Tuesday, May 1, 2007

NAFSU UDIK 2

"Mas jahat begitu sih," omelku begitu esoknya Mas Narto menelepon
lagi.
"Sorry Yang .... habis kangen banget sih."
"Mas memang suka ganggu isteri orang ya?"
"Ampuun .... engga lah. Sama sekali engga pernah. Mas engga ada
maksud mengganggu isteri orang. Kemarin itu Mas hanya melepaskan
rindu sama kekasih."
"Huh ... dasar ..."
"Mas kesitu sekarang ya, Yang."
"Jangan!"
"Pokoknya Mas mau ke situ. Tunggu ya, daag." Telepon ditutup. Nekat
bener.
Giliran Aku yang cemas. Konflik antara menolak kehadiran Mas Narto
karena ingin setia, dengan keinginan mengisi kesepian sambil
mengulang kenangan manis. Antara menolak dan menginginkan. Mungkin
terlambat untuk menolak. Mas Narto sekarang sudah duduk di sofa
sebelahku. Kali ini dia datang sendirian, dan pandai memilih waktu.
Saatnya anak-anak kost sedang kuliah, Ayah dan Ibu pergi dan Si
Randi dibawa baby sitter main ke tetangga.
Dia juga pandai memanfaatkan waktu dengan efisien. Menolak kubuatkan
minum tapi langsung mencumbuiku di sofa. Entah setan mana yang
membujukku untuk menyambut lumatan bibirnya dengan lumatan pula. Mas
Narto makin "ganas". Tubuhku ditindih dengan ketat, seluruh mukaku
diciuminya, lalu leherku. Dengan agak kasar dibukanya dasterku, lalu
direnggutnya bra-ku. Mulutnya dengan rakusnya melumati kedua buah
dadaku bergantian kanan kiri. Lalu turun ke perutku, pusarku
dijilatinya. Terburu-buru dia membuka celana dalamku. Eh! Aku
membantunya dengan mengangkat pantatku. Dan ...........oh!
Mengapa Aku memberikannya? Bagaimana dengan janjiku kemarin? Mengapa
Aku mengizinkan lidahnya menari-nari di sekitar clit-ku? Karena
membuatku terbang melayang di angkasa?
Kalau kemudian Aku mendesah, melenguh, dan merintih-rintih, itu
biasa. Tapi, di tengah rintihanku Aku minta Mas Narto untuk segera
masuk, adalah luar biasa bagiku. Kenyataannya memang begitu.
Hanya dalam beberapa detik Mas Narto telah bugil. Pemandangan yang
telah biasa Aku lihat. Waktu pacaran dulu Aku sering mengelus-elus
penisnya yang kini sedang menuju ke selangkanganku. Saat-saat awal
masuk inilah nikmatnya. Dari kondisi basah, "hampa", dan melayang
tak tentu, menuju pada kondisi "terpenuhi" dan pinggul mendarat
kembali ke bumi, dengan "masa transisi" berupa simulasi-simulasi
nikmat pada dinding-dinding vagina. Masa pendaratan tak lama. Ketika
pinggul Mas Narto naik-turun, Aku kembali melayang-layang. Mas Narto
memang keterlaluan. Kedua tangannya menyusup di bawah punggungku
lalu mengunci tubuhku, dan dengan demikian dia bebas menyodokku
dengan hentakan tanpa Aku bisa "mundur" apalagi menghindar. Tapi
untuk apa mundur dan menghindar kalau hentakan tadi malah menambah
sensasi kenikmatan?
Untunglah, walaupun dalam keadaan melayang-layang begitu Aku sempat
ingat satu hal. Sehabis suatu sodokan, kedua tangan dan kakiku
mengunci tubuh Mas Narto sebelum dia menarik pinggulnya kembali. Aku
peluk. Kubisikkan dekat kupingnya.
"Jangan keluarin di dalam."
Mas Narto mengangguk-angguk, lalu memompa lagi begitu Aku
mengendurkan kakiku. Omonganku masih didengar, Mas Narto menepati
janji. Ditumpahkannya seluruh maninya ke atas perutku. Banyak.
Semoga dia tak telat mencabutnya. Aku memang sedang "polosan", tak
memakai proteksi apapun........
***
Aku mengurung di kamar sendirian, menangis terus. Aku benar-benar
berdosa, merasa diriku ini kotor. Aku telah membiarkan Mas Narto,
bekas pacarku, menyetubuhiku. Bodohnya, Aku menikmatinya. Isteri
macam apa Aku ini? Cinta Bang Mamat yang tulus telah kukhianati,
hanya karena dia akhir-akhir ini jarang menyentuhku. Bukankah
sibuknya Bang Mamat untuk keluarganya, Aku dan Randy? Oh ... Aku
hanya bisa menyesali dengan menangis terus-terusan.
Mengulangi suatu pengalaman yang memberikan rasa nikmat memang sifat
manusia dan setan ada di mana-mana.. Beberapa kali Mas Narto nelepon
mau datang, telah berhasil Aku tolak. Untung Aku punya alasan kuat,
Ayah atau Ibu sedang ada di rumah. Tapi pembicaraan teleponnya pagi
ini membuatku tak kuasa untuk menolak.
"Aku kangen Pah, pengin ke situ."
"Ada Ibu Mas, lagian baby siter ngasuh di rumah."
"Kita jalan-jalan ke luar aja yuk."
"Kemana Mas?"
"Ya .... kemana ajalah. Aku jemput ya."
"Engga enak Mas, ada Ibu."
"Ketemu di X aja," katanya menyebut nama restoran beberapa meter
dari rumah.
"Males ah," sahutku. Masa Aku perempuan muda nunggu cowo di
restoran, nanti apa kata pengunjung restoran? Belum lagi banyak yang
kenal.
"Pah, Aku mohon kita bisa ketemu. Mungkin ini pertemuan untuk
perpisahan."
"Kenapa gitu?"
"Minggu depan Aku pindah tugas ke X," jelasnya. Ke Kaltim? Oh, jauh
amat. Tiba-tiba Aku merasa kehilangan. Baiklah Aku mengalah.
