Tuesday, May 1, 2007

ILALANG 6

Sebuah bayangan gelap menyelinap ke arah dapur. Dari geraknya jelas
sosok itu adalah seorang laki-laki, yang bersijingkat
mengendap-endap, seolah tak ingin diketahui kehadirannya. Secepat
tiba di jendela di balik pintu sebelah kiri dapur, bayangan itu
berhenti. Tangannya berupaya melepas kaitan daun jendela dengan
hati-hati, sampai akhirnya didapatkannya sedikit celah untuk
mengintip ke dalam.
Dalam remang-remang cahaya ruangan itu terlihat Surti tidur
terlentang. Laki-laki itu membiarkan matanya beradaptasi dalam
kegelapan. Perlahan tubuh gadis pembantu yang lumayan montok semakin
jelas. Kulitnya kehitaman, sedikit mengkilat karena butiran keringat
yang membasah di sekujur tubuhnya. Posisi kakinya yang mengangkang
membuat darah di kepalanya semakin menggelegak. Sudah beberapa malam
dia mengamati pemandangan ini, dan dengan cepat nafsunya langsung
meninggi.
Beberapa hari lalu ia mencari celah agar pintu kamar itu bisa dibuka
dengan leluasa, dan ia menemukan caranya. Ketika kamar itu kosong,
ia melonggarkan sekrup selot pintu kamar ini. Selot yang memang
sudah tua itu dengan gampang dikerjainya. Dan ia yakin dengan
sedikit sentakan pintu itu akan terbuka tanpa banyak hambatan.
Kini, ketika darahnya semakin menaik, segera didorongnya pintu itu
dengan berat tubuhnya. "Klek," suaranya lemah terdengar di malam
gulita yang senyap. Laki-laki itu terdiam sesaat. Telinganya
bergetar mencoba menangkap barangkali ada suara mencurigakan yang
tidak diinginkannya.
Sunyi.
Seringai kemenangan membayang di wajahnya. Matanya memerah
memancarkan nafsu binatang yang tak lagi bisa dikendalikan.
Ditutupkannya lagi pintu itu sebisanya. Dan perlahan tangannya
menarik golok yang terselip di pinggangnya sejak tadi. Disiapkannya
benda tajam itu di dekat bantal si pembantu. Sejangkauan tangan. Ia
pasti memerlukannya bukan?
Perlahan laki-laki itu mendekat ke tubuh perawan yang terbaring di
dipan kayu. Dipandanginya sekali lagi wajah pembantunya. Di
dekatkannya hidungnya ke sekujur tubuhnya. Endusannya berhenti di
ketiak Surti yang terbuka. Bau apek keringat bocah yang belum bisa
merawat dirinya itu begitu menggairahkan, membuat penisnya menegang.
Ia terus mengendus tubuh perawan di hadapannya ini. Dan ia tahu
persis bagian tubuh mana yang paling diinginkannya. Disibakkannya
daster yang sejak tadi sudah setengah terbuka, hingga celana
dalamnya yang sedikit kumal, terpampang dengan jelasnya. Tubuh
laki-laki itu semakin bergetar menahan nafsunya sendiri. Bulu
romanya bahkan saling berdiri, tapi tidak, ia memang tak ingin
terburu-buru. Ia ingin membaui terlebih dulu aroma yang jauh dari
wangi ini. Ia menyukainya. Perlahan endusannya menuju ke pangkal
paha bocah perempuan berusia 13 tahun itu. Dihirupnya aroma vagina
dari luar celana dalamnya. Dan perlahan tangannya meraba pembantu
kecil itu.
Seperti sudah diperhitungkannya, Surti bergerak, merasakan sentuhan
yang membuat lelapnya terganggu. Tapi ternyata ia hanya mengubah
posisinya dan tak terbangun. Dan laki-laki itu meneruskan aksinya,
dengan kasar meremas kemaluan si bocah dari bagian luar celana
dalamnya. Bocah perempuan itu spontan melek, terjaga dalam
kebingungan.
"Jangan berteriak!" desis si laki-laki. Cekatan di raihnya golok
yang disiapkannya tadi.
