Tuesday, May 1, 2007

HIPER 02

BAGIAN DUA
SERANGAN PARA PRIA TUA

Pak Hasan adalah mertua Lidya dan ayah kandung Andi. Usianya sudah 58 tahun,
bertubuh gemuk, botak dan sudah menduda sejak 12 tahun terakhir. Setelah
kehilangan rumahnya yang berada di desa karena tidak bisa membayar hutang yang
menumpuk, Pak Hasan sedianya akan ditampung sementara oleh Andi dan menantunya
Lidya yang sama-sama baru berusia 26 tahun sebelum nantinya mendapat rumah
kontrakan yang baru.
Pak Hasan mengetuk pintu depan dan menantunya yang ayu segera menyambutnya. Si
seksi itu hanya mengenakan daster tipis yang menerawang, khas baju ibu-ibu rumah
tangga. Tapi entah kenapa, saat Lidya yang mengenakan baju itu, terlihat sangat
menggairahkan. Lidya terlihat sangat cantik dan segar.
“Lho? Bapak? Aku kira bapak baru akan datang besok lusa? Ayo masuk dulu,” kata
Lidya sambil memutar badan. Walau tertutup daster, tapi Pak Hasan bisa melihat
jelas lekuk pantat sempurna milik Lidya yang menerawang dibalik daster. Lidya,
seperti juga kakak-kakaknya memiliki kecantikan natural yang sempurna. Walaupun
menantu Pak Hasan itu memiliki perangai yang manis, ceria dan suka bercanda,
tapi sosok ayu dan seksinyalah yang membuat setiap lelaki ingin menidurinya.
“Mas Andi belum pulang, tapi sebentar lagi pasti datang.”
“Tadi aku naik bis yang sore.” kata Pak Hasan sambil mencari sofa untuk duduk.
“Oh begitu. Istirahat dulu, Pak. Anggap saja rumah sendiri.” Jawab Lidya sambil
membungkuk untuk mengambil cangkir yang ada di meja di depan Pak Hasan. Karena
daster yang dipakai Lidya sangat longgar, gerakan ini membuat Pak Hasan bisa
mengintip celah buah dada putih ranum yang menggiurkan di balik BH Lidya.
Melihat keseksian menantunya, kemaluan Pak Hasan langsung mengeras. Mertua Lidya
itu segera menyembunyikan tonjolan di selangkangannya karena malu. Setelah
menata meja, Lidya duduk di depan Pak Hasan dan menyilangkan kakinya, seakan
memamerkan kakinya yang putih, mulus dan jenjang dengan bulu-bulu halus yang
menggairahkan. Pak Hasan harus konsentrasi penuh untuk mendengarkan pertanyaan
Lidya.
“Jadi bagaimana perjalanannya? Capek yah, Pak?”
“Lumayan melelahkan. Lima jam perjalanan.”
Mata Pak Hasan bergerak menelusuri seluruh lekuk tubuh Lidya, dari atas sampai
bawah, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Hampir 5 tahun sudah Pak Hasan
tidak melakukan kegiatan seksual. Setelah kematian istrinya, Pak Hasan sering
memanggil pelacur saat masih tinggal di desa. Tapi kemudian berhenti karena
hutang-hutangnya kian bertumpuk dan dia tidak bisa membayar seorang pelacurpun.
Lidya mulai sedikit rikuh dengan tatapan mata Pak Hasan yang seakan
menelanjanginya.
“Aku naik dulu ke kamar ya, Pak. Mau mandi sebentar lalu aku siapkan makan
malam. Bapak pasti sudah lapar kan? Anggap aja rumah sendiri,” kata Lidya sambil
menaiki tangga. Mata Pak Hasan tidak lepas dari goyangan pantat menantunya yang
aduhai sampai ke atas tangga. Walaupun sudah uzur, tapi Pak Hasan tetap
laki-laki normal, dia butuh melepaskan hasrat birahinya. Dia ingin masturbasi
untuk melepaskan gejolak nafsunya.
Saat itu telepon berbunyi. Pak Hasan mengangkatnya.
“Halo?”
“Halo, ini Bapak ya?”, tanya suara di ujung, yang rupanya suara Andi.
“Iya, ini Bapak, Ndi,” kata Pak Hasan.
“Pak, aku minta maaf aku nggak bisa pulang hari ini, soalnya aku harus lembur di
luar kota dan baru akan pulang sekitar hari Minggu sore. Mendadak banget dan
tidak bisa ditunda. Tolong pamitin ke Lidya ya. Pesawatnya hampir berangkat, aku
tidak bisa lama-lama. Maaf tidak bisa menemani Bapak. Aku telpon kalau sudah
sampai di sana nanti.”
“Baik, Ndi. Nanti Bapak sampaikan. Iya.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Pak Hasan menutup telepon.
Pak Hasan berniat untuk membawa tas-tasnya yang berisi baju ke kamar atas.
Perlahan dia menaiki tangga, melewati kamar utama — tempat tidur Lidya dan Andi.
Terdengar deru suara air mengalir dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar
utama. Pak Hasan meletakkan tasnya di depan pintu kamar. Setelah berpikir keras,
dia memutuskan untuk memasuki kamar tidur utama pasangan Andi dan Lidya.
Di atas ranjang terdapat celana jeans dan atasan kaos putih. Saat mengambil kaos
itu Pak Hasan mendapati BH dan celana dalam tipis yang juga berwarna putih. Pak
Hasan benar-benar tidak kuat lagi menahan birahinya. Diambilnya celana dalam
Lidya, dibukanya celananya sendiri, dan mulailah ayah mertua Lidya itu coli
dengan menggesekkan celdam Lidya di kontolnya yang mulai keriput.
Detak jantung Pak Hasan makin cepat karena ia tahu menantunya sedang mandi
sementara dia coli menggunakan celana dalam yang akan dipakai Lidya. Gerakan Pak
Hasan makin meningkat cepat karena saat coli Pak Hasan membayangkan enaknya
menikmati tubuh Lidya di ranjang dan bagaimana rasanya memeluk menantunya yang
cantik itu. Pak Hasan membayangkan asyiknya melihat tubuh molek Lidya
terhentak-hentak didera sodokan penisnya.
Pak Hasan mengintip sedikit ke kamar mandi. Lidya rupanya lalai dan membiarkan
pintu kamar mandi sedikit terbuka, memudahkan akses bagi mertuanya mengintip.
Pak Hasan mendapati Lidya sedang menyabuni buah dadanya yang besar dan kenyal.
“Wow. Tubuh si Lidya benar-benar indah. Sangat seksi,” batin Pak Hasan.
“Seandainya mungkin, aku ingin masuk ke dalam sana dan mengenthu menantuku yang
aduhai itu.”
Pak Hasan meneruskan colinya di celdam Lidya saat menantunya itu membungkuk
untuk menyabuni kakinya yang jenjang dan pahanya yang mulus. Tak lama kemudian,
Lidya bersandar pada dinding sementara air shower membilas tubuhnya yang putih
mulus. Tangan kiri Lidya menangkup buah dadanya yang indah. Jari jemarinya mulai
mengelus dan menowel-nowel pentilnya. Pak Hasan terpana melihat menantunya itu
memainkan payudaranya. Tangan kanan Lidya menuruni perutnya yang langsing dan
masuk ke selangkangannya.
“Aaaaahhhhhh,” Lidya mendesah kecil.
Tangan kiri Lidya yang penuh gelembung sabun itu kini memilin dan meremas-remas
pentil payudaranya hingga mengeras, lalu meremas buah dadanya bergantian. Tangan
kanan Lidya masih berada di selangkangannya. Semakin mencondongkan tubuhnya ke
belakang, Lidya membentangkan kakinya sedikit. Pak Hasan bisa melihat jari
jemari lentik tangan menantunya keluar masuk memeknya sendiri. Pak Hasan
terpesona melihat si cantik Lidya menggunakan jempolnya untuk menggosok dan
menggerakkan daging menonjol yang ada di ujung atas bibir vaginanya.
