Tuesday, May 1, 2007

AFFAIR KAKAK IPAR

Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah
beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia
dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun
sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam hidup berumahtangga,
terutama rahasia terhadap istriku. Bermula pada saat beberapa tahun
yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku
diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya.
Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik
perasaan kelaki-lakianku; yaitu kakak perempuannya yang bernama Ima
(sebut saja begitu). Ima dan aku seusia, dia lebih tua beberapa
bulan saja, dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan
sudah dikaruniai 1 orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar.
Dengan tinggi badan 160 cm, berat badan kurang lebih 46 kg, berkulit
putih bersih, memiliki rambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya
bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku seksi,
sangat menggodaku. Pada awalnya kami biasa-biasa saja, seperti
misalnya pada saat aku menemani pacarku kerumahnya atau dia menemani
pacarku kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada
yang istimewa sampai setelah aku menikah 2 tahun kemudian dia
menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel
berbintang dengan dia bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar
sebelah kamarku.
Setelah menikah, frekuensi pertemuan aku dengan Ima jadi lebih
sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol sambil diselingi
canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku
berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang enak
untuk ditinggali. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya
yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta
beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan
di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat
suasana bisa lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat
sebentar rupanya istriku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja
keperluan bulanan. Tetapi aku agak mengantuk, sehingga aku meminta
ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat
dikaryakan untuk sementara. Jadilah aku tidur di kamar tidur tamu di
lantai bawah. Kira-kira setengah jam aku mencoba untuk tidur,
anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga aku putus asa dan
kuputuskan untuk melihat acara TV dahulu. Aku bangkit dan keluar
kamar, tetapi aku agak kaget ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima
menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see
dan dengan panjang kausnya sampai 15cm diatas lutut kakinya yang
putih mulus. "Lho..kok nggak ikut ?" tanyaku sambil semilir kuhirup
wangi parfum yang dipakainya, harum dan menggairahkan, "Tauk
nih..lagi males aja gue.." sahutnya tersenyum dan melirikku sambil
membuat sirup orange dingin dimeja makan, "Anto kemana..?" tanyaku
lagi tentang suaminya, "Lagi keluar negeri, biasa..urusan
kantornya.." sahutnya lagi. Lalu aku menuju kedepan sofa tempat
menonton TV kemudian aku asik menonton film di TV. Sementara Ima
berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).
Sedang asik-asiknya aku nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku
dari lantai atas; "Di..Adi..", "Yaa.." sahutku, "Kesini sebentar deh
Di..", dengan tidak terburu-buru aku naik dan mendapatinya sedang
duduk disofa besar untuk 3 orang sambil meminum sirup orangenya dan
menghidupkan TV. Dilantai atas juga terdapat ruang keluarga mini
yang lumayan tersusun apik dengan lantainya dilapisi karpet tebal
dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang sedang diduduki oleh
Ima. "Ada apa neng..?" kataku bercanda setelah aku sampai diatas dan
langsung duduk di sofa bersamanya, aku diujung kiri dekat tangga dan
Ima diujung kanan. "Rese luh..sini temenin gue ngobrol ama curhat"
katanya, "Curhat apaan?", "Apa! ajalah, yang penting gue ada temen
ngobrol" katanya lagi. Maka, selama sejam lebih aku ngobrol tentang
apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu,
bahwa Ima sebenarnya "bete" berat dengan suaminya, karena sejak
menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari
sebulan ditinggal. "Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak
temenin aku sekarang ini ?" tanyanya sambil menggeser duduknya
mendekatiku setelah gelasnya diletakan dimeja sampingnya. Aku bisa
menebak apa yang ada dipikiran dan yang diinginkannya saat ini. "Kan
gue sekarang lagi nemenin.." jawabku lagi sambil membenahi posisi
dudukku agar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin
mendekat ke posisi dudukku. Setelah tidak ada jarak duduk denganku
lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil
bertanya "Mau..?", aku diam saja sambil tersenyum dan memandang
matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. "Bagaimana
dengan orang-orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana
kalau mendadak istriku dan nyokap pulang ?" tanyaku, "Mereka tidak
akan datang kalau aku nggak panggil dan maknyak bisa berjam-jam
kalau belanja." jawabnya semakin dekat ke wajahku.
Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan
tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu
dekat di wajahku diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan
tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi,
tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan
rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir
merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya diam saja
mulai bergerak secara halus membelai-belai dipinggang
kanannya."Mmhh..mmhh.." nafas Ima mulai memburu dan
mendengus-dengus, kami mulai saling melumat bibir dan mulai
melakukan French kiss, bibir kami saling menghisap dan menyedot
lidah kami yang agak basah, very hot French kiss ini berlangsung
dengan dengusan nafas kami yang terus memburu, aku mulai menciumi
dagunya, pipinya, kujilati telinganya sebentar, menuju belakang
telinganya, kemudian bibir dan lidahku turun menuju lehernya,
kuciumi dan kujilati lehernya, "hhnngg.. Ahhdhii.. oohh.. honeey..
enngghh" desahnya sambil memejamkan matanya menikmati permainan
bibir dan lidahku di leher jenjangnya yang putih dan kedua tangannya
merengkuh kepalaku, sementara kepala Ima bergerak kekiri dan kekanan
menikmati kecupan-kecupan serta jilatan di lehernya.
Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian
turun membelai dan mengusap-usap beberapa saat dipaha kanannya yang
putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus
gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah
dadanya yang agak besar, bulat dan masih kencang, padahal setahuku
Ima memberikan ASI ke anak tunggalnya selama setahun lebih. Tanganku
bergerak nakal membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit
meremas pinggiran bawah buah dada kanannya. "Buah dadamu masih
kencang dan kenyal neng." kataku sambil kulepas permainan dilehernya
dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah tanpa
kusudahi remasan tanganku di buah dada kanannya. "Kamu suka yaa.."
sahutnya sambil tersenyum dan aku mengangguk. "Terusin dong.."
pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah.
"Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp.." ciuman maut kami beradu kembali.
Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai,
meremas, dan memuntir putingnya yang mengeras kenyal.
Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun
membelai tonjolan selangkanganku yang masih terbungkus celana katun.
Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga
membuat aku makin terangsang dan penisku makin mengeras dibuatnya.
Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang
menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku
menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun gunung
menuju keselangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk
meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba
CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah.
Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah
merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku dan
pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku
dilehernya yang jenjang dan halus diiringi desehan dan rintihannya
berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku
untuk masuk kedalam CD-nya meningkatkan finger play ku. Tanpa
menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan CD-nya dan mulai
membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari
tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di
labia mayoranya, sementara ! jari telunjuk dan jari manisku yang
bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir
vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.
Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya
mengeluarkan rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali.
Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk
membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali
kugesek-gesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai
kutekuk dan kugaruk-garuk jari tengahku agak dalam di bibir
vaginanya yang kenyal, lembut dan bersih. Sementara Ima makin
merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan
pinggulnya dengan gerakan naik turun kekiri dan kekanan "Ouuhh..
hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhii.. eehhnakh.. honey.. oohh... ..sshh.."
rintih dan desahannya berkali-kali. Finger play ini kusertai dengan
ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta sambil kami saling
menyedot lidah. Setelah puas dengan posisi miring, kemudian aku agak
mendorong tubuhnya untuk duduk dengan posisi selonjor santai,
sementara aku berdiri dikarpet dengan dengkulku menghadapnya, Ima
agak terdiam dengan nafasnya memburu, perlahan kubuka kaus
gombrongnya, saat itulah aku dapat melihat tubuhnya separuh
telanjang, lebih putih dan indah dibandingkan istriku yang berkulit
agak kecoklatan, dua bukit kembarnya terlihat bulat membusung padat,
sangat indah dengan ukuran 36B, putih, dengan puting merah muda dan
sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.
Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai
menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai,
menekan, dan meremas-remas buah dada kirinya dengan lembut. "Aahh..
hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh..
hihihi.. auhh..adhi.." Ima bergumam tak karuan menikmati
permainanku, kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima
mendesah-desah dan merintih-rintih hebat ketika putingnya
kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku
meremas buah dada kirinya dan memelintir-pilintir putingnya. Ima
sangat menikmati permainanku didadanya bergantian yang kanan dan
kiri, hingga dia tak sadar berucap "Adhii.. oohh.. bhuat ahkhuu puas
kayak adhikku di hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..", ups..aku agak kaget,
tanpa berhenti bermain aku berpikir rupanya Ima menguping "malam
pertamaku" dulu bersama istriku, memang pada malam itu dan pada
ML-ML sebelumnya aku selalu membuat istriku berteriak-teriak
menikmati permainan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah
saat yang sebenarnya juga sudah aku tunggu-tunggu dari dulu.
"Adhii.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh.."
ujarnya, tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan
kehalusan kulit tubuh Ima.
Setelah aku bermain dikedua buah dadanya, menjilat, menghisap,
menggigit, meremas dan memelintir, aku jilati seluruh badannya,
jalur tengah buah dadanya, perutnya yang ramping, putih dan halus,
kugelitik pusarnya yang bersih dengan ujung lidahku, kujilati
pinggangnya, "Aduuh.. geli dong sayang.. uuhh..", kemudian aku
menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi
sepuasnya "Aahh.. ayo dong sayang.. kamu kok nakal sihh.. aahh..",
sampailah aku di selangkangannya, Ima memakai CD transparan berwarna
merah muda yang terbuat dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat
basah oleh pelumas vaginanya. "Sayang.. kamu mau ngapain?" tanyanya
sambil melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan
mengedipkan mata kiriku kearahnya nakal. Dengan mudah CD-nya kubuka
ikatan sebelah kirinya setelah ikatan kanan telah terbuka, sekarang
tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benangpun menghalangi, kemudian
aku buka kedua kakinya dan kulihat pemandangan surga dunia yang
sangat indah.
Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan
belahan berwarna merah dan sangat bagus (mungkin jarang digunakan
oleh suaminya) meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan
diatasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat.
"Oohh.. Ima.. bersih dan merah banget.." ujarku memuji, "hihihi..
suka ya..?" tanyanya, tanpa kujawab lidahku langsung bermain dengan
vaginanya, kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali up and
down, tubuh Ima mengejang-ngejang "Aahh..aahh..dhhii..oohh..eenak
adhii..aahh..Anto nggak pernah mau begini..mmhh.." lidahku mulai
menjilati bibir vaginanya turun naik dan menjilati labia mayoranya
dengan ujung! lidahku. Ima menggeliat-geliat, mendesah-desah, dan
melenguh-lenguh, aku menjilati vaginanya sambil kedua tanganku
meremas-remas kedua buah dadanya "Hhnghh.. nngghh.. aahh.. dhii..
honey.." gumamnya sangat menikmati permainan lidah dan bibirku yang
menghisap-hisap dan menjilat-jilat klitorisnya berulang-ulang,
menghisap-hisap seluruh sudut vaginanya serta lidahku mendesak-desak
kedalam liang vaginanya berkali-kali tanpa ampun "Oohhnghh.. dhii..
more.. honey.. more.. ahh..", tangan kananku kemudian turun untuk
bergabung dengan bibir dan lidahku di vaginanya, sedikit-sedikit
dengan gerakan maju mundur jari tengahku kumasuk-masukkan kedalam
lubang vaginanya yang sudah becek, makin lama makin dalam kumasukkan
jari tengahku sambil tetap bergerak maju mundur.
Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai beraksi
menggaruk-garuk seluruh bagian dinding dalam liang surga Ima sambil
sesekali kugerakkan ujungnya berputar-putar dan kusentuh-sentuh
daerah G-spotnya, Ima meradang dan menggelinjang hebat ketika
kusentuh G-spot miliknya. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil
kuhisap-hisap klitorisnya. Ima berusaha mengimbangi finger playku
dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, kekiri dan kekanan
dan bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah
"Sshh..enghh..uuhh..Adhii..ouuhh..aahh..sshh..enghh.." tidak ada
kata-kata yang keluar dari bibirnya selain suara rintihan, erangan,
lenguhan dan desahan kenikmatan. Sekitar 20 menit kemudian liang
vaginanya berkedut-kedut dan menghisap "Oohhnghh.. ahh.. dhii..
akhu.. sham.. oohh.. henghh.. sham.. phaii.. aahh.. honey.. hengnghh
..aa..aa.." Ima berteriak-teriak mencapai klimaksnya sambil
menyemburkan cairan kental dari dalam vaginanya yang
berdenyut-denyut berkali-kali "serrtt.. serrtt.. serrtt.." kucabut
jariku dan aku langsung menghisap cairan yang keluar dari lubang
vaginanya sampai habis tak bersisa, tubuhnya mengejang dan
menggelinjang hebat disertai rintihan kepuasan, kedua kakinya
dirapatkan menjepit kepalaku, dan kedua tangannya menekan kepalaku
lebih dalam kearah vaginanya. Kemudian tubuhnya mulai lemas setelah
menikmati klimaksnya yang dahsyat "Aahh.. adhii.. eenghh.. huuhh.."
vaginanya seperti menghisap-hisap bibirku yang masih menempel dalam
dan erat di vaginanya. "Oh.. adi.. kamu gila.. enak banget.. oohh..
lidah dan hisapanmu waow.. tob banget dah.. oohh.." katanya sambil
tersenyum puas sekali melihat kearah wajahku yang masih berada
diatas vaginanya sambil kujilati klitorisnya disamping itu tanganku
tidak berhenti bekerja di buah dada kanannya, "Anto nggak pernah mau
oral-in aku..oohh.." dengan selingan suara dan desahannya yang
menurutku sangat seksi.
Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku, dan melumat bibirku
"Sekarang gantian aku, kamu sekarang berdiri biar aku yang bekerja,
oke ?!?" ujarnya, "Oke honey, jangan kaget ya.." sahutku tersenyum
dan mengedipkan mata kiriku lagi sambil berdiri, sekilas wajahnya
agak keheranan tapi Ima langsung bekerja membuka gesperku, kancing
dan retsleting celanaku. Ima agak terkejut melihat tonjolah ditengah
CD-ku, "Wow..berapa ukurannya Di ?" tanyanya, "Kira-kira aja
sendiri.." jawabku sekenanya, tanpa ba bi bu Ima langsung meloloskan
CD-ku dan dia agak terbelalak dengan kemegahan Patung Liberty-ku
dengan helm yang membuntal, "Aww.. gila.. muat nggak nih..?",
sebelum aku menjawab lidahnya yang mungil dan agak tajam telah
memulai serangannya dengan menjilati seluruh bagian penisku, dari
ujung sampai pangkal hingga kedua kantung bijiku dihisap-hisapnya
rakus "Sshh.. aahh.. Ima.. sshh.." aku dibuatnya merem melek
menikmati jilatannya. "Abis dicukur ya ?" tanyanya sambil terus
menjilat, aku hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.
Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum
penisku, "Mm.." gumamnya, penisku mulai masuk seperempat kemulutnya
kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi dibagian bawah
penisku sambil menghisap-hisap penisku "Serrp.. serrp.. serrp..",
tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya
memilin-milin batang penisku, nikmat sekali rasanya "Aahh.. sshh..."
aku menikmati permainannya, lalu mulut mungilnya mulai menelan
batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan, kurasa kenikmatan
yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada
taranya saat penisku terbenam seluruhnya didalam mulutnya. Agak
nyeri sedikit diujung helmku, tapi itu dikalahkan nikmatnya kuluman
bibir iparku ini. Ima mulai memaju mundurkan gerakan kepalanya
sambil terus mengulum penisku, "Sshh.. aahh.. enak.. Ima..a hh..
terus .. sayang.. uuhh.." gumamku, lidahnya tidak berhenti bermain
pula sehingga aku merasakan goyangan-goyangan kenikmatan dipenisku
dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun, nikmat sekali, aku mengikuti
irama gerakan maju mundur kepalanya dengan memaju mundurkan
pinggulku, kedua tanganku ku benamkan dirambut kepalanya yang
kuacak-acak, Ahh nikmat sekali rasanya "Clop.. clop.. clop..".
