Tuesday, May 1, 2007

ILALANG 5

Malam hari, di sebuah ruang tamu, di rumah bercat putih, yang
terletak di samping masjid.
Atmosfir ruangan itu begitu mencekam. Seandainya ada jarum terjatuh,
rasanya dentingannya akan menggelontang saking keras terdengar.
Senyap. Tapi sebenarnya, aroma kemarahan menggema di hati
masing-masing orang yang sekarang sedang berada di situ: Seorang
laki-laki yang tersenggol egonya, dan seorang perempuan yang
mempertahankan cintanya.
"Gugurkan..!" geram si laki-laki sambil menggebrak meja di depannya.
Hatinya jengkel. Sedari tadi perempuan yang duduk di depannya itu
hanya menangis tanpa suara, tidak mengiyakan maupun menolak
kata-katanya. Huh!! Ia merasa diabaikan, tidak dianggap. Perempuan
itu baru saja mengaku kepadanya, bahwa dalam rahimnya bersemayam
janin yang bukan berasal dari pembuahannya.
"Dulu bisa-bisanya kau menolak tuduhanku bahwa kau berselingkuh
dengan Abi. Nyatanya, saat ini kau bahkan bunting gara-gara anjing
itu!!"
Lagi-lagi tak ada tanggapan. Wajah Lang begitu beku tanpa ekspersi.
Satu-satunya tanda betapa hatinya teriris adalah tetesan airmata di
pipinya, deras mengalir mengaburkan pandangannya.
Ia sengaja tidak menanggapi tuntutan suaminya. Ia sengaja mengaku
pada Denni. Ingin dilihatnya laki-laki itu terluka dengan kenyataan
yang disodorkan di depannya. Dan kini setelah laki-laki itu
mengumpat, biarlah. Ia memilih diam, meski di hatinya seribu
bantahan dan sumpah serapah pun siap menyembur keluar. Tidak. Ia tak
akan menanggapi apapun. Biar Denni bisa merasakan betapa sikap diam
yang selama ini menjadi senjatanya, menikam dirinya sendiri.
Rasakan Den, rasakan betapa terhempasnya dirimu ke kabut pekat,
ketika kau butuh penjelasan, tapi tak ada jawaban. Bukankah kau
sering melakukannya untukku? Terabaikan huh? Asyik ya sensasinya?
Begitu menikam keberadaan kita. Menjejalkan ketidakberadaan kita ke
dalam jurang tanpa dasar.
Sebuah pemberontakan dalam diam.
Semburat senyum melintas dalam bibir Lang. Senyum kemenangan di
tengah aliran air mata yang membasahi bibirnya. Mengerikan jika bisa
melihat ekspresi perempuan ini. Wajah bekunya perlahan berubah.
Matanya memicing penuh dendam. Tarikan bibirnya ditaburi kesinisan
luarbiasa. Keriutan di wajahnya berubah-ubah mencerminkan amarah
yang tertahan sekian lama. Dan kacaunya, perlahan tapi pasti senyum
di bibirnya berubah, mulutnya tiba-tiba terkekeh geli, sementara
buliran airmatanya semakin deras.
"Eh..?" Denni yang sejak tadi mengamati istrinya itu jadi terpana.
Apakah perempuan ini menjadi gila?
"Hiks..hiks..hihihihi..hiks...hahahaha.....tak perlu bingung Den.
Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya merasa lucu, melihat betapa kau
menyumpahi Abi," perempuan itu berkata-kata.
"Den, apa kau lupa berkaca? Tidakkah kau lihat tahi yang kau
balurkan sendiri ke mukamu? Masih ingat Windy kan? Bukankah kau
meniduri adik kandungku itu tanpa beban apapun? Kenapa kau tak
pernah mengutuki dirimu sendiri untuk laku binatangmu itu?"
Intonasinya begitu dingin. "Tapi..tapi...ini berbeda,"
"Apa bedanya? Kau merasa cukup menyelesaikan masalah dengan kembali
kepadaku, tanpa ucapan maaf dan tanpa rasa bersalah? Kau pikir aku
akan menerimanya begitu saja? Ohohoho jangan mimpi! Aku bukan
perempuan bodoh. Kau tidak kembali kepadaku karena mencintaiku kan?
Kau hanya butuh bergantung kepadaku. Membiarkan aku bekerja sehingga
kau bisa tetap bergaya dengan kebiasaan hidupmu yang mencari enaknya
itu kan?"
Sebuah tuduhan.