“Ah! Ah! Ah! Ehm! Ehm! Ooooohhh!!!” kaki Lidya melengkung saat si jelita itu
melenguh perlahan. Akhirnya tangan kirinya turun lemas ke samping badannya,
sementara jari-jarinya tangan kanannya berhenti bergerak, namun tetap berada di
dalam liang vaginanya.
Pak Hasan merasakan air maninya membanjir. Tangannya belepotan sperma dan ia
membersihkannya menggunakan celana dalam Lidya. Terdengar suara shower dimatikan
dan Lidya mulai keluar dari shower. Secepat kilat Pak Hasan meletakkan celdam
Lidya seperti sediakala dan meninggalkan kamar itu. Pak Hasan menutup pintu
kamar, namun masih membuka sedikit celah. Saat sudah beranjak meninggalkan
tempat itu, terlihat Lidya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang
terlilit di tubuhnya yang indah.
Pak Hasan sebenarnya bisa langsung orgasme hanya dengan melihat Lidya setengah
telanjang dan hanya mengenakan handuk, ternyata mertua mesum itu jauh lebih
beruntung daripada yang dia kira. Tak sengaja, Lidya menjatuhkan handuknya ke
lantai. Tanpa sepengetahuan wanita ayu itu, sang ayah mertua yang nafsu
birahinya sedang memuncak ada di luar kamar sedang mengawasi tiap gerak-geriknya
yang molek. Karena memunggungi pintu, Pak Hasan bisa menyaksikan pantat putih
mulus Lidya yang sempurna.
Perlahan-lahan Lidya berbalik dan Pak Hasan hampir tak kuat menahan nafsu. Baru
kali inilah dia menyaksikan keindahan tubuh Lidya secara langsung tanpa sehelai
benangpun. Rambut di atas kemaluan Lidya terlihat terawat karena dipotong rapi
dan sangat lembut, sementara payudara Lidya yang montok sangat ranum dan besar.
Si molek itu mengambil handuk lalu mengeringkan rambutnya yang dikeramas. Karena
bergerak cepat, buah dada Lidya bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan erotis.
Pak Hasan meletakkan satu tas kresek yang dibawanya dan mulai mengocok kontolnya
lagi.
Saat Lidya usai mengeringkan rambut, istri Andi itu mengambil celana dalamnya
dengan sedikit membungkuk. Tentu saja Pak Hasan makin puas karena bisa melihat
lebih jelas ke arah lubang anus sang menantu. Untung saja Pak Hasan kuat menahan
diri, bisa saja ia masuk ke dalam dan menyetubuhi Lidya dari belakang dengan
paksa. Warna merah muda anus mungil milik menantunya itu sangat mengundang
selera sang pria tua. Pak Hasan berandai-andai apakah anaknya si Andi pernah
menyodomi istrinya. Lidya mulai mengenakan celana jeansnya dan kembali payudara
si cantik itu bergoyang-goyang. Pemandangan erotis ini makin lama makin
memuaskan Pak Hasan. Tak perlu waktu lama, sperma pria tua itu akhirnya meledak
di dalam celana.
Pak Hasan mengambil semua tasnya dan berjalan kembali ke kamar untuk berganti
pakaian. “Situasinya menarik sekali!”, batin laki-laki tua itu sambil
membersihkan tangan dengan tissue. “Aku sendirian di rumah selama beberapa hari
dengan menantuku yang cantik jelita dan sangat seksi itu! Aku harus mendapatkan
tubuh Lidya! Aku harus menanamkan penisku di memeknya yang wangi secepatnya!”
Entah apa yang akan dilakukan Andi seandainya dia mengetahui rencana ayah
kandung pada istri yang dicintainya.
###
Setelah hampir setengah jam menonton TV dan menghabiskan rokok, Pak Bejo kembali
mengajak Alya. “Sudah waktunya. Ayo.”
“Ayo kemana?” tanya Alya.
“Sini. Berlutut di depanku.” Perintah Pak Bejo sambil membuka kakinya.
“Pak Bejo! Saya mohon, jangan suruh saya melakukan hal itu lagi! Saya tidak
pernah menyukai melakukan hal itu sebelumnya!”
“Oke. Oke.” kata Pak Bejo. Pria tua itu sepertinya memahami dan melangkah ke
arah Alya.
Alya bahkan tidak punya kesempatan mengelak saat kemudian Pak Bejo menampar
pipinya dengan keras. Alya pun menangis tersedu-sedu. Belum pernah seumur-umur
dia diperlakukan dengan kasar oleh seorang pria. Airmatanya meleleh dan isak
tangisnya terdengar hingga beberapa saat.
Pak Bejo kembali duduk di hadapan Alya.
“Berapa kali aku harus ngomong sama Mbak Alya kalau Mbak Alya sudah tidak punya
pilihan lain lagi? Mbak Alya harus menuruti semua perintahku. Jadi ada baiknya
kalau Mbak Alya juga mulai menikmati apa yang aku perintahkan. Jadi merangkaklah
kemari dan jangan pernah membantah apa yang aku perintahkan lagi!” ancam Pak
Bejo.
Kali ini tidak ada ulangan perintah. Dengan penuh kepasrahan, Alya menyepong
tetangganya yang mesum dan berusaha menahan diri agar kali ini dia tidak mual
lagi. Pak Hasan melenguh keenakan dan sesekali tertawa terbahak-bahak menikmati
enaknya disepong wanita secantik Alya. Setelah usai menyepong, Alya duduk di
lantai. Ia masih berada di daerah selangkangan Pak Bejo. Wajahnya yang jelita
hanya beberapa centimeter saja dari kontol besar Pak Bejo. Si cantik itu bahkan
sudah terlalu takut dan malu untuk mengamati bentuk kontol kebanggaan
tetangganya itu. Pak Bejo tahu dia sudah menaklukan wanita cantik bertubuh indah
ini.
Alya melihat ke arah jam dinding dan langsung kaget. Opi sebentar lagi pulang!
Dengan buru-buru Alya melepaskan diri dari pelukan mesra Pak Bejo dan berdiri.
“Pak Bejo, anda harus pergi sekarang. Opi sebentar lagi pulang dan…”
“Ijinkan aku menciummu sekali lagi.” Kata Pak Bejo sembari melihat ke
selangkangan Alya dengan pandangan nafsu.
Alya mendekatkan tubuhnya ke Pak Bejo dan merenggangkan kakinya, memberikan
akses penuh pada pria tua itu untuk bisa mencium bibir kemaluannya. Pak Bejo
segera mengulum-ngulum bibir vagina Alya dengan buas. Alya merem melek dan
melenguh tak henti-henti. Kenikmatan bercampur rasa bersalah menguasai istri
Hendra itu.
Setelah beberapa saat menjilati, Pak Bejo bangkit.
Pak Bejo mulai berpakaian. Alya merasa aneh karena kini dirinya mulai terbiasa
dan tidak merasa malu lagi telanjang bulat dihadapan pria tua ini.
“Aku akan kembali lagi. Mungkin besok, waktu yang sama. Saat membuka pintu, aku
harap Mbak Alya tidak mengenakan sehelai benang pun. Besok aku akan memberikanmu
kenikmatan yang terhebat dan aku akan mengambil lubang keperawananmu yang
tersisa.”
Alya mengangguk karena berharap pria tua brengsek ini segera meninggalkan
rumahnya. Setelah berpamitan dan meremas-remas dada Alya, Pak Bejo pun pergi.
Alya menutup pintu rumah sambil menangis tersedu-sedu. Dia ambruk ke kasur dan
bertanya-tanya dalam hati. Apa yang dimaksud begundal tua itu dengan ‘lubang
perawan yang tersisa?’.
Tapi karena Opi hampir pulang, Alya memaksakan diri untuk bangun. Dia mandi dan
menggosok seluruh tubuhnya yang kotor. Dia telah dijilati oleh lidah seorang
pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan menggaulinya. Alya
membersihkan tubuhnya dan mandi lebih lama dari biasanya.
Saat itulah dia sadar.
“Aku memang bodoh.” Renung ibu rumahtangga yang jelita itu dalam hati.
Jangan-jangan yang dimaksud Pak Bejo adalah lubang anusnya? Pasti akan sangat
menyakitkan. Jari jemarinya yang lembut menelusuri bagian belakang tubuhnya,
mengitari pantatnya yang bulat. Dia meremas pantatnya sendiri dan menangis
sejadi-jadinya.