Setelah itu dengan agak membungkukkan posisi tubuhku, tangan kananku
mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai
meremas-remas buah dada kanannya, kuremas, kuperas, kupijit dan
kupuntir puting susunya, desahannya mulai terdengar mengiringi
desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok dan menghisap
penisku, "Ima.. mmhh.." rintihku. Mendengar rintihanku, Ima makin
mempercepat tempo permainannya, gerakan maju mundur dan
jilatan-jilatan lidahnya yang basah makin menggila sambil dihisap
dan disedot penisku, dipuntir-puntirnya penisku dengan bibir
mungilnya dengan gerakan kepala yang berputar-putar membuat seluruh
persendian tubuhku berdesir-desir dan aku merintih tak karuan.
"Aahh.. Ima.. oohh.. mmnghh.. gila benerr.. oohh.." Kuluman dan
hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit, "Gila luh.. 20 menit gue
oral kamu nggak klimaks.. sampai pegel mulut gue." katanya sambil
berdiri dan melingkarkan kedua tangannya dileherku untuk kemudian
kami berciuman sangat panas, Ima sambil berdiri berjinjit karena
tinggiku 172 cm, sedangkan dia 160 cm. 5 menit kami menikmati ciuman
membara.
Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bulat
dan padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu aku membopongnya
menuju kekamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh
mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah
dikasur empuknya sambil terus berpelukan. Nafas kami saling memburu
deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat, berguling
kekanan dan kekiri "Mmhh.. mmhh.. serrp.. serrp..", tangan kananku
kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir
putingnya, Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati
permainan ini sambil bibirnya dan bibirku saling mengulum deras,
berpagutan, menghisap lidah, dan dengan nafas saling memburu.
Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan, Ima mendesah-desah sambil
kakinya dilingkarkan dipinggangku dan menggoyang-goyangkan
pinggulnya. Penisku terjepit diantara perutnya dan perutku, dan
karena Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya, kurasakan
gesekan-gesekan nikmat pada penisku, "Aahh..ahh..adi..cumbui aku
honey..ahh..puasi aku sayang..ehmm.." Ima mengerang-erang. Aku
kembali meluncur ke kedua buah dadanya yang indah dan mulai
menjilati, menghisap, menggigit-gigit kecil, meremas, dan memilin
puting susunya yang sudah mengeras "Ahh.. terus honey.. oohh..
sshh..", setelah puas bermain dengan kedua buah dada indahnya, aku
menuruni tubuhnya untuk melumat vaginanya, kujilati semua sudutnya,
up and down, kuhisap-hisap klitorisnya dan kujilat-jilat,
kuhisap-hisap lubang vagina dan klitorisnya sepuas-puasnya "Oohh..
oohh.. sshh.. aahh.. honey.. kham.. muu.. nakhal.. oohh.. nakhaal..
banget sihh.. henghh.. oohh.. emmhh.." desahan demi desahan diiringi
tubuhnya yang menggelinjang dan berkelojotan, vaginanya terasa makin
basah dan lembab, "Aaahh..dhhii..oohh.." vaginanya mulai
mengempot-empot sebagai tanda hampir mencapai klimaks, sementara
penisku sudah mengeras menunggu giliran untuk menyerang.
Aku melepas jilatan dan hisapanku di vaginanya untuk kemudian
bergerak keatas kearah wajahnya yang manis, kulihat Ima mengigit
bibir bawahnya dengan dahinya yang mengerenyit serta nafasnya yang
memburu ketika ujung penisku bermain di bibir vaginanya up and down
"Mmhh.. adi.. ayo dong.. aku udah nggak tahan nihh.. oohh.. jangan
nakal gitu dong.. aahh.." Ima menikmati sentuhan binal ujung penisku
dibibir vaginanya "Okhe.. honey.. siap-siap yaa.." kataku juga
menahan birahi yang sudah memuncak. Perlahan kuturunkan penisku
menghunjam ke vaginanya "Enghh.. aahh.. adi.. oohh.. do it honey..
oohh.." desahnya, Vaginanya agak sempit dan kurasakan agak kempot
kedalam menahan hunjaman penisku. "Slepp.." baru kepala penisku yang
masuk, Ima berteriak "Enghh.. aahh.. enak sayang.. sshh.. oohh.."
sambil mencengkeram bahuku seperti ingin membenamkan kuku-kuku
jarinya kekulitku "Ayo adi.. aahh.. terusss honey.. aahh.. aahh.."
vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda
awal menuju klimaks "Ahh.. Ima.. enak banget..itu mu.. ahh.." aku
menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku.
Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak "Aadii.. aahh..
khuu.. aahh.. aahh.. oohh.." Ima kembali berteriak dan merintih
mencapai klimaksnya dimana baru kepala penisku saja yang masuk. Aku
geregetan, sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan aku belum
sama sekali, begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, aku langsung
menghunjamkan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya
"Sloop..sloop..sloopp.." dengan gerakan turun naik yang berirama
"Aahh.. aahh.. hemnghh.. oohh.. aahh.. dhii.. aahh.. aahh.. ehh..
nhak ..sha..yang.. enghh..oohh.." Ima mendesah-desah dan
berteriak-teriak merasakan nikmatnya rojokan penisku di liang
vaginanya yang sempit dan agak peret.
Aku terus menaik turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan keliang
vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah dan
merintih-rintih merasakan gesekan-gesekan batang penisku dan
garukan-garukan kepala penisku didalam liang vaginanya yang basah
dan kurasakan sangat nikmat, seperti menghisap dan memilin-milin
penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras kudengar
memenuhi ruang kamarnya sementara deru nafas kami semakin! memburu,
dan akhirnya "Aahh.. dhii..ahh.. khuu.. sam..phai.. lhaa..ghii..
aahh..aahh.. aahh.." jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan
ketiganya, aku masih belum puas, kutarik kedua tangannya dan aku
menjatuhkan diri kebelakang sehingga posisinya sekarang Ima berada
diatasku. Setelah kami beradu pandang dan berciuman mesra sesaat,
Ima mulai memaju mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir
penisku didalam liang vaginanya, gerakan-gerakannya berirama dan
semakin cepat diiringi suara rintihan dan desahan kami berdua,
"Aahh.. Ima.. oohh.. enak banget..aahh.." aku menikmati gerakan
binalnya, sementara kedua tanganku kembali meremas kedua buah
dadanya dan jemariku memilin puting-putingnya "Aahh.. hemhh.. oohh..
nghh.. " teriakannya kembali menggema keseluruh ruangan kamar,
"Tahan.. dhulu.. aahh.. tahan.." sahutku terbata menikmati gesekan
vaginanya di penisku, "Enghh.. akhu.. nggak khuat.. oohh.. honey..
aahh.." balasnya sambil mengelinjang-gelinjang hebat dengan
vaginanya yang sudah mengempot-empot "Seerrt.. seerrt.. seerrt.."
Ima mengeluarkan banyak cairan dari dalam vaginanya dan aku
merasakan hangatnya cairan tersebut diseluruh batang penisku,
tubuhnya mengigil disertai vaginanya berdenyut-denyut hebat dan
kemudian Ima ambruk dipelukanku kelelahan "Oohh.. adhi.. hhhh..
mmhh.. hahh..enak banget sayang.. oohh.. mmhh.." bibirnya kembali
melumat bibirku sambil menikmati klimaksnya yang keempat, sementara
penisku masih bersarang berdenyut-denyut perkasa didalam vaginanya
yang sangat basah oleh cairan kenikmatan dari vagina miliknya yang
masih berdenyut-denyut dan menghisap-hisap penisku.
Kami terdiam sesaat, kemudian "Aku haus banget sayang, aku minum
dulu yaa..boleh ?" pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat
sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak
kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku, "Boleh, tapi jangan
lama-lama ya, aku belum apa-apa nih.." ujarku jahil sambil
tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Ima melepas pelukannya,
melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya "Plop.." sambil
memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan
didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan
berjalan keluar kamar mengambil sirup orange dimeja samping sofa.
Kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan
menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima
berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali
pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima
masuk kekamar mandi, sejenak kuikuti dia, kulihat Ima sedang
membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk "Kenapa ?
Udah nggak sabar ya ?" tanyanya sambil melirikku dan tersenyum
menggoda.
Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang dan kuciumi
tengkuknya, pundaknya dan lehernya. Sementara kedua tanganku
bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus. "Aahh..beneran nggak
sabar..hihihi.." ucapnya "Emang..abis upacaranya banyak amat.".
Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku mulai menuju kebuah
dada kanan dan kirinya, dengan posisi tangan kananku yang melingkar
di dadanya dua bukit bulat nan indah miliknya kugapai, sementara
tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya.
"Hemhh..sshh..aahh..enghh.." desahannya mulai terdengar lagi setelah
jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya, sesekali
kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku kedalam liang vaginanya
yang mulai basah! dan lembab serta tak ketinggalan tangan kananku
meremas-remas buah dada kanan dan kirinya. Kedua kakinya agak
diregangkan sehingga memudahkan jemari tangan kiriku bergerak bebas
meng-eksplorasi vaginanya dan bibir serta lidahku tidak berhenti
mencium juga menjilat seluruh tengkuk, leher dan pundaknya kiri dan
kanan, sementara tangan kanannya menggapai dan membelai-belai
rambutku serta tangan kirinya membelai-belai tangan kiriku. "Ahh..
adhhii.. sshh.. mmhh..enak sayang..enghh..enaakhh..", kurasakan
vagina mulai berdenyut-denyut, lalu agak kudorong punggungnya
kedepan, kedua tangannya menjejak washtaffel didepannya, kemudian
pinggulnya agak kutarik kebelakang serta pinggangnya agak kutekan
sedikit kebawah. Setelah itu kudorong penisku membelah kedua
vaginanya dari belakang "Srreepp.." aku tidak mau tanggung-tanggung
kali ini, kujebloskan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya
"Oouhh.. aahh.. adhhii.. oohh.." teriaknya berkali-kali seiring
dengan hunjaman-hunjaman penisku, tangan kiriku mencengkeram
pinggang kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dada
kanannya yang sudah sangat keras dan kenyal "Aahh.. adhii.. aahh..
harder.. aahh.. harder honey..aahh.." pintanya sehingga gerakan maju
mundurku makin beringas "Pook.. pook.. pook.." bunyi benturan
tubuhku dibokongnya. Beberapa lama! kemudian liang vaginanya mulai
mengempot-empot dan menghisap-hisap kembali dan aku tak kuasa
menahan rintihan-rintihan bersamaan dengan rintihannya "Ima.. aahh..
enak shay.. hemnghh.." "Aahh.. akhuu.. aahh.. sham.. phai.. aahh..",
"Tahan.. dulu.. sha.. yang..hhuuh.." ujarku sambil terus
menghunjam-hunjamkam penisku beringas karena aku juga mulai
merasakan hal yang sama, "Aahh.. akhuu.. nggak.. kuat.. aahh..
AAHH.." "Seerrt..seerrt..seerrt.." kembali Ima mencapai klimaks dan
menyemburkan cairan kental tubuhnya, berkali-kali, aku nggak peduli
dan tetap ku genjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang
sudah sangat becek.
Kurasakan penisku seperti disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam
vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya
mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku
kemudian ke ujungnya lantas memuncratkan sperma hangatku ke dalam
vaginanya yang hangat "Aahh..." kami mendesah lega setelah sedari
tadi! berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat. Tubuh Ima
mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian
kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan
menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Ima menikmati sensasi
kenikmatan klimaksnya. "Ahh.. punyamu enak ya Ima.. bisa
ngempot-ngempot gini.."ujarku memuji, "Enak mana sama punya adikku
?" tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan
tersenyum "Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh.." kucium mesra
bibirnya dan Ima memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku
"Ploop.." "Aahh.." Ima agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya
keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Ima
merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya
sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya "Mmhh..mmhh.." tangan
kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam
bertempur "Kamu hebat Di, udah 2 jam masih keras aja.. dan kamu
bener-bener bikin aku puas." puji Ima, "Sekali lagi yaa, yang ini
gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku
selamanya, oke ?!" balasku, sambil berkata aku mulai menggeser
tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku
memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu.