"Tidak, jangan menyela! Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku dengan
laku yang beradab, atau aku akan menyampaikan kata-kataku dengan
suara keras, agar orang sekampung tahu borok kita," hening sejenak,
Lang seolah menunggu pemahaman di benak suaminya, "Asal kau tahu,
aku tidak keberatan kok mereka mendengar aku dihamili orang lain."
Suara Lang berdesis penuh amarah. Ia mengangkat tangannya memberi
isyarat agar suaminya diam.
"Aku yakin kau akan merasa sangat tercoreng jika mereka tahu apa
yang telah kau lakukan kepadaku," Ia tahu persis, harga diri Denni
akan terbanting jika orang tahu kelakuannya. Laki-laki sombong,
hipokrit sejati.
"Dengar Den, aku tak akan menggugurkan kandungan ini. Aku akan
mempertahankannya atas nama perasaan indah yang aku butuhkan. Bayi
di perutku ini akan mengingatkan aku, betapa ada seseorang yang
mencintaiku, menyayangiku, meski dia tak bisa aku miliki. Kau bisa
terima itu, bisa juga tidak, bukan masalah lagi untukku."
Tubuh Denni menegang mendengar kalimat terakhir istrinya. Ia
tiba-tiba merasa terancam. Perempuan ini tak lagi ragu. Dulu ia
berpikir istrinya masih mau menerima dia dan kesalahannya karena
perempuan itu takut ditinggalkan, takut berstatus janda. Tapi
rupanya ia salah. Lang tak takut apa-apa. Sebegitu besarkah pengaruh
cinta yang diberikan Abi? Pertanyaan itu seolah menonjok ulu
hatinya. Ya, ia tak pernah memberikan cinta itu kepada Lang. Ia
tiba-tiba diingatkan betapa selama ini ia hanya berkutat pada
kemarahannya karena istrinya tak lagi berdarah di kala malam pertama
mereka. Ia tahu dirinya begitu tidak adil pada perempuan ini. Hampir
hatinya melemah, menerima istrinya apa adanya. Tapi ego
kelelakiannya spontan menolak. Tidak! Bayangan betapa perempuan ini
telah dijamah laki-laki lain sangat menyinggung egonya!
Selama bicara Lang mengamati bahasa tubuh suaminya, ekpresinya, dan
ia tahu persis: Tetap saja tak ada harga di dirinya di hadapan
suaminya itu.
Ia maklum, dulu memang ia bukan apa-apa di mata Denni, sekedar
perempuan yang tanpa keperawanan. Ia tahu dalam diamnya Denni
menuduhnya pernah ditiduri laki-laki lain. Dan percuma meyakinkan
itu bahwa ia adalah lelaki pertama yang kelelakiannya memasuki
tubuhnya. Kini, ketika ia telah mengandung janin dari benih
laki-laki lain di rahimnya, ia tahu semakin tak ada lagi yang patut
dipertahankan dari perkawinannya.
Lang beranjak dari kursinya, diraihnya tas kerjanya yang dibawa dari
Jakarta pagi tadi. Ia memang terbiasa pulang pergi Jogya-Jakarta
sebulan sekali tanpa membawa baju ganti. Toh ia hanya sehari dua di
Jogya ini.
"Aku pergi."
"Kau....kau mau kemana?"
Belum lagi Lang menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba pintu kamar tidur
terbuka dari dalam.
"Bu..," suara Randu masih dengan kantuknya. Rupanya anak itu
terbangun dari tidurnya.
Denni bergegas menarik tangan anak itu. Bocah yang kini berusia
hampir empat tahun itu adalah senjatanya untuk menyakiti hati Lang.
Tidak, ia tidak akan menyerah kepada istrinya. Digelandangnya anak
itu mendekat ke Ilalang. Anak itu tersentak kaget dengan perlakuan
ayahnya yang rada kasar dan kemudian menangis, menatap ibunya.
"Diam! Randu, coba lihat ibumu, dia akan pergi meninggalkan kita.
Dia mau kawin tuh sama bajingan Abi," kata Denni seraya mencengkeram
lengan Randu. Badan anak itu jadi sedikit terangkat dan terlihat
anak itu menangis ketakutan.
Lang yang semula hendak pergi, tercekat hatinya. Sakit sekali
rasanya melihat Randu ditarik dalam pertikaian itu. Lebih sakit lagi
hatinya mendengar Denni mengucapkan fitnah yang tidak senonoh itu di
depan anak semata wayangnya. Ingin rasanya dia mengumpat laki-laki
itu, tapi kala dilihatnya tangis anaknya semakin pilu, ia tiba-tiba
merasa lemah. Yah, ia tak bisa pergi. Tidak bisa. Digapainya anak
itu. Bocah itu meronta dari cengkeraman ayahnya dan menghambur ke
pelukan Lang. Mereka menangis bersama.
