Tuesday, May 1, 2007

GUIDE SEX

Sepuluh milyar, pikirku. Butuh waktu lima tahun, lima
tahun tambah dua orang partner dan banyak tipu daya,
tapi paling tidak itu berhasil, dan sekarang sudah
waktunya kita kabur dari sini. Aku sudah memikirkan ini
sejak pertama kali. Kita bertiga bakal ketemu di kantor
waktu liburan, jadi tidak ada karyawan lain yang bakalan
melihat kita di sini. Dan dari kantor kita ke bandara,
dan bertiga langsung terbang ke pulau tempat
wanita-wanita cantik kumpul di sana dan dimana pejabat
pemerintah lebih bisa di beli dari pada di sini, dan
tidak ada perjanjian ekstradisi. Aku melihat jam
tanganku, sudah jam 6 sore, masih ada waktu lima jam
lagi sebelum kita berangkat ke bandara. Aku tersenyum
waktu aku melihat papan nama di mejaku yang besar: Roy
Pangestu, Wakil Presiden Direktur.

Sebuah ketukan di pintu kantorku membuat diriku tersadar
dari lamunanku. Aku kaget sekali. Seharusnya tidak ada
seorangpun di kantor ini, Johan dan Toni mustinya masih
ada di bagian akunting membersihkan bukti-bukti supaya
pelarian kita ini tidak cepat ketahuan. Aku berdiri dan
mendekati pintu.
"Silakan masuk."

Pintu terbuka, dan seorang gadis muda seperti yang
sering ada di cover majalah-majalah masuk ke kantorku,
ragu-ragu. Dia benar-benar menakjubkan, berdiri tinggi
langsing di atas sepatunya yang tinggi. Sepatunya hitam
berkilat dengan hak yang tinggi, menutupi telapak
kakinya yang pastinya halus dan indah kalau melihat
tungkainya yang terlihat sempurna ditutupi stocking
hitam, dan sebuah rok ketat menutupi sebagian pahanya
yang tampak mulus. Sebuah blus putih dan rompi hitam
tidak bisa menutupi perutnya yang rata, pinggangnya yang
ramping dan buah dadanya yang bulat mengacung dari balik
blusnya. Leher gadis itu putih bersih, menunjang sebuah
wajah yang benar-benar ayu dengan bibir yang sensual.
Rambut gadis itu ikal hingga ke punggung, jatuh lembut
di sisi kepalanya, mempercantik mata gadis itu yang
bulat dan tampak makin bercahaya di bawah sinar lampu
kantorku.

"Selamat sore Pak, maaf", katanya ragu-ragu",Tapi saya
mencari pak Santoso. Saya sedang kerja praktek di sini
dan saya mengira beliau masuk hari ini."
Aku tampilkan senyumku yang paling oke sambil membalas
tatapan matanya.
"Tadi pak Santoso memang masuk kantor. Tapi beliau sudah
pulang lebih awal tadi siang. Silakan duduk dulu."
Aku menunjuk ke sofa kulit coklat dan mempersilakan dia
duduk.
"Mungkin saya bisa bantu Nona?".

Gadis itu bergerak mendekati sofa itu dan aku mendekati
pintu lalu menutupnya, sambil terus tersenyum, pikiranku
sudah penuh dengan nafsu. Aku sudah siap lari dari
negeri ini, pikiranku sebelumnya cuma dipenuhi bagaimana
nanti setelah enam jam, Aku akan bebas dengan duit
sebanyak sepuluh milyar, tiba-tiba gadis ini masuk ke
kantorku, gadis yang benar-benar hot.

Gadis itu lalu duduk di sofa, menutup kedua kakinya
sambil menarik roknya yang terangkat sedikit membuatku
bisa melihat pahanya. Dia lalu mengeluarkan sebuah notes
dan bolpen dari kantong dalam jaketnya dan memperhatikan
padaku yang duduk di sudut meja kecil yang ada di
seberangnya.
"Maaf, Bapak..." matanya bertanya-tanya.
"Pangestu, nama saya Roy Pangestu." Jawabku sambil
tersenyum lagi, pikiranku sudah tidak bisa kemana-mana
lagi selain melihat ke bibirnya yang sensual, lidahnya
yang merah muda yang terlihat menjilat bibirnya setiap
kali ia akan bicara. Aku bisa merasakan dadaku berdetak
keras sekali ketika aku memperhatikan dia, berdetak
makin keras, sementara pikiranku makin gelap, dan aku
tahu apa yang akan terjadi, Aku juga sadar aku sudah
bisa menguasai nafsuku lagi, lagipula aku tidak
bermaksud menahan nafsuku ini.

"Begini pak Roy, saya bekerja praktek dengan pak Santoso
sebagai income audit di perusahaan ini. Saya bekerja
sebagai tugas akhir di akademi saya."
"Nona dari akademi mana?" kataku, lalu menggelengkan
kepalanya",Maaf, tapi saya belum tahu nama Nona."
"Nama saya Lola. Lola Amelia." Katanya sedikit
ragu-ragu. Tidak percaya diri.
"Begitu, lalu umur kamu berapa Lola?".
"Eehh, 21 tahun pak. Dan saya dari Akademi di sebelah
perusahaan ini Pak."

Aku tersenyum padanya. Dia benar-benar sempurna,
sempurna sekali. Telapak tanganku mulai berkeringat.
"Lalu apa yang bisa saya bantu buat Lola?" Aku
benar-benar suka mendengar namanya di mulutku.
"Selama saya kerja praktek di sini, saya sedikit banyak
sudah mengetahui cara kerja perusahaan ini." Jari-jari
Lola menyibakan rambut yang menutupi wajahnya, tingkah
lakunya agak berubah, tidak lagi gugup, lebih percaya
diri ketika ia berbicara.
"Yang ingin saya ketahui adalah bagaimana rencana
perusahaan ini sehubungan dengan peraturan pemerintah
yang baru saja dikeluarkan."

Kepalaku mulai berdenyut-denyut, tapi aku yakin di mata
Lola aku tetap seorang laki-laki yang tenang dan rileks,
tersenyum sedikit sambil memperhatikannya. Ini selalu
terjadi setiap kali aku terangsang, seluruh tubuhku akan
berdenyut-denyut, sementara pikiranku akan fokus pada
satu hal, sementara hal yang lain akan ditutup sebuah
kabut, tubuhku tegang siap untuk meledak. Tapi
sebaliknya penampilanku akan tetap tampak tenang,
rileks, tersenyum menutupi gejolak yang ada di bawahnya.

Aku sesekali menjawab pertanyaannya, tanpa terlalu
memperhatian apa yang kukatakan, melihat dia menundukkan
kepalanya untuk menulis kata-kataku, lalu kembali
menatapku, dengan wajahnya, dengan bibirnya dan kakinya
juga blusnya, blus sialan yang menutupi buah dada dan
puting susu, serta perut dan pahanya yang hot! Aku
sedikit gemetar ketika aku berusaha menahan diriku
beberapa menit lagi.
"Nah kira-kira begitu rencana perusahaan ini", Aku
menyelesaikan penjelasanku.
Lola menganggukan kepala.
"Begitu. Pak Pangestu, bapak bilang ka..".
"Maaf saya menyela sebentar", kataku. "Tapi saya ingin
menanyakan sesuatu hal. Pak Santoso itu, bagaimana
ya...". Aku menerawang sejenak, "beliau punya sedikit
reputasi yang tidak begitu baik di sini". Lola
mengangkat wajahnya dan bertanya-tanya. Aku langsung
menatap tepat di matanya yang bulat, wajahku menampakkan
raut yang serius setengah mati, "beliau tidak pernah
mengganggu kamu kan?"