"Oke Mas, kita ketemu di X aja," kataku menyebut nama shopping
center, beberapa menit dari rumah dengan kendaraan umum.
"Makasih, sayangku."
Satu jam kemudian Aku sudah di dalam mobil Mas Narto yang dipacu ke
arah Jakarta.
"Aku ingin pertemuan kita ini punya kesan yang mendalam," katanya.
"Ke mana kita Mas."
"Ke tempat yang berkesan."
"Apa itu."
"Nanti kamu tahu." Kulirik jam tangan, jam sembilan lewat sepuluh.
"Jangan jauh-jauh Mas, waktuku terbatas." Saat makan siang Aku harus
sudah ada di rumah. Bang Mamat terkadang pulang untuk makan siang.
"Engga kok, bentar lagi sampai." Mobil masuk ke pintu gerbang yang
dijaga Satpam, lalu berjalan pelan menyusuri bangunan-bangunan
semacam bungalow. Seorang lelaki setengah berlari memandu mobil
sampai ke pintu garasi. Mas Narto membawaku ke suatu motel tempat
pasangan selingkuh berkencan. Ada rasa tak enak sebenarnya. Tapi
karena menyadari bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir dengan
mantan kekasihku ini, Aku bisa menerima perlakuannya ini. Di ujung
garasi ada tangga ke atas dan berujung pada pintu. Melewati pintu
ini kita masuk pada ruang dengan sofa set, ada TV besar, mini bar,
dan kulkas. Lelaki tadi yang rupanya room-boy menyodorkan kuitansi
dan langsung berlalu setelah menerima uang dari Mas Narto. Aku duduk
di sofa.
"Udah sering ya bawa cewe ke sini."
"Eemm ... sering sih engga, sesekali. Maklumlah ...."
"Jadi saya ini Mas anggap seperti mereka itu?"
"Eit, jangan begitu dong, Yang. Ini cuma masalah tempat."
"Ya, justru itu kenapa engga di rumah Mas aja?"
"Adik Mas yang dari Jawa sekarang tinggal di rumah. Engga enak."
Meskipun masih ada rasa tak enak, kenyataannya Aku tak menolak
ketika Mas Narto mulai menciumiku di sofa. Lalu menelanjangiku
sebelum dia juga berbugil. Lalu step berikutnya seperti yang
sudah-sudah. Mas Narto merebahkanku di sofa, membuka kakiku
lebar-lebar untuk menempatkan tubuhnya diantaranya, mengarahkan
kepala penisnya ke selangkanganku, menekan, dan masuk. Lalu mulai
bergoyang kiri-kanan dan memompa naik-turun. Tubuhnya kadang
bertumpu di badanku sambil kedua lengannya mencengkeram, kadang
bertumpu pada kedua telapak tangannya. Suatu proses tahap-tahap
persetubuhan yang sama (dan biasa) yang dia lakukan beberapa hari
lalu di rumahku.
Yang tidak biasa adalah ketika stimulasi yang dia lakukan mulai
membuatku "naik", Mas Narto telah "selesai". Ketika Aku mulai merasa
melayang-layang, tiba-tiba dihempaskan kembali ke bumi tanpa
penyelesaian yang nikmat. Ketika Aku sedang merambat naik menuju
puncak kenikmatan, Mas Narto telah orgasme. Beberapa hari lalu Mas
Narto mampu membawaku melayang tuntas, kali ini berbeda. Dia
membuatku "tanggung", rasa menggantung.
Dia rupanya merasakan apa yang kurasakan. Pada second round di kamar
yang keempat dindingnya dipenuhi cermin, benar-benar berusaha
membuatku "tinggi". Seluruh tubuhku di eksplore dengan sabarnya, tak
buru-buru masuk. Aktivitas Mas Narto di cermin yang sedang memompa
tubuhku terlihat jelas dan mampu menambah rangsanganku. Bahkan
ketika Aku mengganjal kepalaku dengan bantal, Aku bisa melihat
keluarmasuknya penis Mas Narto pada pintu vaginaku melalui cermin
dinding di depanku. Aku memang sempat melayang tinggi, tapi apa
boleh buat. Mas Narto lagi-lagi keburu selesai. Ah! Pertemuan
perpisahan ini tak membuat kesan yang mendalam sebagaimana yang kami
harapkan. Dua ronde persetubuhan hanya membuatku makin "geli-geli"
saja. Dan tentu saja Aku lalu jadi gelisah sepanjang siang, sore
sampai malam.
Malam harinya Aku coba melampiaskan hasratku yang menggantung ini
kepada Bang Mamat. Tapi lagi-lagi dia tak memberikan response
positif atas "sinyal" yang kuberikan. Reaksi yang ditunjukkan Bang
Mamat cukup membuatku maklum, dia sedang tak berminat malam ini. Oh
iya, ini memang bukan malam libur, masih 4 malam lagi, di mana Bang
Mamat akan melaksanakan kewajibannya memberiku nafkah batin, yang
terjadwal dan jarang berubah! Ketika malam semakin larut, Aku masih
juga belum bisa tidur. Kupandangi wajah Bang Mamat yang terlelap
nyenyak di sebelahku. Betapa damai wajahnya dan begitu bersih.
Tiba-tiba Aku merasa sedih dan lalu menangis. Teganya Aku
mengkhianati pria baik hati ini.....
Aku bangkit dan duduk di depan cermin. Aku buka kancing baju
tidurku. Sepasang buah bulat kembar ini masih indah. Bang Mamat dan
Mas Narto sering mengatakannya. Apakah Bang Mamat sudah tak tertarik
akan keindahan ini? Dan Mas Narto, oh ... tadi siang dia begitu
rakusnya menciumi dan mengulumi putingnya. Bahkan dia berniat
menggigiti dan dengan tegas Aku larang. Aku berdiri. Kupandangi
tubuh bagian bawahku lewat cermin. Lengkungan-lengkungan itu masih
menggiurkan. Begitu pula yang dikatakan dua pria terdekatku. Perutku
masih bisa dikatakan rata, setelah punya anak. Bawahnya lagi? Oh,
lagi-lagi Aku menangis. Menyesali mengapa Aku mengizinkan penis lain
selain milik Bang Mamat memasukinya? Lama Aku terisak pelan
sendirian. Untung Bang Mamat begitu pulas. Seandainya dia tahu Aku
menangis terus bertanya kenapa, bagaimana Aku menjawabnya? Untunglah
kini Mas Narto telah pergi jauh, ke Kalimantan. Seandainya suatu
saat dia datang lagi dan mengajak berhubungan seks, Aku akan mampu
menolak tegas. Selain karena rasa bersalah pada Bang Mamat, juga
karena Mas Narto "sama saja" dalam hal kualitas persetubuhan.
