Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk
di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada
di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari
orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi.
Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu
dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat
sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan.
Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat
jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil
angkot minimal lima kali, itu juga dengan bantuan
kendaraan roda dua yaitu ojeg.
Sangat beruntung bagi Arie bisa sampai menyelesaikan
pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA
kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus
bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA.
Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap
besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan
dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang
pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan
dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang
ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua
orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan
semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan
kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah.
Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak
ibunya.
Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat
semangat Arie bertambah untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk
ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang
tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah
satu tokoh di kampung itu.
"Arie.." sapa ibunya ketika Arie sedang merapikan
beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat
dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang
mungkin penegasan dari ayah Arie untuk menyakinkan bahwa
anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah
Oomnya. Sebetulnya orang tua Arie sudah menelepon Tuan
Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Arie sangat
jarang sekali bertemu maka orang tua Arie memberikan
surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung,
di rumah Oomnya untuk sementara waktu.
Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari
keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya
yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha
dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat
kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat
berhasil.
Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua
orang tua Arie sebetulnya tidak ada masalah, hanya
karena kedua orang tua Arie yang sering memberikan
nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering
berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti
istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana.
Menurut ibu Arie, Oomnya telah berganti istri sampai
dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari
keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak,
dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari
istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang
keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.
Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Arie dua
tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman
kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.
Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas
manusia, Arie langsung masuk ke sebuah kantor yang
bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut
oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah.
Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang
dikenakan di bajunya.
"Selamat siang Pak," Tegur Arie kepada salah satu satpam
yang ada dua orang.
"Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu," jawab satpam
yang bernama Asep.
"Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?"
"Bapak Budiman yang mana Dik," tegas satpam Asep, karena
melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada
bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh
tahunan.
"Anu Pak, apa ini PT. Rido," tanya Arie menyusul
keraguan satpam. Karena sebetulnya Arie juga belum
pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi
bisnis yang digelutinya.
"Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik
perusahaan ini," tegas satpam Asep menjelaskan tentang
keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.
"Adik ini siapa," tanya satpam kepada Arie, sambil
mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
"Saya Arie Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa
Gunung Heulang."
"Keponakan," tegas satpam, sambil terus mengangkat
telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.
Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang
menghampiri Arie sambil memberikan selamat datang di
kota Bandung. "Arie.. Apa masih ingat sama Bapak," kata
Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru
ketemu.
Mimik Arie jadi bingung karena orang yang datang ini
ternyata sudah mengenalnya.
"Maaf Pak, Arie Sudah lupa dengan Bapak," kata Arie
sambil terus mengigat-ingat.
Pak Dadi terus menerangkan dirinya, "Saya yang dulu
sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Arie berumur
kurang lebih lima tahun."
Arie jadi bingung, "Wah, Bapak bisa saja.. mana saya
ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun."
Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini
diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai
tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun
tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering
minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang
keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli
sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang
tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya
sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang
kurang lebih baru berumur 35 tahun.
"Aduh Dik Arie, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan
Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Arie karena
harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya
diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Arie. Nah,
sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan
dulu," sambung Pak Dadi melihat ekpresi Arie yang
sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal.
Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar,
"Jangan takut Dik Arie pokoknya kamu tidak akan ada
masalah," tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur
dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah
diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa
dibidang apapun.
Mendengar itu Arie menjadi tersenyum, sambil
melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya.
Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah
dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik
ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok
mini. Keberadaan Arie sebagai keponakan dari pemilik
perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah
lagi dengan postur badan Arie yang atletis dan wajah
yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang
tersenyum bila melewati Arie dan Pak Dadi yang sedang
asyik ngobrol.
Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Arie dan
ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk
pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi
karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat
lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk
perusahaan, dan semua itu membuat Arie menjadi betah
sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.
Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya
pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan
merek Mesri terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang
terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman
elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang
berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah
kompleks yang sangat mengah dan dijaga oleh satpam.
Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai
dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat
satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik
menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah
yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami
Pak Dadi dan Istrinya. Sedangkan pos satpam dan rumah
kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang
Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu
menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil
telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua
barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh
dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang
dibawa Arie. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil
menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.
Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke
rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi
masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi
meninggalkan Arie, sedangkan Arie ditemani oleh Bi Enung
menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil
tersenyum menyapa Arie, Bi Enung pun meninggalkan Arie
sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum
untuk Arie.
"Tante sudah menunggu dari tadi Arie," bisiknya sambil
menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat
datang.
"Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa", lanjut Tante
Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna
Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut
sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh
perhatian.
"Tante sudah tahu bahwa Arie akan datang sekarang dan
Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu
karena dia sedang sibuk."
Obrolan pun mengalir dengan punuh kekeluargaan,
seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante
Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan
Arie. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat
itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Arie
membuat Arie salah tingkah karena celana dalam yang
berwarna biru terlihat dengan jelas dan
gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan
menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan
pinggulnya yang besar membuat kepala Arie pusing tujuh
keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur
Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis
remaja.
"Nah, itu Yuni," kata Tante Rani sambil membawa Arie ke
ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP.
Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi
mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil
tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Arie kepada Yuni.
Mendapat teman baru dalam rumah itu Yuni langsung
bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau
untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan
sendiri. "Nanti Kak Arie tidurnya sama Yuni ya Kak."
Mendapat pertanyaan itu Arie dibuatnya kaget juga karena
yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya
hampir sama dengan Arie. Adik kakak yang sama-sama
mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat
cantik. Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Yuni yang
meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor
padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu,
Arie hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur
badannya padahal dalam pikiran Arie, ia sudah menaruh
hati pada Yuni yang mempunyai wajah yang cantik dam
putih bersih itu.
Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan
ditemani oleh Tante Rani, Arie masuk ke kamarnya yang
berdekatan dengan kamar Yuni. Memang di lantai dua itu
ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi.
Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan
Arie memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar
Yuni berhadapan dengan kamar Arie.
Setelah membuka baju yang penuh keringat, Arie
melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja
terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya
sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang
bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel
sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang
sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai
anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman,
Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di
dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu
membuahinya.
Hari-hari selanjutnya Arie semakin kerasan tinggal di
rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan
seksi, juga kelakuaan Yuni yang menggemaskan dan
kadang-kadang membuat batang kemaluan Arie berdiri. Arie
semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya
sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan
tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung
yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng
Arie, tapi Arie tidak risih karena kebiasaan itu sudah
dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi
yang membuat kaget Arie ketika di dalam mobil, Tante
Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara
batin. Mendengar itu Arie kaget setengah mati karena
tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani
menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo
saat bercinta dengannya.
Arie tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan
karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu
meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia
mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan
Tante Rani. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante
Rani dengan berani tiduran di atas paha Arie sambil
terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini
dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Arie yang
mengetahuinya.
Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang
di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya
melorot ke bawah. Arie dengan jelas dapat melihat
gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante
Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan
itu. Arie menelah ludah sambil terus berusaha
menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika
Arie akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak
segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah
mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah
meminta Arie untuk terus merabanya.
Bersambung ke bagian 02
Tuesday, May 8, 2007
ABG TETANGGA
Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD
porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si
adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina.
Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku
pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang,
karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak
tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri
dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku
tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa
berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku
sendiri nonton CD porno seharian", gumamku.
Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil
segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan,
tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik
barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut.
Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk
jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit
kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada
obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir
kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya,
tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan
tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap.
"Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha
menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca
surat kabar pagi yang belum tersentuh.
Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku
mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga
mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada
apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa",
kataku ramah.
ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia
duduk di kursi kosong sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa
bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai
mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari
dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar
bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak
ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku,
kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi
membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku
mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari
belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya.
Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju
kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau
saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.
"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak
lamunan nakalku.
"Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski
sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku
uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku
itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku
mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke
kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah
kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut.
Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri?
Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu
terlampiaskan".
Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar
kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut.
Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir
ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan
televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di
sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi
potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung,
tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.
Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk
gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku
yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak
lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha
lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku
segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah
pengalaman.."
Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal
pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar
vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah
terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang
tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi
segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut
celana warna hitam.
"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha
merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah
celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku
terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu
begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi
bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil.
Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu
vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk
liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus
menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan.
Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah
meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi
dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih
barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku.
Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku
merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul
kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas
buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti
mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium
putingnya yang kecil.
"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas
rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru
sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"
Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi
badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia
tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar
lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia
masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan.
Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah
kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak
kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat
kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian
kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit
itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga
makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih
agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat
sebentar karena dia tampak menahan nyeri.
"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya
sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol
perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan
pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai
masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa
menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit
kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah
demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouuu..", dia
menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah
aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah
membasahi sprei.
Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya
untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai
menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh...", dia mengerang dan melenguh
ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan
kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar
itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu.
Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya
dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan
atau pundakku.
"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouuu enak sekali Om..."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi
senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu
macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan
sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan
payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan.
Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil
memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai
klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu.
Nggak mungkin hamil dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku
tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.
"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar
berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini
Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak
menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa
nikmatnya memerawani ABG tetangga.
porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si
adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina.
Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku
pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang,
karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak
tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri
dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku
tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa
berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku
sendiri nonton CD porno seharian", gumamku.
Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil
segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan,
tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik
barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut.
Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk
jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit
kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada
obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir
kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya,
tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan
tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap.
"Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha
menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca
surat kabar pagi yang belum tersentuh.
Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku
mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga
mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada
apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa",
kataku ramah.
ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia
duduk di kursi kosong sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa
bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai
mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari
dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar
bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak
ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku,
kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi
membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku
mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari
belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya.
Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju
kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau
saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.
"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak
lamunan nakalku.
"Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski
sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku
uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku
itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku
mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke
kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah
kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut.
Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri?
Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu
terlampiaskan".
Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar
kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut.
Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir
ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan
televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di
sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi
potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung,
tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.
Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk
gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku
yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak
lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha
lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku
segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah
pengalaman.."
Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal
pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar
vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah
terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang
tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi
segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut
celana warna hitam.
"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha
merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah
celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku
terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu
begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi
bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil.
Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu
vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk
liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus
menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan.
Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah
meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi
dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih
barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku.
Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku
merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul
kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas
buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti
mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium
putingnya yang kecil.
"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas
rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru
sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"
Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi
badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia
tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar
lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia
masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan.
Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah
kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak
kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat
kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian
kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit
itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga
makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih
agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat
sebentar karena dia tampak menahan nyeri.
"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya
sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol
perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan
pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai
masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa
menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit
kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah
demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouuu..", dia
menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah
aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah
membasahi sprei.
Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya
untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai
menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh...", dia mengerang dan melenguh
ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan
kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar
itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu.
Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya
dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan
atau pundakku.
"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouuu enak sekali Om..."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi
senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu
macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati.
Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan
sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan
payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan.
Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil
memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai
klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu.
Nggak mungkin hamil dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku
tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.
"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar
berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini
Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak
menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa
nikmatnya memerawani ABG tetangga.
NIKMATNYA ABG
Aku kuliah di suatu perguruan tinggi swasta di Malang,
yang mana cerita berawal dari Perkenalanku dengan
seorang gadis SMU, gadis ini bernama Naning
(panggilannya). Kuakui sangat cantik sekali karena yang
kutahu banyak sekali yang suka dengannya. Perkenalanku
dengannya berlanjut sampai aku mendekatinya, setelah
kutahu dia sudah memiliki pacar. Tapi dalam kamusku aku
harus bisa mendapatkannya, karena aku sudah terlampau
jauh dan tidak ingin kehilangan dia. Namanya otak kotor
sudah banyak sekali di otakku, maka dia kuhasut untuk
meninggalkan pacarnya. Tapi namanya mungkin
keberuntunganku dia ternyata meninggalkan sang pacar.
Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat
denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di
rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk
kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami
langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah
yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita,
tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu
padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit
putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk
menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai
berkata, "Mas... kalau di rumah ngapain aja?" tanyanya
sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki
magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab,
"Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi," kataku sambil
aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah
kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin
mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, "Mas kok
gelisah sekali sih?" Aku menjawab sambil menahan, "Si
Dul berganti posisi duduk."
Tanpa kusadari Naning melihat ke arah "Dul" punyaku,
langsung berkata, "Ehh.. itu Mas kok keliatan?" Aku
malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku
mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah
ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan.
Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang
sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya
yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai
rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang
menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara
yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti
melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku
membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka
terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh
kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke
belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah
tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.
Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini
baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil
yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning
langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku
bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah
dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka
celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki
kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja
melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka
celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan
kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku
bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir
panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia
berkata, "Cepet Mas... aku udah gak tahan!" dengan nafas
terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa
melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan
kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si
"Dul" punyaku yang besar sekali, sambil berkata, "Wahh..
Mas.. kok besar sekali?" Aku menjawab, "Akh masa sich?"
sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.
Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai
kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang
berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke
rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya
berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya
mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin
mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih
dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih
dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku
sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah
cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin
lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif
dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan
tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang
sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia
mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh
mengejang. Naning berkata, "Akh... Masss... aku
keluarrr..." dengan ucapan yang tak ada hentinya dan
kata terakhir yang panjang, "Aaahhh..." dan seluruh
tubuhnya mulai melemah.
Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena
akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh
mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk
mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata
yang tegang dia melihat ke arah "Dul"-ku, seperti ingin
melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam,
"Mas.. kok besar sekali?" seperti orang terkejut. Aku
tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap
gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan "Dul"-ku ke
kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena
mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan
layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya
sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat.
Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke
kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara
perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat
badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia
menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang
kutahu dia mengeluarkan kata "Ssttt... aaakkkhh... terus
Mass..." begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut
dengan... "Aku pingin yang lama Mass..." permintaannya
harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang
kesempatan seperti ini.
Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan
gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin
terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan
mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa "Dul"-ku
mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya,
maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk
mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya
bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di
bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan
nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit
atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan
kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan
kata-kata yang tak menentu, "Aaakkhhh... Masss...
jangannn... di... lepass... yang kuattt.. Mass...
aaahhkk... akuuu... udahh... gaakkk.. tahaann nihh...
aduhh.. Mass... enakk Mas..." dan dia mengecupkan
bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur
tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si "Dul" keluar
masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti
memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan
sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara,
dia pun setengah berteriak, "Aahk.. Maass... uuhggk...
Masss.. eemmmhhhh..." begitu seterusnya.
Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di
kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya.
"Aaahhkk... Mas... aku.. keluar Mas.. aaahhhkk...
uuughh.. Maaas..!" sambil memeluk erat tubuhku dan
terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya
mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai
dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai
menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia
merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang
jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku
menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di
atasku dan kulihat "Dul"-ku masih berdiri tegak menanti
adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan,
Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan
tangannya meraih "Dul"-ku dan memasukkan ke dalam
vaginanya. "Blep..." begitulah kira-kira antara
pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti
mur dan baut.
Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan
bawah, "Aaahhkk... eeemmhhh... enaknyaa Mas..." sambil
kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan
sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu.
Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang
dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan
menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar.
Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang
sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan
menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa
yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai
saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning
bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin
menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan
berucap,
"Ssst.. aaahk... Mas.. bareng yaa... aku juga akan
keluar... teruss.. Mas cium teruss.. Mass... aahhkk..."
Sambil aku berhitung, "Satu..."
"Aaahkk..." ucapnya.
"Dua...""Uuughh Masss... iiyaa... Masss.. aakuu..
aaakkhh...""Tiii... gaaa..."
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, "Aaahkkggk..." dan
berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya,
si "Dul" memuntahkan laharnya. Naning masih terus
menggoyangkan pinggulnya.
Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah
itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. "Wah.. Mas..
kamu hebat sekali yaa... seperti berpengalaman saja."
Aku hanya menjawab, "Enggak ah..." dan hari-hari
selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa
ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja,
kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di
rumahnya.
yang mana cerita berawal dari Perkenalanku dengan
seorang gadis SMU, gadis ini bernama Naning
(panggilannya). Kuakui sangat cantik sekali karena yang
kutahu banyak sekali yang suka dengannya. Perkenalanku
dengannya berlanjut sampai aku mendekatinya, setelah
kutahu dia sudah memiliki pacar. Tapi dalam kamusku aku
harus bisa mendapatkannya, karena aku sudah terlampau
jauh dan tidak ingin kehilangan dia. Namanya otak kotor
sudah banyak sekali di otakku, maka dia kuhasut untuk
meninggalkan pacarnya. Tapi namanya mungkin
keberuntunganku dia ternyata meninggalkan sang pacar.
Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat
denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di
rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk
kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami
langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah
yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita,
tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu
padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit
putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk
menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai
berkata, "Mas... kalau di rumah ngapain aja?" tanyanya
sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki
magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab,
"Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi," kataku sambil
aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah
kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin
mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, "Mas kok
gelisah sekali sih?" Aku menjawab sambil menahan, "Si
Dul berganti posisi duduk."
Tanpa kusadari Naning melihat ke arah "Dul" punyaku,
langsung berkata, "Ehh.. itu Mas kok keliatan?" Aku
malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku
mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah
ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan.
Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang
sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya
yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai
rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang
menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara
yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti
melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku
membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka
terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh
kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke
belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah
tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.
Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini
baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil
yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning
langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku
bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah
dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka
celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki
kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja
melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka
celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan
kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku
bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir
panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia
berkata, "Cepet Mas... aku udah gak tahan!" dengan nafas
terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa
melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan
kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si
"Dul" punyaku yang besar sekali, sambil berkata, "Wahh..
Mas.. kok besar sekali?" Aku menjawab, "Akh masa sich?"
sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.
Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai
kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang
berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke
rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya
berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya
mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin
mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih
dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih
dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku
sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah
cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin
lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif
dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan
tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang
sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia
mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh
mengejang. Naning berkata, "Akh... Masss... aku
keluarrr..." dengan ucapan yang tak ada hentinya dan
kata terakhir yang panjang, "Aaahhh..." dan seluruh
tubuhnya mulai melemah.
Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena
akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh
mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk
mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata
yang tegang dia melihat ke arah "Dul"-ku, seperti ingin
melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam,
"Mas.. kok besar sekali?" seperti orang terkejut. Aku
tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap
gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan "Dul"-ku ke
kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena
mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan
layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya
sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat.
Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke
kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara
perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat
badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia
menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang
kutahu dia mengeluarkan kata "Ssttt... aaakkkhh... terus
Mass..." begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut
dengan... "Aku pingin yang lama Mass..." permintaannya
harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang
kesempatan seperti ini.
Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan
gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin
terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan
mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa "Dul"-ku
mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya,
maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk
mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya
bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di
bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan
nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit
atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan
kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan
kata-kata yang tak menentu, "Aaakkhhh... Masss...
jangannn... di... lepass... yang kuattt.. Mass...
aaahhkk... akuuu... udahh... gaakkk.. tahaann nihh...
aduhh.. Mass... enakk Mas..." dan dia mengecupkan
bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur
tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si "Dul" keluar
masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti
memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan
sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara,
dia pun setengah berteriak, "Aahk.. Maass... uuhggk...
Masss.. eemmmhhhh..." begitu seterusnya.
Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di
kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya.
"Aaahhkk... Mas... aku.. keluar Mas.. aaahhhkk...
uuughh.. Maaas..!" sambil memeluk erat tubuhku dan
terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya
mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai
dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai
menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia
merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang
jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku
menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di
atasku dan kulihat "Dul"-ku masih berdiri tegak menanti
adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan,
Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan
tangannya meraih "Dul"-ku dan memasukkan ke dalam
vaginanya. "Blep..." begitulah kira-kira antara
pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti
mur dan baut.
Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan
bawah, "Aaahhkk... eeemmhhh... enaknyaa Mas..." sambil
kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan
sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu.
Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang
dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan
menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar.
Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang
sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan
menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa
yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai
saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning
bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin
menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan
berucap,
"Ssst.. aaahk... Mas.. bareng yaa... aku juga akan
keluar... teruss.. Mas cium teruss.. Mass... aahhkk..."
Sambil aku berhitung, "Satu..."
"Aaahkk..." ucapnya.
"Dua...""Uuughh Masss... iiyaa... Masss.. aakuu..
aaakkhh...""Tiii... gaaa..."
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, "Aaahkkggk..." dan
berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya,
si "Dul" memuntahkan laharnya. Naning masih terus
menggoyangkan pinggulnya.
Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah
itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. "Wah.. Mas..
kamu hebat sekali yaa... seperti berpengalaman saja."
Aku hanya menjawab, "Enggak ah..." dan hari-hari
selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa
ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja,
kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di
rumahnya.
Monday, May 7, 2007
MELAYU
Hallo netter dan terima kasih Jones membenarkan aku
berkaria lagi. Aku nak cerita lagi antara kisah-kisah
benarku dalam permainan sex terlarang untuk tatapan
kelian semua.
Aku masih menyewa dibilik sewaan yang pernah aku
ceritakan pada kau orang dulu selepas awekku si Faridah
kawin dengan Benggali boss tempat dia kerja. Owner aku
ni pasangan laki-bini, laki dia aku panggil 'APEK' aja
dalam usia 50an dan dia bawak teksi outstation. Anak
kembar perempuan mereka sekolah tingkatan dua.
Nyonya BB umur 40an, badan gempal, muka kira biasa saja.
Tapi kalau dia make-up seliur juga tengok. Dia ni kerja
sebagai 'casher' di sebuah bar 'KOPI KOREK'. Kata dia
nak bantu laki dia cari duit sebab nak hidup senang.
Laki dia tak kisah asal dia jaga anak mereka dengan
baik. Nyonya ni peramah juga orangnya. Kalau nampak aku
ada dibilik selalu juga sembang-sembang dengan aku tapi
dia tak pernah tanya nama aku dan aku pun tak pernah
tahu namanya janji sewa bilik tak miss … dia happy. Aku
pun tak pernah miss bayar sewa bilik dan adakala tu aku
disuruh bagi tusyen kepada kedua nak kembarnya, mereka
juga suka minta bantuan hal-hal pelajaran bila aku
senang.
Aku gelar dia nyonya BB sebab, ada sekali tu aku
mengendap dia tengah mandi, tengok body dia tak lah
steam sangat tapi bulu cipap dia mak datuk punya lah
banyak … panjang dan berserabut pulak tu. Itu lah yang
aku gelar dia 'Bulu Berserabut'.
Ada satu malam masa dia nak pergi kerja, dia tengok aku
lepak sorang-sorang kat beranda rumah dan tanya aku tak
keluar ke. Aku kata tak tahu nak pergi mana. Dia kata
datang lah ke bar tempat dia kerja … sana banyak amoy ….
Boleh enjoy. Aku kata tengok lah.
Lebih kurang jam 11 malam aku sampai ke Bar itu. Aku
terus ke casher dan tegur nyonya BB. Dia happy saja
tengok aku datang dan terus panggilkan seorang pelayan
menunjukan table yang paling hujung sekali. Suasana di
situ kira okey pada ku sebab samar-samar dan tersorok
sikit. Kalau beromen orang tak nampak dan lebih privacy.
Sebentar kemudian nyonya tu datang perkenalkan GRO yang
agak sexy dengan miniskirt yang sangat singkat. Aku okey
saja dan booking dia untuk satu jam. Nyonya kembali ke
counter dia dan amoy disebelahku tu tanya aku nak minum
apa. Aku kata coke saja.
Lebih kurang lima belas minit sembang dengan amoy tu
tangan aku mulalah meraba-raba seluruh badan dia. Dia
tak kesah sebab dah memang kerja dia bagi orang raba dan
korek apa yang patut.
Puas aku cium bibir dia dan raba seluruh badan dia,
tetek dan cipap dia pun aku ramas tapi dari luar
sajalah. Batangku mula tegang. ku. Dia pun kadang-kadang
merengek juga bila aku korek cipap dia dari tepi
underwear dia. Aku pegang tangan dia dan letak di celah
kangkangku. Dia urut dan ramas batangku dari luar saja
sambil badannya disandarkan ke dadaku sambil tanganku
menyeluk cipap dia dan meramas cipap berbulu nya yang
dah basah. Biji kelentit nya yang tersembul aku gentel
sampai amoy tu mengepit-ngepit tanganku dengan paha dia.
"Ayooo … syeok laaa … lu pandai bikin saya steam ooo"
dia merintih halus.
Aku buka zipper seluarku dan 'toiiiing' batangku keluar
dan berdiri tegak dengan palkon mengembang mencari
mangsanya. Amoy tu terkejut melihatkan batangku yang
teranggok -anggok dan terus mnggenggamnya dengan lembut
dan diurut-urut.
