Tuesday, May 1, 2007

SEX GILA HANSEN

Orang yang paling senang mendengar berita kehamilanku adalah Meika.
“Wuaaahhhhh!!! Selamat ya! Mmmuuaach! Muuaachh! Muaacchh!…. mmmuuu….”
“Sudah, sudah ah Ka….”
“Belon! Waduh! Gua seneng banget. Huaebaat bangeett!!”
“Hebat apanya? Udah kawin ya terus hamil, ya biasa aja ‘kan?”
“Ngga biasa! Apalagi si Ko Han-Han itu udah pengin banget. Dan gua juga pengin
keponakan…. hihihi… buat nemenin si Erick.”
“Erick kan udah ampir dua taon.”
“Justru itu! Jadi dia punya dedek!”
“Ka, emangnya kamu gak mau nambah anak lagi?”
Mendadak, Meika diam. Ooops, aku salah bertanya. Aku tahu, Robby, suaminya,
sudah tidak begitu hangat lagi. Apalagi, sekarang ini Meika mulai mendapat karir
sebagai pengusaha wanita yang sukses, sebaliknya Robby malah kena PHK.
Pesangonnya sih besar, tapi kebanggaan laki-laki kan pekerjaan… tapi, memang
dari dulu si Robby begitu. Agak malas. Maunya bersenang-senang. Ngeseks. Duh,
seandainya saja Meika waktu itu tidak hamil….
Sementara itu, ternyata hamil bukan sesuatu yang menyenangkan. Aku mabok di pagi
hari, muntah di siang hari, lemas di sore hari, pokoknya serba tidak karuan
rasanya. Untungnya ada Rena, yang sekarang terbukti benar-benar jadi malaikat
bagi keluarga kami. Dia betul-betul berubah; sekarang setiap pulang sekolah,
Rena selalu membereskan rumah, mencuci pakaian, dan mulai belajar memasak. Aku
tahu caranya memasak, tetapi sejak hamil ini aku tidak tahan mencium bau bawang.
Jadi, aku hanya memberi petunjuk, lalu terbaring lemah di ranjang. Rena yang
mengerjakan ini dan itu.
Hansen yang sudah mau jadi Ayah, malah semakin sibuk keliling ASEAN. Aku tahu,
masalahnya kami selama ini belum punya cukup banyak tabungan untuk biaya-biaya.
Kalau hanya untuk melahirkan sih ada, tetapi sesudahnya? Kami kan harus
mempersiapkan biaya perawatan bayi, lalu sekolah, lalu ini dan itu. Jaman
sekarang, punya anak itu mahal! Sekali lagi, aku terbantu karena Meika sekarang
rajin menelepon, dan setiap kali aku butuh bantuan ke dokter, Meika muncul
dengan Honda Jazz-nya. Enak ya, walau hamilnya bikin lemas, tetapi dari sana dan
sini, terutama dari sobat baikku yang sekarang jadi saudara iparku, ada segala
pertolongan yang dibutuhkan.
Sekali waktu, Meika seperti biasa pagi-pagi datang dengan Robby, yang masih
menganggur. Suaminya bosan di rumah, dan mau jadi sopir bagi kami berdua —
mengapa tidak? Tapi, kali itu Robby kelihatan tidak enak badan. Mungkin kurang
tidur. Jadi, aku dan Meika pergi ke dokter berdua saja, sementara Robby tidur di
sofa. Toh waktu itu rumah kosong, karena Rena masih sekolah sampai sore.
Aku tidak berpikiran apa-apa, waktu menjumpai Rena duduk termenung di ruang
tengah, di malam hari ketika aku sampai kembali ke rumah, sedang Robby dan Meika
juga terus pulang. Aku mulai heran ketika dua minggu kemudian, Meika mengajakku
pergi belanja keperluan bayi, sementara Robby lagi-lagi mengatakan tidak enak
badan. Ketika pulang, lagi-lagi aku menemukan Rena seperti amat tertekan.
Akhirnya, ketika dua minggu berikutnya aku ke dokter dengan kondisi yang sama
terjadi lagi — ketiga kalinya — aku terus menginterogasi Rena. Apa yang terjadi?
Sungguh mengejutkan.
Ketika pertama kali Robby tinggal di rumah, ia memang tidur — sampai tahu-tahu
Rena pulang dari sekolah. Seperti biasa, gadis itu masuk dari pintu belakang,
menaruh sepatu di rak, lantas masuk ke dalam. Rena terkejut menemui Robby yang
tertidur di sofa, tapi karena memang ia sudah kenal, jadi Rena tidak mengganggu
dan terus masuk ke kamarnya sendiri, berganti baju, dan seperti biasa mulai
membersihkan rumah. Ia memakai t-shirt yang panjang dan celana pendek, dengan
sendal jepit dan mulai dengan mencuci baju. Robby belum bangun. Rena kemudian
menyapu.
Di saat itulah, sedang asyiknya Rena menyapu, tiba-tiba ia dipeluk dari
belakang. Pelukan kuat.
“Ko Robby… lepasin dong!”
“Rena, kamu cantik sekali…. hhuuummppfff” Robby mencium leher Rena dari
belakang. Rena menjadi panik.
“Ko Robby…. sadar dong! Saya Rena! Adiknya Ka Meika!”
“Ya kenapa? Dulu Meika juga hot kayak kamu. Tetapi sekarang Meika dingin… lebih
panas kamu nih… Cuppp” Robby mempereat pelukannya dan mencupang leher Rena.
Gadis itu panik. Ia meronta. Tiba-tiba, Robby menjadi marah. Ia menampar Rena.
“Perek sialan! Lu pikir gua ngga tahu kelakuan elo? Lu pikir gua engga tahu
nafsunya elo? Dulu elo dientotin, sekarang juga pasti masih pengin! Kalo elo
bagi-bagi buat temen-temen, elo jangan pelit ama gua!” Sambil menghabiskan
kata-kata itu, Robby menampar sekali lagi. Rena terpelanting. Ia mendadak pusing
dan lemas. Robby serta merta menelentangkan Rena di atas karpet, lalu
menyingkapkan daster panjangnya hingga ke perut. Dengan cepat direnggutnya
celana dalam krem itu. Kemaluan Rena sekali lagi terpampang di hadapan seorang
laki-laki.
Robby menyeringai melihat kemaluan gadis itu, yang masih berwarna kemerahan.
Bagaimanapun masih rapat, jauh berbeda dari kemaluan perempuan yang pernah
melahirkan. Robby mencium bibir kemaluan Rena, mengeluarkan lidahnya dan mulai
menjilati bibir dan kelentit kemaluan Rena, yang sudah beberapa bulan dijaganya
baik-baik. Rena memekik ngeri. Di satu sisi, ia marah dan terhina, juga bingung
bagaimana suami kakak sepupunya dapat berbuat semacam ini terhadap dirinya. Di
sisi lain, ia mulai merasakan apa yang dahulu pernah dirasakan, yang pernah
disukai sekaligus ditolaknya.
Tubuh gadis itu seperti mengkhianati pemiliknya sendiri. Betapa pun Rena tidak
menyukainya, lidah yang kasar di bibir memeknya, di kelentitnya, membuatnya
basah. Kedua pahanya otomatis terkangkang lebih lebar, sedang kedua tangannya
menahan kepala Robby tetap ada di kemaluan. Menjilat. Rena merasakan apa yang
selama ini didambakan, hasrat biologis yang tidak pernah dipuaskan lagi,
walaupun ia sendiri amat tidak ingin. Tidak mau! Tapi geloranya tidak
tertahankan. Vagina itu sudah lama ingin dijamah, disentuh….dimasuki. Sekarang
terasa gatal.
Robby kesetanan dengan vagina indah yang ada di mukanya. Secantik-cantiknya
Meika, seseksi-seksinya istri, memang Rena lebih cantik. Lebih putih, tinggi,
langsing, sensual, dan ada yang istimewa dengan memeknya. Ketika terangsang,
memek gadis ini bergetaran, berkedut-kedut dengan cepat. Ia semakin asyik
mencium dan mengulum, sehinggak tak sampai 15 menit kemudian, Rena mencapai
orgasmenya.
“Ko Robby….janggaaaaannn…. aauuuuhhh….. oh oh OH! AAAHHHHH!!!” Orgasme yang
hebat, sampai Rena mengejang kuat, matanya membelalak, tak tahan dengan
geloranya. Tetapi, Rena tidak puas, karena vaginanya masih rapat. Belum ada
sesuatu yang masuk ke dalam, padahal rasanya sudah gatal sekali. Ingin sekali.
Robby juga sangat ingin, sehingga ia dengan tergesa-gesa membuka celananya,
memelorotkan celana dalamnya, dan batang kemaluan yang mengeras itu sudah
memanjang. Sudah lama Robby tidak merasa terangsang seperti ini, begitu kuat,
sampai tidak dapat berpikir panjang lagi. Ia mengangkangkan kedua kaki Rena
lebar-lebar, sejenak memandang kepada memek yang berwarna merah muda, basah
berlendir, menggoda. Kemudian, Robby menurunkan ujung penisnya yang bulat dan
besar dan berurat itu. Masuk.
Rena menggelinjang. Sudah berbulan-bulan tidak ada penis yang masuk ke memeknya,
padahal dahulu dalam sehari ia bisa dimasuki tiga orang, dan hampir setiap hari
begitu. Rena tidak pernah suka, selalu merasa terhina, tapi yang paling
menakutkannya adalah karena ia menikmati orgasme demi orgasme yang diberikan
para laki-laki itu, betapapun mereka berlaku kasar dan jorok. Robby juga tidak
kalah kasar, ia menghujamkan penisnya yang besar itu dalam-dalam.
Rena merintih. Ini lebih besar daripada penis manapun yang pernah memasukinya.
Lebih panjang. Dan lebih ahli, karena Robby dengan pandainya merangsang gadis
itu dengan ciuman, dengan remasan, sementara ia mulai bergerak maju mundur.
Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat.
“Ko Robby… Ko Robby!”
“Enak kan, sayang?” Rena memejamkan matanya. Menggigit bibirnya. Ia tidak suka,
tetapi sekaligus ingin. Butuh. Harus. Ia memaki diri karena mau saja dilanggar
suami kakak sepupu sendiri, bahkan sekarang ia membantu menggerakkan pantat
Robby agar lebih kuat menghujamkan senjatanya. Rena dengan cepat mencapai
orgasmenya yang kedua, yang rupanya cukup membuat Robby juga tidak tahan.
Laki-laki itu dengan cepat mencabut penisnya, lalu diarahkan ke perut Rena.
Menyembur. Muncrat sampai ke mukanya, beberapa mengenai bibir dan hidung Rena,
cairan kental putih yang Rena tahu betul rasanya. Rena berharap, sudah selesai.
Ia sudah capai, sudah lelah menahan beban diri. Robby juga sudah puas, bukan?
Lihatlah, penisnya mulai mengecil.
“Ko Robby…. sudah yah. Udah.” Rena tidak mau bicara lebih banyak lagi. Ia takut
pada laki-laki yang kurang ajar itu. Gadis ini segera bangkit, mengambil celana
dalamnya yang terlempar, lalu tertatih-tatih masuk ke kamar mandi. Menguncinya.
Membersihkan dirinya, dan di dalam sana Rena menangis terisak-isak. Di luar,
Robby merasa cukup puas, dengan santainya ia memakai baju lagi dan kemudian
duduk merokok di teras, sampai Meika dan Diana pulang dari dokter.
Dua minggu kemudian, Rena hampir melupakan semua itu, apalagi ternyata ia masih
mendapatkan mens-nya. Rena senang, setidaknya ia selamat dari suatu keadaan yang
lebih buruk: hamil. Justru setelah datang bulan, Rena menjadi lebih ceria, dan
siang itu ia pulang ke rumah tanpa prasangka apa-apa.
Hanya, ternyata di rumah kembali ada Robby. Laki-laki menyeringai kembali,
seperti serigala buas. Mengapa dunia penuh dengan serigala? Atau buaya?
“Ko Robby…. jangan…. Rena lagi mens…”
“Gua kangen sama kamu… sini!” Mulutnya mengatakan rindu, tetapi tangannya
menjambak rambut Rena. Gadis itu bahkan belum sempat menaruh tas atau berganti
baju. Gadis itu gemetar, takut. Laki-laki ini brutal dan urakan. Mengapa Kak
Meika mau sama orang seperti ini, menjadi suami? — dia tidak tahu, dulu Robby
tidak seperti itu. Tetapi ternyata pernikahan dan kegagalan karir telah
merubahnya, membangkitkan monster yang selama ini hanya kelihatan ekornya.
“Gua ingin dioral sama elo. Gua udah lama gak onani. Nih, cium!”
Rena pikir, oral saja sampai ejakulasi, lantas selesai. Sudah. Lebih cepat lebih
baik. Maka siang itu Rena mencium, menjilat, mengulum batang kemaluan yang merah
besar. Tak sampai lima belas menit, ia mulai merasakan kedutan-kedutan,
sementara Robby mengerang-ngerang. Sesaat lagi, maka semburan-semburan mani
memenuhi mulut Rena. Dengan patuh ia menelannya, menghisapnya, membersihkan
dengan lidah dan bibirnya. Rena merasa enak, tapi tidak suka. Ia mendambakan
rasa asin di mulutnya ini, tetapi tidak menginginkannya. Bukan dari orang ini.
Setelah penis Robby melemas, Rena segera bangkit dan masuk kamar, menguncinya.
Sekali lagi ia menangis di ranjang, sementara masih ada sisa-sisa mani di ujung
bibirnya yang indah.
Dua minggu kemudian, hal yang sama terulang kembali. Kali ini Robby yang sudah
berhitung tahu bahwa Rena sudah bersih dari mens, jadi begitu pulang sekolah, ia
tidak diberi kesempatan untuk melakukan apa-apa, selain menjadi objek
pelampiasan seks Robby yang semakin menjadi-jadi. Laki-laki itu membuka semua
kancing baju Rena, membuka BHnya, melepas rok abu-abunya, memelorotkan celana
dalamnya, lalu mulai beraksi dengan tangan dan mulutnya.
Rena merintih, merasakan bagaimana mulut Robby menciumi ketiaknya, seluruh
teteknya, lantas menghisap putingnya, sementara tangan yang kiri meremas tetek
lain dan tangan kanan meremas gundukan di selangkangan. Setelah beberapa saat,
Robby mengeluarkan penisnya, lalu langsung menusukkan dengan cepat ke vagina
yang sudah basah itu. Ia menggerakkan tubuhnya dengan cepat, dan selama lima
menit berikut dengan kekuatan yang menghentak, menghujamkan penisnya
dalam-dalam, menarik keluar, menghujamkan lagi.