Padahal Aku sudah berkorban dengan mengkhianati Bang Mamat.
***
Tadi malam susah tidur membuatkan pagi ini tidak fresh. Hari ini
babysitter minta cuti, mau pulang kampung, tugasnya diambil alih
oleh pembantu. Aku beranjak hendak mandi ketika Aku lihat Si Iyem
(nama samaran) kerepotan menjemur pakaian sambil momong anakku.
"Yem, kamu urus Randy aja ya, biar Ibu yang jemur pakaian."
"Baik, Nyah." Letak jemuran ada di samping rumah, persis di belakang
bangunan kamar-kamar kost.
"Pagi, Mbak." Dari sejak menerima kost dulu Aku biasa dipanggil
"Mbak" oleh anak-anak kost. Sampai sekarangpun begitu walau Aku
sudah menikah dan punya anak satu.
"Pagi, baru berangkat?"
"Iya Mbak, ada kuliah jam 10, mari mbak."
"Yuk."
Hubunganku dengan anak-anak kost memang sekedar bertegur sapa dan
berbasa-basi saja. Aku meneruskan kerjaanku. Kurasakan anak tadi tak
langsung beranjak, tetap ditempatnya dan menatapiku. Aku pikir
mungkin dia terheran, tak biasanya Aku menjemur pakaian, pekerjaan
yang biasa dilakukan Iyem. Merasa ditatap begitu dengan sendirinya
Akupun melihat ke arahnya. Mendadak anak itu mengalihkan pandangan,
agak kaget, dan langsung berlalu. Apa yang aneh pada diriku? Anak
tadi seperti mencuri-curi pandang. Oh! Kancing depan dasterku ada
yang terlepas, belahan dadaku jadi lebih terbuka. Cepat-cepat Aku
betulkan. Sialan anak itu. Bukan cuma belahan dadaku saja yang
sempat dilihatnya. Beberapa kali tadi Aku sempat membungkuk
mengambil pakaian basah dari ember. Celaka duabelas!, Aku tak
memakai bra! Aku baru sadar, tadi memang berniat mau mandi. Bahkan
ternyata hanya daster ini saja satu-satunya pakaian yang kukenakan
sekarang. Begitulah kalau Aku mau mandi.
Aku berniat mau masuk untuk berganti baju, tapi ah, tanggung,
tinggal beberapa potong yang harus dijemur, sudah itu baru mandi,
pikirku. Aku jadi merasa seksi, dadaku berguncang-guncang ketika
bergerak membungkuk atau mengangkat ke atas. Di beberapa bagian
dasterku basah kena cipratan air cucian makin mempertegas bentuk
tubuhku. Apalagi di bagian dada. Ups! Dari sudut mataku Aku melihat
di salah satu jendela kamar kost suatu sosok bayangan di balik
viltrage. Sosok bayangan kepala sedang mengintipku. Lelaki muda
memang suka iseng tapi masih takut-takut. Aku pura-pura tak tahu
dengan meneruskan pekerjaanku, toh tak lama lagi. Kubiarkan Si
Pengintip ini menikmati guncangan-guncangan tubuhku, pusing tanggung
sendiri .....
Dan rupanya Aku 'menemukan' cara untuk mengisi kesepian yang makin
memuncak ini dengan 'acara jemur pakaian' tiap pagi. Mungkin Aku
sudah gila. Entahlah. Aku menjemur pakaian yang sebelumnya merupakan
tugas Iyem, dan dengan pakaian seadanya. Kadang hanya berdaster
seperti tempo hari, atau pakai celana pendek dan t-shirt longgar
panjang sampai menutupi celana pendek, sehingga seolah hanya kaus
itu saja yang kukenakan. Tapi kalau sedang berkaus aku tak berani
melepas bra, bulatan kembarku terlalu kentara. Herannya, Aku
menikmati sensasi baru saat sosok bayangan di jendela mulai muncul
mengintipku. Berdasarkan letak jendela Aku memperkirakan Si
Pengintip ini adalah Tono (sebut saja begitu) atau Andi (samaran
juga). Tono adalah yang biasa mewakili teman-temannya bicara dengan
induk semang (Ayah, Ibu, atau kadang-kadang Aku) untuk urusan
per-kost-an. Rupanya ia dianggap pemimpin oleh rekannya, mungkin
karena dia penghuni paling lama. Andi adalah mahasiswa paling
senior.
Suatu pagi Tono masuk ke rumah utama ingin bicara dengan induk
semang. Karena Ayah dan Ibu sedang tak ada di rumah, maka dia bicara
kepadaku.
"Gini Mbak, akhir-akhir ini ruang tamu jarang dibersihkan," katanya.
Matanya menatapku, hanya sebentar, lalu pandangannya turun ke
dadaku.
"Oh iya". Aku mengenakan celana jeans dan t-shirt ketat. Tak heran
kalau matanya tertuju ke dadaku. Walaupun Aku mengenakan bra, tapi
ketatnya kausku menyebabkan kedua bukitku makin menonjol.
"Gini Dik, kebetulan saat ini Si Nah lagi pulang kampung.
Tugas-tugasnya dikerjakan oleh Si Iyem. Bahkan saya sendiri membantu
tugas Iyem. Nanti kalo Nah udah balik pasti dibersihkan. Atau
nantilah saya nyuruh Si Iyem kalau kerjaannya udah beres."
"Oh maaf Mbak, saya engga tahu kalo Si Inah pulang kampung, kirain
dia mulai males ...." Lagi-lagi Aku menangkap basah bola matanya
sedang menatapi dadaku.
