Tuesday, May 1, 2007

MANIAC

Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi
teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin
karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-temanku bilang, kalau
aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku.

Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku
maupun orang tuanya sudah setuju kami nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat
kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar
kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa batas
dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling cium-ciuman, gumul-gumulan,
dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh
walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah amat tinggi, aku dapat ‘muntah”
juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai dengan menikah, karena
itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya
tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku
belum pernah merasakan memek perempuan.

Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga
sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya.
Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar
atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri
berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex
menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m.
Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis
sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak
yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih
di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama
adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai
prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan
pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun
sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng
dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos
pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku.

lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160
cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan
berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya
besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan
montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah
terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh
pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus.
Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan
sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal
mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan
indahnya.

Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah
tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas
‘you can see’ dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan
betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah... sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua
temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.

“He... masa?” balasku.

“Iya... Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda.
Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak
beneran aku tidak menolak nih, he-he-he...

“Ah, neng Ika macam-macam saja...,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai
belum datang?”

Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah
panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor.
Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai
malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk
ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya
kesempatan belajar?

“Wah... dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di
Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak
kesepian... Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si
playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar
bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

“Neng Ika ini... Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”

“Kak Dai kan tidak akan tahu...”

Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak
ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.

Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di
ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan
ruang tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok
bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue
tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’

Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil
menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku
belajar di situ sampai jam sepuluh malam.

Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan
luar. Tok-tok-tok...

Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam
tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan
pintu.

“Mbak Di... Mbak Dina...,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku
membuka pintu.

“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.

“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas.
Ada apa?”

“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”

“Ng... bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”

“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum
manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya
yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan,
seolah menantang diriku untuk meremas-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri.
Si ‘boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.

Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir
pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang
penulisan tugas sarjana itu.

Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.

“Mas Bob... Mas Bob...,” terdengar Ika memanggil lirih.

Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika
dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai
sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan
tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat.
Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam
dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang
terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama
sekali, berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum.
Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.

“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.

“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”

“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”

Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas
meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya
digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya
terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup
dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau
disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.

“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara
penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.

Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya.
Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan
payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku
terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya
cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika
menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah
dada Ika. Uhhh... ranum dan segarnya.

“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau
bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap
akhir pekan.

“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur
berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan
tatapan mata yang menggoda.

Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi.
Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati
lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni
hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan
melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal
tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti
baju, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh payudaranya?
Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia
datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya
kalau tidak menyodorkan din?

Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.

“Mas Bob... ini benar nggak?” tanya Ika.

Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan
menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan
kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan
hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya... gumpalan daging
yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan
lunak, namun ketika dia lebih menekanku terasa lebih kenyal.

Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

“Ih... Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia
pura-pura menjauh.

“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,”
jawabku.

lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat
kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya
berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani?
Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian.
Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan
gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan
diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau
menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku
menyia-siakan berarti aku band!

Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku
pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi
tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa
goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak
licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit
terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.

“Ih... Mas Bob jangan begitu dong...,” kata Ika manja.

“Sudah... udah-udah... Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.

lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak
menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika
berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan
ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika
kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit
punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi
kuluman-kuluman bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat
bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir.
Bahkan mengalahkan kemahiranku.

Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum
terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku,
tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu
terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju
atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari
tanganku. Puting itu terasa mengeras.

“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob...,” rintih Ika. Tanpa menunggu
persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng
celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut
kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa
penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan indahnya.
Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin.
Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink
kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat
tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul.
kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana
dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk
pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika
pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya
terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah
perutnya, celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut
lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak
keluar dan lobang celana dalamnya.

lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang
besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya
memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke
badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali
bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil
membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu
terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku.
Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas
kulit punggung dengan penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum
yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar
aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.

“Ahhh... Mas Bob... Ika sudah menginginkannya dan kemarin... Gelutilah tubuh
Ika... puasin Ika ya Mas Bob...,” bisik Ika terpatah-patah.

Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah
payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut.
Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja
memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup
kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku
kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku
terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit
payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu
sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika
menggelinjang.

“Mas Bob... ngilu... ngilu...,” rintih Ika.

Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit
payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya
kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung
lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu
kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara
kirinya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu
makanan sambil mulutnya mendesah-desah.

“Aduh mas Booob... ssshh... ssshhh... ngilu mas Booob... ssshhh... geli...
geli...,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang
merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti
menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya
kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan
memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku
menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara
kanannya dengan sekuat-kuatnya.

