yang boleh dilanggar kapan saja. Menorehkan
rasa pedih yang tak juga hilang. Sampai hari ini. Sore tadi.
Masih segar dalam ingatannya ketika abi mengajaknya mewawancarai
Romo Adinegoro, empu gamelan dari ndalem keraton yang memang piawai
membuat alat musik tradisional itu. Mereka diterima pukul empat
sore. Wawancara itu tak berlangsung begitu lama, hanya setengah jam
saja. Sehabis itu rencananya mereka akan mengolah feature “Gamelan
dalam Perspektif Musik Modern”. Tapi dalam perjalanan pulang,
tiba-tiba Lang merasakan perasaannya begitu kelabu. Manik depresif.
Di tengah keceriaan, hatinya bisa meluncur terkubur dalam gelap
kesedihan. Ia menangis tersedu-sedu. Tak dipedulikannya Abi yang
memandangnya dengan tatapan prihatin.
Laki-laki itu memperlambat laju mobilnya. Ia mengubah arah.
Dipilihnya jalan yang lebih sepi, mengarah ke selatan. Abi tahu
persis, lebih baik membiarkan Lang menghabiskan tangisnya. Dan
semakin sedikit orang melihat Lang menangis, semakin baik.
Jalanan menuju Wonosari begitu indah di sore hari. Lereng pegunungan
seribu mengkilap keemasan tersapu cahaya mentari senja. Pepohonan
meranggas di sana-sini, menonjolkan hijau daun yang tersisa.
Sesekali tampak burung-burung melesat pulang ke sarangnya. Angin
sore berhembus menyegarkan, memberikan kekuatan pada Lang yang kini
mengalihkan pandangannya ke pemandangan di sekelilingnya. Tangisnya
telah berhenti beberapa saat lalu. Diliriknya Abi yang menyetir
dengan tenang. Mobil yang mereka kendarai masih menuju ke selatan.
Lang berterimakasih dalam hati, laki-laki itu tak bertanya apa-apa.
Ia tahu akan kesulitan menjelaskan isi hatinya yang masih gampang
terluka, bahkan oleh kenangan yang tak seberapa.
Ah, tiba-tiba ia ingat. Ini adalah jalan menuju Hutan Wanagama.
Kalau mau, ia bisa mampir ke pinggiran jurang di pinggiran hutan
itu. Dulu sekali ketika SMA, ia sering beramai-ramai naik motor
dengan gank-nya ke situ.
“Bi, bawa aku ke pinggir jurang Wanagama, gih!”
“Eh, kamu mau aku mengantarmu bunuh diri?”
Lang tersenyum, tahu bahwa Abi menggodanya,”Nggak lah. Aku sudah
tenang kok. Aku hanya ingin menikmati pemandangannya. Kau tahu jalan
menuju ke sana?”
Abi mengangguk, seulas senyum terbersit di pinggiran bibirnya. Tak
lama kemudian ia membelokkan mobilnya ke kiri. Dilewatinya jalanan
yang mulai tak beraspal. Pepohonan di sekeliling mereka semakin
rapat. Sekitar sepuluh menit kemudian di pinggirkannya mobilnya.
Terdengar mesin mobil itu menderu sebentar dan kemudian mati.
Lang masih duduk diam. Diedarkannya pandangan ke sekililingnya yang
hijau, menyuntikkan perasaan damai yang dibutuhkannya.
“Ehem., kau akan turun dari mobil dan mendaki naik, atau aku perlu
menyihir sayap di mobil ini agar membawa kita terbang ke pinggiran
jurang di atas sana,” Abi berkata sambil menatapnya, menggoda.
Lang tersenyum, tersipu. Ia kemudian membuka pintu di samping
kirinya. Turun. Dilangkahkan kakinya menaiki bukit. Ditinggalkannya
Abi yang mengunci pintu mobil.
Jurang itu tak begitu terjal. Di lembah sana tegalan sawah tadah
hujan menghijau oleh pucuk-pucuk tanaman jagung. Lang melihat
beberapa orang memanggul cangkulnya, waktu pulang ke rumah mereka.