Rena seperti melayang ke langit, tubuhnya menikmati laki-laki yang sedang
menyetubuhinya itu. Ia tidak menolak ketika Robby menyuruhnya menungging, “doggy
style” dan mulai menusuk dari belakang. Rena hampir mencapai orgasme ketika
tiba-tiba Robby mencabut penisnya, lalu mengarahkan batang yang sudah licin itu
ke duburnya. Rupanya Robby baru memperhatikan kalau dubur Rena lebih besar,
seperti sudah pernah dimasuki. Disodomi. Dan Robby ingin merasakan lubang lain
ini.
Ia menusuk. Rena memekik. Sakit. Enak. Robby memakai jari-jari tangannya untuk
menarik liang memek Rena, sementara penisnya amblas semua di lubang pantat gadis
itu. Rena seperti terlontar, orgasmenya datang lebih cepat. Robby juga merasakan
jepitan kuat di pangkal, kedutan otot-otot vagina yang kuat dari gadis remaja
ini, hingga tak lama kemudian ia memuntahkan semua maninya di dubur Rena, hampir
bersamaan dengan orgasme Rena yang dahsyat.
“Uhhh.. Ko Robby jahat! Jahat!”
“Tapi elo enak kan?”
“Nggak! Nggak!….” Rena memaksa melepaskan diri dari penis laki-laki yang masih
menancap di duburnya itu, lalu mengambil seluruh bajunya yang berserakan dan
hampir setengah berlari ia masuk ke kamar. Ia merasa bingung. Agak gila. Robby
sudah mengentoti memeknya, mulutnya, juga anusnya. Dan Robby benar, memang enak.
Rena merasa dirinya rendah, seperti perek, yang tidak bisa menahan nafsunya.
Begitulah cerita Rena malam hari itu, dan setelah bercerita Rena terus menangis
sesunggukan di pangkuanku. Aduh, betapa kasihannya Rena, yang cantik, yang baik,
yang seharusnya bisa mendapatkan pria yang pantas baginya. Dan aku pun bingung,
bagaimana membereskan masalah ini? Bagaimana mengatakan kepada Meika, bahwa
suaminya sudah tiga kali memperkosa Rena? Dan bagaimana pula menjelaskan,
sementara Meika pun sudah tahu kelakuan Rena dahulu?
Pasti ia akan mempersalahkan Rena. Padahal, Rena sendiri sudah setengah mati
mempersalahkan dirinya sendiri. Orang sudah merasa cukup buruk, mengapa harus
dibuat menjadi semakin buruk? Rena sudah mau bertobat. Yang salah adalah Robby.
Tapi, bagaimana menunjukkannya?
“Rena… dengarkan.”
“Ya, Kak Di?”
“Orang mungkin berbuat salah dahulu. Dan orang masih diikat oleh dagingnya
sendiri sekarang. Tetapi, tidak berarti kamu harus menjadi buruk, atau
ditakdirkan menjadi perek, seperti yang kamu bilang. Kamu bukan perek. Kamu
adalah Rena, dan tidak ada yang bisa mengambil harga diri itu dari kamu.”
“Kak Di… tapi Rena memang sampah…. keterlaluan. Seharusnya Rena tidak sekolah.
Jadi pembantu saja. Jadi pelayan Kak Di.”
“Tidak Rena, kamu bukan sampah. Apa yang ada pada kamu, adalah berharga. Cantik.
Indah.”
“Udah dipake laki-laki. Banyak, Kak Di. Apa harganya?”
“Pikirkan, memangnya apa bedanya memek yang masih perawan, dengan yang sudah
dimasuki banyak laki-laki? Ini masalah kamu memandang diri kamu sendiri. Daging
kamu, memek kamu, tidak banyak berbeda. Harga kamu tidak terletak di sebuah
organ tubuh yang disebut kemaluan.
Kamu berharga senilai cara kamu menilai diri sendiri. Apa kamu mau menyerah dan
dibikin murah? Itu keputusan kamu. Kalau kamu menganggap diri kamu berarti,
tidak ada siapapun yang bisa merebutnya dari kamu. Sekalipun ada orang yang
menelanjangi kamu, lalu kamu dipake oleh seribu laki-laki sampai hampir setengah
mati, kamu tetap bernilai karena kamu ada.
Kamu lupa, Rena. Orang tidak dihargai dari apa yang dialaminya, dari apa yang
diperbuat orang terhadapnya. Orang berharga karena apa yang dapat diberikannya
pada orang lain. Walau kamu sudah disetubuhi banyak lelaki, kamu tetap bisa
melakukan sesuatu. Yang baik. Dan di sana ada harga dirimu, Rena. Itulah Rena
yang sesungguhnya.”
“Tapi aku sudah merusak orang lain. Saya sudah merusak Enita.”
“Betul, dan kamu sudah bertobat. Kamu sudah berubah, Rena. Kami berterima kasih
karena kamu hadir di sini. Kamu memberikan banyak. Seharusnya kamu menghargai
diri kamu sendiri atas semua yang kamu kerjakan. Kamu membuat aku bangga.”
Rena memelukku. Aku mengelusnya, hangat. Tiba-tiba, aku sudah merasa menjadi
seorang ibu, dan sedang memeluk anakku sendiri. Mudah-mudahan, apa yang singkat
ini memberi Rena kehidupan. Tapi, aku masih harus membereskan masalah Robby.
Karena aku tahu, aku nanti akan pergi dan Robby akan memperkosa Rena lagi. Dan
sementara itu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada Meika. Aku hanya
menasihati Rena, agar lain kali jangan menyerah. Jangan takut. Lawan saja Robby.
Benar saja, pola yang sama terulang. Beberapa hari kemudian Robby datang dengan
Meika, dan ia mengatakan malas dan mau tinggal di rumahku, sementara Meika
mengajakku mencari kado untuk ulang tahun anak rekanannya. Sialan si Robby itu,
pikirku. Pasti ia menunggu Rena pulang dari sekolah. Tapi, kali ini harus
diakhiri. Harus berbeda.
Aku memperhatikan betul jam bubar sekolah Rena. Aku berhitung, ia akan sampai di
rumah jam satu lewat dua puluh. Jadi aku dan Meika harus sampai di rumah jam
setengah dua, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi Meika tidak boleh tahu, jadi
aku sepanjang siang itu harus mengatur strategi agar waktunya tepat. Aku memberi
alasan bahwa aku baru ingat harus minum vitamin dari dokter, dan harus segera
pulang karena sudah jamnya.
Meika masih tetap ceria dan penuh canda, bahkan setengah mengebut ia membawaku
ke rumah. Jam 1:24pm. Aku mengajak Meika masuk lewat belakang, melalui jalan
yang biasa dipakai Rena. Aku melihat sepatunya sudah ada di rak. Rena sudah
pulang. Aku sengaja tidak membuka suara, malah menaruh jari di bibir menyuruh
Meika untuk tidak bersuara juga.
“Ada apa?” bisiknya.
Kami mendengar suara dari ruang dalam.
“Nggak Ko Robby…. jangan!”
“Eh…. perek sialan, kamu berani melawan yah?” Suara keras orang jatuh.
Braaaakkk! Aku meringis. Rena pasti sakit jatuh di lantai kayu, kalau suaranya
sekeras itu.
“Uuuhh… nggak Ko Robby, Rena nggak mau. Rena nggak mau!”
“Jangan membantah! Sini, buka celana elo, terus ngangkang!”
“Nggak mauuu!!”
“Eh, jangan lari!” Lalu terdengar suara lagi. GUBRAK! Kukira mereka berdua
kembali terjatuh, bergulingan di lantai kayu.
Meika tidak bisa menahan diri lagi. Perempuan mana yang tahan mendengar suaminya
sedang berniat memperkosa adik sepupu sendiri?
“ROBBY! SIALAN! LAKI-LAKI BAJINGAN!”
“Meika?”
Dengan kalap Meika mengambil kursi sofa — yang kecil dari kayu — lalu
melemparkannya tepat ke arah Robby. Laki-laki itu begitu kaget dan terkesima
sehingga tidak mengelak ketika kursi kayu itu menghantam pelipisnya. Ia
terbanting. Kepalanya berdarah. Robby tidak bergerak.
Aku setengah berlari segera menghampiri Rena. Ia sangat kesakitan, juga
ketakutan. Aku memeluknya. Ia menangis sesunggukan lagi, sambil memegangku
erat-erat.
Meika juga, setelah melihat suaminya terkapar dengan kepala berdarah, berlari
melihat keadaan Robby. Ia melihat Robby hanya merintih, dan tiba-tiba saja
murkanya meluap lagi. Dengan sepatunya yang runcing, Meika menendang dada Robby.
Pria itu begitu kesakitan, sehingga matanya seperti mau keluar. Ujung sepatu
Meika rupanya tepat menghantam dada kanannya, di sela-sela rusuk, dan rasanya
sakit bukan main.
“Meika, jangan! Ingat, Meika! Sadar!” seruku. Aku kuatir sebentar lagi Meika
membunuh Robby. Ini sudah keterlaluan.
“Pergi sana! PERGI!!!” jerit Meika. Sambil memegang dadanya, dengan kepala yang
masih berdarah dari pelipis, Robby melangkah keluar. Seperti anjing yang kena
pukul, dengan ekor yang terlipat di antara kedua kaki, ia tertunduk pergi.
Syukurlah. Orang itu masih cukup waras untuk tidak membalas istrinya. Kalau
Robby mengamuk, memangnya kami tiga perempuan ini bisa apa melawan kuatnya
laki-laki?
Ketika semuanya sudah berlalu, semua terasa seperti mimpi. Meika meminta cerai.
Robby meluluskan permintaan cerai itu, lalu ia melamar kerja di pertambangan di
Kalimantan, kemudian pergi dan tidak memberi kabar lagi. Meika yang amat
berduka, mengisi hari-harinya dengan merawat Erick, anak yang cakap itu.
Bagusnya Erick lebih mirip Meika daripada Robby, jadi ia tidak perlu mengingat
bahwa inilah hasil hubungan mereka berdua, yang bahkan tidak pernah mereka
rencanakan atau inginkan. Tapi kini Meika sangat menyayangi Erick.
Rena meneruskan sekolahnya dengan baik, dan ia bisa lulus dengan hasil yang
bukan main. Tidak banyak anak pindahan yang bisa lulus sebagai juara umum
sekolah, bukan? Lagipula ia cantik, baik hati, dan semakin pandai membawa diri.
Rena kini semakin dewasa, semakin matang oleh pengalaman, juga semakin rendah
hati karena tahu bagaimana buruknya diri manusia. Apa yang bisa dibanggakan dari
daging dan tulang dan darah, yang selalu berdesir oleh kuatnya nafsu?
Apa yang dialami Rena, juga apa yang telah dicapainya, rupanya meluluhkan hati
kedua orang tuanya. Mereka masih menyayangi putri mereka, apapun yang terjadi,
dan melihat bagaimana Rena bertobat telah menimbulkan kasih sayang mula-mula.
Jadi, Rena pindah kembali ke rumah orang tuanya…. untuk sementara.
Karena Rena kemudian masuk kuliah di kotaku, ia kembali tinggal denganku.
Menjadi pelamar paling cantik yang mendapat beasiswa.
Aku sendiri terus melahirkan secara normal, melahirkan seorang anak laki-laki
yang cakap, seperti Hansen. Anak menjadi berkah bagi kami, karena Hansen terus
menjadi asisten Direktur dan tidak lagi harus keliling ASEAN, hanya berselang
seminggu setelah kelahiran Roy, anakku ini.
Menyenangkan, bukan?

Bagaimana kehidupan suami istri dinikmati?

Caranya, nikmati saja. Lama-lama jadi suatu kesenangan yang rutin. Jeleknya,
lama-lama jadi biasa. Kalau sedang ingin, aku tinggal bertelanjang bulat, lalu
menunggu Hansen. Sebaliknya, kalau Hansen yang ingin — asal aku tidak sedang
mens — ia akan menelanjangiku. Kemudian dengan panas kami bercumbu, kadang di
kamar tidur, di kamar mandi, di dapur, di ruang keluarga depan TV, bahkan juga
di garasi dan di tempat jemuran di atas, pada sore hari. Tapi kami mulai
kehabisan gaya, karena pada dasarnya aku mengangkang dan Hansen memasukkan
penis.
Hanya herannya, aku kok masih belum hamil juga. Padahal, setelah suamiku
berejakulasi di dalam, aku mengangkat kaki tinggi-tinggi agar cairannya tidak
keluar. Kenapa ya?
Mungkin karena Hansen semakin sibuk. Sekarang ia jadi wakil perusahaan untuk
berkeliling Indonesia dan ASEAN, jadi kadang-kadang dua minggu pergi ke Menado,
atau ke Bangkok, atau ke Kuala Lumpur. Jadi, hubungan kami tidak bisa dibilang
sering sekali. Aku juga mengerti kalau Hansen sedang lelah bukan main. Tapi,
bukan ini yang ingin kuceritakan.
Ceritanya begini, Hansen sedang ke Brunei, selama 11 hari. Kantornya baru buka
perwakilan di sana, ia harus bertemu dengan duta besar dan sebagainya untuk
mengurus surat-surat. Jadi aku menunggu saja di rumah, tapi kali ini ada tamu di
rumah kami. Seorang gadis …atau bukan? Namanya Rena (bukan Lena lho, walau kalau
disebut kadang terdengar begitu) adalah sepupu Hansen. Dia ini masih 17 tahun,
putih, tinggi (lebih tinggi 5 centi dariku sendiri), rambutnya yang lurus
(rebonding) berujung beberapa centi di bawah bahu, dadanya besar, panggulnya
bulat, pantatnya montok. Dan wajahnya cantik bukan main.
Dalam ukuran manapun juga, bahkan diriku sebagai seorang perempuan pun harus
mengakui: Rena adalah perempuan yang bukan main cantiknya, muda, dan seksi bukan
main karena cara berpakaian dan cara berjalan (oh ya, aku belum memberi tahu
bahwa waktu Rena tiba, ia dengan anggun melangkah dengan sepatu yang haknya 15
centi). Erotis. Untung aku bukan laki-laki, dan juga bukan perempuan yang
bernafsu melihat perempuan lain.
Tetap saja, aku kagum pada keindahan Rena. Sayang, matanya sayu. Aku menerimanya
dengan tangan terbuka, waktu Rena meminta tolong agar boleh menginap di rumahku
beberapa hari. Lumayan untuk menemani, karena Hansen baru berangkat kemarin. Ia
kuanggap adikku sendiri, dan Rena memanggilku “kakak” saja.
“Kak Di, Rena menginap di sini ya…beberapa hari aja.”
“Oh ya… boleh saja Ren. Lho, barangmu kok cuma segini?”