Tuhan, biarlah aku tahankan diriku sejenak. Tak perlu bocah ini jadi
korban. Dan beri aku kekuatan untuk mempertahankan makhluk yang
mulai berkembang di dalam rahimku ini. Cukup sudah, jika Kau
kabulkan do'aku ini, aku akan berterimakasih kepadaMu.
*****
Bulan berganti tanpa banyak kejadian.
Lang secara intensif memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ia minum
berbagai vitamin untuk menjaga kesehatannya. Ia berusaha menetapkan
hatinya memelihara janin di kandungannya itu. Ia bahkan telah
memberi nama bayi dalam kandungannya. Savitri, itulah nama yang
disiapkan buat janin yg kini berusia empat bulan itu. Ia yakin anak
itu akan terlahir sebagai perempuan yang lembut, dan ia bertekad
akan mendidiknya dengan baik.
Tapi..takdir berkata lain.
Lang keguguran. Jiwanya yang tertekan menghadapi penolakan suaminya
tak dapat dipungkiri berandil pada kondisi fisiknya. Sejuta
harapannya untuk memperoleh perhatian dari Abi, juga dikuburnya
dalam-dalam. Dan akibatnya, janin itu tak berkembang. Ketika dokter
kandungan memeriksanya dengan USG, terlihat betapa rahimnya
membesar, tapi 'anak' itu tetap dalam bentuknya semula.
Malangnya nasibmu, anakku. Aku yakin kau merana sendirian dalam
cairan ketubanku. Tubuhku tak cukup hangat menghadirkan kehidupan
dalam dirimu. Jiwaku tak cukup kuat meniupkan ruh dalam tubuhmu.
Maafkan aku, Savitri. Maafkan aku. Maafkan aku, anakku.....*sob*
*****
Sesal di kalbu Lang menggumpal, menyesak. Ia marah pada tuhannya. Ia
mengumpat betapa tak adilnya takdir dirinya. Ketika ia membutuhkan
jangkar untuk tetap pada jalurnya, jangkar itu direnggut sedemikian
gampangnya.
Seminggu sejak keguguran, ia langsung kembali bekerja, lebih keras
dari biasanya. Diabaikannya tubuhnya yang masih menuntut
beristirahat. Disingkirkannya rasa tertikam dalam hatinya. Ia
bekerja, bekerja, dan bekerja. Waktu dua puluh empat jam seolah tak
cukup mewadahi pelariannya.
"Pulang, Lang. Sejak kemarin aku lihat kau bahkan belum memejamkan
matamu barang sebentar. Sana, pulanglah, cobalah berbaring dan
tidur, kau membutuhkan itu," bujuk Jossi.
Hanya kepada Jossi, Lang bisa terbuka. Menuturkan kehilangannya pada
rekan kerjanya itu. Tapi, penuturan itu hanya berkilas bak putaran
pita seluloid tanpa makna. Mengalir begitu saja tanpa ekspresi
apa-apa. Inilah yang membuat Jossi begitu khawatir pada perempuan di
depannya itu. Sehari-hari ia mengenal Lang yang begitu hangat.
Pancaran hidup dari perempuan itu sangat nyata terlihat, tapi pada
saat ia menceritakan kehilangannya, ia begitu dingin. Bahkan tanpa
tangis.
Kini, perempuan itu memaksanya mengedit semua pekerjaan yang
tertunda, bahkan meski itu bukan project programme yang jadi
tanggung jawabnya langsung. Dan Jossi tahu, ini adalah imbas dari
kehilangan Lang pada si kecil Savitri.
"Lang..., Lang..!!!" geregetan, sambil memanggil, tangan Jossi
menampar pipi Lang. Perempuan ini harus segera ditarik dari puasaran
lubang gelap yang menyelimutinya.
Lang gelagapan. Lecutan rasa sakit di pipi kirinya seolah
membangunkannya dari tidur panjang. Ditatapnya mata Jossi yang kini
tajam menghujam menjenguk isi hatinya. Dilihatnya muka laki-laki itu
menawarkan persahabatan, tanpa pretensi, kecuali rasa sayang seorang
teman yang mengerti kehilangannya. Dan ia tak dapat membendung lagi
kesedihannya yang tertunda. Dibiarkannya lengan Jossi memeluknya.