Sendau gurau mereka di bawah sayup-sayup terdengar. Dunia tanpa
masalah. Dipejamkannya matanya. Dihirupnya udara yang terasa begitu
segar. Ia mereguk suasana tenang di sekelilingnya. Nuansa ini yang
dirindukannya saat ini.
Abi tadi sengaja berlambat-lambat, membiarkan Lang jalan duluan,
karena ia tahu perempuan itu perlu waktu sebentar untuk dirinya
sendiri. Dan lima menit kemudian ia menyusul perlahan menaiki bukit.
Ditemukannya pemandangan luarbiasa di depan sana. Matahari senja
menerpa pinggiran jurang yang memanjang dari timur ke barat itu,
menciptakan garis bayang tubuh Lang yang berdiri di tubir jurang.
Menakjubkan. Rok panjang yang dikenakan perempuan itu berkibar
tertiup angin. Bola matahari yang kini terlihat bulat tak
menyilaukan memberi bingkai keemasan di belakang sana. Silhouette
tubuh Lang tercetak dalam balutan pakaian yang menempel karena
tekanan udara bergerak itu. Rambutnya tergerai panjang, sebagian
menutup pipinya yang terlihat segar. Mata gadis itu berbinar-binar.
Tak terlihat sama sekali betapa ia tadi menangis. Yang tampil
sekarang adalah sebuah kematangan sekaligus keceriaan hidup. Abi
sejenak berhenti, meresapi lukisan indah yang ada di depannya.
Abi harus mengakui pesona Lang begitu luarbiasa baginya. Sejak
mengenal Lang hampir dua tahun lalu, ia seolah tersihir. Otak
kreatifnya tiba-tiba bangkit membara. Ia merasakan gelombang yang
jarang dirasakannya. Komposisi demi komposisi mengalir dari
tangannya. Karya musiknya menjadi tidak biasa. Ada greget, ada jiwa
yang hidup dalam setiap dentingan nada yang disodorkannya untuk
telinga. Koleganya mengakui hal itu. Mereka iri. Mereka bertanya
darimana dia mendapatkan ruh sedahsyat itu. Dan kini, dihadapannya,
ruh itu menjelma.
Tak sadar Abi mendekat. Disentuhnya bahu Lang. Gadis itu menengok
lembut. Semua seolah melambat. Mata mereka bersitatap. Tak ada lagi
kekuatan di bumi ini yang sanggup menghentikan mereka. Dan
wajah-wajah itu saling mendekat, berujung pada kecupan yang begitu
lembut. Penuh perasaan. Kecupan yang perlahan menghebat ditingkahi
energi birahi yang membara, yang selama ini tertahan oleh kekangan
moral yang tidak perlu.
Hanya desiran angin menyaksikan penyatuan sukma di bibir jurang itu.
*****
Wahai Cermin,
Cermin di dinding,
Katakan padaku,
Siapakah diriku?
Apakah aku peri
Ataukah serupa iblis
Bertopeng peri-peri?
Lang masih terpaku menatap bayangannya di cermin.
Kejadian sore itu telah melahirkan perspektif baru di dirinya: Aku
bukan lagi istri yang suci. Tubuhku telah terjamah tangan lain yang
tidak berhak. Ia tak lebih adalah Windy lain yang menggerogoti
perkawinan seseorang. Tak kurang dari para penganggu rumah tangga
orang lain.
Ia merasakan perih menyelinap, tapi segera rasa itu menguap berganti
dengan kenyataan baru yang mengherankannya. Hatinya yang remuk
akibat penghianatan Denny dan adik kandungnya sedikit lilih.
Setidaknya ia tak merasa lagi terlalu ditikam.
Kesetimbangan telah mencapai titik nadirnya
“Hhhh, aku harus bicara kepada Indi. Aku harus minta maaf
kepadanya,” bisik Lang lirih kepada dirinya sendiri. Harus.
******
Pagi sekali Lang bangun. Ia bersiap untuk sebuah ‘pengadilan’.
Lebih cepat ia mengakui kesalahannya di depan Indi, akan semakin
meringankan beban di dadanya. Setelah menitipkan Randu pada ibunya
di kampung sebelah, ia segera menawar becak. Tujuannya jelas, rumah
Abi.
