Monday, April 30, 2007

YONDA

Wanita normal mana pun di dunia pasti tidak akan terima
bila mengetahui suaminya berselingkuh. Demikian juga
aku. Setelah mengetahui, suamiku yang pejabat di salah
satu instansi pemerintah itu ‘tidur’ dengan sekrertaris
pribadinya, sudah tak ada minat lagi bagiku untuk
mencari pasangan lain. Kerjaku kini hanyalah mencari
kesenangan dengan cara yang sangat tidak masuk akal.
Siapa pun karyawanku yang kuanggap kompeten, aku akan
membawanya ke atas ranjang.

Tak perlulah kuceritakan bagaimana latar belakangku.
Namun perlu diketahui, aku adalah janda muda kaya raya
yang memiliki harta warisan keluarga yang berlimpah.
Belum lagi, perusahaan alat berat yang kini aku kelola
adalah peninggalan suamiku setelah dia menikah lagi
dengan sekretaris pribadinya. Yang paling penting kini
hanyalah, aku ingin bercerita tentang sepak terjangku
sebagai seorang penikmat pria-pria muda yang ‘nota bene’
adalah karyawanku sendiri. Bila ada yang ingin mencerca,
mungkin aku memang pantas menerimanya.
Dari lima karyawan pria yang pernah mampir di atas tubuh
mulusku, salah satunya adalah Yonda. Pria ini sebenarnya
sudah termasuk pria dewasa, yakni berusia 27 tahun. Akan
tetapi, karena aku sudah berusia 36 tahun, aku tetap
menganggapnya sebagai gigolo yang memang pantas dan
pandai memuaskan tubuh mudaku di atas ranjang. Terlebih,
dia begitu materialistis dan selalu menuntut lebih,
walau Baleno mulus sudah ada di genggamannya.
Yonda sebenarnya tidak terlalu tampan. Karena walau
tubuhnya atletis dengan tinggi dan berat badan seimbang,
wajahnya biasa saja. Bahkan kalau diberi nilai, Yonda
hanya mendapat nilai enam, dibanding pria-pria muda lain
yang pernah kutelanjangi. Namun, pelayanannya dan
jilatan-jilatan liarnya di sekujur tubuhku bagai magnet
yang tak mampu kulepaskan. Sayangnya, walau dia mengemis
ingin kunikahi, hatiku tetap tak bergeming. Aku hanya
membutuhkan layanan liarnya.
Satu pengalaman bercinta yang tak pernah bisa kulupa
dengan Yonda adalah ketika dia tiba-tiba masuk ke ruang
kerjaku ketika karyawanku yang lain sibuk bekerja.
Seingatku, saat itu pukul 14.30 Wib, usai makan siang.
“Aku ingin bercinta,” bisiknya di telingaku setelah
sebelumnya mengunci pintu kamar kerjaku. Mendengar apa
yang dia katakan, tentu saja aku agak marah. Akan
tetapi, seperti tak peduli dengan kemarahanku, dia
lantas membalikan kursi kerjaku hingga menghadap
padanya.
Serta merta dia menyambar bibirku dan melumatnya dengan
penuh nafsu. Aku yang tadinya ingin mendorong tubuhnya,
jadi lemas tak berdaya. Di antara nafasku yang
megap-megap, tangan Yonda bergerilya bagai cacing
kepanasan. Dengan terampil dia melepaskan blouse-ku dan
mulai menyambar ke segala arah. Sampai akhirnya dia
menemukan bukit kembarku yang masih kenyal. “Yonda
sayang,” aku berbisik karena mulai dipermainkan birahi.
Yonda mendesah sambil terus melucuti seluruh pakaianku
hingga yang tersisa hanya pakaian dalam. Perlu
diketahui, aku memang gemar memakai G-string karena
lebih nyaman dan tidak meninggalkan bekas di balik rok
ketatku. “Aku sudah bilang berkali-kali, menikahlah
denganku. Tapi kau tidak mau peduli. Kau hanya sibuk
memikirkan uang dan uang,” cerca Yonda di balik
kesibukannya mempermainkan birahiku yang mulai memuncak.
Selanjutnya mungkin aku tidak perlu bercerita. Karena
setelah Yonda mulai tidak tahan, dia tanpa sungkan
menyingkirkan semua berkas yang ada di mejaku dan
menidurkan tubuh telanjangku di atas meja. Di antara
sejuknya udara pendingin ruangan, kembali, untuk
kesekian kalinya aku merasakan kenikmatan bercinta
dengan Yonda. Aku mengatakan bercinta, karena aku
melakukannya dengan sukarela dan atas dasar sayang.
Ya, aku memang mulai menyayangi Yonda. Tidak seperti
karyawan pria lain yang pernah menjamah tubuhku, Yonda
begitu piawai membawaku ke awang-awang. Dia seperti
mengerti, sudah kunikmatikah bagian tubuhnya yang masuk
ke dalam tubuhku, atau sudah sampai di puncakkah
perjuangan birahi kami, atau akau memang belum
mendapatkannya. Yonda sangat mengerti itu semua.
Aku kecanduan Yonda. Aku sangat menggemari apa saja yang
dia lakukan dengan tubuhku. Namun, sampai sekarang aku
tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadikannya
suamiku. Perbedaan usia kami demikian besar. Aku tidak
ingin dianggap sebagai pelahap daun muda. Biarlah apa
yang kurasakan kini, kunikmati dengan cara kusendiri.

FREE SEX

Pada suatu hari, aku pulang sekolah agak malam yaitu
sekitar pukul 8, soalnya banyak tugas club yang harus
dikerjakan dan besoknya harus dikumpulkan. Akhirnya
malam itu aku bersama teman-temanku selesai mengerjakan
tugas membuat web site club sepak bola di sekolahku.
Oooo.. iya aku lupa berkenalan. Aku orang Bandung, dan
aku sekarang kelas 1 SMU. Namaku Vicka. Lalu aku
menyerahkan disket itu kepada temenku (ketua kelompok)
untuk diserahkan kepada guruku besoknya.

Lalu setelah pulang, aku dan temenku berpencar, karena
rumahku dekat, maka aku memilih untuk mengambil jalan
pintas sebab aku jalan kaki. Pada saat aku melewati gang
yang gelap, maka aku sepertinya dibius oleh seseorang.
Setelah aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur dan
aku tidak tahu dimana aku sekarang. Yang kutahu sekarang
aku berada dengan 3 orang laki-laki. Laki-laki itu
membawa kamera dan handycam. Pada saat itu aku nggak
tahu aku mau diapakan, dan kepalaku masih sangat pusing
dan tubuhku lemas sekali.

Lalu salah satu laki-laki itu mendatangiku dan melepas
bajunya sampai telanjang bulat. Saat itu pula aku sadar
kalau aku mau diperkosa. Lalu laki-laki itu ganti
melucuti pakaianku satu persatu, sampe pada saat mau
melepas BH dan CD-ku aku berusaha untuk melawan tetapi
aku tidak bisa karena kepalaku masih sangat pusing dan
tubuhku masih lemas. Lalu akhirnya pria itu berhasil
melepas semua pakaian yang ada di tubuhku, dan akhirnya
aku telanjang bulat. Dia lalu mulai meraba-raba seluruh
lekuk tubuhku, aku melihat penisnya yang mulai membesar
dan menegang, lalu penisnya digesek-gesekkan ke kaki,
perut dan payudaraku.

Entah kenapa tubuhku merasa geli dan payudaraku merasa
mengeras. Setelah puas meraba-raba tubuhku yang
telanjang bulat, lalu dia mulai memasang semacam alat.
Dia berkata kepada temannya, "Ambilkan aku alat kondom".
Dan ternyata aku baru sadar bahwa tujuannya berikutnya
adalah di vaginaku. Dan aku baru sadar pula bahwa sejak
tadi aku telah direkam oleh HandyCam dan oleh kamera
foto. Lalu orang itu memasang alat kontrasepsi tersebut
ke penisnya yang tegang. Dan seketika itu juga vaginaku
dimasuki oleh penisnya bagaikan pesawat roket yang
meluncur ke lubang kecil.

Pada saat pertama kalinya penisnya masuk ke vaginaku,
vaginaku terasa sakit, tetapi setelah beberapa menit
berlalu vaginaku terasa nikmat dan geli, orang itu
memompa terus penisnya ke vaginaku, dan akhirnya
vaginaku mengeluarkan cairan putih kental, dan sedikit
darah, aku tahu mungkin vaginaku sudah berlobang karena
dimasuki oleh roket yang ditembakkannya padaku. Seketika
itu juga badanku terasa lebih lemas, dan baru pertama
kalinya dalam hidupku ada perasaan yang bercampur aduk
semacam ini.