Lola telihat terkejut sekali, dan aku sama sekali tidak
terkejut. Si Santoso itu umurnya hampir 60 tahun, dan
kalau dia bukan gay pasti di sudah di kebiri, soalnya
dia sama sekali tidak tertarik sama cewek-cewek macam
Lola ini. Dan semua sekretaris benar-benar suka sama dia
soalnya dia benar-benar baik sama mereka.
"Tidak." Lola menggelengkan kepalanya. "Beliau tidak
pernah mengganggu saya." Lola kembali gugup seperti
sedang mempertahankan diri. Aku benar-benar suka
melihatnya.
"Siswi praktek yang terakhir tahun kemarin pergi dari
sini karena Pak Santoso mengucapkan sesuatu padanya",
lanjutku, "Dan penampilan siswi itu tidak ada
setengahnya dari kamu."
Aku melihat bibir Lola kembali keluar membasahi bibirnya
yang kering, melihat betapa tangannya bergerak gugup di
pangkuannya. Aku membungkuk mendekati dia, aku
benar-benar hampir lepas kontrol waktu dia beringsut
menjauh dariku.
"Beliau sering menyombongkan diri pada saya, kamu tahu,
betapa senangnya dia tidur dengan mahasiswi atau anak
SMA di sebuah hotel."

Lalu kantorku kembali sunyi ketika Lola menatapku dengan
matanya yang indah, seluruh tubuhnya yang seksi itu
sedikit gemetar ketika ia berusaha memilih tindakan
selanjutnya. Ia menunduk dan langsung berdiri, memasukan
notes dan bolpen ke dalam rompinya.
"Maaf pak", katanya sambil terus menunduk, "Pak Santoso
tidak pernah sekalipun mengatakan sesuatu atau melakukan
sesuatu yang mengganggu saya. Terima kasih atas waktu
yang sudah bapak berikan."

Aku ikutin dia berdiri, tubuhku kelihatan lebih rileks
lagi, sementara pikiranku berpacu dan mataku menangkap
setiap gerakan Lola yang bergerak menuju pintu denganku
di sebelahnya, mulutku mengucapka maaf beribu maaf, Aku
bilang bahwa aku menyesal karena sudah membuatnya kaget
tapi itu kenyataannya.
"Sekarang!" pikiranku berkata memerintah seluruh badanku
ketika aku merasakan pegangan pintu telah kupegang, mata
Lola masih tetap menatap ke depan acuh padaku ketika ia
berhenti sejenak menungguku membukakan pintu buatnya.

Lola melihat apa yang akan menimpanya, tapi ia tidak
bisa menghindar, dia tidak punya waktu buat menghindar.
Telapak tanganku sudah melayang menghajar muka Lola di
sebelah kiri. Lola tersentak, ia menjerit, ia
sempoyongan, lebih banyak karena terkejut daripada
karena tamparanku. Aku bergerak mendekatinya bagaikan
binatang yang menyergap mangsanya. Lola sempoyongan ke
kanan dan sepatunya tertekuk ke dalam membuatnya jatuh
di atas lutut kanannya, tangan kanan Lola langsung
menumpu tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur. Sambil
menggeram aku mengayunkan kaki. Aku menendang tepat di
perutnya, membuat tubuh Lola mengejang, suara erangan
yang menyakitkan terdengar dari mulut Lola ketika ia
kembali jatuh di kedua lututnya, sementara kedua tangan
Lola memegangi perutnya, kepala Lola menunduk ketika dia
berusaha keras menghirup udara, rambutnya yang ikal
menutupi wajahnya sementara air liur yang keluar dari
mulutnya membasahi bibirnya yang seksi.

Kujambak rambutnya, tanganku langsung menggenggam erat,
ketika kutarik rambut Lola ke belakang mendekati
tubuhku, sementara tanganku yang lain menarik bagian
atas blusnya.
"Lo mungkin udah selesai sama aku, tapi aku belon
selesai sama lo", kataku keras. Lola yang semakin hot di
penglihatanku masih berusaha megap-megap menghirup udara
ketika aku menarik blusnya robek, kancing blus itu
terlempar ke lantai, membuat bagian yang sejak ditutupi
blus itu sekarang terbuka. Dada yang halus, mulus dan
putih bersih, buah dada Lola ternyata lebih padat dan
besar dari yang sudah aku bayangkan sebelumnya,
dilindungi oleh sebuah BH.

Tangan Lola terangkat ke atas mendorong tanganku menjauh
ketika aku sedang meremas salah satu gunungan daging di
dada Lola, langsung saja kutarik lagi rambutnya. Lola
mengerang kesakitan, tatapan panik dan ketakutan tampak
di matanya ketika ia menatap mataku.
"Jangan, jangan."

Aku tampar dia sekali lagi, lebih keras dari yang tadi,
suara jeritannya terdengar merdu sekali di telingaku
ketika kepalanya terlempar ke samping, sementara
tanganku masih menjambak rambutnya yang ikal dan halus.
"Jangan brisik!" Aku tampar dia lagi, jerit kesakitan
dan ketakutan Lola bagaikan musik di telingaku, "Tutup
mulut lo!"

Terdengar suara di belakangku, dan ketika aku berbalik
aku melihat pintu kantorku perlahan terbuka dan masuklah
Johan dan Toni ke kantorku. Lola meronta di sampingku,
tangannya mencakari lenganku ketika ia berusaha untuk
berdiri.
"Tolong saya! Tolong!" Lola menjerit pada Johan dan
Toni, harapan mereka akan menolongnya membuatnya lebih
tegar. Lola berhasil setengah berdiri ketika aku
berbalik menghadapi dia lagi, tinjuku mengepal dan
menghantam dadanya, membuat mata Lola membelalak
kesakitan dan kembali jatuh berlutut, kemudian
tersungkur di atas kedua tangannya, sehingga sekarang ia
seperti merangkak di tanah, seorang gadis yang seksi
tersungkur di atas tangan dan kakinya, sementara Toni,
Johan dan aku berpandangan satu sama lain.

Toni lebih pendek dariku, keras, tampan dan tidak
bermoral sama sekali, itulah kenapa kupilih dia sebagai
partnerku. Ia kelihatan seperti seorang akuntan yang
baru lulus, tapi itu tidak berbeda jauh dengan
profesinya yang memang seorang akuntan. Dia sudah kawin,
dua anak cewek, tapi dia sama sekali tidak keberatan
kalau harus meninggalkan mereka, walaupun dia pernah
cerita kalau dia sering menidurin kedua anaknya itu,
agak bejat juga tapi itu kan bukan anakku jadi aku tidak
peduli. Johan berbeda sama sekali. Ia seperti mandor
bangunan yang pake jas. Dia mungkin berotot, tapi dia
juga yang paling pinter diantara kita bertiga, dan
seorang akuntan yang jago pula, terutama kalau dia harus
menghilangkan sejumlah uang dari perusahaan.

Kalau saja orang lain yang masuk ke kantorku pasti sudah
kubereskan. Tapi sekarang aku masih menunggu, Lola
tersungkur, tangan dan lututnya berusaha menghirup
udara, sambil memperhatikan dua rekanku yang baru saja
masuk. Johan mendekati pintu dan aku perhatikan dia. Aku
tersenyum lebar ketika aku melihat dia menutup pintu dan
menguncinya tanpa berkata apapun. Toni memandang Lola
lalu memandangku.
"Ada apaan nih?"
"Hadiah", kataku, "Hadiah buat perpisahan kita dengan
kantor ini."

Aku melihat mata mereka kembali menatap Lola, yang mulai
menguasai dirinya lagi. Aku tahu apa yang mereka lihat,
seorang gadis berlutut di lantai, stocking hitam yang
menutupi paha yang indah, rok yang ketat yang menutupi
bulatan pantat yang penuh, blus yang ia pakai terbuka
dan menggantung di tubuhnya, buah dadanya
bergoyang-goyang dan rambutnya yang ikal bergoyang kian
kemari ketika gadis itu megap-megap menghirup udara.
Tidak ada laki-laki yang benar laki-laki yang tidak mau
menyicipi gadis itu saat itu juga.

Lola menatap mereka, memohon dan meratap agar mereka
menolongnya.
"Saya mohon, tolong saya", ia meratap, dan aku melihat
itu menyentuh Toni. Aku melihat raut muka Toni langsung
berubah, Aku melihat nafsu dan sadis sudah menguasai
seluruh tubuh Toni ketika ia menatap Lola di bawahnya.
Lola juga melihat itu dan air mata mulai mengalir dari
matanya yang indah, sedu tedengar dari mulut Lola ketika
ia menatap ke arah Johan dan menemukan wajah Johan yang
tanpa perasaan dengan mata yang berkilat-kilat.
"Gimana kalo lo tunjukin yang lo dapet", kata Toni
sambil terus menatap Lola.