Pasti akan sangat menyakitkan.
###
Setelah mandi dan membersihkan diri, Pak Hasan kembali turun ke ruang keluarga.
Dia duduk di sofa dan menonton berita di televisi, berharap bisa sejenak
melepaskan hasrat birahinya yang liar kepada menantunya sendiri. Tidak lama
kemudian, Pak Hasan mendengar suara lembut dari atas tangga.
“Pak, siapa tadi yang telepon?”
“Oh, itu si Andi dari bandara,” jawab Pak Hasan. “Katanya dia harus langsung
lembur dan berangkat ke luar kota malam ini juga. Baru pulang hari Minggu sore.
Untuk keperluan bisnis atau yang lain, Bapak kurang paham.”
Pak Hasan mendengar gerutu kecil dari Lidya tentang kebiasaan Andi yang jarang
pulang dan lain sebagainya. Tak lama kemudian Lidya turun ke ruang keluarga. Pak
Hasan hanya bisa menatap takjub penampilan menantunya yang indah itu. Lidya
memakai baju putih tanpa lengan yang membuat buah dadanya yang besar terlihat
menonjol menantang dan celana jeans yang hampir-hampir tidak sampai ke
pinggulnya. Dari belakang, Pak Hasan bisa mencuri pandang belahan pantat Lidya.
Pak Hasan mulai terangsang lagi saat membayangkan Lidya menggunakan celdam yang
tadi digunakan oleh Pak Hasan untuk coli. Rambut indah panjang Lidya diikat
kucir kuda dan membuat si cantik itu tampak lebih muda. Pak Hasan menahan diri
dan kembali menatap layar televisi.
Lidya mulai menyiapkan makan malam sementara Pak Hasan menyusulnya ke dapur
untuk melihat apakah dia bisa membantu Lidya. Sekitar dua puluh menit memasak
dan bercakap-cakap, makanan pun siap. Tak disadari oleh Lidya kalau sedari tadi
Pak Hasan memanjakan matanya dengan mengamati setiap lekuk tubuh Lidya dari atas
sampai bawah sementara Lidya memasak. Pantatnya yang bulat dan montok itu makin
terlihat sempurna karena ketatnya celana jeans yang dikenakan. Saat mengambil
bumbu di atas lemari, celana dalam putih yang dipakai Lidya sedikit terangkat
dan terlihat oleh Pak Hasan. Lelaki tua itu puas melihat menantunya memakai
celdam yang sama yang dia gunakan untuk coli.
Pak Hasan langsung membayangkan nikmatnya menubruk tubuh Lidya, membungkukkan
tubuh si cantik itu ke depan, dan melesakkan kontolnya ke dalam memek Lidya
sementara tangannya meremas-remas susunya. Lamunan itu sirna begitu Lidya
berbalik dan menghidangkan makan malam.
###
Tangan Dina bergetar hebat saat dia melepaskan kancing bajunya. Pandangan mata
Pak Pramono tidak lepas dari payudara Dina yang masih tertutup kemeja, menunggu
dengan penuh harap untuk menyaksikan susu Dina dalam kondisi tidak tertutup
sehelai benang pun. Dina ingin berhenti, tapi terus membuka kancing dan melepas
bajunya. Bh dan isinya yang putih mulus dan montok menjadi perhatian utama Pak
Pramono. Dina meraih kancing BH di belakang dan melepaskannya. Saat BH itu
menggantung di atas payudaranya, Dina mulai ragu-ragu dan berusaha
menggunakannya menutup buah dadanya. Dina melepaskan celananya sambil masih
memegang BH.
Pak Pramono jelas menikmati pertunjukan ala striptease ini. Sudah jelas bagi
pria tua itu bagaimana malunya perasaan Dina, yang tentu malah menambah nikmat
rangsangannya. Saat buah dada Dina keluar dari BH, Pak Pramono bisa melihat
pentil payudara Dina sudah membesar, tentu karena udara dingin. Saat melepas
celana panjang, Pak Pramono memperhatikan celana dalam yang dipakai Dina. Celana
dalam putih biasa saja. Hal ini justru menambah minat Pak Pram. Lebih jelas lagi
kalau Dina adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana dan mungkin orang yang
pernah melihat Dina dalam kondisi setengah telanjang hanyalah Anton dan dirinya
sendiri.
Dina menggigil ketakutan. Wanita cantik itu berdiri setengah telanjang di
hadapan pria asing yang juga bos dari suaminya. Satu tangan mengapit BH yang
sudah hampir copot agar tetap menutupi payudara dan tangan yang satu lagi
menangkup selangkangannya. Dengan satu gerakan dilemparkannya BH ke samping
sehingga Pak Pramono bisa menyaksikan tubuh bugil istri pegawainya.
Pak Pramono menatap si cantik Dina dan menikmati ketidaknyamanan wanita itu.
Tapi dia kemudian menjadi tidak sabar. Pak Pramono membuka tasnya dan
melambaikan amplop manila ke arah Dina. Istri Anton itu tahu apa yang dimaksud
Pak Pramono dan mengambil nafas sekaligus keberanian ganda. Dina menarik celana
dalamnya ke bawah secepat mungkin dan langsung menutup selangkangannya kembali
dengan tangannya. Dina kini sudah berdiri tanpa sehelai benangpun di hadapan Pak
Pramono, dan berusaha keras menutupi payudara dan vaginanya.
“Letakkan tanganmu di samping,” kata Pak Pramono dingin.
Dina tahu inilah saatnya. Saat-saat penentuan. Apakah dia akan menunjukkan tubuh
telanjangnya pada laki-laki di hadapannya ini? Setelah mempertimbangkan resiko
tidak melakukannya, Dina menarik nafas panjang dan menyerah. Berdiri tegap dan
bergetar hebat, Dina akhirnya mempersembahkan keindahan tubuh telanjangnya yang
luar biasa mempesona pada pria selain suaminya. Dina membenci pandangan asusila
Pak Pramono pada dirinya, dia membenci pandangan laki-laki tua yang sedang
memuaskan diri dengan menjelajahi sekujur tubuh Dina.
“Berbaliklah… perlahan,” kata Pak Pramono.
Dina menurut, dia berbalik memutar badan. Pantatnya yang mulus terangkat
merangsang di hadapan Pak Pramono. Dina terus memutar sampai dia kembali
berhadapan dengan Pak Pramono.
“Aku tadi bilang berbalik. Bukan memutar,” kata Pak Pramono galak.
Sekali lagi Dina memutar badan, tapi kali ini dia berhenti saat pantatnya berada
di depan Pak Pramono. Ruangan itu menjadi sunyi dan bagi Dina semuanya menjadi
lebih parah karena tidak bisa melihat ke arah Pak Pramono. Dia tidak tahu apa
yang sedang dilakukan laki-laki tua itu. Bagi ibu muda yang cantik dan sederhana
itu, kesunyian ini seakan berlangsung amat lama.
“Renggangkan kakimu,” suruh Pak Pramono. “Bagus. Sekarang membungkuklah dan
lihat kemari melalui sela-sela kakimu.”
Dina menahan nafas saat dia melihat ke arah Pak Pramono di antara sela-sela
kakinya. Celana panjang sekaligus celana dalam Pak Pramono sudah copot dan
penisnya yang mengeras bagaikan menantang langit. Tidak hanya keras, sepertinya
kontol Pak Pramono juga lebih besar – lebih besar dan panjang – daripada milik
Anton. Dina juga sadar kalau memeknya bisa dilihat jelas oleh Pak Pramono. Angin
semilir membelai bibir vaginanya yang terbuka menantang. Sebelum ini belum ada
satu orangpun yang pernah menyaksikan liang kemaluannya seperti ini, bahkan
suaminya sendiripun belum pernah.
Saat Pak Pramono memintanya mendekat, Dina berdiri tegak dan menarik nafas lega.
Tapi ketika dia berdiri di samping bos Anton itu dengan bertelanjang bulat,
wajah cantik Dina langsung memerah karena malu. Dina melompat mundur ketika jari
jemari Pak Pramono mengelus bagian dalam paha mulusnya.