Aku semakin meronta dan mendesah, "Ahhh... ahhh...
ahhh", tetapi dia belum puas dan terus menciumiku dan
meraba-raba payudaraku yang mengeras. Setelah beberapa
menit berlalu aku sampai tidak bisa apa-apa karena
tubuhku sudah tidak bisa digerakkan karena terlalu
lemasnya. Setelah sekitar satu jam dia meniduriku, dia
kelihatannya sudah puas dan memberi aku waktu untuk
bernafas. Dia memberiku istirahat selama kurang lebih
dua jam, setelah sadar aku melihat pria yang satunya
lagi membuka bajunya sampai telanjang bulat. Aku takut
sekali jangan-jangan mereka bertiga akan memperkosaku
bergantian.

Tetapi ketakutanku ini menjadi kenyataan, pria yang
kedua itu kembali meniduriku dan meraba-raba tubuhku
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga membawa
bulu sulak, dan mengesek-gesekkan bulu itu ke kakiku dan
setelah itu ke payudaraku dan setelah itu baru ke
vaginaku. Aku merasa geli luar biasa di dalam hidupku.
Setelah puas bermain-main dengan tubuhku, maka ia mulai
memasukkan roketnya ke dalam vaginaku, dan ini roket
dari jenis yang ke 2 yang masuk ke dalam vaginaku.
Setelah itu dia memompa dengan sekuat tenaga sampai
keluar cairan lagi dan tubuhku kembali lemas, dia
meniduriku selama kurang lebih satu jam dengan posisi
tubuh tengkurap.

Setelah itu aku diberi waktu istirahat kembali kurang
lebih 1 jam. Setelah ini aku berfikir bahwa orang ketiga
ini akan memperkosaku seperti yang lainnya, dan aku akan
pasrah. Dan benar, dia kemudian memompa penis yang sudah
dilengkapi dengan alat kontrasepsi. Tetapi orang ini
liar sekali. Dia ini lain dari kedua temannya yang
membuat aku nikmat. Dia ini memompa penisnya dengan liar
dan dengan sekuat tenaga, dia mengabaikan rontaanku dan
desahanku yang semakin keras suaranya. Dia menikmati
tubuhku selama kurang lebih 2 jam. Dan entah rasanya ini
apa, tetapi aku sangat mengantuk atau aku sedang pingsan
aku tidak tahu.

Setelah aku bangun, kamar ini dalam keadaan kosong, dan
aku melihat tubuhku sendiri yang masih dalam keadaan
telanjang bulat dan dengan penuh cairan-cairan kental.
Lalu aku berniat bangun dari tempat tidur itu, tetapi
aku mengalami kesulitan karena tubuhku masih lemas
karena telah diperkosa oleh 3 orang secara bergantian.
Tetapi aku berusaha kembali dengan sekuat tenagaku untuk
bangun, dan aku mencari pakaian seragamku yang kupakai
tadi malam. Tetapi seragam itu sudah tidak ada.

Lalu aku berjalan ke pintu keluar, dan aku terkejut
karena rumah ini begitu besar. Dengan tubuh yang
telanjang maka aku menuju ke suatu ruangan, mungkin ini
adalah ruang tamu, dan aku mendengar seseorang telah
menelepon seseorang. Katanya, "Ya, aku telah menikmati
tubuh gadis itu, kalau kamu tidak percaya aku dapat
memperlihatkan rekaman kejadian yang nikmat semalam
kepada kamu, dia lumayan cantik dan rasanya nikmat
sekali, tubuhnya putih sekali, lebih putih di luar
dugaanku kalau kamu mau mencoba, kamu boleh datang ke
rumahku. Apa? Minggu depan? Tidak usah kuatir itu bisa
diatur. Sekarang kamu kalah dan aku beri waktu sampai
nanti sore untuk memberikan uangnya kepadaku".

Aku baru sadar bahwa aku adalah barang taruhan, dan jika
dia berhasil menikmati tubuhku maka di menang. Lalu aku
memberanikan diri untuk mengintip ruangan itu dan aku
melihat pakaianku di dekatnya. Maka aku menemuinya dan
memintanya, tetapi dia berkata, "Baik ini ambil
pakaianmu, tetapi CD, kaos dalam, dan BH mu aku bawa
untuk kenang kenangan. Jangan mencoba untuk melaporkan
kejadian ini ke polisi, kalau kamu tidak ingin tahu
semua temanmu tahu akan hal ini. Kalau kamu kusuruh
datang ke sini, maka kamu harusa datang, jika kamu
menolak, maka aku akan menyebarkan rekaman dan foto-foto
itu kepada seluruh teman-temanmu. Aku sudah membuat
surat palsu bahwa kamu tidak masuk ke sekolah hari ini
karena sedang sakit. Setiap jam istirahat pertama kamu
harus menemui aku di kelasku, di 3 IPA 2, dan kamu
setiap sekolah jangan memakai CD dan BH, terutama pada
saat olahraga. Kalau kamu tidak menaati peraturan ini,
kamu akan kukimkan ke tempat pelacuran selama semalam".

Aku menyetujuinya, dan setelah itu dia memberikan
pakaianku. Aku merasa deg-degan dan payudaraku kembali
mengeras karena aku telanjang bulat di depan seorang
laki-laki. Lalu aku memakai pakaian OSIS, dan rasanya
aneh sekali, rasanya seperti tidak memakai pakaian sebab
payudaraku masih agak terlihat transparan, dan aku tidak
memakai CD.
Setelah itu aku pulang dengan taksi, dan aku berusaha
menutupi payudaraku yang besar dengan lengan tanganku
supaya tidak dilihat oleh supir taksi itu. Tetapi
payudaraku masih terasa keras dan tegang sehingga
putingnya masih dapat terlihat walaupun transparan.

Aku sampai di rumah sekitar jam 10-an, dan aku tahu
bahwa ayah dan ibuku sedang kerja dan tidak ada di
rumah. Lalu pembantuku membukakan pintu, tetapi aku
masih berusaha menutupi payudaraku agar tidak terlihat.
Setelah masuk ke dalam rumah, maka aku langsung ke
kamar, lalu mandi dan ganti baju. Aku berusaha mencari
alasan jika ditanya oleh ayahku mengapa aku kemarin
tidak pulang. Akhirnya aku mendapatkan alasan yang
tepat. Aku khan sering pergi ke rumah saudaraku di dekat
sekolahku dan kadan-kadang tanpa izin terlebih dulu.

Lalu aku tidur sampai sore, dan ayahku pulang, lalu aku
bilang kepada ayahku bahwa aku kemarin tidak pulang ke
rumah karena sudah terlalu malam dan aku menginap ke
rumah saudara. Setelah besoknya aku sekolah maka sesuai
persetujuan, aku tidak memakai BH dan CD untuk ke
sekolah, dan aku hanya memakai kaos dalam dan seragam
pramuka. Sesampai di sekolah aku merasa asing dan malu
jangan-jangan ada yang tahu kalau aku diperkosa. Tetapi
aku berusaha PD, dan tidak memikirkan kejadian itu,
tetapi aku tidak bisa, bahkan di dalam pelajaran pun aku
tetap memikirkan kejadian semalam.

Setelah istirahat pertama, maka aku mencari kelas 3 IPA
2, dan aku tahu bahwa mereka bertiga adalah teman
sekelas. Lalu mereka pura-pura baik padaku, dan akhirnya
aku tahu nama-nama mereka satu per-satu. Yang
memperkosaku pertama kali bernama Andi, yang kedua
bernama Erick, yang ketiga bernama Deni. Lalu Andi
memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelasnya
seolah-olah aku ini adalah pacarnya. Mereka lalu
mengatakan bahwa mereka mengincar aku sejak lama, dan
sejak aku bertugas sebagai pengibar bendera, maka mereka
melihat ada murid baru yang cantik dan bodynya bangkok,
dengan payudara yang besar pula untuk gadis seumuranku.
Lalu setelah ia tahu bahwa aku akan pulang malam pada
saat itu, maka mereka merencanakan niat itu.

Lalu aku dipaksa duduk di sebelahnya dan memasukkan
tangannya ke dalam rokku untuk memastikan bahwa aku
tidak memakai CD. Ternyata tidak cuma itu saja dia
terus-terusan meraba-raba Vaginaku sehingga terasa geli
dan akhirnya Payudaraku mengeras lagi. Lalu Andi membuat
jadual aku harus disuruh ke rumahnya hari selasa, kamis,
dan sabtu.
Kalau selasa untuk Erik, kalau Kamis untuk Deni, dan
kalau sabtu untuk Andi. Dan Andi bilang kalau besok
sabtu aku akan dijemput, pacaran dulu baru buka-bukaan.

Aku tahu bahwa mereka itu cuma ingin menikmati tubuhku
dan nggak akan membuat telanjang. Pada saat berhubungan
bersama Andi aku terkejut mengapa Andi nggak pake
kondom? Lalu aku sangat takut klo aku bakal hamil, dan
ternyata Andi memompa penisnya di bawah payudaraku, di
atasnya perut, dan tubuhku penuh dengan cairan lengket.
Lalu Andi mengambil kondomnya dan memasangnya, lalu
memompanya di dalam Vaginaku sampai Pagi.

