Tuesday, May 1, 2007

HIPER 01

BAGIAN SATU
PARA ISTRI & PRIA TUA

“Dasar tua bangka bejat!” maki Lidya Safitri saat Pak Bejo pergi meninggalkan
rumah.
Alya Arumsari terkejut dan melotot ke arah adiknya dengan pandangan marah. “Heh!
Ngawur! Jangan keras-keras! Mengatai-ngatai orang kok seenaknya sendiri! Kalau
dia denger gimana coba?”
Pak Bejo Suharso adalah seorang tetangga yang baik, gemar membantu orang lain
dan sangat ramah walaupun hidup mereka sedikit kekurangan. Ia dan istrinya, Bu
Bejo, adalah tetangga dekat keluarga Alya. Sejak kepindahan mereka ke kawasan
pemukiman ini Pak Bejo dan istrinya amatlah sering memberikan bantuan. Bahkan
ketika Alya atau suaminya sibuk, Pak Bejo dan istrinya sering menjaga Opi, putri
mungil mereka. Lidya adalah adik Alya yang semalam kebetulan menginap di rumah
Alya. Lidya sudah mulai tidak suka dengan Pak Bejo sejak pertama kali bertemu
dengannya.
“Habis dia nggak tau diri sih, Mbak,” jawab Lidya. “Waktu Mbak Alya membungkuk
mau mengambil mainannya Opi yang jatuh, matanya jelalatan, ngeliatin ke belahan
dada Mbak Alya, lalu menjilat bibirnya dengan mesum. Itu kan nggak sopan
namanya!” Lidya berhenti sebentar, lalu melanjutkan sambil menatap kakaknya yang
molek dengan pandangan serius. “Jangan-jangan Pak Bejo pengen tidur sama Mbak
Alya?”
Seketika Alyapun tertawa, Lidya ikut-ikutan tertawa. Alya tidak membela Pak
Bejo, tapi berjanji dalam hati di lain kesempatan akan lebih hati-hati saat
tetangganya itu datang berkunjung. Lidya juga tidak bisa menyalahkan Pak Bejo,
jangankan dia, semua orang yang normal pasti mau tidur dengan Alya. Kakak Lidya
itu memiliki tubuh yang seksi seperti bidadari dan memiliki kecantikan luar
dalam. Ditambah perilaku yang sangat lembut dan ramah, makin lengkaplah
kesempurnaan Alya. Rambut panjang indah sebahu, tubuh ramping yang jauh lebih
indah lekukannya daripada sirkuit sentul, kulit putih mulus dan buah dada yang
luar biasa ranum menggiurkan meskipun sudah beranak satu. Ya, semua orang pasti
punya pandangan mesum pada kakaknya itu.
Tapi Lidya sendiri juga sangat cantik. Tubuhnya juga tidak kalah indah, walaupun
kalau dibanding Alya yang memiliki ukuran BH 36, Lidya hanya 34C. Kecantikan
keluarga mereka memang sudah terkenal. Kadang banyak laki-laki kampung sekitar
berkumpul di depan rumah keluarga Alya kalau Dina, Alya dan Lidya sudah
berkumpul.
###
Dina Febrianti sedang resah menghitung tagihan bulanan yang bertebaran di atas
mejanya. Wanita cantik berusia 32 tahun yang masih terlihat seperti remaja
belasan tahun itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan membolak-balik kertas
berisi angka-angka. Tagihan listrik, telepon, air, credit card, cicilan motor,
cicilan mobil, pembayaran kredit kontrak rumah dan cicilan kredit biaya rumah
sakit mertua. Jumlah terhutang sangatlah besar, dan tiap bulannya seakan jumlah
itu selalu bertambah besar karena bunga yang ditanggung juga meningkat.
Karena stress, Dina menarik nafas panjang, menyisihkan surat-surat tagihan dan
mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat yang berisi tagihan kredit
pinjaman pembangunan rumah. Anton dan Dina tengah membangun sebuah rumah di
kawasan pinggir kota karena sudah bosan selama ini mengontrak terus. Sayangnya,
rumah yang sedang mereka bangun menurut Dina terlalu besar dan mewah untuk
ukuran mereka. Dina sering membujuk Anton agar berhemat karena dia tahu untuk
membangun rumah seperti yang diinginkan Anton akan membutuhkan biaya yang tidak
sedikit dan seandainya mereka mengambil kredit, maka biaya berikut bunganya akan
sangat besar. Anton hanya tertawa dan mengatakan istrinya terlalu banyak
khawatir. Saat menyesuaikan keuangan rumah tangga dan tagihan hari ini, Dina
merasa kekhawatirannya menjadi kenyataan.
Untungnya jumlah uang yang mereka kumpulkan bulan ini cukup untuk membayar semua
tagihan, Dina menarik nafas lega. Paling tidak mereka bertahan sampai bulan
depan. Dina berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih hati-hati dalam hal
keuangan. Dia berniat memaksa Anton untuk lebih bijaksana. Paling tidak mereka
bisa memotong anggaran untuk credit card dan kembali ke pembayaran cash. Bunga
yang ditarik oleh bank untuk credit card sangatlah besar dan membuat mereka
mengalami defisit. Sayangnya permintaan Dina selalu ditampik oleh Anton.
“Biarlah yang terjadi esok hari, terjadi esok hari. Yang penting kita hari ini
bisa bertahan.” Kata Anton setiap kali Dina mengajukan usulan. Seandainya Dina
sadar kalau kata-kata Anton itu bagaikan ramalan, dia seharusnya lebih cemas
lagi.
Kalau mengesampingkan kesulitan finansial yang dialami keluarganya, kehidupan
Dina sangatlah sempurna. Dia amat mencintai Anton dan suaminya itu memang
memiliki gaji yang lumayan untuk menghidupi keluarga. Bersama kedua putranya
yang masih kecil, ibu muda yang cantik ini memiliki segala yang mereka inginkan.
Hanya sayangnya, mereka tidak punya tabungan di bank seandainya sewaktu-waktu
diperlukan pengeluaran mendadak.
Dina tersenyum saat teringat pada kedua anak kebanggaannya. Dani, putranya yang
paling besar sudah kelas 5 SD, sedangkan Dion baru masuk ke kelas 1 SD.
Mengingat kebutuhan mereka yang semakin besar, senyum Dina memudar. Alat tulis,
buku dan seragam makin hari makin mahal. Belum lagi si Dani sudah waktunya
disunat, tentu biaya yang dibutuhkan akan sangat besar kalau mereka mengadakan
syukuran.
Dina mencari amplop berisi uang belanja bulanan yang biasa diberikan Anton.
Begitu menemukannya, Dina langsung menghitung uang yang diberikan Anton bulan
ini. Betapa kagetnya Dina begitu tahu jumlah pemberian uang belanja bulan ini
sangat sedikit. Tidak akan mencukupi kebutuhan rumah tangga selama sebulan! Dina
tidak meminta uang belanja yang berjuta-juta, cukup untuk memenuhi kebutuhan
makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Tapi jumlah uang yang mepet itu ternyata
masih dipotong lagi oleh Anton. Dina memutuskan untuk menelepon suaminya. Ibu
rumah tangga yang kebingungan itu segera memencet nomor HP Anton.