Dalam hatinya ia merasakan kehangatan tangan seorang teman yang
mendekap kepalanya lembut, memberikan tempat baginya untuk menangis.
Dan ia, mulai menangis.
Lang tak sadar berapa lama ia menangis. Ketika membuka mata, ia
menemukan dirinya terbaring di sebuah kamar bernuansa putih. Harum
bau karbol menyengat hidungnya, membuatnya nyaris tersedak.
Diliriknya punggung telapak tangan kirinya yang terasa kaku, sebuah
jarum infus penyebabnya, mengalirkan cairan garam ke pembuluhnya.
Otak bekunya serasa teraliri dengan kesadaran. Ah, ia ada di rumah
sakit. Dan ia sendiri. Tak ada siapapun di ruangan 3 x 4 m2 itu.
Sendiri.
"Klik..," pandangannya tersedot ke pintu kamar yang perlahan
membuka. Kepala Jossi menjenguk dari sana. Ketika melihatnya, muka
laki-laki itu spontan gembira.
"Ah, kau sudah sadar rupanya."
Lang tersenyum. Ia bisa mengambil kesimpulan dengan cepat, laki-laki
inilah yang memboyongnya ke rumah sakit. Hatinya hangat.
"Terimakasih."
"Lho, untuk apa? Apakah aku sudah memberimu segepok uang untuk bayar
biaya rumah sakit ini? Nggak lah. Kau harus membayarnya sendiri
nanti, aku nggak punya duit untuk itu," tutur Jossi menggoda. Senyum
Lang tambah lebar. Ditinjunya lengan Jossi lembut. Ia tahu laki-laki
itu tidak serius. Toh, biaya kesehatan bakal ditanggung stasiun TV
tempatnya bekerja.
"Berapa lama aku di sini?" tanya Lang dengan suara yang masih lemah.

"Hm, hanya dua hari kok."
"Wah, dua hari aku tak sadarkan diri?"
Laki-laki itu mengangguk tersenyum.
Tiba-tiba Lang sadar laki-laki itu masih mengenakan pakaian yang
sama seperti saat terakhir mereka ketemu di ruang editing.
"Eh, kau menungguiku terus?"
Kembali laki-laki itu mengangguk dan tersenyum. Sergapan rasa hangat
yang mengharukan menerpa perasaan Lang. Ditatapnya laki-laki itu
dengan mata yang semakin kabur tergenangi air mata.
"Eits, jangan menangis dulu! Aku sih tidak keberatan kau menangis,"
cepat Jossi menyadarkan Lang, "tapi berjanjilah padaku Lang, jangan
pernah menahan bebanmu sendirian seperti kemarin itu. Kau tahu, aku
adalah temanmu, yang selalu siap menjagamu, kay?"
Bergetar bibir Lang menahan keharuan di dadanya. Teman. Rasanya
memang hanya itu yang dibutuhkannya saat ini. Dan laki-laki ini
menawarkan bahunya untuk bersandar. Lengannya beringsut.
Digenggamnya telapak tangan Jossi erat. Mereka saling menatap. Dan
akhirnya tersenyum bersama dalam sebuah pengertian yang hangat.
*****
Hari-hari berikutnya Lang dan Jossi semakin dekat. Mereka sering
melakukan editing bersama. Tapi adakalanya mereka terpisah sekian
bulan karena Jossi harus syuting ke luar kota.
Laki-laki itu sebenarnya berprofesi sebagai kameraman. Tangannya
cukup dingin membesut gambar sinetron demi sinetron. Usianya terpaut
dua belas tahun dengan Lang, lebih tua tentu saja. Jadi, jika saat
itu Lang berumur 25 tahun, maka usia Jossi sebenarnya baru 37 tahun.
Tapi sepertinya penampilan laki-laki itu jauh lebih tua. Rambutnya
yang konon memutih sejak muda itulah penyebabnya. Selebihnya, ia
adalah laki-laki yang lumayan tampan. Bentuk tubuhnya proporsional,
tinggi berat 165/60. Kulitnya putih. Bibirnya selalu tersenyum.
Teman-teman Jossi senang gaul dengan laki-laki ini karena dia
konyol, pinter melucu. Bahan pembicaraan yang untuk orang lain biasa
saja, secepat sontak bisa mengundang tawa segar jika dia
membahasnya. Itulah yang disuka Lang pada Jossi.
Di saat senggang tanpa job, Jossi biasanya bekerja paruh waktu di
stasiun televisi swasta di tempat Lang bekerja. Saat-saat itulah
mereka bisa ngakak bareng. Tak jarang mereka berdua berencana
mengerjai teman-teman lainnya. Dan hasilnya, sempurna! Mereka selalu
sukses! Selalu saja ada rekan yang mengumpat akibat ulah mereka.