"Waaahh … lu punya lancau manyak besaaa" Dia tergamam.
Dia makin geram mengocok batangku sambil memilin-milin
palkonku. Aku makin asyik dan cipapnya juga makin banjir
bila aku jolok jari-jariku ke lubang cipapnya.
Aku suruh dia hisap batangku. Lansung dia dekat kan
kepala kebatangku dan menjilat seluruh palkonku. Aku
pula selak mini skirt dia dan masukan tangan kiriku
dalam underwear dari punggungnya kebelahan cipap dan
mengusap-usap belahan itu.
Lubang cipap nya aku jolok dan kelintitnya aku gentel.
Dia kulum batangku dan menghisap dan gigit-gigit kecil
sekeliling batangku.
"Eeemmphh … eemmhhpp .." dia merengek
"Isstt.. isstt…isssstt" aku menahan kesedapan hisapan si
amoy.
"Kalau mau keluar .. cakap aaa" dia berpesan dan
berpaling ke arah ku.
"Aaaahhh .. sudah mau keluar" Aku mendeses
Lansung dia keluarkan batangku dari mulutnya dan
menghalakan kebawah meja kami duduk itu sambil
melancap-lancap kan batangku. Aku pun pancut airmani ku
keatas lantai dibawah meja itu. Tangan aku pula
berlengas dek air cipap amoy tu. Dia bangun membetulkan
skirtnya menghilang seketika dan kembali dengan membawa
beberapa helai tisu dan suruh aku lap tanganku samentara
dia lap batangku yang berlendir itu. Selepas jelaskan
bil di casher dan ucap terima kasih dan beri tip kepada
amoy dan nyonya BB aku pun balik.
Besoknya aku tak kerja, jadi aku rilek dalam bilik saja.
Masa aku keluar aku tengok nyonya BB sedang minum di
dapur. Dia panggil aku dan buatkan kopi. Kami duduk
sambil minum dan aku tengok kepalanya bertampal 'Koyok'.
Dia kata dia pening sebab member dia belanja minum
sebelum balik dari bar malam tadi.
"Lu punya kawan mana lama tak nampak" dia tanya pasal
Faridah.
Aku kata dia dah kawin jadi aku tinggal sorang lah. Oooo
… dia mengangguk. Dia tanya lagi kenapa aku tak kawin
dengan awek aku tu. Aku kata dia nak cari yang kaya dan
yang besaaaaar punya.
Dia ketawa bila aku kata besaaar sambil menunjukkan
lenganku.
"Wa selalu dengar lu orang dalam bilik jerit-jerit pun
dia tadak syok ka" dia ketawa lagi.
Aku kata lagi apa nak buat, dia suka dia punya hal lah.
Nyonya cerita kat aku dia jarang main dengan lakinya
kerana laki dia ada simpan perempuan lain. Katanya lagi
dalam satu bulan satu kali pun susah sebab kata lakinya
dah tak syok kat dia pasal dia dah gemok. Aku simpati
dengan nyonya BB dan tanya mana laki dia. Katanya sudah
satu minggu tak balik - ada dengan perempuan simpanan
dia lah. Aku tanya dia lagi … habis apa dia buat kalau
laki dia tak ada. Dia kata dia puaskan nafsunya dengan
tengok video blue. Baru aku tahu dia banyak simpan video
blue tapi sayang aku tak ada TV dan video player - dia
kata kalau nak pinjam boleh. Aku kata nanti lah.
Melihat dia picit-picit kepala, aku offer dia tolong
picitkan. Dia kata okey .. dan bagi aku minyak cap
kapak. Aku bangun berdiri dibelakannya dan picit-picit
lembut dahi dia dan lumurkan minyak itu.
Sambil memicit kepalanya aku tanya anak-anak dia sebab
tak nampak mereka. Dia kata mereka kerumah nenek nya di
Kepung petang baru balik. Ini peluang aku .. aku nak
goda nyonya BB.
Sambil aku picit dahinya sesekali aku picit lembut
tengkuk dan leher dia. Dia pula sekejap melentok kekiri,
melentuk kekanan menikmati picikan yang kadang-kadang
saja aku usap lembut bagi dia steam.
Batangku mula berdenyut-denyut dari balik seluar bola
yang aku pakai tanpa underwear itu. Sengaja aku
tempelkan batangku ke belakang nya dan aku gesel
perlahan-lahan.
"Aahhh … aahh" nyonya mula beriaksi. Aku dapat rasa dia
menekan badannya ke belakang untuk merasai kehangatan
batangku yang sedang menggesel belakangnya.
Tangan ku yang sedang mengusap lembut lehernya aku
turunkan ke depan. Sedikit demi sedikit tangan ku turun
hingga mencecah buah dadanya yang agak besar. Dia
membiarkan tanganku merewang di dadanya.
"Aaaaaaahhh … aaaahhhhh" nafasnya mula terdengar.
Aku mula meramas buah dadanya, sementara merebahkan
kepala nya kelenganku dan sebelah tanganya memegang
tangan ku dan menekan ke teteknya dengan keras.
Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami selain
suara rengekan si nyonya dan gerakan tangan ku.
Sama-sama faham apa nak buat. Aku beranikan diri
menyelak baju nya keatas. Buah dada yang besar dan masih
ada bra itu terpacul. Aku tarik juga bra nya dan
tersembullah gunung kembar besar tak berapa tegang itu.
Aku ramas gunung kembar itu dan aku gentel dengan jari
hinggga mengeras kedua--dua putingnya.
Ayaaa … banyak syok oooo … lu manyak pandai. .. - Aku
ramas geram gunung kembar itu lagi. Aku tunduk mula
mencium dan menjilat lehernya. Nafasnya memburu
kesedapan. Dari gunung kembar itu aku usap perlahan
tangan ku keperutnya yang berlipat-lipat dan masukkan
tangan ku ke seluar pendeknya terus ketundunnya. Agak
susah juga aku nak capai cipap dia sebab
lipatan-lipatan daging di perutnya itu … kan badannya
gempal.
Bila tanganku tersentuh hujung pentienya aku mula
menyeluk ke dalam dan terasalah bulu cipapnya yang lebat
dan beserabut itu. Dia merenggangkan kakinya memberi
ruang kepadaku untuk mencapai belahan cipapnya. Aku
berjaya menggenggam cipapnya yang tembam itu. Jariku
mula mengaluri belahannya. Aku usap perlahan-lahan
belahan itu dan terasa kelentitnya berada dihujung
jariku. Kelentitnya aku gentel dan usap.
"Ayaaa … sedap .. ayooo … sedap … aaaaahhh" rintiha
nyonya BB memenuhi ruang dapur sambil dia memaut
tengkukku dan menggeselkan pipinya kepipiku.
"Nyonya … saya mau jilat lu punya … boleh?" aku telah
dirasuk rasa amat berahi sungguh pun perempuan dalam
pelukan ku itu seorang wanita dah berumur dan gemuk
pulak tu. Aku belum pernah main dengan perempuan yang
bersaiz besar sebelum ini.
Aku tarik, dia bangun dan mengikut aku masuk kebilikku
sambil aku pastikan pintu tangga aku kunci dari dalam ..
takut-takut kalau laki dia balik .. mampus.
Nyonya BB berbaring di atas katil dengan baju dan bra
nya masih dalam keadaan masa aku gentel tetek dia tadi.
Aku lucutkan seluar pendek dan pantienya. Dia
mengangkangkan kakinya dan aku terus berlutut dan
membenamkan mulutku kebelahan cipap yang berserabut
bulu-bulu lebat dan panjang itu. Banyak bulunya
tercabut dan masuk ke mulutku semasa aku menyonyot
belahannya, aku ludah kecadar membuang bulu-bulu yang
melekat dimulutku.
Kelentit nya besar dan panjang menjulur keluar dekat
satu inci. Kelentit itu aku kulum sambil jariku mengusap
lubang cipapnya yang ternganga. Dia menggeliat dan
meraung kesedapan bila kelentit dan lubangnya aku sedut
dan cucuk. Banyak airnya keluar dari lubang cipap itu.
Aku rasa airnya sedikit tengit tapi kerana terlalu
berahi, aku jilat juga. Bibir belahan cipap itu aku kuak
selebar lebarnya dan lidahku menjolok lubang nikmatnya.
Nyonya BB hanya berdaya meraung dan menggeliat menerima
nikmat.
"Kasi masuk lu punya batang .. ayaa .. wa tak boleh
tahan" dia meminta sambil merintih-rintih.
Aku lucut seluar ke lantai dan mengusap-usap batangku
dengan tangan. Nyonya BB terbeliak lihat batangku yang
keras tegang itu.
"Ayaaa .. manyak besar … cepat … kasi masuk" dia
melebarkan kangkang nya sambil membuka bibir cipap
dengan tangannya. Dia dah tak tahan tengok batangku yang
tegap dan macho tu.
Aku alas bantal kibawah punggungnya. Cipap nya terbuka
lalu aku acukan batangku kelubang nikmatnya dan henjut
masuk.
"Ayaaaaaa … syooook …. Ayaaaa" dia meraung lagi.
Aku tekan dan tarik batangku keluar masuk cipapnya tapi
tak sampai pangkal sebab terhalang oleh bawah perutnya
yang buncit itu. Aku tekan sekuat hati dan tarik. Aku
tekan lagi dan nyonya meraung ….
"Ayaaa .. gua punya air sudah keluar" dia menggigil dan
mengepit linggangku dengan pahanya yang semangat tu. Dia
tewas mudah dengan ku. Tak sampai lima minitpun.
Kemudian aku suruh dia menonggeng aku masuk lagi
batangku dari arah belakang bontot dia. Cara ini aku
rasa sedap sikit sebab batang ku masuk sampai kepangkal.
Bertalu talu aku henjut cipap dia dan bergegar katil
dibuatnya. Puas aku merodok cipapnya aku tarik keluar
batangku dan halakan kedubur dia pula. Dia toleh ke
belakang dan suruh aku pelan sikit. Tak ada masaalah
batangku dapat masuk kelubang dubur dia. Aku mula henjut
agak keras dan laju. Dia meraung kesedapan sambil
menghentakan punggungnya kearah ku membantu melancarkan
keluar masuk batangku.
"Aaaahh .. saya tak boleh tahaaaan …. Hantam kuat" dia
dah nak klimax lagi. Aku henjut makin laju dan dengan
satu tekanan kuat sambil aku pegang pinggul dia aku
ledakan airmani kedalam lubang duburnya dan nyonya BB
menjerit-jerit kesedapan bila dia juga klimax.
Aku capai tuala terus pergi mandi. Nyonya terus masuk
kebiliknya. Aku tukar cadarku yang penuh dengan lendir
airmani dan tukar dengan yang baru. Aku bawa keluar nak
basuh tapi nyonya BB ambil dan tolong masukkan dalam
washing machine dia.
Sambil duduk-duduk didapur kami borak-borak. Dia kata
belum pernah dia puas macam tadi dan dia nak main lagi
kalau dia rasa gian, aku kata anytime.
Nyonya BB beritahu aku amoy di bar dah cakap kat dia
yang batangku besar dan panjang, itu sebab dia terasa
nak main dengan aku dan amoy tu pesan suruh aku pergi
sana lagi. Aku gelak saja dan tanya dia kalau aku boleh
bawak amoy tu balik. Dia kata dia boleh rekemen.
Aku cakap kat nyonya BB suruh dia cukur bulu berserabut
dia dan dia jeling kat aku tapi tersenyum dan menganguk
. OK
berkaria lagi. Aku nak cerita lagi antara kisah-kisah
benarku dalam permainan sex terlarang untuk tatapan
kelian semua.
Aku masih menyewa dibilik sewaan yang pernah aku
ceritakan pada kau orang dulu selepas awekku si Faridah
kawin dengan Benggali boss tempat dia kerja. Owner aku
ni pasangan laki-bini, laki dia aku panggil 'APEK' aja
dalam usia 50an dan dia bawak teksi outstation. Anak
kembar perempuan mereka sekolah tingkatan dua.
Nyonya BB umur 40an, badan gempal, muka kira biasa saja.
Tapi kalau dia make-up seliur juga tengok. Dia ni kerja
sebagai 'casher' di sebuah bar 'KOPI KOREK'. Kata dia
nak bantu laki dia cari duit sebab nak hidup senang.
Laki dia tak kisah asal dia jaga anak mereka dengan
baik. Nyonya ni peramah juga orangnya. Kalau nampak aku
ada dibilik selalu juga sembang-sembang dengan aku tapi
dia tak pernah tanya nama aku dan aku pun tak pernah
tahu namanya janji sewa bilik tak miss … dia happy. Aku
pun tak pernah miss bayar sewa bilik dan adakala tu aku
disuruh bagi tusyen kepada kedua nak kembarnya, mereka
juga suka minta bantuan hal-hal pelajaran bila aku
senang.
