Tuesday, May 1, 2007

DESA SYUR

Cerita ini adalah pengalaman dari seorang teman dekatku yang terjadi
sekitar 5 bulan yang lalu. Aku sedikit bingung menulis cerita ini
karena biasanya aku menceritakan pengalamanku, tapi kali ini aku
harus menceritakan pengalaman temanku. Oke, tanpa banyak bicara
lagi, kumulai cerita yang kuberi judul "Petualangan Berlibur Ke
Desa".
Lima bulan yang lalu, Jeff temanku mengajakku sedikit refreshing ke
sebuah desa yang kebetulan adalah tempat Jeff bermain waktu kecil.
Ayah Jeff seorang pengusaha kaya yang sedikit memperhatikan soal
alam bebas, karenanya dia membeli ribuan hektar tanah yang kemudian
dijadikannya hutan karet. Bisnis sambil memelihara alam liar,
katanya.
Jeff biasa berlibur ke hutan karet ayahnya dan dia biasa menginap di
sebuah rumah yang terlihat begitu mewah kalau dibandingkan
rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Meski terkesan ada sedikit
kesenjangan, tapi penduduk desa itu sama sekali tidak menaruh
kebencian atau iri hati pada keluarga Jeff karena keluarga itu cukup
dermawan, bahkan ayah Jeff hanya mengambil keuntungan 25% dari hasil
hutan karetnya, dan sisanya dibagikan pada penduduk yang ikut
mengusahakan hutan karet itu.
Oke, cukup perkenalannya. Aku sendiri menyesal karena tidak bisa
ikut dengan Jeff karena ada sedikit keperluan dengan keluargaku.
Tapi aku berjanji akan menyusul kalau ada waktu. Jeff sedikit kecewa
tapi dia tetap pergi ke desa itu, sebut saja Desa Sukasari.
Hari-hari pertama dilalui Jeff dengan bermalas-malasan di rumahnya
sambil menikmati udara segar pedesaan yang sangat jarang ditemuinya
di Bandung. Baru pada hari kelima Jeff keluar dari rumah, diantar
oleh seorang bujangnya Jeff berjalan-jalan melihat-lihat sekeliling
desa itu. Dia berhenti ketika dilihatnya seorang gadis, mungkin
beberapa tahun lebih muda darinya sedang menyapu di pekarangannya.
Rambutnya yang hitam terurai menutupi punggungnya. Kulitnya yang
hitam manis mengkilat karena keringat yang tertimpa sinar mentari.
Jeff tertegun, baru kali ini dilihatnya gadis desa yang begitu
cantik. Bujangnya tahu kalau Jeff memperhatikan gadis itu, karena
itu dia mengatakan kalau gadis itu adalah anak salah seorang pekerja
ayahnya. Umurnya sekitar 17 tahun, dan kini ayahnya sudah tiada. Dia
tinggal dengan ibunya dan sering membantu mencari nafkah dengan
mencucikan pakaian orang-orang desa yang lebih mampu.
Jeff merasa iba, tapi rasa ibanya langsung hilang berganti rasa
tertarik ketika dipikirnya kalau gadis itu pasti memerlukan uang
untuk biaya hidupnya. Kemudian berubah lagi perasaannya menjadi
keinginan untuk mendekatinya ketika dilihatnya kalau gadis itu cukup
cantik dan manis. Tapi rasa ingin mendekati itu berubah seketika
ketika dilihatnya dada gadis itu yang agak terlalu besar untuk anak
seusianya.
Segera saja setan bersarang di kepala Jeff. Dia mengeluarkan
dompetnya, mengambil selembar uang bergambar Pak Harto dan menyuruh
bujangnya memberikan uang itu pada gadis itu untuk mencuci bajunya.
Bujangnya tidak menaruh curiga, dia segera memberikan uang itu pada
gadis itu, dan tidak lama kemudian gadis itu mengikutinya mendekati
Jeff. Jeff menyuruh bujangnya pulang, sedangkan dia melanjutkan
jalannya bersama gadis itu. Ditengoknya arloji di tangannya, baru
pukul 4:00 sore, karena itu Jeff mengulur waktu. Setidaknya pukul
5:00 sore akan dilaksanakan rencananya.