“Kembali ke sini dan buka kakimu lebar-lebar!”
Dina berjalan gontai ke arah kursi tempat Pak Pramono duduk dan memejamkan mata
saat jari jemari Pak Pramono masuk ke vaginanya. Kali ini walaupun tubuhnya
menggigil, Dina tidak beranjak seinci pun.
“Memekmu kering. Aku pengen memekmu basah, masturbasi dulu!”
Dina tidak tahu seberapa jauh lagi dia bisa menahan malu. Bos suaminya tengah
memasukkan sebuah jari ke dalam memeknya dan menyuruhnya bermasturbasi. Dina
pertama kali bermasturbasi saat dia masih remaja. Dina tahu perbuatan ini tidak
baik untuk pertumbuhan mental sehingga dia berhenti melakukannya. Tapi kini
seorang pria asing memerintahkannya bermasturbasi langsung dihadapannya.
Dina mencari lubang kemaluannya dengan jari tengah dan menggosoknya dengan
gerakan pelan. Wanita cantik yang dipermalukan itu kemudian merasakan desakan
jari jemari Pak Pramono di dalam memeknya pada saat dia bermasturbasi. Dina
tidak tahu mana yang lebih memalukan – saat mata Pak Pramono menatap jari
tengahnya atau wajahnya. Kini jari jemari Pak Pramono makin bebas keluar masuk
liang vagina Dina karena cairan pelumas dinding vaginanya mulai mengalir.
Pak Pramono mencabut jari jemarinya dan berkata. “Duduk di pangkuanku.”
Dina lega saat Pak Pramono menarik jemarinya sehingga Dina bisa berhenti
bermasturbasi. Dina mencoba duduk di pangkuan Pak Pramono dengan sesopan
mungkin, dia berusaha menutup kedua kakinya dengan rapat. Tapi Pak Pramono
menggeleng dan kaki Dina segera dibuka lebar-lebar. Wanita cantik itu mencoba
berdiri ketika melihat penis Pak Pramono berdiri tegak menantang.
Pak Pramono tersenyum saat melihat Dina memalingkan wajah dan berkata, “Masukkan
ini ke dalam memekmu.”
“Kumohon, Pak Pramono! Aku tidak bisa melakukan ini! Aku sudah menikah! Ini- ini
akan menjadi skandal! Ini zinah!”, Dina merengek.
“Masukkan ini ke dalam memekmu, atau…”
Dina tahu dia tidak punya pilihan lain. Duduk di pangkuan Pak Pramono, Dina
mencoba melesakkan penis laki-laki mesum itu ke dalam memeknya tanpa menyentuh
batang kemaluan bos Anton itu. Tapi usaha Dina gagal. Ibu rumahtangga yang
cantik itu mendesah kecewa dan dengan tertunduk malu meraih batang zakar Pak
Pramono dan menaikkannya ke atas. Dina memposisikan vaginanya di atas kontol
yang sudah menghadap ke atas lalu perlahan melesakkannya sambil duduk di
pangkuan Pak Pramono. Dina bisa merasakan kontol yang besar dan gemuk itu meraja
di liang rahimnya. Dina dan Pak Pramono saling bertatapan saat kontol Pak
Pramono melesak seluruhnya ke dalam memek Dina.
Tangan Pak Pramono meraih buah dada Dina. Dielus dan diremasnya buah dada putih
mulus, molek dan montok itu. Jemarinya menjepit pentil susu Dina dan
memutar-mutarnya dengan kasar. Dina merasa sangat malu saat pentil itu mulai
membesar. Dina berusaha keras menahan dirinya agar tidak terangsang dengan
remasan dan perlakuan Pak Pramono pada buah dadanya, tapi gagal. Payudara Dina
menegang dan pentilnya membesar.
Tangan Pak Pramono melepaskan buah dada Dina, tapi kini giliran mulutnya yang
nyosor ke susu putih mulus si Dina. Saat Pak Pramono mengelamuti satu pentilnya,
Dina bisa merasakan jari jemari Pak Pramono menangkup bulat pantat Dina.
Diangkat, lalu diturunkan, lalu diangkat lagi, berulang-ulang. Pak Pramono
bergeser ke pentilnya yang lain, lalu menikmatinya untuk beberapa saat.
Setelah bosan, Pak Pramono menyandarkan kepala ke belakang dengan menggunakan
lengan sebagai bantalannya. Dengan posisi relaks, Pak Pramono tersenyum sinis.
“Sekarang, genjot kontolku!”, perintah Pak Pramono.
Mulut Dina menganga tak percaya, dia telah dilecehkan, dihina dan diperdaya.
Tapi wanita jelita itu melakukan apa yang diminta oleh Pak Pram. Karena
membutuhkan sandaran, Dina meraih pundak Pak Pram dan perlahan mengangkat
tubuhnya. Saat seluruh penis Pak Pram hampir keluar dari memeknya, Dina
menghentakkan tubuh ke bawah dan kembali ke pangkuan Pak Pram. Lalu Dina naik
lagi, lalu turun, lalu naik, turun, naik turun, naik turun berulang-ulang.
Dina mengentoti Pak Pramono, bosnya Anton. Dinalah yang bergerak naik turun,
meskipun Pak Pram sekali-kali menggoyang pinggulnya untuk menumbuk gerakan turun
tubuh Dina, tapi ibu muda itulah yang bekerja keras. Dinalah yang saat ini
sedang menyetubuhi Pak Pram! Meskipun hal itu saja sudah memalukan, tapi Dina
kian tak punya muka saat merasakan kehangatan yang nikmat merajai liang
vaginanya. Penis Pak Pram yang jauh lebih besar dari penis suaminya menjejal
liangnya yang sempit dan memenuhinya dengan nikmat. Gerakan naik turunnya
menjadi lebih cepat.
Pak Pramono mulai melihat perubahan pada wajah Dina. Pada awalnya, Dina
bersetubuh dengan perasaan malu dan sakit hati, tapi kemudian perasaan itu
berubah menjadi birahi. Pak Pram tahu Dina mulai menikmati dientoti oleh pria
tua itu. Bukan maksud hati Dina untuk bersetubuh dengan Pak Pramono, tapi tubuh
Dina mengkhianatinya karena lama kelamaan ibu muda yang cantik itu mulai merasa
kenikmatan yang tiada tara walaupun awalnya dia dipaksa untuk melayani bandot
tua ini.
Pak Pramono mulai menelusuri tubuh istri Anton dengan satu tangan dan akhirnya
mencapai ujung kelentit kemaluan Dina. Saat Pak Pramono menggosok klitoris Dina,
mata istri Anton itu terbelalak dan menatap Pak Pram tak percaya. Tapi Dina
tetap meneruskan gerakannya, naik turun dan membiarkan kontol Pak Pram menusuk
tiap jengkal ruas liang kemaluannya. Pak Pram tidak berhenti menggosok klitoris
Dina. Tak lama kemudian, Pak Pramono merasakan kuku jari Dina menancap makin
dalam di pundaknya. Gerakan Dina makin lama makin cepat hingga Pak Prampun tidak
sanggup lagi merangsang klitoris Dina. Dina melepaskan lenguhan keras dan
tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti. Dia sudah mencapai klimaks.
Pak Pramono menunggu Dina sampai si cantik itu membuka matanya. Wajah Dina yang
dilanda kepuasan memerah karena malu. Pak Pramono menganggukkan kepalanya
sebagai tanda agar Dina meneruskan pekerjaannya. Maka wanita cantik itu kembali
menggunakan memeknya untuk memeras penis Pak Pramono. Dina kembali menyetubuhi
pria tua yang telah membuatnya orgasme. Tadi Pak Pramono memang ingin memuaskan
Dina agar ibu muda yang cantik itu malu, tapi kini Pak Pramono hanya
menginginkan kepuasannya saja. Pak Pramono menarik bokong Dina dan membimbing
tubuhnya naik turun batang kemaluannya dengan lebih cepat. Dia mendorong tubuh
Dina turun ke pangkuannya dengan kasar sementara pinggulnya bergerak sembari
menggoyang si manis itu. Makin lama makin cepat. Pak Pramono makin
tersengal-sengal karena keenakan.