Surti kaget dan semakin tidak mengerti. Ia tak tahu kenapa
majikannya berada di kamarnya, bahkan sambil menghunus golok, yang
kini melekat di lehernya. Mata laki-laki itu melotot garang. Tangan
kanannya masih menodongkan golok ke leher sedangkan tangan kirinya
dengan kasar melepas paksa celdam rombeng yang dikenakan Surti.
Bocah itu semakin ketakutan dan berusaha bangkit sambil berusaha
menurunkan dasternya yang tersingkap dengan panik.
"Den, jangan!" bocah itu meronta hendak bangkit.
Meski belum dewasa, naluri kewanitaannya memberikan sinyal bahaya.
Bocah perempuan ini bisa merasakan bukan jiwanya yang terancam, tapi
sesuatu yang lain, yang ia belum mengerti.
Namun laki-laki itu sudah mata gelap oleh nafsu setan. Dengan
kekuatan yang tak sebanding dengan pembantu cilik itu,
disentakkannya tangannya ke dada Surti yang baru tumbuh sehingga
bocah itu kembali terlentang.
"Diam!!" desis si laki-laki, "secepat kau berteriak, golok ini akan
menggorok lehermu, ngerti???!!!!"
Tatapan Surti nanar. Ia setengah mengangguk ketika merasakan perih
di lehernya. Sebuah luka telah tergores, dan ia tahu, kalau ia
bergerak sedikit lagi, luka itu akan semakin dalam. Ia memegang
lengan si laki-laki, berusaha menarik tangan yang memegang golok
itu. Tapi semakin dia memberikan perlawanan, semakin kekuatan
laki-laki itu menekankan golok ke lehernya. Akhirnya pembantu kecil
itu menghentikan usahanya. Ia menangis dalam diam.
"Hehehehe, bagus!"
Laki-laki itu menyeringai lebar. Jantungnya berdegup kencang
menyaksikan pemandangan di depannya. Seorang perempuan, tak peduli
siapa dia, kini berada di depannya tanpa daya. Sayu mata penuh air
mata itu semakin membangkitkan gairahnya. Ia seperti melihat seekor
kelinci siap dimangsa si raja hutan. Dan dia adalah si raja itu.
Saat ini.
Kembali diselusurinya tubuh yang setengah bugil itu dengan matanya.
Dan sekali renggut, daster yang dipakai pembantu cilik itu robek
memanjang, memampangkan tubuh yang semula ditutupinya.
Bocah itu semakin ketakutan. Terlihat dari matanya. Ia juga hendak
memberontak, tapi lagi-lagi golok di lehernya menekan tajam.
Si laki-laki kembali menyeringai. Dengan satu tangannya yang bebas
ia segera melepas celana kolor yang dikenakannya. Penisnya mengacung
tegang. Kekuasaan yang sekarang berada di tangannya telah
membangkitkan gairah birahi yang sejak tadi memang telah
berserabutan menuntut pemenuhan. Perlahan ia naik ke dipan kecil
itu, mengangkang di atas tubuh si pembantu.
"Jangan Den! Tolong Den, jangan!!!"
Ditatapnya dengan kejam bocah perempuan yang mulai mengerti apa yang
akan terjadi itu. Rintihan memohon belas kasihan itu justru semakin
membuat darahnya menggelegak. Rintihan itu seolah aba-aba baginya
untuk segera menindih. Dibekapnya mulut si pembantu yang mulai
memberikan tanda akan berteriak. Ditindihnya tubuh yang meronta itu.
Dijambaknya rambut Surti dengan keras, dan rasa sakit akibat tarikan
rambut itu membuat kaki Surti membuka. Tubuhnya masih meronta liar.
Dan laki-laki itu kesulitan memaksakan kehendaknya. Semakin keras
dijambaknya rambut si pembantu.
"Berhenti! Kalau kau tak mau menuruti aku, bisa kupatahkan lehermu."
Tangannya menekan mulut dan rahang si pembantu kearah yang
berlawanan dengan gerak tangan yang menjambak rambutnya.
Surti mendadak berhenti meronta karena kesakitan.
Lutut laki-laki itu segera mengambil posisi di sela paha Surti yang
mengangkang. Dilepaskannya jambakan di rambut bocah itu dan kemudian
dengan cepat tangannya mengarahkan penisnya yang telah mengacung
tegak itu ke lobang vagina Surti, lantas didorongnya kuat-kuat.