"Sleepp.." "Auuwhh.." Ima agak menjerit. Perlahan tapi mantap
kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima
merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya
dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat
didinding-dinding vaginanya yang becek "Hehhnghh.. engghh.. aahh.."
gerangnya.
Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin
lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Ima yang
berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku
dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga
tubuhku, Ima mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh
"Aahh.... oohh.. sshh.. teruss.. honey.. oohh..", sementara akupun
terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan
menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya "Enghh..
Imaa.. oohh.. ennakh.. sayang..?" tanyaku "He-eh.. enghh.. aahh..
enghh.. enakhh.. banghethh.. dhii... aahh.." lenguhannya kadang
meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya "Oohh..
adhii.. oohh.. enghh.." tubuhnya mulai bergelinjangan dan
berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai
mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami,
aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang
penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar
pinggul Ima yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang
penisku, nikmat sekali.
Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya
menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Ima yang indah
dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa
batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin
menghisap-hisap "Enghh.. Adhii.. oohh.. shaa.. yang.. aahh.." kedua
tangan Ima meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah
keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir
mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan
badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin
beringas. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk
bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua
tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk
meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting
susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku
kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Ima tidak berhenti
merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya
agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin
nikmat dan membawa kami melayang jauh. "Oohh.. Ahh.. Dhii.. enghh..
ehn.. nnakhh.." desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan
batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama
merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling
memburu.
Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju
penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada
siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah
oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan
tubuhku diatas tubuh Ima, kedua kaki Ima mulai menjepit pinggangku
lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan
dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami
sambil berciuman Mmnghh.. mmhh.. oohh.. ahh.. Dhii.. mmhh.. enghh..
aahh.." "Oohh.. Imaa.. enghh.. khalau.. mau sampai.. oohh..
bhilang.. ya.. sha.. yang..enghh..aahh.." ujarku meracau "Iyaa..
honey..oohh..aahh.." tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut
kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir
dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur
pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekanan dan kekiri pinggul
Ima. "Oohh.. dhii.. oohh.. uu.. dhahh.. belomm.. engghh.. akhu..
udahh.. nggak khuat..niihh,," erangan-erangan kenikmatan Ima
disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya
yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai
klimaksnya "Dhikit.. laghi.. sayang.. oohh.." sambutku karena
penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut "Aahh.. aa.. dhii..
noww..oohh.. enghh..aahh" jeritnya "Yeeaa.. aahh.." jeritanku
mengiringi jeritan Ima, akhirnya kami mencapai klimaks bersamaan,
"Srreett.. crreett.. srreett.. crreett.." kami secara bersamaan dan
bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil
mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku
menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam
liang vag! ina Ima, sementara Ima membelit pinggangku dengan kedua
kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan
lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.
Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat,
vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan
spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih
berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami
mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping
kanannya.
Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan
kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan
mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia
kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan
dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan
kiriku membelai rambut dan pundaknya. "Adi.. kamu hebat banget, gue
sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali
belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh.." Ima berkata sambil
menghela nafas panjang "Ma kasih ya sayang.. thank you banget.."
ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin
diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari
4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman
dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh
keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan
membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah
selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah
untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya
pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih
saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku
"Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya
sayang.." "Pasti !" jawabku, lalu kami kembali berciuman. Sejak
kejadian itu, tiap kali Anto (suaminya) tidak di Jakarta, paling
tidak seminggu 2 kali aku pasti datang kerumah Ima iparku itu untuk
mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam dengan alasan pada
istriku lembur atau ada rapat dikantor, dan sebulan sekali aku pasti
menghabiskan weekendku merengkuh kenikmatan langit ketujuh berdua
Ima.