Aku gelar dia nyonya BB sebab, ada sekali tu aku
mengendap dia tengah mandi, tengok body dia tak lah
steam sangat tapi bulu cipap dia mak datuk punya lah
banyak … panjang dan berserabut pulak tu. Itu lah yang
aku gelar dia 'Bulu Berserabut'.
Ada satu malam masa dia nak pergi kerja, dia tengok aku
lepak sorang-sorang kat beranda rumah dan tanya aku tak
keluar ke. Aku kata tak tahu nak pergi mana. Dia kata
datang lah ke bar tempat dia kerja … sana banyak amoy ….
Boleh enjoy. Aku kata tengok lah.
Lebih kurang jam 11 malam aku sampai ke Bar itu. Aku
terus ke casher dan tegur nyonya BB. Dia happy saja
tengok aku datang dan terus panggilkan seorang pelayan
menunjukan table yang paling hujung sekali. Suasana di
situ kira okey pada ku sebab samar-samar dan tersorok
sikit. Kalau beromen orang tak nampak dan lebih privacy.
Sebentar kemudian nyonya tu datang perkenalkan GRO yang
agak sexy dengan miniskirt yang sangat singkat. Aku okey
saja dan booking dia untuk satu jam. Nyonya kembali ke
counter dia dan amoy disebelahku tu tanya aku nak minum
apa. Aku kata coke saja.
Lebih kurang lima belas minit sembang dengan amoy tu
tangan aku mulalah meraba-raba seluruh badan dia. Dia
tak kesah sebab dah memang kerja dia bagi orang raba dan
korek apa yang patut.
Puas aku cium bibir dia dan raba seluruh badan dia,
tetek dan cipap dia pun aku ramas tapi dari luar
sajalah. Batangku mula tegang. ku. Dia pun kadang-kadang
merengek juga bila aku korek cipap dia dari tepi
underwear dia. Aku pegang tangan dia dan letak di celah
kangkangku. Dia urut dan ramas batangku dari luar saja
sambil badannya disandarkan ke dadaku sambil tanganku
menyeluk cipap dia dan meramas cipap berbulu nya yang
dah basah. Biji kelentit nya yang tersembul aku gentel
sampai amoy tu mengepit-ngepit tanganku dengan paha dia.
"Ayooo … syeok laaa … lu pandai bikin saya steam ooo"
dia merintih halus.
Aku buka zipper seluarku dan 'toiiiing' batangku keluar
dan berdiri tegak dengan palkon mengembang mencari
mangsanya. Amoy tu terkejut melihatkan batangku yang
teranggok -anggok dan terus mnggenggamnya dengan lembut
dan diurut-urut.
"Waaahh … lu punya lancau manyak besaaa" Dia tergamam.
Dia makin geram mengocok batangku sambil memilin-milin
palkonku. Aku makin asyik dan cipapnya juga makin banjir
bila aku jolok jari-jariku ke lubang cipapnya.
Aku suruh dia hisap batangku. Lansung dia dekat kan
kepala kebatangku dan menjilat seluruh palkonku. Aku
pula selak mini skirt dia dan masukan tangan kiriku
dalam underwear dari punggungnya kebelahan cipap dan
mengusap-usap belahan itu.
Lubang cipap nya aku jolok dan kelintitnya aku gentel.
Dia kulum batangku dan menghisap dan gigit-gigit kecil
sekeliling batangku.
"Eeemmphh … eemmhhpp .." dia merengek
"Isstt.. isstt…isssstt" aku menahan kesedapan hisapan si
amoy.
"Kalau mau keluar .. cakap aaa" dia berpesan dan
berpaling ke arah ku.
"Aaaahhh .. sudah mau keluar" Aku mendeses
Lansung dia keluarkan batangku dari mulutnya dan
menghalakan kebawah meja kami duduk itu sambil
melancap-lancap kan batangku. Aku pun pancut airmani ku
keatas lantai dibawah meja itu. Tangan aku pula
berlengas dek air cipap amoy tu. Dia bangun membetulkan
skirtnya menghilang seketika dan kembali dengan membawa
beberapa helai tisu dan suruh aku lap tanganku samentara
dia lap batangku yang berlendir itu. Selepas jelaskan
bil di casher dan ucap terima kasih dan beri tip kepada
amoy dan nyonya BB aku pun balik.
Besoknya aku tak kerja, jadi aku rilek dalam bilik saja.
Masa aku keluar aku tengok nyonya BB sedang minum di
dapur. Dia panggil aku dan buatkan kopi. Kami duduk
sambil minum dan aku tengok kepalanya bertampal 'Koyok'.
Dia kata dia pening sebab member dia belanja minum
sebelum balik dari bar malam tadi.
"Lu punya kawan mana lama tak nampak" dia tanya pasal
Faridah.
Aku kata dia dah kawin jadi aku tinggal sorang lah. Oooo
… dia mengangguk. Dia tanya lagi kenapa aku tak kawin
dengan awek aku tu. Aku kata dia nak cari yang kaya dan
yang besaaaaar punya.
Dia ketawa bila aku kata besaaar sambil menunjukkan
lenganku.
"Wa selalu dengar lu orang dalam bilik jerit-jerit pun
dia tadak syok ka" dia ketawa lagi.
Aku kata lagi apa nak buat, dia suka dia punya hal lah.
Nyonya cerita kat aku dia jarang main dengan lakinya
kerana laki dia ada simpan perempuan lain. Katanya lagi
dalam satu bulan satu kali pun susah sebab kata lakinya
dah tak syok kat dia pasal dia dah gemok. Aku simpati
dengan nyonya BB dan tanya mana laki dia. Katanya sudah
satu minggu tak balik - ada dengan perempuan simpanan
dia lah. Aku tanya dia lagi … habis apa dia buat kalau
laki dia tak ada. Dia kata dia puaskan nafsunya dengan
tengok video blue. Baru aku tahu dia banyak simpan video
blue tapi sayang aku tak ada TV dan video player - dia
kata kalau nak pinjam boleh. Aku kata nanti lah.
Melihat dia picit-picit kepala, aku offer dia tolong
picitkan. Dia kata okey .. dan bagi aku minyak cap
kapak. Aku bangun berdiri dibelakannya dan picit-picit
lembut dahi dia dan lumurkan minyak itu.
Sambil memicit kepalanya aku tanya anak-anak dia sebab
tak nampak mereka. Dia kata mereka kerumah nenek nya di
Kepung petang baru balik. Ini peluang aku .. aku nak
goda nyonya BB.
Sambil aku picit dahinya sesekali aku picit lembut
tengkuk dan leher dia. Dia pula sekejap melentok kekiri,
melentuk kekanan menikmati picikan yang kadang-kadang
saja aku usap lembut bagi dia steam.
Batangku mula berdenyut-denyut dari balik seluar bola
yang aku pakai tanpa underwear itu. Sengaja aku
tempelkan batangku ke belakang nya dan aku gesel
perlahan-lahan.
"Aahhh … aahh" nyonya mula beriaksi. Aku dapat rasa dia
menekan badannya ke belakang untuk merasai kehangatan
batangku yang sedang menggesel belakangnya.
Tangan ku yang sedang mengusap lembut lehernya aku
turunkan ke depan. Sedikit demi sedikit tangan ku turun
hingga mencecah buah dadanya yang agak besar. Dia
membiarkan tanganku merewang di dadanya.
"Aaaaaaahhh … aaaahhhhh" nafasnya mula terdengar.
Aku mula meramas buah dadanya, sementara merebahkan
kepala nya kelenganku dan sebelah tanganya memegang
tangan ku dan menekan ke teteknya dengan keras.
Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami selain
suara rengekan si nyonya dan gerakan tangan ku.
Sama-sama faham apa nak buat. Aku beranikan diri
menyelak baju nya keatas. Buah dada yang besar dan masih
ada bra itu terpacul. Aku tarik juga bra nya dan
tersembullah gunung kembar besar tak berapa tegang itu.
Aku ramas gunung kembar itu dan aku gentel dengan jari
hinggga mengeras kedua--dua putingnya.
Ayaaa … banyak syok oooo … lu manyak pandai. .. - Aku
ramas geram gunung kembar itu lagi. Aku tunduk mula
mencium dan menjilat lehernya. Nafasnya memburu
kesedapan. Dari gunung kembar itu aku usap perlahan
tangan ku keperutnya yang berlipat-lipat dan masukkan
tangan ku ke seluar pendeknya terus ketundunnya. Agak
susah juga aku nak capai cipap dia sebab
lipatan-lipatan daging di perutnya itu … kan badannya
gempal.
Bila tanganku tersentuh hujung pentienya aku mula
menyeluk ke dalam dan terasalah bulu cipapnya yang lebat
dan beserabut itu. Dia merenggangkan kakinya memberi
ruang kepadaku untuk mencapai belahan cipapnya. Aku
berjaya menggenggam cipapnya yang tembam itu. Jariku
mula mengaluri belahannya. Aku usap perlahan-lahan
belahan itu dan terasa kelentitnya berada dihujung
jariku. Kelentitnya aku gentel dan usap.
"Ayaaa … sedap .. ayooo … sedap … aaaaahhh" rintiha
nyonya BB memenuhi ruang dapur sambil dia memaut
tengkukku dan menggeselkan pipinya kepipiku.
"Nyonya … saya mau jilat lu punya … boleh?" aku telah
dirasuk rasa amat berahi sungguh pun perempuan dalam
pelukan ku itu seorang wanita dah berumur dan gemuk
pulak tu. Aku belum pernah main dengan perempuan yang
bersaiz besar sebelum ini.
Aku tarik, dia bangun dan mengikut aku masuk kebilikku
sambil aku pastikan pintu tangga aku kunci dari dalam ..
takut-takut kalau laki dia balik .. mampus.
Nyonya BB berbaring di atas katil dengan baju dan bra
nya masih dalam keadaan masa aku gentel tetek dia tadi.
Aku lucutkan seluar pendek dan pantienya. Dia
mengangkangkan kakinya dan aku terus berlutut dan
membenamkan mulutku kebelahan cipap yang berserabut
bulu-bulu lebat dan panjang itu. Banyak bulunya
tercabut dan masuk ke mulutku semasa aku menyonyot
belahannya, aku ludah kecadar membuang bulu-bulu yang
melekat dimulutku.
Kelentit nya besar dan panjang menjulur keluar dekat
satu inci. Kelentit itu aku kulum sambil jariku mengusap
lubang cipapnya yang ternganga. Dia menggeliat dan
meraung kesedapan bila kelentit dan lubangnya aku sedut
dan cucuk. Banyak airnya keluar dari lubang cipap itu.
Aku rasa airnya sedikit tengit tapi kerana terlalu
berahi, aku jilat juga. Bibir belahan cipap itu aku kuak
selebar lebarnya dan lidahku menjolok lubang nikmatnya.
Nyonya BB hanya berdaya meraung dan menggeliat menerima
nikmat.
"Kasi masuk lu punya batang .. ayaa .. wa tak boleh
tahan" dia meminta sambil merintih-rintih.
Aku lucut seluar ke lantai dan mengusap-usap batangku
dengan tangan. Nyonya BB terbeliak lihat batangku yang
keras tegang itu.
"Ayaaa .. manyak besar … cepat … kasi masuk" dia
melebarkan kangkang nya sambil membuka bibir cipap
dengan tangannya. Dia dah tak tahan tengok batangku yang
tegap dan macho tu.
Aku alas bantal kibawah punggungnya. Cipap nya terbuka
lalu aku acukan batangku kelubang nikmatnya dan henjut
masuk.
"Ayaaaaaa … syooook …. Ayaaaa" dia meraung lagi.
Aku tekan dan tarik batangku keluar masuk cipapnya tapi
tak sampai pangkal sebab terhalang oleh bawah perutnya
yang buncit itu. Aku tekan sekuat hati dan tarik. Aku
tekan lagi dan nyonya meraung ….
"Ayaaa .. gua punya air sudah keluar" dia menggigil dan
mengepit linggangku dengan pahanya yang semangat tu. Dia
tewas mudah dengan ku. Tak sampai lima minitpun.
Kemudian aku suruh dia menonggeng aku masuk lagi
batangku dari arah belakang bontot dia. Cara ini aku
rasa sedap sikit sebab batang ku masuk sampai kepangkal.
Bertalu talu aku henjut cipap dia dan bergegar katil
dibuatnya. Puas aku merodok cipapnya aku tarik keluar
batangku dan halakan kedubur dia pula. Dia toleh ke
belakang dan suruh aku pelan sikit. Tak ada masaalah
batangku dapat masuk kelubang dubur dia. Aku mula henjut
agak keras dan laju. Dia meraung kesedapan sambil
menghentakan punggungnya kearah ku membantu melancarkan
keluar masuk batangku.