Dipaksanya kelelakiannya itu menusuk ke lubang yang tak lentur
membuka. Gagal. Surti yang kesakitan akibat tusukan di kemaluannya
itu kembali meronta dan gerakannya ini justru mempermudah penis itu
menusuk kali berikutnya.
Bocah pembantu itu berusaha meronta-ronta dengan liar di bawah
tubuhnya. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh yang menindihnya.
Tapi percuma. Tenaga laki-laki yang telah kalap oleh birahi dan
kekuasaan menghancurkan itu tak terlawan. Rontaan Surti justru
dinantikannya. Semakin Surti meronta, pinggulnya semakin bergerak
seolah menyambut hujaman demi hujaman penis laki-laki itu.
Bekapan di mulut surti semakin keras. Dan kini tangan si lelaki
menekan leher si pembantu kuat-kuat. Sambil menarik dan menghujamkan
penisnya bergantian, laki-laki itu kini juga mencari puting susu
Surti. Rakus dikulumnya puting kecil itu. Bahkan kadang digigitnya
kasar. Dan Surti semakin meronta kesakitan. Laki-laki yang sudah
terbakar nafsu setan ini sama sekali tak peduli dan terus melumat
puting itu hingga berdarah, dan dihisapnya darah itu dengan penuh
gairah.
Dirasakanya gerakan tubuh Surti melemah. Tidak, tidak boleh
berhenti, aku butuh keliaran itu, pikir si laki-laki. Dan kemudian
kembali tangannya menjambak rambut Surti dan ditariknya ke belakang
hingga kepala si pembantu itu menengadah kesakitan.
"Hhmmpp.."
Kepala Surti menggeleng-geleng liar, meronta kesakitan, tapi
renggutan rambut ke belakang itu justru membuat pinggulnya melenting
naik dan membuat urat penis si lelaki melesak lebih dalam. Gembira
karena menemukan cara untuk membuatnya terpuaskan dengan cepat,
lelaki itu segera menjambak kuat rambut Surti ke belakang dan
memompa hujaman penisnya semakin cepat. Semakin cepat dan cepat
sampai tiba-tiba dirasakannya mani panas menyembur dari otot
kejantanannya. Dan laki-laki itu melesakkan dalam-dalam penisnya
seraya berhenti bergerak.
Sesaat berlalu. Laki-laki itu membiarkan badai orgasme yang
melandanya usai. Masih ditindihnya tubuh si Surti, tapi kini
dilepaskannya jambakan dari rambut si pembantu.
Sambil mengatur nafas, si lelaki meraih kembali goloknya.
"Jangan pernah sekali-kali membicarakan kejadian ini. Kalau sampai
kau membocorkannya, hm, aku tak ragu-ragu untuk segera menggorokmu!
Paham??!!"
Bocah pembantu itu mengangguk ketakutan. Ia hanya bisa menangis
ketika majikannya itu bangkit dan meraih bekas dasternya, mengelap
penisnya yang kini telah layu, dan mengenakan celana kolornya.
Benci ditatapnya majikannya yang berlalu dari kamar itu dengan
seringai kemenangan. Tapi apalah dia, dia hanya seorang pembantu
cilik dari sebuah desa di pesisir pantai selatan sana. Dan Surti
hanya bisa meneruskan tangisnya dalam gelap dan tanpa suara.
*****
Dua hari menjelang lebaran.
Ketika semua orang berpikir untuk mudik, berkumpul dengan sanak
kadangnya, maka untuk Lang hari ini begitu menyiksa. Semakin
mendekati akhir bulan puasa, suhu tubuhnya bisa naik turun tak
karuan, demam. Bayangan bahwa sebentar lagi ia harus sungkem kepada
suaminya, meminta maaf untuk kesalahannya selama setahun berselang,
membuatnya tak bisa tidur lelap: Lang sebagai istri yang harus minta
maaf duluan kepada Denni, suaminya. Kenapa tidak sebaliknya? Jujur
saja, ritual itu begitu mengganggunya.
Tuhan, kenapa tidak segera terhapus rasa sakit ini? Kenapa
perselingkuhan Denni dan Windy, adik kandungnya tak juga surut dari
ingatan? Bukankah dirinya juga tak bersih dari perselingkuhan demi
perselingkuhan?