“Iyah… Rena… Rena lari dari rumah, Kak.” Matanya tampak memerah.
“Lho, kenapa? Apa yang terjadi?”
Rena menangis. Aku merangkulnya. Ia sesenggukan dalam rangkulanku. Setelah kami
duduk dan barang-barang dibereskan, Rena menuturkan ceritanya padaku. Oh, mahluk
cantik yang malang… Beginilah ceritanya.
Di sekolah, Rena adalah gadis yang populer. Cantik, pintar, juga jago basket dan
berenang (menjelaskan tubuhnya yang padat berisi). Karena ia memang cukup
tinggi, Rena juga mengikuti sekolah modelling (menjelaskan cara berjalannya yang
seksi). Sudah terang para murid laki-laki tergila-gila melihat Rena, dan juga
beberapa guru pria yang masih muda tidak mungkin mengabaikan kecantikan yang
berlalu — walau Rena hanya memakai seragam SMU yang putih-abu-abu itu.
Sayangnya, Rena tidak bisa menguasai diri, dia melayang-layang dalam sanjungan
dan pujian. Menjadi agak sombong. Terang saja, ia tidak mau pacaran dengan
cowok-cowok bau kencur itu. Ia ratu kampus — begitulah julukan orang. Dari hari
pertama ia masuk, Rena sudah populer. Dalam setahun, Rena sudah dikenal semua
orang. Ketika mau ulang tahun ke-17, semua — maksud Rena semuanya tanpa kecuali
— ikut sibuk.
Tapi, tidak mungkin kalau gadis seperti Rena tidak punya pacar, bukan? Dan tentu
saja, pacarnya pun harus keren, modis, kaya, dan tidak kalah populer, bukan?
Karena itu, Rena lewat kenalan dan kenalan, akhirnya mau jadian dengan Rico.
Mereka jadi pasangan selebriti, R & R. Yang cowok tergila-gila pada Rena, yang
cewek tergila-gila pada Rico, dan mereka berdua tidak sungkan untuk berpelukan
dan berciuman di muka umum. Semua memandang iri. Rena senang sekali.
Sampai, satu bulan sebelum hari ulang tahunnya, ada seorang murid pindahan dari
luar negeri. Enita namanya. Enita ini ibunya orang Tionghoa, papanya orang
Inggris. Nenek dari ibunya orang Dayak, kakeknya Tionghoa. Tapi, orang tua Enita
sudah bercerai, dan kini ibunya kembali ke Indonesia. Enita masuk, dengan bahasa
Inggris yang lancar dan bahasa Indonesia yang kaku. Langsung populer, walau
umurnya belum lagi 16 tahun. Putihnya putih peranakan, hidung mancung, dan dada
yang sudah membulat, lebih daripada orang lain. Lebih daripada Rena.
Kini, cowok-cowok punya sumber baru, apalagi Enita tidak arogan seperti Rena.
Dia manis, tersenyum pada siapa saja, membiarkan rambut panjang coklat-merahnya
dibelai oleh siapa saja, selama masih sopan. Dan Enita rupanya pemalu, entah
sikap yang diturunkan dari siapa, bisa dibilang lugu. Ibu Enita pulang dengan
banyak harta, apalagi ukuran orang Indonesia yang kursnya rendah dibandingkan
Poundsterling, tapi Enita sederhana, pakaiannya biasa, tanpa asesoris, tanpa
hiasan bibir atau kuku. Justru karena itu, ia menjadi cantik dan pusat
perhatian.
Rena jadi keki bukan main. Marah besar. Ketika hari H nya mendekat, orang justru
mengalihkan perhatian, hanya dalam hitungan hari mereka semua membicarakan
Enita, bukan Rena. Kemarahan Rena diungkapkan pada Rico, yang masih menikmati
memeluk tubuh sintal Rena yang cantik, yang sampai hari itu masih hanya
dipeluknya, tidak lebih. Maka, Rico mempunyai rencana yang menarik… jahat
mungkin, tetapi bukannya Rena kalau tidak suka.
Rencananya sederhana: Rico mempunyai dua teman preman, si Eeng dan Danu, yang
dengan senang hati mau menjemput Enita dan menikmati tubuh moleknya. Idenya
begini: kalau Enita diperkosa, lantas rekaman videonya disebarkan di sekolah,
maka dia tidak akan lagi punya nyali atau muka untuk jadi populer. Tapi, untuk
semua rencana merusak Enita ini, ada harga yang harus dibayar oleh Rena. Dia
mesti mau making love dengan Rico, pacar setianya.
Demikianlah, satu minggu sebelum hari ulang tahun Rena, rencana mereka
dilaksanakan. Kebetulan waktu itu ada pelajaran tambahan, jadi anak-anak di
kelas Enita pulang lebih sore dari biasanya. Enita yang biasa pulang dijemput
sopir, kini pulang sendiri, dia memanggil taksi. Ketika sedang menunggu taksi,
yang datang bukannya mobil biru itu, tetapi Eeng dan Danu yang menarik Enita
masuk dalam mobil box, sambil membekapkan saputangan dengan chloroform — entah
darimana mereka bisa mendapat zat itu.
Ketika Enita sudah sadar, ia sudah terikat di atas ranjang. Enita tidak bisa
melihat apa-apa, matanya ditutup lakban hitam. Kancing bajunya sudah terbuka
semua. Sepatunya sudah terbuka. Roknya sudah tidak ada lagi. Rico mengangkat
video camera digital, memasang lampu video yang terang, dan memperlihatkan paha
Enita yang putih, yang bersih, dengan memek yang belum banyak bulunya, masih
sangat rapat. Lalu muncullah Eeng dan Danu, dan mereka segera mulai
menggerayangi Enita.
Gadis ini mula-mula bingung, tetapi ketika ia tersadar, Enita menjerit-jerit.
Tak ada gunanya, karena mereka ada di gudang belakang, di deretan yang hanya
didatangi orang sekali saja di pagi hari. Jeritan Enita terpantul dari
langit-langit gudang yang tinggi, dan tidak yang bisa mendengarnya, hanya
terekam saja di video itu. Jeritan yang mulai melemah, menjadi keluhan, ketika
lidah Eeng bermain-main di memeknya, menghisap kelentitnya, dan mulai merekahkan
bibir kemaluannya. Rico memastikan bahwa di dalam video itu tidak ada wajah lain
yang nampak selain wajah Enita, yang melenguh antara takut, bingung, dengan
terangsang. Siapa bilang orang yang mau diperkosa tidak bisa terangsang?
Mereka tidak membuat Enita sakit. Sebaliknya, mereka membuat Enita
dibelai-belai, dengan tangan, dengan lidah, hingga seluruh tubuh gadis muda itu
telanjang. Eeng dan Danu bergantian menjilati toketnya, memeknya, ketiaknya,
memijit, mengurut, menggelitik, mengigit mesra, hingga akhirnya Enita
menggelinjang, merintih… terangsang hebat. Sampai akhirnya ia tidak banyak
bergerak, ketika penis Eeng bergesekan dengan bibir kemaluannya. Ia bahkan
mengangkat pantatnya, ketika Eeng menarik penisnya menjauh.
Rena yang melihat dari balik layar, turut terangsang, sekaligus senang. Ternyata
gadis itu tidak sebersih bayangan orang. Ternyata ia juga haus sex. Ingin sex.
Ingin… Rena juga ingin. Tapi rasanya ia tidak sehaus Enita, perek dari Inggris
itu. Rena menoleh ketika mendengar jeritan Enita sekali lagi. Ia tersenyum.
Penis Eeng melesak masuk, seluruhnya. Darah mengalir, mewarnai bagian pangkal
paha gadis itu. Enita bukan perawan lagi. Ia digenjot, dipompa.
Eeng rupanya tidak tahan lama. Kemaluan Enita begitu sempit, begitu hangat. Eeng
memuntahkan pejunya di muka Enita. Danu lantas naik dan menggantikan penis Eeng
dengan penisnya, meneruskan genjotan dengan lebih liar lagi, lebih kasar lagi,
yang justru membuat Enita meraung-raung, dan justru libidonya menjadi semakin
tinggi. Ah, daripada terus kesakitan, Enita justru mengalami sensasi yang enak.
Ia meracau, entah apa yang dikatakannya, tapi pasti saat itu ia orgasme dan Danu
juga berejakulasi di dalam memeknya. Seluruh kemaluan preman yang hitam itu
melesak masuk, semua, hingga bola-bolanya menyentuh bibir anus. Besar dan
panjang, masuk semua, memuntahkan semua di dalam, yang tidak pernah disentuh
orang.
Rico menyerahkan video kepada Eeng, yang meneruskan merekam adegan Danu yang
membalikkan Enita, lalu mulai mengentotnya dari belakang. Enita menjerit lagi,
ketika Danu memaksakan penisnya — yang entah bagaimana bisa keras terus — masuk
ke anusnya. Gila, baru diperkosa, langsung disodomi.
“Kamu puas, sayang?” tanya Rico. Rena mengangguk. Mereka berciuman. Dan sebagai
bayarannya, Rena membuka seluruh bajunya. Seluruhnya, di muka Rico kekasihnya.
Rena lalu membuka celana Rico, mengeluarkan batang kemaluan yang sudah mengeras.
Ujungnya mengeluarkan cairan. Rena lalu menjilatnya, melakukan semua yang Rico
minta. Dengan sukarela ia mengangkang, mengangkat kaki, menyambut Rico yang
datang dengan penis yang sudah basah mengkilat oleh ludahnya sendiri.
Tanpa basa basi, Rico memasukkan penisnya ke tubuh cantik milik Rena. Satu
minggu sebelum ulang tahun ke-17, Rena kehilangan keperawanannya. Ia menggigit
bibir bawah, menahan nyeri karena penis itu menerobos masuk ke liangnya yang
sempit. Rico membiarkan penisnya terbenam dalam, membuat Rena merasa biasa.
Merasa nyaman. Lalu Rico mulai menggenjotnya, memainkannya, membuatnya melayang
tinggi, hingga Rena pun menikmati orgasme yang pertama, yang sangat kuat,
walaupun ia masih merasa sakit dan nyeri. Nyeri yang memberi kenikmatan.
Yang Rena tidak ketahui, Eeng tidak hanya merekam Enita. Ia juga merekam adegan
Rico dengan Rena seluruhnya, bahkan bagaimana Rena justru lebih liar daripada
Enita. Kalau gadis itu ditutup matanya, terpaksa menerima perkosaan terhadap
dirinya, Rena dengan pasrah menyerahkan diri dan menjadi seperti pelacur jalanan
bagi Rico. Ketika Rico hampir mencapai puncak, ia menarik keluar penisnya dan
menyorongkan pada muka Rena. Ia mengulum penis itu, menelan semua cairan yang
memuncrat keluar, membasahi pipi, dagu, dan kedua toketnya yang memerah.
Sehari sebelum ulang tahun Rena, rekaman video Enita beredar di sekolah, sudah
dalam bentuk VCD. Bahkan VCD itu diam-diam dijual di mana-mana, bahkan di
kota-kota lain. Enita yang malu akhirnya mengurung diri. Bagaimana ia dapat
menghadapi orang, jika mereka tahu betapa ia orgasme yang ketiga kalinya oleh
lelaki yang memperkosanya? Atau, Enita tidak dapat mengatakan bahwa ia
diperkosa. Atau harus menuntut siapa, karena Enita tidak lihat apa-apa. Rena
senang. Rena puas.
Rena terkejut, ketika pesta ulang tahun berakhir. Di malam itu, di mobil Rico,
sesudah mereka berciuman, Rico memperlihatkan rekaman video hubungan liar
mereka. Rico bilang, bahwa mulai sekarang Rena harus menurut, kalau tidak mau
rekaman ini tersiar ke mana-mana dan mengalami nasib sama seperti Enita.
Rena baru tahu, bahwa Rico adalah serigala buas, yang jahat, yang liar, yang
tidak pernah puas. Ia kini harus melayani Rico setiap saat, menjadi budak
seksnya. Tidak ada lagi kemesraan. Tidak ada lagi kelembutan. Ia bukan hanya
harus mengikuti penis Rico sendiri, tetapi juga penis Eeng. Penis Danu. Yang
satu memasuki vagina, yang lain anus, yang satu lagi dikulum di mulut, sampai
ketiga-tiganya memuncratkan peju di seluruh tubuhnya. Rena harus melayani dengan
senang, dengan berpura-pura orgasme. Pura-pura. Karena, Rena menangis dalam
hatinya, ia lebih buruk nasibnya daripada Enita. Rena menyesal.
Penyesalan Rena memuncak, ketika akhirnya penyelidikan polisi berujung pada
ditangkapnya Eeng dan Danu. Keduanya mengaku disuruh oleh Rico dan Rena. Ketika
itu terjadi, Rico mau kabur tetapi tertangkap di bandara. Rena juga dibawa ke
kantor polisi untuk menjadi saksi, dijemput dari sekolah. Sementara semua ini
berlangsung, entah bagaimana caranya ada yang menyebar-luaskan video Rico yang
sedang memerawani Rena, kemudian video ini juga menjadi barang bukti.
Yang paling marah dan kecewa adalah ayah dan ibu Rena. Ayahnya begitu marah,
sehingga hampir mau membunuh putri sulungnya ini. Malu. Marah. Akhirnya,
mengusir. Ketika sidang pengadilan selesai, Rena juga selesai. Ia keluar dari
sekolah. Ia keluar dari rumah. Lari.
Begitulah, akhirnya ia tiba di rumahku.
“Kak Di, Rena boleh tinggal dulu di sini ya? Rena tidak tahu lagi harus ke
mana…”
Aku tahu, orang tua Rena yang sangat kukuh menjaga kehormatan keluarga, tidak
mau lagi menerimanya. Butuh waktu. Lagipula, aku butuh teman — bukan teman tidur
— untuk bicara di rumah. Barangkali, Rena juga bisa mulai sekolah di sini.
Begitulah, akhirnya Rena tinggal denganku. Ketika Hansen datang, ia tidak
keberatan. Toh lebih baik daripada istrinya tinggal berdua dengan lelaki lain….
Kami meneruskan kehidupan kami secara normal. Rena akhirnya bersekolah lagi,
menjadi siswi pindahan di kelas 3. Aneh memang, tetapi karena Hansen sekarang
cukup banyak uang, jadi tidak masalah. Ia sekarang tidak sombong lagi, malah
bersikap manis. Kupikir Rena mulai mengerti bagaimana menjadi Enita. Tapi, Rena
tidak lagi mau dekat dengan cowok, mungkin belum. Rena bilang, ia ingin bisa
sekolah sampai setinggi-tingginya, punya karir, punya harga diri lagi. Ia bukan
perek yang hanya punya tiga lubang untuk dimasuki penis laki-laki.