"Aaaahh .. saya tak boleh tahaaaan …. Hantam kuat" dia
dah nak klimax lagi. Aku henjut makin laju dan dengan
satu tekanan kuat sambil aku pegang pinggul dia aku
ledakan airmani kedalam lubang duburnya dan nyonya BB
menjerit-jerit kesedapan bila dia juga klimax.
Aku capai tuala terus pergi mandi. Nyonya terus masuk
kebiliknya. Aku tukar cadarku yang penuh dengan lendir
airmani dan tukar dengan yang baru. Aku bawa keluar nak
basuh tapi nyonya BB ambil dan tolong masukkan dalam
washing machine dia.
Sambil duduk-duduk didapur kami borak-borak. Dia kata
belum pernah dia puas macam tadi dan dia nak main lagi
kalau dia rasa gian, aku kata anytime.
Nyonya BB beritahu aku amoy di bar dah cakap kat dia
yang batangku besar dan panjang, itu sebab dia terasa
nak main dengan aku dan amoy tu pesan suruh aku pergi
sana lagi. Aku gelak saja dan tanya dia kalau aku boleh
bawak amoy tu balik. Dia kata dia boleh rekemen.
Aku cakap kat nyonya BB suruh dia cukur bulu berserabut
dia dan dia jeling kat aku tapi tersenyum dan menganguk
. OK
AJIE
Aku seorang wanita karir yang cukup mapan, boleh
dibilang karirku sudah mencapai tingkat tertinggi dari
yang pernah kuimpikan. Tahun lalu aku memutuskan keluar
dari pekerjaanku yang sangat baik itu, aku ingin
memperbaiki rumah tanggaku yang berantakan karena selama
5 tahun ini aku dan suami tidak pernah berkomunikasi
dengan baik sehingga kami masing-masing memiliki
kegiatan di luar rumah sendiri-sendiri. Anak kami
satu-satunya sekolah di luar negeri, kesempatan untuk
berkomunikasi makin sedikit sampai akhirnya kuputuskan
untuk memulai lagi hubungan dengan suamiku dari bawah.
Tapi apa boleh buat semua malah berantakan, suamiku
memilih cerai ketika aku sudah keluar dari karirku
selama 3 bulan. Aku tak dapat menyalahkannya karena
akupun tidak begitu antusias lagi setelah mengetahui dia
mempunyai wanita simpanan, dan itu juga bukan salahnya
maupun salahku. Kupikir itu adalah takdir yang harus
kujalani.
Sekarang usiaku sudah 39 tahun dan aku tidak pernah
bermimpi untuk menikah lagi, sehari-hari aku lebih
banyak berjalan-jalan dengan teman, kadang-kadamg kami
traveling untuk membunuh waktu belaka. Sejak 3 bulan
yang lalu aku membiarkan salah seorang keponakanku untuk
tinggal di rumahku, aku tergerak menolong orang tuanya
yang mempunyai ekonomi pas-pasan sehingga untuk kost
tentu memerlukan biaya yang mahal, sedangkan untuk bayar
kuliah saja mereka sudah bekerja mati-matian.
Keponakanku bernama Ajie, usianya sekitar 22 tahun,
kubiarkan ia tinggal di salah satu kamar di lantai 2.
Ajie sangat sopan dan tahu diri, jadi kupikir sangat
menguntungkan ada seseorang yang dapat menjaga rumahku
sewaktu aku dan teman-teman traveling. Tapi ternyata
Ajie membawa berkah yang lain.
Pagi itu aku segan sekali bangun dari ranjang, baru
kemarin malam aku kembali dari Thailand dan kebetulan
hari itu adalah hari minggu, sehingga aku memutuskan
akan tidur sepuas mungkin, semua pembatu libur pada hari
minggu, mereka boleh kemana saja, aku tidak peduli asal
jangan menganggu tidurku. Aku tergolek saja di ranjang,
baju tidurku terbuat dari sutera tipis berwarna putih,
kupandangi tubuhku yang mulai gempal, kupikir aku harus
mulai senam lagi. Kulihat jam menunjukkan angka 10. Ah
biarlah aku ingin tidur lagi, jadi aku mulai
terkantuk-kantuk lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara
langkah kaki di depan pintu, lalu terdengar ketukan, aku
diam saja, mungkin salah seorang pembantu ingin mengacau
tidurku.
"Tante..., Tante...", ooh ternyata suara Ajie. Mau apa
dia? Aku masih diam tak menjawab, kubalikkan badanku
sehingga aku tidur telentang, kupejamkan mataku, kedua
tangan kumasukkan ke bawah bantal. Ketukan di pintu
berulang lagi disertai panggilan.
"Persetan!", pikirku sambil terus memejamkan mata. Tak
lama kemudian aku kaget sendiri mendengar pegangan pintu
diputar, kulirik sedikit melalui sudut mataku, kulihat
pintu bergerak membuka pelan, lalu muncul kepala Ajie
memandang ke arahku, aku pura-pura tidur, aku tak mau
diganggu.
"Tante...?", Suaranya berbisik, aku diam saja.
Kupejamkan mataku makin erat.
Beberapa saat aku tidak mendengar apapun, tapi tiba-tiba
aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip
melalui sudut mata, astaga ternyata Ajie sudah berdiri
di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap
tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaun tidurku,
aku lupa sedang mengenakan baju tidur yang tipis apalagi
dengan tidur telentang pula. Hatiku jadi berdebar-debar,
kulihat Ajie menelan ludah, pelan-pelan tangannya
menyingkap gaunku, hatiku makin berdebar tak karuan. Mau
apa dia? Tapi aku terus pura-pura tidur.
"Tante...", Suara Ajie terdengar keras, kupikir ia
sedang ingin memastikan apakah tidurku betul-betul
nyenyak atau tidak. Kuputuskan untuk terus pura-pura
tidur. Kemudian kurasakan gaun tidurku tersingkap semua
sampai leher, lalu kurasakan tangan Ajie mengelus
bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tenang
agar pemuda itu tidak curiga.
Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena
tangan kumasukkan bawah bantal jadi otomatis ketiakku
terlihat. Kuintip lagi..., buseet wajah pemuda itu dekat
sekali dengan wajahku, tapi aku yakin dia masih belum
tahu aku pura-pura tidur, kuatur napas selembut mungkin.
Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu
kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin
tahu apa yang akan dilakukannya terhadap tubuhku. Tak
lama kemudian kurasakan tangannya meraba buah dadaku
yang masih tertutup BH, mula-mula ia cuma mengelus-elus,
aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu
kurasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan
seperti ada yg sedang bergolak di dalam tubuhku, sudah
lama aku tidak merasakan sentuhan laki-laki. Sekarang
aku sangat merindukan kekasaran seorang pria, aku
memutuskan terus diam sampai saatnya tiba.
Sekarang tangan Ajie sedang berusaha membuka kancing
BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan
dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku
ingin merintih nikmat tapi nanti malah membuatnya takut,
jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan
tangannya gemetar ketika memencet puting susuku, kulirik
pelan, kulihat Ajie mendekatkan wajahnya kearah buah
dadaku, lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku
ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku
terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna
merah tua sudah berkilat oleh air liurnya, perasaanku
campur aduk tidak karuan, nikmat sekali. Mulutnya terus
menyedot puting susuku disertai dengan gigitan-gigitan
kecil, tangan kanan Ajie mulai menelusuri
selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku
yg masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah
basah atau belum, yang jelas jari-jari Ajie
menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu
kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku,
jantungku berdebar keras sekali, kurasakan kenikmatan
menjalari tubuhku. Jari-jari Ajie sedang berusaha
memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas
masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri
sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku
sambil menyentakkan tubuhku.
"Ajie!!! Ngapain kamu?", Aku berusaha bangun duduk, tapi
kedua tangan Ajie menekan pundakku dengan keras.
Tiba-tiba Ajie mencium mulutku secepat kilat, aku
berusaha memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapi
Ajie makin keras menekan pundakku, malah pemuda itu
sekarang menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas
ditekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya
kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam
mulutku, aku pura-pura menolak.
"Tante..., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan
ini, maafkan saya tante" Ajie melepaskan ciumannya lalu
memandangku dengan pandangan meminta.
"Kamu kan bisa dengan teman-teman kamu yang masih muda.
Tante kan sudah tua" Ujarku lembut.
"Tapi saya sudah tergila-gila dengan tante..., saya akan
memuaskan tante sepuas-puasnya", Jawab Ajie.
"Ah kamu..., ya sudahlah terserah kamu sajalah", Aku
pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah
tak tahan ingin dijamah olehnya. Kemudian Ajie
melepaskan gaun tidurku, sehingga aku cuma memakai
celana dalam saja. Lalu Ajie melepaskan pakaiannya,
sehingga aku bisa melihat penisnya yang besar sekali,
penis itu sudah menegang keras. Ajie mendekat ke arahku.
"Tante diam saja ya", Kata Ajie. Aku diam sambil
berbaring telentang, kemudian Ajie mulai menciumi
wajahku, telingaku dijilatinya, aku mengerang-erang,
kemudian leherku dijilat juga, sementara tangannya
meremas buah dadaku dengan lembut. Tak lama kemudian
Ajie merenggangkan kedua pahaku, lalu kepalanya menyusup
ke selangkanganku. vaginaku yang masih tertutup CD
dijilat dan dihisap-hisapnya, aku menggeliat-geliat
menahan rasa nikmat yang luar biasa. Lalu Ajie menarik
CD-ku sampai copot, kedua kakiku diangkatnya sampai
pinggulku juga terangkat, sehingga tubuhku menekuk,
kulihat vaginaku yang berbulu sangat lebat itu mengarah
ke wajahku, punggungku agak sakit, tapi kutahan, aku
ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian Ajie
mulai menjilati vaginaku, kulihat lidahnya terjulur
menyibak bulu vaginaku, lalu menyusup ke belahan bibir
vaginaku, aku merintih keras, nikmat sekali, clitorisku
dihisap-hisapnya, kurasakan lidahnya menjulur masuk ke
dalam lubang vaginaku, mulutnya sudah bergelimang
lendirku, aku terangsang sekali melihat kelahapan pemuda
itu menikmati vaginaku, padahal kupikir vaginaku sudah
tidak menarik lagi.
"Enak Ajie? Bau kan?", Bisikku sambil terus melihatnya
melahap lubangku.
"Enak sekali tante, saya suka sekali baunya", Jawab
Ajie, aku makin terangsang. Tak lama aku merasakan
puncaknya ketika Ajie makin dalam memasukkan lidahnya ke
dalam vaginaku.
"Ajiee..., aa..., enaakk" Kurasakan tubuhku ngilu semua
ketika mencapai orgasme, Ajie terus menyusupkan lidahnya
keluar masuk vaginaku. Kuremas-remas dan kugaruk-garuk
rambut Ajie. Kemudian kulihat Ajie mulai menjilat lubang
pantatku, aku kegelian, tapi Ajie tidak peduli, ia
berusaha membuka lubang pantatku, aku mengerahkan tenaga
seperti sedang buang air sehingga kulihat lidah Ajie
berhasil menyusup kesela lubang pantatku, aku mulai
merasakan kenikmatan bercampur geli.
"Terus Jie..., aduh nikmat banget, geli..., teruss...,
hh...", Aku mengerang-erang, Ajie terus menusukkan
lidahnya ke dalam lubang pantatku, kadang-kadang jarinya
dimasukkan ke dalam lalu dikeluarkan lagi untuk dijilat
sambil memandangku.
"Enak? Jorok kan?".
"Enak tante..., nikmat kok", Jawab Ajie, tak lama
kemudian aku kembali orgasme, aku tahu lendir vaginaku
sudah membanjir. Kucoba meraih penis Ajie, tapi sulit
sekali. Aku merasa kebelet ingin pipis, tiba-tiba tanpa
dapat kutahan air kencingku memancar sedikit, aku
mencoba menahannya.
"Aduh sorry Jie..., nggak tahan mau pipis dulu" Aku
ingin bangun tapi kulihat Ajie langsung menjilat air
kencingku yang berwarna agak kuning. Gila! Aku berusaha
menghindar, tapi ia malah menyurukkan seluruh mulutnya
ke dalam vaginaku.
"aa..., jangan Ajie..., jangan dijilat, itu kan pipis
Tante", Aku bangun berjalan ke kamar mandi, kulihat Ajie
mengikutiku.
"Tante pipis dulu, Ajie jangan ikut ah..., malu", Kataku
sambil menutup pintu kamar mandi, tapi Ajie menahan dan
ikut masuk.
"Saya ingin lihat Tante".
"Terserah deh".