Maklum, guyonan mereka selalu memaksa orang meringis kecut.
Hampir dua bulan ini hal semacam itu mandeg. Jossi syuting ke
Bandung, dan Lang terjebak pada program berita yang ditanganinya.
"Dhuh, tuan putri kehilangan pangeran ya?" demikian rekan kerjanya
menyindir Lang yang tiba-tiba alim, jauh dari otak jail mengerjai
mereka.
"Hehehe, iya nih. Aku kok nggak punya keberanian menggoda kalian ya
kalau pas dia nggak ada," jawab Lang sambil nyengir. Dan
teman-temannya langsung ngakak mendengar jawabannya itu.
Jossi.
Sebersit rasa kangen menyelinap di hati Lang. Sigap ia meraih gagang
telepon yang terletak di mejanya. Dipencetnya nomor telepon seluler
milik Jossi. Nada sibuk terdengar. Wah, baru nelepon siapa sih,
gumam Lang dalam hati.
"Lang.., ada telepon nih dari Jossi," kata mBak Tuti yang duduk di
sebelahnya. Lhah, rupanya laki-laki itu sedang meneleponnya tepat
saat ia sendiri menelepon lelaki itu. Ia tersenyum. Kebetulan yang
menghangatkan.
"Bilang ke Jossi, mBak, agar dia menutup handphone-nya. Aku yang
akan mengontak dia dari sini," dan sesaat kemudian Lang me-redial
nomor telepon genggam Jossi. Tersambung.
"Hallo.." suara Lang terdengar bergairah. Dan di ujung sana sapaan
dengan gairah yang sama terdengar. Senyum merekah di bibir Lang.
"Lang...," panggil Jossi. Suara itu terdengar tidak biasa, sedikit
bergetar. Lang terkesiap.
"Ya..?" jawab Lang lembut. Kesadarannya tiba-tiba mengemuka.
Suaranya juga bergetar!!?? Wah, rupanya ia tak bisa menutupi lagi
hasrat hatinya pada laki-laki itu.
"Maukah kau menyusulku ke Bandung? Aku kangen."
Dhuh..!!!
Berbunga hati Lang. Tak sadar ia menganggukkan kepalanya, lupa bahwa
Jossi tak bisa melihat anggukannya itu.
"Bisa nggak Lang? Please, aku butuh kehadiranmu saat ini."
"Oh, okay, aku akan datang. Ke mess kalian kan?"
"Jangan..! Aku tidak ingin kehadiranmu diketahui teman-teman. Sore
ini syuting istirahat sampai pengambilan scene malam yang kami
jadwal besok. Aku sudah reservasi kamar di Preanger, atas namamu,
kau tidak keberatan?"
"Tentu tidak. Baiklah, aku akan mengurus ijin sebentar, dan secepat
selesai aku akan menyusulmu."
"Thanks. Aku tunggu." Dan hubungan komunikasi itu terputus. Hati
Lang membuncah. Ia menemukan kenyataan betapa perasaan Jossi sama
dengannya. Mereka lebih dari seorang teman. Dan perempuan itu segera
mendelegasikan tugasnya kepada rekan-rekannya yang lain. Itu soal
gampang, mereka memang saling pengertian untuk soal seperti ini.
Andaikata punya sayap, rasanya ingin Lang segera terbang ke Bandung.
Tapi, ia harus menerima kenyataan, hanya kereta yang bisa cepat
mengangkutnya ke kota itu, dan itu yang ia lakukan. Huh...lambat
sekali rasanya gerbong-gerbong itu merayap, menyiksa rasa ingin tahu
Lang tentang peristiwa yang akan dihadapinya. Jossi pasti akan
memeluknya, itu pasti. Selama ini hal paling intim yang dilakukannya
dengan laki-laki itu adalah berpelukan. Tapi, apakah dia juga akan
menciumnya nanti? Dan apakah akan terjadi keintiman yang lebih
dalam? Seribu satu tanya menyelimuti pikiran Lang. Dan ia tiba-tiba
tersenyum kecut menemukan dirinya sangat ingin dibelai laki-laki
itu.
Secepat sampai di Hotel Preanger, ia bergegas menuju meja
resepsionis.
"Selamat siang Mas, apakah ada pesanan kamar atas nama Ilalang?"