Aku dan Hansen masih tetap mesra, setiap kali Hansen pulang kami selalu
bercumbu. Aku menginginkan penisnya membesar, memerah dimulutku, lalu dimasukkan
dalam-dalam ke liangku, liang surganya Hansen, sambil mengedut-ngedutkan
otot-otot disana, sampai aku dan Hansen bersama-sama mencapai puncak. Kemudian
kami akan tidur berdua sambil tersenyum puas.
Dan kalian tahu? Mungkin kehadiran Rena membawa berkah. Karena tak lama setelah
Rena ada di tengah kami, aku pun akhirnya hamil. Ah, senangnya…

Lima hari kemudian…

Jaman sekarang, orang tidak lagi bisa berlama-lama berbulan madu. Apalagi untuk
pegawai yang belum lama bekerja, cuti paling lama hanya tiga hari saja. Padahal,
rasanya masih belum puas bereksplorasi dengan tubuh dan jiwa, karena vaginaku
masih sakit setelah dimasuki di malam pertama itu.
Jadi, selama cuti, suamiku lebih banyak dilayani oleh mulut dan lidahku — setiap
malam aku menjilat batang lelaki yang keras dan tegang, menikmati setiap lekukan
kepalanya yang licin memerah mengkilat, merasakan asinnya mani yang menetes,
seperti madu yang asin. Setelah kepalanya, aku lalu turun hingga ke buah
pelirnya, lalu naik lagi, dan menghisap dalam-dalam.
Ya, aku bersetubuh dengan merasakan penis itu menyentuh bagian dalam rongga
mulutku, sementara lidahku berputar-putar di kepalanya. Setelah beberapa kali
hisapan, Hansen menegang. Mengejang. Menyembur. Dengan gelagapan, aku berusaha
menelan semua mani yang ia keluarkan. Membuat apa yang keluar darinya menjadi
bagianku, milikku. Diriku.
Sementara suamiku terkulai kelelahan, aku pun tertidur juga dalam pelukannya.
Aku belum mengijinkannya menyentuh bibir kemaluanku, sebab rasanya masih perih
kalau tersentuh. Entah apa yang salah: barangkali memang penis Hansen terlalu
besar. Atau memekku yang terlalu sempit.
Namun, setelah lima hari, aku tidak lagi merasa sakit. Sebaliknya, aku merasa
gatal. Ketika mandi sore-sore — sekitar jam 4 — rasanya enak sekali jika bibir
bawahku disentuh, itilnya digosok, dan aku hampir orgasme ketika memasukkan jari
tengahku ke liang perempuan yang sempit dan hangat. Ah, seandainya saja bukan
jari tengah, tetapi penis yang kekar berurat besar itu yang menerobos masuk.
Jadi, setelah aku selesai mandi, aku tidak segera berpakaian. Aku menikmati
tubuhku yang molek di kaca besar, yang menempel pada lemariku yang baru.
Bukankah tetekku ini bulat dan kencang? Dan aku mempunyai pinggang yang ramping,
sementara pinggul dan pantatku membulat. Model jam pasir, kata Meika — adik
Hansen. Dia sangat senang karena berhasil merekam adegan demi adegan malam
pertama kami. Tubuh yang terpampang di cermin ini bukan lagi tubuh seorang
gadis; bukan. Ini adalah tubuh seorang perempuan dewasa muda, yang sudah terbuka
oleh penis laki-laki.
Hari ini, lima hari setelah malam pertamaku, aku menginginkannya lagi. Lagipula
inilah masa suburku, ketika lendir cinta di vaginaku terasa licin, terasa gatal.
Ah, tapi suamiku belum pulang. Biasanya ia baru sampai jam enam sore, atau jam
tujuh kalau macet. Aku masih sempat memasak sesuatu untuknya.
Aku beranjak ke dapur. Tidak berpakaian, hanya memakai sendal saja. Di dapur,
aku mengambil celemek bersih dari laci dan memakainya. Aku pun mulai memasak,
hobi yang baru kujalani sekitar setahun terakhir ini. Aktivitas yang terasa
semakin menggairahkan, karena resep peningkat stamina dan gairah birahi, yang
terasa eksotik dengan campuran kapulaga dan jintan, daun jeruk dan banyak
ketumbar, serta daging has yang lunak setelah diberi tumbukan daun pepaya. Aku
membayangkan bagaimana Hansen menjadi bergairah, dan malam ini aku akan menjadi
budak seksnya yang siap menerima apa pun juga perintahnya.
Uh, memekku sudah basah, hanya membayangkannya saja. Gesekan kain celemek yang
kasar itu terasa amat merangsang, barangkali aku bisa orgasme. Tapi tidak, aku
harus menanti. Rugi sekali kalau orgasme hanya oleh celemek — walaupun tentu
saja aku bisa orgasme beberapa kali. Masalahnya, tiap kali orgasme akan terasa
lebih sensitif, sehingga kalau orgasme sekarang maka nanti akan terasa geli luar
biasa kalau disentuh penis suami. Nantilah.
Sesaat setelah aku selesai memasak, suamiku pulang. Mungkin ada hubungan batin
ya, karena ia hari ini pulang lebih cepat dari biasanya.
"Halo sayang," kata Hansen. Ia menciumku. Tatapannya membelalak ketika menyadari
bahwa aku hanya memakai celemek, sambil berlepotan kecap dan minyak. "Di, masak
apa?"
"Enak deh. Ayo, mandi dulu. Lapar ‘kan? Kita terus makan kalau sudah wangi."
"Okeh… masaknya sudah beres?"
"Sedikit lagi. Sayang, kalau sudah selesai mandi, hidangannya istimewa deh."
Suamiku tersenyum lebar, lantas bergegas membuka sepatu dan baju, menyambar
handuk, dan sejenak kemudian terdengar air tercurah di kamar mandi. Mau tidak
mau aku senyum-senyum sendiri, lalu menata meja makan kami berdua. Enaknya hidup
berdua! Aku menyalakan lilin di atas meja, melengkapi suasana romantis.
Ketika suamiku selesai, ia juga tidak memakai apa-apa.
"Ayo makan," katanya senang. Aku mencium wangi sabun wajahnya. Mint. Macho.
Celemekku kubuka, kusimpan di dapur. Bertelanjang, aku duduk di meja makan.
Hansen menatap dadaku — puting susu yang mengeras. Aku benar-benar terangsang.
Juga lapar.
Hansen mematikan lampu, sehingga hanya lilin saja yang menerangi makanan, dan
wajah, serta tubuh-tubuh telanjang. Ia nampak begitu gagah, begitu perkasa. Aku
menikmati lekuk dadanya yang bidang, bahunya yang kekar, yang berwarna kuning
kemerahan ditimpa cahaya lilin-lilin — ada sembilan buah yang kunyalakan tadi.
Kami makan dengan perlahan, menikmati setiap suapan, tanpa suara. Hanya mata
kami saling memandang, dan aku menyukai tatapan mata Hansen ke kedua tetekku
yang terasa tegang. Keras.
Aku membayangkan, betapa keras batang kemaluan suamiku. Biasanya aku melahapnya
dengan bibir mulutku, tetapi kali ini yang akan melahapnya adalah bibir memekku.
Mengingat itu saja, memekku menjadi semakin basah. Klitorisnya membesar,
mengeras.
"Enak, sayang?"
"Mmm… enak banget!"
"Masih ada dessertnya lho."
Aku mengeluarkan salad dingin. Udang rebus. Strawberry. Mayonaisse. Whip Cream.
"Tapi makannya nggak di sini. Di depan TV aja, ya? Yuk," ajakku sambil membawa
sebaki makanan itu ke dalam. Aku tahu suamiku terpana melihat tubuh telanjang
istrinya berlenggok –sengaja aku memainkan pantatku– sehingga ia tidak segera
beranjak dari duduknya. Di ruang keluarga, aku kembali menyalakan lilin-lilin,
lantas mematikan lampu. Aku lalu berbaring di sana, di atas sofa yang bisa
dibuka menjadi ranjang kecil.
"Mmm… sayang, kamu cantik sekali," kata Hansen. Ia kehabisan kata-kata, aku
melihat ujung penisnya yang keras telah mulai meneteskan cairannya. Kami
berciuman. Lidah-lidah berpagutan, sampai aku terengah-engah. Sangat, sangat
terangsang.
"Ini sayang, dessertnya." Aku menaruh udang di tengah-tengah dadaku. Strawberry
di pusarku. Lalu mayonaisse memanjang dari dada hingga pinggang, sedikit di atas
rambut kemaluan. Whip cream aku taruh di ujung kedua puting. Hansen tersenyum.
Aku memejamkan mata.
Rasanya seperti disengat listrik, tapi bukan sakit melainkan nikmat sekali,
ketika Hansen memulai dengan kedua putingku, membersihkan whip cream dengan
lidahnya. Ia lalu beranjak ke tengah, menikmati udang dan mayonaissenya. Satu.
Dua. Tiga. Sejenak Hansen kembali ke ujung-ujung buah dadaku yang mengeras,
membuatku tersengat. Sangat nikmat, sampai sesak nafas rasanya.
Ketika Hansen turun ke bawah, aku memejamkan mataku semakin erat. Mulutku
terbuka, berusaha menarik lebih banyak udara. Aku menahan nafas, ketika Hansen
menggigit strawberrynya, lalu turun lagi… terus hingga ke selangkangan. Tanganku
mengambil sebutir strawberry lagi, lalu meletakkannya di antara belahan bibir
memekku yang basah. Strawberry itu tertahan di sana, terjepit. Aku mengangkang
lebar-lebar, mengangkat kedua kakiku ke udara.
"Diana…" Hansen mendesah. Aku sampai menjerit kecil ketika lidahnya menyapu
kemaluanku, giginya menarik strawberry itu dari tempatnya. Ia kemudian
meneruskan dengan jilatan lidahnya di klitoris, di bibir luar, bibir dalam.
Membuatku terasa gatal, ingin digaruk. Bukan oleh tangan. Oleh penisnya.
Hansen pun rupanya berpikiran sama.
"Sayang, boleh dimasukin?"
"Iya, sayang… aku milikmu. Lakukan apa saja sesukamu."
Hansen mengambil bantal sofa, lalu mengganjal pantatku. Ia mengangkat kedua
kakiku ke atas, mencium betisku. Ujung penisnya diarahkan ke bibir kemaluan,
kepalanya terasa menggesek di celah yang sempit itu. Ayolah, aku menanti.
Terobos! Masuk!
"Ahhhhh…. ooouuuhhhh…." Aku tak dapat menahan suaraku, ketika kepala penisnya
benar-benar menerobos masuk. Tapi, kali ini sama sekali tidak sakit, sebaliknya
enak sekali. Masuk semua. Lalu Hansen menariknya lagi. Ia menurunkan wajahnya,
menciumi bibir dan leherku. Lalu penisnya menghujam lagi. Ditarik. Dihujamkan
lagi.
"AAAHHHHH…… HAAANNNSEEENNNN……!!!"
Aku melayang-layang. Baru sekarang aku tahu enaknya disetubuhi, dientoti,
dipompa oleh suami. Otot-otot vaginaku berkontraksi, dan dalam beberapa detik
aku mencapai orgasmeku. Tetapi Hansen masih terus menggenjot, sementara vaginaku
berkedut-kedut dalam orgasme yang tiada habisnya. Tiada taranya. Aku tersiksa
oleh kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan. Sampai….
Sampai akhirnya Hansen juga mendengus, lantas menghujamkan penisnya kuat-kuat,
sehingga tubuhnya menekanku sepenuhnya. Aku merasakan denyutan keras di bawah,
di dalam, semburan benih-benih di rahimku. Ya, semaikanlah! Tanamkan
dalam-dalam! Aku bahagia. Akulah istrinya.
Selintas, terbayang bahwa aku sedang sangat subur, dan mungkin akan segera
hamil. Tak apa, aku bahagia jadi ibu. Aku menikmati kedutan-kedutan Hansen di
atasku, merasakan semburan maninya hangat, banyak, tak tertampung sehingga
sebagian mengalir keluar.
Aku melirik jam. Ah, tak sampai 15 menit rupanya. Kami sudah amat terangsang.
Tapi, ini baru permulaan.
"Enak, sayang?"
"He eh. Banget."
"Masih mau lagi?" Aku menyemprotkan lagi whip cream di putingku. Hansen
menunduk, lalu mulai menjilat dan menghisap kedua tetekku, bergantian. Tangannya
meraba-raba seluruh tubuhku, mulai dari bahu, lalu turun kepinggang, ke pantat,
mengelus pahaku. Sejenak berhenti di selangkangan. Ah, banyak lendirnya.
Lengket.
Aku mengambil tissue, mengelap vaginaku sampai bersih. Masih sangat sensitif,
jadi kulakukan perlahan-lahan. Setelah bersih, aku mengambil lagi whip cream,
lalu menyemprotnya persis di klitorisku. Mengetahui ini, Hansen lalu
meninggalkan kedua puting, lantas turun ke selangkangan dan menikmati klitoris
yang putih berbusa.
Aku menggelinjang-gelinjang, birahiku langsung naik lagi sampai ke ubun-ubun.
Hansen membantu dengan jari-jari tangan yang dimasukkan, keluar, masuk lagi…
tadinya hanya satu jari, lalu menjadi dua. Merenggangkanku. Mengangkatku ke
langit. Dan tiba-tiba, Hansen berhenti. Ia naik ke atas, lalu penisnya –yang
ternyata sudah keras kembali– sekali lagi menerobos masuk. Kali ini tidak
terlalu sempit.
"Menungging dong." Kata Hansen. Dengan patuh, aku menurut. Aku menungging, doggy
style, dan pantatku merekah terbuka. Hansen memasukkan lagi batang yang perkasa,
mungkin makanan penambah tenaga itu benar-benar bekerja. Ia memompa, membuatku
melayang-layang, karena setiap kali penisnya menyentuh satu titik, g-spot
milikku. Lebih enak daripada rangsangan di klitoris.
Suara peraduan tubuh kami terdengar keras, "prep! prep! prep!" Seirama gerakan
suamiku dari belakang. Aku tidak dapat bertahan lama, karena orgasmeku seperti
meledak tak tertahankan. Tanganku tak kuat menahan, sehingga aku ambruk di atas
ranjang kecil itu. Untungnya, Hansen pun kembali berejakulasi, kini dengan lebih
sedikit cairan.
Setelah ia mencabut penisnya, kami berdua terguling kelelahan. Aku tersenyum
lebar, betapa nikmatnya kawin! Hanya dengan kawin secara sah, orang bisa
menikmati saat di mana ia paling subur, tanpa pembatas seperti kondom-kondom
berulir itu, dan sama sekali tidak takut hamil. Sebaliknya, berharap-harap!
