Tuesday, May 1, 2007

MBAK MARISA

Mendung tipis berarak di langit. Aku menatap lapisan awan hitam itu
sejenak. Sebentar lagi pasti hujan. Dan seperti biasa, sementara
aroma angin menjelang hujan menerpa leher, setiap kali hendak hujan
aku selalu teringat masa paling mengasyikkan dalam hidupku. Masa di
mana sesosok perempuan secantik dewi tiba-tiba hadir memberikan
kehangatan dan kenikmatan luar biasa ketika aku masih duduk di
bangku kelas 2 SMA.
Cuaca agak mendung ketika sebuah truk boks berhenti di depan rumah
kosong persis di sebelah kanan rumahku. Seorang laki-laki turun,
diikuti seorang perempuan yang menurutku teramat cantik. Kecantikan
itu bisa kulihat dari warna kulitnya yang amat benderang dalam
balutan blus tipis yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, Manakala
turun dari kendaraan, ia sedikit menunduk dan bisa kunikmati sejenak
belahan dadanya yang bersih dan penuh. Sebagai lelaki remaja kelas 2
SMA, perempuan yang kuperkirakan berusia di atas 25 tahun ini
merupakan sosok terindah yang pernah kulihat. Aku berseru senang
dalam hati manakala kutahu ia adalah tetangga baruku.
Satu-dua hari pertama tak terlihat perempuan itu di luar rumah. Ia
pasti sibuk mengatur rumah. Sesekali sang lelaki, suaminya, berada
di luar rumah untuk melepas penat. Lelaki itu melambai padaku ketika
aku memperhatikannya. Seorang lelaki gagah dan ganteng, dengan usia
beberapa tahun di atas perempuan itu. "Rumah Pak RT di mana?" tanya
lelaki itu menghampiriku.. "Di sini," aku menunjukkan rumahku, "Ayah
saya Pak RT"
Malam itu pasangan baru itu berkunjung ke ayahku. Aku yang
membukakan pintu. Kini bisa kulihat jelas raut perempuan itu.
Demikian cantik. Rambutnya lurus panjang. Hidung mancung. Bibirnya
merekah, pipinya merona dan pandangan matanya benar-benar membuat
dadaku berdebar-debar.
"Perkenalkan, nama saya Fredi dan ini istri saya, Marissa. Kami
pindah kemari tiga hari lalu. Kami mau melapor pindah," kata lelaki
itu sopan. Ia memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga kepada
ayahku. Kulirik sejenak tanggal lahir Mbak Marissa. Benar, ia
berusia 26 tahun. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak
Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Aku
tahu banyak cewek cantik di sekolah naksir aku, tapi aku tak pernah
tertarik. Bila bertatap mata dengan Mbak Marissa, dadaku
berdebar-debar. Sering diam-diam aku menatapnya dari kejauhan
manakala ia bekerja di taman kecil kebun di depan rumahnya. Ia juga
kadang menatapku sekilas, dan melempar senyum kecil, yang menurutku
teramat hangat itu. Dan akan makin panas dingin aku dibuatnya kalau
ia bekerja sore-sore di depan rumah itu denga tank-top dan celana
pendek yang menampakkan dua paha mulusnya yang jenjang.
Dua minggu setelah kepindahan mereka, Mbak Marissa mengantar Fredi
suaminya naik taksi di depan rumah. Sebelum masuk taksi, Mas Fredi
menghampiri ayahku yang sedang membaca surat kabar di beranda
"Saya titip rumah, Pak RT. Saya harus bertugas ke Papua selama 6
bulan," kata Fredi. Ayahku mengangguk. Fredi kemudian memeluk dan
mencium pipi Mbak Marissa mesra. Mbak Marissa membalasanya. Ah, aku
merasa Mbak Marissa seperti sengaja ingin membuatku cemburu.
Suatu sore, aku tengah membantu ibuku mengangkat jemuran di bagian
belakang rumah ketika pintu di tembok belakang rumah diketuk-ketuk.
Aku ingat itu pintu yang menghubungkan rumahku dengan rumah sebelah.
Aku membuka selot dan membuka pintu. Mbak Marissa berdiri di situ,
dengan tank-top dan celana pendek favoritnya, yang sekarang jadi
favoritku juga.
"Hei, ada pintu tembus, rupanya!" celetuknya riang. Suaranya empuk
dan meneduhkan.
"Ya, rumah ini dulu rumah Pakde saya. Karena kami keluarga, maka
dibuatlah pintu penghubung ini," aku bicara gugup.