"Saya ingin merasakan air pipis tante", Aku tersentak.
"Gila kamu? Masak air pipis mau...", Belum habis
ucapanku, Ajie sudah telentang di atas lantai kamar
mandiku.
"Please tante...", Hatiku berdebar, aku belum pernah
merasakan bagaimana mengencingi orang, siapa yang mau?
Eh sekarang ada yang memohon untuk dikencingi. Akhirnya
kuputuskan untuk mencoba.
"Terserah deh..." Jawabku, lalu aku berdiri diantara
kepalanya, kemudian pelan-pelan aku jongkok di atas
wajahnya, kurasakan vaginaku menyentuh hidungnya. Ajie
menekan pinggulku sehingga hidungnya amblas ke dalam
vaginaku, aku tak peduli, kugosok-gosok vaginaku di
sana, dan sensasinya luar biasa, kemudian lidahnya mulai
menjulur lalu menjilati lubang pantatku lagi, sementara
aku sudah tidak tahan.
"Awas..., mau keluar" Ajie memejamkan matanya. Kuarahkan
lubang vaginaku ke mulutnya, kukuakkan bibir vaginaku
supaya air kencingku tidak memencar, kulihat Ajie
menjulurkan lidahnya menjilati bibir vaginaku, lalu
memancarlah air kencingku dengan sangat deras, semuanya
masuk ke dalam mulut Ajie, sebagian besar keluar lagi.
Tiba-tiba Ajie menusuk vaginaku dengan jarinya sehingga
kencingku tertahan seketika, kenikmatan yang luar biasa
kurasakan ketika kencingku tertahan, lalu vaginaku
ditusuk terus keluar masuk dengan jarinya. Kira-kira 1
menit kurasakan kencingku kembali memancar dashyat,
sambil pipis sambil kugosok-gosokkan vaginaku ke seluruh
wajah Ajie. Pemuda itu masih memejamkan matanya.
Akhirnya kulihat kencingku habis, yang keluar cuma tetes
tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk
ke dalam mulut pemuda itu, dan Ajie menjilat serta
menghisap habis. Aku juga tak tahan, kucium mulut Ajie
dengan lahap, kurasakan lendirku sedikit asin, kuraih
penis Ajie, kukocok-kocok, kemudian kuselomoti penis
yang besar itu. Kusuruh Ajie nungging diatas wajahku,
lalu kusedot penisnya yang sudah basah sekali oleh
lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang
kencingnya. Ajie mulai memompa penisnya di dalam
mulutku, keluar masuk seolah-olah mulutku adalah vagina,
aku tidak peduli, kurasakan Ajie sedang mencelucupi
vaginaku sambil mengocok lubang pantatku.
Kuberanikan mencoba menjilat lubang pantat Ajie yang
sedikit berbulu dan berwarna kehitam-hitaman. Tidak ada
rasanya, kuteruskan menjilat lubang pantatnya,
kadang-kadang kusedot bijinya, kadang-kadang penisnya
kembali masuk ke mulutku. Tak lama kemudian kurasakan
tubuh Ajie menegang lalu ia menjerit keras. penisnya
menyemburkan air mani panas yang banyak sekali di dalam
mulutku. Kuhisap terus, kucoba untuk menelan semua air
mani yang rada asin itu, sebagian menyembur ke wajahku,
ku kocok penisnya, Ajie seperti meregang nyawa, tubuhnya
berliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah
beberapa lama, akhirnya penis itu agak melemas, tapi
terus kuhisap.
"Tante mau coba pipis Ajie nggak?" Aku ingin menolak,
tapi kupikir itu tidak fair.
"Ya deh... Tapi sedikit aja" Jawabku. Kemudian Ajie
berlutut di atas wajahku, lalu kedua tangannya
mengangkat kepalaku sehingga penisnya tepat mengarah
kemulutku. Kujilat-jilat kepala penisnya yang masih
berlendir. Tak lama kemudian air pipis Ajie menyembur
masuk ke dalam mulutku, terasa panas dan asin, sedikit
pahit. Kupejamkan mataku, yang kurasakan kemudian air
pipis Ajie terus menyembur ke seluruh wajahku, sebagian
kuminum. Ajie memukul-mukulkan penisnya ke wajah dan
mulutku. Setelah habis kencingnya, aku kembali menyedot
penisnya sambil mengocok juga. Kira-kira 2 menit penis
Ajie mulai tegang kembali, keras seperti kayu. Ajie lalu
mengarahkan penisnya ke vaginaku, kutuntun penis itu
masuk ke dalam vaginaku. Kemudian pemuda itu mulai
memompa penis besarnya ke dalam vaginaku. Aku merasakan
kenikmatan yang bukan main setiap penis itu dicabut lalu
ditusuk lagi. Kadang Ajie mencabut penisnya lalu
memasukkannya ke dalam mulutku, kemudian kurasakan
pemuda itu berusaha menusuk masuk ke dalam lubang
pantatku.
"Pelan-pelan..., sakit" Kataku, kemudian kurasakan penis
itu menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatku,
sakit sekali, tapi diantara rasa sakit itu ada rasa
nikmatnya. Kucoba menikmati, lama-lama aku yang
keenakan, sudah 3 kali aku mencapai orgasme, sedangkan
Ajie masih terus bergantian menusuk vagina atau
pantatku. Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air
pipis, kulihat lantai kamar mandiku yang tadinya kering,
sekarang basah semua.
"aakkhh..., tante, tante..., aa" Ajie merengek-rengek
sambil memompa terus penisnya di dalam lubang pantatku.
Dengan sigap aku bangun lalu secepat kilat kumasukkan
penisnya ke dalam mulutku, kuselomoti penis itu sampai
akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penis Ajie
disertai jeritan panjang, untung tidak ada orang
dirumah. Air maninya menyembur banyak sekali, sebagian
kutelan sebagian lagi kuarahkan ke wajahku sehingga
seluruh wajahku berlumuran air mani pemuda itu.
Kemudian Ajie menggosok penisnya ke seluruh wajahku,
lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai
kamar mandi. Kepuasan yang kudapat hari itu benar-benar
sangat berarti. Aku makin sayang dengan Ajie. Ada saja
sensasi dan cara baru setiap kali kami bercinta.
dibilang karirku sudah mencapai tingkat tertinggi dari
yang pernah kuimpikan. Tahun lalu aku memutuskan keluar
dari pekerjaanku yang sangat baik itu, aku ingin
memperbaiki rumah tanggaku yang berantakan karena selama
5 tahun ini aku dan suami tidak pernah berkomunikasi
dengan baik sehingga kami masing-masing memiliki
kegiatan di luar rumah sendiri-sendiri. Anak kami
satu-satunya sekolah di luar negeri, kesempatan untuk
berkomunikasi makin sedikit sampai akhirnya kuputuskan
untuk memulai lagi hubungan dengan suamiku dari bawah.
Tapi apa boleh buat semua malah berantakan, suamiku
memilih cerai ketika aku sudah keluar dari karirku
selama 3 bulan. Aku tak dapat menyalahkannya karena
akupun tidak begitu antusias lagi setelah mengetahui dia
mempunyai wanita simpanan, dan itu juga bukan salahnya
maupun salahku. Kupikir itu adalah takdir yang harus
kujalani.
Sekarang usiaku sudah 39 tahun dan aku tidak pernah
bermimpi untuk menikah lagi, sehari-hari aku lebih
banyak berjalan-jalan dengan teman, kadang-kadamg kami
traveling untuk membunuh waktu belaka. Sejak 3 bulan
yang lalu aku membiarkan salah seorang keponakanku untuk
tinggal di rumahku, aku tergerak menolong orang tuanya
yang mempunyai ekonomi pas-pasan sehingga untuk kost
tentu memerlukan biaya yang mahal, sedangkan untuk bayar
kuliah saja mereka sudah bekerja mati-matian.
Keponakanku bernama Ajie, usianya sekitar 22 tahun,
kubiarkan ia tinggal di salah satu kamar di lantai 2.
Ajie sangat sopan dan tahu diri, jadi kupikir sangat
menguntungkan ada seseorang yang dapat menjaga rumahku
sewaktu aku dan teman-teman traveling. Tapi ternyata
Ajie membawa berkah yang lain.
Pagi itu aku segan sekali bangun dari ranjang, baru
kemarin malam aku kembali dari Thailand dan kebetulan
hari itu adalah hari minggu, sehingga aku memutuskan
akan tidur sepuas mungkin, semua pembatu libur pada hari
minggu, mereka boleh kemana saja, aku tidak peduli asal
jangan menganggu tidurku. Aku tergolek saja di ranjang,
baju tidurku terbuat dari sutera tipis berwarna putih,
kupandangi tubuhku yang mulai gempal, kupikir aku harus
mulai senam lagi. Kulihat jam menunjukkan angka 10. Ah
biarlah aku ingin tidur lagi, jadi aku mulai
terkantuk-kantuk lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara
langkah kaki di depan pintu, lalu terdengar ketukan, aku
diam saja, mungkin salah seorang pembantu ingin mengacau
tidurku.
"Tante..., Tante...", ooh ternyata suara Ajie. Mau apa
dia? Aku masih diam tak menjawab, kubalikkan badanku
sehingga aku tidur telentang, kupejamkan mataku, kedua
tangan kumasukkan ke bawah bantal. Ketukan di pintu
berulang lagi disertai panggilan.
"Persetan!", pikirku sambil terus memejamkan mata. Tak
lama kemudian aku kaget sendiri mendengar pegangan pintu
diputar, kulirik sedikit melalui sudut mataku, kulihat
pintu bergerak membuka pelan, lalu muncul kepala Ajie
memandang ke arahku, aku pura-pura tidur, aku tak mau
diganggu.
"Tante...?", Suaranya berbisik, aku diam saja.
Kupejamkan mataku makin erat.
Beberapa saat aku tidak mendengar apapun, tapi tiba-tiba
aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip
melalui sudut mata, astaga ternyata Ajie sudah berdiri
di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap
tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaun tidurku,
aku lupa sedang mengenakan baju tidur yang tipis apalagi
dengan tidur telentang pula. Hatiku jadi berdebar-debar,
kulihat Ajie menelan ludah, pelan-pelan tangannya
menyingkap gaunku, hatiku makin berdebar tak karuan. Mau
apa dia? Tapi aku terus pura-pura tidur.
"Tante...", Suara Ajie terdengar keras, kupikir ia
sedang ingin memastikan apakah tidurku betul-betul
nyenyak atau tidak. Kuputuskan untuk terus pura-pura
tidur. Kemudian kurasakan gaun tidurku tersingkap semua
sampai leher, lalu kurasakan tangan Ajie mengelus
bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tenang
agar pemuda itu tidak curiga.
Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena
tangan kumasukkan bawah bantal jadi otomatis ketiakku
terlihat. Kuintip lagi..., buseet wajah pemuda itu dekat
sekali dengan wajahku, tapi aku yakin dia masih belum
tahu aku pura-pura tidur, kuatur napas selembut mungkin.
Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu
kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin
tahu apa yang akan dilakukannya terhadap tubuhku. Tak
lama kemudian kurasakan tangannya meraba buah dadaku
yang masih tertutup BH, mula-mula ia cuma mengelus-elus,
aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu
kurasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan
seperti ada yg sedang bergolak di dalam tubuhku, sudah
lama aku tidak merasakan sentuhan laki-laki. Sekarang
aku sangat merindukan kekasaran seorang pria, aku
memutuskan terus diam sampai saatnya tiba.
Sekarang tangan Ajie sedang berusaha membuka kancing
BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan
dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku
ingin merintih nikmat tapi nanti malah membuatnya takut,
jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan
tangannya gemetar ketika memencet puting susuku, kulirik
pelan, kulihat Ajie mendekatkan wajahnya kearah buah
dadaku, lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku
ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku
terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna
merah tua sudah berkilat oleh air liurnya, perasaanku
campur aduk tidak karuan, nikmat sekali. Mulutnya terus
menyedot puting susuku disertai dengan gigitan-gigitan
kecil, tangan kanan Ajie mulai menelusuri
selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku
yg masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah
basah atau belum, yang jelas jari-jari Ajie
menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu
kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku,
jantungku berdebar keras sekali, kurasakan kenikmatan
menjalari tubuhku. Jari-jari Ajie sedang berusaha
memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas
masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri
sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku
sambil menyentakkan tubuhku.
"Ajie!!! Ngapain kamu?", Aku berusaha bangun duduk, tapi
kedua tangan Ajie menekan pundakku dengan keras.
Tiba-tiba Ajie mencium mulutku secepat kilat, aku
berusaha memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapi
Ajie makin keras menekan pundakku, malah pemuda itu
sekarang menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas
ditekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya
kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam
mulutku, aku pura-pura menolak.