Dia bertanya dimana sungai yang airnya bening dan bisa dipakai
mandi. Gadis itu mengantarkan Jeff ke sana. Cukup jauh juga, dan
setiba di sana Jeff melepas semua pakaiannya dan langsung masuk ke
sungai itu. Dia meminta gadis itu mencuci pakaiannya, dan gadis itu
menurut walaupun agak malu-malu karena melihat Jeff berenang
telanjang. Jeff sendiri sudah sedikit sinting, entah setan apa yang
merasuki kepalanya, yang jelas ketika dilihatnya arlojinya
menunjukkan pukul 5:00 sore, langsung dijalankan rencananya. Jeff
keluar dari air, mendekati gadis yang sedang membersihkan pakaiannya
dan berjongkok di sampingnya. Batang kemaluan di sela pangkal kaki
Jeff sudah bangun dari tidurnya, dan tanpa tembakan peringatan Jeff
langsung saja merangkul gadis itu sambil berusaha mencium leher
gadis itu (sebut saja namanya Sali).
Gadis itu segera berontak karena terkejut, tapi dekapan Jeff lebih
kencang dari tenaganya. Jeffberhasil mencium leher gadis itu tapi
begitu Jeff berusaha lebih gila lagi gadis itu mengancam akan
berteriak. Jeff takut juga dia digebuki penduduk desa itu, karena
itu segera ditutupnya mulut gadis itu, dan dia berbisik, "Jangan
teriak, kalau kau mau melayaniku kuberi lebihdari sekedar lima puluh
ribu, mungkin akan kuberi seratus ribu lagi, bagaimana?"
Gadis itu masih diam, tapi begitu Jeff mengeluarkan dua lembar uang
Rp. 50.000-an yang sedikit basah karena air sungai dan
mengipas-ngipaskan di depan muka Sali, akhirnya dia mengangguk.
Kapan lagi dia bisa mendapat uang Rp 150.000,- dalam sehari, begitu
pikirnya. Jeff tersenyum senang sambil melepaskan tangannya dari
mulut gadis itu. Tapi ketika dia berusaha memegang dada Sali, gadis
itu berbisik, "Jangan di sini, takut ketahuan orang lain."
Jeff setuju kata-kata gadis itu, karena itu diajaknya gadis itu ke
hutan karet milik ayahnya. Jeff tahu persis kalau sore-sore begini
tidak mungkin ada orang di sana. Singkat cerita, mereka sampai di
sana, dan tanpa tunggu lama lagi Jeff segera membuka bajunya yang
basah, juga celananya. Dibentangkannya baju dan celananya di tanah,
dan diciumnya Sali sekali lagi. Kali ini dia tidak berontak. Jeff
dengan mudah menyingkirkan pakaian gadis itu, dan terlihat kedua
gunung kembarnya yang tidak begitu besar tapi lumayan juga untuk
ukuran gadis 17 tahun. Jeff meremas keduanya sekaligus sambil terus
melumat bibir gadis itu.
Sekitar 2 menit kemudian Jeff berbisik, "Aku nggak butuh patung,
layani aku. Jangan cuma diam gitu aja!" Jeff lalu mendorong kepala
Sali ke bawah, dan menyuruhnya sedikit bermain dengan kejantanannya
yang sudah hampir mencapai ukuran maksimal. Gadis itu bingung,
maklum di desa mana ada film "bokep". Jeff menyuruh Sali menjilat
"jamur ungu"-nya. Sali sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya dilakukannya
juga.
Ternyata Sali cepat belajar, beberapa menit kemudian Jeff sudah
dibuatnya keenakan dengan permainannya di selangkaan kakinya.
Terpedo itu sudah mencapai ukuran maksimal, dan Sali masih terus
bermain dengan benda itu, mungkin asyik juga dia bermain dengan
benda itu. Mulai dari mencium, menjilat dan akhirnya mengulumnya
sambil menggerakkan kepalanya maju-mundur dan sesekali menghisap
benda itu.
Jeff cukup puas dengan permainan itu, dan ketika dilihatnya langit
mulai gelap, disuruhnya Sali duduk. Jeff meregangkan kaki gadis itu,
terlihat bulu-bulu halus yang masih sangat jarang di sela-sela
pahanya. Jeff menggunakan lidahnya untuk membasahi vagina Sali. Sali
bergoyang-goyang kegelian, tapi kelihatannya dia menimati permainan
itu. Sekarang Jeff menggunakan jarinya untuk menggosok klitoris Sali
yang masih kecil. Sali semakin liar bergoyang-goyang menahan nikmat.
Desahan mulai keluar dari mulutnya dan vaginanya basah karena lendir
yang bercampur ludah Jeff.