Sejenak si resepsionis itu melihat monitor komputernya dan setelah
jarinya menari beberapa kali di atas tuts keybordnya, dia menatap
Lang sambil tersenyum.
"Ada Bu. Kamar 202. Dan kuncinya sudah diambil oleh suami ibu,"
tutur si pria.
Suami? Lang tersenyum geli, pasti itu pengakuan Jossi pada pihak
hotel. Dan setelah ia berterimakasih, segera kakinya menuju lift
yang membawanya ke lantai dua.
Kamar 202. Diketuknya pintu kamar itu perlahan. Sayup terdengar
langkah di balik kamar itu. Dan sesaat kemudian senyuman Jossi
mengembang ketika membuka pintunya.
"Hai, masuklah." Senyuman yang biasa. Lang terkesiap. Ia deg-degan.
Tak ada kesan laki-laki itu kangen kepadanya. Yang ada hanyalah
ekspresi yang sangat biasa, sebagaimana yang selama ini
diperlihatkan Jossi. Ups, aku salah menterjemahkan perasaannya?
Kutuk Lang dalam hati.
Sambil tersenyum kaku, kakinya melangkah masuk.
Kamar itu lumayan besar. Tata letaknya standar seperti kamar-kamar
hotel lainnya. Sebuah ranjang menjadi center point, sebuah meja
buffet memanjang di dinding bersebarangan, lengkap dengan TV 21 inch
di atasnya dan refrigerator merangkap minibar di salah satu lacinya.
Di dekat jendela, dua buah kursi duduk dipisahkan oleh sebuah meja
bulat yang kompak. Lang meletakkan tasnya di kursi itu, dan ia
membalikkan tubuh. Dilihatnya Jossi berdiri bersandar di dinding
dekat remote AC. Laki-laki itu memandangnya penuh rahasia. Tapi ada
selintasan tatapan jail seperti jika laki-laki itu merencanakan
sebuah kejutan. Lang hanya bisa diam. Ia ragu memulai sebuah aksi,
takut salah.
"Kau penasaran dengan undanganku ini?" tanya Jossi memecah kekakuan.
Lang mengangguk pasti. Ia memang bingung.
Kembali Jossi tersenyum tipis. "Aku ingin kau menemaniku malam ini.
Kau mau?"
Lang tersenyum. Ia mengangguk, masih setengah bingung. Bukankah
mereka memang saling berkomitmen untuk ada ketika salah satu dari
mereka membutuhkan teman? Apakah Jossi lupa itu?
Dilihatnya laki-laki itu naik ke atas ranjang, kakinya berselanjar,
tubuhnya menyandar di kepala ranjang. Tangannya menggapai, memanggil
Lang, menepuk sisi samping kanannya. Perempuan itu seolah tersihir,
tunduk pada lambaian itu, mendekat, dan ia duduk di sisi yang
dipilihkan Jossi. Ia ikut menyelonjorkan kakinya, sementara
kepalanya bersandar di dada laki-laki itu. Sebuah pelukan melingkar
dibahunya. Pelukan seorang teman.
Seorang teman?
"Lang, aku tahu banyak pertanyaan berkecamuk di otak kamu. Sabarlah,
aku akan menjelaskannya kepadamu," tutur Jossi. Mereka berpandangan
lewat cermin yang menempel di dinding depan ranjang.
"Aku ingin kau memahami hal ini nanti dengan jernih," lanjut
laki-laki itu.
Lang tak menjawab, tapi tangan kanannya segera menggenggam tangan
kiri Jossi. Tangan itu sedikit berkeringat. Hh, laki-laki ini sedang
gugup rupanya. Lang memperat genggamannya, memberikan semangat agar
laki-laki itu meneruskan kalimatnya.
"Lang, kau tahu aku sudah berkeluarga?"
Sebuah anggukan.
"Kau masih ingat selama ini kita berkomitmen untuk saling berteman?"
Anggukan berikutnya.
"Apakah kau bisa merasakan bahwa perasaanku ke kamu lebih dari
sekedar teman?"
Senyap sejenak, sampai Lang menganggukkan kepalanya lagi sambil
tersenyum. Ah, akhirnya pengakuan itu keluar, bisik hati perempuan
itu.
"Lang, aku tahu perasaanmu tak jauh berbeda dari aku. Tapi aku
sengaja menyembunyikan dan mengekang perasaanku untuk satu alasan.
Sebenarnya aku ingin terus bertahan seperti itu, tapi nyatanya aku
tidak kuat. Semakin hari, semakin aku tersiksa. Ketika jauh darimu
aku kehilangan sebuah jiwa. Dan aku tahu, separuh hatiku terisi
olehmu. Separuh lainnya ada istri dan anak-anakku," Jossi sesaat
diam, berharap setiap kata-katanya mengendap dalam kesadaran Lang.