"Tante..., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan
ini, maafkan saya tante" Ajie melepaskan ciumannya lalu
memandangku dengan pandangan meminta.
"Kamu kan bisa dengan teman-teman kamu yang masih muda.
Tante kan sudah tua" Ujarku lembut.
"Tapi saya sudah tergila-gila dengan tante..., saya akan
memuaskan tante sepuas-puasnya", Jawab Ajie.
"Ah kamu..., ya sudahlah terserah kamu sajalah", Aku
pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah
tak tahan ingin dijamah olehnya. Kemudian Ajie
melepaskan gaun tidurku, sehingga aku cuma memakai
celana dalam saja. Lalu Ajie melepaskan pakaiannya,
sehingga aku bisa melihat penisnya yang besar sekali,
penis itu sudah menegang keras. Ajie mendekat ke arahku.
"Tante diam saja ya", Kata Ajie. Aku diam sambil
berbaring telentang, kemudian Ajie mulai menciumi
wajahku, telingaku dijilatinya, aku mengerang-erang,
kemudian leherku dijilat juga, sementara tangannya
meremas buah dadaku dengan lembut. Tak lama kemudian
Ajie merenggangkan kedua pahaku, lalu kepalanya menyusup
ke selangkanganku. vaginaku yang masih tertutup CD
dijilat dan dihisap-hisapnya, aku menggeliat-geliat
menahan rasa nikmat yang luar biasa. Lalu Ajie menarik
CD-ku sampai copot, kedua kakiku diangkatnya sampai
pinggulku juga terangkat, sehingga tubuhku menekuk,
kulihat vaginaku yang berbulu sangat lebat itu mengarah
ke wajahku, punggungku agak sakit, tapi kutahan, aku
ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian Ajie
mulai menjilati vaginaku, kulihat lidahnya terjulur
menyibak bulu vaginaku, lalu menyusup ke belahan bibir
vaginaku, aku merintih keras, nikmat sekali, clitorisku
dihisap-hisapnya, kurasakan lidahnya menjulur masuk ke
dalam lubang vaginaku, mulutnya sudah bergelimang
lendirku, aku terangsang sekali melihat kelahapan pemuda
itu menikmati vaginaku, padahal kupikir vaginaku sudah
tidak menarik lagi.
"Enak Ajie? Bau kan?", Bisikku sambil terus melihatnya
melahap lubangku.
"Enak sekali tante, saya suka sekali baunya", Jawab
Ajie, aku makin terangsang. Tak lama aku merasakan
puncaknya ketika Ajie makin dalam memasukkan lidahnya ke
dalam vaginaku.
"Ajiee..., aa..., enaakk" Kurasakan tubuhku ngilu semua
ketika mencapai orgasme, Ajie terus menyusupkan lidahnya
keluar masuk vaginaku. Kuremas-remas dan kugaruk-garuk
rambut Ajie. Kemudian kulihat Ajie mulai menjilat lubang
pantatku, aku kegelian, tapi Ajie tidak peduli, ia
berusaha membuka lubang pantatku, aku mengerahkan tenaga
seperti sedang buang air sehingga kulihat lidah Ajie
berhasil menyusup kesela lubang pantatku, aku mulai
merasakan kenikmatan bercampur geli.
"Terus Jie..., aduh nikmat banget, geli..., teruss...,
hh...", Aku mengerang-erang, Ajie terus menusukkan
lidahnya ke dalam lubang pantatku, kadang-kadang jarinya
dimasukkan ke dalam lalu dikeluarkan lagi untuk dijilat
sambil memandangku.
"Enak? Jorok kan?".
"Enak tante..., nikmat kok", Jawab Ajie, tak lama
kemudian aku kembali orgasme, aku tahu lendir vaginaku
sudah membanjir. Kucoba meraih penis Ajie, tapi sulit
sekali. Aku merasa kebelet ingin pipis, tiba-tiba tanpa
dapat kutahan air kencingku memancar sedikit, aku
mencoba menahannya.
"Aduh sorry Jie..., nggak tahan mau pipis dulu" Aku
ingin bangun tapi kulihat Ajie langsung menjilat air
kencingku yang berwarna agak kuning. Gila! Aku berusaha
menghindar, tapi ia malah menyurukkan seluruh mulutnya
ke dalam vaginaku.
"aa..., jangan Ajie..., jangan dijilat, itu kan pipis
Tante", Aku bangun berjalan ke kamar mandi, kulihat Ajie
mengikutiku.
"Tante pipis dulu, Ajie jangan ikut ah..., malu", Kataku
sambil menutup pintu kamar mandi, tapi Ajie menahan dan
ikut masuk.
"Saya ingin lihat Tante".
"Terserah deh".
"Saya ingin merasakan air pipis tante", Aku tersentak.
"Gila kamu? Masak air pipis mau...", Belum habis
ucapanku, Ajie sudah telentang di atas lantai kamar
mandiku.
"Please tante...", Hatiku berdebar, aku belum pernah
merasakan bagaimana mengencingi orang, siapa yang mau?
Eh sekarang ada yang memohon untuk dikencingi. Akhirnya
kuputuskan untuk mencoba.
"Terserah deh..." Jawabku, lalu aku berdiri diantara
kepalanya, kemudian pelan-pelan aku jongkok di atas
wajahnya, kurasakan vaginaku menyentuh hidungnya. Ajie
menekan pinggulku sehingga hidungnya amblas ke dalam
vaginaku, aku tak peduli, kugosok-gosok vaginaku di
sana, dan sensasinya luar biasa, kemudian lidahnya mulai
menjulur lalu menjilati lubang pantatku lagi, sementara
aku sudah tidak tahan.
"Awas..., mau keluar" Ajie memejamkan matanya. Kuarahkan
lubang vaginaku ke mulutnya, kukuakkan bibir vaginaku
supaya air kencingku tidak memencar, kulihat Ajie
menjulurkan lidahnya menjilati bibir vaginaku, lalu
memancarlah air kencingku dengan sangat deras, semuanya
masuk ke dalam mulut Ajie, sebagian besar keluar lagi.
Tiba-tiba Ajie menusuk vaginaku dengan jarinya sehingga
kencingku tertahan seketika, kenikmatan yang luar biasa
kurasakan ketika kencingku tertahan, lalu vaginaku
ditusuk terus keluar masuk dengan jarinya. Kira-kira 1
menit kurasakan kencingku kembali memancar dashyat,
sambil pipis sambil kugosok-gosokkan vaginaku ke seluruh
wajah Ajie. Pemuda itu masih memejamkan matanya.
Akhirnya kulihat kencingku habis, yang keluar cuma tetes
tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk
ke dalam mulut pemuda itu, dan Ajie menjilat serta
menghisap habis. Aku juga tak tahan, kucium mulut Ajie
dengan lahap, kurasakan lendirku sedikit asin, kuraih
penis Ajie, kukocok-kocok, kemudian kuselomoti penis
yang besar itu. Kusuruh Ajie nungging diatas wajahku,
lalu kusedot penisnya yang sudah basah sekali oleh
lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang
kencingnya. Ajie mulai memompa penisnya di dalam
mulutku, keluar masuk seolah-olah mulutku adalah vagina,
aku tidak peduli, kurasakan Ajie sedang mencelucupi
vaginaku sambil mengocok lubang pantatku.
Kuberanikan mencoba menjilat lubang pantat Ajie yang
sedikit berbulu dan berwarna kehitam-hitaman. Tidak ada
rasanya, kuteruskan menjilat lubang pantatnya,
kadang-kadang kusedot bijinya, kadang-kadang penisnya
kembali masuk ke mulutku. Tak lama kemudian kurasakan
tubuh Ajie menegang lalu ia menjerit keras. penisnya
menyemburkan air mani panas yang banyak sekali di dalam
mulutku. Kuhisap terus, kucoba untuk menelan semua air
mani yang rada asin itu, sebagian menyembur ke wajahku,
ku kocok penisnya, Ajie seperti meregang nyawa, tubuhnya
berliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah
beberapa lama, akhirnya penis itu agak melemas, tapi
terus kuhisap.
"Tante mau coba pipis Ajie nggak?" Aku ingin menolak,
tapi kupikir itu tidak fair.
"Ya deh... Tapi sedikit aja" Jawabku. Kemudian Ajie
berlutut di atas wajahku, lalu kedua tangannya
mengangkat kepalaku sehingga penisnya tepat mengarah
kemulutku. Kujilat-jilat kepala penisnya yang masih
berlendir. Tak lama kemudian air pipis Ajie menyembur
masuk ke dalam mulutku, terasa panas dan asin, sedikit
pahit. Kupejamkan mataku, yang kurasakan kemudian air
pipis Ajie terus menyembur ke seluruh wajahku, sebagian
kuminum. Ajie memukul-mukulkan penisnya ke wajah dan
mulutku. Setelah habis kencingnya, aku kembali menyedot
penisnya sambil mengocok juga. Kira-kira 2 menit penis
Ajie mulai tegang kembali, keras seperti kayu. Ajie lalu
mengarahkan penisnya ke vaginaku, kutuntun penis itu
masuk ke dalam vaginaku. Kemudian pemuda itu mulai
memompa penis besarnya ke dalam vaginaku. Aku merasakan
kenikmatan yang bukan main setiap penis itu dicabut lalu
ditusuk lagi. Kadang Ajie mencabut penisnya lalu
memasukkannya ke dalam mulutku, kemudian kurasakan
pemuda itu berusaha menusuk masuk ke dalam lubang
pantatku.
"Pelan-pelan..., sakit" Kataku, kemudian kurasakan penis
itu menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatku,
sakit sekali, tapi diantara rasa sakit itu ada rasa
nikmatnya. Kucoba menikmati, lama-lama aku yang
keenakan, sudah 3 kali aku mencapai orgasme, sedangkan
Ajie masih terus bergantian menusuk vagina atau
pantatku. Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air
pipis, kulihat lantai kamar mandiku yang tadinya kering,
sekarang basah semua.
"aakkhh..., tante, tante..., aa" Ajie merengek-rengek
sambil memompa terus penisnya di dalam lubang pantatku.
Dengan sigap aku bangun lalu secepat kilat kumasukkan
penisnya ke dalam mulutku, kuselomoti penis itu sampai
akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penis Ajie
disertai jeritan panjang, untung tidak ada orang
dirumah. Air maninya menyembur banyak sekali, sebagian
kutelan sebagian lagi kuarahkan ke wajahku sehingga
seluruh wajahku berlumuran air mani pemuda itu.
Kemudian Ajie menggosok penisnya ke seluruh wajahku,
lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai
kamar mandi. Kepuasan yang kudapat hari itu benar-benar
sangat berarti. Aku makin sayang dengan Ajie. Ada saja
sensasi dan cara baru setiap kali kami bercinta.
SECRET 3
First Secret [Episode III]
Seminggu, aku tidak dapat bertemu lagi dengan Tina,
karena aku ada tamu dari kantor pusat. Aku tidak sempat
berkata, bertemu wajah, atau mendengar suaranya.
Akhirnya, pada tanggal 14 Januari....
Dia memakai baju kesukaanku, tipis dan berbunga. BHnya
kelihatan dan menampakkan perbedaan antara kulitnya
dengan BHnya.
Dandanannya sangat sederhana, tetapi membuatnya tampil
cantik.
Dia mengingatkan aku untuk rapat dengan partner kerja
dari BCA di ruangan rapat. "Coba, kamu cek apakah
ruangan rapatnya sudah siap", kataku alasan saja.
Di dalam ruang rapat, aku bertemu dengan dia. Dia tampak
menungguku juga.
"Tina, maafkan yang dulu.." ...dia menggeleng, tersenyum
tidak nyaman.
Aku kecup keningnya.. "Pak.. "...aku ingin menyenangkan
dan membayar utangku dulu.. rasanya.. tapi suasananya
tidak memungkinkan.
Rapat diadakan jam 13.00, tinggal 30 menit lagi. Wah!
gawat, kontolku sudah tegak lagi mendengar "Paak.." dari
Tina.
Karena ruang rapat tidak berjendela, dan kuncinya ada di
dalam, aku langsung kunci dari dalam, dan memutuskan
untuk melakukannya di dalam. "Tina"..aku langsung cium
dia.. aku tidak dapat menahan nafsuku untuk
memasukinya.. sekarang!
Aku lepas kancing baju dan roknya tapi tidak sampai
terlepas. Semuanya sudah tampak, tapi tanpa melepaskan
semuanya. Aku lepas sabukku dan kukeluarkan kontolku dan
kupelorotkan celanaku sampai lutut.
Aku cium putingnya dan langsung membuat dia mengangkat
dadanya.
"Ohhhhhmm... Pak.. jangan sekarang...." ..."Kamu nggak
ingin ?" tanyaku.."Tapi...ss".. Memang gila, aku akan
melakukannya di kantor pada jam kantor! di ruang rapat!