Nama Abi dan Jossi tiba-tiba berkelebatan dalam benak Lang. Dua
lelaki itu telah menularkan kekuatan kepada Lang untuk tetap
menjalani perkawinannya. Tapi, mereka bukan bagian lagi dari
kehidupannya saat ini. Abi hanya masa lalu. Jossi juga. Laki-laki
itu pamitan kepadanya beberapa bulan lalu. Ia harus pindah ke Irian
Jaya demi karir istrinya. Dan Lang harus merelakannya. Tapi, kenapa
ia merasa tak juga lega telah membalas perlakuan Denni kepadanya?
"Hhhhh.,"
"Hei, kok menghela nafas gitu sih?" Lang merasa bahunya ditepuk Yeli
lembut dari belakang. Dia tersadar berada di tengah kerumunan orang
berbelanja di supermarket Matahari Malioboro.
"Masih perasaan yang sama ya?"
Lang mengangguk, tersenyum kecut. Karibnya semasa SMA itu memang
tahu perasaan tergelap di bilik hatinya yang paling dalam. Dua
minggu lalu tiba-tiba saja Yeli menelepon ke kantornya di Jakarta.
Lama sekali mereka tak bersua, tak juga berkontak kata. Spontan
mereka saling cerita kehidupan masing-masing. Dan karena mereka
sama-sama berniat berlebaran di Jogya, akhirnya mereka janjian untuk
berbelanja bareng hari itu. Di situlah mereka saat ini, terperangkap
dalam jejalan manusia yang saling berebut kue kering, sirup, dan
kebutuhan lebaran lainnya.
"Sudah lengkap semua kebutuhanmu?"
Kembali Lang mengangguk, dan mereka kemudian antri di lintasan
kassa. Menjelang maghrib baru mereka berhasil lepas dari kerumunan
massa.
"Eh Yel, cari makanan kecil di Bulak Sumur yuk. Kita bawa ke
pinggiran danau di timur kampus. Aku kok tiba-tiba kangen nongkrong
di situ."
"Boleh saja. Tapi kau yakin tubuhmu nggak lelah? Kulihat kau agak
pucat hari ini," kata Yeli sambil melirik perut Lang yang membusung
karena usia kehamilannya yang semakin tua.
Ya, Lang memang memutuskan untuk hamil lagi. Ia tidak ingin Randu
sendirian. Ia ingin memberinya seorang adik. Di samping itu, ada
niatan tersembunyi di hatinya. Jauh di dasar sana, ia ingin
mempunyai seseorang yang bisa disayangnya seandainya Randu
benar-benar dikuasai Denni.
Dikuasai?
Perih hatinya dengan pilihan kata-katanya sendiri. Tapi kenyataan
itu harus diterimanya. Ia merasa, suatu saat dirinya pasti tak kuat
menanggung beban perkawinannya. Entah kenapa ia berpikir demikian.
Dan dalam benaknya, tergambar satu keyakinan, bahwa Denni pasti akan
mati-matian menguasai Randu.
Bagaimana nasib anak itu nanti? Hhh..entahlah, yang pasti ia ingin
punya seorang anak lagi untuk ditimang. Dan hari ini, ia mensyukuri
keputusannya itu. Ya, ada satu masalah yang telah membuat hatinya
kembali berkeping. Masalah besar, yang tidak mungkin ia sebarkan.
Masalah yang telah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan Denni.
"Hhhhh.."
"Lang," tegur Yeli lembut, "Kita jadi ke danau?"
Lang menatapnya sendu. Ia memaksakan segurat senyum di bibirnya. Tak
cukup berhasil. Tapi ia menyatakan persetujuannya dengan anggukan
kepala.
Yeli. Ia sebenarnya curiga melihat sahabatnya hari ini, tidak
seceria kemarin. Bahkan kalau tidak salah, ketika tadi menjemput di
rumahnya, dia masih melihat pelupuk mata Lang memerah. Habis nangis.
Tapi ia tahu persis, tak ada gunanya memaksa Lang bicara. Percuma.