Tak lama kemudian Pak Pramono orgasme. Dina duduk di pangkuan Pak Pramono saat
pejuh pria tua itu membanjiri liang senggamanya. Dina merasa malu, dia merasa
dirinya sangat rapuh karena menyerah pada Pak Pramono. Dina merasa diperkosa,
tapi lebih malu lagi, karena Dina merasa dirinyapun telah mencapai titik klimaks
yang belum pernah dirasakannya selama ini. Walaupun awalnya terpaksa, Dina kini
juga merasa bersalah pada Anton. Dia merasa dirinya telah ternoda dan bersalah
karena mencapai orgasme.
Dina duduk terdiam penuh rasa malu pada diri sendiri saat Pak Pramono mulai
kembali sadar dari kenikmatan orgasmenya. Perempuan molek itu itu bisa merasakan
penis Pak Pramono mulai mengecil dan keluar perlahan dari memeknya sementara dia
duduk di paha sang pria tua. Dengan posisi kaki terbentang, Dina bisa merasakan
pula cairan mani Pak Pramono meleleh keluar dari lubang memeknya. Dina tidak
bergerak sama sekali karena takut pada pria tua yang bengis itu. Pak Pramono
membuka matanya dan tersenyum puas. Dia mendorong tubuh Dina ke samping.
Mengambil nafas dalam-dalam, Pak Pramono berkata. “Aku berterimakasih atas kerja
samanya. Selama kamu terus menerus memberikan kepuasan padaku, maka aku jamin
Pak Anton tidak akan pernah disentuh oleh pihak yang berwajib. Heh heh heh.
Besok, datanglah ke Hotel Elok di Jalan Surabaya jam dua siang dan masuk ke
kamar 224. Aku akan menunggu Mbak Dina untuk kesepakatan kita selanjutnya.”
Dina hanya memandang diam ke arah Pak Pramono saat pimpinan Anton itu mengenakan
baju kerjanya dan bangkit. Dina duduk di ranjang tanpa berkeinginan untuk
menutupi ketelanjangannya. Untuk apa? Dia baru saja bersenggama dengan pria tua
ini dan Pak Pramono sudah melepaskan pejuh di dalam rahimnya. Apa akan ada
perbedaan berarti kalau sekarang Pak Pram melihatnya bugil?
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Pak Pramono meletakkan amplop manila dan
celana dalam milik Dina ke dalam tas kerja lalu berjalan pergi meninggalkan
rumah Anton dan Dina.
###
Lidya sudah hampir terlelap ketika dirasakannya angin semilir masuk melalui
selimutnya yang tebal. Baru disadarinya ternyata selimut itu diangkat oleh
seseorang. Lidya yang masih terpejam tersenyum gembira, ternyata Andi tidak jadi
berangkat ke luar kota.
Saat membalikkan badan, barulah disadari bahwa bukan Andi melainkan Pak Hasan
yang berada di samping tubuhnya! Karena sangat mengantuk, Lidya lambat bereaksi,
dan dengan cekatan Pak Hasan langsung memeluk tubuh menantunya.
Gesekan tubuh telanjang mereka menyadarkan Lidya akan gawatnya situasi yang
sedang dihadapi. Lidya pun segera mendorong tubuh Pak Hasan dan berusaha
melepaskan diri dari pelukannya. Pak Hasan hanya tersenyum sinis dan menelikung
tangan Lidya hingga dia tidak bisa berkutik. Tubuh keriput Pak Hasan menindih
tubuh mulus Lidya sehingga istri Andi itu terengah-engah. Semakin Lidya
memberontak dan mencoba melepaskan diri sergapannya, semakin Pak Hasan
terangsang.
“Bapak! Lepaskan aku! Apa yang bapak lakukan di sini?” tanya Lidya.
###
Malam itu, rasa bersalah yang amat besar membuat Alya tidak bisa tidur. Dia
tidak pernah bisa memaafkan dirinya karena memiliki nafsu birahi liar yang
tersembunyi di balik kesetiaannya. Dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri
yang menjadi hamba nafsu dan terlena oleh perkosaan yang dilakukan Pak Bejo.
Awalnya dia mengira itu semua terjadi karena rasa takut, tapi perasaan nikmat
itu tidak bisa ia bohongi. Seluruh kejadian bersama Pak Bejo terulang bagaikan
film di benak Alya.
Apakah dia seorang korban yang pasrah? Saat itu dia teringat kalimat yang pernah
diucapkan oleh Bu Bejo. “Mbak Alya belum mengerti apa-apa.”. Saat ini Alya baru
sadar kenapa Bu Bejo bertahan walaupun didera semua penyiksaan fisik yang
dilakukan oleh Pak Bejo. Pak Bejo memberikan kenikmatan seksual yang tidak ada
bandingannya. Itu sebabnya Bu Bejo pasrah oleh perlakuan kasar sang suami.
“Bahkan terhadapku pun dia kasar.” Pikir Alya. Dan seperti Bu Bejo pula, Alya
harus melalui siksaan fisik luar biasa sebelum akhirnya menikmati puncak nafsu
liarnya yang terpendam.
Dinginnya malam tak tertahankan. Alya melangkah keluar dari kamar dan duduk
termenung sendirian di ruang depan. Berusaha menenangkan pikirannya yang kalut.
Bagaimana mungkin Alya mengkhianati Hendra demi nafsu birahi sesaat? Ibu rumah
tangga yang cantik itu tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Hendra. Mereka
saling mencintai satu sama lain. Hendra sangat mencintai Alya. Tapi apa yang
bisa diharapkan Hendra dari istrinya? Alya telah ditiduri oleh tetangga mereka
yang bejat dan berhati busuk. Dia pasti akan sangat shock jika tahu apa yang
telah terjadi. Alya berusaha keras agar tidak menangis. Dia tidak akan
mengijinkan Pak Bejo melakukan apapun pada tubuhnya lagi. Alya adalah milik
Hendra. Istri sah Hendra. Alya tidak mau dirinya berakhir sebagai istri simpanan
atau bahkan budak seks laki-laki busuk seperti Pak Bejo.
“Maafkan aku, Mas Hendra. Aku berharap Mas mau memaafkan aku. Aku berjanji tidak
akan mengkhianati kepercayaan Mas Hendra lagi.” Gumam Alya pada dirinya sendiri.
Dia berharap bisa menyelesaikan urusan dengan Pak Bejo besok. Dia akan menutup
pintu rumahnya kuat-kuat supaya lelaki busuk itu tidak akan bisa masuk dan
menodainya lagi. Dia ingin Pak Bejo tahu apa yang mereka lakukan kemarin tidak
ada artinya bagi Alya. Istri Hendra itu merasakan beban yang ia pikul
perlahan-lahan terangkat.
###
“Itu pertanyaan bodoh, menantuku sayang,” Kata Pak Hasan. “Kurasa kau tahu pasti
apa yang sedang aku lakukan. Birahiku sedang tinggi dan aku bosan onani. Aku
pengen memek yang enak, jadi aku masuk ke sini.”
“Gila!! Aku ini menantumu!!” protes Lidya. “Ini tidak mungkin! Bapak tidak
bisa…”
“Memangnya siapa yang akan menghentikan aku?” tanya Pak Hasan. “Tidak ada orang
lain di sini. Kamu boleh berteriak kalau mau tapi aku yakin tidak akan ada orang
yang akan masuk dan menjebol tembok untuk menyelamatkanmu. Dan kau lihat
sendiri, aku juga jauh lebih kuat daripada kamu.”
“Jika bapak memperkosaku, aku akan lapor pada polisi!” ancam Lidya.
“Bisa saja kau lakukan itu. Tapi menurutmu, bagaimana perasaan Andi?”
“Apa maksud bapak?”