"Oo engga, tolong Dik Tono bisa ngerti ya .."
"Iya Mbak, saya hanya menyampaikan keluhan teman-teman. Nanti saya
sampaikan sama mereka. Ngomong-ngomong, Babe kemana Mbak?" Jelas
sekali, jakun Tono turun-naik. 'Babe' memang cara anak kost
memanggil Ayahku.
"Lagi pacaran ama Nyak tuh .." Lalu diam. Aku rasa Si Tono ini salah
tingkah. Biasanya dia tak begitu. Apa karena dia tertangkap sedang
menatapi dadaku?
"Mari Mbak, terima kasih."
"Yuk."
Dari gelagatnya Aku jadi yakin, yang setiap pagi mengintipku
menjemur pakaian adalah Tono. Apalagi dia jadi sering datang sewaktu
Aku sedang sendiri di rumah. Alasannya macam-macam, mengisi air
minum, pinjam majalah, ngajak main Randy dan lain-lain. Setiap
kedatangannya selalu saja dia mencuri-curi pandang menatapi dadaku
sambil menelan ludah. Pandangan matanya menyiratkan dia
menginginkanku, seolah dia ingin menelanku bulat-bulat, tapi Aku
tahu dia ragu-ragu, takut, atau tak tahu cara memulainya. Anak ini
memang menarik. Suka menolong dan sifat kepemimpinannya menonjol.
Tapi salah dia kalau berharap mendapatkanku. Aku tak berminat lagi
untuk bermain api. Affairku dengan Mas Narto yang mantan kekasih
saja membuatku merasa bersalah. Tiba-tiba Aku punya ide nakal untuk
mengganggu Tono. Aku punya rencana tampil lebih 'menggiurkan' ketika
Tono datang dan ketika Aku menjemur pakaian. Biarlah dia semakin
tersiksa .... Buat fun saja mengisi kesepian. Asal tak sampai jatuh
ke pelukan Tono, kenapa tidak? Dasar perempuan kurang kerjaan ...!
Pagi ini Aku sibuk memilih pakaian yang seksi untuk diintip Tono.
Celana pendek plus kaus longgar, ah ini sudah pernah. Bagaimana
kalau kali ini no-bra? Perubahan yang terlalu drastis. Atau baju
tidur tipis yang biasa Aku pakai tanpa pakaian dalam untuk
'membangunkan' Bang Mamat, tapi dengan pakaian dalam. Aku ngaca. Ah,
tubuhku nampak, pakaian dalamku terlihat jelas. Tak pantas. Akhirnya
Aku pilih daster pendek model tank-top yang bahannya tak terlalu
tipis. Bahu dan bagian atas dadaku terbuka, belahannya nampak jelas,
juga separoh pahaku terbuka. Membungkuk sedikit saja kedua
bulatannya tampak. Begitu Aku keluar sosok di jendela itu sudah
nampak. Kadang Aku sengaja berlama-lama membungkuk dan menghadap ke
arah jendela. Aku tak tahu apa reaksi Tono melihat penampilanku dan
tingkahku pagi ini. Aku senyum-senyum sendiri. Selesai menjemur
kusuruh Iyem membersihkan ruang tamu kamar kost, Aku momong Randy.
Tepat seperti yang kuduga, Tono masuk, berbasa-basi sebentar lalu
ambil koran dan duduk. Masih mengenakan pakaian yang tadi tentu saja
pahaku makin terbuka karena duduk. Aku tak peduli beberapa kali mata
Tono menatapi dadaku bergantian pahaku. Tak hanya menelan ludah,
beberapa kali kulihat Tono menghela nafas. Wajahnya yang mulai merah
dan nafas yang agak tersengal menandakan "aroma" nafsunya. "Rasain
lu" kataku dalam hati. Ah ... seandainya Bang Mamat bernafsu
melihatku seperti Tono sekarang.
Sepi demi sepi yang berhasil Aku lalui ini tampaknya akan semakin
meningkat. Sabtu malam sehabis kami bertiga Aku, Bang Mamat, dan
Randy jalan-jalan sekalian belanja ke Mall "X", Aku telah siap
tergolek di ranjang dengan pakaian tidur seksi kesukaan Bang Mamat
dan tanpa pakaian dalam. Aku berharap malam ini, seperti setiap
malam libur, kami dapat menikmati hubungan suami-isteri sehingga
dahagaku yang telah sepekan kurasakan dapat terpenuhi. Beberapa saat
setelah Bang Mamat merebahkan diri disampingku, Aku seperti biasa
mulai "mengganggunya" dengan menyilangkan sebelah kakiku ke tubuhnya
dan menggesek-gesek. Belum ada reaksi. Kugosokkan paha telanjangku
ke selangkangannya. Bang Mamat memelukku. Kukeluarkan buah dadaku
dari baju tidur dan menyodorkan ke mulutnya dan dia mulai
menciuminya. Bang Mamat memang suka 'netek', tak kalah sama anaknya.
Putingku disedot-sedotnya, nafsuku mulai merambat naik, di bawah
sana mulai terasa lembab.
Tanganku mulai menyusup di balik sarung Bang Mamat dan terus
merambat naik. Biasanya telapak tanganku akan langsung 'berjumpa'
dengan ketegangan di dalam sana, tapi kali ini Aku harus menarik
dulu tali elastis CDnya (tumben, Bang Mamat masih mengenakan CDnya)
sebelum mengelusi batang zakar kesayanganku. Batang yang belum keras
benar, telapak tanganku harus bekerja keras untuk mengeraskannya,
sementara kelembaban di selangkanganku telah berdenyut-denyut minta
'dipenuhi'. Hanya dengan melepas baju tidurku Aku sudah bugil, lalu
kutelanjangi Bang Mamat dan tubuhnya Aku raih jadi menindih tubuhku.
Kubuka kakiku lebar-lebar menunggu dengan memejamkan mata. Menunggu
saat-saat nikmat ketika milik Bang Mamat memenuhi selangkanganku
yang telah lembab 'matang' dan berdenyut.