Aku juga merasa hubungan itu hubungan yang nikmat dan
enak, membuat tubuh terasa geli. Dan aku sekarang tahu
banyak dari pengalaman sex bersama mereka. Dan aku
diajari bermacam-macam gaya, seperti gaya 69. Setelah
nanti keluar cairan pasti tubuh ini akan lemas sedikit,
tetapi akan merasa nikmat. Pernah juga aku diolok-olok
sama teman sekelas gara-gara aku nggak pake BH saat
olahraga. Pada saat itu olahraga sedang latihan lari,
dan temanku melihat dan memperhatikan bahwa payudaraku
terlihat bergoyang kencang sekali dan terlihat besar.
Maka mereka bertanya kepadaku, "Vic, kamu nggak pake BH
ya?". Aku berbohong dan menjawab, "Pake koq". Karena
teman-temanku banyak yang nakal, setelah gurunya pergi
lalu mereka bersama-sama memegangi tubuhku dan lainnya
membuka bajuku untuk membuktikan bahwa aku nggak pake
BH.

Lalu kaos olahragaku dibuka dan mereka melihat bahwa aku
benar-benar tidak pake BH. Lalu teman-teman pada
mengejekku dan menertawakanku. Lalu aku cepat-cepat
menutupi payudaraku dan dalam pikiranku adalah menunggu
mereka pergi dulu baru memakai kaos lagi. Tetapi si
Susan tidak puas dan dia menghasut teman-teman begini
katanya, "Jangan-jangan dia juga nggak pake CD, kita
lepas celananya aja yuk." Lalu mereka kembali memegangi
tubuhku dan melempar kaos yang sedang kupegang ke
lapangan, dan si Susan langsung melepas celanaku dan
melempar celanaku ke tengah lapangan.

Pada saat itu aku merasa malu yang luar biasa selama
hidupku. Aku pada saat itu telanjang bulat di hadapan
teman-teman sekelasku. Dan mereka pada tertawa, mereka
malah menggodaku dengan membawa lari kaos dan celanaku.
Dan aku mengejar mereka dengan tubuh tanpa busana di
lapangan basket sekolahku. Lalu rasanya aku hampir
menangis. Dan setelah puas menggoda aku, maka si Dewi
mengembalikan baju dan celana kepadaku. Ini pengalaman
pertamaku lari bugil di lapangan dan dilihat banyak
orang. Aku malu sekali, karena vaginaku sudah berbulu
dan payudaraku menjadi besar karena telanjang di hadapan
orang banyak.

Lalu teman-temanku mengejekku bahwa payudaraku besar
sekali untuk gadis yang baru berusia 16 tahun. Yang
menjadi beban mentalku yang lain adalah aku seringkali
digoda oleh teman-temanku dan menyuruh aku menari
telanjang di depan kelas jika guru tidak ada atau pada
saat pelajaran kosong. Dan kalau aku tidak mau maka
mereka menjadi liar, mereka mengunci pintu keluar kelas,
dan menyuruh satu orang untuk mengawasi jika ada guru
yang datang, lalu mereka menggendongku, melepas semua
pakaianku sampai telanjang bulat, dan mengikatku di atas
meja, dan bukan cuma laki-laki yang mengerumuniku tetapi
juga banyak juga yang perempuan, mereka semuanya
mempermainkan tubuhku, menggerayangi semua tubuhku dari
ujung rambut sampai telapak kaki.

Mereka mencubiti aku bagaikan barang dagangan. Ada pula
yang mempermainkan payudaraku bagaikan susu sapi. Bahkan
ada yang membawa gunting untuk menggunting bulu-bulu
vaginaku. Tubuhku terasa geli sekali dan merasa bahwa
aku ini hanyalah seperti barang dagangan yang
dipertontonkan orang banyak

FREE SEX

Pada suatu hari, aku pulang sekolah agak malam yaitu
sekitar pukul 8, soalnya banyak tugas club yang harus
dikerjakan dan besoknya harus dikumpulkan. Akhirnya
malam itu aku bersama teman-temanku selesai mengerjakan
tugas membuat web site club sepak bola di sekolahku.
Oooo.. iya aku lupa berkenalan. Aku orang Bandung, dan
aku sekarang kelas 1 SMU. Namaku Vicka. Lalu aku
menyerahkan disket itu kepada temenku (ketua kelompok)
untuk diserahkan kepada guruku besoknya.

Lalu setelah pulang, aku dan temenku berpencar, karena
rumahku dekat, maka aku memilih untuk mengambil jalan
pintas sebab aku jalan kaki. Pada saat aku melewati gang
yang gelap, maka aku sepertinya dibius oleh seseorang.
Setelah aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur dan
aku tidak tahu dimana aku sekarang. Yang kutahu sekarang
aku berada dengan 3 orang laki-laki. Laki-laki itu
membawa kamera dan handycam. Pada saat itu aku nggak
tahu aku mau diapakan, dan kepalaku masih sangat pusing
dan tubuhku lemas sekali.

Lalu salah satu laki-laki itu mendatangiku dan melepas
bajunya sampai telanjang bulat. Saat itu pula aku sadar
kalau aku mau diperkosa. Lalu laki-laki itu ganti
melucuti pakaianku satu persatu, sampe pada saat mau
melepas BH dan CD-ku aku berusaha untuk melawan tetapi
aku tidak bisa karena kepalaku masih sangat pusing dan
tubuhku masih lemas. Lalu akhirnya pria itu berhasil
melepas semua pakaian yang ada di tubuhku, dan akhirnya
aku telanjang bulat. Dia lalu mulai meraba-raba seluruh
lekuk tubuhku, aku melihat penisnya yang mulai membesar
dan menegang, lalu penisnya digesek-gesekkan ke kaki,
perut dan payudaraku.

Entah kenapa tubuhku merasa geli dan payudaraku merasa
mengeras. Setelah puas meraba-raba tubuhku yang
telanjang bulat, lalu dia mulai memasang semacam alat.
Dia berkata kepada temannya, "Ambilkan aku alat kondom".
Dan ternyata aku baru sadar bahwa tujuannya berikutnya
adalah di vaginaku. Dan aku baru sadar pula bahwa sejak
tadi aku telah direkam oleh HandyCam dan oleh kamera
foto. Lalu orang itu memasang alat kontrasepsi tersebut
ke penisnya yang tegang. Dan seketika itu juga vaginaku
dimasuki oleh penisnya bagaikan pesawat roket yang
meluncur ke lubang kecil.

Pada saat pertama kalinya penisnya masuk ke vaginaku,
vaginaku terasa sakit, tetapi setelah beberapa menit
berlalu vaginaku terasa nikmat dan geli, orang itu
memompa terus penisnya ke vaginaku, dan akhirnya
vaginaku mengeluarkan cairan putih kental, dan sedikit
darah, aku tahu mungkin vaginaku sudah berlobang karena
dimasuki oleh roket yang ditembakkannya padaku. Seketika
itu juga badanku terasa lebih lemas, dan baru pertama
kalinya dalam hidupku ada perasaan yang bercampur aduk
semacam ini.

Aku semakin meronta dan mendesah, "Ahhh... ahhh...
ahhh", tetapi dia belum puas dan terus menciumiku dan
meraba-raba payudaraku yang mengeras. Setelah beberapa
menit berlalu aku sampai tidak bisa apa-apa karena
tubuhku sudah tidak bisa digerakkan karena terlalu
lemasnya. Setelah sekitar satu jam dia meniduriku, dia
kelihatannya sudah puas dan memberi aku waktu untuk
bernafas. Dia memberiku istirahat selama kurang lebih
dua jam, setelah sadar aku melihat pria yang satunya
lagi membuka bajunya sampai telanjang bulat. Aku takut
sekali jangan-jangan mereka bertiga akan memperkosaku
bergantian.

Tetapi ketakutanku ini menjadi kenyataan, pria yang
kedua itu kembali meniduriku dan meraba-raba tubuhku
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga membawa
bulu sulak, dan mengesek-gesekkan bulu itu ke kakiku dan
setelah itu ke payudaraku dan setelah itu baru ke
vaginaku. Aku merasa geli luar biasa di dalam hidupku.
Setelah puas bermain-main dengan tubuhku, maka ia mulai
memasukkan roketnya ke dalam vaginaku, dan ini roket
dari jenis yang ke 2 yang masuk ke dalam vaginaku.
Setelah itu dia memompa dengan sekuat tenaga sampai
keluar cairan lagi dan tubuhku kembali lemas, dia
meniduriku selama kurang lebih satu jam dengan posisi
tubuh tengkurap.

Setelah itu aku diberi waktu istirahat kembali kurang
lebih 1 jam. Setelah ini aku berfikir bahwa orang ketiga
ini akan memperkosaku seperti yang lainnya, dan aku akan
pasrah. Dan benar, dia kemudian memompa penis yang sudah
dilengkapi dengan alat kontrasepsi. Tetapi orang ini
liar sekali. Dia ini lain dari kedua temannya yang
membuat aku nikmat. Dia ini memompa penisnya dengan liar
dan dengan sekuat tenaga, dia mengabaikan rontaanku dan
desahanku yang semakin keras suaranya. Dia menikmati
tubuhku selama kurang lebih 2 jam. Dan entah rasanya ini
apa, tetapi aku sangat mengantuk atau aku sedang pingsan
aku tidak tahu.