“Seandainya kamu berani pergi ke polisi dan mengaku diperkosa oleh ayah mertuamu
sendiri, Andi akan hancur perasaannya. Istrinya yang cantik dan mempesona
diperkosa oleh ayahnya sendiri. Apalagi aku akan mengarang sebuah cerita
kepadanya kalau istrinya, Lidya yang jelita merayu ayah mertuanya. Bahkan jika
dia mencoba untuk tidak mempercayai ceritaku, dia tidak akan pernah percaya lagi
padamu. Aku, tentu saja akan menceritakan bagaimana enaknya menyetubuhimu dan
membuatmu orgasme. Semua detail akan aku ceritakan. Semua kenikmatan yang tidak
pernah ia bisa berikan kepadamu. Oh ya, sayang. Jika kau cerita pada Andi atau
polisi tentang perkosaan ini, kau akan menghancurkan hidupnya.”
Lidya terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya menganga lebar karena tiap
perkataan Pak Hasan ada benarnya.
“Bapak tidak peduli pada Andi? Apa yang akan dirasakannya?” tanya Lidya dengan
lirih. “Bapak benar-benar ingin menyakiti putra bapak sendiri?”
“Bukan aku yang akan menyakitinya. Kamu yang akan menyakiti perasaannya. Aku sih
cuma pengen ngentotin kamu. Kalau kamu tidak cerita apa-apa sama dia, semua
beres. Semua senang.”
“Kecuali aku.”
“Oh, kalau sampai kamu tidak puas bercinta denganku, namaku bukan Hasan.” Kata
lelaki tua itu dengan bangga. Dengan berani dia mencium bibir Lidya.
Ciuman yang disosorkan oleh Pak Hasan bukanlah ciuman mesra seperti yang biasa
diberikan oleh Andi pada Lidya. Ciuman Pak Hasan sangat kasar dan penuh nafsu,
dengan buas Pak Hasan memaksa lidahnya masuk ke mulut Lidya, lalu
mengeluarmasukkan lidahnya dengan cepat. Gerakan lidah Pak Hasan seirama dengan
gerakan pinggulnya yang mendorong ke depan. Sekali lagi Lidya berusaha mendorong
tubuh Pak Hasan. Kali ini usahanya hampir berhasil. Pak Hasan yang tidak siap
terdorong mundur. Namun saat Lidya berusaha lari dari ranjang, Pak Hasan menarik
kaki sang menantu dan merentangkannya lebar-lebar. Pria tua yang sudah
kehilangan akhlak itu menarik lutut Lidya dan menjepitkan pinggangnya di antara
dua paha Lidya.
Si cantik itu bisa merasakan jembut kasar Pak Hasan menyentuh bibir kemaluannya.
Memek Lidya yang lama kelamaan basah bisa dirasakan oleh kulit Pak Hasan yang
langsung menyentuh selangkangan Lidya. Istri Andi itu berusaha mendorong mundur
mertuanya. Tak henti-hentinya Lidya memukul dan menampar Pak Hasan, tapi apa
daya seorang wanita lemah? Pak Hasan tidak mempedulikan perlakuan Lidya dan
meremas payudara sang menantu. Pria tua itu tidak lagi berlaku lembut pada buah
dada Lidya. Dengan kasar diremas-remas dan dipelintirnya pentil susu Lidya.
Lidya merasa malu saat kemudian puting susunya malah makin mengeras. Pak Hasan
tidak melewatkan hal ini dan memelintir pentil Lidya dengan jari-jari tangannya.
Lidya tidak berkutik, sambil merem melek dia melenguh keras. Pak Hasan mencium
pentil Lidya dan menjilatinya dengan penuh nafsu.
Hangatnya mulut Pak Hasan terasa begitu nikmat sehingga Lidya lupa melawan.
Dengan sadis Pak Hasan memangsa buah dada Lidya dengan lidahnya, sesuatu yang
sudah dia idam-idamkan sejak lama. Pak Hasan menjilati pentil Lidya lalu
menciumi buah dadanya. Kenikmatan yang dirasakan oleh Lidya begitu tinggi
sehingga istri Andi itu melenguh keras dan menjambak rambut Pak Hasan. Dengan
wajah senang dan puas, Pak Hasan tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
“Susumu bagus sekali, nduk,” kata Pak Hasan. “Aku selalu memperhatikan buah
dadamu dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau dijilati. Tidak begitu besar
dan tidak terlalu kecil. Cukupan. Sempurna. Pentilnya juga mempesona, lumayan
besar.”
Lidya yang tersinggung oleh ejekan itu mulai melawan Pak Hasan lagi, kali ini si
cantik itu bahkan berteriak-teriak meminta tolong. Sia-sia saja, tidak ada yang
mendengar teriakan Lidya. Pak Hasan tertawa-tawa dan terus meremas payudara
Lidya. Dijilati dan digigitinya susu putih Lidya, pria tua yang sangat nafsu itu
berusaha menelan seluruh buah dada Lidya ke dalam mulutnya. Dia bahkan meremas
payudara Lidya dan berusaha menelan keduanya bersama-sama. Walaupun tindakannya
kasar, tapi Lidya mulai merasakan sensasi kenikmatan yang aneh dan kesulitan
menolak Pak Hasan.
Pak Hasan mengagetkan Lidya saat mertuanya itu berbalik dan berlutut di atas
tubuhnya. Kepala Pak Hasan menghilang di antara paha Lidya dan kontol Pak Hasan
bergelantung di atas wajah cantiknya. Penis Pak Hasan sangat berbeda dengan
milik Andi. Milik Pak Hasan jauh lebih pendek dan tebal, warnanya juga lebih
hitam kemerahan. Lidya bergidik saat membayangkan kontol Pak Hasan memasuki
tubuhnya. Rasa ngeri dan ketakutan membuat Lidya mengeluarkan cairan pelumas
yang membanjir di selangkangannya. Lidya menggigit bibirnya saat tiba-tiba saja
mulut Pak Hasan menjelajahi selangkangannya yang basah. Pak Hasan mulai mencium,
menjilat dan menghisap memek sang menantu. Tangan Pak Hasan merenggangkan kaki
jenjang Lidya supaya mendapatkan akses bebas ke vaginanya. Direntangkannya
lebar-lebar sehingga Lidya tidak bisa menolak perlakuan ini.
Pak Hasan dengan mahir menggunakan lidahnya menjilati klitoris Lidya, lalu pada
bibir vagina dan akhirnya lidah Pak Hasan menjelajah ke dalam liang cinta Lidya.
Ia menjilat dengan gerakan memutar dan menusuk, membuat Lidya menggelinjang
keenakan. Pak Hasan bahkan menggunakan giginya untuk menggigit-gigit kecil
klitoris Lidya. Istri Andi itu masih terus berteriak dan melawan, bergerak
mengelilingi tempat tidur dengan sekuat tenaga. Tapi Lidya sudah tidak tahu
lagi, apakah teriakannya itu teriakan takut atau teriakan penuh nikmat.
Tiba-tiba saja Lidya mengalami orgasme. Kenikmatan menguasai tubuh indahnya,
Lidya bergetar hebat saat mencapai puncak. Sebuah kenikmatan yang sebelumnya
tidak pernah ia rasakan. Tubuh Lidya tergolek lemas. Tapi bahkan saat orgasme
itu sudah menghilang, Pak Hasan belum selesai menikmati tubuh molek Lidya.
Pak Hasan membalikkan badan dan sambil menarik pinggul Lidya, dilesakkannya
kontolnya yang besar ke dalam nonok sang menantu. Lidya merem melek karena tidak
bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh mertuanya. Seluruh memeknya seakan
terulur sampai batas dan terisi penuh oleh kontolnya. Lidya bisa merasakan
denyutan demi denyutan kontol sang mertua di dalam liang cintanya. Vaginanya
terus memeras penis sang mertua yang keluar masuk dengan cepat. Tiap kali
digerakkan, seakan tusukan Pak Hasan makin ke dalam, membuat Lidya
mendesah-desah karena tak tahan. Desahan si cantik itu membuat Pak Hasan makin
cepat memompa vagina Lidya.
Akhirnya Lidya mencapai puncaknya lagi, tubuhnya yang sempurna melejit karena
mengeluarkan cairan cinta. Lidya bisa merasakan air mani Pak Hasan juga tumpah
di dalam rahimnya.
Pak Hasan jatuh menimpa Lidya, tubuh mereka menggigil dan bermandikan keringat.
Akhirnya dia berdiri dan keluar dengan santai dari kamar Lidya, meninggalkan
istri Andi itu terlentang telanjang di kasur.