Langsung aku naikkan bokongnya untuk duduk dan
terlentang di meja rapat yang besar itu, dan aku mulai
menjilati memeknya, mencari clitorisnya.."gimana rasanya
ini Tiiin" aku membuat suasana nyaman..
"Ahhhh... paakk.... enhhakkk"..
Basah sudah memeknya, cairannya sampai membasahi daerah
paha atasnya hingga turun.. aku gigit seluruh pahanya
hingga memerah.. Memeknya berwarna merah muda dan sangat
basah..aku coba menggosok clitorisnya dengan
telunjukku.. dia bergetar
hebat..."hhhhshshshhhshhshs..."
Aku langsung berdiri dan menggesek-gesekkan kontolku ke
atas memeknya.. dan mengenai clitorisnya. "MMhhshhs
ohhsmmshhs.. Pakkk.. diapakan saya Pakkk"..."Enak,
Tiinn?"
"Yyyyyyaasshhh...hgnggnghhm....."..sejenak aku berpikir
tentang hal yang telah aku lakukan ini. apakah Tina akan
menyukainya ? atau akan menganggapku menghinanya ? .aku
melihat wajahnya, tampak dia merasa nyaman sekali.. dan
tidak ingin berpisah denganku.. aku menjadi ingin lebih
.. Aku kaget..ketika..
"Hhshshh.. mmms.." dia memalingkan muka menghindari
mulutnya bersentuhan terlalu banyak denganku (mungkin
takut ketahuan nantinya), sehingga dandanan di wajahnya
terlihat terjaga rapi..
"Ayyyyyoooo.." bisiknya merintih.
AYO ? ayo apa ? pikirku ? masihkah dia ingin aku masuki
? Kupercepat gesekan kontolku, maju-mundur, kanan-kiri,
dan kadang kupukulkan ke arah clitorisnya..Kepalanya
goyang ke kanan kiri..
"Phhhakk..." dia tarik kontolku lebih dalam dan sekarang
aku yakin bahwa dia memang ingin agar aku memasukkan
kontolku ke lobang memeknya!
"Masukin.. sekarang .. pakkk.. ayooo... chhhhept...
sgghgnnn"
"Tahan ya..Thhinn" aku juga terpengaruh kelakuannya yang
merangsang itu.
Perlahan, kepala kontolku memasuki lobang memeknya yang
hangat itu..
Sempit sekali, mulutnya terbuka dan nafasnya berhenti
sejenak.
Aku takut dia akan berteriak.."huffffnngggg... hshhshsh"
Akhirnya aku berhasil memasukkan dan kakinya mengejan
kuat sekali..
"Hhhhhhhhoohhhhhhmmmss... Phhhhhakkkkk....
eenhhhhakkkk... Phhakkk.."
Tangannya mencengkeram lenganku dan memaksaku untuk
memasukkan lebih dalamlagi.
Aku tidak menyangka, bahwa Tina akan memintanya.. Aku
diamkan sekitar 30 detik dulu kontolku di dalam.. dari
matanya keluar air mata dan dia tersenyum kepadaku..
sambil terisak..campur tersenyum..
"Hhhhk.. hhk ..Phhak.. saya malu.."
"Nggak..gak apa-apa.. ayo tahan ya.."aku coba seperti
membimbing dia. Jantungku berdegup kencang sekali.. aku
tidak menyangka, operator teleponku sekarang sudah
berhubungan sex denganku di kantor!
Aku goyangkan perlahan maju-mundur.. matanya terbelalak
lagi..
Ternyata, dia memang perawan sekali, dia tidak pernah
merasakannya dari orang lain..
Kupercepat goyanganku... maju-mundur.."Hhhhhohhhh,..
Pak.. enhhakknya.." dia berbisik seperti ...terus
menerus... sudah 4 kali dia mengejankan kakinya.. tanda
dia orgasme..
Aku merasakan kontolku berdenyut-denyut ingin
mengeluarkan cairan kenikmatan segera mungkin..
"Thiiinn... thinnna... huhhmmmsm" goyanganku
kupercepat...."hshh hsh hshshhhe...ss"
Mataku terpejam menikmati saat-saat terakhir akan
terjadi...
Tiba-tiba, HPku berbunyi, membuat kami kaget sekali..
kupercepat goyangan pinggulku maju-mundur.. dia tampak
menjadi sangat liar, dan sangat tersiksa karena harus
menahan suara agar tidak terdengar orang luar.. Aku
terpaksa harus menghentikan goyanganku karena ternyata
rekanku yang akan datang untuk rapat menghubungiku lewat
HP itu; itu kutahu dari no. Hp yang muncul.
"Halo... Joko!, oya, sampai dimana ? Oya ? udah di loby
? Ok aku turun.."
Aku tutup HPku. Dan melanjutkan goyanganku... tapi,
kontolku sudah mulai turun semangatnya..
"Tina...." aku mencarinya..
"Oyya.. pak..." ternyata dia sudah berbenah...
rapi....cantik....
Kukecup keningnya..."Kamu benar-benar ingin tadi ?
"...."Hehhmm.." dia mengangguk.
"Bapak yang pertama"....Dia membantu mengelap kontolku
dengan sapu tangannya..sampai bersih.
Perasaanku kacau balau, senang, bingung, bangga,
takut....jadi satu...
Aku rapat dengan rekanku tanpa konsentrasi! kontolku
belum selesai bekerja!
Seminggu, aku tidak dapat bertemu lagi dengan Tina,
karena aku ada tamu dari kantor pusat. Aku tidak sempat
berkata, bertemu wajah, atau mendengar suaranya.
Akhirnya, pada tanggal 14 Januari....
Dia memakai baju kesukaanku, tipis dan berbunga. BHnya
kelihatan dan menampakkan perbedaan antara kulitnya
dengan BHnya.
Dandanannya sangat sederhana, tetapi membuatnya tampil
cantik.
Dia mengingatkan aku untuk rapat dengan partner kerja
dari BCA di ruangan rapat. "Coba, kamu cek apakah
ruangan rapatnya sudah siap", kataku alasan saja.
Di dalam ruang rapat, aku bertemu dengan dia. Dia tampak
menungguku juga.
"Tina, maafkan yang dulu.." ...dia menggeleng, tersenyum
tidak nyaman.
Aku kecup keningnya.. "Pak.. "...aku ingin menyenangkan
dan membayar utangku dulu.. rasanya.. tapi suasananya
tidak memungkinkan.
Rapat diadakan jam 13.00, tinggal 30 menit lagi. Wah!
gawat, kontolku sudah tegak lagi mendengar "Paak.." dari
Tina.
Karena ruang rapat tidak berjendela, dan kuncinya ada di
dalam, aku langsung kunci dari dalam, dan memutuskan
untuk melakukannya di dalam. "Tina"..aku langsung cium
dia.. aku tidak dapat menahan nafsuku untuk
memasukinya.. sekarang!
Aku lepas kancing baju dan roknya tapi tidak sampai
terlepas. Semuanya sudah tampak, tapi tanpa melepaskan
semuanya. Aku lepas sabukku dan kukeluarkan kontolku dan
kupelorotkan celanaku sampai lutut.
Aku cium putingnya dan langsung membuat dia mengangkat
dadanya.
"Ohhhhhmm... Pak.. jangan sekarang...." ..."Kamu nggak
ingin ?" tanyaku.."Tapi...ss".. Memang gila, aku akan
melakukannya di kantor pada jam kantor! di ruang rapat!
Langsung aku naikkan bokongnya untuk duduk dan
terlentang di meja rapat yang besar itu, dan aku mulai
menjilati memeknya, mencari clitorisnya.."gimana rasanya
ini Tiiin" aku membuat suasana nyaman..
"Ahhhh... paakk.... enhhakkk"..
Basah sudah memeknya, cairannya sampai membasahi daerah
paha atasnya hingga turun.. aku gigit seluruh pahanya
hingga memerah.. Memeknya berwarna merah muda dan sangat
basah..aku coba menggosok clitorisnya dengan
telunjukku.. dia bergetar
hebat..."hhhhshshshhhshhshs..."
Aku langsung berdiri dan menggesek-gesekkan kontolku ke
atas memeknya.. dan mengenai clitorisnya. "MMhhshhs
ohhsmmshhs.. Pakkk.. diapakan saya Pakkk"..."Enak,
Tiinn?"
"Yyyyyyaasshhh...hgnggnghhm....."..sejenak aku berpikir
tentang hal yang telah aku lakukan ini. apakah Tina akan
menyukainya ? atau akan menganggapku menghinanya ? .aku
melihat wajahnya, tampak dia merasa nyaman sekali.. dan
tidak ingin berpisah denganku.. aku menjadi ingin lebih
.. Aku kaget..ketika..
"Hhshshh.. mmms.." dia memalingkan muka menghindari
mulutnya bersentuhan terlalu banyak denganku (mungkin
takut ketahuan nantinya), sehingga dandanan di wajahnya
terlihat terjaga rapi..
"Ayyyyyoooo.." bisiknya merintih.
AYO ? ayo apa ? pikirku ? masihkah dia ingin aku masuki
? Kupercepat gesekan kontolku, maju-mundur, kanan-kiri,
dan kadang kupukulkan ke arah clitorisnya..Kepalanya
goyang ke kanan kiri..
"Phhhakk..." dia tarik kontolku lebih dalam dan sekarang
aku yakin bahwa dia memang ingin agar aku memasukkan
kontolku ke lobang memeknya!
"Masukin.. sekarang .. pakkk.. ayooo... chhhhept...
sgghgnnn"
"Tahan ya..Thhinn" aku juga terpengaruh kelakuannya yang
merangsang itu.
Perlahan, kepala kontolku memasuki lobang memeknya yang
hangat itu..
Sempit sekali, mulutnya terbuka dan nafasnya berhenti
sejenak.
Aku takut dia akan berteriak.."huffffnngggg... hshhshsh"
Akhirnya aku berhasil memasukkan dan kakinya mengejan
kuat sekali..
"Hhhhhhhhoohhhhhhmmmss... Phhhhhakkkkk....
eenhhhhakkkk... Phhakkk.."
Tangannya mencengkeram lenganku dan memaksaku untuk
memasukkan lebih dalamlagi.
Aku tidak menyangka, bahwa Tina akan memintanya.. Aku
diamkan sekitar 30 detik dulu kontolku di dalam.. dari
matanya keluar air mata dan dia tersenyum kepadaku..
sambil terisak..campur tersenyum..
"Hhhhk.. hhk ..Phhak.. saya malu.."
"Nggak..gak apa-apa.. ayo tahan ya.."aku coba seperti
membimbing dia. Jantungku berdegup kencang sekali.. aku
tidak menyangka, operator teleponku sekarang sudah
berhubungan sex denganku di kantor!
Aku goyangkan perlahan maju-mundur.. matanya terbelalak
lagi..
Ternyata, dia memang perawan sekali, dia tidak pernah
merasakannya dari orang lain..
Kupercepat goyanganku... maju-mundur.."Hhhhhohhhh,..
Pak.. enhhakknya.." dia berbisik seperti ...terus
menerus... sudah 4 kali dia mengejankan kakinya.. tanda
dia orgasme..
Aku merasakan kontolku berdenyut-denyut ingin
mengeluarkan cairan kenikmatan segera mungkin..
"Thiiinn... thinnna... huhhmmmsm" goyanganku
kupercepat...."hshh hsh hshshhhe...ss"
Mataku terpejam menikmati saat-saat terakhir akan
terjadi...
Tiba-tiba, HPku berbunyi, membuat kami kaget sekali..
kupercepat goyangan pinggulku maju-mundur.. dia tampak
menjadi sangat liar, dan sangat tersiksa karena harus
menahan suara agar tidak terdengar orang luar.. Aku
terpaksa harus menghentikan goyanganku karena ternyata
rekanku yang akan datang untuk rapat menghubungiku lewat
HP itu; itu kutahu dari no. Hp yang muncul.
"Halo... Joko!, oya, sampai dimana ? Oya ? udah di loby
? Ok aku turun.."
Aku tutup HPku. Dan melanjutkan goyanganku... tapi,
kontolku sudah mulai turun semangatnya..
"Tina...." aku mencarinya..
"Oyya.. pak..." ternyata dia sudah berbenah...
rapi....cantik....
Kukecup keningnya..."Kamu benar-benar ingin tadi ?
"...."Hehhmm.." dia mengangguk.
"Bapak yang pertama"....Dia membantu mengelap kontolku
dengan sapu tangannya..sampai bersih.
Perasaanku kacau balau, senang, bingung, bangga,
takut....jadi satu...
Aku rapat dengan rekanku tanpa konsentrasi! kontolku
belum selesai bekerja!
Subscribe to:
Posts (Atom)