Ketika dilihatnya reaksi perempuan itu positif, ia melanjutkan lagi
paparannya. "Aku pun tahu kau tak bisa lepas dari anak dan suamimu
Lang. Itu sebuah keharusan, aku tahu. Dan aku tak ingin
memporakporandakan kemapanan itu. Aku hanya ingin mengajakmu
melanjutkan pertemanan ini ke tahap yang lebih dalam, lebih intim,
tanpa musti mengganggu ketenteraman rumah tangga kita. Kau paham?"
Kepala Lang yang masih menunduk mendengarkan kata-kata Jossi itu
kembali mengangguk. Ada sebuah perasaan lega di wajah Jossi. Tapi
kelegaan itu hanya bersifat sementara karena ada hal paling krusial
yang harus disampaikannya pada Lang. Hal yang paling
disembunyikannya dari orang lain. Hanya istrinya yang tahu rahasia
itu. Dan kini, jika ia memang ingin membangun keintiman dengan
perempuan yang ada di pelukannya ini, ia harus mengaku secara
ksatria.
"Lang, masih ada satu rahasia besar yang kau harus tahu. Aku akan
segera mengatakannya kepadamu. Setelah mendengar rahasia ini, bisa
jadi kau akan menarik kesanggupanmu untuk berteman lebih dekat
dengan aku. Aku siap menerima resiko itu. Tapi kalau kau menerimaku
setelah rahasia itu kubongkar, maka aku akan sangat berterimakasih
kepadamu, karena berarti aku tak salah menilaimu. Dan dengar, jangan
mempertimbangkannya karena rasa kasihan. Aku ingin kau benar-benar
jujur pada dirimu, kay?"
Suara Jossi terdengar semakin serius. Lang mengangkat wajahnya agar
bisa menatap laki-laki itu. Menunggu.
"Lang, jangan kau pandangi aku. Aku tak akan kuat mengatakannya
kepadamu jika kau menatapku seperti itu. Lihatlah ke depan." Jossi
menyentuh dagu Lang, dan mengarahkan pandangannya ke cermin di depan
mereka. Lang semakin penasaran. Setiap pori tubuhnya menuntut agar
Jossi segera mengatakan rahasianya.
Dilihatnya bayangan laki-laki itu di cermin. Wajahnya menunduk.
Pelukan Jossi di bahu Lang semakin erat.
"Lang..," suara laki-laki itu bergetar, "aku...aku impoten."
Impoten??!!
Seperti ada petir menggelegar di dalam kepala Lang. Tubuhnya
menegang. Terpana ditatapnya wajah menunduk di balik cermin itu. Aku
akan pacaran, selingkuh, dengan orang yang impoten?
Ruangan itu begitu senyap.
Lang memejamkan matanya. Apa implikasinya jika dia melanjutkan
hubungan dengan Jossi, perasaan cinta tanpa aktifitas seksual? Apa
ia bisa melewatinya tanpa seks? Toh selama ini dia merasa cukup
'setor tubuh' kepada suaminya sebulan sekali ke Jogya. Lantas?
Lang membiarkan dirinya berpikir dalam diam. Dikerahkannya kepekaan
perasaan men-scanning setiap mili ruangan hatinya: Apa yang kau cari
Lang? Bukankah selama ini kau menemukan kedamaian di dekat Jossi?
Bukankah darinya kau mendapatkan rasa aman yang kau butuhkan?
Tiba-tiba Lang menemukan cara untuk mendapatkan jawabannya.
Dibukanya matanya yang tadi sejenak terpejam. Dilihatnya di cermin,
laki-laki itu masih menunduk. Lang beringsut mengangkat bokongnya
yang bulat itu. Ia mengangkangkan kakinya, duduk di pangkuan Jossi
dengan posisi berhadapan. Kedua telapak tangan Lang menyentuh pipi
laki-laki itu, dan mengangkatnya. Ia ingin memandang matanya, agar
bisa menjenguk isi hatinya.
"Jos, katakan padaku. Apakah kau mencintaiku?"
Laki-laki itu sedikit heran. Ia semula mengira akan memperoleh
cemoohan atau pandangan kasihan dari perempuan ini. Nyatanya tidak,
ia justru melihat seulas senyum di bibir Lang. Senyum yang tulus.