Saat Pak Hasan akhirnya tertidur, Lidya memutuskan untuk mandi keramas dan
mengganti seprei yang baru saja dipakainya untuk melayani nafsu ayah mertuanya.
Dia mencoba melupakan apa yang terjadi tapi getaran yang terasa di tubuhnya tak
kunjung menghilang. Lidya tahu dia tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang
terjadi pada Andi ataupun pada pihak yang berwajib. Lidya tak punya bukti apapun
dan dia takut kalau Andi bertanya padanya apakah Lidya menikmati bersetubuh
dengan ayah mertuanya. Andi selalu tahu saat Lidya berbohong jadi dia pasti tahu
kalau Lidya mendapatkan sensasi kenikmatan lain saat bersetubuh dengan Pak
Hasan. Lidya tidak akan menceritakan apapun pada suaminya.
Saat membersihkan kamar keesokan paginya, Lidya menemukan sepucuk kertas di atas
meja riasnya. Surat dari Pak Hasan.
“Aku berharap bisa tidur denganmu lagi, Lidya sayang. Kalau aku sudah tidak
kecapekan tentunya. Membayangkannya saja sudah membuatku nafsu. Aku berjanji
akan lebih perkasa.”
Walaupun Lidya berharap Pak Hasan hanya mengancam, tapi dia tahu mertuanya itu
bersungguh-sungguh. Istri Andi itu gemetar ketakutan. Dia membayangkan ayah
mertuanya akan menyetubuhinya lagi setiap ada kesempatan dan tidak ada satupun
yang bisa dilakukan si cantik itu untuk menghentikannya.
###
Dina memasukkan kunci dan membuka pintu kamar hotel nomor 224. Sesuai dengan
petunjuk yang ia peroleh dari Pak Pramono. Lampu kamar langsung menyala saat ia
masuk. Dina lalu menaruh jaket dan tas jinjing yang ia bawa di dalam lemari
pakaian. Memperhatikan ruangan kamar hotel, Dina tahu dia datang lebih awal
daripada Pak Pramono. Dina melangkah ke arah jendela dan memperhatikan
mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan dengan perasaan yang campur aduk.
“Kupikir kamu tidak jadi datang.”
Dina kaget dan hampir melompat saat suara berat di belakangnya terdengar. Dina
tidak perlu membalikkan badan untuk tahu siapa yang datang.
“Aku tidak punya banyak pilihan kan, Pak Pramono?”
“Siapa bilang? Jalan hidup kita selalu tergantung pada pilihan.” Kata pria yang
sangat percaya diri itu sambil memasukkan tas dan jaket ke dalam lemari. Dia
meredupkan cahaya lampu supaya lebih temaram dan romantis.
Dina melirik ke arah jari jemarinya. Cincin emas putih yang melingkar di jari
manis sebagai lambang pernikahannya dengan Anton membuatnya bergetar ketakutan.
Demi cinta dan kesetiaan. Dina membalikkan badan. Tangannya memeluk pinggang
seakan hendak menghangatkan badan yang kedinginan.
“Tidak ada yang memaksa Mbak Dina datang kemari. Ingat itu baik-baik.” Kata Pak
Pramono sambil mendekati istri Anton. Sekitar satu meter jarak mereka, Pak Pram
berhenti. Dina berusaha menantang pandangan tajam Pak Pramono, namun dia tidak
sanggup. Pandangan mata Dina turun ke lantai.
“Apa yang Bapak inginkan?”
“Mbak Dina tahu apa yang aku inginkan.”
“Aku membencimu! Orang tua berhati busuk!” Desis Dina sengit.
“Bencilah aku sesukamu, sayang. Aku malah lebih suka kamu benci daripada kamu
cintai.”, Dengan jarinya yang hitam Pak Pramono mengelus pipi dan rahang Dina
yang halus mulus. “Sangat sempurna. Cantik sekali.”
Dina menarik wajahnya dan mundur ke belakang. Tapi Pak Pramono segera menahan
Dina dengan menarik kembali bagian belakang leher Dina, mendekatkan tubuh
moleknya ke depan.
“Aku sudah menginginkanmu sejak pertama kali kita bertemu, Mbak Dina. Begitu
tenang, sopan, penuh percaya diri. Tapi aku bisa melihat watak aslimu.”
“Watak asli? Apa yang anda maksud?”
“Aku tahu sejak pertama kita bertemu, kamu ingin tidur denganku. Kamu ingin aku
menusukkan batang penisku dalam-dalam di liang cintamu yang sempit itu. Kamu
ingin menelan kontolku yang besar dan panjang lalu menelan semua pejuhku. Iya
kan, sayang?”
“Dasar gila.” Kata Dina sambil mencoba menjauh.
“Gila?” Pak Pram membiarkan Dina menjauh hingga jarak mereka ada sekitar dua
meter.
“Mungkin aku gila. Tapi saat ini, aku yang pegang kendali. Saat ini, tubuhmu
yang indah itu adalah milikku!” Kata Pak Pramono sambil tersenyum penuh
kemenangan.
“Pak Pramono, saya mohon. Pertimbangkanlah perasaan Mas Anton!”
“Anton? Apa menurutmu dia memikirkanku saat dia mencuri uang perusahaan?”
Dina terdiam tak berdaya.
“Memang tidak. Jadi beritahu aku, Mbak Dina tersayang, apa menurutmu aku harus
menghentikan tindakanku ini?”
“Seharusnya.”
“Bah! Tidak akan! Dia sudah mencuri dariku, jadi aku akan mengambil miliknya
yang paling berharga! Istrinya yang cantik jelita!”
“Apa anda akan membuka rahasia ini pada Mas Anton?” tanya Dina.
“Tergantung. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia mengetahui istrinya sudah
melayani bosnya bermain cinta?”
“Dia pasti minta cerai.”
“Apa Mbak Dina mencintai Pak Anton?”
“Sangat. Mohon pertimbang…”
“Aku kan sudah bilang. Mbak Dina harus menuruti semua perintahku kalau ingin
semua ini berakhir dengan baik bagi semua pihak. Anton tidak akan dipecat dan
tidak akan masuk penjara. Aku dapat hiburan gratis dari seorang wanita yang
cantik jelita dan molek, sedangkan Mbak Dina sendiri siapa tahu akan mendapatkan
seorang keturunan yang berasal dari spermaku.”
Dina menundukkan kepala. Airmatanya mengalir.
“Semudah itu. Aku menginginkan tubuh Mbak Dina. Tiap kali aku butuh, aku telpon
atau sms, Mbak Dina melakukan apa yang aku minta, dan Anton tidak perlu tahu apa
yang kita lakukan.”
“Aku menjadi budak seks Pak Pramono?”
“Aku ingin kau melayaniku, sayang. Aku ingin kau menerima apa saja yang ingin
aku lakukan pada tubuhmu yang lezat itu selama aku belum bosan. Setelah merasa
bosan, aku akan melepaskanmu dan Anton.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Tentu saja bisa.”
“Aku belum pernah mengkhianati suamiku.”
Pak Pramono tersenyum sinis dan mengingatkan Dina. “Belum pernah? Lalu apa yang
kita lakukan kemarin? Wah-wah, anda benar-benar seorang istri yang sempurna.
Cantik, setia dan baik hati pula.”
Air mata semakin menggenang di pipi Dina.
“Kemarilah, sayang.”
Perlahan Dina bergerak mendekati Pak Pramono. Airmata mulai deras menuruni pipi
ibu muda yang cantik itu. Dengan mata berkaca-kaca Dina menatap Pak Pramono.
“Cium aku.”
Dina membungkuk dan mencium bibir Pak Pramono.
“Dingin sekali. Kamu bisa lebih baik dari itu.” Kata Pak Pram saat Dina mundur.
Sambil meletakkan tangan di pundak Pak Pram, Dina membungkuk sekali lagi dan
menangkup bibir hitam Pak Pram dengan bibirnya yang merah mungil. Dina bisa
merasakan bibir Pak Pramono membuka dan lidahnya menjelajah ke dalam mulut Dina.