“Mas Booob... kamu nakal.... ssshhh... ssshhh... ngilu mas Booob... geli...” Ika
tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika
yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku
pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku
menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung
padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu.
Perlahan-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat
pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali
sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut
Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang
berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya,
tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke
arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan
bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku
bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas
payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat menikmati permainan ini.

Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas
sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara
tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan
dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku
mempermainkan puting payudaranya.

“Au Mas Bob... shhhhh... betul... betul di situ mas Bob... di situ... enak
mas... shhhh...,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya
yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya
mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang
semakin meninggi.

Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan
lubang anus sampai ke kelentitnya.

Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa
benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya
mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di
saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil
ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

“Mas Booob... enak sekali mas Bob...,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera
memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di
vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu
kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan
ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan
berhasil!

“Auwww... mas Bob...!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas.
sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut
bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke
wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf
penciumanku.

Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan
gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan
lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang
bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan
lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan
orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai
itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.

“Mas Bob... mas Bob... mas Bob...,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika
karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.

Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika
sambil mengerang-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia
raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.

“Mas Bob... Ika sudah tidak tahan lagi... Masukin konthol saja mas Bob...
Ohhh... sekarang juga mas Bob...! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu
yang sudah menguasai segenap tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku
mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan
wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam
memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke
atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara
perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak
kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan
suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk... Sementara dan mulut Ika keluar
pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:

“Ah-ah-ah-ah-ah...”

Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil
memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan
jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut.
Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang
membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang
putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.

Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi.
Matanya membeliak-beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat,
“Mas Booo00oob ...!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit
oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam
vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya
terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt!
Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.

Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam
rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari
tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya
sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan
kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun
kubersihkan dengan kertas tissue.

Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang
terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku
untuk membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih
kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet
oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku
mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara
dan mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan
bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan
ngilu di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan
harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti
belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku
meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan
dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan
payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada
keharuman yang terlewatkan sedikitpun.

Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku
bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang
membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke
dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan
puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak
bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.

“Ah... ah... mas Bob... geli... geli ...,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil
menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang
mencari mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika
yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju
puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu
jariku pada putingnya.

“Mas Bob... hhh... geli... geli... enak... enak... ngilu... ngilu...”

Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara
sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya
dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan
kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah
tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya
kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di
puncaknya.

“Ah... mas Bob... terus mas Bob... terus... hzzz... ngilu... ngilu...” Ika
mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang
terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan
gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi
maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus
dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya.
Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

“Edan... mas Bob, edan... Kontholmu besar sekali... Konthol pacan-pacanku dahulu
dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan... edan...,” ucapnya
terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan
menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremasremas
perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan
kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase
dam rasa nikmat pada batang kontholku.

“Mas Bob. kita main di atas kasur saja...,” ajak Ika dengan sinar mata yang
sudah dikuasai nafsu binahi.

Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di
atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya
terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau
melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur,
tangannya menanik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang
pink menekan itu melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah.
Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap
tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan
gemasnya.

Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya
yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke
batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir
sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup
leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai.
Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai
bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan
di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit.
Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.

Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan
gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua
tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku.
Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke
belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung
payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali
rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang
besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika.
Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink
kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan
putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu
setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum
dan kumainkan dengan lidahku.

“Mas Bob... geli... geli ...,“ kata Ika kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya
terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit
payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot
sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya

dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri
dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek
dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan
hebatnya.

“Mas Bob... mas Bob... ngilu... ngilu... hihhh... nakal sekali tangan dan
mulutmu... Auw! Sssh... ngilu... ngilu...,” rintih Ika. Rintihannya itu justru
semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas
aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku
berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut
dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara
tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan
dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika.
Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku
pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Mas Bob... masukkan seluruhnya mas Bob... masukkan seluruhnya... Mas Bob belum
pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno... tidak mau
merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia... bagai terhempas
langit ke langit ketujuh. mas Bob...”

Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang.
Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

“Edan... edan... kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob...,” katanya sambil
mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah.
Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk
ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek.
Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

“Mas Bob... teruskan masuk, Bob... Sssh... enak... jangan berhenti sampai situ
saja...,” Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan
kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun
kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan
ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan
mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang
dengan tidak karuan.

“Sssh... sssh... enak... enak... geli... geli, mas Bob. Geli... Terus masuk, mas
Bob...”

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan
kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan... satu... dua... tiga! Kontholku
kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya.
Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam
posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan
diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya
sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekik Ika.

Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika
tanpa bergerak sedikit pun.

“Sakit mas Bob... Nakal sekali kamu... nakal sekali kamu....” kata Ika sambil
tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu,
apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang
berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya
serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan
dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku

“Sssh... enak sekali... enak sekali... Barangmu besar dan panjang sekali...
sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku...,” jawab Ika.

Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya
yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa
tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku
yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke
dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya
sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara
setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di
dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga
aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan
mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang
memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di
atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus
mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu
kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti
betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan
ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian,
sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan
maju-mundur perlahannya di memek Ika.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku,
sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan
kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok
Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang
kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu
semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak
tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya
mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

“Ah... mas Bob, geli... geli... Tobat... tobat... Ngilu mas Bob, ngilu...
Sssh... sssh... terus mas Bob, terus.... Edan... edan... kontholmu membuat
memekku merasa enak sekali... Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob.
Nyemprot di dalam saja... aku sedang tidak subur...”

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.

“Ah-ah-ah... benar, mas Bob. benar... yang cepat... Terus mas Bob, terus...”

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat
ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan
terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh
daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan
cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan
mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.

“Sssh... sssh... Ika... enak sekali... enak sekali memekmu... enak sekali
memekmu...”

“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali... terusss... terus mas Bob,
terusss...”

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku
terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.

“Mas Bob... mas Bob... edan mas Bob, edan... sssh... sssh... Terus... terus...
Saya hampir keluar nih mas Bob...

sedikit lagi... kita keluar sama-sama ya Booob...,” Ika jadi mengoceh tanpa
kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya
keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa
itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby.
Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan
berdenyut dengan hebatnya.

“Mas Bob... mas Bobby... mas Bobby...,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang
kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh
ke bawah.

lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya,
dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku
merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai
daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada
terkira.

“Mas Bob... ah-ah-ah-ah-ah... Enak mas Bob, enak... Ah-ah-ah-ah-ah... Mau keluar
mas Bob... mau keluar... ah-ah-ah-ah-ah... sekarang ke-ke-ke...”

Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat
kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari
memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku
dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:

“...keluarrr...!”

Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam
tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena
semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat
dalam menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku
perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku.
Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah.
walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan
kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh
telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam
memeknya tidak tercabut.

“Mas Bob... kamu luar biasa... kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika
dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak
pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di
sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”

Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk
sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku,
sementara dia juga membayangkan kugeluti

dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak,
namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot
dengan penuh nafsu.

“Mas Bob... kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan... kamu perkasa... dan
kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya...”

Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil
yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya.
Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini
harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru
setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku
masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams
menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit
tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk
lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara
berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak.
Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti
karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang
lalu.

“Ahhh... mas Bob... kau langsung memulainya lagi... Sekarang giliranmu...
semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku... Sssh...,” Ika mulai
mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan
melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat
badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit
putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

“Sssh... sssh... sssh... enak mas Bob, enak... Terus... teruss... terusss...,”
desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu
bagaikan mengipasi gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan
kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika,
keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret
srrt-srret...” Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak
henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

“Mas Bob... ah... mas Bob... ah... mas Bob... hhb... mas Bob... ahh...”

Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua
tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya.
Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan
dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang berlangsung
dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras
agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku
bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di
langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan
tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal
pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga
agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan
dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah
dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun
sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar
oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh...”

Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.
Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku.
Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk
sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan
suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika
menimbulkan bunyi srottt-srrrt... srottt-srrrt... srottt-srrrtt... Kedua nada
tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari
bibir Ika:

“Ak! Uhh... Ak! Hhh... Ak! Hhh...”

Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang
tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

“lka... Ika... edan... edan... Enak sekali Ika... Memekmu enak sekali... Memekmu
hangat sekali... edan... jepitan memekmu enak sekali...”

“Mas Bob... mas Bob... terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob... enaaak... Ak!
Ak! Ak! Hhh... Ak! Hhh... Ak! Hhh...”

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak
sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan
kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan
lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak
yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.

“Ika... aku... aku...” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku
tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.

“Mas Bob... mas Bob... mas Bob! Ak-ak-ak... Aku mau keluar lagi... Ak-ak-ak...
aku ke-ke-ke...”

Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak
mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu
juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat
dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat
kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika,
bersamaan dengan pekikan Ika, “...keluarrrr...!” Tubuh Ika mengejang dengan mata
membeliak-beliak.

“Ika...!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya,
seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam
kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan
spermaku pun tak terbendung lagi.

Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding
memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek
Ika terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali,
sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri
erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku.
Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke
dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian
menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap
punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil
bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku
adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus,
berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta
aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini
oleh orang semolek Ika.

“Mas Bob... terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali... sungguh...
enak sekali,” kata Ika lirih.

Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu
kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas
tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang,
sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul
22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam
mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.

Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya
beberapa saat.

“Mas Bob... kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob... Jangan khawatir, kita
tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke
Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu kata
Ika.

Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan
secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk
ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat
kost-ku.