Dan kini pertanyaan Lang itu membuatnya tertegun. Apakah aku
mencintaimu? Apakah ini pertanyaan jebakan, agar Lang punya sarana
untuk mencacinya: Laki-laki impoten yang tak tahu diri, yang
menawarkan cinta tanpa 'senjata'? Haruskah ia menjawab pertanyaan
itu? Jossi tersenyum perih, bukankah ia tadi mengaku siap apapun
reaksi Lang setelah ia mengetahui rahasia paling gelap dari
kehidupannya?
"Lang, peri cintaku, aku aku mencintaimu, aku mengasihimu."
Senyum Lang semakin lebar. Terjawab sudah hal terpenting yang ingin
diketahuinya dan dibutuhkannya. Didekatkannya wajahnya ke wajah
Jossi. Perlahan diciumnya bibir laki-laki itu, lembut, penuh
perasaan. Ciuman pertama kali mereka. Dan setelah itu, ternyata
loncatan listrik yang terjadi di antara mereka membanjir. Tanggul
yang mereka bangun selama ini untuk mengekang lepasnya rasa cinta,
bobol berkeping. Tak ada lagi jarak.
Jossi memeluk tubuh Lang dengan gemas. Kelelakiannya memang tak bisa
tegak berdiri. Diabetes Mellitus yang dideritanya lima tahun
terakhir memang telah merenggut kekekarannya. Tapi hasratnya selama
ini tak pernah padam. Ia masih sangat butuh dipuaskan, dan ia tak
ingin egois, dipelajarinya cara paling cepat untuk memuaskan
pasangannya tanpa coitus. Ia berhasil bereksperimen dengan berbagai
teknik. Selama ini istrinya justru lebih bisa menikmati perlakuannya
setelah ia tak mampu ereksi.
Kini, disentuhnya Lang dengan keahliannya itu. Rabaannya di bagian
intim perempuan itu dengan cepat membangkitkan birahi. Ia lucuti
pakaian Lang hingga tuntas. Ia manfaatkan basahan lidahnya untuk
'memandikan' perempuan itu. Dan rabaan jemarinya yang semakin ahli
membelai, menusuk dan mencumbui bagian paling intim dari Lang
berhasil membawa perempuan itu terbang ke langit lapis tujuh.
Lang mendesah. Baru kali ini ada orang menyentuhnya dengan cara yang
khas. Sentuhan yang memabokkan. Ia menikmatinya penuh gairah. Ia
lupa laki-laki di depannya itu impoten, yang ia ingat nanti hanyalah
bahwa ia mendapatkan orgasmenya berkali-kali. Dan sebagai
balasannya, dibiarkannya dirinya begitu liar mencumbu Jossi. Dengan
cepat diserapnya ilmu laki-laki itu. Ciumannya, sentuhannya, dan
gerakan lidah yang membangkitkan sensasi. Ia menjelajah seluruh
tubuh laki-laki itu, ketika sampai di pangkal pahanya, sejenak
dipandanginya kelelakian Jossi yang lemas. Dan perlahan disentuhnya
kulit luarnya yang berkerut itu. Ditatapnya ekspresi Jossi yang
mengernyit nikmat akibat sentuhannya, terutama ketika ujung
kepalanya bersinggungan dengan ujung jemarinya.
Laki-laki itu masih bisa merasakan kenikmatan!!
Tumbuh semangat Lang dan ia mulai mencumbui laki-laki itu penuh
kasih sayang. Dengan telaten dirangsangnya daging lemas yang kini
agak berisi itu. Perlahan tapi pasti, dari lenguhan Jossi, Lang tahu
laki-laki itu hampir sampai pada puncaknya. Semakin intensif ia
mengelus dan menjilat kelelakian yang lemas itu. Dan tak lama
kemudian, tubuh Jossi melenting dan meregang. Ia memperoleh
orgasmenya. Pancaran spermanya tak bisa menipu, betapa ia menikmati
persenggamaannya dengan Lang.
Tak percaya ditatapnya Lang yang kini tersenyum, duduk di ujung
kakinya. Dilambaikannya tangannya pada perempuan itu, yang kemudian
mendekat dan menciumnya lembut. Kembali mereka saling melumat bibir,
dan setelahnya, berpelukan dalam diam.
"Terima kasih, peri cintaku."
sayap sang peri mengelepak berkali-kali
tariannya gemulai memikat kembara hati
selimut kehangatan telah menemaninya
dan tak henti si peri berterimakasih
selamat datang, teman dari padang gersang.
(Sebuah oase telah menguatkan Lang, tapi telengas sinar matahari
kadang terlalu panas)
Bersambung...