Dan aku tahu, ini awal yang baik. Aku cinta suamiku. Biarlah benihnya tumbuh di
dalam diriku!

Kerepotan sudah dimulai sejak enam bulan yang lalu. Bagaimana aku hendak
memulainya? Terlalu memusingkan untuk dituturkan. Soalnya, dalam satu saat yang
sama ada berbagai macam urusan dikerjakan sekaligus. Dan bagaimana aku
mengatakannya?
Oh ya, maafkan aku. Kali ini aku ingin berbagi tentang hari pernikahanku. Hari
yang sakral bagiku, jadi ingin kubagikan pada kalian, terutama yang mau menikah.
Aku tahu, mungkin terasa membosankan… kalian ingin tahu tentang malam pertama?
Baik, tetapi nanti dulu. Malam pertamaku tidak akan terlalu menarik, jika kalian
tidak tahu bagaimana aku menikah. Ya, aku tahu mungkin di antara kalian sudah
ada yang kawin, tanpa nikah. Tetapi percayalah, menikah itu sendiri adalah
sesuatu yang amat seksi…
Dan aku bicara yang sebenarnya. Dimulainya dari baju pengantin. Baju gaun eropa.
Tetapi aku bukan orang yang suka mengikuti kebiasaan secara persis, Hansen juga
tidak. Sebaliknya, aku suka sesuatu yang menggairahkan…mengejutkan. Dan
untungnya, orang tua kami juga tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Jadi aku
dan Hansen memilih baju pengantin yang lain. Yang istimewa.
Untuk itu, aku dibantu oleh temanku yang pandai menjahit, Rika namanya. Aku
memintanya menjahitkan baju pengantin untukku. Waktu itu Rika sampai
membelalakkan mata, "kamu gila Di? Gue nggak pernah bikin baju gaun pengantin!"
Tapi aku juga tidak butuh gaun pengantin seperti yang biasa, yang besar dan
berat dan panjang merepotkan, dengan banyak payet-payet dan pernak pernik yang
bikin gatal. Tidak, aku lebih suka model Amerika yang simple. Dengan belahan
dada yang rendah, sedemikian rendahnya sehingga puting susuku nyaris tersembul
keluar jika baju itu sampai melorot sedikit. Aku menambahkan aksen dengan
bawahan yang berupa rok mini, benar-benar mini karena hanya sejengkal dari
pangkal paha, lalu ditutup oleh ekor yang tidak begitu panjang, hanya sedikit
menyapu lantai saja.
Hasilnya? Dari depan, seperti gaun biasa saja. Tetapi Hansen yang duduk di
sebelahku dapat melihat pahaku dari bawah sampai ke atas, ke pangkal paha. Dan
kau tahu apa rencanaku yang istimewa? Bisakah kalian terka?
Ini dia: aku tidak mengenakan celana dalam. Sedikit pun tidak. Gaun itu dibuat
dengan karet yang persis menempel di pinggang, dan Hansen bisa menyelipkan
tangannya dari samping dan meremas pantatku, kalau dia mau. Tentu saja waktu aku
mempersiapkan gaun istimewa itu dengan Rika, aku tidak bilang apa-apa pada
Hansen. Aku ingin menjadi kejutan yang menyenangkan, menjadi bingkisan istimewa
yang dapat dibukanya nanti, sebagai istrinya yang sah. Menyenangkan, bukan?
Memikirkannya pun sudah merangsangku…tapi kali ini aku harus menahan diri.
Kami juga memikirkan makanan yang tepat, yang tidak biasa. Kalian tahu ‘kan,
kalau orang menikah biasanya menu makanan yang disajikan tidak banyak berbeda?
Banyak lemak. Mie. Ah, itu membosankan. Jadi aku dan Hansen memilih menu makanan
yang lebih banyak mengandung protein. Yang tidak banyak lemak, lebih banyak
protein, dan beberapa kandungan yang diketahui sebagai penambah tenaga. Madu.
Lebih banyak jahe dan bawang putih. Ada kopi ginseng. Dengan salad aprikot
(betul nggak sih, aprikot termasuk salah satu bahan aphrosidiac?). Aku dan
Hansen tidak bisa menahan ketawa setiap kali kami memilih menu berdasarkan
pengaruhnya untuk meningkatkan stamina dan nafsu seks, termasuk beberapa butir
telur ayam kampung setengah matang yang disajikan khusus di meja pengantin.
Dan nampaknya, orang-orang juga setuju-setuju saja dengan pilihan kami itu,
mereka hanya senyum-senyum simpul. Yang paling semangat malah si Meika, yang tak
henti-hentinya mencari resep penambah stamina seks dan menawarkannya sebagai
hidangan penutup dalam acara resepsi nanti. Aku dan Hansen membayangkan,
bagaimana nanti jika para tamu turut terangsang karena makanan yang mereka
santap? Kasihan yang masih jomblo… Tetapi di luar dari keisengan itu, kami
memilih menu yang lain daripada biasa, dan orang menyukainya. Ini tip untuk
kalian: jangan jadikan hari pernikahan kalian biasa-biasa saja. Kalau memang
harus repot dari beberapa bulan sebelumnya, buatlah sesuatu yang benar-benar
tidak akan dilupakan orang, jadi jerih payah kita tidak sia-sia!
Tapi, aku harus berterus terang pada kalian: sex bukan urusan pertama. Yang
pertama kali dalam menyusun semua ini adalah memastikan bahwa pria ini memang
tepat bagiku, dan aku ini tepat baginya. Aku ingin pernikahanku berlangsung
seumur hidup, jadi aku harus memastikan bahwa aku siap menerima kekurangannya.
Ya, kekurangannya.
Kebanyakan dari kita siap untuk menerima kelebihan orang lain, tapi tidak mau
menerima kekurangan. Salah besar: kalau mau menikah, justru kita harus
bersiap-siap dengan kekurangan. Dan urusannya bukan soal sex, melainkan
soal…duit. Keuangan. Aku tahu, Hansen baru lulus, belum mapan dalam bekerja. Aku
tahu, aku sendiri harus bekerja, dan Hansen juga tahu itu. Ia harus menerima
kenyataan, bahwa istrinya nanti juga menjadi seorang wanita karir. Lalu, kami
bersepakat tentang bagaimana mengelola uang; yang penting adalah kepercayaan dan
kepercayaan dan kepercayaan. Tidak ada pengaturan uang yang betul atau salah,
yang ada adalah saling percaya atau tidak. Orang selalu membuat kesalahan dalam
hal uang, masalahnya apakah dalam kesulitan karena kesalahan, satu sama lain
masih tetap saling percaya?
Lantas, hal berikutnya adalah tentang keluarga. Hansen mempunyai keluarga — yang
untungnya amat akrab denganku. Aku sendiri juga punya keluarga. Kalau kami
menikah, kami akan membentuk keluarga sendiri: Hansen keluar dari keluarganya
dan aku pun keluar dari keluargaku. Kami bersepakat, bahwa keluarga kami adalah
keputusan kami sendiri. Tentu saja kami menerima semua masukan dan saran dari
semua pihak, tetapi keputusan akhirnya ada di tangan kami berdua saja. Sendiri.
Ini memberi cukup kebebasan kepada kami…dan penting untuk hubungan yang serasi.
Termasuk seksualitas juga (buat kamu yang pikirannya ngeres melulu).
Berikutnya adalah tempat tinggal. Dan cita-cita. Dan apa yang kami mau dapatkan:
kapan mau punya anak? Bagaimana kalau nanti punya anak? Kalau soal anak lelaki
atau perempuan sih, kami tidak mengatur; toh memang tidak bisa kami atur!
Setelah semuanya beres, rencana pernikahan menjadi ajang yang benar-benar
menyenangkan. Oh ya, pernahkah kalian terpikir untuk merencanakan juga malam
pertama? Kalian sudah menunggu-nunggu bagian ini yah? Ha ha ha, baiklah…
kira-kira tiga bulan sebelum hari ‘H’, Meika membeli sebuah video kamera.
Rencananya sih untuk merekam anaknya, tetapi kami langsung terpikir pada suatu
ide gila-gilaan. Idenya Meika, tentu saja.
Idenya adalah merekam adegan malam pertama kami dengan kamera video. Oh,
hubungan sex memang menyenangkan untuk ditunggu, tetapi kalau direkam? Hansen
mula-mula tidak setuju. Tetapi, yang mau merekamnya adalah Meika, adiknya
sendiri yang sekarang sudah jadi ibu. Dalam satu dan lain hal, Meika jelas lebih
berpengalaman soal sex daripada kami berdua, dan dia tidak terlalu terganggu
dengan adegan sex. Meika juga pandai membujuk, sampai akhirnya…Hansen setuju.
Aku pun setuju, dengan catatan bahwa semua rekaman ini hanya boleh diedit oleh
Hansen di rumah kami, di simpan secara pribadi. Meika pun tidak boleh punya
copy-nya!
Singkat cerita, Meika setuju dengan rencana itu. Dan demikianlah, baju
pengantinku pun di desain sesuai dengan rencana anehnya Meika, yang membuatnya
menjadi lebih bersemangat lagi mengurusi pernikahan kami. Aku dan Hansen
membiarkannya menikmati persiapan dan perayaan nikah, karena dia sendiri tidak
sempat mengalami pernikahan seperti ini. Biarlah Meika mengalami bagian di dalam
kebahagiaan kami. Toh kami sendiri sama sekali tidak kehilangan kebahagiaan itu;
sebaliknya, rencana Meika membuat kami menunggu-nunggu.
Acara pernikahan kami pun berlangsung dengan cukup lancar dan melelahkan.
Bagaimana tidak? Aku sudah harus bangun sejak jam tiga pagi, lantas ke salon.
Kalian tahu detilnya, bukan? Tapi semuanya menyenangkan. Mengharukan.
Melelahkan.
Acara dimulai dari jam delapan pagi, lalu sampai siang, lantas diteruskan
resepsi di sore hari. Di tengah-tengahnya ada sesi pemotretan di studio. Oh ya,
bagian ini pun kami pakai dengan sebaik-baiknya, apalagi dengan baju pengantin
yang seseksi ini (tidak pernah tukang foto melihat pengantin sepertiku,
nampaknya burungnya pun ikut berdiri). Alhasil, kami bisa mendapatkan beberapa
jepret ekstra yang amat artistik, juga amat erotik. Aku dan Hansen sepakat untuk
memasangnya kelak di ruang tidur. Boleh ‘kan?
Selebihnya, acara resepsi adalah acara yang banyak senda gurau. Betul! Jadi
pengantin jangan tegang, rileks saja. Enjoy enjoy saja. Semakin menyenangkan,
semakin malam, rasanya semakin deg degan. Memang tangan dan kaki agak pegal,
tetapi tubuh rasanya semakin membara menanti semua orang pergi dan kami sampai
ke puncak kami sendiri. Berdua. Bertiga, dengan Meika yang akan merekam
semuanya.
Oh, betapa tidak sabarnya…

Aku harus mengakui, bahwa gairah berahi dalam diri seseorang adalah api yang
berkobar-kobar, dan membakar. Bukannya sekali atau dua kali aku berada hanya
berdua saja dengan Hansen, dengan nafsu yang meledak-ledak, merasakan nikmatnya
pelukan, nikmatnya ciuman. Di pipi, di dahi, di bibir, di leher, lalu turun ke
dada. Ya, kalau sudah begitu aku tidak keberatan membuka bra agar Hansen bisa
mencium dadaku yang membesar dan putingnya menjadi keras menegang, berlomba
dengan penisnya yang mengeras.
Sekali waktu, berahiku begitu besar, sehingga aku membuka celananya,
memelorotkannya, hanya agar dapat menyentuh penis yang merah berurat, dengan
ujung yang basah mengkilat. Saat itu rasanya bibir kemaluanku pun sudah merekah,
sudah begitu ingin merasakan diterobos penis yang indah. Dan tangan Hansen pun
sudah menjamahnya, memainkan klitoris dan labia dan membuatku terbang ke
angkasa. Ya, bukan hanya sekali aku orgasme di tangannya. Atau di mulutnya,
ketika lidahnya menjulur keluar dan membuat klitorisku yang peka menjadi semakin
keras seperti kacang, yang kemudian dikulumnya.
Aku tidak tahu, tapi gairahku itu besar. Masturbasiku hampir setiap hari, tetapi
ternyata sama sekali tidak menolong meredam berahi. Bahkan sebaliknya, semakin
lama aku semakin gatal ingin disetubuhi, ingin merasakan bagaimana nikmatnya
penis itu, bukan hanya tangan-tangan ini saja yang bekerja di sela-sela paha.
Jangan percaya kalau ada yang bilang masturbasi itu cocok untuk meredakan nafsu,
sebaliknya, masturbasi membuatku semakin siap untuk melepaskan keperawanan. Siap
untuk digagahi seseorang.
Tapi aku tahu, sebenarnya aku tidak siap. Selama ini masih ada akal sehat yang
mengatakan, bahwa aku tidak boleh melangkah ke sana. Tidak kemarin, tidak juga
sekarang. Dan aku tahu, bahwa aku harus berhenti bercumbu seperti ini. Mungkin
bisa sekali, atau dua kali, tetapi bukan untuk dilakukan berulang-ulang setiap
kali ada kesempatan. Tubuhku adalah milikku, ada dalam kehendakku, bukan
sebaliknya. Aku tidak mau dikendalikan kelenjar-kelenjar hormon yang giat
bekerja dalam masa muda, dan membuatku melakukan kebodohan.
Masalahnya, aku sudah melihat kebodohan itu. Aku sudah melihat Meika dan Robby.
Mereka tidak melakukan kesalahan, bukan… karena mereka hanya mengikuti apa yang
ada dalam darah mereka, hormon anak muda yang berlimpah ruah. Melakukan hal itu
bukan sesuatu yang salah, melainkan sesuatu yang bodoh, kalau kau bisa melihat
bedanya.
Terjadinya kira-kira setahun yang lalu. Waktu itu aku dan Meika sama-sama
berumur 22, sedang Robby dan Hansen sama-sama berumur 24. Kedua pemuda ganteng
yang pasti memikat siapa pun juga, dan aku tahu kalau Meika sudah tidak perawan
lagi sejak beberapa bulan sebelumnya.
Ia mula-mula takut, tetapi semakin lama menjadi semakin menyukai kehadiran penis
di vaginanya. Kebutuhan untuk dicumbu dan disetubuhi menjadi sesuatu yang rutin,
dan Meika tidak takut untuk melakukan hubungan seks setiap kali ada kesempatan.
Aku tidak pernah melihat mereka melakukannya, hanya mendengar saja penuturan
Meika tentang pengalamannya, entah tentang gaya atau berapa kali ia orgasme
ditusuk penis Robby yang besar dan kekar.