Setelah aku bangun, kamar ini dalam keadaan kosong, dan
aku melihat tubuhku sendiri yang masih dalam keadaan
telanjang bulat dan dengan penuh cairan-cairan kental.
Lalu aku berniat bangun dari tempat tidur itu, tetapi
aku mengalami kesulitan karena tubuhku masih lemas
karena telah diperkosa oleh 3 orang secara bergantian.
Tetapi aku berusaha kembali dengan sekuat tenagaku untuk
bangun, dan aku mencari pakaian seragamku yang kupakai
tadi malam. Tetapi seragam itu sudah tidak ada.

Lalu aku berjalan ke pintu keluar, dan aku terkejut
karena rumah ini begitu besar. Dengan tubuh yang
telanjang maka aku menuju ke suatu ruangan, mungkin ini
adalah ruang tamu, dan aku mendengar seseorang telah
menelepon seseorang. Katanya, "Ya, aku telah menikmati
tubuh gadis itu, kalau kamu tidak percaya aku dapat
memperlihatkan rekaman kejadian yang nikmat semalam
kepada kamu, dia lumayan cantik dan rasanya nikmat
sekali, tubuhnya putih sekali, lebih putih di luar
dugaanku kalau kamu mau mencoba, kamu boleh datang ke
rumahku. Apa? Minggu depan? Tidak usah kuatir itu bisa
diatur. Sekarang kamu kalah dan aku beri waktu sampai
nanti sore untuk memberikan uangnya kepadaku".

Aku baru sadar bahwa aku adalah barang taruhan, dan jika
dia berhasil menikmati tubuhku maka di menang. Lalu aku
memberanikan diri untuk mengintip ruangan itu dan aku
melihat pakaianku di dekatnya. Maka aku menemuinya dan
memintanya, tetapi dia berkata, "Baik ini ambil
pakaianmu, tetapi CD, kaos dalam, dan BH mu aku bawa
untuk kenang kenangan. Jangan mencoba untuk melaporkan
kejadian ini ke polisi, kalau kamu tidak ingin tahu
semua temanmu tahu akan hal ini. Kalau kamu kusuruh
datang ke sini, maka kamu harusa datang, jika kamu
menolak, maka aku akan menyebarkan rekaman dan foto-foto
itu kepada seluruh teman-temanmu. Aku sudah membuat
surat palsu bahwa kamu tidak masuk ke sekolah hari ini
karena sedang sakit. Setiap jam istirahat pertama kamu
harus menemui aku di kelasku, di 3 IPA 2, dan kamu
setiap sekolah jangan memakai CD dan BH, terutama pada
saat olahraga. Kalau kamu tidak menaati peraturan ini,
kamu akan kukimkan ke tempat pelacuran selama semalam".

Aku menyetujuinya, dan setelah itu dia memberikan
pakaianku. Aku merasa deg-degan dan payudaraku kembali
mengeras karena aku telanjang bulat di depan seorang
laki-laki. Lalu aku memakai pakaian OSIS, dan rasanya
aneh sekali, rasanya seperti tidak memakai pakaian sebab
payudaraku masih agak terlihat transparan, dan aku tidak
memakai CD.
Setelah itu aku pulang dengan taksi, dan aku berusaha
menutupi payudaraku yang besar dengan lengan tanganku
supaya tidak dilihat oleh supir taksi itu. Tetapi
payudaraku masih terasa keras dan tegang sehingga
putingnya masih dapat terlihat walaupun transparan.

Aku sampai di rumah sekitar jam 10-an, dan aku tahu
bahwa ayah dan ibuku sedang kerja dan tidak ada di
rumah. Lalu pembantuku membukakan pintu, tetapi aku
masih berusaha menutupi payudaraku agar tidak terlihat.
Setelah masuk ke dalam rumah, maka aku langsung ke
kamar, lalu mandi dan ganti baju. Aku berusaha mencari
alasan jika ditanya oleh ayahku mengapa aku kemarin
tidak pulang. Akhirnya aku mendapatkan alasan yang
tepat. Aku khan sering pergi ke rumah saudaraku di dekat
sekolahku dan kadan-kadang tanpa izin terlebih dulu.

Lalu aku tidur sampai sore, dan ayahku pulang, lalu aku
bilang kepada ayahku bahwa aku kemarin tidak pulang ke
rumah karena sudah terlalu malam dan aku menginap ke
rumah saudara. Setelah besoknya aku sekolah maka sesuai
persetujuan, aku tidak memakai BH dan CD untuk ke
sekolah, dan aku hanya memakai kaos dalam dan seragam
pramuka. Sesampai di sekolah aku merasa asing dan malu
jangan-jangan ada yang tahu kalau aku diperkosa. Tetapi
aku berusaha PD, dan tidak memikirkan kejadian itu,
tetapi aku tidak bisa, bahkan di dalam pelajaran pun aku
tetap memikirkan kejadian semalam.

Setelah istirahat pertama, maka aku mencari kelas 3 IPA
2, dan aku tahu bahwa mereka bertiga adalah teman
sekelas. Lalu mereka pura-pura baik padaku, dan akhirnya
aku tahu nama-nama mereka satu per-satu. Yang
memperkosaku pertama kali bernama Andi, yang kedua
bernama Erick, yang ketiga bernama Deni. Lalu Andi
memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelasnya
seolah-olah aku ini adalah pacarnya. Mereka lalu
mengatakan bahwa mereka mengincar aku sejak lama, dan
sejak aku bertugas sebagai pengibar bendera, maka mereka
melihat ada murid baru yang cantik dan bodynya bangkok,
dengan payudara yang besar pula untuk gadis seumuranku.
Lalu setelah ia tahu bahwa aku akan pulang malam pada
saat itu, maka mereka merencanakan niat itu.

Lalu aku dipaksa duduk di sebelahnya dan memasukkan
tangannya ke dalam rokku untuk memastikan bahwa aku
tidak memakai CD. Ternyata tidak cuma itu saja dia
terus-terusan meraba-raba Vaginaku sehingga terasa geli
dan akhirnya Payudaraku mengeras lagi. Lalu Andi membuat
jadual aku harus disuruh ke rumahnya hari selasa, kamis,
dan sabtu.
Kalau selasa untuk Erik, kalau Kamis untuk Deni, dan
kalau sabtu untuk Andi. Dan Andi bilang kalau besok
sabtu aku akan dijemput, pacaran dulu baru buka-bukaan.

Aku tahu bahwa mereka itu cuma ingin menikmati tubuhku
dan nggak akan membuat telanjang. Pada saat berhubungan
bersama Andi aku terkejut mengapa Andi nggak pake
kondom? Lalu aku sangat takut klo aku bakal hamil, dan
ternyata Andi memompa penisnya di bawah payudaraku, di
atasnya perut, dan tubuhku penuh dengan cairan lengket.
Lalu Andi mengambil kondomnya dan memasangnya, lalu
memompanya di dalam Vaginaku sampai Pagi.

Aku juga merasa hubungan itu hubungan yang nikmat dan
enak, membuat tubuh terasa geli. Dan aku sekarang tahu
banyak dari pengalaman sex bersama mereka. Dan aku
diajari bermacam-macam gaya, seperti gaya 69. Setelah
nanti keluar cairan pasti tubuh ini akan lemas sedikit,
tetapi akan merasa nikmat. Pernah juga aku diolok-olok
sama teman sekelas gara-gara aku nggak pake BH saat
olahraga. Pada saat itu olahraga sedang latihan lari,
dan temanku melihat dan memperhatikan bahwa payudaraku
terlihat bergoyang kencang sekali dan terlihat besar.
Maka mereka bertanya kepadaku, "Vic, kamu nggak pake BH
ya?". Aku berbohong dan menjawab, "Pake koq". Karena
teman-temanku banyak yang nakal, setelah gurunya pergi
lalu mereka bersama-sama memegangi tubuhku dan lainnya
membuka bajuku untuk membuktikan bahwa aku nggak pake
BH.

Lalu kaos olahragaku dibuka dan mereka melihat bahwa aku
benar-benar tidak pake BH. Lalu teman-teman pada
mengejekku dan menertawakanku. Lalu aku cepat-cepat
menutupi payudaraku dan dalam pikiranku adalah menunggu
mereka pergi dulu baru memakai kaos lagi. Tetapi si
Susan tidak puas dan dia menghasut teman-teman begini
katanya, "Jangan-jangan dia juga nggak pake CD, kita
lepas celananya aja yuk." Lalu mereka kembali memegangi
tubuhku dan melempar kaos yang sedang kupegang ke
lapangan, dan si Susan langsung melepas celanaku dan
melempar celanaku ke tengah lapangan.