Aku menurut, dengan tangan masih di rambutnya kutarik
Lola supaya berdiri, tangan Lola meremas lenganku
keras-keras, tapi aku tidak peduli sambil terus
menariknya supaya berdiri lagi atas sepatunya yang
bertumit tinggi itu. Dan ketika dia sudah berdiri
kupegang tangannya dan kulipat ke belakang, pantat Lola
menyentuh selangkanganku, membuat penisku berontak ingin
keluar. Aku pegang tangannya yang satu lagi dan
melipatnya juga ke belakang menjadi satu dengan
tangannya yang lain. Dengan tangan dipegangi olehku,
kutarik tubuh Lola mendekati badanku, terus aku gosokin
pantatnya ke penisku yang sudah tegang setengah mati,
Lola cuma bisa meratap dan menangis dengan perlakuanku
itu.

Aku jambak lagi rambut Lola dengan tanganku yang masih
bebas dan menariknya ke atas, sesaat tubuhnya kehilangan
keseimbangan, dan semakin mepet ke badanku. Buah dada
Lola yang bulat dan kencang menyembul ke depan dihalangi
oleh BH-nya, air mata menggenang di mata Lola ketika ia
melihat Toni mendekati dirinya. Toni menatap mata Lola,
dan aku melihat Lola menjilat bibirnya dan menelan ludah
berusaha tenang dipegangi oleh tanganku. Toni tersenyum
dan mengulurkan tangannya mengelus pipi kiri Lola. Tubuh
Lola diam tak bergerak, tapi tetap terasa hangat di
badanku. Jari-jari Toni mengelus pipi Lola lalu turun
meraba kulit yang halus di leher Lola yang putih bersih
tak bercela. Lola akhirnya bersuara, suara lebih tenang
daripada ketika aku menamparnya tadi, tapi masih
terdengar nada ketakutan dan gemetar.
"Lepaskan saya. Saya tidak akan bilang ke siapapun.
Tolong lepaskan saya dan saya akan tutup mulut."

Lola menelan ludah lagi, semua diam, menunggu seseorang
untuk bereaksi, dan aku masih menunggu reaksi Toni yang
tersenyum sambil meletakan tangannya ke bahu Lola, bahu
yang gemetar panik dan ketakutan. Sebuah jerit kesakitan
terdengar lagi dari bibir Lola ketika Toni mengangkat
lututnya dan menghantam tepat di perut Lola membuat
lutut Lola menekuk kesakitan, tanganku mengeraskan
pegangannya ketika Lola meronta kesakitan sampai
akhirnya dia bisa berdiri karena masih kupegangi.

Lola kembali menguasai dirinya, masih megap-megap
kesakitan, kakinya kembali diluruskan, sempoyongan
berusaha berdiri lagi, sementara Toni menatapnya sambil
tersenyum sadis dan aku balik tersenyum pada Toni dari
belakang Lola dan Johan hanya memperhatikan semuanya
dari seberang, matanya mengatakan bahwa ia menikmati ini
semua.

"Siapa yang suruh lo bicara?" kata Toni sambil
menggerakkan kepala Lola yang lunglai ke kiri dan kanan
sambil melihat ke mata Lola yang basah karena air mata.
"Namanya siapa sih?" tanya dia ke aku.
"Lola Amelia." Kataku singkat.
"Nah Lola", Toni meraba perut Lola yang rata, membuat
tubuh Lola meronta berusaha menghindar, tapi Lola
mengerti untuk tidak bersuara sedikitpun.
"Nah Lola, lo benar-benar cewek yang cantik. Pernah
tidak ada orang yang bilang begitu sama lo?" Tangan Toni
sekarang ada di punggung Lola, membuatnya semakin dekat
dengan Lola.
"Jawab!" bentak Toni, sambil menarik tubuh Lola mendekat
padanya membuatnya semakin jauh dari tubuhku, sementara
aku masih menggosokan penisku ke pantat Lola, rasa
ketakutan dan tak berdaya Lola makin membuatku bernafsu.
"yyaa..", suara yang gemetar, penuh ketakutan dan tak
berdaya membuatku ingin langsung melemparnya ke lantai
dan langsung menidurinya saat itu juga.
"Aku yakin udah ada yang pernah ngomong gitu kan", Toni
kembali mendekat dan sekarang mulai menjilati leher Lola
dengan lidahnya, tangisan Lola semakin membuat Toni
bersemangat ketika ia menemukan kancing BH Lola dan
mulai melepaskannya. Tangis Lola semakin keras sementara
ia diam tak bergerak di antara aku dan Toni, yang
menggosokkan tubuh masing-masing ke tubuh Lola.

Aku mengela nafas ketika aku merasakan tangan Toni sudah
melepas kancing BH Lola, dan aku langsung melepaskan
pegangan tanganku dari pergelangan tangan Lola dan
kutarik rompi serta blusnya dari bahu Lola, terus turun
ke lengan sementara tubuh Lola dipegangi oleh Toni dari
depan. Kulempar pakaian itu ke lantai dan melihat
punggung Lola yang halus dan sangat menggairahkan.
Tangan Lola sekarang menahan bahu Toni, dan aku bisa
melihat betapa tangan itu gemetar ketakutan, Lola
ketakutan untuk melawan dan menolak Toni. Aku melepaskan
sepatuku dan berjalan ke samping di mana aku bisa
melihat Toni dan mainan kita yang baru dengan jelas.

"Cantik, cantik sekali", bisik Toni, tangannya mengelusi
punggung Lola.
"Sekarang kita melihat dada kamu." Toni kemudian menarik
turun BH Lola hingga lepas dari tubuhnya sementara
tubuhnya masih dalam dekapan Toni. Aku melihat mata Lola
sekarang menatap kosong, dan penuh dengan air mata,
ketakutan, dan putus asa. Aku turunkan celanaku dan
menggosok penisku lewat celana dalamku sambil melihat
Toni bermain dengan Lola, melepaskan BH itu dan
membiarkannya jatuh ke lantai di antara mereka.
Tangan Toni mengusap belakang kepala Lola, dan Aku
melihat tubuh Lola kembali gemetar ketika Toni melangkah
ke belakang menjauhi Lola, mata Toni melahap habis buah
dada Lola, dua buah bukit daging bulat mengacung dari
dada Lola, bergantung lepas dan tampak besar bila
dibandingkan dengan tubuh Lola yang ramping, puting
susunya yang berwarna merah muda tampak mengeras karena
kedinginan dan gesekan dengan pakaian Toni tadi. Toni
kembali menarik tubuh Lola, dan meredam tangisan Lola
ketika ia melumat bibir Lola dengan bibirnya, menarik
kepala Lola hingga mendongak dan menciumi bibir Lola
serta menjulurkan lidahnya dalam mulut Lola yang hangat.

Sesuatu telah membuat Lola tersadar, karena tiba-tiba ia
mendorong tubuh Toni menjauh sekuat tenaga, sambil
menjerit.
"Tidak! Tidak! Bajingan!" Lola mundur menjauhi Toni
seperti binatang yang terluka, tangannya menutupi buah
dadanya. Lola memandang ke arahku, rambutnya menutupi
sebagian wajahnya, wajahnya bersimbah air mata, dan
matanya, matanya yang indah itu memancarkan teror dan
putus asa, ia kemudian mendekati Johan, matanya memohon
dan suaranya histeris meratap pada Johan.
"Toloongg.., saya.., ahh, hentikan ini semua." Lola
seharusnya sudah menyadari dari tadi. Raut muka Johan
sekarang berubah, dan ia tersenyum pada Lola, dan aku
kembali melihat teror kembali timbul di sekujur tubuh
Lola ketika ia menyadari bahwa sekarang ia sudah
terjebak dan setiap ia memandang mata setiap orang di
ruangan itu yang ia lihat hanya nafsu dan kesadisan.