Sayangnya HP Anton tidak aktif. Dina menelepon ke kantor. Menurut Desi
sekretaris Anton, suami Dina itu sudah meninggalkan ruangannya.
Dina meletakkan gagang telepon dengan terheran-heran. “Kemana lagi dia? Bukannya
pulang malah keluyuran?”
Tanpa sepengetahuan Dina, Anton memiliki penghasilan lain yang tidak halal.
Sudah bertahun-tahun Anton membohongi Dina. Anton adalah seorang pemain judi.
Bahkan saat ini pun dia sedang berada di arena taruhan. Suami Dina itu sedang
menyobek-nyobek kupon taruhannya karena lagi-lagi kalah memasang nomor.
Perhitungannya meleset jauh padahal jumlah uang yang dijadikan taruhan tidak
sedikit.
Saat Anton pulang ke rumah dan ambruk di ranjang, dia beruntung Dina tidak
sedang dalam kondisi bad mood. Dina segera menanyakan perihal jumlah uang
belanjanya yang berkurang, senyum Anton yang menawan membuat hati si cantik itu
luluh. Dina sangat mencintai suaminya dan dia tahu Anton juga memujanya.
Memangnya kenapa kalau suaminya itu sedikit boros? Uang belanja adalah uang
Anton juga, sehingga kalau dia memang memerlukannya, tidak ada salahnya Dina
rela. Apalagi Anton sudah memberikan banyak hal untuk Dina dan anak-anaknya.
Anton sudah membuai mereka dengan harta benda.
“Shhh, anak-anak belum tidur. Jangan ribut,” Bisik Dina pada suaminya yang
tiba-tiba saja ‘menyerangnya’.
“Oh, masa aku nggak boleh ngentotin istriku sendiri?”
“Anton Hartono! Bahasanya kok jorok gitu? Kampungan!”
“Hm, kalau tahu aku dulu akan menikahi perempuan lugu, aku pasti protes keras
pada almarhum Bapak dan Ibumu,” canda Anton. “Mereka membesarkan seorang anak
perempuan yang cantik jelita namun sangat naif.”
“Tidak lucu. Aku bukan perempuan lugu.”
Anton mengamati istrinya – rambutnya dipotong ala Dian Sastrowardoyo presenter
acara kuis berhadiah 3 Milyar rupiah, matanya indah dengan bulu mata yang
lentik, pipinya halus mulus tanpa bercak ataupun jerawat, kulitnya putih mulus
bagai susu, buah dadanya masih membusung kencang dan tidak melorot, pinggang
langsing, pinggul sempurna di atas pantat yang bulat merangsang dan kaki jenjang
yang sangat menawan. Dulu pernah sekali waktu, seorang agen iklan meminta Dina
menjadi model iklan sabun mandi terkenal, namun Dina menolaknya. Anton mengagumi
keindahan istrinya yang hampir sempurna. Tangan-tangannya yang nakal menjelajahi
perut Dina. Masih seperti perut seorang gadis remaja, walaupun kenyataannya Dina
sudah melahirkan dua orang anak.
“Baiklah, kalau begitu wanita konservatif,”
“Maksudnya?” Dina mulai gusar.
Anton menyesal memulai percakapan ini. Dina sangat lugu dan naif dalam hal
bercinta dan berpenampilan. Pakaian yang dikenakan istrinya selalu sopan dan
tidak pernah menonjolkan kemolekan tubuhnya. Dina juga bukan seorang petualang
di ranjang. Dia pemain seks yang konservatif dan monoton. Berciuman, saling
menggesek dan bercinta dengan posisi missionary. Selalu begitu. Sekali dua kali,
Anton bisa melakukan doggie style, tapi istri Anton itu tidak pernah mengijinkan
sang suami menyentuh anusnya dalam kondisi apapun. Walaupun Dina pernah
mengatakan kalau doggie style itu juga merendahkan diri sama seperti binatang,
namun dalam kondisi ‘panas’ Dina biasanya menyerah pada keinginan suaminya.
Di awal pernikahan mereka, Anton pernah mencoba melakukan oral seks pada organ
kemaluan Dina, tapi istrinya itu langsung menjerit dan melonjak-lonjak marah.
Dia langsung menghardik Anton dan mengatakan kalau kemaluan mereka kotor. Dina
tidak pernah mengerti kenapa Anton ingin menjilati bibir kemaluannya yang
merupakan sumber penyakit. Sebaliknya pun begitu. Suatu ketika sesaat setelah
Anton meminta Dina mengulum penisnya, istrinya itu langsung mengunci diri di
dalam kamar mandi dan tidak mau keluar selama dua jam. Anton tidak pernah
meminta posisi yang aneh-aneh lagi.
“Jadi? Ayo katakan saja! Kenapa aku ini wanita konservatif?”, lanjut Dina. “Apa
karena aku ini bukan wanita murahan? Bukan pelacur?”
“Sudahlah. Lupakan saja.”
“Tidak mau. Kau yang memulai percakapan ini, jadi aku ingin mendengar
lanjutannya.”
“Yah, kamu kan memang tidak ingin mencoba hal-hal baru saat bercinta denganku?”
“Aku melakukan apa yang menjadi tugasku,” kata Dina penuh emosi. “Aku seorang
istri yang baik, setia, penurut dan telah memberimu dua orang anak!”
“Maafkan aku, sayang. Kamu benar,” Anton mengalah. Dia berusaha mengembalikan
mood sang istri yang nampaknya mulai naik pitam.
“Aku sedang tidak ingin melakukannya,” kata Dina sambil melepaskan tangan Anton
yang meremas payudaranya. Dina mematikan lampu dan menarik selimut.
Anton memahami nada suara istrinya yang tinggi dan memiringkan badan untuk
mengecup bibir Dina. Setelah mencium bibir Anton, Dina membalikkan badan dan
memunggunginya. Si cantik itu segera terlelap. Anton bangkit dari ranjang dan
berjalan menuju kamar mandi.
Entah kenapa, setelah 12 tahun menikah dan hapal dengan sifat-sifat Dina, dia
dengan tololnya memutuskan untuk membicarakan hal yang menyinggung perasaan
istrinya. ‘Dasar sial’ batin Anton. Suami Dina itu terpaksa coli di kamar mandi
untuk melepas hasrat birahinya malam itu.
###
Pak Bejo Suharso yang pensiunan PNS bertubuh gemuk, dengan kulit hitam
kecoklatan terbakar matahari dan berusia enam puluh dua tahun. Wajahnya sudah
dipenuhi keriput, matanya kemerahan dan rambutnya yang ikal mulai membotak.
Wajahnya bukan wajah seorang pria tua yang simpatik, bahkan cenderung buruk
rupa. Walaupun bukan orang berada dan hidup serba kekurangan, Pak Bejo dikenal
lumayan akrab dengan penghuni sekitar sehingga sering dimintai bantuan dan punya
banyak kawan di kampungnya.
Tapi di balik penampilannya pada Alya sekeluarga, Pak Bejo sebetulnya adalah
seorang preman yang sering judi, jajan PSK, mabuk-mabukan dengan anak-anak muda
dan berkelahi dengan orang yang tidak disukainya. Satu lagi kejelekan Pak Bejo,
orang ini sangat mesum.