Tidak lama kemudian Sali mendesah panjang, dan tubuhnya bergetar
hebat. Lendir mengalir dari vaginanya yang merah segar. Jeff tahu
Sali sudah mencapai puncak, dan inilah kesempatannya untuk
menusukkan terpedonya ke kemaluan Sali. Dibukanya lebih lebar paha
Sali, dan diarahkannyakepala kejantanannya ke vagina Sali. Sali
sendiri masih memejamkan mata menikmati sisa-sisa orgasmenya. Tapi
tiba-tiba dia menjerit tertahan ketika Jeff memaksa terpedonya masuk
ke lubang yang sempit itu. Sali kembali menjerit ketika kejantanan
Jeff semakin memaksa melesak masuk ke dalam. Jeff berusaha keras
menembus pertahanan vagina Sali, tapi baru setengah dari barangnya
yang masuk ke dalam.
Jeff meremas dada Sali sambil menciumnya. Dia berusaha membuat otot
kemaluan Sali sedikit mengendur, dan ketika dirasakannya mulai
mengendur, disodoknya sekuat tenaga kejantanannya ke dalam kemaluan
Sali. Kali ini Sali menjerit cukup keras, dan terlihat air mata
keluar dari balik kelopak matanya yang tertutup menahan nyeri. Jeff
tidak peduli, sekarang sudah seluruhkejantanannya masuk, dan mulai
digoyangkannya maju-mundur diiringi jeritan-jeritan kecil Sali.
Vagina Sali sangat sempir, karena itu belum lama Jeff bermain sudah
hampir keluar maninya. Jeff mempercepat gerakannya, dan Sali semakin
kuat menjerit. Tentu saja vagina Sali yang masih 17 tahun itu
terlalu kecil untuk kejantanan Jeff yang lumayan besar.
Belum selesai Jeff bermain, suara Sali tidak terdengar lagi, dia
pingsan karena tidak kuat menahan nyeri. Jeff sendiri mengetahuinya,
tapi dia tidak mau menghentikan permainannya, dikocoknya terus
kemaluan Sali yang sedikit memar, dan akhirnya Jeff mendesah dalam
sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh mungil Sali. Setelah itu Jeff
sempat mengocok vagina Sali lagi, dan ketika hampir mencapai puncak
kedua kalinya Sali bangun dari pingsannya. Dia
langsungmenjerit-jerit dan beberapa saat kemudian mereka mencapai
puncak hampir bersamaan. Jeff terlihat puas dan lelah, dan ketika
dicabutnya kejantanannya dari vagina Sali, terlihat maninya keluar
lagi dari kemaluan Sali. Kental berwarna putih kekuningan yang
bercampur darah keperawanan Sali.
Jeff mengajak Sali membersihkan diri, dan ketika selesai
diberikannya dua lembar uang Rp.50.000-an pada Sali. Sali sangat
berterima kasih, dan Jeff berpesan agar jangan sampai hal itu
diketahui orang lain. Sali mengangguk, tapi Jeff segera menegur Sali
ketika diperhatikannya jalannya sedikit menegang menahan perih di
kemaluannya. Sali berusaha berjalan normal walaupun dirasakannya
sakit di sela pahanya. Dia juga takut kalu orang-orang desa tahu
kalau dia sudahmenjual tubuhnya pada Jeff, tapi tetap saja
diambilnya resiko itu demi uang yang memang sangat dia butuhkan.
Dua hari kemudian aku datang menyusul Jeff, dan di sanalah Jeff
menceritakan kisahnya itu. Aku jadi sedukit terangsang juga
mendengar cerita itu, dan rencananya aku akan mencobanya juga bila
ada waktu, yang jelas hari-hari berikutnya benar-benar menyenangkan
untuk kami bertiga. Aku dan Jeff sama-sama terpuaskan, sedangkan
Sali sangat senang mendapat ratusan ribu uang walaupun dia harus
tersiksa hampir setiap dua malam sekali karena aku dan Jeff secara
bergilir dua hari sekali mencicipi tubuh mungilnya itu.
Dua minggu kami di sana, dan di hari terakhir aku dan Jeff
menidurinya bergantian dalam satu malam. Bisa dibayangkan bagaimana
rasanya gadis berumur 17 tahun disetubuhi oleh dua laki-laki
bergantian dalam satu malam, benar-benar luar biasa. Tapi satu hal
yang kupuji dari Sali, dari hari-kehari vaginanya tetap saja sempit,
dan itu yang membuat aku dan Jeff betah menidurinya. Aku juga
merencanakan untuk mengajak Alf dan Lex teman baikku untuk ikut
serta mencicipi kenikmatan itu, tentu saja itu akan kuceritakan di
cerita lain. Tunggu saja pengalaman kamiberempat bersama Sali.