Pada saat itu aku merasa malu yang luar biasa selama
hidupku. Aku pada saat itu telanjang bulat di hadapan
teman-teman sekelasku. Dan mereka pada tertawa, mereka
malah menggodaku dengan membawa lari kaos dan celanaku.
Dan aku mengejar mereka dengan tubuh tanpa busana di
lapangan basket sekolahku. Lalu rasanya aku hampir
menangis. Dan setelah puas menggoda aku, maka si Dewi
mengembalikan baju dan celana kepadaku. Ini pengalaman
pertamaku lari bugil di lapangan dan dilihat banyak
orang. Aku malu sekali, karena vaginaku sudah berbulu
dan payudaraku menjadi besar karena telanjang di hadapan
orang banyak.

Lalu teman-temanku mengejekku bahwa payudaraku besar
sekali untuk gadis yang baru berusia 16 tahun. Yang
menjadi beban mentalku yang lain adalah aku seringkali
digoda oleh teman-temanku dan menyuruh aku menari
telanjang di depan kelas jika guru tidak ada atau pada
saat pelajaran kosong. Dan kalau aku tidak mau maka
mereka menjadi liar, mereka mengunci pintu keluar kelas,
dan menyuruh satu orang untuk mengawasi jika ada guru
yang datang, lalu mereka menggendongku, melepas semua
pakaianku sampai telanjang bulat, dan mengikatku di atas
meja, dan bukan cuma laki-laki yang mengerumuniku tetapi
juga banyak juga yang perempuan, mereka semuanya
mempermainkan tubuhku, menggerayangi semua tubuhku dari
ujung rambut sampai telapak kaki.

Mereka mencubiti aku bagaikan barang dagangan. Ada pula
yang mempermainkan payudaraku bagaikan susu sapi. Bahkan
ada yang membawa gunting untuk menggunting bulu-bulu
vaginaku. Tubuhku terasa geli sekali dan merasa bahwa
aku ini hanyalah seperti barang dagangan yang
dipertontonkan orang banyak

SALON ESEK ESEK

Cerita ini berawal dari ajakan seorang temanku untuk
potong rambut di sebuah salon yang letaknya di sekitar
Universitas **** (edited) Jakarta pada awal bulan
Februari lalu. Maafkan, andai aku tidak dapat menulis
dengan baik.

Aku baru tahu bahwa sudah rahasia umum semua wanita yang
bekerja di salon itu bisa diajak kencan. Pada hari Sabtu
yang telah kami sepakati dengan teman dia, dan kami
janjian ketemu di salon itu jam 13:00. Aku pun meluncur
ke salon itu untuk potong rambut, sejenak aku melirik
jam tangan, terlihat jam satu kurang beberapa menit saja
dan kuputuskan untuk masuk. Seperti halnya salon-salon
biasa, suasana salon ini normal tidak ada yang luar
biasa dari tata ruangnya serta kegiatannya. Pada pertama
kali aku masuk, aku langsung menuju ke tempat meja
reception dan di sana aku mengatakan niat untuk potong
rambut. Dikatakan oleh wanita cantik yang duduk di balik
meja reception agar aku menunggu sebentar sebab sedang
sibuk semua. Sambil menunggu, aku mencoba untuk
melihat-lihat sekitar siapa tahu ada temanku, tapi tidak
terlihat ada temanku di antara semua orang tersebut.
Mungkin dia belum datang, pikirku. Kuakui bahwa hampir
semua wanita yang bekerja di salon ini cantik-cantik dan
putih dengan postur tubuh yang proporsional dan aduhai.
Kalau boleh memperkirakan umur mereka, mereka berumur
sekitar 20-30 tahun. Aku jadi teringat dengan omongan
temanku, Hanni, bahwa mereka bisa diajak kencan. Namun
aku sendiri masih ragu sebab salon ini benar-benar
seperti salon pada umumnya.

Setelah beberapa menit menunggu, aku ditegur oleh
reception bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil
menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Aku pun
menuju ke arah yang ditentukan. Beberapa detik kemudian
seorang wanita muda nan cantik menugur sambil memegang
rambutku.
"Mas, rambutnya mau dimodel apa?" katanya sambil
melihatku lewat cermin dan tetap memegang rambutku yang
sudah agak panjang.
"Mmm... dirapi'in aja Mbak!" kataku pendek.
Lalu seperti halnya di tempat cukur rambut pada umumnya,
aku pun diberi penutup pada seluruh tubuhku untuk
menghindari potongan-potongan rambut. Beberapa menit
pertama begitu kaku dan dingin. Aku yang diam saja dan
dia sibuk mulai motong rambutku. Sangat tidak enak
rasanya dan aku mencoba untuk mencairkan suasana.
"Mbak... udah lama kerja di sini?" tanyaku.
"Kira-kira sudah enam bulan, Mas... ngomong-ngomong situ
baru sekali ya potong di sini?" sambungnya sambil tetap
memotong rambut.
"Iya... kemarenan saya lewat jalan ini, terus kok ada
salon, ya udah dech, saya potong di sini. Ini juga
janjian sama temen, tapi mana ya kok belum datang?"
jawabku sedikit berbohong.
"Ooo.." jawabnya singkat dan berkesan cuek.
"Hei..." terdengar suara temanku sambil menepuk pundak.
"Eh... elo baru dateng?" tanyaku.
"Iya nih... tadi di bawah jembatan macet, mmm... gue
potong dulu yach.." jawabnya sambil berlalu.

Ngobrol punya ngobrol, akhirnya kami dekat, dan
belakangan aku tahu Stella namanya, 22 tahun, dia kost
di daerah situ juga, dia orang Manado, dia enam
bersaudara dan dia anak ketiga. Kami pun sepakat untuk
janjian ketemu di luar pada hari Senin. Untuk pembaca
ketahui setiap hari Senin, salon ini tutup. Setelah aku
selesai, sambil memberikan tips sekedarnya, aku
menanyakan apakah ia mau aku ajak makan. Dia menyanggupi
dan ia menulis pada selembar secarik kertas kecil nomor
teleponnya. Sambil menunggu Hanni, aku ngobrol dengan
Stella, aku sempat diperkenalkan oleh beberapa temannya
yang bernama Susi, Icha dan Yana. Ketiganya
cantik-cantik tapi Stella tidak kalah cantik dengan
mereka baik itu parasnya juga tubuhnya. Susi, ia
berambut agak panjang dan pada beberapa bagian rambutnya
dicat kuning. Icha, ia agak pendek, tatapannya agak
misterius, dadanya sebesar Stella namun karena postur
tubuhnya yang agak pendek sehingga payudaranya membuat
ngiler semua mata laki-laki untuk menikmatinya.
Sedangkan Yana, ia tampak sangat merawat tubuhnya, ia
begitu mempesona, lingkar pinggangnya yang sangat ideal
dengan tinggi badannya, pantatnya dan dadanya-pun sangat
proporsional.

Akhirnya kami ketemu pada hari Senin dan di tempat yang
sudah disepakati. Setelah makan siang, kami nonton
bioskop, filmnya Jennifer Lopez, The Cell. Wah, cakep
sekali ini orang, batinku mengagumi kecantikan Stella
yang waktu itu mengenakan kaos ketat berwarna biru muda
ditambah dengan rompi yang dikancingkan dan dipadu
dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami
serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya
semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan. Stella
tampak kaget, terlihat dari bergetarnya tubuh dia. Entah
ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan
kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan
sesekali meremasnya dan ia diam saja.

Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya,
di tengah jalan Stella memohon kepadaku untuk tidak
langsung pulang tapi putar-putar dulu. Kukabulkan
permintaannya karena aku sendiri sedang bebas, dan
kuputuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta.
Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga
akhirnya Stella mengatakan,
"Mmm... Will, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang
semua ini terlalu cepat, Will... aku suka sama kamu..."
katanya pelan tapi pasti.
Seperti disambar petir mendengar kata-katanya, dan
secara reflek aku menengok ke kiri melihat dia,
tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan.
Dia menatap tajam.
"Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan,
Tel?" tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.
"Aku nggak tau kenapa bahwa aku merasa kamu nggak kayak
laki-laki yang pernah aku kenal, kamu baik, dan kayaknya
perhatian and care. Aku nggak mau kalo setelah aku
pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Will. Aku nggak
mau kehilangan kamu," jawabnya panjang lebar.
"Mmm... kalo aku boleh jujur sich, aku juga suka sama
kamu, Tel... tapi kamu mau khan kalo kita nggak pacaran
dulu?" tegasku.
"Ok, kalo itu mau kamu, mmm... boleh nggak aku 'sun'
kamu, bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku
yang barusan?" tanyanya.

Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas
jadi sesak. Edan ini anak, seperti benar-benar! Sekali
lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat
dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku
tajam dan serius sekali.
"Sekarang?" tanyaku sambil menatap matanya, dan dia
menganguk pelan.
"OK, kamu boleh 'sun' aku," jawabku sambil kembali ke
jalanan.
Beberapa detik kemudian dia beranjak dari tempat
duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah "sun"
di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku
sambil memeluk. Lama sekali ia mencium dan
ditempelkannya payudaranya di lengan kiriku. Ooh, empuk
sekali, mantap!Payudaranya yang cukup menantang itu
sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku
jadi terangsang nih. Secara otomatis batang kemaluanku
pun mengeras. Dengan pelan sekali, Stella berbisik,
"Will, aku suka sama kamu," dan ia kembali mencium
pipiku dan tetap menekan payudaranya pada lengan kiriku.
Konsentrasiku buyar, sepertinya aku benar-benar sudah
terangsang dengan perlakuan Stella, dan beberapa
kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca
filmku yang hanya 50%. "Kamu terangsang ya, Will?"
tanyanya pelan dan agak lirih. Aku tidak menjawab.
Tangan kirinya mulai mengelus-elus badanku dan mengarah
ke bawah. Aku sudah benar-benar terangsang. Sekali lagi
Stella berbisik, "Will, aku tau kamu terangsang, boleh
nggak aku lihat punyamu? punya kamu besar yach!" aku
mengangguk. Dibukalah celana panjangku dengan tangan
kirinya, seperti ia agak kesulitan pada saat ingin
membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu
tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu
aku kembali memegang setir mobil.

Dielus-elus batang kemaluanku yang sudah keras dari
luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya
ke dalam dan digenggamlah kemaluanku. "Ooh..." desahku
pelan. Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak. Pertama,
ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah.
Ia cium leherku, dan ia sempat berhenti di bagian
dadaku, mungkin ia menikmati aroma parfum BULGARI-ku. Ia
makin turun dan turun ke bawah. Beberapa kali Stella
melakukan gerakan mengocok kemaluanku. Pertama-tama
dijilatinya pangkal batang kemaluanku lalu merambat naik
ke atas. Ujung lidahnya kini berada pada bagian biji
kejantananku. Salah satu tangannya menyelinap di antara
belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya.
Stella melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke
atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam
beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian
tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua
tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil.
Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi. Pelan-pelan
setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak
pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali
kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap
kali itu pula kulihat Stella masih tetap menjilati
kemaluanku dengan penuh nafsu.

Sesaat Stella kulihat melepaskan tangannya dari
kemaluanku, ia menyibakkan rambutnya ke samping tiga
jarinya kembali menarik bagian bawah batang kemaluanku
dengan sedikit memiringkan kepalanya. Stella kemudian
mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku.
Ia mulai merekahkan kedua bibirnya, dengan berhati-hati
ia memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya tanpa
tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian bergerak
perlahan-lahan semakin jauh hingga di bagian tengah
batang kemaluanku. Saat itulah kurasakan kepala
kejantananku menyentuh bagian lidahnya. Tubuhku bergetar
sesaat dan terdengar suara khas dari mulut Stella. Kedua
bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan
yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku.
Perlahan-lahan kemudian kepala Stella mulai naik.
Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik
turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga
ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala,
kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif. Begitu
sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan
jilatan Stella begitu merasuk dan menggelitik seluruh
urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya
dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah
ke bawah. Kudapatkan payudara sebelah kanan. Kubuka
telapak tanganku mengikuti bentuk payudaranya yang
bulat. Kuremas dengan lembut. Kubuka satu persatu
kancing rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan
mengikuti bentuk payudaranya. Sambil tetap mengulum,
tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik
baju ketatnya dari selipan celana panjangnya.
Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik
baju ketatnya, aku meremas-remas payudaranya yang masih
terbungkus BH. Kuremas satu persatu payudaranya sambil
mendesah menikmati kuluman pada kemaluanku.

Kuremas agak kuat dan Stella pun berhenti mengulum
sekian detik lamanya. Kuelus-elus kulit dadanya yang
agak menyembul dari BH-nya dengan sesekali menyelipkan
salah satu jariku di antara payudaranya yang kenyal.
"Agh..." desahku menikmati kuluman Stella yang makin
cepat. Aku turunkan BH-nya yang menutupi payudara
sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah
mengeras. Kupilin dengan lembut. "Ooh... esst..."
desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat
melepaskan bibirnya dari kemaluanku. Menjilat,
menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu
seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke
bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke
belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan
mataku. Stella begitu luar biasa melakukannya. Tak
sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit
kejantananku. Gila, belum pernah aku dihisap seperti
ini, pikirku. Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah
ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang
kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku
yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba
payudaranya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya
menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang
kemaluanku, dan ia terlihat tersenyum kepadaku. "Kamu
luar biasa, Tel," bisikku sambil menggeleng-gelengkan
kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya. Stella
tersenyum manis dan berkesan manja. "Eh, bisa keluar aku
kalo kamu kayak gini terus," bisikku lagi merasakan
genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada
kemaluanku. Stella tersenyum. "Kalo kamu udah nggak
pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan,"
jawabnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya keluar dan
mengenai ujung batang kemaluanku. Rupanya ia mengerti
aku sedang berjuang untuk menahan ejakulasiku.

"Aaghhh..." desahku agak keras menahan rasa ngilu. Bukan
kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak
karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik
turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku,
terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya,
terkadang ia melepaskan kuluman untuk mengambil nafas
sejenak lalu melanjutkannya lagi. Semakin lama
gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal
untuk menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku dari
payudaranya. Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kancing
celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya
terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di
balik celana dalamnya. Aku dapat rasakan rambut
kemaluannya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam
hati. Kuteruskan agak ke bawah. Stella mengubah
posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu
sisi pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua
kakinya. Dengan mudah aku dapat menyentuh kemaluannya.
Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas
kemaluannya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Ugh,
nikmat sekali nih rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan
telunjukku ke dalam lubang kemaluannya. Aku jelajahi
setiap milimeter ruangan di dalam kemaluan Stella. Aku
temukan sebuah kelentit di dalamnya. Kumainkan klitoris
itu dengan telunjukku. Ugh, pegal juga rasanya tangan
kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku
menikmati setiap kuluman Stella. Rasanya sudah beberapa
tetes spermaku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk
kepayang olehnya.

Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari
telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan
kedua jariku, Stella tampak melengkuh dan mendesah
pelan. Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan
kedua jariku di lubang kemaluannya dan Stella beberapa
menghentikan kuluman pada batang kemaluanku sambil tetap
memegang batang kemaluanku. Entah sudah berapa orang
yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau
kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli.
Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku
sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu. Kembali
Stella menjilat, menghisap dan mengulum batang
kemaluanku dan entah sudah berapa lama kami melakukan
ini. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang
dikerjakan Stella pada kemaluanku. Kali ini Stella
melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya
hingga mengenai ujung kepala kemaluanku lagi. Ia
memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang
kemaluanku. Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan.
Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada
sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kemaluanku
di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam.
"Ooh.. Tel... enakk..." desahku sambil melepaskan tangan
kiriku dari lubang kemaluannya. Kupegang kepalanya
mengikuti gerakan naik turun.

"Stella, aku sudah nggak tahannn..." kataku agak lirih
menahan ejakulasi. Namun gerakan Stella makin cepat dan
beberapa kali ia buka matanya namun tetap mengulum dan
terdengar suara-suara dari dalam mulutnya.
"Aaaagghhh..." desahku keras diiringi dengan keluarnya
sperma dari dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya.
Keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh
pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang
keluar dari dalam kemaluanku hingga akhirnya habis.
Stella tetap menjilati kemaluanku dengan lidahnya. Dapat
kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala
kemaluanku. Ugh, nikmat sekali rasanya. Setelah
membersihkan seluruh spermaku dengan lidahnya, Stella
bergerak ke atas. Kulihat dia, tampak ada beberapa
spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi
kirinya. Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku,
perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang
kemaluanku yang sudah lemas, Stella beranjak ke atas
melumat bibirku, masih terasa spermaku. Sekian detik
kami bercumbu dan aku memejamkan mata. Akhirnya ia
merapikan posisinya, ia duduk dan merapikan pakaiannya.
Aku pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan
celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku.

Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Stella dan
pada saat itu pula kami mengikat tali kasih. Awal bulan
Maret lalu Stella kembali dari Manado setelah 2 minggu
ia berada di sana dan ia tidak kembali lagi bekerja di
salon itu. Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat
di daerah Grogol, sekarang ia diterima sebagai operator
di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi
handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang
bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku
harus meninggalkan kostku. Setelah kami hidup seatap,
Stella mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia
bekerja di salon itu, ia pernah melayani pelanggannya
dan ia mengatakan bahwa semua pekerja yang bekerja di
salon itu juga pekerja seks. Stella tidak mengetahui
bagaimana asal mulanya. Stella sendiri tidak tahu apakah
salon merupakan sebuah kedok atau seks adalah sebuah
tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak keluar
salah satu karyawati di situ, seseorang harus membayar
di muka sebesar Rp 500.000. Rasanya Jakarta hanya milik
kami berdua, tiap malam setelah mandi sepulang dari
kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan
seks. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dan
entah kapan kami akan resmi menikah.

Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui
dan telah kami lalui bersama. Aku sungguh tidak peduli
dengan asal-usulnya pekerjaan Stella sebab makin hari
aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan mataku
seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.

INDAH HORNYKU

Cerita ini terjadi waktu aku masih berumur 12 tahun.
Walau cerita ini udah lama terjadi, tapi peristiwa ini
masih membekas dipikiranku. Tentu aja masih membekas,
soalnya peristiwa inilah yang membentuk aku jadi maniak
seks seperti sekarang.

Mba Indah adalah keponakan jauh ibuku yang ikut tinggal
dirumahku. Ya, dia ikut keluargaku sebab keluarganya
kurang beruntung. Dia ikut keluargaku sejak kelas dia 2
SMP. Kejadian ini terjadi saat mba indah duduk di kelas
3 SMA

Mba indah adalah seorang perempuan yang sangat menarik.
Wajahnya cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih dan
bodynya... hmmm.. masih tergambar jelas bodynya yang
aduhai. Aku masih ingat bagaimana dulu aku sering sekali
memelototi dadanya yang ranum. Sebenarnya dadanya tidak
terlalu besar, tapi membusung kedepan, benar-benar bulat
sempurna. Aku juga senang sekali memperhatikan lekukan
pinggangnya yang seperti gitar spanyol itu, pantatnya
yang membulat dan pahanya yang putih. Apalagi kalau dia
memakai celana pendek favoritnya, terlihat jelas paha
mulusnya dan betis bulir padinya yang aduhai. Hmmm....
Pantas saja banyak teman prianya yang
mengejar-ngejarnya.

Kejadian ini terjadi waktu aku tinggal berdua denga mba
indah dirumah. Bapakku seperti biasa pergi ke kantor dan
ibuku pergi kerumah temannya dengan membawa adikku yang
masih kecil.

Awalnya aku bermain diluar bersama teman-temanku, tapi
karena turun hujan akhirnya aku pulang kerumah dan
tinggal berdua dengan mba indah. Dari pada tidak ada
kerjaan, aku menonton tv. Selagi asik menonton kartun di
tv swasta satu-satunya waktu itu, mba indah keluar dari
kamarnya dan memanggilku. Saat itu mba indah memakai
kaos putih dan rok SMA nya. Aku menebak pasti dia tidak
pakai bra, soalnya puting payudaranya tercetak di kaus
putih yang tipis itu.

"Rian ! Ke kamar mba indah yuk sebentar" panggil mba
indah. aku yang sebenarnya lagi asik menonton dengan
agak malas akhirnya masuk ke kamar mba indah.

"Ada apa mba ?" tanyaku.

"Dari pada nonton tv, mendingan main sama mba indah"
katanya

"Main apa ?" tanyaku.

"Kita main dokter-dokteran yuk" ajaknya

Aku tertawa.. "Wah itu kan mainannya anak perempuan,
lagian aku kan udah gede" jawabku. Padahal adikku sering
mengajakku bermain dokter-dokteran.

"Ini beda, kan mba udah dapet pelajarannya di SMA"
katanya merayuku.

"Hmmm... ya udah, jadi gimana mainnya ?" tanyaku.

"Mba yang jadi dokternya, kamu yang jadi pasiennya.
Sudah kamu tiduran dulu ditempat tidur, mba siap-siap"
suruhnya.

Kemudian aku naik ke tempat tidurnya dan berbaring
terlentang.

"Sakit apa de ? saya periksa dulu ya..." kata mba indah
berakting. Kemudian dia menaikkan bajuku dan
mengetuk-ngetuk dadaku layaknya seorang dokter.

"Wah de ini sakitnya parah" katanya. Aku tertawa kecil
karena mba indah pandai sekali meniru seorang dokter.
Kemudian tangannya turun mengetuk-ngetuk perutku sambil
berkata "Sepertinya penyakitnya ada dibawah sini"
kemudian dia berusaha membuka kancing celanaku.

Tanganku memegang tangannya, menahan dia membuka
celanaku. "Kok celananya dibuka mba ?" tanyaku. Walaupun
aku masih kecil, tapi waktu itu aku sudah mengerti
perbedaan antara pria dan wanita.

"Mau disembuhin penyakitnya gak ?" katanya sambil
pura-pura melotot. Aku terdiam, kemudian melepaskan
tangannya. Dia tersenyum kemudian berkata "Gitu dong,
kan mau diobatin".

Kemudian dia melepas kancing celanaku dan resletingnya.
Kemudian dia melorotkan celanaku hingga terpampanglah
burung mudaku. Aku hanya diam menahan malu.

"Wah ini dia sumber penyakitnya" katanya riang kemudian
memegang burungku. Kemudian dia duduk disebelahku.
Mukaku semakin merah, apalagi burungku secara perlahan
tapi pasti menegang membesar.Mba indah malah tertawa
"Nah aku bilang apa, ini dia masalahnya, tuh dia makin
keras, makin besar !" sambil mengelus-ngelus lembut
burungku.

Tubuhku tergetar karena nikmat yang menjalari tubuhku.
Burungku makin tegang dan makin membesar.

"Mba..." kataku lemah karena keenakan. "Tenang ya rian,
mba obatin dulu ya" katanya. Celanaku dibuka secara
penuh kemudian dia menaruhnya di kursi dekat meja
belajarnya. Selangkanganku dilebarkan, kemudian dia
berpindah posisi, dia duduk diantara kedua pahaku.

Kemudian mba indah mulai mengulum penisku. Aku semakin
menerawang, inilah kenikmatan yang belum pernah aku
rasakan sebelumnya.

Saat mba indah mengulum dan menyedot-nyedot penisku, dia
mengeluarkan suara-suara erotis diantara keluar masuknya
penisku di mulutnya. Ternyata saat aku melihat, tangan
kirinya meremas-remas payudaranya. Hmm tak heran
badannya ikut bergetar saat mengulum penisku.

Tiba-tiba mba indah berhenti mengulum penisku. "Sebentar
ya" kata mba indah yang kemudian berdiri. Aku hanya
menatapnya dengan tatapan tidak rela karena tidak ingin
kehilangan kenikmatan tadi.

Ternyata mba indah melorotkan celana dalamnya. Karena
dia memakai rok, celana dalamnya langsung turun,
kemudian dia membuangnya kelantai. Dia kembali duduk
diantara selangkanganku, tapi kali ini dia agak
melebarkan pahanya.

Mba indah kembali mengulum penisku. Badanku kembali
bergetar keenakan. Diantara sadar dan tidak, aku mulai
mencium suatu bau khas, yang sekarang aku tau kalau bau
itu adalah vagina.

Aku melihat mba indah yang terus mengulum penisku.
Tangan kirinya yang tadi meremas-remas payudaranya
sekarang berada di selangkangannya, tapi aku tidak bisa
melihat apa yang dilakukan tangan itu sebab tertutup
kain rok yang masih dipakainya. Tapi aku menduga bau
khas tadi pasti berasal dari selangkangannya itu.

Kenikmatan naik sampai ubun-ubunku, badanku bergetar
hebat.

"Mba... aku mau pipis..." kataku sambil menahan dorongan
hebat dipenisku. Tapi mba indah tidak memperdulikan,
bahkan mempercepat kulumannya. Aku merasa gila karena
keenakan.. "Crotz... Crotz.. Crot.." akhirnya aku
mengeluarkan pipisku di mulutnya, aku baru tau kemudian
kalo itu adalah cairan sperma

Mba indah menyedot semua cairan spermaku, kemudian dia
tersenyum padaku. "Enak kan diobatin sama mba ?"
tanyanya sambil mengelap sisa-sisa sperma dipenisku.

Aku cuma menganggu kecil. Aku sangat lelah ! Rasa kantuk
menyerangku.

"He..he..he.. abis diobatin langsung ngantuk" tawa mba
indah.

Aku berusaha menahan kantukku, tapi rasanya berat
sekali. "Ya udah tidur aja dulu gih" suruh mba indah
yang kemudian berbaring terlentang disebelahku.

Diantara terbuka dan tertutupnya mataku, aku melihat mba
indah menaikkan kaosnya sehingga terpampanglah
payudaranya. Kemudian dia meremas-remas kedua
payudaranya sendiri. Suara-suara lenguhan mulai
terdengar dari mulutnya.

Sepertinya dia tidak puas hanya meremas payudaranya, dia
menyibak roknya keatas. Dari samping aku melihat
selangkangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku
tidak bisa melihat jelas, tapi aku melihat jari
tengahnya keluar masuk dari lobang yang mengeluarkan bau
harum tersebut.

Tangan kirinya meremas-remas payudaranya, jari tengah
tangan kanannya keluar masuk memeknya. Badannya
menegang, sesekali melengkung keatas, seperti
selangkangannya mengejar sesuatu. Suara lenguhannya
maikin keras dan makin cepat.... dan aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat aku terbangun
aku melihat mba indah tidur terlentang disampingku.
Tangan kirinya masih dipayudaranya dan tangan kanannya
masih diselangkangan, sama persis dengan keadaanya
sebelum aku tertidur. Bedanya badannya seperti terkulai
lemas, tidak setegang tadi.