Bang Mamat dengan gagahnya memposisikan kedua lututnya di antara
bentangan kakiku, lalu tubuhnya merendah. Saat nikmatpun dimulai,
kurasakan benda itu menempel di mulut vaginaku, lalu menekan,
kemudian melesak, dan .....aaahh ... Aku menikmati gesekan di
dinding-dinding vaginaku sebelum akhirnya seluruh batang penis Bang
Mamat tenggelam. Nikmatnya saat 'pemenuhan' ini susah diceritakan,
pokoknya nikmat. Aku mulai menggoyang pantatku dan tubuh Bang Mamat
mulai mundur maju. Tak hanya pinggulku yang beraksi, tangan, dada,
kepalaku bergoyang. Tentu saja termasuk mulutku.
Akupun mulai mendaki lereng bukit terjal kenikmatan hubungan seks.
Tapi apa yang terjadi tak seperti biasanya. Puncak itu terasa masih
jauh ketika tubuh Bang Mamat mengejang. Kejangan tubuh yang khas
menandakan pemiliknya telah sampai di puncak mendahuluiku. Aku
merasa 'ditinggal' di lereng bukit dan 'digantung'......
Tanda-tandanya sudah kurasakan waktu Bang Mamat memasuki tubuhku
tadi. ereksinya tak begitu keras. Apa boleh buat, Aku harus
menerima. Tahun-tahun pertama bersama kami masih bisa mulai
pendakian lagi, tapi beberapa tahun terakhir ini Bang Mamat tak
pernah 'nambah'. Sebenarnya tak masalah benar kalau tadi Aku juga
bisa menyelesaikan pendakianku. Tapi kini ... kuhabiskan sisa malam
dengan terisak di tengah dengkuran Bang Mamat. Aku harus menunggu
minggu depan. Betapa lamanya menunggu minggu depan itu dengan
selangkangan yang selalu membara.....
***
Malam-malam berikutnya kuisi dengan pergulatan bathin yang hebat.
Pergulatan antara tetap setia kepada Bang Mamat dan mengundang masuk
Tono, si anak kost. Ah, seandainya Mas Narto tidak di Kaltim. Mas
Narto? Sama saja! Toh dia juga 'menggantungku' di lereng bukit! Yang
sedang kupikirkan memang Si Tono. Mengajak Tono bersetubuh adalah
mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Perilakunya akhir-akhir
ini mengisyaratkan dia sudah begitu 'siap' menerkamku. Tapi janjiku
pada diriku sendiri untuk setia kepada Bang Mamat setelah Mas Narto
pergi, menghalangi niatku. Pada malam keempat akhirnya keputusanku
sudah bulat: mengundang Tono! Resiko apapun yang akan terjadi, Aku
siap menanggungnya.
Begitulah, didorong oleh keputusanku yang bulat Kamis pagi ini
kembali Aku menggelar "aksi menjemur pakaian" yang setengah gila,
hanya dengan T-shirt panjang sebagai penutup tubuhku! Tak heran
kalau ketika selesai menjemur pakaian Aku duduk di sofa, Tono
mendatangiku. eh, ternyata Aku jadi amat gugup di hadapan Tono
dengan pakaian gila ini. Apalagi Tono terus menatapi dadaku --yang
tercetak bulat oleh T-shirt, Aku makin salah tingkah. Yang jelas Aku
tak akan memulai. Menunggu apa yang akan dilakukan anak muda ini.
Pengin tahu bagaimana dia memulainya.
"mBak, boleh saya minta tolong?" katanya. Suaranya agak serak.
"Tolongin apa?"
"Saya tahu mBak pandai menulis."
"Tahu dari mana?"
"Saya sering baca tulisan mBak di tabloid Anu." Aku memang sering
mengirimkan tulisan ke tabloid wanita itu.
"Ah, itu hanya iseng aja," kataku.
"Ya, tapi bahasa mBak bagus dan enak." Aha, dia mulai merayu.
"Trus, saya bisa nolong apa?"
"Gini, tolong periksa makalah saya ini, terutama dari bahasanya".
Taktis juga dia.
"Bahasa makalah kan beda sama bahasa tulisan populer."
"Ayolah mBak ..." Tono beranjak sambil membawa lembaran-lembaran
kertas dan duduk di sebelahku, meletakkan kertas-kertas itu di
pangkuanku. Aku berdebar. Duduknya begitu dekat. Lalu dia
menunjukkan bagian-bagian tulisannya untuk kukoreksi. Kesempatan dia
untuk menekan-nekan pahaku. Aku merinding dibuatnya. Puting dadaku
mengeras. Nafasnya kudengar memburu, dan eh, ternyata Aku juga
begitu, tiba-tiba Aku jadi sesak nafas. Aku memang membaca tulisan
itu tapi tak satupun nyantol di otakku. Dari sudut mataku Aku
melihat, Tono tak memandangi tulisannya lagi, tapi matanya
bergantian menatapku dan dadaku. Oh, puting dadaku begitu jelas
menonjol, Aku yakin Tono bisa jelas melihatnya. Aku jadi malu. Risih
ditatap begitu, Aku menoleh. Wajah kami begitu berdekatan.
"Kenapa?" Ah, suaraku juga serak!
"Mbak ....."
"Hmm?"
"MBak cantik." Aku tak komentar.
"Dan seksi." Lagi-lagi rayuan. Setelah itu apa? Tak kusangka Tono
begitu nekat. Diciumnya bibirku. Aku berontak. Kertas di pangkuanku
bertebaran ke lantai. "Ton!" teriakku begitu bibirku terbebas. Tono
bukannya mundur, malah tangannya merangkul bahuku dan memeluknya
erat-erat, sementara kembali bibirnya mencari-cari bibirku. Dia
melumatku lagi. Berontakku berikutnya hanya pura-pura saja. Aku
menyerah, apalagi lumatan bibirnya mulai membuatku melayang.
Tangannya melepaskan pelukan dan pindah ke dadaku, meremas. Remasan
kasar sebetulnya, tapi Aku mulai menikmatinya. Remasan yang masih
terhalang kain kaos. Kain bukan halangan bagi Tono, dia bahkan bisa
'menemukan' putingku dan memelintirnya. Pelintiran kasar juga, yang
tak nyaman bagiku, bahkan cenderung sakit. Oleh karenanya Aku jadi
tersadar dan melepaskan ciumannya. Dengan refleks Aku menoleh ke
belakang.