Tangan Pak Pram memeluk pinggang langsingnya dan menarik tubuh Dina agar lebih
mendekat. Lidah mereka beradu dan Dina memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian ciuman itu berakhir. Dina merasa mulutnya sudah sangat
kotor.
“Boleh juga.” Kata Pak Pramono sambil duduk di ranjang. “Sekarang buka bajumu.
Aku ingin melihatmu bugil.”
Dina memang sudah pernah telanjang di hadapan pria ini, satu-satunya lelaki yang
pernah menidurinya selain suaminya sendiri. Tidak ada jalan keluar kecuali
menuruti semua permintaannya. Tangan Dina segera membuka kancing bajunya. Satu
persatu pakaian Dina melorot ke lantai. Baju, rok, sepatu dan rok dalam sudah
dilepas oleh Dina. Kini di hadapan Pak Pramono berdiri seorang ibu rumahtangga
yang amat molek yang hanya mengenakan celana dalam dan BH.
“Tubuhmu memang benar-benar seksi.” Kata Pak Pramono, matanya nanar ingin segera
melahap tubuh Dina. “Aku sudah sering meniduri banyak wanita, tapi tubuhmu
adalah yang paling indah yang pernah aku entoti.”
Dina mencoba menutupi ketelanjangannya karena risih.
“Bukankah aku sudah bilang aku ingin melihatmu bugil?”
Dina mendesah pasrah dan mulai melepas BHnya. Perlahan-lahan Dina meloloskan BH
melalui kedua lengannya dan melemparkannya ke dekat pakaian di lantai. Dina
membungkuk dan melepas celana dalamnya.
“Lemparkan celdamnya.” Kata Pak Pramono.
Dina melempar celdamnya ke tangan Pak Pramono. Pria tua itu segera mencium dan
menghirup bau memek Dina yang masih tertinggal di celana dalamnya.
“Hmmmmm… harumnya.” Kata Pak Pramono sambil memasukkan celdam Dina ke kantong
celananya sendiri.
“Pak Pramono……”
Tanpa banyak bicara Pak Pram kembali menganggukkan kepala ke arah Dina. Dia
masih duduk di pinggir ranjang.
“Berlutut di depanku, Mbak Dina.”
Dina berjalan perlahan ke arah Pak Pramono dan duduk berlutut di hadapannya.
Dina tidak pernah menikmati oral seks. Anton sering menyuruhnya tapi Dina selalu
menolak dengan berbagai alasan. Dina tidak pernah mau menelan sperma suaminya.
“Keluarkan burungku dari sarang, Mbak Dina. Aku kok ingin lihat kontolku diciumi
oleh bibir semerah bibir anda.”
Dina membuka celana Pak Pram dan menarik semua ke bawah berikut celana dalamnya.
Kontol Pak Pram langsung terbebas dan berdiri tegak di depan wajah Dina.
Walaupun sudah pernah melihatnya, Dina selalu terkejut melihat kontol Pak Pram.
Penis ini memang Pak pram begitu panjang, besar dan bertonjolan urat halus.
“Pak Pram……”
“Anda sudah pernah melakukan oral seks, kan?”
“Sudah. Hanya untuk Mas Anton. Tapi aku tidak suka melakukannya.”
“Sayang. Sesudah melakukannya denganku, Mbak Dina tidak akan ragu lagi untuk
melakukan oral seks.”
Dina terus memperhatikan penis Pak Pram. Dia hanya pernah memasukkan satu penis
ke dalam mulutnya dan itu adalah milik suaminya sendiri. Tapi hari ini, sambil
berlutut di hadapan penis Pak Pramono, istri yang tadinya setia itu harus
melayani nafsu hewani sang pria tua. Dina mengeluarkan lidah dan menjilat ujung
gundul kontol Pak Pram, merasakan lendir yang keluar dari rekahan dengan
lidahnya. Perlahan-lahan, ditelannya seluruh kontol Pak Pram.
“Ah, enaknya……” desis Pak Pram. Tangannya meraih rambut Dina dan menguntainya
lembut. Dia mendorong penisnya lebih jauh ke dalam mulut Dina.
Dina menutup mata dan mencoba menahan diri agar tidak tersedak oleh desakan
kontol Pak Pram yang terus didorong masuk ke tenggorokan. Dina berusaha keras
agar bisa bernafas saat Pak Pram mulai mendorong pinggulnya. Kini kontol Pak
Pram terbenam dalam di mulut Dina. Tangan Pak Pram memegang kepala Dina dan
membimbingnya agar bisa mengocok penis Pak Pram dengan mulut. Tiap kali menarik
kepala Dina, hidung si cantik itu terbenam sampai ke dalam keriting jembut Pak
Pram.
“Terus sayang. Enak banget disepong istri orang!” kata Pak Pram sambil terus
menggerakkan kepala Dina pada kontolnya.
Dina meletakkan tangannya di paha Pak Pram agar bisa meraih keseimbangan. Jari
jemari Dina bisa merasakan sentuhan bulu-bulu kaki Pak Pram yang keriting.
“Pakai lidah.” Perintah Pak Pram sambil memompa lebih kencang.
Dina menggunakan lidahnya untuk memijat seluruh batang penis Pak Pram. Suara
berkecap mulut Dina memenuhi ruangan yang sepi. Dina memejamkan mata, dia tidak
ingin melihat dirinya sendiri menelan kontol Pak Pram.
“Ampun, Mbak Dina! Enak banget! Aku mau keluar nih!”
Dina berusaha menarik mulutnya, tapi Pak Pram menjambak rambut Dina dan
memaksanya terus menelan kontolnya yang besar. Dina menggelengkan kepala dan
berusaha melepaskan diri dari tangan Pak Pram. Dina tidak mau Pak Pram orgasme
di dalam mulutnya. Dina bisa mendengar suara tawa pria tua itu ketika akhirnya
pejuh Pak Pram meledak di dalam mulutnya. Pak Pram membanjiri tenggorokan istri
Anton dengan spermanya.
“Telan.” Kata Pak Pram dengan geram, kontolnya dilesakkan sampai ke ujung.
Dina tidak bisa menahan lagi dan dengan satu tegukan, dia menelan semua muntahan
sperma Pak Pramono.
“Anak baik.” Kata Pak Pramono sambil mengendurkan pegangannya dan membiarkan
Dina jatuh ke lantai dengan lemas.
Dina menundukkan kepala, dia tidak bisa menghentikan air mata yang terus jatuh
menuruni pipinya yang putih mulus. Bibirnya memar dan mulutnya terasa sakit usai
mengoral penis Pak Pramono. Tenggorokan Dina juga terasa lecet karena dipaksa
menelan kontol besar sampai ke ujung. Dina menunggu sampai Pak Pramono
menyuruhnya mengenakan baju. Dia ingin segera pergi meninggalkan kamar ini.
Pulang ke rumah, mandi besar lalu tidur. Dina ingin segera meninggalkan semua
mimpi buruk ini.
Jari jemari Pak Pramono mengelus dagu sembari mengangkat wajah Dina.
“Mbak Dina kok menangis? Tidak menyukai oral seks?”
“Tidak.” Kata Dina pelan.
“Mbak Dina pintar sekali melakukan oral seks. Seharusnya bangga bukannya malah
menangis. Belum pernah aku orgasme secepat itu.”
“Saya mohon Pak Pram, bolehkah saya pergi sekarang?”
“Pakai bajumu dulu.”
Wajah pria itu berubah menjadi sopan. Dina segera berdiri dan mengenakan
pakaiannya.
“Pak Pram, celana dalam saya?” tanya Dina yang sudah bersiap mengenakan rok.
“Itu milikku sekarang. Beli yang baru.”
Dina tidak ingin berdebat dengannya. Setelah usai mengenakan pakaian, Dina
langsung bergegas berdiri dan mengambil tas serta jaketnya di lemari. Dina sudah
membuka pintu saat Pak Pramono memanggilnya.
“Mbak Dina.”
Dina terhenti di koridor. Dia hanya melirik sedikit ke belakang.
“Aku akan menghubungimu lagi.”
Dina tidak mengatakan apa-apa dan melangkah pergi meninggalkan Pak Pramono. Dia
amat bersyukur Pak Pram tidak menidurinya hari ini.
###