Ia berusaha lari keluar, menghindar dari Toni yang tidak
bergerak sedikitpun untuk menghalanginya, tapi aku yang
bergerak, kutabrak dia dengan bahuku hingga Lola
terjengkang dan terbanting ke lantai. Dan langsung saja
kita bertiga menyerbu ke arahnya. Aku ingin memperkosa
dia, Aku ingin membuatnya sakit dengan penisku dan
mendenger jeritnya waktu kuperkosa dia. Aku sudah
seluruhnya dikuasai nafsu birahi ketika aku menarik
sepatunya, kemudian merobek stocking dan roknya
sementara Johan dan Toni memegangi tubuh Lola yang
meronta dan mengejang, jeritan Lola berbaur dengan
nafsuku menambah semangatku menelanjanginya.

"Pegangi dia",. Aku mendengar Toni berkata, dan aku
langsung memegangi kakinya yang berusaha menendangku.
Setelah memegangi kedua kaki Lola aku baru bisa
menikmati tubuh Lola yang telah telanjang bulat dengan
leluasa, tubuh yang terbaring tak berdaya antara aku dan
Johan yang memegangi tangannya di atas kepala Lola. My
God, dia benar-benar punya badan yang indah, buah dada
Lola bergoyang kian kemari ketika Lola meronra-ronta,
penuh, bulat dan kenyal, perutnya benar-benar rata dan
kelihatan kuat karena aku melihat otot-otot yang
mengejang ketika ia meronta. Dan gila, pahanya, pahanya
putih bersih dan halus mulus, di pangkalnya kulihat
rambut kemaluan halus hitam menutupi gundukan vaginanya.
Aku benar-benar tidak sabar buat masuk ke gundukan itu,
penisku seakan-akan akan meledak ketika aku terus
memeganginya dan melihat Toni berdiri di samping tubuh
Lola, dengan ikat pinggang di tangan, matanya berkilat
liar dan nafasnya mendengus-dengus.

"Pukul dia Ton!", Johan berkata dan aku juga melihat
pancaran birahi dan sadis dari matanya ketika ia
memandang Lola.
"Jangaann!" Lola menjerit sementara matanya mendelik
ketakutan ketika ia melihat ikat pinggang itu mengayun
ke perutnya, suara ikat pinggang kulit yang beradu
dengan perut Lola sekeras jeritan Lola yang melolong. Ia
mengejang di tanganku, sambil terus kupegangi, Lola
meronta kesakitan ketika Toni mengayunkan lagi ikat
pinggangnya terarah ke buah dadanya, membuat gundukan
itu bergoyang-goyang liar sementara Lola terus menjerit
dan mulai menangis lagi.

Toni terus memecuti Lola, mengayunkan ikat pinggang
kulit itu tubuh Lola yang putih bersih, ke buah dadanya,
perutnya, pahanya, membuat tubuh Lola menjadi belang
kemerahan sementara Lola sendiri meronta dan menjerit
dan menangis dipegangi olehku dan Johan. Aku tidak bisa
mengalihkan pandanganku dari tubuhnya yang
terkejang-kejang, rontaannya, tubuhnya memilin, menekuk,
dan menjerit-jerit. tidak ada yang lebih menggairahkanku
daripada melihat gadis yang sedang menjerit-jerit
kesakitan. Aku harus memperkosanya.

Kulepaskan peganganku, melepaskan celana dalamku dan
bajuku sementara Lola menarik kakinya hingga menutupi
dadanya, dengan tangan masih dipegangi oleh Johan. Suara
yang terdengar dalam ruangan itu hanya tangisan Lola,
tangisan yang benar-benar menyayat hati, yang membuat
penisku makin bergoyang-goyang ingin segera memuntahkan
isinya. Aku berjongkok dan menarik kaki Lola lalu
membukanya, pikiranku sudah gelap ketika aku menindih
tubuh Lola membuatnya Lola terhenyak di sela-sela
tangisannya. Aku meraba kaki Lola yang panjang dan
merasakannya bersentuhan dengan kakiku, membuat tubuhku
ikut gemetar karena nafsu. Aku merasakan buah dada Lola
yang ditindih oleh dadaku, perut Lola yang hangat naik
turun di bawah perutku, tubuhnya sekarang hanya sebuah
mesin untuk memuaskan nafsuku, untuk memuaskan birahiku.

Aku meraih penisku dan memeganginya, memandang ke arah
Lola yang memalingkna wajahnya dariku, matanya terpejam
erat-erat sementara di pipi dan dahinya menempel rambut
yang lengket karena keringat dan air mata. Aku
mengarahkan penisku ke vagina Lola, cairan yang keluar
dari penisku membasahi vaginanya, membantuku membuka
bibir vagina Lola sampai aku merasakan liang vaginanya
tepat di depan kepala penisku. Lola mengerang dan
merintih, tubuhnya kembali meronta-ronta, giginya
menggeretak ketika kujambak rambutnya dan menariknya
hingga mendongak sehingga aku bisa mencium bibirnya yang
sensual, menikmati jeritan Lola ketika aku menghunjamkan
penisku ke vaginanya yang kering kerontang, menikmati
rasa sakit dan ketakutan Lola ketika aku mulai
memperkosanya.

Aku masukkan lidahku ke mulut Lola yang hangat dan
basah, tubuhku bagai terbakar ketika merasakan jepitan
vagina Lola di batang penisku ketika kepala penisku
menembus selaput daranya, kaki Lola terangkat karena
kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya.
Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika aku mulai
bergerak dengan keras di vagina Lola. Aku tarik penisku
sampai tinggal kepalanya di vagina Lola sebelum kudorong
lagi masuk ke dalam rahimnya. Dia benar-benar gila,
sungguh gila, menggairahkan, masih meronta-ronta di
bawah tubuhku, kakinya masih bisa bergerak-gerak
berusaha menutup, masih terus merintih dan menangis dan
tersendak dan aku merasakan betapa tersiksanya dia lewat
lidahku yang ada di mulutnya.

Aku merasakan cairan di penisku yang ada di dalam vagina
Lola, sebagian pasti darah perawan Lola yang keluar
ketika Aaku merobek selaput daranya, sebagian lagi
mungkin cairan penisku yang keluar sebelum aku
benar-benar ejakulasi, tapi cairan itu membuat gerakanku
makin lancar, dan penisku mulai berdenyut-denyut
menyebar ke seluruh tubuhku. Setiap kali kudorong
penisku masuk Lola mendengus. Aku melepaskan bibirku
dari mulut Lola dan menjilat turun ke lehernya, berhenti
bergerak di vaginanya berusaha menikmati setiap saat
dari perkosaanku selama mungkin, aku ingin merasakan ini
selamanya ketika tubuhku bergetar lepas kontrol waktu
aku menyedot leher Lola yang jenjang dan putih,
sementara penisku terbenam seluruhnya dalam vagina Lola.

Aku terus menahan penisku di dalam vagina Lola,
menikmati sensasinya, menikmati tangis kesakitan dari
mulut Lola. Aku lalu mulai bergerak lagi, memperkosa dia
pelan-pelan, lalu brutal dan menyakitkan, merasakan
kenikmatan yang makin memuncak, memaksaku sekali lagi
untuk bergerak pelan-pelan, memaksaku bergerak berirama,
merasakan orgasmeku yang kian dekat, aku tahu sebentar
lagi aku akan keluar, dan aku akan mengeluarkan semua
spermaku di dalam tubuh Lola yang sedang merintih di
bawahku. Aku makin keras menyedot leher Lola dan mulai
mengigitnya, tanganku meremas rambut di kepalanya,
tubuhku menyatu dengan tubuh Lola, dengan lehernya,
dadanya, buah dadanya, perutnya, vaginanya, dengan
vaginanya yang sempit dan hangat menjepit erat, pahanya,
hingga betisnya. Aku merasakan semuanya ketika erangan
kecil keluar dari dadaku.