"Engga ada orang Mbak, Tono sendirian .." Tono menangkap maksudku.
Aku bangkit.
"MBak......" Tono juga bangkit mengikutiku. Kubiarkan. Aku hendak
mengunci pintu, siapa tahu Randi dan pengasuhnya masuk.
Aku kembali ke sofa dan Tono langsung menubrukku. Eh, dadanya sudah
telanjang, entah kapan dia melepas bajunya. Aku rebah, Tono
menindihku. Sesuatu yang keras menekan pahaku. Leher T-shirtku
ditariknya ke bawah lalu diciuminya dadaku. Ditariknya lagi kausku
sampai bibirnya bisa mencapai puting dadaku, dan dikemotnya.
Tangannya menelusuri pahaku dan terus menyusup ke atas. Aku cegah
tangannya. Aku malu kalau dia tahu Aku tak pakai CD. Aku juga
mencegah tangannya yang berusaha menarik ujung bawah kausku. Aku tak
mau dia melihat milikku lebih dulu sebelum dia telanjang bulat.
Beberapa kali usahanya melucutiku kutolak, Tono seolah mengerti
maksudku. Dia bangkit dan turun dari sofa, lalu mencopot celana
jeans-nya. Kurang ajar, Tono tak pakai CD! Kurang ajar lagi,
penisnya itu beda. Maksudku dibanding milik Bang Mamat dan Mas Narto
(memang hanya dua orang itu yang pernah Aku lihat miliknya).
Besarnya sih tak berbeda dengan milik suami dan mantan kekasihku
tadi, hanya panjangnya lebih dan bagian ujungnya --mulai dari
sebelum leher-- sedikit melengkung ke atas. Lengkungan kecil yang
justru menambah 'indah'nya barang itu. Satu hal lagi yang menambah
nilai, warnanya muda dan mulus. Kesan keseluruhan (dalam keadaan
tegang) panjang mengacung dan 'bersih'.
"Kenapa mBak .." rupanya Tono melihatku lama menatap miliknya. Aku
tak komentar.
"Kecil ya mBak ...". Lelaki cenderung menganggap miliknya 'tak
sesuai ukuran ideal', tapi kalau ditanya berapa ukurannya cenderung
melebihkan, kata literatur.
"Panjang ..." komentarku jujur.
"Ah masa ..." katanya dengan roman muka senang. Kedua belah
tangannya lalu menelusuri pahaku sambil menyingkap ujung kausku, Aku
membiarkannya.
"Hah ...." serunya kaget, matanya berbinar menatapi selangkanganku
yang bugil.
"Dari tadi mBak engga pakai CD ya ... ah.." tubuhnya membungkuk dan
sejurus kemudian kurasakan kelembutan lidah Tono bermain di bawah
sana. Kilikannya menunjukkan bahwa Tono berpengalaman dalam hal ini.
Aku memejamkan mata dan menggigit bibir menahan sesuatu, hanya
sebentar, keluar juga eranganku. Geli-geli enak. Hanya sebentar
juga, Tono bangkit dan mengarahkan senjatanya siap masuk, lagi-lagi
Aku merem menunggu. Uh! sialan nih anak, kasar benar.
"Aduh .... pelan-pelan dong Ton."
"Oh ...maaf mBak ... habis engga sabaran."
Tono jadi lebih berhati-hati, pompaannya yang lebih perlahan justru
memberikan sensasi lain. Sensasi yang ditimbulkan dari gesekan pada
relung-relung vaginaku oleh panjangnya penis.
'Merasakan' Tono memang agak berbeda. Ada sentuhan 'baru' di dalam
sana yang selama ini tak terjamah oleh suamiku dan Mas Narto.
Pendakian serasa lebih mudah oleh sensasi-sensasi baru ini. Begitu
tampaknya. Tapi kenyataannya tidak. Tak berbeda dengan Bang Mamat
Sabtu lalu. Aku ditinggal di lereng, sementara Tono berlarian
ngos-ngosan menuju puncak. Untung Tono masih sempat mencabut dan
menumpahkan cairannya ke perutku.
"Maafkan saya mBak," Tono membaca kekecewaanku.
"Mbak begitu seksi membuat saya jadi bernafsu banget," tambahnya
lagi. Aku diam saja, musti komentar apa? Dalam foreplay tadi
kelihatan sekali dia telah pengalaman, tapi kenapa dia cepat
selesai?Setelah beberapa malam berperang batin hingga sampai pada
keputusan berat untuk mengkhianati Bang Mamat, hasilnya ternyata
hampir sama, tak memuaskan. Merindukan pungguk di bulan burung dara
di tangan dilepaskan. Aku memang perempuan konyol, isteri yang
konyol, tepatnya. Nasib .....
***
Aku masih tergolek di sofa dengan t-shirt tersingkap sampai di bawah
dada. Tono mengelap ceceran maninya di perutku dengan tissu. Aku
mengamati kerjanya. Penisnya yang masih mengacung berkilat ikut
berguncang seirama gerakan tubuhnya. Selesai mengelap dia minta izin
menggunakan kamar mandi di dalam, Aku izinkan, toh tak ada
siapa-siapa. Keluar dari kamar mandi anak ini masih telanjang bulat
melangkah mendekatiku lalu menggeser pahaku dan duduk. Penisnya tak
lagi mengacung. Aku masih tergeletak di posisi semula.
"Jangan gitu dong mBak .... saya jadi engga enak..." katanya melihat
Aku mematung. Aku senyum. Nafsuku sedikit mereda.
"Nah ... gitu dong."
"Trus mBak harus gimana."
"Senyum gitu aja cukup," lalu matanya turun menatapi kewanitaanku.
Refleks Aku menurunkan kaus menutupinya. Tono mencegah tanganku.
"Bentar mBak ..... emm ...lebat," dielus-elusnya bulu-bulu
kelaminku. Lalu mulai menyentuh clit-ku. Anak ini mau mulai lagi?