Pak Bejo dan istrinya hampir tiap hari berkunjung ke rumah keluarga Hendra dan
Alya. Biasanya Bu Bejo akan merawat Opi yang masih kecil setiap kali Hendra dan
istrinya pergi bekerja. Pak Bejo dan istrinya memang suka dengan anak kecil
apalagi yang selucu dan secantik Opi, tapi Pak Bejo lebih suka dengan ibunya
yang luar biasa manis dan seksi.
Alya yang masih muda dan jelita adalah wanita impian Pak Bejo. Sejak pindah ke
kampung ini, Pak Bejo tak pernah melewatkan mengamati ibu muda yang segar itu.
Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang seksi, baunya yang harum, kakinya yang
jenjang, kulitnya yang putih mulus, rambutnya hitamnya yang panjang sebahu, buah
dadanya yang montok dan membusung, pantatnya yang bulat, semuanya Pak Bejo suka.
Sejak Bu Bejo dipercaya dan sering dipanggil sebagai babysitter keluarga Hendra,
Pak Bejo bisa memuaskan dahaga nafsunya dengan mencuri-curi pandang ke arah
semua titik lekuk keindahan tubuh Alya.
‘Si Alya memang benar-benar dahsyat.’ Kata Pak Bejo dalam hati, “Coba lihat aja
bibirnya. Uahahhh, pokoke maknyuuuss. Kalo dipake buat nyepong, baru nempel aja
paling aku udah keluar.”
Hari ini dia lebih beruntung lagi, karena tadi pagi sempat mencuri celana dalam
Alya yang belum dicuci. Dia sempat mencium bau harum belahan selangkangan Alya
dari celana dalam bekas pakainya itu. Setelah istrinya tidur, malam ini Pak Bejo
beringsut ke kamar mandi dengan sembunyi-sembunyi sambil membawa celana dalam
Alya. Buat apa lagi kalau bukan buat coli? Ia segera bermasturbasi dengan
membayangkan wajah Alya dan mimpi bercinta dengan istri Hendra itu dari segala
macam posisi. Pak Bejo merem melek dan mendengus-dengus penuh nafsu.
‘Wah,’ pikirnya. ‘Kalau cuma begini terus, bisa rusak kontol ini aku betot.
Gimana yah caranya bisa ngentotin si Alya yang semlohay itu? Aku musti cari cara
buat bisa masukin kontol ini ke memeknya!’
Setelah orgasme dan melepaskan air mani ke lantai kamar mandi, Pak Bejo kembali
ke teras dan kongkow-kongkow. Dia masih mengatur strategi untuk melaksanakan
pikiran kotornya. Suatu saat, teringatlah Pak Bejo pada adik Alya yang juga
sangat cantik dan seksi yang bernama Lidya.
‘Si molek itu kayaknya curiga sama aku. Suatu saat nanti aku harus memberi dia
pelajaran di tempat tidur!’ kata Pak Bejo dalam hati. ‘Yang mana yah enaknya?
Alya atau Lidya yang sebaiknya aku entotin duluan? Wah wah, satu keluarga kok
semlohay semua. Belum lagi kakaknya yang paling gede, siapa itu namanya… Dina
Febrianti? Wah… teteknya oke banget… ah ah… Dina, Alya atau Lidya?’
Pak Bejo lantas membuka folder-folder gambar di dalam HPnya. Di dalamnya
terdapat tiga foto yang sangat dia sukai. Semuanya seronok dan diambil tanpa
sepengetahuan sang target. Gambar Dina saat mengenakan kaos ketat yang
memperlihatkan kemolekan buah dadanya, gambar belahan dada Alya saat pujaan Pak
Bejo itu membungkuk dan gambar paha mulus Lidya. Dina sudah menikah dan tinggal
tidak jauh dari rumah Alya, berbeda gang tapi masih dalam satu komplek. Bersama
suaminya, Anton, Dina memiliki dua orang anak yang sekarang sudah bersekolah di
SD terdekat. Sedangkan Lidya adalah penganten baru yang tinggal di sebuah rumah
agak jauh di pinggiran kota. Karena sering tugas keluar kota, maka Andi suami
Lidya sering menitipkan istrinya ke rumah Alya.
Kedua orang tua kakak beradik Dina, Alya dan Lidya sudah meninggal dunia karena
kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
Sambil menikmati gambar ketiga kakak beradik yang seksi itu, Pak Bejo Suharso
terus melamun hingga larut malam sambil menggaruk-garuk selangkangannya yang
makin gatal.
###
Alya sudah bekerja keras sepanjang hari Minggu ini dan dia kelelahan. Ibu rumah
tangga muda yang cantik itu sudah mencuci baju, memasak, membersihkan rumah,
memandikan Opi dan menidurkannya. Apalagi hari ini Alya harus melayani kunjungan
ibu mertuanya yang baru pulang sore hari sementara Bu Bejo sedang mengunjungi
relasi sehingga tidak bisa datang. Akhirnya Alya bisa beristirahat dengan tenang
malam itu.
Setelah mandi dengan shower, keramas dan mengenakan piyama, Alya merebahkan diri
di tempat tidur. Sayangnya, Hendra punya pikiran lain dan mulai bergerak
mendekati istrinya yang tidur membelakanginya. Hendra memeluk Alya dari
belakang, menepikan rambut dan menciumi lehernya yang putih.
“Jangan sekarang ah, Mas Hendra,” kata Alya manja. “Aku capek banget.”
Hendra tidak menjawab. Suami Alya itu terus menciumi lehernya dan meletakkan
tangannya di payudara kiri Alya. Hendra meremas susu Alya perlahan dan menjilati
daun telinganya, sementara tubuhnya kian mendekat dan akhirnya Hendra
menempelkan alat vitalnya di belahan pantat Alya yang montok.
“Mas…” Alya menggeliat dan mencoba mendorong suaminya menjauh. Tidak enak juga
rasanya menolak melayani suami seperti ini, karena biar bagaimanapun Alya sangat
mencintai Hendra dan ingin melayaninya sampai puas. Sayangnya, Hendra sering
memilih waktu yang tidak tepat saat meminta jatah.
“Ayolah, sayang,” kata Hendra sambil mencopoti kancing baju piyama yag dikenakan
Alya. “Aku pengen.”
“Aku capek, Mas,” jawab Alya. Tapi karena Hendra terus merangsang payudaranya,
Alya akhirnya mengalah. Akan lebih baik kalau dia menyerah dan pasrah pada
kemauan sang suami.
Alya berhenti menolak dan mulai rileks saat Hendra selesai melepaskan semua
kancing baju piyama yang dikenakannya. Telanjang dari perut ke atas, Hendra
segera menyerang kedua payudara Alya yang ranum dan indah. Hendra memijat buah
dada Alya dengan kedua belah telapak tangannya. Suami Alya itu lalu
mengelus-elus susu Alya dan menciumi sisi-sisinya. Hendra hanya sekilas mencium
puting susu Alya (tidak cukup lama untuk membuatnya mengeras), lalu bangkit dan
berlutut. Ia meraih bagian atas celana piyama yang dipakai Alya dan mencoba
menariknya. Alya dengan desahan panjang mengangkat pantatnya ke atas supaya
celananya mudah ditarik.
Hendra melucuti celana panjang piyama Alya dan melakukan hal serupa dengan
celana dalam istrinya. Kini Alya sudah telanjang bulat di depan suaminya.