Perempuan di depannya ini seperti kerang. Sekali bersembunyi dalam
'rumahnya' yang keras, tak bakalan orang tahu apa yang
dipikirkannya.
Yeli segera mengarahkan mobilnya ke selatan, menyusuri Malioboro,
membelok ke timur. Dicarinya jalan paling singkat ke Bulak Sumur.
Untung masih banyak pedagang makanan kecil di pinggiran jalan kampus
terbesar di kota gudeg itu. Mereka segera memborong kue, membeli
kolak, dan air mineral secukupnya. Dan kemudian mobil Yeli terlihat
meluncur ke bagian timur Kampus Biru itu, ke pinggiran danau yang
agak sepi.
Lampu merkuri yang menerangi jalan tak cukup terang menjangkau
daerah ini. Bukan masalah, karena beberapa pedagang jagung bakar
membawa cukup obor untuk menerangi dagangan mereka. Penjual wedang
ronde pun memanfaatkan senthir untuk menerangi gerobak yang dipenuhi
stoples kaca berisi gula ronde, kolang-kaling, kacang, dan potongan
roti. Lang menghirup bau jahe dari kukusan air mereka, dan tak tahan
untuk segera keluar dari mobil yang diparkir karibnya tak jauh dari
danau, dan segera memesan ronde yang panas mengepul. Ia menghirupnya
segera ketika sampai di dalam mobil.
"Wuiih, kangen banget aku dengan suasana ini."
"Yupp. Tak cuma kamu Lang. Akupun kehilangan kegembiraan masa-masa
kuliah yang mengasikkan. Untungnya kampusku di Surabaya itu
suasananya tak jauh beda dari UGM, jadi lumayanlah."
"Asik jadi dosen?"
"Asiklah. Aku kan memang dari dulu ingin berdiri di depan kelas,
menantang mahasiswa berdebat, biar otak mereka rada isi. Sambil
sesekali melirik mereka yang ganteng-ganteng ituuuuu."
Tawa mereka berderai renyah. Dan tanpa terasa mereka kemudian
tenggelam berbagi nostalgia tentang masa lalu, tentang gank mereka
yang terdiri dari tiga cewek bandel: Lang, Yeli, dan Andin.
"Jadi apa Andin sekarang?"
"Terakhir aku mendengar, dia menikah dengan Rory, anak A3 itu. Dia
memilih jadi ibu rumah tangga sepertinya, biar punya kesempatan
menjajah suaminya itu kali, hahahaha,"
Lang ikut tergelak membayangkan Andin yang begitu galak, memegang
cemeti menunggu suaminya yang terlambat pulang. Dulu Andinlah yang
sering mencari setori dengan gank lain yang ada di SMA mereka. Tak
hanya gank cewek, gank cowok pun sering jadi sasaran kejailan dia.
Endingnya, bila ada kekacauan, Lang dan Yeli yang turun tangan
menyelesaikan masalah. Mereka bertiga segera populer di kalangan
siswa dan guru di sekolah itu, karena tak saja mereka jail, tapi
otak mereka pun isi. Ranking tiga besar pasti mereka sabet. Hanya
saja urutan siapa yang ada di peringkat satu, dua, dan tiga, saling
berganti antara Lang, Yeli, dan Andin.
Masa lalu yang menyenangkan.
"Lang, hampir jam sembilan malam. Kau..tak ingin pulang?" Yeli
berucap lembut sambil menatap wajah Lang yang tiba-tiba agak memucat
ketika mendengar kata-katanya. Ia tahu persis ekspresi Lang
kesakitan ketika diingatkan untuk pulang.
"Lang, kau harus menghadapi situasi ini dengan jernih. Aku tahu
memang menyakitkan tapi bukankah kita tak bisa lari dari kenyataan
yang kita pilih?"
Lang terdiam. "Aku..aku tak ingin pulang Yel,"
Belum lagi Yeli merespon kata-katanya, Lang sudah menangis tersedu.
Tak kuat lagi ia menahan bebannya. Seharian ini ia mencoba
mengebaskan rasa sakitnya dengan mencari ribuan kesibukan: Mencari
keperluan lebaran, guyon dengan Yeli, mencoba mengalihkan perhatian
dengan bernostalgia ke masa lalu yang menyenangkan, tapi nyatanya
gagal. Sekarang, ketika tak ada lagi 'tembok' yang bisa dijadikannya
sebagai alasan mengalihkan perhatian, ia merasakan dadanya sesak.