Sanggupkah 'menuntaskan'ku? Tiba-tiba Aku punya ide.
"Ciumin Ton," perintahku. Tono nurut padahal Aku belum membasuhnya.
Bulu-bulu itu diciuminya, bahkan sesekali menggigiti 'daging'nya.
Tanpa Aku minta Tono telah mengerti kelanjutannya. Lidahnya mengulik
clit-ku. Nafsuku mulai naik. Lalu pindah ke labia-ku. Aku makin
gerah, bangkit duduk dan melepas t-shirt, pakaianku satu-satunya.
Aksiku ini membuat Tono melepaskan kilikannya dan mendongak.
"Oohh .... bukan main ....!" serunya menatap ketelanjangan kedua
bukit kembarku. Mulutnya langsung menyerbu dadaku.
"Gila kamu Ton," kataku mendorong kepalanya. Buah dadaku digigitnya,
kalau sampai ada bekas gigitan 'kan gawat.
"Sorry mBak ... habis gemes sih..."
"Teruskan yang ini dulu Ton ..." kataku menunjuk selangkanganku.
Tono menurut, kembali dengan rakus mulutnya mengerjai vaginaku.
Demikian intens-nya mulut Tono bekerja sampai Aku hampir sampai.
"Udah ... udah ...."kataku terengah-engah. Tono bangkit, penisnya
sudah tegang mengacung, ujungnya melengkung ke atas dan berkilat
menarik perhatianku. Aku mendekat dan penisnya Aku elus-elus.
Tiba-tiba tubuhnya maju, penisnya diangsurkan ke mukaku.
"Mbak ...... " katanya memandangku penuh arti.
"Kenapa?". Tono tak menjawab, hanya mendorong tubuhnya lagi makin
dekat sehingga kepala penisnya beberapa senti di depan mulutku.
"Kulum ....."
"Gila .... engga mau!" tegasku. Dengan suamiku sendiri saja Aku tak
pernah mengulum. Juga dengan Mas Narto. Kenapa begitu sebab mereka
berdua memang tak pernah minta dikulum, entah kenapa. Seandainya
Bang Mamat minta mungkin Aku akan mau. Tapi ini, bukan suami dan
bukan pacar minta oral sex.
"Ayolah mbak .... sebentar aja." Aku mulai bimbang. Tak ada salahnya
mencoba, bukan? Apalagi milik Tono ini kelihatan 'cute'.
"Okay, jangan sampai keluar ya ..." Benda hangat keras-keras lunak
memenuhi mulutku, terasa ganjil. Aku memang sudah gila. Mustinya
milik Bang Mamatlah yang kukulumi begini, bukan milik anak kost ini.
Baiklah, Aku berjanji nanti akan kulakukan pada Bang Mamat, siapa
tahu akan menambah gairahnya. Bokong Tono bergerak maju mundur
seperti layaknya pompaan penis pada vagina, hanya mulutku yang jadi
vaginanya. Makin lama tusukannya makin dalam, sampai menyentuh
kerongkonganku. Sampai suatu saat Aku hampir terbatuk, penisnya
kulepaskan.
"Lagi mBak ...."
"Engga!"
"Bentar lagi aja..."
"Tidak!" Kupegang penisnya dan kutuntun mendekati selangkanganku.
Aku ingin Tono masuk sekarang. Di bawah sana sudah kurasakan
denyutan-denyutan minta diisi.
Tono masuk.
Dan langsung membenam.
Seluruh panjang batangnya telah 'lenyap'.
Ini baru sedap.
Dan mulai mempompa.
Dan ini lebih sedap.
Gerakan tubuh kami makin liar. Aku heran, Tono sekarang berbeda
dengan Tono sejam lalu. Yang tadi baru belasan gerakan tusuk-tarik
dia telah sampai. Kini, entah udah berapa lama dia masih perkasa
memompa. Dari gerakan tusukannya yang amat bervariasi, Aku jadi
yakin Tono memang telah banyak pengalaman sex-intercourse.
Hingga Aku "berani" berharap kali ini Aku akan mampu mendapatkan
orgasme.
Rasanya yang sedang menyetubuhiku sekarang ini adalah Bang Mamat.
Ya, bayangan Bang Mamat muncul ketika Aku memejamkan mata menikmati
tusukan Tono. Tapi bayangan Bang Mamat beberapa tahun lalu, saat
bulan-bulan pertama kami menikah. Saat Randi belum ada. Saat Bang
Mamat mampu menghadiahkanku multiple orgasm. Entah karena bayangan
Bang Mamat, atau keperkasaan pompaan Tono sekarang, atau karena
milik Tono mampu mencapai kedalamanku yang 'untouchable', tubuhku
mengejang dan lalu menggelepar. Rasanya Aku sedang melayang-layang
di awan kenikmatan. Ya, Aku mendapatkan beberapa detik event yang
kudamba-dambakan. Aku telah orgasme. Tono menghentikan gerakannya,
kelihatannya memberi kesempatan padaku untuk menikmati saat-saat
puncak ini. Tapi begitu kejanganku melemah, dia mulai memompa lagi.
"Ooh......"teriakku.
Gila! Pompaannya makin cepat.
Makin cepat ...
Dan .... cepat pula dia mencabut. Air maninya berhamburan di dadaku,
bahkan menciprati daguku.
***
Apa yang telah kamu lakukan, Ipah? Pelanggaran janji sendiri,
pengkhianatan pada suami, dan sebuah dosa besar! Itu semua hanya
demi kenikmatan orgasme yang cuma beberapa saat. Isteri macam apa
Aku ini? Lihatlah apa yang kau korbankan untuk kenikmatan itu.
Perang bathin berkelanjutan, kepura-puraan setiap hari, kebohongan
demi kebohongan, dan tentu saja penumpukan dosa. Kini, memandang
mata Bang Mamatpun kau tak berani. Sementara anak kost itu dengan
amannya memuaskan nafsunya, kapanpun dia mau. Teganya kau membiarkan
tubuh mulusmu menjadi alat pemuas nafsu. Ah ... toh hanya tubuhku
saja yang dinikmatinya, hati dan jiwaku tetap milik Bang Mamat.