"Namamu siapa, sih?" Tanya Mbak Marissa.
"Mirza!"
"Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Eh, ngomong-ngomong,
Mbak baru bikin brownies buat mama kamu, nih!" Mbak Marisa
mengangsurkan sepiring brownies. Aku mengucapkan terimakasih. Mbak
Marisa mengerling dengan senyum semanis brownies itu, dan menghilang
di balik pintu.
Seminggu kemudian, sore itu mendung mulai menyergap, dan pada malam
harinya hujan benar-benar turun menghujam ke bumi. Entah kenapa aku
jadi ketakutan. Itu mungkin karena ayah dan ibuku tidak ada di
rumah. Tadi padi mereka terbang ke Banjarmasin untuk menengok
kakakku yang melahirkan. Mereka akan berada di Banjarmasin sampai
minggu depan. Aku menatap jam dinding. Pukul 9 lebih sedikit. Dan
tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Kebiasaan jelek. Kalau hujan,
pasti lampu mati. Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin. Aku
menemukan sebungkus lilin, dan menyalakannya dengan korek api yang
tergeletak di sebelahnya. Cahaya mulai menggerayangi ruangan.
Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Aku
terkejut. Mbak Marisa berdiri di sana. Ia pasti masuk lewat pintu
terobosan di belakang yang tidak terkunci..
"Punya lilin?" tanyanya. Kali ini, ia dalam balutan tank-top lain
yang sangat seksi-dan setelah kuperhatikan lama--, tanpa beha,
dengan rok longgar yang menurutku teramat pendek. Ia bicara dekat
sekali di depanku. Dadanya bergoyang-goyang ketika ia mengisyaratkan
kedinginan. Aku memberikan lilin itu dan memberanikan diri
menatapnya agak lama sambil sesekali memperhatikan dadanya.
"Kamu nggak takut sendirian? Kan hujan dan gelap?" tanya Mbak
Marisa.
"Nggak. Mbak sendiri?" tanyaku, sedikit gugup.
"Nggak. Sudah biasa! Eh, ayah dan ibumu lama ya perginya?" Tanya
Mbak Marisa.
"Sampai minggu depan!" jawabku.
"Kesepian, dong?" celetuk Mbak Marissa.
"Iya, gitu deh!" kataku, masih sedikit gugup. "Mbak gimana?"
"Biasa aja. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi," ia menatapku
tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku.
"Sudah, ya, aku balik dulu" ia pamit. Sejenak matanya menatapku.
Kulihat dalam remang ia menggigit ujung bibirnya. Aroma farfumnya
tertinggal di ruanganku.
"Ya, mbak, selamat malam!" kataku. Jauh dalam hati aku sih pingin
bilang, "Please dong temenin saya sebentar! Pingin sekali rasanya
menatap Mbak Marissa berlama-lama, sambil membayangkan bagaimana
rasanya mencium bibirnya yang seksi. "Ah, itu cuma angan gila yang
tak masuk akal!" pikirku.
Aku menyalakan satu lilin lagi dan menutup korden rumah serta
mengunci pintu. Di luar sepi dan dingin sekali. Hujan masih turun.
Aku yakin tak ada orang yang berkeliaran di luar rumah malam ini.
Sekarang, hal yang paling asyik adalah adalah masuk kamar tidur dan
membayangkan Mbak Marissa berada di sisiku.
Aku duduk di kursi dan menuang air minum. Tiba-tiba aku mendengar
suara dari belakang rumah. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Mbak
Marissa datang lagi lagi. "Sori, Mir. Lilinku habis. Dan aku jadi
ketakutan mendengarkan suara hujan dalam gelap," kata Mbak Marissa.
Ia berdiri sangat dekat di hadapanku. Bias kucium harum tubuhnya.
"Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau," jawabku, aku bersiap
bangkit dari kursiku. "Nggak usah," Mbak Marisa menahanku. Mendidik
dadaku merasakan tangannya mendarat di pundakku. Aku hanya bisa
mematung duduk persis di hadapannya. Darah seperti terpompa ke
ubun-ubunku.. "Aku mau di sini saja, kalau boleh. Boleh, kan?" Mbak
Marissa menunduk, mencoba mensejajarkan wajahnya denga wajahku. Ini
membuatku dengam mudah melihat kepundan di dantara dua gunung indah
di dadanya. Dan kali ini aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini,
karena aku berpikir Mbak Marissa sengaja membiarkan aku melihatnya.
Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat. "Eit, kau melihat
dadaku terus!" Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Aku terperangah
malu tertangkap basah seperti itu. "Sori, Mbak!" "Kau bilang sori,
tapi terus menatap dadaku. Kalau melihat terus seperti itu, ntar
kepingin lho?" seloroh Mbak Marissa dengan suara lembut menggoda.
Dan entah kenapa aku merasa tak terlalu kuat menahan gejolak mudaku.
Meluncur saja kalimat itu dari mulutku. "Kalau saya kepingin,
bagaimana?" tanyaku. Kutatap matanya penuh-penuh. Ia mendekat dan
melepaskan tangannya dari dadanya. Ia mendekatkan wajahnya ke
arahku.. "Mirza, aku tahu aku lebih tua darimu. Tapi aku tahu kau
menyukaiku. Itu dari caramu menatapku dan menelusuri tubuhku dengan
tatapanmu. Tanyakan sekali lagi pertanyaanmu, dan kau akan tahu
apakah aku menyukaimu juga," kata Mbak Marissa. Aku mengulang
pertanyaanku, "Kalau saya kepingin, bagaimana?" Mbak Marissa
tersenyum "Kalau kau kepingin," ia membuka tali di kanan-kiri dan
melorotkannya perlahan, membiarkan dua buah dadanya menyembul
menantang, "kau boleh menyentuhnya,"
Berdebar jantungku. Tubuhku seperti mendidih. Mbak Marissa
benar-benar seksi dengan dada terbuka dan bibir mereka dalam remang
di tengah hujan malam ini. "Sentuh puting ini dengan lidahmu, Mirza.
Aku menginginkannya, lebih dari yang kau impikan". Tiba-tiba saja
Mbak Marissa menarik kepalaku dan membenamkan dadanya ke wajahku.
Dibantunya mulutku menemukan puting merah muda itu. Putting dan
bundaran empuk di dada Mbak Marissa seperti memberi jalan dan
megajariku untuk mengulum-ngulum dan memutar-mutarnya agar
pemiliknya mendapatkan nikmat yang istimewa. Mbak Marissa mendesah
makin keras dalam tingkahan suara hujan. Aku makin membara dan
membara. Kujelajahi dengan mulutku semua permukaan dadanya. Mbak
Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan
beringas berkali-kali. "Kamarmu! Bawa aku ke kamarmu segera!" desah
Mbak Marissa. Aku tak segera bergerak. Ia menghelaku ke kamarku dan
menjerembabkan aku ke tempat tidur. Ia melepas tank-top dan melepas
kaosku. Ia pun tak segan-segan melepas celanaku dan tanpa ragu-ragu
menjilati, mengulum dan menghisap penisku. Sungguh malam yang luar
biasa. Aku seperti tenggelam dalam segala macam rasa : coklat,
vanilla, strawberry, almond. Mbak Marissa benar-benar menikmatinya.
Kubiarkan pula ia menjadi guru yang baik dan memberikan pengalaman
itu. Ia melepas sendiri celananya dan membantu membimbing masuk
penisku yang keras ke dalam vaginaya yang basah. Sesekali ia
menghentikan ujung penisku di bagian bawah vagina dan dengan asyik
mengusap-usapkannya ke pinggiran vagina itu. Benar-benar aku
melayang-layang penisku mendapatkan rekreasi yang nikmat dan indah
itu. Dan dengan gelora yang memuncak dalam limpahan keringatku dan
keringat Mbak Marissa, ia membiarkan penisku meluncur ke vaginanya
berulang-ulang. Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang,
mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku. Dan
kesempatan itu tak kusia-siakan. Aku balik menyerangnya,
menggumulinya dan memberikan semua yang ia ingin dan ia mau.
Kubiarkan ia terus mengerang dan mengaduh, mendesah.
Mbak Marissa kembali ke rumahnya lewat pintu belakang jam 5 pagi.
Dan tak perlu menunggu sore, ia kembali siangnya, sekitar pukul 10
dan menyerangku lagi di minggu pagi itu. Ia memberiku kenikmatan
seminggu penuh. Kadang sampai 2 kali sehari, kadang pula sampai
harus membuatku membolos sekolah.
Affairku dengan Mbak Marissa berlangsung terus sampai menjelang
kedatangan suaminya. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar
hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah
dagau kosong di gunung Bromo dan di mana saja.
Aku tak bertemu lagi dengan Mbak Marissa ketika suaminya datang dan
mengajaknya serta pindah ke Jakarta. Namu, meski Mbak Marissa tak
ada lagi, bila hari menjelang hujan, penisku selalu berdiri, dan
bisa kubayangkan aroma tubuh dan gelinjang gelora mbak yang cantik
dan seksi itu.