Betapa pun enaknya hubungan seks, orang tetap punya banyak kegiatan lain. Robby
juga sibuk, harus membuat skripsi sehingga untuk beberapa saat tidak dapat
mengunjungi Meika dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Akibatnya, setelah ‘puasa’
selama dua minggu, Meika seperti cacing kepanasan. Sejak mens terakhir, tak
sekalipun Robby sempat ML dengannya, dan saat itu vaginanya begitu basah dan
peka, sampai-sampai Meika nyaris orgasme hanya karena tempat duduknya cukup
kasar dan ada kayu yang menonjol.
Oh ya, aku lupa bercerita: waktu itu keluarga Meika pindah rumah, karena orang
tuanya baru saja membeli sebuah rumah yang lebih besar di perumahan di daerah
utara. Karena banyak barang yang harus diurus sedang orang tuanya sibuk, jadinya
Meika yang harus mengurus kepindahan dan pembelian berbagai furnitur untuk rumah
yang baru. Ia lebih dahulu tinggal di rumah baru, sementara orang tuanya baru
akan menyusul seminggu kemudian. Hansen masih sibuk ngebut bikin skripsi, jadi
ia juga tidak pindah dulu agar bisa berkonsentrasi.
Dan tentunya, Meika memintaku untuk membantunya. Tak mungkin ditolak dong,
apalagi memang saat itu kuliah sedang libur. Jadi aku dari pagi membantunya
membersihkan beberapa ruangan, sambil mengawasi tukang-tukang yang memindahkan
perabotan yang baru dibeli.
Tapi seharian itu aku juga harus menanggung keluhan Meika yang sebentar-sebentar
terangsang, bahkan sempat memintaku mengusap-usap memeknya yang memang basah
berlendir dan amat sensitif itu. Aneh rasanya menyentuh vagina Meika, karena
bibirnya begitu merekah terbuka. Seperti itukah vagina seorang perempuan jika
sudah tidak lagi perawan?
Sore itu, tidak semua barang selesai diangkut. Sebagian masih tersisa di ruang
tamu, sebuah lemari baju besar, juga meja dan sofa. Aku dan Meika sedang
beristirahat, ketika kami mendengar suara mobil. Robby. Meika benar kegirangan,
sampai-sampai ia langsung menutup rapat jendela dan pintu. Dan aku.
"Di, gimana nih? Gue kangen berat ama Robby. Tapi dia sungkan kalo ada eloe.
Gimana dong?"
Alhasil aku mengalah…dan bersembunyi di lemari baju yang besar itu. Untung
dalamnya masih kosong, jadi aku bisa duduk dengan enak. Tapi aku tidak bisa
melihat apa-apa, selain lewat sedikit celah pintu lemari yang dibiarkan terbuka
agar tidak pengap. Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suara-suara dua
orang yang sedang dimabuk berahi. Meika hampir menjerit memanggil nama Robby.
Kukira, ia melompat menyongsong kekasihnya. Aku mendengar suara berdebum, lalu
erangan. Meika sama sekali tidak menahan-nahan suaranya.
"Robby sayang..buruan! Buka, buka… ayoh… oohhh…"
"Sebentar sayang, buka dulu kaosnya…"
"Ga usah Yang, celananya aja… gua kangen berat…"
"Oh… basah sekali""Ya…langsung masukin aja"
"Begini?"
"Oohh…jangan siksa gue Rob…tusuk dong…"
Dan rintihan. Dan lenguhan. Aku merasa vaginaku sendiri tiba-tiba menjadi basah.
Aku membayangkan bahwa di situ ada Hansen yang sedang making-love dengan
vaginaku yang berdenyut-denyut ini. Setiap kali Meika merintih, aku merasa itu
juga rintihanku sendiri. Dan rasanya, aku juga bisa orgasme, karena tanpa sadar
tanganku sudah bermain-main dengan klitoris dan bibir memekku yang juga sudah
merekah, walau tidak sebesar Meika.
Hingga, terjadilah puncak itu.
"Mei…Mei… ouf… ouf… aku udah mau dapet Mei… ohhh"
"Gue juga Rob… ohh ohh ohh"
Dan nyaris serempak, Meika dan Robby mengerang. Panjang. Kukira, saat itu Robby
sedang membenamkan penisnya dalam-dalam dan mengeluarkan semua isinya. Semoga
mereka ingat untuk memasang kondom.
Tapi nyatanya tidak. Terlalu bergairah, terlalu bernafsu. Lupa. Saat kebutuhan
paling mendesak adalah merasakan penis menerobos bibir vagina, yang lain tidak
penting lagi. Orgasme menjadi tujuan, puncaknya, yang terpenting… dan terbodoh.
"Rob…aduh Rob, kenapa eloe keluarin di dalem? Gue lagi subur…"
"Duh…sori Ka, gue nggak tahan. Lagian kan eloe juga tadi yang ngejepit dan nahan
gue di dalem. Terus kita bareng-bareng nyampe…"
Aku tidak akan menceritakan detil keributan yang terjadi sesudahnya, pokoknya
sehabis kebutuhan biologisnya terpuaskan, Meika kembali ke pikiran warasnya dan
ia menjadi amat sangat khawatir hamil. Robby juga pusing, dan tak lama kemudian
ia buru-buru pergi, katanya mau membuat skripsinya lagi. Toh tadi itu ia hanya
mampir karena sudah kangen berat tidak tertahankan. Secepat datangnya, secepat
itu pulalah Robby pergi, karena sudah ada janji dengan dosen pembimbing.
Setelah Robby pergi, aku keluar dari lemari dan Meika sedang duduk di sofa,
masih telanjang, dan menangis. Mungkin ia menyesal; entah karena bertengkar
dengan Robby atau karena ia membiarkan Robby mengeluarkan spermanya jauh di
dalam vaginanya yang sedang di puncak masa subur.
Pekerjaan hari itu masih diteruskan dan baru selesai seminggu kemudian, tetapi
apa yang terjadi pada Meika membuatku berpikir kembali tentang seks sebelum
menikah. Karena sesudah hari itu, tiba-tiba saja Meika dan Robby jadi saling
menjauh. Dan Meika jadi agak berubah. Dua bulan kemudian, aku melihat
payudaranya membesar. Dan Meika mulai muntah dan pusing di pagi hari.
Meika hamil. Robby pergi, entah kemana tanggung jawabnya. Keluarga Meika heboh,
mereka membuat semacam sidang untuk menanyai Meika dan aku, yang senantiasa
menemaninya. Sudah tanggung, akhirnya Meika menceritakan semua aktivitasnya
dengan Robby, yang membuat orang tuanya marah besar. Robby lalu dicari, dimintai
pertanggungjawaban. Ia setuju, tapi minta waktu untuk menyelesaikan skripsinya
dulu. Akad nikah toh bisa dilakukan di depan beberapa saksi saja, tidak perlu
pesta segala.
Ternyata, Robby bukan suami yang baik. Ia sibuk dengan skripsi, sibuk dengan
teman-teman, dan tubuh Meika yang tiba-tiba membengkak karena hamil membuatnya
nampak tidak lagi menarik dan seksi. Dan karena hamil, tiba-tiba pula Meika
kehilangan keinginan berhubungan seks…dan tanpa seks, rupanya tidak ada hal yang
membuat mereka saling tertarik lagi. Aku baru tahu, ternyata orang bisa
kelihatan saling menyayangi karena satu sama lain saling memenuhi kebutuhan
seksnya. Saat tidak ada seks, tidak ada kebutuhan, dan tidak ada lagi rasa
sayang!
Mengerikan. Aku suka seks, tapi aku mau menyayangi Hansen karena dirinya, bukan
karena penisnya. Dan aku mau Hansen menyayangiku karena diriku, bukan karena
memekku. Dan kalau sudah begini, benarlah bahwa memang orang sebaiknya baru
berhubungan seks setelah menikah, setelah mengucapkan janji untuk sehidup
semati. Saat di mana kehadiran anak bukan merupakan beban, melainkan menjadi
kegembiraan.
Ya, aku mau merasa gembira ketika nantinya aku (mudah-mudahan) hamil. Aku ingin
menantikan bayiku, ingin membaginya dengan Hansen yang juga senang dengan perut
yang membuncit. Setidaknya, tidak seperti Robby yang mukanya masam setiap kali
melihat perut Meika yang semakin membesar.
Tapi akhirnya mereka menikah juga, beberapa saat setelah Robby selesai sidang
skripsi. Belum di wisuda, tapi dia sudah harus siap menjadi seorang ayah, karena
waktu itu umur kehamilan Meika sudah hampir tujuh bulan. Orang tua Meika dan
Hansen pindah ke rumah baru, sementara Meika dan Robby menempati rumah lamanya
(tadinya, rumah itu mau dikontrakkan atau dijual). Betapa menyedihkan: menjadi
keluarga muda, belum ada penghasilan, di rumah tua yang kosong melompong karena
sebagian furniturnya sudah keburu dijual.
Berkali-kali aku memberi bahuku untuk tangisan Meika yang menyesali berahinya,
tapi nasi sudah jadi bubur. Aku sendiri tetap menyayanginya sebagai sahabat,
sebagai calon saudara ipar, sebagai orang yang tahu bagaimana petualangan kami
sejak semula. Tetapi aku sendiri bingung, karena ternyata kehamilan mempunyai
banyak sisi yang gelap bagiku. Ada perubahan emosi yang kuat, ada perubahan
fisik yang melelahkan, baik untuk Meika maupun bagiku sendiri.
Sampai akhirnya, baru saja Meika bulan lalu melahirkan. Normal, bukan operasi
caesar. Robby pergi, mencari kerja di kota lain, jadi aku yang menemani Meika
dari mulai kontraksi sampai dia selesai melahirkan. Tapi aku tidak berani masuk
ruang bersalin, takut aku sendiri nantinya tidak berani melahirkan. Saat
menunggu itu, bulu kudukku berdiri setiap kali mendengar jeritan perempuan yang
sedang meregang melahirkan anaknya.
Saat aku nanti akan mengalami ini semua, aku sangat berharap ada Hansen di
sisiku. Rasanya, aku akan kuat jika ditemani suamiku. Kasihan Meika.
Aku sendiri, setelah peristiwa itu, mengalami hal yang menyenangkan: orang tua
Hansen melamar ke orang tuaku. Mereka rupanya khawatir, hubunganku dengan Hansen
menjadi seperti Robby dengan Meika. Dan karena Hansen memang serius, kami
serius, perubahan ini menyenangkan. Aku dan Hansen langsung merencanakan
pernikahan kami, tentu saja setelah Meika selesai melahirkan, agar kami semua
sempat memperhatikannya.
Dan sebenarnya, aku sudah hampir menikah. Aku mau menulis lebih banyak –hobi
sih– tetapi tidak sempat karena kegiatanku seabreg-abreg untuk pernikahan ini.
Ah, Diana yang ini, yang kuper dan takut lelaki ini, akhirnya menikah juga!

Secara alami, aku jatuh cinta sama Hansen. Rasanya tidak ada yang buruk atau
kurang dari cowok satu ini: jantan, pintar, bisa membawa diri, ngomongnya enak,
dan keringatnya harum. Bahkan ketika Hansen sedang basah, aku suka berada dalam
dekapannya. Merasakan aromanya. Mendengarkan suaranya yang empuk. Dan biasanya,
aku terangsang berat sehingga malamnya aku pasti bermasturbasi.
Tapi jangan pikir kami mengobral seks. Mungkin para cowok bodoh yang otaknya
ngeres, maunya seks melulu. Tetapi aku mau bilang, justru kenikmatan pacaran ada
dalam proses menahan diri. Dalam suasana berdua, hanya berdua saja, aku dan
Hansen tidak lebih dari berpelukan dan berciuman. Dan sebagian besar waktu
dipakai untuk ngobrol. Ngobrol. Dan ngobrol.
Aku suka bicara apa saja, karena aku juga suka membaca. Aku membaca Ayu Utami,
hebat dia. Aku membaca Kierkegaard. Aku membaca Time. Setidaknya, apa yang
Hansen baca, aku juga mau baca. Dia memang pintar, tapi aku juga pintar. Kami
bisa membahas banyak hal sampai berjam-jam, dalam diskusi yang padat dan
menggairahkan. Aku suka melihat gayanya berbicara, gerak kepalanya, tangannya,
bahkan bola matanya. Aku suka melihat ia berbinar-binar menceritakan
impian-impiannya, atau keprihatinannya, atau ide-idenya.
Dan aku juga suka joke-nya. Lelucon yang segar, yang cerdas. Bukan sekedar
lelucon murahan tentang toket dan titit yang menjemukan, tetapi apa yang baru
akan terasa lucu bila benar-benar dipikirkan. Dan setiap kali kami tertawa
terbahak-bahak, lepas bebas. Betapa keren gayanya tertawa. Aku tak pernah bosan
mendengar suara tawanya.
Setahun kami pacaran, barulah Hansen menyatakan dia cinta padaku. Dan aku cinta
padanya. Hari itu adalah waktu-waktu di bulan November, yang langitnya serasa
senantiasa mendung dan udara berbau air dan cemara yang tumbuh di halaman depan.
Kami sudah ngobrol sepanjang sore, dan waktu sudah menjelang malam. Mungkin
sekitar pukul setengah tujuh. Dan Hansen bilang, "Diana… aku cinta sama kamu."
Deg.
"Hansen…" (aku memang biasa memanggil namanya begitu saja) "aku juga cinta
padamu."
Lalu kami berciuman. Lama. Bibir kami bertemu lembut, lidah kami saling mengelus
bibir, lalu saling melibat. Aku memejamkan mata, rasanya tubuhku melayang.
Bahagia. Hansen mendekapku kuat-kuat, seolah-olah mau menyatukan diri. Agak
sesak nafas, setengah karena dekapannya, setengah lagi karena aku menahan nafas
dalam gelora asmara. Saat itu, rasanya aku siap untuk menyerahkan apa saja bagi
Hansen. Tetapi dia memang gentleman sejati, hanya mendekap dan menciumku. Lalu
memandang wajahku. Lalu berkata, "Diana, kamu cantik sekali."
Biasanya aku merasa bete kalau ada cowok mengatakan begitu, tetapi kali ini aku
merasa pernyataan itu wajar. Itu bukan pujian, tetapi pengakuan. Dan untuk
pertama kalinya, aku merasa senang bukan main kalau Hansen mau memandangku. Aku
ingin ia melihatku, melihat semua bagian diriku. Bahkan melihat bagian yang
tidak pernah dilihat orang lain. Tiba-tiba aku merasa bajuku terlalu banyak.
Terlalu tebal. Terlalu tertutup. Aku harus lebih terbuka di depan Hansen, aku
tahu ia menikmati tubuh perempuan. Tubuh telanjang perempuan.