Tidak bisa. Sekali kau mengikatkan diri dengan suatu pernikahan,
jiwa dan ragamu telah dimiliki pasanganmu. Demikian pula sebaliknya.
Baiklah, hal ini tak boleh berlanjut. Aku telah membuat keputusan
final. Aku harus menghentikan ini. Aku lelah berpura-pura terus, Aku
capek mengarang kebohongan demi kebohongan, dan Aku letih merasakan
perang di dalam dada.
Dua hari lalu Aku bahkan mendatangi kamar kost-nya untuk minta
disetubuhi. Sungguh memalukan dan menjijikan. Biarlah itu merupakan
hubungan seks-ku yang terakhir dengan Tono. Kemarin Aku sengaja
minta pengasuh anakku untuk tak keluar rumah seperti biasanya dan
lalu Aku mengurung di dalam kamar. Aku dengar suara Tono menanyakan
Aku dan pengasuh itu melaksanakan instruksiku dengan baik
"Ibu tak boleh diganggu," katanya.
Pagi ini Aku menunggu kedatangan Tono. Bukan untuk saling mengumbar
nafsu, tapi "dalam rangka penyampaian keputusan penting" (uh, kaya
bahasa kantoran saja) yang akan menjadi titik balik kehidupanku.
"Met pagi mbak ..... ah makin cantik aja". Aku memang tampil beda,
pakaian 'sopan', blouse rapat menutup tubuh dipadu dan celana
panjang.
"Kemana aja mBak?"
"Duduk Ton, Mbak mau bicara."
"Eh, ada apa nih?"
"Kita harus menghentikan semua ini, Ton."
"Mbak ....."
"Mbak yakin kamu bisa mengerti, kita tak boleh lagi melakukannya."
kupotong perkataannya, Aku tak ingin ada 'diskusi' panjang tentang
hal ini.
"Ada apa mbak sebenarnya?"
"Kamu udah tahu."
"Iya mbak, tahu, tapi kenapa tiba-tiba begitu?"
"Mbak tak ingin menambah dosa lagi."
Tono mendadak diam, matanya menatapku tajam, lalu menunduk, tak
bersuara. Sungguh suasana yang amat tak enak, di luar dugaanku.
Kukira Tono akan protes keras. Akupun jadi diam juga.
"Ketahuilah mBak.." akhirnya dia buka suara setelah beberapa menit
hening.
"Saya bukan sekedar memuaskan nafsu saya saja."
Aku tak komentar. Dia diam lagi.
"Saya ....sayang .. sama mBak."
Ah, kalimat seorang playboy yang akan kehilangan mangsa. Aku tetap
diam.
"Okay mBak, kalau itu kehendak Mbak, saya nurut," dia bangkit lalu
ngeloyor pergi. Aku tak bisa menduga apa yang berkecamuk di dalam
hatinya. Roman mukanya aneh, susah dibaca. Tapi Aku kini lega .....!
***
Aku lebih tenang sekarang. Tak perlu berpura-pura lagi, tak perlu
mengarang kebohongan. Aku berusaha menjadi isteri setia. Aku
menerima saja apa yang diberikan Bang Mamat. Aku melayaninya dengan
ikhlas, walaupun tak pernah mencapai puncak. Toh seks bukan
satu-satunya kenikmatan dalan perkawinan. Masih banyak kenikmatan
yang lain apabila kita ikhlas menjalankannya. Tampaknya kehidupan
kami kembali normal lagi. Bagaimana dengan Tono? Tiga minggu setelah
aku memutuskan hubungan itu, Tono pindah kost. Yang agak
menggangguku adalah dia tak pamitan kepadaku. hanya menitipkan
secarik surat tertutup yang isinya singkat :
"Mbak, saya pergi. Saya tetap sayang sama Mbak dan berharap suatu
saat kita bisa bersama lagi -- Tono." Yah .. mungkin dia marah, tak
lagi bisa mengumbar nafsu seksualnya. Tak masalah benar bagiku.
Bergegas Aku mengarahkan mobilku menuju rumah. Aku baru saja
berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket terdekat. Sabtu sore
itu Aku seperti biasa harus mempersiapkan segala sesuatu untuk
menyambut kedatangan Bang Mamat. Minggu lalu Aku mencoba mengoral
Bang Mamat dan tampaknya dia menikmatinya. Kali ini Aku akan
melakukannya lagi. Aku terburu-buru pulang karena Aku masih butuh
waktu lagi untuk mandi dan lain-lainnya.
Begitu masuk rumah Aku langsung ke kamar bersiap-siap mandi. Randi
dan pengasuhnya tadi tak kelihatan. Mungkin masih di luar, pikirku.
Sepucuk sampul yang diletakkan di meja rias menarik perhatianku.
"Ipah." hanya itu yang tertulis di sampul itu. Tulisan Bang Mamat.
Tiba-tiba dadaku berdebar keras. Tak biasanya Bang Mamat menulis
surat seperti ini. Kalaupun ingin menyampaikan pesan biasanya dia
nelepon dari kantor, atau pesan ke orang rumah bila Aku sedang
keluar. Tergesa-gesa Aku membukanya :
"Ipah sayang, Singkat saja, Abang pergi dengan membawa Randi untuk
waktu yang tak tertentu. Abang telah tahu semuanya. Abang begitu
kaget, sedih, dan marah"
Mendadak Aku berkeringat dingin, deras mengucur. Jantung tambah
berdegup kencang.
"Abang berusaha keras menahan diri, tapi akhirnya tak kuat lagi.
Setelah Abang mengasingkan Narto ke Kaltim, Abang pikir Ipah menjadi
sadar, tapi ternyata tidak. Kalau tak mengingat dia itu bekas
kekasihmu, entah jadi apa dia.
Kamu memang keterlaluan, hampir saja Abang membunuh anak kost yang
tak tahu diuntung itu. Untunglah Abang ingat Randi dan tahu benar
tak enaknya hidup di penjara.
Selamat tinggal, jangan khawatir, Randi baik-baik saja -- Abang "
Pandanganku mendadak gelap, lalu Aku tak ingat apa-apa lagi .....