Aku akan keluar, Aku mau keluar, Aku akan meledak
sebentar lagi, biarpun Aku berusaha menahan sekuat
tenaga tapi aku tidak bisa menghentikannya ketika aku
mengerang, mendengus bagaikan banteng, otot pahaku
menegang ketika penisku berdenyut-denyut tak terkendali
di dalam vagina Lola, menyemburkan sperma demi sperma ke
rahimnya yang terluka, kenikmatan yang amat sangat
seakan-akan menyakitkan tubuhku, membuat nafasku
tersengal-sengal. Dan Lola menyadarinya, dia sangat
sadar bahwa aku sudah mengalami orgasme dan itu
membuatku makin nikmat karena dengan begitu dia tahu
bahwa aku sudah menaklukan dirinya, dan aku telah
menyetubuhi dan meyemburkan spermaku ke dalam tubuhnya.
Aku terbaring selama satu menit penuh, tubuhku lemas
karena kenikmatan yang bertubi-tubi, tubuhku sesekali
bergidik dan bergerak-gerak teratur terangkat oleh
gerakan dada Lola yang menangis.

Kuangkat tubuhku dari atas tubuh Lola, penisku masih
keras dan tegang waktu kutarik dari vagina Lola. Aku
berdiri dan memperhatikan Lola, tubuh seksi yang baru
saja kunikmati. Kuremas penisku, membuatnya berdenyut
dan melonjak lagi karena gairah ketika kulihat kaki Lola
yang ramping, yang sekarang tertekuk tak berdaya,
melihat pinggulnya yang bulat, melihat perutnya yang
rata, buah dadanya yang masih menakjubkan bergerak, pada
wajahnya yang seperti model, yang semakin cantik dengan
rasa sakit dan air mata. Aku bergidik lagi dan menatap
Johan yang sedang menatap Toni.
"Giliran siapa?"

Toni mengangguk ke arah Johan, yang tersenyum dan
mengangkat tubuh Lola dengan tangannya. Lola sempoyongan
dipegangi oleh Johan di lengannya, dan menyeretnya ke
mejaku. Lola tak bersuara ketika Johan membungkukan
tubuhnya ke mejaku, hingga sekarang mulai pinggang
hingga kepala Lola terbaring menelungkup di atas mejaku,
semetara kakinya masih di lantai. Ketika aku pergi ke
seberang meja dan memegangi pergelangan tangan Lola aku
mendapatkan ide. Aku ambil pita perekat dari mejaku dan
mengikat kedua pergelangan tangan Lola jadi satu. Lola
tidak sekalipun melihat ke arahku, dia hanya berdiri,
dengan setengah tubuhnya terbaring di meja, ketika aku
terus mengikat pergelangan tangannya dengan perekat. Dia
benar-benar gadis yang cantik pikirku. Setelah selesai
kutarik tangan Lola hingga tergantung di sisi lain
mejaku, sekarang kepala Lola tergantung di pinggir meja,
buah dadanya menjadi bantalan bagi tubuh Lola di meja,
menempel pada meja kayu jati itu.

"Pantatnya benar-benar bikin kku gila", kata Johan
sambil meraba dua bulatan pantat Lola. Lola memang punya
pantat yang sempurna, apalagi kalau dibandingkan dengan
tubuhnya yang ramping, bentuknya sempurna, penuh,
lembut, halus dan tanpa noda. Aku harus memasukkan juga
ke sana pikirku ketika aku melihat Johan meraba, meremas
dan menarik pantat Lola, membuat Lola melonjak di mejaku
sementara aku terus menahan tangan Lola. Johan segera
melucuti pakaiannya, sambil terus memandang pantat Lola
yang luar biasa itu.

Penis Johan langsung mengacung keluar, dan aku
tersenyum. Penisnya besar, dan panjang juga, hampir 20
senti, dan Johan siap memasukkan semuanya ke tubuh Lola.
Aku ingin tahu juga bagaimana perasaan Lola waktu nanti
Johan memasukkan penisnya ke badannya, memperkosanya dan
menyakitinya. Kujambak lagi rambut Lola dan mengangkat
kepalanya sehingga aku bisa melihat wajah Lola, wajah
Lola berkilat karena air mata dengan bibir dan mata yang
sempurna bagiku. Mata Lola terpejam tapi dengan melihat
ekspresi wajah Lola aku bisa tahu apa yang sedang
dikerjain Johan pada tubuh Lola. Pasti Lola merasakan
sakit yang luar biasa waktu Johan masuk ke tubuhnya,
walaupun aku sudah membasahi vaginanya dengan sperma dan
darah perawannya.

Wajah Lola mengerenyit dan gemetar, erangan keluar dari
mulutnya pada saat bersamaan. Aku dengar Johan juga
mengerang, setelah itu terdengar suara daging bergesekan
dengan daging, dan aku tahu Johan sudah masuk ke vagina
Lola. Bibir Lola bergetar, air mata mengalir lagi dari
matanya ketika kudengar suara tubuh berbenturan dengan
tubuh yang lain, terus berulang-ulang. Johan memperkosa
Lola dengan brutal dari belakang, seperti seekor anjing,
sementara aku terus mengangkat kepala Lola, melihat
wajahnya, menghembuskan nafasku ke wajah Lola, melihat
rasa sakit dan sengsara yang terlukis bergantian di
wajah Lola, dan Lola tahu bahwa aku sedang memandang
wajahnya dan itu bagi Lola sama hinanya dengan
diperkosa.

Aku terhanyut, terhanyut oleh wajah Lola, ketika aku
dengar suara lain, dan aku melihat mata Lola terbelalak
karena sakit dan shock, mata yang bulat hitam dan
berkilat karena air mata, melihat bibirnya yang
membentuk huruf 'O' sambil menjerit kesakitan. Aku tahu
itu pasti Toni, dan itu pasti ikat pinggangnya yang
diayunkan ke punggung atau pantat Lola, tapi aku tidak
bisa melepas pandanganku dari wajah Lola, dari mata yang
penuh penderitaan dan putus asa tapi berkilat indah. Aku
bergidik dengan birahi yang memuncak lagi, penisku
menegang lagi, menyakitkan, ketika aku melihat wajah
Lola yang berkerut kesakitan dan penuh rasa malu.

Kudengar Johan mendengus dan mendengus lagi, dan aku
tahu kalau dia baru saja ejakulasi di vagina Lola, dan
Lola juga menyadarinya, dan ia lalu memejamkan matanya
yang berlelehan air mata dan kembali menangis
tersedu-sedu, dan setiap pecutan Toni mengayun, tangis
kesakitan kembali terdengar dari dada Lola. Suara
pecutan kemudian berhenti, dan aku melepaskan peganganku
di rambut Lola, membiarkan kepalanya terjatuh lagi. Aku
berdiri dan berpikir seharusnya aku juga mencoba mulut
Lola sekarang juga, tapi Toni masih belum mendapat
giliran.

"Dia benar-benar hebat", kata Johan, sambil masih
melihat ke pantat Lola.
"Cewek yang benar-benar hot. Waktu lo pukul dia pake
iket pinggang lo Ton, Aku kira barangnya bakal bikin
punyaku putus saking kerasnya ngejepit." Toni cuma
tersenyum dan kita semua berpandangan satu sama lain dan
tersenyum.

Toni membuat sebuah gerakan dan aku mengangguk ke Johan.
Johan menarik Lola dengan menjambak rambutnya, membuat
kepala Lola terangkat dan kemudian dadanya, membuat dada
yang tadi tertindih menyembul tegak lagi, sebelum tubuh
Lola terlempar lagi ke lantai, rambut Lola menutupi
wajahnya sementara tangannya yang masih terikat menumpu
tubuhnya yang terbaring miring, dan kaki Lola yang indah
menekuk di lutut. Aku pegang penisku merasakannya
berdenyut lagi. Lola, Lola benar-benar sesuatu yang
memabukkan.

Toni berjalan memutar dan mendorong kursiku, kursi besar
dari kulit yang biasa dipakai para wakil presiden
direktur perusahaan internasional, ke depan Lola. Toni
lalu melucuti pakaiannya sendiri, tapi matanya tidak
lepas dari tubuh Lola. Ruangan itu sunyi lagi, yang
terdengar hanya suara pakaian Toni yang dilempar ke atas
lantai dan tangisan Lola yang lirih. Ketika telah
telanjang bulat Toni duduk di kursiku, merosot sedikit,
dan memegang penisnya hingga mengacung ke atas.
"Coba kamu ke sini Lola", katanya, mata Toni penuh
birahi, "dan kulum punyaku."