“Seksi banget, sayang. Sudah lebih dari lima tahun kita menikah, tapi bentuk
tubuhmu masih jauh lebih indah dari gadis manapun. Masih seksi, masih mulus dan
hmm… tidak, aku salah. Tubuhmu jauh lebih seksi, lebih mulus dan lebih aduhai
dari siapapun.” Kata Hendra memuji keindahan tubuh istrinya. Alya tersenyum,
paling tidak dia masih mendapatkan pujian dari suaminya.
“Ini semua untuk kamu, Mas.” Kata Alya mesra.
Hendra ambruk di atas tubuh Alya dan istrinya itu otomatis merenggangkan kakinya
yang jenjang. Alya mengaitkan kakinya diantara pinggang Hendra dan menjepitnya
lembut. Beberapa saat kemudian, Alya merasakan ujung kemaluan Hendra mulai
menyentuh ujung vagina Alya. Wanita cantik itu menarik nafas panjang. Hendra
mungkin bukan orang paling romantis di dunia, tapi penisnya lumayan besar, dan
itu biasanya mampu mengagetkan dan memuaskan Alya.
Alya menahan nafas sementara Hendra melesakkan penisnya ke dalam vagina istrinya
dengan sangat perlahan. Setelah seluruh batang kemaluan Hendra masuk ke dalam
mulut rahimnya, Alya melepas nafas. Hendra mulai menyetubuhi Alya dengan gerakan
pelan dan lembut. Gerakan Hendra yang ajeg dibarengi dengan erangan dan lenguhan
kenikmatan. Alya merintih pelan dan manja, untuk memberikan kesan dia menikmati
permainan cinta yang diberikan suaminya. Padahal dalam hati Alya sama sekali
tidak puas.
Sebenarnya permainan Hendra tidaklah terlampau buruk, tidak pula singkat, kadang
Alya juga terpuaskan perlahan-lahan, tapi permainan Hendra tidak mampu
melejitkan Alya ke puncak kepuasan yang optimal. Alya mencoba mengimbangi
gerakan memilin suaminya dengan gerakan pinggulnya, mencoba menyamakan ritme
dengan gerakan mendorong yang dilakukan Hendra, tapi lagi-lagi Alya harus
berpura-pura karena tak berapa lama kemudian Hendra sudah orgasme. Alya
tersenyum dan mencium suaminya lembut. Hendra menyentakkan penisnya dalam vagina
Alya untuk kali terakhir sementara air maninya membanjiri liang kemaluan sang
istri.
Setelah semuanya usai, Hendra bergulir dari atas tubuh Alya dan memejamkan
matanya penuh kepuasan. Alya bangkit dari ranjang, membersihkan diri sebentar
dan kembali ke tempat tidur sambil memeluk suaminya yang sudah tertidur lelap
penuh rasa cinta.
Sementara itu, di luar sepengetahuan Alya dan Hendra, sesosok tubuh gemuk
berhenti merekam adegan persetubuhan mereka. Sosok itu sedari tadi bersembunyi
di luar jendela kamar Alya. Entah bagaimana, sosok itu bisa menemukan celah di
antara tirai, mengintip ke dalam kamar lalu merekam adegan seks mereka dengan
kamera HP.
Sosok itu melangkah puas sambil terkekeh-kekeh pulang ke rumah. Sosok Pak Bejo
Suharso!
###
Dina duduk di kamar santai dan menyalakan televisi. Tapi ibu muda yang cantik
itu tidak menonton tayangan sinetron di televisi. Dina terus memijat-mijat
tangannya dengan gelisah di pangkuan dan bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh
Pak Pramono, bos kerja Anton. Pak Pramono telepon tadi pagi dan bertanya apakah
dia boleh datang berkunjung. Pak Pramono mengatakan ada sesuatu yang penting
yang harus dibicarakan. Anehnya, saat ini Anton justru tengah dinas keluar kota.
Apa yang ingin disampaikan Pak Pramono padanya? Dina selalu merasa rikuh saat
berhadapan dengan Pak Pramono.
Walaupun sudah tua, tapi pria yang rambutnya sudah beruban semua itu sangat
besar dan masih terlihat gagah. Kulitnya yang hitam dan kumisnya yang lebat
menambah sangar penampilan Pak Pramono. Dia lebih mirip seorang perwira militer
ketimbang bos perusahaan IT. Dina bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin
dibicarakan oleh Pak Pramono saat kemudian bel pintu berbunyi.
Dina buru-buru membukakan pintu dan mempersilahkan seorang pria masuk. Dia
mengantarkan sang tamu ke ruang duduk di mana mereka berdua akhirnya berhadapan.
Dina merasa sedikit grogi berbincang-bincang dengan pimpinan suaminya. Sangat
jarang pimpinan Anton berkunjung kemari, bahkan bisa dibilang ini baru pertama
kalinya mereka berdua berhadapan langsung.
“Bagaimana kabar anda?” tanya Pak Pramono memulai percakapan.
Dina cukup terkejut dengan pertanyaan sopan ini. Pak Pramono bukan orang yang
suka berbasa-basi dan wajahnya cenderung menyeramkan. Satu-satunya pertemuan
empat mata antara Dina dan Pak Pramono berlangsung di sebuah pesta perusahaan.
Saat itu Pak Pramono bahkan tidak tersenyum pada siapapun. Sebaliknya Bu Pramono
adalah seorang istri yang sangat ramah. Dina memutuskan untuk tidak memasang
wajah kaku dan berlaku santai. Dia duduk dengan tenang.
“Baik, terima kasih. Bagaimana kabar anda sendiri, dan Bu Pramono, sehat-sehat
saja kan?” Dina menjawab ramah.
“Baik. Baik. Ibu juga baik baik saja. Semua sehat.”
Dina melihat wajah Pak Pramono mengeras, sehingga perasaan tegang kembali
menyelimutinya. “Pasti Bu Anton bertanya-tanya kenapa saya ingin menemui ibu?”
“Betul Pak, saya cukup terkejut dengan telpon dari anda… apalagi saat ini Mas
Anton sedang keluar kota dan…”
“Akan lebih baik kalau dia tidak ada di sini. Saya ingin berbincang-bincang soal
serius pada Bu Anton perihal bapak.”
“Tentang suami saya? Apa ada masalah di tempat kerja?
“Pertama, apakah ibu tahu soal kebiasaan Pak Anton berjudi?”
Dina terkejut dan hampir pingsan, tapi setelah beberapa saat berdiam, dia
mencoba menguasai dirinya sendiri dan menjawab. “Mas Anton tidak pernah berjudi,
tidak tepat kalau disebut ‘kebiasaan’, Pak Pramono.”
Pak Pramono membuka tas kerjanya dan mengambil secarik amplop manila. Dia
membukanya dan mengeluarkan beberapa carik kertas dari dalamnya. Memisahkan
sebagian dan mengambil beberapa lagi. Dia lalu menunjukkannya kepada Dina.
Kertas-kertas itu adalah foto. Dina duduk terdiam. Dia hampir pingsan.
“Ini buktinya,” kata Pak Pramono tenang.