Jalanan kampung itu agak ramai. Anak-anak berseragam berseliweran
menuju sekolahnya masing-masing. Hmm, semoga anak Abi dan Indi juga
telah berangkat. Semoga rumah itu sepi dan hanya ada mereka berdua,
harap Lang pada dirinya sendiri.
Akhirnya sampai juga becak yang ditumpanginya di depan rumah
berpagar bambu. Ia biasa berkunjung ke sini, tapi kali ini rasanya
rumah itu menjadi berbeda. Tampak asing. Ia tahu persis tak ada yang
berubah pada rumah itu. Dirinyalah yang telah beralih rupa, dari si
suci ke si tak tahu diri. Dulu dia adalah istri yang menjaga
martabat dirinya, kini dia hanya perempuan pengusik rumah tangga
orang. Apa bedanya dia dengan Windy?
Setelah membayar ongkos becak, Lang segera menggeser engsel pintu di
sebelah bawah. Di dorongnya pintu besi itu agar dia bisa menyelinap
masuk, dan ditutupnya lagi pagar dengan rapat. Dilangkahkan kakinya
menuju ke sisi samping rumah. Ia tahu, jam-jam seperti ini Abi dan
Indi pasti sedang sarapan di sana.
Dari jauh, ia bisa melihat mereka berdua berbincang. Apakah mereka
sedang membicarakan aku? Sebersit pertanyaan yang tak terjawab.
Ekspresi Indi begitu biasa, juga Abi. Seolah tak ada apa-apa. Apa
mungkin Abi belum mengatakannya pada Indi? Tidak mungkin. Kemarin
petang setelah kejadian di bibir jurang itu, Abi mengaku harus
mengatakan hal itu kepada istrinya. Dan itu akan dilakukannya
secepatnya, malam itu juga. Jadi?
“Hai, Lang, ngapin berdiri di luar seperti itu, masuklah?” sapa
Indi ramah, seperti biasa. Tapi, tidak, itu bukan suaranya yang
biasa.
Lang tersenyum kecut dan melanjutkan langkahnya masuk. Dia beranjak
duduk di salah satu kursi di meja makan itu. Sekilas ia mencuri
pandang ke Abi, tapi laki-laki itu hanya membalasnya dengan senyuman
tipis.
“Aku yakin kamu belum sempat sarapan, aku ambilkan piring ya?”
lagi-lagi Indi memecah hening diantara mereka.
“Nggak usah In, tapi, kalau kau punya teh panas, mungkin akan
sedikit menolong.”
“Ada dong. Sebentar ya aku ambilkan, pakai gula kan?” kata Indi
sambil beranjak meninggalkan mereka berdua, setelah Lang mengiyakan
pertanyaannya.
Ini saat yang ditunggu-tunggu. Mulut Lang berkemik. Rasa ingin
tahunya tak bisa lagi dibendung. “Kau sudah memberitahu Indi soal
kita berdua?”
Laki-laki itu menatapnya dan menganggukkan kepala.
“Dia.. tak bereaksi apa-apa?”
Kali ini jawaban Abi hanya mengangkat bahu, tanda tak pasti. Indi
masuk kembali ke ruangan itu membawa secangkir teh yang masih
mengebul panas. Lang menerima cangkir yang disodorkan Indi, dan
dihirupnya teh itu perlahan. Panas. Memberikan kehangatan di
tubuhnya yang tiba-tiba terasa demam.
Ditatapnya wajah suami istri yang ada di depannya. Ia telah lama
mengenal mereka. Masing-masing sering curhat kepadanya, dan selama
ini ia mampu meng-handlenya dengan baik. Tapi kini, ia seolah
berdiri di hadapan mereka bak pencuri, pagar makan tanaman, atau
apapun namanya.
Mereka terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hanya
lirikan mata yang kikuk, yang membuktikan bahwa perasaan mereka
teraduk-aduk di dalam sana. Hening, sampai suatu saat...
“Lang, kau mau bicara dengan aku?” tanya Indi sambil menatap
tajam gadis yang ada di depannya.