Kita semua menunggu, memperhatikan Lola, setengah
berharap ia akan menurut dan setengah berharap ia akan
menolak, sehingga membuat kita punya alasan buat
menyiksanya lagi dan menyakiti tubuh yang indah itu. Ia
terisak sekali dan kemudian mulai bergerak, merangkak
dengan lututnya, menuju ke arah Toni, rambutnya yang
panjang dan ikal menempel di wajah, buah dada dan
punggungnya.

Aku memperhatikan dengan penisku di tanganku, ketika ia
sampai di dekat Toni dan ia meraih penis Toni di
pangkalnya dengan tangannya yang terikat, setelah itu
membuka bibirnya yang penuh dan sensual itu, lalu
mendorong mulutnya ke penis Toni. Aku pengen sekali
meperkosa dia saat itu juga, tubuh yang penuh sensasi.
Dia benar-benar merangsang, berlutut seperti itu,
sementara kepalanya mengangguk-angguk ketika ia melayani
Toni, pipi Lola menghisap dan mengulum penis Toni,
sebagian rambut jatuh di wajahnya.

Aku memandang Toni, melihat raut mukanya yang kecewa.
"Dia tidak tau bagaimana mengulum yang benar", kata
Toni, sambil memandangku, tangan Toni sekarang meremas
rambut Lola ketika ia memegangi kepala Lola.
"Cewek ini tidak bisa make mulutnya buat muasin aku."
Lola merintih mendengar perkataan Toni, dan mengikuti
pandangan Toni yang sedang melihat ke ikat pinggang kita
yang tergeletak di lantai. Aku tersenyum pada Toni dan
mendekati Johan, mengambil ikat pinggangku, melihat
tubuh Lola gemetar lagi seakan tahu apa yang akan
terjadi sebentar lagi, kepalanya bergerak makin cepat di
penis Toni, hampir putus asa.

Aku berdiri di belakang Lola, dengan ikat pinggang di
tanganku, ujung ikat pinggang itu mengayun-ayun di
tanganku, Johan ada di sebelahku, Otot tubuh Toni
menengang memegangi Lola. Tanganku dan Johan terangkat
dan mengayunkan ikat pinggang masing-masing ke
pantatnya, keduanya mengenai sasaran, tubuh Lola
melonjak kesakitan sementara lolongan kesakitan
terdengar dari tenggorokannya, diredam oleh penis Toni
yang masih ada di mulut Lola. Aku memecut lagi ke arah
pantatnya, Lola menjerit lagi, Aku berhasil membuat
tanda merah di pantatnya ketika Lola menjerit kedua
kalinya, dan yang ketiga ketika ikat pinggang Johan
mendarat ke pahanya, kepala Lola terlonjak sedikit
ketika Toni menekan kepalanya turun ke pangkal penis
Toni. Jeritan Lola berubah menjadi batuk dan suara
tersedak, walaupun kita berdua masih terus memukulinya,
penis Toni rupanya masuk hingga tenggorokannya.

Aku bisa melihat sekarang, Aku melihat benjolan kepala
penis Toni di tenggorokan Lola, mata Lola menatap liar,
tubuhnya meronta-ronta karena rasa sakit, panik dan
kekurangan udara, tangannya menggapai-gapai, terlalu
takut untuk mendorong tubuh Toni yang dengan tangannya
menahan kepala Lola agar tetap di pangkal penisnya. Aku
mengayunkan ikat pinggangku lagi, membuat suara jeritan
terdengar lagi ketika ujung ikat pinggangku yang
dilapisi logam menghajar punggung Lola yang mulus, tubuh
Lola mengejang sama seperti tadi ketika ia diperkosa dan
dipukuli.

Toni benar-benar brutal, dengan kedua tangan di sisi
kepala Lola, meremas rambut Lola, ia menggerakkan kepala
Lola di penisnya, menghunjamkan wajah Lola ke
selangkangannya ketika ia memasukkan seluruh penisnya
hingga ke tenggorokan Lola. Kita berdua juga brutal,
ketika kita mengayunkan ikat pinggang ke pantat Lola,
paha Lola bahkan punggung Lola ketika kita bersamaan
menyiksa tubuh cantik yang terus menjerit, gemetar,
mengejang dan berkeringat. Pikiranku sudah berkabut,
walapun tanganku sudah lemas, pantat dan paha Lola sudah
bilur-bilur kebiruan karena terus dipukuli, jeritannya
makin keras dan melolong-lolong, penisku sudah tegang
sekali seakan-akan ingin meledak ketika aku melihat Toni
terus menghunjamkan wajah Lola ke pangkal penisnya dan
sekarang menahannya di situ dan aku sadar Toni sedang
ber-ejakulasi di tenggorokan Lola, menggeram ketika ia
terus menahan kepala Lola.
Ini sudah terlalu lama, Aku sudah menunggu terlalu lama.
Aku harus memperkosa dia lagi, Aku harus menikmati lagi
tubuh Lola Amelia yang sedang jadi mainan kita. Aku
jambak lagi rambut Lola, di pangkalnya dan menariknya
dengan kasar dari pegangan Toni, air liur Lola dan
sperma Toni mengalir keluar dari mulutnya ketika kuseret
dia sekitar dua meter dari Toni dan melemparkannya
hingga jatuh tertelungkup. Aku berlutut di belakang dia,
dan meraih pinggul Lola yang bulat, dan menarik
pantatnya yang biru-biru hingga menungging, penisku
bergoyang-goyang di depanku sementara aku menggeram
bagai binatang, mengarah ke vagina Lola yang terluka.

Aku masuk lagi dengan brutal, berharap aku kembali
menyakiti Lola, berharap dia menjerit kesakitan, tapi
yang aku dengar hanya suara mengerang ketika penisku
masuk ke rahim Lola. Aku bergoyang keluar masuk sebanyak
tiga kali, vagina Lola masih sangat sempit dan nikmat,
Aku hampir saja diam tak bergerak di situ. Tapi pantat
Lola, dengan liang anus berkerut berwarna kecoklatan
terlihat seperti menggodaku, jari-jariku membuka belahan
pantat Lola yang memanggil-manggilku. Aku meringis
ketika kutarik penisku dari jepitan vagina Lola dan
mengarahkannya ke liang anus Lola.

Reaksi Lola benar-benar menggairahkan. Rintihan dan
ratapan keluar lagi dari bibir Lola.
"Jangan, jangan, saya mohon, jangan...!" Lola merintih
dan meronta sekarang lebih kuat dari pada yang kuduga
sebelumnya, lututnya terangkat dari lantai, otot-otot di
pantatnya mengejang berusaha menutup, pinggulnya
bergoyang berusaha melepaskan diri dari peganganku. Tapi
aku tidak peduli, tidak ada yang bisa menghalangiku buat
menikmati pantat Lola. Dan kupegangi dia, di pinggulnya,
penisku yang sudah dibasahi oleh vagina Lola, menekan ke
liang anus Lola, tubuh Lola menggeliat dan meronta dalam
peganganku sembari memohon agar aku berhenti, dan
melakukan apa saja, apa saja selain sodomi.

Aku menekan lebih keras lagi, jari-jariku membuat memar
baru di pinggul Lola, ketika Aku merasa liang anus Lola
mulai terbuka, jeritan pelan mulai terdengar dari mulut
Lola, keluar dari dada Lola, dada dengan payudara yang
bulat yang sekarang tertindih tubuh Lola di lantai yang
terus berusaha merangkak menjauh dariku. Setelah itu
yang kudengar hanya jeritan Lola yang melengking hingga
akhirnya terputus sendiri ketika kepala penisku berhasil
menembus masuk anus Lola, membuatku gemetar karena
sensasi yang timbul. Sempit, sempit sekali sampai
membuat nyeri, semakin nyeri ketika kupaksa penisku
masuk lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi, jeritan
Lola berubah menjadi lolongan ketika telapak tangan Lola
mengepal menahan sakit, dahinya terbenam ke karpet
ketika lolongan Lola berubah lagi menjadi tangisan
kekalahan dan kesakitan bersamaan dengan masuknya sisa
penisku ke anus Lola yang terus menjepit dan memijati
batang penisku.