Saat itu, aku sudah masuk tingkat dua. Bahan kuliah semakin susah, jadi waktu
pacaranku dengan Hansen juga semakin sedikit. Tapi aku pikir tak apalah, karena
Hansen juga sebentar lagi harus membuat skripsi. Karena waktu semakin sempit,
aku berusaha mengisi waktu yang sedikit itu dengan sebaik-baiknya. Aku ingin dia
menikmati diriku, menikmati keberadaanku. Dan aku tahu, seperti hari Rabu waktu
kami bertemu, kalau Hansen suka melihatku tampil lebih seksi.
Ya, mengapa tidak? Aku memilih blus tipis dan rok mini. Aku memilih bra berwarna
hitam, dengan thong (kau tahu, celana dalam yang pinggirnya tali saja) yang
sesuai. Bra-nya tipis juga, sehingga jika aku pakai akan menonjolkan ujung
putingku. Dengan baju ini, biasanya aku duduk ngobrol dengan Hansen, mengambil
tempat agak jauh sehingga ia bisa menikmati tubuhku.
Di depan Hansen, aku suka bila ia menatap dadaku, dengan blus tipis yang sengaja
kubuka kancing atasnya. Kadang sambil bicara aku menyilangkan kakiku,
membiarkannya menikmati pemandangan paha, dan sesekali bisa melihat celana
dalam. Aku suka bila melihat perlahan-lahan celana di bagian selangkangannya
menggelembung, karena ada bagian tubuh yang mengeras di situ. Tapi aku terus
bicara, seolah tidak ada apa-apa, sambil merenggangkan pahaku lebih lebar dan
membuat Hansen bisa menatap celana dalamku. Selangkanganku. Vaginaku yang basah.
Biasanya, kalau sudah begitu Hansen terus berdiri dan memelukku, lalu kami
berciuman panas. Lalu Hansen akan mencium leherku dan meremas tetekku, dan aku
akan mengelus-ngelus penisnya yang mengeras di balik celana. Setelah beberapa
saat, Hansen akan permisi untuk ke kamar mandi, aku tahu dia bermasturbasi di
sana. Aku juga akan segera pulang, karena berahiku juga sudah naik ke ubun-ubun
dan turun ke selangkangan, menuntut masturbasi yang meledak-ledak di atas
ranjang. Tetapi tak bisa kulepaskan wajahnya, tubuhnya, dan setiap kali
bermasturbasi aku membayangkan bahwa tangannya yang menyentuh bibir bawahku,
menyentuh klitorisku, dan membuat aku orgasme.
Kebiasaan baru ini membuatku semakin berani berpakaian terbuka, walau tentu saja
baju paling seksi hanya kupakai kalau akau sedang berdua dengan Hansen. Dan
karena orang menganggapku cantik (kata mereka), aku mulai berteman dengan cewek
kampus yang sejenis dalam hal kecantikan dan ke-seksi-an. Tetapi mereka ini
bukan hanya seksi, melainkan nge-seks. Jago. Setiap kali kami kumpul bareng, ada
saja cerita tentang pengalaman dengan cowok.
Mula-mula aku heran, tetapi ternyata cewek tidak kalah seru untuk ngobrol
tentang ngeseks. Dalam kumpulan cewek, pengetahuan tentang ngeseks adalah
sesuatu yang dibanggakan. Aku jadi tahu tentang caranya blow job. Aku jadi tahu
tentang oral seks. Aku jadi tahu tentang bermacam-macam gaya, termasuk yang
bikin sakit pinggang karena terlalu banyak mengikuti gaya film bokep. Mereka
rupanya bodoh juga, tidak memikirkan bahwa film bokep itu memang gayanya diatur
sedemikian rupa, sehingga kamera bisa menyorot ke selangkangan yang sedang
diaduk-aduk penis. Tetapi gaya seperti itu adalah gaya yang bikin keseleo, dan
jelas tidak enak, dan jelas yang di film itu berpura-pura.
Dan aku tahu, dari pengalaman nyata teman-teman cewekku ini, bahwa gaya yang
normal dan bisa dinikmati hanya ada tiga: gaya misionaris yang konvensional,
gaya cewek di atas, dan gaya sodok dari belakang. Kadang ada yang mencoba
cowoknya duduk di kursi, lalu ceweknya menduduki penis. Ini juga enak, tetapi
biasanya yang cowok nggak terlalu suka karena duduk di kursi tidak memberi
banyak keleluasaan untuk bergerak.
Di antara cewek-cewek cantik itu, hanya Aku dan Lara yang masih perawan. Yang
lainnya sudah bolong semua, malah ada seorang yang sudah tidur dengan sedikitnya
lima cowok berbeda, sehingga bisa mengatakan apa bedanya rasa penis yang
panjang, yang diameternya besar, dan yang bentuknya melengkung, saat masuk ke
vaginanya. Ada juga yang hanya main dengan dua cowok, tetapi mainnya secara
simultan, alias orgy. Dan ia sudah juga mencoba anal seks, yang sakitnya nggak
ketulungan dan membuatnya nggak bisa jalan lurus selama seminggu.
Aku sih hanya menjadi pendengar saja, sambil mengumpulkan fantasi yang mendorong
berahiku lebih besar di kamar, saat aku bermasturbasi sambil membayangkan
Hansen. Keberanianku pun semakin menjadi-jadi, pernah sekali waktu aku sama
sekali nggak pakai CD, lantas ngobrol seperti biasa. Dan kali itu Hansen tidak
bisa ngomong dengan lancar, karena matanya melotot melihat kemaluanku apa
adanya. Tapi kami masih menahan diri, Hansen dan aku tahu bahwa kami tidak akan
berhubungan seks sekarang. Setidaknya bukan kemarin, atau hari ini, entah hari
esok.
Hubungan macam ini membuat kami saling menghormati. Hansen menghormati
privasiku, dan aku menghormati calon suamiku. Aku tidak pernah membantahnya, dan
aku juga menjaga untuk tidak menjadi cewek matre yang menguras kantong cowok.
Hansen suka membelikanku barang-barang, tetapi aku hanya menginginkan yang
benar-benar perlu, yang akan kupakai. Dan Hansen sangat senang, karena semua
pemberiannya tidak pernah sia-sia.
Kami berdua sibuk studi, sampai akhirnya Hansen selesai membuat skripsi. Oh,
tentu banyak kejadian dan kenikmatan kami berdua…tapi kukira tidak perlu ditulis
di sini. Ada banyak hal yang tidak bisa dituang dengan kata-kata, tatkala
titik-titik kenikmatan seorang perempuan disentuh dengan lembut oleh perilaku
seorang laki-laki sejati. Ada yang mengatakan bahwa titik itu adalah g-spot,
suatu tempat di dalam vagina. Tetapi aku sendiri beranggapan, hal itu salah.
Titik g-spot seorang perempuan ada di hatinya, dan tidak bisa disentuh oleh
penis atau oleh tangan, melainkan oleh jiwa yang jantan, yang gentleman, yang
bisa menahan diri. Setiap kali aku terangsang oleh gayanya, tutur katanya,
cara-caranya. Dari tatapan matanya, dari tarikan senyumannya, dari kelembutan
usapannya, Hansen menyentuh g-spotku, dan aku terbang ke langit, melayang tinggi
di angkasa. Semua itu dilakukannya, dengan keadaan kami hanya duduk berhadapan,
dan masih berpakaian lengkap!
Aku menyimpan g-spot dalam vaginaku untuk saat yang benar-benar istimewa. Aku
berharap kelak Hansen akan menyentuhnya juga, sebagaimana ia telah menyentuh
hatiku. Aku pikir, itu adalah saat yang luar biasa, yang justru menjadi hebat
dan istimewa karena dikhususkan, disimpan. Kalau engkau menghargai sesuatu dan
menilainya tinggi, engkau akan mendapatkan yang terbaik. Dan bilamana saat itu
tiba, aku benar-benar tidak akan masturbasi lagi. Aku akan mendapatkan pria-ku,
milik-ku sendiri.

Waktu itu adalah satu hari setelah ujian SMU terakhir selesai. Aku masih
berseragam abu-abu, merasa puas. Setidaknya aku sudah mengerjakan semua yang aku
bisa kerjakan, dan perasaanku mengatakan bahwa aku telah mengerjakannya dengan
benar. Beban terakhir sudah berlalu. Tak bisa aku menahan senyum lega, jadi aku
menggandeng Meika, berjalan dengan lega melalui kantin yang sepi, karena hari
itu kelas-kelas 1 dan 2 libur.
Tetapi, sekosong-kosongnya kantin, masih ada beberapa anak di sana sini. Cowok.
Dan mereka menatapku… tiba-tiba saja aku merasa hariku tidak secerah tadi.
Mengapa mereka tidak menatap Meika? Bukankah dia yang cantik di sebelahku?
Rambutnya yang shaggy, dengan rok yang lebih pendek dariku, dengan kancing baju
paling atas terbuka, menunjukkan kulit yang putih bersih. Bukankah ia cantik
sekali? Lihat hidungnya. Lihat matanya. Dan lihat bibirnya yang merah muda,
menutupi giginya yang berderet putih. Anak SMU yang cantik bergandeng di sisiku.
Tapi, kenapa mereka justru memandang padaku?
"Ka, cowok-cowok itu ngapain sih?" setelah kami berlalu dari lorong kantin yang
menjemukan itu. Tiba-tiba saja aku merasa bete.
Tapi, kali ini sohibku itu tidak menolong, malah senyum-senyum kecil. Ia
memandangiku. "Nanti," katanya, "kita kan punya banyak waktu. Kamu masih di
tempatku ‘kan?"
Ya, tiga hari terakhir memang aku menginap di rumah Meika. Bukan apa-apa, aku
mau belajar dengan baik. Di rumah ada dua orang adikku yang selalu ribut,
lagipula ibu cenderung menyuruhku setiap kali ada kesempatan. Aku yang mau
ujian, harus konsentrasi, juga harus istirahat. Tidak mungkin konsentrasi terus
menerus. Dan kalau aku setiap kali istirahat disuruh membantu mencuci baju,
kapan aku istirahatnya? Jadi, aku minta ijin untuk menginap di rumah Meika, yang
senantiasa sepi. Apalagi hari-hari ini, karena ada sepupu Meika yang menikah di
kota lain, jadi Hansen dan kedua orang tuanya pergi ke sana selama empat atau
lima hari. Mereka berangkat tiga hari yang lalu, jadi paling cepat akan pulang
besok sore, atau lusa pagi. Selama mereka pergi, aku menemani Meika belajar.
Belajar, dan belajar.
Tapi hari ini ujian sudah selesai, dan aku berjanji untuk tetap menemani Meika
di rumah sampai orang tuanya pulang.
Sesampainya kami di rumah, Meika sudah buru-buru ke kulkas dan mengambil sebotol
air es. Ia menempelkannya di dahi. Lalu di pipi. Lalu di dadanya. Embun dari
botol yang dingin membasahi bajunya di bagian dada. Memang anak ini agak aneh.
"Jadi, kenapa Ka? Kok misterius amat sih?"
"Iya lah, terang aja mereka ngeliatin elu. Kamu cantik sih."
"Ah, macam-macam aja. Sejak kapan aku cantik. Justru kamu yang cantik, Ka. Aku
heran mereka tidak ngeliatin kamu."
"Gua sih… manis Di. Tapi mana bisa dibandingkan ama kecantikan putri Diana?"
"Jangan ngegodain sekarang ah. Masih panas nih."
"Siapa yang godain? Ngaca lagi sana! Coba, itu rambut hitam lurus panjang
begitu, siapa yang gak ketarik? Dan kamu kulitnya halus, Di, gak ada jerawatnya.
Putih lagi. Mata kamu gede, indah. Kamu mancung, turunan dari nenek kamu yang
dari Belanda yah? Dan bibir kamu manis sekali."
"Meika, ngawur ah!"
"Siapa yang ngawur? Lagipula lihat gua, tetek gua kecil Di, anak kelas satu aja
ada yang lebih gede dari ini. Gua mau sumpal, tapi susahnya gua suka beha yang
kaos. Tapi lihat tetek elu. Astaga Di, masak kamu nggak sadar?"
"Tapi Ka, justru aku suka malu dengan tetekku."
"Ah, kamu sih nyari buku melulu! Justru, Diana sayang, tetek yang kayak kamu itu
yang jadi idaman gue dari dulu. Bulat. Besar. Mancung. Kemari," dan Meika lantas
menarikku ke kamarnya. Di sana ada cermin besar. Ia lantas mengunci pintu, lalu
mengajakku ke depan cermin itu.
"Nih Di, lihat deh tetek gua." Meika lantas membuka baju seragamnya, juga
membuka beha kaosnya yang berwarna abu-abu muda. Ia menunjukkan dadanya yang
memang kecil, walau putingnya nampak menonjol dan berwarna merah kecoklatan.
"Nah, coba buka baju elu, kita lihat deh." Tanpa bertanya lagi, Meika lantas
membuka kancing bajuku.
Terpesona, aku membiarkan saja ia membuka baju seragamku. Juga membuka behaku
yang ukurannya 34C. Belum besar, belum pakai cup ukuran D. Tapi memang lebih
besar daripada punyanya sendiri.
"Ck ck ck… Diana, elu punya dada yang sempurna. Gimana elu bisa merasa malu?"
"Aku… nggak tahu, Ka. Aku nggak mau menarik perhatian cowok karena dadaku.
Rasanya, aku jadi cewek murahan."
"Elu macam-macam aja mikirnya. Justru, elu jadi cewek idaman banyak cowok. Dan
dada ini, mungkin mereka udah pada mimpi basah membayangkan bisa menyentuh,
meremas, dan mencium."
"Gila ah!"
"Elu nggak tahu, Di. Gua kasih tau satu rahasia nih… tapi elu jangan marah ya?"
Aku mengangguk, menatapnya serius. "Kak Hansen udah lama mengidolakan elu, tapi
dia gak berani. Berapa kali gua liat dia menelan ludah memandangi dada elu.
Mungkin, kalo elu kasih ijin, dia udah dari kemarin nyedot tetek elu."
"Ka, jangan ngomong gitu ah." Tapi, entah kenapa, dalam diriku terasa darah
berdesir aneh. Aku memandang ke cermin, membayangkan di situ ada Hansen. Ia
sedang memelukku dengan mesra, hati-hati dan lembut. Wajahnya yang tampan itu
berada di antara belahan dadaku, menjilat keringat yang ada di situ. Tangannya
yang satu memelintir putingku…. Dan tanpa kusadari, kedua puting susuku menjadi
mengeras.
"Di, elu nggak tahu aja. Jangankan Hansen, gua aja sekarang…rasanya ingin bisa
menyentuh dada elu. Kelihatannya menarik sekali, Di."