Lang tak tahu harus menjawab bagaimana. Dialihkannya pandangan dari
Indi ke Abi. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Tatapannya
beralih lagi ke Indi, dan ia menganggukkan kepala.
“Ke kamar yuk?”
Kedua perempuan itu beranjak. Indi melangkah menuju kamar tidurnya,
Lang mengikutinya dengan patuh. Abi yang ditinggal sendirian di meja
makan hanya bisa diam. Dibiarkannya dua orang perempuan yang sama
dicintainya itu menyelesaikan masalah di antara mereka. Ia akan
sampai pada gilirannya nanti. Abi percaya, Indi mampu mengatasi
Lang.
“Bicaralah,” suara Indi menggema di ruangan 4x5 meter itu.
Tak ada kursi ataupun sofa di kamar itu, hanya sebuah ranjang,
karpet berwarna cokelat muda membentang, almari pakaian, dan rak-rak
buku, tumpukan kaset-kaset dan CD. Dari sampulnya Lang tahu
kebanyakan adalah hasil karya Abi dan koleksinya. Sejumlah kliping
tentang artikel yang mengulas kegiatan laki-laki itu tersebar
berserak di pojok ruangan.
Mereka kini duduk di karpet yang terletak di pinggiran ranjang
tidur. Semula Indi mempersilakan dia duduk di sisi ranjang, tapi
Lang menolaknya. Ia merasa tak berhak berada di ranjang pasangan
suami istri itu. Dan kini ketika ia duduk berhadapan dengan Indi, ia
benar-benar kehilangan keberanian yang sedari semalam
dikumpulkannya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
“Aku... aku...,”
“Lang, Abi sudah mengatakannya semua kepadaku.”
Suara Indi lirih saja, akan tetapi efeknya begitu besar bagi Lang.
Tangisnya tak dapat dibendung lagi. Ditariknya tangan Indi,
digenggamnya telapak tangan perempuan yang selama ini bersahabat
dengannya itu.
“Maafkan aku In, maafkan aku.” Suaranya terdengar serak di
antara isak tangisnya. Indi membiarkannya menangis beberapa saat,
dan kemudian “Hhh, boleh aku bertanya Lang?”
Lang berusaha mengendalikan dirinya. Ia mengangguk. Ia siap
diinterogasi oleh perempuan yang usianya terpaut 10 tahun darinya
itu. Ia tahu dirinya salah, dan tak ingin menyembunyikan apapun dari
perempuan itu. Dan ia siap diadili. “Kau menikmatinya?” Lang
terkesiap. “Apa maksudmu In?”
“Kau menikmati sentuhan Abi?” tangan Indi memberi isyarat agar
Lang tak salah paham, ketika dilihatnya gadis itu merasa tak enak
mendengar pertanyaannya.
“Jangan salah paham Lang, aku ingin tahu. Jawablah sejujurnya,
apakah kau kemarin menerima perlakuan Abi dengan ikhlas atau
terpaksa?”
Lang menatap mata Indi. Akhirnya ia mengangguk.
“Aku, aku. mencintainya,” Lang menjawab sambil menundukkan
kepalanya. Ia tak lagi berani menatap Indi.
Hening. Sampai tiba-tiba Lang sadar bahwa Indi sedang menangis dalam
diam. Wajahnya menunduk tertutup helai-helai rambutnya yang lurus.
Bahunya berguncang menahan isakan. Lang mengangkat lengannya,
disentuhnya bahu Indi. Dua orang perempuan, dengan mata basah oleh
airmata saling menatap, saling menjenguk perasaan satu sama lain.
Mereka melihat sebuah ketulusan. Akhirnya, mereka saling merangkul,
dan menangis bersisian.
Perempuan. Makhluk paling sukar dimengerti.
Abi yang kini berdiri di pintu kamar melihat keduanya masih saling
berpelukan. Dari suara tangis mereka, ia tahu keduanya saling
memahami. Keduanya saling bisa menerima keberadaan satu sama lain.
Dan hatinya terasa hangat oleh kehadiran perempuan-perempuan yang
kini ada di depannya.