Kutarik lagi penisku keluar, menikmati gerakan tubuh
Lola yang kesakitan, dan kemudian mendorongnya masuk
lagi sekeras-kerasnya ke dalam anus yang sempit luar
biasa itu. Aku tidak punya pikiran lain selain
menyodominya, dan terus menyodominya, menyodomi dubur
Lola dengan brutal, sekuat tenaga, dan menikmati setiap
rasa sakit yang dirasakan oleh Lola, rasa teror yang
dialami Lola, kekalahannya. Aku sadar ketika gerakanku
di anus Lola mulai lancar, Johan berlutut di depan Lola,
dan aku melihat penisku kembali berlumuran darah ketika
aku menarik penisku keluar untuk yang kesekian sebelum
mendorongnya masuk lagi. Johan ada di depan Lola,
menarik rambutnya dan memegang kepala Lola dengan
kepalanya, menarik rahang Lola, memaksanya membuka
mulut, dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Lola dan
memperkosanya sebrutal aku yang ada di anusnya.

Aku tidak tahu berapa lama kita memperkosa Lola, Aku di
anus dan Johan di mulut, tubuh Lola terus-menerus
mengejang dan gemetar dengan suara mengerang lirih
kesakitan dan mulutnya. Aku tenggelam di kabut birahi
dan nafsu, seluruh pikiranku aku pusatkan di penisku,
pada dua buah bulatan daging yang merupakan pantat Lola,
aku terus bergerak, keluar, masuk, keluar, masuk, dan
aku merasa orgasmeku kembali datang, menyakiti penisku,
mengingat aku baru saja orgasme beberapa saat yang lalu,
tapi aku menikmati rasa sakit itu, rasa sakit yang
sangat nikmat sementara aku terus bergoyang di pantat
Lola hingga akhirnya aku tersentak, seluruh tubuhku
tersentak dan aku ejakulasi di dalam anus Lola, penisku
berdenyut dan menggelinjang terus dan terus ketika aku
memuntahkan spermaku ke anus Lola, menaklukkan lagi
gadis itu, gadis yang sangat merangsangku, Lola Amelia.

Aku terdiam beberapa saat, mendengar Johan yang
mendengus menyelesaikan hajatnya di mulut Lola, dan aku
menarik penisku keluar, mendesis ketika anus Lola
kembali menjepit batang penisku erat-erat untuk terakhir
kalinya sebelum aku jatuh terduduk. Aku duduk di situ
semenit, melihat Johan yang menarik penisnya dari mulut
Lola dan berdiri, membiarkan tubuh Lola jatuh tersungkur
ke lantai lagi.

Aku menggelengkan kepalaku, mengerjapkan mataku dan
berjalan ke kursi dimana Toni sedang beristirahat dan
duduk. Toni sedang memandangi Lola, alat hiburan kita
bertiga. Kaki Toni menendang tubuh Lola beberapa kali,
tidak keras. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan
menggulingkan tubuh Lola hingga telentang.

"Benar-benar cantik dia", katanya, mengucapkan apa yang
ada di pikiranku. Lola, Lola Amelia, terbaring tak
berdaya di lantai. Tangannya dengan pergelangan tangan
masih terikat terangkat ke atas kepalanya, membuat
tubuhnya makin ramping, semakin tinggi, dan langsing.
Buah dadanya masih mengacung di dadanya, memerah dan
bilur-bilur karena pukulan-pukulan Toni. Lehernya
panjang, halus dan putih, terlihat seperti menelan ludah
beberapa kali, dan setiap kali menelan Lola terlihat
kesakitan, nafasnya terdengar berat dan terputus-putus.
Darah tampak sedikit mengalir dari hidungnya dan
bibirnya, bibirnya yang penuh dan sensual itu
bilur-bilur membiru. Mata Lola terpejam, dan alis
matanya tampak semakin menarik dengan wajah yang basah
karena air mata dan keringat. Pinggangnya ramping dan
perutnya, gemetar pelan ketika ia mengerang kesakitan,
perkosaan dan pukulan kita pada Lola membuat ia tidak
bisa berbaring tanpa kesakitan.

Bagiku tidak ada yang lebih merangsangku daripada
melihat cewek yang sedang kesakitan, dan Lola Amelia di
depanku ini sedang kesakitan setengah mati. Kupikir kita
bertiga benar-benar terkagum-kagum karena kita semua
cuma berdiri dan duduk di situ dan memandangi Lola,
menikmati setiap jengkal tubuh Lola yang sedang
menggeliat-geliat kesakitan. Toni membuyarkan lamunan
itu, ia bangun dan mendekati tumpukan pakaiannya, penis
Toni mengacung tegang ketika ia sedang merogoh-rogoh
kantong bajunya, mengeluarkan satu pak rokok dan zippo.
Ia menyalakan satu batang rokok, menghisap dan berjalan
mendekati dan berdiri dekat dengan kaki Lola, memandangi
tubuh Lola di bawahnya. Aku menarik kursiku supaya aku
bisa melihat apa yang dikerjakan Toni lebih jelas lagi,
ketika Toni berlutut dengan rokok masih ada di bibirnya.

Toni menarik kaki Lola, tidak menghiraukan erangan sakit
dari Lola ketika ia mengangkat kaki Lola dan
menyangkutkannya ke bahunya sendiri. Ia bersandar ke
depan, penis Toni tepat mengarah ke vagina Lola yang
memerah karena diperkosa beruntun, tubuh Toni hanya
ditumpu oleh kaki Lola dan satu tangan Toni. Lola sama
sekali tidak membuka matanya, hanya mengerang ketika
Toni menekan penisnya ke vagina yang sudah kesakitan,
membenamkannya hingga pangkal. Ia menahannya di situ,
menatap wajah Lola di bawahnya, wajah Lola yang cantik,
dengan rokok yang masih menggantung di mulutnya.

Aku membeku dan tersenyum ketika aku melihat Toni
menarik rokok itu dari mulutnya dan memandang Johan,
yang mendekat dan berlutut menindih tangan Lola. Lola
membuka matanya, melihat Johan yang memandangi dirinya,
menatap ujung rokok yang menyala. Aku tahu, Johan tahu
dan Lola pun tahu apa yang akan dilakukan oleh Toni dan
mata Lola, mata yang bulat semakin membesar dan air mata
kembali mengalir tanpa terdengar isakan, bibir Lola
terbuka seakan-akan ingin memohon pada Toni tapi tahu
bahwa itu percuma.

Ujung rokok itu mendekat perlahan, dan tubuh Lola mulai
meronta-ronta ditindih oleh tubuh Toni, menggeliat,
mengejang, meronta, buah dada Lola bergoyang-goyang
ketika Lola meronta tanpa bersuara, berat tubuh Toni
membuatnya tidak berdaya. Ujung rokok yang menyala itu
menyentuh buah dada kanan Lola, membuat jeritan Lola
kembali terdengar bersamaan dengan terbakarnya daging
payudara kanan Lola yang sudah berkeringat. Toni
menghisap rokoknya lagi, membuat ujungnya menyala-nyala
lagi, dan mendekatkannya lagi ke payudara kiri Lola,
perlahan dengan penis masih terbenam di vagina Lola.
Lola menjerit lagi, punggungnya melengkung kesakitan,
tubuhnya meronta berusaha melawan Toni.

Selama setengah jam Toni terus menyiksa Lola, menyulut,
menghisap, menyulut, menghisap, menyalakan sebuah rokok
baru setiap kali rokok yang lama habis, membuat Lola
menjerit dan menjerit dan menjerit hingga akhirnya Lola
hanya bisa melolong lemah, dengan tubuh yang terus
mengejang dan mencoba berguling sementara Toni terus
menahannya dengan penis terbenam dan dijepit oleh vagina
Lola, Toni menahan penisnya hingga vagina Lola yang
menjepit setiap kali Lola kesakitan membuatnya seperti
dipijati oleh vagina Lola sendiri. Kemudian Toni meremas
buah dada Lola, meremasnya keras-keras dengan kedua
tangannya, membuat Lola kembali melolong seperti
binatang yang terluka, tubuhnya menggelinjang sementara
Toni mulai menggerakan penisnya di vagina Lola dengan
brutal, payudara Lola terasa perih ketika luka bakar di
buah dadanya terbuka karena remasan tangan Toni, kuku
Toni menghunjam ke daging buah dada Lola.