Yeli sebenarnya juga curiga dengan perilaku Lang. Perempuan di
depannya ini memang sejak tadi ketawa-ketiwi, tapi Yeli cukup kenal
siapa Lang dan bagaimana jika sobatnya ini sedih. Mulutnya boleh
tertawa, tapi sayu matanya tak bisa menipu. Ia tadi hanya menahan
diri untuk tidak bertanya. Percuma. Lang tak akan bercerita apapun
kecuali dia memang ingin bercerita. Dipeluknya sahabatnya itu.
Dibiarkannya tangis Lang semakin keras.
Sesaat kemudian tangis itu mereda.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Yel, katakan kepadaku, apa sih kekuranganku sebagai istri?"
"Wah, susah itu jawabannya."
"Beri aku penilaian Yel. Apakah aku benar-benar tak punya harga
sebagai seorang istri? Benarkah seorang pembantu lebih bernilai dari
aku?"
"Lho, kok larinya ke pembantu sih?" Yeli bertanya tak mengerti.
Tapi, Lang bukannya menjawab, malah sahabatnya itu kembali menangis
tersedu.
Busyet, ini pasti ada hubungannya dengan kembalinya Surti yang
tiba-tiba hari ini, batin Yeli. Tadi Lang memang sempat cerita kalau
Surti mendadak pulang untuk berlebaran. Hm, ada kejadian apa lagi
nih?
"Lang, cerita dong, jangan cuma menangis begini!"
"Tadi pagi..tadi pagi-pagi sekali, Surti pamitan pulang. Aku kaget,
kenapa dia dadakan begitu. Padahal sebelumnya aku sudah minta dia
pulang hari kedua setelah Lebaran! Tapi ketika aku ingatkan
komitmennya itu, dia justru menangis."
"Apa katanya?"
"Dia tidak mau bilang kenapa, sampai aku lihat ada yang ganjil di
lehernya."
"Apa itu?"
"Dia mengenakan selendang di lehernya itu, ketika aku minta dia
membukanya, dia tambah nangis," lanjut Lang sambil masih terisak,
"tapi aku memaksanya membuka selendang itu..dia ada ada luka di
lehernya Yel."
"Dia berusaha gantung diri? Atau ada yang cekik dia?"
"Tidak Yel..dia..dia...uhuhu," Lang tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Ledakan tangisnya kembali menyekat kerongkongannya...sampai
akhirnya...
"Dia diperkosa Denni,"
Yeli terkesiap. Lidahnya kelu. Ia tak tahu lagi apa yang harus
diucapkannya untuk menghibur Lang. Dibiarkannya perempuan itu
menghabiskan tangis dalam pelukannya.
******
Malam itu Lang akhirnya sampai di rumah tepat tengah malam. Sebagian
dirinya menolak pulang, tapi Yeli mengingatkan bahwa Randu, anaknya
yang sulung pasti mencarinya.
"Pulang Lang. Kalau tidak untuk Denni, maka lakukan itu untuk
Randu."
Dan pulanglah dia.
Dibukanya pintu depan dengan kuncinya. Ruang tamu masih temaram
diterangi lampu di pojok meja. Tudung lampu yang berwarna putih itu
membiaskan bayangan khas di dinding.
"Lang."
Suara Denni.
Tubuh Lang spontan kaku mendengar suara itu. Hal terakhir yang ingin
ditemuinya hari ini adalah Denni, tapi ternyata suaminya masih duduk
di pojok dekat televisi, menungguinya pulang.
Lang berusaha menjangkau sofa terdekat. Ia tak punya lagi energi
untuk berkonfrontasi dengan Denni. Ia harus duduk, tubuhnya lemas.
Kehamilannya seolah menjadi berat sekali. Ingin sekali ia langsung
menuju kamarnya, tapi kakinya menolak. Akhirnya dihempaskannya
sedikit tubuhnya ke sofa panjang dekat pintu masuk.
Lang duduk diam. Ia bahkan tidak bergerak ketika suaminya mendekat.
Tidak. Cukup sudah toleransinya. Ia tak ingin berubah pikiran.