Dalam foto-foto itu tergambar kegiatan Anton saat dia sedang di meja judi. Entah
itu saat bermain kartu atau berbagai jenis kegiatan judi lain. Ada foto-foto
saat Anton sedang memasang nomor taruhan, ada foto saat Anton merobek nomernya
yang kalah dengan kesal dan ada foto Anton saat dia sedang minum bir bersama
beberapa bandar.
“Darimana anda mendapatkan foto-foto ini?” tanya Dina kebingungan.
“Itu tidak penting. Jadi patut diketahui oleh ibu, kalau kami selalu melakukan
penyelidikan mendetail pada seluruh karyawan, termasuk Pak Anton. Dalam kasus
ini, kami memang mencurigai beliau.”
“Mencurigai! Kenapa?”
“Saya baru hendak menyampaikan alasannya. Auditor kami menemukan catatan
sejumlah besar dana yang telah diselewengkan oleh seorang karyawan. Hal itu
membuat kami harus memulai langkah penyelidikan. Setelah langkah-langkah
diambil, semua bukti yang ada mengarah pada Pak Anton, suami ibu. Kami
menghubungi pihak yang berwajib dan mereka mengirim beberapa intel untuk, mm,
mematai-matainya.”
“Ini pasti kesalahan besar. Anton tidak mungkin mencuri. Dia tidak pernah
berjudi!” Dina mulai gusar, matanya mulai basah.
“Tentunya, seperti yang terbukti dari foto-foto ini, suami ibu jelas-jelas
berjudi.” Pak Pramono mengeluarkan beberapa foto lagi dari amplop manilanya.
“Bahkan kami punya bukti kalau Pak Anton juga telah melakukan korupsi dan
menggelapkan uang perusahaan untuk kegemarannya itu.”
Dina yang shock duduk dengan mulut terbuka lebar karena terheran-heran. Ruang
tamunya seakan berputar dan perlahan menjadi gelap. Dina pingsan.
###
“Alya.”
“Iya Mas?”
“Dasiku yang biru kamu simpan dimana? Aku kok tidak bisa menemukannya
dimana-mana?”
“Ada kok, di dalam lemari.”
Hendra selalu berharap Alya akan menyiapkan segala kebutuhannya sebelum
berangkat ke kantor. Ketika mereka menikah beberapa tahun yang lalu, Alya
sanggup melayani Hendra. Tapi kini, sebagai seorang wanita yang juga bekerja
dengan seorang anak yang masih kecil, kesibukan pagi Alya sangatlah padat.
Bangun pagi, menyiapkan makan, membangunkan Opi, menghidangkan sarapan… terus
berlanjut sampai Hendra berangkat kerja, Opi diasuh Bu Bejo dan Alya sendiri
berangkat bekerja.
Saat Bu Bejo tidak datang, kehidupan Alya jauh lebih hiruk pikuk. Untungnya
suami istri Pak dan Bu Bejo gemar menolong dan mereka selalu datang untuk
membantu. Bu Bejo tidak pernah menolak membantu dalam hal apapun juga, hubungan
kedua tetangga inipun terjalin erat. Hendra dan Alya sering memberi uang lebih
pada Pak Bejo dan istrinya sebagai balas jasa.
Sayangnya Alya kemudian mengetahui kehidupan gelap Pak Bejo Suharso. Pak Bejo
adalah seorang suami yang pemabuk dan sering memukuli Bu Bejo dengan kasar.
Tanpa alasan yang jelas (kemungkinan besar karena kalah judi), Pak Bejo bisa
menghajar Bu Bejo sampai bengkak dan biru. Biasanya kalau sudah begitu, hanya
Pak Bejolah yang datang ke rumah Hendra selama beberapa hari. Alya mengasihani
Bu Bejo, kenapa dia masih tetap bertahan sebagai istri Pak Bejo? Mungkin kondisi
ekonomi membuat kehidupan Pak Bejo menjadi keras, tapi itu bukan alasan untuk
menganiaya istrinya sendiri.
Seandainya Hendra yang berlaku demikian, maka Alya akan minta cerai dan pergi
sejauh mungkin dari rumah ini. Bukanlah penganiayaan fisik yang membuat Alya
marah, tapi penghinaan berlebih terhadap kaum wanita yang membuatnya
tersinggung. Alya hanya tertawa saat membayangkan Hendra menjadi seorang
penganiaya istri, tidak mungkin terjadi. Mereka sudah pacaran sejak SMU dan
Hendra adalah orang terbaik yang pernah ia kenal.
Suatu ketika Alya pernah menanyakan perihal alasan Bu Bejo bertahan, Bu RT itu
hanya tertawa penuh kesabaran. “Kamu belum tahu apa-apa, nDuk. Mbak Alya belum
mengerti apa-apa.”
Tapi, Bu Bejo berjanji, setiap kali Pak Bejo berlaku kasar, dia akan lari minta
perlindungan pada Alya sekeluarga dan berusaha menyadarkan suaminya dari
tindakan yang semena-mena itu. Hari ini Bu Bejo belum menampakkan batang
hidungnya, dan Alyapun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
“Opi, ayo habiskan makannya.” Kata Alya memperingatkan putrinya.
Putri kecil Alya punya kebiasaan buruk menghambur-hamburkan sarapan. Toh
walaupun sudah masuk kelas 0 kecil, Opi masih seorang anak kecil. Alya melirik
ke arah jam di dinding. Jam tujuh tiga puluh.
“Sayang, aku pergi dulu. Mungkin pulang agak telat hari ini. Ada meeting nanti
sore dengan pemegang saham.” Kata Hendra sambil mencium pipi sang istri.
Melangkah keluar dari dapur, Alya dan Hendra mengangkat Opi dari meja makan.
Kalau Bu Bejo tidak datang, Hendralah yang mengantarnya ke TK. Kalau sudah
begitu, biasanya Opi dititipkan pada neneknya yang kebetulan tinggal di dekat TK
dan juga bersedia menampung Opi. Hendra atau Alya akan menjemput Opi nanti sore
sepulang kerja.
Alya merasa pusing hari ini, sehingga dia memutuskan untuk absen kerja. Setelah
menelpon kantor untuk minta ijin, Alya juga menelpon mertuanya untuk menitipkan
Opi. Saat melintas di depan kaca, tidak sengaja Alya memperhatikan tubuhnya
sendiri. Sangat susah mempertahankan badan agar tetap langsing bagi sebagian
orang. Tapi bagi Alya, dia bagai dikaruniai sebuah tubuh indah yang sangat
sempurna. Alya merapikan rambut sebahunya yang agak kusut.
“Kamu memang seksi banget, sayang. Kalau jalan-jalan di mall, pasti banyak cowok
pengen menggodamu.” Kata Hendra. Dia selalu memuji istrinya. Memang bukan hal
aneh kalau Alya sering digoda cowok dimanapun dia berada karena sangat cantik
dan seksi. Tapi Alya adalah seorang istri yang setia dan punya martabat yang ia
junjung tinggi.
“Mama, Opi pegi dulu.” Kata si kecil sambil mencium pipi sang bunda.
“Iya. Ati-ati ya sayang.” Alya mengecup dahi Opi.
“Aku pergi dulu, say.” Hendra pamit sambil menggandeng Opi.
Alya melambaikan tangan pada mereka berdua.