Toni menggeram, menumbukkan pinggulnya ke pinggul Lola,
kuku jari Toni membuat buah dada Lola terluka dan
mengeluarkan setetes darah, lolongan Lola bersahutan
dengan erangan Toni ketika ia berejakulasi, mengisi
rahim Lola dengan air mani. Selama beberapa detik tubuh
Toni tegang tak bergerak di atas tubuh Lola, lalu
semuanya berakhir, dan ia tersungkur ke tubuh Lola yang
terisak-isak. Selama beberapa menit Toni tetap berbaring
sebelum ia berguling dan berdiri, meninggalkan Lola yang
telentang di atas lantai, kaki Lola terbuka lebar,
tangan Lola menutupi buah dadanya yang terluka ketika ia
menangis keras dengan kesakitan.

Aku tidak tahu kenapa, tapi Lola dan tubuhnya serta
tangisannya membuatku ingin menyakitinya lagi, membuatku
ingin mendengar dia menangis, menjerit dan minta ampun
padaku. Aku menunduk di antara kaki Lola, satu tanganku
memegang pahanya dan bahuku menahan paha Lola yang lain,
wajahku hanya beberapa senti dari vagina Lola yang
memerah dan terluka. Dari belahan vaginanya mengalir
sperma yang tercampur titik-titik darah turun ke belahan
pantatnya. Aku bisa melihat clitorisnya, juga memerah
dan memar di tumbuhi sedikit rambut kemaluan.

Dengan dua jari aku membuka labia Lola yang ada di
sekitar clitoris Lola. Tanganku yang satu lagi mengulur
dan memegang clitoris yang merah itu dengan jempol dan
telunjukku, mendengar tangisan Lola makin keras,
merasakan pahanya gemetar, lalu aku jepit clitoris itu,
membuat lolongan Lola kembali membahana, pahanya
mengejang berusaha menutup kakinya, tapi bahuku
menghalangi usahanya yang sudah tak bertenaga.

Kujepit, tarik dan membenamkan kuku jariku ke daging
kecil yang sensitif itu, membuatnya kembali menjerit dan
menggemelihat ketika aku menyakitinya lagi. Aku menarik
tanganku lagi, membuat tubuh Lola rileks lagi. Toni
kembali mendekat dan menyeret tubuh Lola dan
melemparkannya ke atas mejaku lagi. Pantat Lola
menungging ke atas seakan-akan siap menerima Toni.

Toni membuka belahan pantat Lola dengan kedua tangannya
dan memasukan penisnya masuk dengan satu kali dorongan
yang keras. Lola mengerang, dia terus mengerang setiap
saat sekarang, seluruh tubuhnya telah kesakitan, buah
dadanya semakin membuatnya kesakitan karena tertindih
tubuhnya sendiri di atas meja. Aku berjalan ke seberang
meja dan menjambak rambutnya lalu memasukan penisku ke
mulut Lola, masuk terus hingga ke tenggorokannya,
merasakan hangatnya lidah dan tenggorokan Lola di
seluruh bagian penisku, tenggorokan Lola juga menjepit
kepala penisku, dan lembutnya bibir Lola melingkari
pangkal penisku. Lola kembali diperkosa di anus dan di
mulut, dengan kasar dan brutal karena kita berdua harus
berusaha keras untuk dapat mencapai puncak untuk yang
ketiga kalinya di tubuh ini, ke dalam tubuh gadis yang
tidak ada bandingannya, ke dalam tubuh Lola Amelia.

"Ambilin Aku pin." Aku dengar Toni berkata dan aku
tersenyum lagi ketika aku melihat Johan mengangsurkan
beberapa pin dari mejaku, yang langsung dibenamkan Toni
ke pantat Lola.

Jeritan Lola mengalir ke penisku, membuatku mengerang
nikmat. Pin kedua kembali ditancapkan ke pantat Lola,
dan jeritan kedua membuatku gila karena birahi. Aku
tidak bisa orgasme, cewek ini sudah menghabiskan seluruh
spermaku sebelumnya. Sakit sekali rasanya testisku yang
berusaha mengeluarkan sperma ke mulut Lola. Toni sudah
berhenti menancapkan pin, tangan dan pinggul Toni
menumbuk-numbuk pin di pantat Lola membuat jeritan Lola
sambung-menyambung mengalir ke penisku, membuatku
tenggelam dalam kenikmatan dan frustasi dalam usahaku
berejakulasi.

Pantat Lola pasti benar-benar memuaskan Toni karena aku
melihat mata Toni membalik dan ia melolong nikmat ketika
ia kembali menyemburkan spermanya ke dalam tubuh Lola,
Lola yang cantik. Setelah selesai Toni menarik penisnya
keluar, Aku juga menarik penisku dari mulut Lola dan
melihat wajahnya yang memar, darah kemabbali menetes
dari hidungnya, dan menetes ke penisku.

Aku mundur dan Johan mengulurkan tangannya meremas buah
dada Lola dan menariknya ke atas hingga Lola dipegangi
oleh Johan di buah dadanya, membuat Lola mengerang
ketika penisnya menembus masuk ke anus Lola, pantat Lola
masih ditancapi oleh pin yang makin menusuk ke dalam
daging pantat Lola ketika Johan terus mendorong penis
sepanjang 20 senti itu masuk ke anus Lola. Lola menjerit
sekali, ketika kepala penis Johan masuk membuka liang
anusnya, dan kemudian mengerang setiap kali Johan
bergerak keluar dan masuk.

Penisku terus berdenyut ketika aku melihat Lola,
dipegangi oleh Johan, sementara kepalanya
mengangguk-angguk seirama dengan goyangan pinggul Johan,
rambut Lola bergoyang kesana kemari di sekeliling kepala
Lola, matanya, matanya yang bulat indah membelalak
karena kesakitan dan shock, mulutnya menganga
mengeluarkan erangan yang berirama dengan gerakan Johan,
bibir Lola bilur membiru, darah masih menetes dari
hidungnya mengalir ke dagu, terus turun ke lehernya
jenjang hingga ke belahan buah dada Lola.

Aku naik ke atas meja dan berlutut di depan Lola,
meremas pantatnya yang mempesona untuk mendengar jerit
kesakitan Lola, kemudian memasukan penisku ke vagina
Lola, tubuh Lola seperti boneka di jepit olehku dan
Johan. Vagina dan anus Lola kembali dimasuki oleh dua
buah penis bersamaan, membuat tubuh yang terluka, memar
dan kesakitan itu bergoyang-goyang maju mundur.

Penisku masih dijepit erat oleh vagina Lola yang
tampaknya tidak akan pernah melebar. Dan orgasmeku
datang. Aku orgasme sekuat tenagaku, tanganku meremas
pantat Lola, testisku seakan-akan ditarik dari penisku
ketika aku ejakulasi. Aku orgasme untuk yang ketiga
kalinya malam itu. Johan selesai menyembur, tangannya
melukai lagi buah dada Lola yang memar, terbakar dan
berdarah dan kemudian ketika aku selesai tubuh Lola
langsung ambruk terguling dari meja jatuh ke lantai,
mengerang lemah.

Kita bertiga berdiri untuk beberapa saat, dan ku
memandang jam.
"Waktunya berangkat." Kataku, dan kita lalu membersihkan
badan menggunakan pakaian Lola sebagai lap. Membiarkan
Lola yang berbaring tak bergerak di lantai. Ketika kita
sudah berpakaian lagi, Aku seret dia ke bawah mejaku dan
mengikat dia dengan tali yang diambil Johan dari gudang.
Aku tahu kalau office boy akan menemukan Lola besok
pagi, tapi pada waktu dia ditemukan aku dan temanku
sudah sedang menikmati layanan VIP di negeri yang mau
kudatangi.