Didekatinya keduanya. Dipeluknya mereka dalam rengkuhan. Dikecupnya
ubun-ubun mereka bergantian. Dialirkannya perasaan cinta yang
bersemayam di dadanya. Ia yakin keduanya bisa merasakan kasih
sayangnya sama besar untuk mereka. Tak perlu saling berebut.
Ruangan itu begitu hening, hanya isak tangis Lang dan Indi yang
sesekali masih terdengar. Isakan yang semakin lama semakin lirih
tergantikan oleh lenguhan demi lenguhan. Rintihan demi rintihan. Tak
satupun dari ketiganya sadar mereka telah saling melucuti pakaian.
Tubuh mereka saling bergelut. Kedalaman perasaan mereka mengalir
dalam setiap sentuhan.
Abi membagi perhatiannya sama besar kepada keduanya. Menciumi mereka
bergantian, meraba keduanya dalam sentuhan memabokkan. Ia sesekali
membiarkan perempuan-perempuan itu saling mengerubutinya, menciumi
setiap bagian tubuhnya, mengusap bagian-bagian intimnya. Ia
menikmatinya. Perempuan-perempuan yang dicintainya.
Perempuan-perempuan yang mencintainya. Dan ia menemukan hidupnya
lengkap. Sempurna.
Indi menemukan suaminya begitu bahagia. Baru sekali itu dalam
hidupnya ia melihat ekspresi suaminya membuncah tak terbendung.
Sisi-sisi kehidupan laki-laki itu ia ketahui luar dalam, dan dalam
pergulatan birahi itu ia menyadari, ini sisi lain yang dibutuhkannya
juga. Ia mencintai suaminya, lebih dari apapun di dunia ini. Dan
ketika ia harus menyodorkan sebuah persembahan yang tidak biasa,
sebagaimana yang saat ini mereka lakukan, ia sama sekali tidak
keberatan. Ia memutuskan berbagi dengan Lang. Perempuan itu layak
menerima cinta Abi, juga kasih sayangnya. Dan yang membahagiakannya,
ia bisa merasakan ketulusan Lang pada dirinya. Gadis itu tak akan
merebut Abi dari sisinya, ia bisa merasakan itu. Tidak seperti yang
lainnya. Dipagutnya bibir suaminya dalam sentuhan lembut. Dan ia
kemudian juga mencium bibir Lang penuh kasih sayang.
Lang...
Lang...
Lang...
Lang. Kehidupan maha ganjil yang mengasyikkan. Tak terbayang
sedikitpun arus hidup akan membawanya sampai titik ini. Titik yang
tak pernah terbersit sama sekali dalam otaknya. Irrasional. Ia yang
semula gadis puritan, penuh dengan norma-norma, kini lepas dari
kekangan. Dinikmatinya pusaran perasaan yang melingkupinya saat itu.
Dinikmatinya sentuhan tangan Abi dan Indi yang sekarang
mengerubutinya. Bibir mereka menjelajah setiap inchi tubuhnya. Tak
pernah ia merasa begitu diinginkan seperti saat itu. Dan ia melihat
keduanya, begitu yakin dengan perasaan dan perlakuan mereka.
Lang tahu persis, Abi mencintainya.. Tapi detik itu ia juga tahu,
cintanya tak akan lekang dari Indi. Bukan masalah. Ia siap berbagi
dengan perempuan itu. Ia tak ingin merenggut Abi dari Indi. Ia cukup
puas dengan kasih sayang yang diterimanya. Ia tak peduli lagi dengan
rasa ganjil yang semula melekat di hatinya.
Inilah Lang yang baru. Sebuah metamorfosa dijalaninya perlahan.
Telur itu telah menetas jadi ulat, yang meretas daun-daun,
menggerogotinya sepuas mungkin, dan perjalanan masih panjang baginya
untuk menjadi kupu-kupu. Suatu saat nanti, ia akan sampai ke sana.
Ia akan sampai ke sana. Entah kapan.
Aku adalah peri
Peri cinta yang baru lahir
Sayapku tumbuh berkelepak
Siap membawaku mengembara
(Hati-hati Lang, sejuta topan badai masih menunggumu di depan sana)
Bersambung...