Alya ambruk ke atas ranjang setelah Hendra dan Opi pergi. Pengaruh obat yang dia
minum setelah sarapan tadi membuatnya sangat mengantuk. Ibu rumah tangga yang
jelita itu tertidur selama hampir dua jam sebelum terbangun dan memutuskan untuk
bersantai-santai sambil membaca tabloid. Alya bertanya-tanya kemanakah Bu Bejo
hari ini.
###
Saat kemudian terbangun, Dina sedang berbaring di sofa dan Pak Pramono duduk di
sampingnya.
“Anda ingin saya ambilkan segelas air?” tanya Pak Pramono.
“Apa yang terjadi? Ya Tuhan, saya ingat. Tidak mungkin. Anton tidak akan
melakukan itu semua. Apa yang akan anda lakukan?”
“Itulah sebabnya hari ini saya memutuskan kemari dan menemui Mbak Dina. Saya
punya penawaran.” Kata Pak Pramono.
“Penawaran? Untuk saya? Apa yang bisa saya lakukan?”
Pak Pramono tersenyum nakal. “Begini, Bu Anton, atau boleh saya panggil Mbak
Dina saja supaya akrab? Anda terlalu muda dan cantik untuk dipanggil ibu.”
Dina mengangguk.
“Baiklah, Mbak Dina. Anda bisa membantu suami, dalam hal ini Mas Anton, dan juga
seluruh keluarga Mbak Dina. Saya punya bukti-bukti kuat yang akan menggiring Pak
Anton ke penjara untuk jangka waktu yang sangat lama. Saat melakukan
penyelidikan, kami juga menerima berkas-berkas laporan keuangan dan bon tagihan
bulanan keluarga anda.”
Dina sudah siap memprotes, tapi kemudian terdiam dan membiarkan Pak Pramono
meneruskan keterangannya.
“Memang apa yang saya lakukan bersama tim terdengar ilegal, tapi saya bersumpah
apa yang kami lakukan sah sesuai hukum. Saya memberitahu anda saat ini karena
ingin anda mengerti posisi kami. Dari apa yang kami dapatkan, kami menemukan
bukti bahwa keluarga anda telah berfoya-foya dengan membeli berbagai peralatan
elektronik dan…”
“Berfoya-foya? Kami tidak minta apa-apa! Itu semua Mas Anton yang membelikan!”
teriak Dina panik.
“Kami minta maaf, tapi saya tetap pada pernyataan saya. Suami anda menghabiskan
uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan seiring dengan kegiatan judi yang dia
lakukan dan banyaknya hutang yang dia tanggung dari kegiatannya itu, saya rasa
anda tidak sanggup mengeluarkan lebih banyak lagi dana dari anggaran belanja
anda. Pak Anton harus kehilangan pekerjaan dan mendekam di penjara.”
“Ya Tuhan, lalu apa yang akan terjadi kalau anda melakukan itu?! Kami akan
kehilangan rumah! Anak-anak! Apa yang terjadi pada mereka? Sekolah dan
lain-lain!”
“Benar sekali. Itu sebabnya saya disini. Saya bukan pendendam. Saya memang
sangat marah saat tahu Pak Anton telah mencuri uang perusahaan, tapi saya lalu
teringat pada Mbak Dina dan… ahh, saya punya penawaran menarik.”
“Apa yang anda maksud… penawaran menarik?”
“Apakah anda berniat membantu Pak Anton mempertahankan pekerjaannya dan
menjauhkan suami anda dari jeruji penjara?”
“Tentu saja.”
“Apa yang anda akan lakukan untuk itu?”
“Apa saja.”
Tentunya Dina bermaksud membayar kembali hutang Anton pada perusahaan, bahkan
jika dia harus menjadi pembantu rumah tangga atau buruh cuci untuk melakukannya.
Dina akan sangat terkejut saat Pak Pramono melanjutkan niatnya.
“Saya sangat lega anda berpendapat demikian, Mbak Dina. Tahu tidak, anda sungguh
sangat cantik jelita. Sangat mempesona.”
“Terima kasih. Tapi sebaiknya kita tetap pada pokok permasalahan.”
“Itulah yang sedang saya lakukan. Saya ingin menolong keluarga anda keluar dari
kesulitan ini. Dengar baik-baik apa yang hendak saya sampaikan: saya orang yang
sangat kaya, jadi saya bisa melupakan uang yang dicuri suami anda dari
perusahaan hanya jika… jika anda berlaku ‘baik’ terhadap saya.”
“Pak Pramono, apa saya tidak pernah berbuat baik pada anda? Apa pernah saya
berlaku tidak sopan pada anda?”
“Mbak Dina. Anda selalu sopan terhadap saya. Tapi itu bukan ‘kebaikan’ yang saya
maksudkan. Apa anda tahu maksud saya?”
“Mohon maaf, tapi saya tidak tahu. Pikiran saya sedang kalut dan saya tidak bisa
berpikir jernih. Apa yang anda maksud?”
“Baiklah. Saya akan terus terang saja. Kalau kamu ingin aku melupakan kelakuan
suamimu dan kerugian yang diderita perusahaan, aku ingin kamu melayaniku. Tidur
denganku. Aku ingin menggauli tubuh indahmu.”
Mulut Dina menganga tak percaya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Wajahnya pucat pasi dan dia duduk di kursi dengan menggigil ketakutan. Akhirnya,
setelah mengumpulkan semua kekuatan karena shock, Dina berteriak kencang.
“Keluar dari rumahku! Pergi! Orang tua tidak tahu diri!”
Pak Pramono perlahan memindahkan foto-foto yang berada di amplop manila dan
meletakkannya di dalam tas kerja. Sengaja dia meletakkan tas itu dengan keras di
atas meja sehingga membuat Dina terperanjat. Pak Pramono berdiri, membalikkan
badan dan perlahan berjalan ke arah pintu. Setelah lima langkah, Pak Pramono
berhenti dan melirik ke belakang.
“Penawaran ini tidak akan aku ulangi,” kata Pak Pramono dingin. “Saat aku
melangkah keluar dari rumah ini tanpa kau turuti kemauanku, pihak yang berwajib
– kepolisian, akan segera aku hubungi. Segera.”
Dina meloncat dari kursinya dan berusaha menahan kepergian Pak Pramono. “Tunggu!
Saya mohon, Pak! Berhenti dulu!” Dina sangat kebingungan. Apa yang harus
dilakukannya? Apa yang sebaiknya ia perbuat? Seluruh tubuhnya bergetar karena
takut dan dia tidak dapat berpikir jernih. Dia tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Tanpa banyak berpikir, Dina mengganguk lemah. “Baiklah. Anda menang.”
“Apa itu artinya kamu mau melakukan semua yang aku minta?”
Dina ragu-ragu sesaat, matanya menatap ke lantai dengan hampa dan akhirnya
dengan suara lemah dia menjawab. “Iya. Saya tidak punya pilihan lain.”
“Bagus. Kalau begitu ayo kita buktikan saja.” Pak Pramono duduk di sofa dan
menunggu dengan santai. Saat Dina berdiri terdiam, Pak Pramono pun tersenyum
puas.
“Buka bajumu.” Perintah Pak Pramono.
###
Hari mulai siang dan Alya masih terus membolak-balik halaman tabloid Ibu & Anak.