Sedangkan dari nada suara Denni memanggilnya tadi, ia tahu suaminya
itu menuntut permakluman.
"Lang....,"
Diam.
"Lang, tolong pandang mataku,"
Pandang? Tidak! Lang tidak lagi kuat memandang suaminya tanpa
amarah. Jadi lebih baik tidak! Ditangkupkannya kedua telapak
tangannya menutup wajahnya.
"Lang..,"
Dirasakannya tangan suaminya memegang lengannya. Tubuh Lang gemetar
hebat. Ingin ditepisnya tangan itu, tapi itu berarti dia akan
membuka wajahnya, matanya, dan ia akan melihat Denni. TIDAK!!!
"Hhhh, Lang...tolong pandang aku Lang," bisik Denni lirih, "maafkan
aku."
Degg!!!
MAAF?????
Seumur-umur Lang baru mendengar kata ini diucapkan suaminya.
Tuhan, apa yang harus dia lakukan? Seribu amarah tentang perilaku
suaminya tak pernah pergi dari hatinya. Bahkan ketika ia
menghancurkan diri, masuk juga ke lumpur, agar sama kotor dirinya,
tapi tak juga amarah itu hilang.
Setiap detik ia juga mengharap suaminya meminta ampunan, dan tak
pernah itu datang.
Kini, ketika ia memutuskan untuk pergi, justru Denni mengucapkannya.
Haru biru pertentangan batinnya membuat Lang lemas. Kesadarannya
terenggut. Ia terkulai pingsan. Ketika sadar, ia telah berada di
ruangan bernuansa putih. Rumah sakit. Dilihatnya perutnya mengempis.
Panik. Otaknya dimintanya bekerja, agar menuntut bertanya kemana isi
perutnya, tapi tak mampu.
"Anakku..," bisiknya lemah..tak ada jawaban...
"Anakku!!!! Mana anakku???" Ia akhirnya bisa berteriak. Kepanikan
menggerogoti pikirannya. Ia berusaha bangun tapi kepalanya seolah
ditimbuni berton-ton pasir. Berat sekali.
Tubuhnya menuntut untuk lelap kembali. Pengaruh obat bius rupanya
masih kenatl dalam darahnya. Tapi sekali lagi otaknya tak mau
menyerah. Tidak, ia tak boleh kehilangan Gading. Cukup sudah dulu
Savitri menghilang dari kehidupannya. Tapi tidak dengan Gading.
"TIDAAAAAAAAAK..!!!!"
"Tenang, tenang," ujar seorang perawat yang segera masuk mendengar
teriakannya.
"Mana anakku, mana Gading??!!!"
Lang berteriak menuntut anaknya. Ia meronta ingin mencari, tapi
lengan-lengan kuat menariknya agar tetap berada di ranjang. Jarum
infusnya bahkan lepas. Tapi ia tidak peduli, sampai seorang suster
menggendong seorang bayi mungil dipelukannya.
"Ibu tenang dulu, sebelum ibu tenang kami tak bisa memberikan bayi
ini."
Lang menatap bayi itu. Ya, itu Gading. Ia bisa merasakannya.
Kepalanya seperti terguyur es. Ada kelegaan disana dan ia mencoba
mengendalikan diri. Ia memang tak butuh apa-apa..ia hanya butuh
Gading, bayi mungil itu.
Tenang Lang. Tenang.
"Suster, berikan bayiku..berikan bayiku," suaranya atau lebih tepat
rintihannya terdengar memelas. Tangis mengembang di pelupuk matanya.
Para perawat yang berada di ruangan itu seolah merasakan kebutuhan
Lang yang amat sangat atas kehadiran bayinya. Dan mereka sepakat
untuk segera mengulurkan bayi itu dalam pelukan Lang.
"Gading...," panggilnya lemah. Dipeluknya anak itu. Dipeluknya erat
bayi laki-laki yang kemudian diketahuinya harus dilahirkan dengan
bedah caesar. Ia tak peduli rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia hanya
ingin bayinya. Gading.
(Di sanalah ia tetapkan sebuah kekuatan baru. Kekuatan yang berasal
dari darah dan dagingnya sendiri, yang tak mungkin meninggalkannya.)