"Meika…" Tapi entah kenapa aku tersenyum dan mengangguk. Dan entah mengapa pula,
tahu-tahu Meika sudah mencium pipiku, lalu leherku, lalu ia mencium belahan
dadaku. Aku memejamkan mata. Kedua tangan kami tahu-tahu sudah bekerja sendiri,
saling meraba bahu, lalu pundak, lalu meraba susu. Aku menyentuh puting susu
Meika yang sudah mengeras. Meika menyentuh kedua bulatan susuku, meremasnya.
Tahu-tahu pula, Meika mencium puting susuku yang sebelah kanan, lalu ia
memasukkannya ke dalam mulutnya. Aku memejamkan mata, merasakan desiran aneh itu
semakin kuat menghanyutkan. Tanpa sadar, aku memegang kepala Meika dengan
sebelah tangan, menekannya ke dadaku. Sebelah tanganku yang lain memegang
punggung Meika. Dan aku tidak sadar, bagaimana Meika sudah memegang kedua
belahan pantatku, memasukkan tangannya dari bawah rok. Aku merasa melayang,
menikmati ciuman Meika yang bertubi-tubi pada kedua tetekku, menyedot, meremas,
menjilat, mencium dengan cara yang mungkin hanya diketahui oleh seorang wanita.
Mencium dengan cara yang menyenangkan, dan amat merangsang.
Tahu-tahu lagi, aku sudah tidak lagi memakai rok abu-abu. Bahkan celana dalamku
telah melorot sampai di pangkal paha. Tiba-tiba aku menjadi takut. Apa yang
sedang kulakukan ini? Tetapi semuanya terasa begitu enak, begitu cocok. Rasanya
memang seharusnya dari dulu seperti ini, tetapi tidak boleh begini. Meika
perempuan. Aku perempuan. Apakah kami menjadi lesbian?
"Ka…ohhh… Ka… stop Ka. Stop Ka. STOP KA!"
Meika berhenti. Pipinya merah dadu karena berahi.
"Jangan… jangan diterusin Ka. Aku… aku nggak bisa Ka." Jelas, bahwa aku juga
dikuasai berahi.
"so..sori Di. Gua juga… gua juga lupa diri. Ohhh… tapi rasanya enak. Gua mesti
lepasin Di…"
Tanpa menunggu waktu lagi, Meika melorotkan rok dan celana dalamnya. Telanjang
bulat, ia naik ke atas ranjang. Berbaring dengan guling diletakkan di bawah
pantatnya. Ia lantas memejamkan mata, dan mengangkangkan kakinya, kedua pahanya
yang putih itu berkeringat. Kemaluannya sudah ditumbuhi rambut tipis, ikal
kemerahan. Dan aku melihat bibir kemaluannya merekah, merah. Di atasnya ada
sesuatu yang menonjol keluar, itulah clitorisnya. Meika membasahi jari-jarinya
dengan ludah, lantas mulai menggosok bibir kemaluan dan clitorisnya sendiri.
Aku pun melepaskan celana dalamku yang sudah melorot sedikit, lantas berbaring
di kasur ekstra di lantai di sisi ranjang Meika. Inilah kasur yang selama ini
aku pakai tidur di rumah Meika. Aku meniru perbuatan Meika, dan merasakan ada
gelombang-gelombang dahsyat setiap kali menyentuh bibir dan clitorisku yang
semakin basah berlendir karena cairan vaginaku sendiri. Kini aku tidak lagi
takut gelombang-gelombang itu, malah aku menginginkannya. Lebih lagi. Lebih
lagi. Lebih cepat, lebih keras. Lebih cepat, lebih keras.
Dan tiba-tiba badanku seperti terlempar tinggi ke angkasa. Seluruh tubuhku
mengejang, vaginaku serasa meledak. Aku untuk pertama kalinya merasakan hebatnya
orgasme, tak dapat lagi menahan diri menghentak-hentak, melengkungkan punggung
dan membiarkan seluruh otot di tubuhku berkontraksi. Bahkan, untuk sesaat aku
menahan nafas kuat-kuat.
Gila, aku dan Meika baru saja bermasturbasi. Tapi rasanya benar, memang harus
begini. Dari dulu.
Tapi saat itu aku berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Tidak lagi
bermasturbasi.
Inilah janji yang, mungkin kalian sudah bisa duga, sudah kulanggar lagi hanya
dalam waktu beberapa hari sesudahnya. Dan menjadi rutinitas sesudahnya, terutama
dalam masa-masa antara dua minggu setelah menstruasi. Saat di mana lendir
vaginaku paling banyak dan klitorisku paling besar dan peka. Bukan hanya sekali,
aku bisa masturbasi dua sampai empat kali kalau sedang ingin.
Saat itu baru aku tahu, bahwa ternyata libidoku besar, lebih besar dari Meika.
Namun aku terlalu pintar untuk menyerah pada nafsu. Meika tidak sekuat itu,
karena tak lama sesudah kami diterima masuk universitas, Meika sudah mendapatkan
cowok yang paling ganteng dan pintar dari dua angkatan di atasnya. Kakak kelas
yang rupanya bisa memahami libido Meika, karena ia sering curhat padaku dan
bercerita bagaimana mereka memadu cinta. Mula-mula petting. Lalu telanjang
bersama. Lalu oral seks. Dalam peringatan setahun mereka pacaran, Meika
menyerahkan keperawanannya pada Robby, pacarnya itu.
Gilanya, Meika membuat rekaman video malam pertamanya dengan Robby. Ia
menunjukkan rekaman itu padaku, membuatku panas dingin melihatnya. Melihat
bagaimana mereka bercumbu. Melihat bagaimana Robby menjilati kemaluan Meika
sampai ia orgasme. Melihat bagaimana Meika menaruh bantal di bawah pantatnya.
Melihat bagaimana Robby mengalasi bantal itu dengan celana dalam Meika.
Melihat kemaluan Robby berdiri — tidak terlalu panjang, tetapi nampak bulat dan
lancip, seperti pisau. Dan Meika membimbing batang kemaluan itu ke bibir
kemaluannya sendiri, sambil berkata, "Ambil Rob… gua serahkan ini khusus buat
elu. Bikin gua enak, Rob." Dan Robby menekan kemaluannya ke dalam. Meika
menjerit panjang, membuatku terkejut luar biasa. Jantungku berdebar-debar.
Tetapi, kemaluan Robby sudah tertanam seluruhnya dalam liang Meika.
Meika bilang, jangan percaya dengan cerita porno yang mengatakan hubungan
pertama itu enak asal terangsang. Waktu itu Meika sudah terangsang berat, dan
kemaluannya sudah basah sekali. Tetapi ketika penis Robby masuk, sakitnya tetap
tidak tertahankan. Dan begitu masuk semua, sedikit gerakan saja sudah terasa
nyeri dan pedih. Dinding vagina perawan memang sempit bukan main, sehingga Robby
juga tidak bisa bergerak, kecuali ia tidak peduli Meika kesakitan. Yang terjadi,
karena sempitnya dinding kemaluan Meika, Robby akhirnya tidak tahan dan
ejakulasi di dalam kemaluan Meika. Tidak ada gerakan-gerakan seks, seperti masuk
dan keluar… semuanya begitu cepat. Hanya dalam hitungan tak lebih dari sepuluh
menit.
Tetapi yang sepuluh menit itu membuat Meika cemas selama berminggu-minggu,
sampai ia mendapatkan menstruasi kembali. Baru sesudah itu ia mau berhubungan
badan lagi dengan Robby, kali ini sudah cukup pandai memakai kondom.
Dan aku? Sampai saat ini aku masih perawan. Tetapi tidak berarti aku tidak punya
pacar.
Karena, hampir di saat yang sama Meika mulai pacaran dengan Robby, aku pun mulai
jadian dengan…. Hansen!

Gila, aku tidak tahu mengapa aku membuat blog seperti ini. Rasanya seperti orang
bingung, yang tidak tahu mau berbagi dengan siapa. Dan kalau mau tahu, tidak
biasanya aku seperti ini.
Gara-garanya dimulai dulu sekali… rasanya tidak lama setelah ulang tahunku yang
ke tujuh belas. Masih kelas 3 SMU. Waktu itu, aku masih perawan ting ting yang
penakut dan rada kuper, walau orang bilang aku cakep dan cowok-cowok mau
berdekat-dekatan. Tapi, aku lihat mata mereka lebih sering melotot melihat dada,
dan aku takut.
Kamu tahu, sebenarnya punya wajah cantik dan body oke juga mendatangkan
kesusahan?
Aku lebih suka belajar. Aku sudah terbiasa menjadi juara kelas, mana ada waktu
melayani cowok-cowok yang tahunya hanya mengajak cewek ke bioskop dan makan dan
tak tahu malu mengajak nonton film bokep di tempat kost yang bau itu? Bukannya
aku tidak tahu, tapi aku memilih untuk jadi kuper saja.
Sampai waktu itu, aku ketemu Hansen. Dia kakak Meika, sohibku yang baik dan
cantik dan seksi dan ngajarin aku untuk dandan dan milih baju. Meika cantik,
kakaknya ganteng abiss… aku sudah cukup merasa terpesona dengan kecantikan
Meika, tapi melihat kakaknya seperti berada dalam mimpi. Dia waktu itu baru
berumur 19 tahun, sudah mahasiswa. Baik, gentle, dan baru putus dengan pacarnya.
Meika membawa Hansen pertama kalinya waktu aku ulang tahun ke 17. Rasanya dapat
kado yang hebat banget… dan percaya nggak, tadinya aku pikir cowok ini biar
cakep tapi nyebelin, karena Meika pernah cerita kalau kakaknya sudah gonta ganti
pacar berkali-kali. Malah ada cerita, salah satu cewek kakaknya dulu pernah
ditiduri, walau tidak ada kejadian heboh sesudahnya. Memang dia cakep, tapi aku
ogah berteman dengan cowok playboy, sekalipun dia itu kakak sahabatku sendiri.
Tapi aku salah. Hansen menyenangkan, dia humoris dan jokenya bersih, sama sekali
tidak jorok. Dia pintar. Dan dia bersedia membantu Meika dan aku untuk siap-siap
lulus SMU dan masuk universitas. Aku tadinya merasa cukup hebat dengan
pelajaran, sampai aku ketemu Hansen dan menyadari bahwa masih ada yang lebih
pintar. Oh ya, aku ketemu batunya, tapi hebatnya aku sama sekali tidak merasa
tersinggung. Hansen begitu lembut, begitu pengertian… aku bisa merasa aman untuk
menampilkan diri apa adanya. Untuk mengakui bahwa ada kalanya aku juga tidak
bisa mengerjakan soal-soal latihan. Untuk mengakui bahwa aku juga butuh bantuan
dalam studi.
Tak lama setelah pertemuan pertamaku di hari ulang tahun itu, bulan-bulan
berikutnya aku jadi rutin datang ke rumah Meika untuk belajar, dibimbing oleh
Hansen. Mula-mula hanya seminggu sekali, tetapi semakin dekat hari-hari ujian
akhir, aku ke sana hampir setiap sore. Serius belajar, bahkan ngobrol pun tak
sempat.
Ada yang kuingat tentang Hansen waktu itu. Rumah Meika mempunyai pekarangan
belakang cukup luas dan diplester semen, kemudian dipasang ring basket di situ.
Nah, kalo aku datang sore-sore, biasanya Hansen sedang berlatih basket
sendirian, dribbling dan shooting. Biasanya pula, dia hampir selesai atau sudah
selesai waktu aku datang. Tubuhnya basah berkeringat, dan herannya aku merasa
keringatnya harum.
Coba, pernahkah menemukan cowok berkeringat harum? Bukan saja harum, tetapi
menggairahkan. Merangsang, tapi aku waktu itu belum tahu soal terangsang.
Pikiranku masih terfokus pada pelajaran, namun gambaran tubuh yang indah —
kadang Hansen sudah bertelanjang dada menuju kamar mandi — tetap saja masuk ke
otakku yang polos itu. Tapi sesudahnya kami belajar, tidak kurang dan tidak
lebih.

Namaku Diana. Jangan tanya nama belakangku. Juga jangan tanya orang apa aku.
Tidak penting. Mungkin, aku sebenarnya hanya ilusi, hidup dalam khayalan
seseorang. Tetapi kamu toh tidak peduli kalau aku ada atau tiada, bukan?
Tetapi, jika aku melihat bayanganku di cermin, di situ ada sosok perempuan yang
amat perempuan. Lihat, aku cukup langsing, dengan otot yang baik karena aerobik
teratur. Kulitku putih. Rambutku lurus -asli, bukan rebonding- hitam panjang
kecoklatan. Ujungnya menyentuh puting-puting dadaku, sepasang bukit yang
membulat menantang. Kukira karena ukurannya tidak terlalu besar, maka bisa
menonjol bulat seperti itu.
Dan aku mempunyai pinggang yang ramping. Nampaknya, perempuan sekarang banyak
yang tidak peduli lagi dengan pinggangnya, karena sudah menunjukkan pusar mereka
yang hitam berkerak itu. Bodohnya. Bukan pusar yang penting, melainkan pinggang
ramping dan perut yang rata.
Dari pinggang ke bawah, ada sepasang kaki yang ramping pula panjang. Putih. Aku
biasa mengolesinya dengan vaselin, untuk mempertahankan kekenyalan kulitnya.
Lagipula, aku menikmati sentuhan dingin vaselin di paha-pahaku, kadang aku
melumurinya hingga sekitar vaginaku dan menggosok kedua bibir luarnya. Enak.
Kalau sudah begitu, aku meneruskan dengan menggosok klitorisku -orang bilang itu
kacang perempuan- yang membuatku memuncak dan melayang tinggi. Orgasme.
Jadi, secara umum orang mengakui bahwa aku ini cantik dan seksi, tetapi
sebenarnya aku sih merasa biasa saja. Malah aku kadang merasa iri melihat
kemolekan cewek lain, apalagi bila kami sedang berolahraga voli seperti biasa,
terutama di kamar ganti. Ah, tubuh mereka sungguh aduhai, sehingga aku yang
perempuan saja merasa ingin membelainya.
Dan pada mulanya aku sendiri tidak pernah dibelai siapa-siapa. Biar umurku sudah
23 tahun di antara mahasiswi yang sudah jago ngeseks, aku ini masih perawan.
Benar-benar perawan -bukan hanya utuh selaput daranya, tapi memang tidak pernah
tersentuh lelaki. Bukannya aku tidak suka -kau tahu, aku mendambakannya- tetapi
aku ini susah bergaul dengan laki-laki. Merasa minder. Dan aku tidak mau begitu
saja disetubuhi orang, seperti beberapa teman cewekku.