Dia masih menunda pekerjaan rumah seperti mencuci piring atau memasak. Setelah
merasa sedikit sembuh dari pusing, barulah Alya bangkit dari bermalas-malasan
dan melangkah menuju dapur.
Saat itulah terdengar pintu pagar dibuka.
Siapa yah? Apa mungkin tukang pos yang mengantarkan surat atau paket? Pikir Alya
dalam hati. Saat membuka pintu, Alya menemui Pak Bejo sedang membawa tas kresek
hitam besar.
“Oh, saya kira siapa. Gimana Pak Bejo?” tanya Alya.
“Mbak Alya kok di rumah? Tidak kerja hari ini?”
“Oh, nggak, Pak. Soalnya hari ini badan agak kurang sehat, kepala juga pusing.”
“Oh begitu. Ini saya mau ngambil sampah. Biasanya Bu Bejo yang ngambil sampah di
keranjang belakang. Tapi tadi tiba-tiba saja Bu Bejo juga tidak enak badan.”
Meskipun sedang malas berbasa-basi, Alya tidak mau tidak sopan terhadap
tetangganya ini. “Oh begitu. Sampahnya ditaruh depan rumah saja, Pak. Nanti
diambil sama tukang sampah yang keliling kan?”
“Iya, Mbak,” jawab Pak Bejo. “Kalau diletakkan di keranjang depan, pasti diambil
tukang sampah komplek.”
Alya mengangguk dan mempersilahkan Pak Bejo masuk.
“Em, maaf Mbak. Tapi boleh saya minta segelas air putih? Saya haus sekali.”
tanya Pak Bejo.
“Tentu saja boleh, Pak. Kan sudah biasa? Anggap saja rumah sendiri. Sini, biar
saya saja yang mengambilkan. Bapak duduk dulu.” Kata Alya sopan.
Ketika kembali dengan segelas air putih, Pak Bejo sudah duduk di ruang tengah.
Dengan cepat Pak Bejo meneguk air putih dan mengembalikan gelasnya pada Alya.
Ibu muda yang cantik itu mencoba mengambil gelas, tapi sebelum sempat menarik
gelas, tangan Alya sudah ditarik oleh Pak Bejo. Tubuh Alya tertarik ke depan ke
arah pelukan Pak Bejo. Dengan sigap Alya memutar tubuh sehingga Pak Bejo kini
berada di belakangnya dan mencoba lari, tapi Pak Bejo terus memegang tangan Alya
dan memeluk tubuhnya. Saat mereka bergumul gelas yang dipegang Alya terlempar
hingga pecah berkeping-keping. Tangan Pak Bejo mulai nakal meraba-raba dada
kenyal Alya dan meremasnya dengan sangat keras hingga terasa sakit. Alya
membungkukkan badan ke depan mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Pak Bejo.
Semua usaha Alya sia-sia. Untuk bisa mempertahankan keseimbangan diri, Alya
harus mundur ke belakang. Tanpa dikomando, Pak Bejo segera beraksi. Pria tua itu
menyelipkan selangkangannya yang sudah membusung besar ke lipatan pantat Alya.
Tangannya juga meremas buah dada Alya dengan sangat kasar. Alya mengernyit
kesakitan.
“He-Hentikan, Pak!! A-Atau saya akan teriak minta tolong!” kata Alya
terbata-bata. Dia sangat ketakutan.
“Aku tahu Mbak Alya tidak akan melakukan itu. Apa yang dibutuhkan Mbak Alya
adalah tidur dengan laki-laki sejati. Setelah kita bersetubuh nanti, Mbak Alya
akan menjadi seorang wanita yang mendambakan kontol besar setiap hari.” Kata Pak
Bejo sambil terengah-engah penuh nafsu.
Setelah berusaha mengatasi kepanikan, Alya mencoba melawan. Tangan Alya meraih
rambut Pak Bejo, memaksa pria tua itu menunduk dan dengan sekuat tenaga Alya
menyepak kemaluan Pak Bejo.
“Aduh! Lonthe!!”
Pria tua yang mesum itu pantas menerimanya. Dengan nekat Alya mencoba kabur ke
pintu depan sambil melewati Pak Bejo yang sedang kesakitan. Salah besar. Tangan
Pak Bejo menarik rambut Alya dan membanting tubuh si cantik itu ke lantai. Alya
yang jauh lebih ringan terbanting dengan keras.
Pak Bejo melepaskan rambut Alya.
Alya mencoba berdiri dengan sempoyongan, ia berusaha mempertahankan
kesadarannya. Dengan satu tamparan keras di pipi, tubuh Alya terlempar lagi ke
lantai. Air mata mulai menetes di pipi mulus Alya. Tamparan kedua menyusul tak
lama kemudian, membanting tubuh Alya ke arah yang berlawanan. Akhirnya pukulan
dan tendangan Pak Bejo seakan tak berhenti menghajar tubuh Alya. Pak Bejo
mengunci tubuh Alya, sehingga walaupun Alya berusaha melawan, semua tidak ada
gunanya. Tak perlu waktu lama sebelum akhirnya perlawanan Alya mengendur dan
tubuhnya mulai lemas. Tamparan demi tamparan Pak Bejo menjadi hajaran yang tak
tertahankan.
“Pak!! Saya mohon!! Hentikan! Hentikan!!” ratap Alya sambil menangis.
Akhirnya Pak Bejo berhenti menghajar Alya. Alya mulai meraung-raung dan menangis
sejadi-jadinya. Darah menetes dari hidungnya yang sembab.
“Nggak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh.” Pak Bejo menyeringai.
Tangan Pak Bejo mulai bekerja dengan cepat melucuti pakaian yang dikenakan Alya.
Pak Bejo melepas rok dan rok dalam yang dipakai Alya. Akhirnya Alya bisa
merasakan tangan kuat pria tua itu merobek celana dalamnya.
Alya tidak percaya ini semua terjadi padanya. “Ini pasti mimpi buruk.”
Pak Bejo juga tidak percaya melihat kemolekan tubuh Alya. Kaki yang jenjang,
paha yang mulus dan rambut tipis tercukur rapi menutup gundukan memek yang
bersih. Keindahan yang tidak ada duanya. Keindahan tubuh Alya persis seperti apa
yang selalu diidam-idamkan oleh Pak Bejo ketika masturbasi sendirian di kamar
mandi. Tubuh yang indah itu kini tergolek pasrah di atas lantai.
Pak Bejo tak perlu waktu lama untuk menyerang tubuh Alya. Dia membenamkan kepala
di antara paha Alya dan mulai menghirup aroma wangi liang kewanitaannya. Pak
Bejo mulai menjilati bibir kemaluan Alya.
“Ya Tuhan!” Alya menggigil tak berdaya sambil mencengkeram kepala Pak Bejo
dengan kedua tangannya dan mencoba mendorongnya menjauh. Bahkan Hendra tak
berani melakukan itu padanya. Lidah Pak Bejo makin lama makin meningkat
intensitas iramanya dan Alya mulai kehilangan kendali pada tubuhnya. Dengan malu
Alya mulai menyadari kalau tubuhnya perlahan menikmati apa yang dilakukan oleh
Pak Bejo sementara batinnya mencoba mengingkari.
“Aaah!!” lenguh Alya keras sambil terus mencoba mendorong kepala Pak Bejo.