Lama aku memandangi tubuhnya. Tenggorokanku tercekat,
sebab baru kali ini aku melihat langsung payudaranya
yang bulat itu. Apalagi memek yang ditumbuhi bulu-bulu
halus itu. Aku menelan ludahku. Walau sering
membicarakan dengan temanku tentang tubuh wanita, tapi
melihat langsung memang jauh lebih nikmat.

Kemudian pandangannku tertumbuk pada memeknya. Aku jadi
ingat bau khas yang aku cium tadi. Aku bergeser untuk
duduk diantara selangkangannya yang masih terbuka lebar
itu. Perlahan aku menggeser tangan kanan yang masih
"hinggap" diselangkangan.

Dadaku berdebar, takut mba indah terbangun, tapi usahaku
berhasil, tangannya kini berada di samping
tubuhnya.Perlahan aku elus memek itu dengan jari
tengahku. Hmm.. agak berlendir. Kemudian aku mencium
jari berlendirku. Aha.. ! benar kan dugaanku, bau itu
dari memeknya.

Tapi aku kurang puas. Aku elus lagi memeknya dengan jari
tengahku. Aku coba untuk menusuk lebih dalam agar
mendapat lendir lebih banyak. Aku tusuk keluar masuk
walau tidak terlalu dalam, tapi aku belum mendapat
lendir sebanyak yang aku mau.

Seiring aku menusuk-nusuk memeknya, perlahan pinggul mba
indah bergoyang sedikit mengikuti jariku. Aku merasa
memek mba indah makin berlendir, aku tersenyum puas.
Saat jariku terasa cukup berlendir, aku mengangkatnya
dan menciumnya. Wah... baunya sangat kuat tapi aku
sangat menyukainya.

Suka akan baunya, keingintahuanku timbul untuk mencoba
rasanya. Aku menjilat jari berlendirku itu. Hmm..
rasanya aneh, agak hambar, sedikit asin. Tapi entah
mengapa aku suka sekali.

Kemudian aku mengambil lagi lendir itu dari memek mba
indah dan menjilatnya lagi. Tapi aku kurang puas.
Akhirnya aku dekatkan mukaku ke memek mba indah. Aku
buka lipatan luar memeknya, terlihatnya bibir vaginanya
yang berwarna merah muda. Memek tersebut basah dengan
lendir.

Perlahan aku menjilat memek mba indah. Nikmat sekali
menikmati lendir dari sumbernya .

"Uh..uh..uh..." lenguh mba indah setiap lidahku menyetuh
dinding vaginanya. "Ahhhh..." lenguhnya panjang saat aku
menjilat daging kecil di bagian atas lobang memeknya.
Badannya semakin bergetar dan pinggulnya maju kedepan
setiap lidahku lepas dari memeknya. Sepertinya memeknya
mengejar lidahku, ingin dijilat lagi.

Tiba-tiba kepalaku terdorong masuk ke memeknya. "Aduh
rian enak banget !!" pekik mba indah. Ternyata mba indah
sudah bangun dan tangannya menekan kepalaku ke memeknya.

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum padanya. "Ayo rian
lagi... mba gak tahan nih..".

Aku kembali menjilati memeknya dengan lebih semangat.
Tangannya tetap dikepalaku, menekan setiap aku
mengangkat kepalaku.

"Ah..ah..ah.. aduh rian enak banget.." ujarnya sambil
mengangkat-angkat pinggulnya mengejar lidahku. "Shit...
enak banget" sambil menggerak-gerakkan kepalanya kekiri
dan kekanan.

"Akhhh...... " pekik mba indah yang kemudian menarik
tubuhku keatas untuk menindihnya. Dia kemudian memegang
kepalaku dan kemudian memagut bibirku. Dia nafsu sekali
mencium bibirku yang penuh dengan lendir memeknya
tersebut.

Akupun terangsang hebat. Aku membalas ciumannya.
Tanganku meraba-raba payudaranya yang kenyal itu.
Penisku tegang penuh karena ciuman itu.

Kami berciuman sangat hebat, "clop..clop...clop" bunyi
diantara ciuman saling sedot kami. Tangan mba indah
memegang penisku dan mengocok perlahan. Nikmat sekali,
tapi aku lebih bisa mengendalikan diri sekarang.

"Rian, masukin ya sekarang, mba udah gak tahan !"
ujarnya sambil menatapku dengan pandangan sayu. Aku
sebenarnya tidak mengerti apa yang dia maksud, tapi saat
dia menarik penisku kearah memeknya, aku bergeser
kebawah sedikit karena perbedaan tinggi kami.

Mba indah mengarahkan penisku ke memeknya, kemudian
menggesek-gesekkan kepala penisku di bibir vaginanya.
Tak lama kemudian dia menarik penisku untuk masuk lebih
dalam, secara reflek aku mendorong pinggulku. Perlahan
penisku masuk kememeknya. Akh.. nikmat sekali memasukkan
penis ke lobang licin yang menjepit itu.

Mba indah menekan pantatku sampai penisku amblas masuk
ke memeknya semua. Kemudian dia menahan pantatku. Aku
melihat wajahnya. Matanya dipejamkan dengan kepala agak
dimiringkan kekanan, aduh seksinya. Kemudian aku mulai
merasa penisku seperti diurut-urut oleh jari-jari kecil
didalam memeknya. tdak terbayang kenikmatan saat itu.

Mba kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga
penisku keluar masuk memeknya sedikit. Sensasi
kenikmatannya lebih dahsyat dari urutan memeknya tadi.
"Rian gerakin dong burungnya" pintanya memelas tapi
tidak menghentikan goyangan pinggulnya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku mengikuti gerakkannya.
Sekarang penisku keluar masuk memeknya lebih banyak.
"Akh...akhh... akhh..." lenguhnya sambil menggoyangkan
kepala kekiri kekanan.

Mukaku yang berada didepan lehernya menciumi dan
menjilati leher mba indah dengan sangat bernafsu.Aku
lengkungkan badanku, kemudian aku penyedot pentil
payudara kirinya. Badannya ikut melengkung dan bergetar
hebat. Aku pindah ke payudara kanannya, dia melenguh
hebat "Akkhhh..." kemudian menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa menit kami dalam posisi tersebut,
kemudian mba indah bangkit "Rian gantian ya, kamu
dibawah, supaya lebih enak".

Aku setuju saja, kemudian aku tidur terlentang. Penisku
berdiri menantang.

Kemudian mba indah jongkok diselangkanganku. Dia
memegang penisku, mengarahkan kememeknya yang dia
turunkan. Bless... penisku masuk seluruhnya kememeknya.
Mba indah kemudian menjajarkan tubuhnya dengan tubuhku.
Dia kemudian tersenyum padaku "Rian kamu hebat banget,
kamu udah ngegagahin aku" katanya lirih menggoda.
Kemudian dia memagut bibirku.

Perlahan dia menggoyangkan pinggulnya, dan aku juga
berusaha menggarakkan pinggulku, tapi agak susah.
Akhirnya aku cuma diam meremasi payudaranya.

Ciuman kami lepas saat goyangannya makin kencang. "Agh..
akh.. agh.." pekiknya setengah berteriak. Goyangan mba
indah makin kencang, sesekali dia memutar kepalanya
untuk meyibak rambutnya yang jatuh kebawah.

"Akh..akh... akh..AGGHHHHHH..." tiba-tiba tubuhnya
menegang. Dia menekan memeknya ke penisku. Gerakkannya
terhenti. Matanya terpejam. Setelah beberapa lama dia
membuka matanya kemudian berkata "Ahh.... rian enak
bangetth.." dengan nafas terengal-engal. Kemudian
tubuhnya amburk ketubuhku.

Aku yang belum puas coba menggerakkan pinggulku.
Memeknya terasa jauh lebih licin dari sebelumnya.
Cairannya makin banyak.

"Kamu belum puas ya ??" tanyanya sambil memandangku
dengan wajah puas. "Iya mba, sedikit lagi"
jawabku.Kemudian mba indah bergeser, kemudian tidur
terlentang. Kemudian dia membuka selangkangannya lebar.
Aku mengerti maksudnya, kemudian aku memposisikan
tubuhku diantara selangkangannya. Aku mengarahkan
penisku ke memeknya dan menekannya masuk. "Hgkh.."
pekiknya saat penisku masuk.

"Rian yang cepet ya.." katanya lirih. "Udah gak enak
lagi ya mba ?" tanyaku. "Masih enak, tapi mba capek
banget" jawabnya lirih.Aku menggoyangkan pinggulku dan
memusatkan untuk mengejar kepuasanku. Tak lama kemudian
aku merasa ada yang ingin keluar dari penisku, aku
menekan penisku dalam-dalam kememeknya dan mengeluarkan
spermaku banyak-banyak didalam memeknya.

Aku mencabut penisku, dia terseyum lebar. Kemudian kami
tidur saling berpelukan.