Lenguhan Alya makin lama makin keras dan tubuhnya menggigil penuh nafsu birahi
di bawah rangsangan luar biasa dari Pak Bejo. Alya sudah tidak ingat lagi akan
semua hal yang ia junjung tinggi, pekerjaan, pendidikan, latar belakang,
keluarga, suami, anak… semua hilang ditelan nafsu. Tidak ada jalan keluar. Dia
akan ditiduri oleh laki-laki ini, seorang pria tua yang ternyata memiliki hati
busuk.
Dengan kecepatan tinggi, Pak Bejo mulai meloloskan baju dan celana yang ia
kenakan. Saking nafsunya, ia bahkan merobek kaos oblongnya. Berbaring di lantai,
Alya sekilas melihat batang zakar Pak Bejo sebelum dia akhirnya memeluk Alya.
Kontol Pak Bejo sangat besar, bahkan lebih besar dari milik Hendra, batin Alya
dalam hati. Kaki Alya yang jenjang diangkat ke atas oleh pria tua yang sudah
nafsu itu, keduanya ditautkan di pundak Pak Bejo dan dengan secepat kilat, Pak
Bejo sudah sampai di selangkangan Alya. Tanpa tunggu waktu terlalu lama,
langsung dilesakkan kontolnya ke dalam memek Alya.
“Ya Tuhan!” lenguh Alya ketika penis Pak Bejo masuk ke dalam liang kemaluannya.
Si cantik itu bahkan harus menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak
kesakitan saat kontol Pak Bejo dipompa dalam rahimnya berulang-ulang kali.
Tapi Pak Bejo tetaplah seorang pria tua. Tidak sampai lima menit, Pak Bejo sudah
melepaskan cairan pejuhnya di dalam rahim Alya. Alya menatap wajah Pak Bejo
dengan perasaan campur aduk.
“Sudah kubilang kalau kau akan menikmati semua ini, Mbak Alya. Lenguhanmu
terdengar sangat keras dan merangsang.” Kata Pak Bejo sambil meringis penuh
kemenangan.
Alya yang malu memalingkan wajah.
Saat Alya berusaha bangun, Pak Bejo menarik tubuh Alya dan memeluknya.
“Mau kemana, sayang? Kita kan belum selesai. Kamu nggak pengen dikenthu lagi?”
“Mau ke kamar mandi.” Kata Alya berusaha melepaskan diri dari pelukan Pak Bejo.
“Tapi kamu kan nggak bisa pergi seperti ini.”
Pak Bejo berdiri dan membantu Alya ikut berdiri. Satu persatu dilepaskannya
semua pakaian yang melilit tubuh indah Alya. Mulai dari baju, BH sampai rok
dalam yang masih tersangkut di kaki Alya. Setelah selesai, dibaliknya tubuh
Alya.
“Sekarang baru boleh pergi.” Kata Pak Bejo terkekeh sambil menampar kecil pantat
Alya yang bulat dan mulus. Sambil menahan air mata, Alya pun pergi ke kamar
kecil.
Saat kembali ke kamar tengah, Pak Bejo sedang menonton acara TV.
“Duduk di pangkuanku!” Perintah Pak Bejo sambil menepuk kakinya. Alya sempat
ragu-ragu untuk sesaat, dia sangat sadar bahwa dirinya saat ini sedang telanjang
tanpa sehelai benangpun di depan seorang pria yang bukan suaminya sendiri. Orang
itu kini menghendaki tubuh indah Alya duduk di pangkuannya. Alya hanya bisa
mendesah penuh kepasrahan. Air matanya kembali menetes.
Tak berapa lama setelah duduk di pangkuan Pak Bejo, tangan jahil pria tua itu
mulai meraba-raba tubuh indahnya. Lama kelamaan, api yang tadinya padam mulai
menyala lagi. Kali ini Pak Bejo ingin mengeluarkan pejuh di mulut Alya. Istri
Hendra itu memang sangat jarang melakukan oral seks atau fellatio pada suaminya
sendiri karena terlalu alim. Sekali dua kali dilakukannya dengan terpaksa. Alya
selalu menganggap hal itu kotor dan menjijikkan. Hanya pemain film porno yang
pernah melakukannya.
“Aku tidak mau melakukannya.” Kata Alya bersikukuh.
Tanpa banyak bicara Pak Bejo meraih kepala Alya dan akhirnya istri Hendra itu
hanya bisa pasrah. Alya mulai mengoral kontol Pak Bejo.
Remasan tangan Pak Bejo di kepala Alya mengeras. Si cantik itu bisa merasakan
denyutan di kontol yang diemutnya kalau Pak Bejo hampir mencapai orgasme.
Kontolnya sangat besar dan keras di dalam mulut Alya sehingga dia mulai
batuk-batuk dan kehabisan nafas tapi Pak Bejo tidak peduli. Alya berusaha mundur
untuk menarik nafas, tapi tangan Pak Bejo meraih rambut belakang Alya dan
mendorongnya maju sampai tertelan seluruh batang kemaluan sang pria tua. Karena
kuatnya dorongan Pak Bejo, tubuh Alya menggelepar karena tercekik kehabisan
nafas.
Alya berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi Pak Bejo terlalu kuat untuknya.
Lalu perlahan pria tua itu berhenti sesaat, memberikan kesempatan bagi Alya
untuk bernafas sejenak. Sayang hanya sebentar, karena kemudian tiba-tiba saja
kepala Alya didorong maju dan dipaksa menelan seluruh batang kontolnya. Tepat
ketika ujung kepala kontol Pak Bejo menyentuh tenggorokan Alya, air mani pun
meledak di dalam mulutnya.
Tidak ada jalan lain kecuali menelan seluruh pejuh yang dikeluarkan oleh Pak
Bejo untuk menahan diri agar tidak tercekik. Saat dilepas oleh Pak Bejo, Alya
rubuh ke belakang dan menarik nafas lega. Seluruh pipi dan dagunya belepotan air
mani Pak Bejo yang keluar dari bibirnya yang merah.
Sadar apa yang baru saja diminumnya, langsung saja Alya merasa mual. Istri
Hendra itu segera lari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Setelah muntah,
Alya merasa lebih baik dan tidak lagi merasa mual. Sesaat setelah muntah,
barulah Alya sadar kalau Pak Bejo sudah berdiri di sampingnya. Alya tidak
melakukan perlawanan apapun saat pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu
memeluk tubuh indahnya yang telanjang dan mengelus rambutnya yang indah untuk
menenangkan si cantik itu.
“Apa Mbak Alya sudah enakan sekarang?” bisik Pak Bejo. Mau tak mau Alya
mengangguk pasrah.
Pak Bejo membantu Alya bersih-bersih sebelum membawa ibu rumah tangga yang
cantik itu kembali ke ruang keluarga. Pak Bejo menyuruh Alya duduk di salah satu
sofa sementara dia sendiri duduk tepat di hadapan Alya.
“Santai saja. Jangan dianggap masalah berat.” Kata Pak Bejo sambil mengeluarkan
sebungkus rokok dan mulai menghisapnya. “Pindah channel TVnya.”
Dengan menurut, Alya meraih remote TV dan memencet tombol. Entah acara apa yang
ingin ditonton Pak Bejo, Alya tidak peduli.
###