<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679</id><updated>2012-02-16T02:53:22.984-08:00</updated><title type='text'>BLUE MESUM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>164</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-4268821399015592761</id><published>2007-05-08T03:24:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T03:25:02.774-07:00</updated><title type='text'>NIKMAT SESAAT</title><content type='html'>Berikut ini ada kisahku bersama seorang pelacur yang &lt;br /&gt;                        tidak bisa kulupakan selamanya. Sebagai perkenalan, saya &lt;br /&gt;                        adalah seorang pemuda yang mempunyai wajah yang tampan, &lt;br /&gt;                        berkulit putih dan banyak wanita yang mencoba mendekati &lt;br /&gt;                        saya, namun saya belum bisa menerima para wanita itu &lt;br /&gt;                        sebagai teman istimewa, dan saya tidak mau memanfaatkan &lt;br /&gt;                        mereka hanya untuk iseng saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tetapi sebagai lelaki normal tentu saya mempunyai &lt;br /&gt;                        kebutuhan biologis yang tidak bisa saya pungkiri, dan &lt;br /&gt;                        saya tidak mau pada saat menikah nanti saya tidak &lt;br /&gt;                        mempunyai pengalaman apapun di atas tempat tidur. Belum &lt;br /&gt;                        lama ini akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke tempat &lt;br /&gt;                        yangmenyediakan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Suatu hari di bulan Februari 2001 hujan turun &lt;br /&gt;                        rintik-rintik, dan matahari tidak muncul seharian. Kaki &lt;br /&gt;                        saya melangkah masuk ke salah satu diskotik yang lumayan &lt;br /&gt;                        terkenal di Jakarta. Hari ini adalah untuk kedua kalinya &lt;br /&gt;                        saya melangkahkan kaki saya ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Begitu masuk, saya langsung naik ke lantai 2 diskotik &lt;br /&gt;                        tersebut. Di sana saya melihat ada beberapa pria sedang &lt;br /&gt;                        duduk di sofa sambil merokok. Mungkin sedang menunggu &lt;br /&gt;                        wanita langganannya. Seorang bartender menyapa saya &lt;br /&gt;                        dengan ramah, "Haloo Boss, mau yang mana nich.." Saya &lt;br /&gt;                        lalu melihat foto-foto yang ada di meja, saya akhirnya &lt;br /&gt;                        minta bantuan bartender itu untuk memilihkan untuk saya, &lt;br /&gt;                        karena foto yang ada begitu banyak. Lalu bartender itu &lt;br /&gt;                        bertanya, "Sukanya yang besar apa yang kecil?" tanyanya &lt;br /&gt;                        ramah. Saya agak bingung juga menjawabnya. Akhirnya saya &lt;br /&gt;                        minta yang sedang-sedang saja. Lalu ia menunjuk satu &lt;br /&gt;                        foto sambil berkata, "Ini orangnya baik sekali, &lt;br /&gt;                        service-nya juga bagus," dan saya langsung &lt;br /&gt;                        menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Di belakang meja terdapat 2 orang wanita cantik, salah &lt;br /&gt;                        seorang dari mereka sambil memberikan kunci ke bartender &lt;br /&gt;                        yang akan mengantarkan saya, terus menyanyikan lirik &lt;br /&gt;                        lagu dari Sephia, "...Selamat tidur kekasih &lt;br /&gt;                        gelapkuuu..." secara berulang-ulang. Saya bisa merasakan &lt;br /&gt;                        bahwa lagu itu ditujukan untuk menggodaku. Mungkin ia &lt;br /&gt;                        heran mengapa orang seperti saya harus datang ke tempat &lt;br /&gt;                        itu, sedangkan mungkin banyak wanita yang bersedia tidur &lt;br /&gt;                        denganku tanpa dibayar. Lalu saya diantar ke satu kamar &lt;br /&gt;                        sambil diberikan pengaman, di kamar tersebut belum ada &lt;br /&gt;                        siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah menunggu 5 menit, terdengar suara ketukan di &lt;br /&gt;                        pintu. Saat saya membuka pintu terlihat seorang wanita &lt;br /&gt;                        muda yang sangat manis berumur sekitar 20 tahun. Lalu &lt;br /&gt;                        saya menyalaminya, dan ia pun menyebutkan namanya Win. &lt;br /&gt;                        Lalu ia duduk di ranjang sedangkan saya di kursi. Saya &lt;br /&gt;                        coba mengajaknya ngobrol. Ia menceritakan bahwa ia &lt;br /&gt;                        berasal dari sebuah tempat di Jawa. Dari pembicaraannya, &lt;br /&gt;                        saya mengetahui bahwa di tempat tersebut ada lebih dari &lt;br /&gt;                        300 wanita. Dalam hati saya berpikir betapa kerasnya &lt;br /&gt;                        persaingan di sini. Dari cara bicaranya saya tahu bahwa &lt;br /&gt;                        Win bukanlah orang yang berpendidikan. Suaranya sangat &lt;br /&gt;                        lirih bahkan saya kadang-kadang hampir tidak mendengar &lt;br /&gt;                        apa yang diucapkannya. Pandangan matanya sulit untuk &lt;br /&gt;                        dilukiskan, mungkin sudah terlalu banyak cerita pahit &lt;br /&gt;                        terlukis di sana dalam usianya yang masih muda itu. Dari &lt;br /&gt;                        cara bicaranya saya tahu bahwa Win mempunyai hati yang &lt;br /&gt;                        soft and very kind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah kami ngobrol agak lama, kemudian ia berkata, &lt;br /&gt;                        "Kok bajunya nggak di lepas, malu ya?" katanya dengan &lt;br /&gt;                        tersenyum. "Ah nggak kok," elak saya, padahal saya &lt;br /&gt;                        memang tidak tahu bagaimana harus memulai, karena ini &lt;br /&gt;                        adalah pengalaman saya yang ketiga bercinta dengan &lt;br /&gt;                        seorang wanita. Saya lalu melepaskan baju saya. &lt;br /&gt;                        Bersamaan dengan saya melepaskan baju, saya lihat Win &lt;br /&gt;                        pun mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga &lt;br /&gt;                        tubuhnya tidak ditutupi sehelai benang pun. Sekarang &lt;br /&gt;                        terlihat di hadapan saya tubuh mulus dari seorang wanita &lt;br /&gt;                        yang siap untuk dibelai olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Berbekal adegan-adegan yang saya lihat di Blue Film, dan &lt;br /&gt;                        dari 2 pengalaman terdahulu, saya mulai mencumbunya. &lt;br /&gt;                        Saya memintanya untuk duduk di pangkuanku, sehingga &lt;br /&gt;                        pantatnya menekan kemaluanku yang lumayan besar dengan &lt;br /&gt;                        keras dan saya pun mulai meremas dan menjilati kedua &lt;br /&gt;                        payudaranya yang tidak begitu besar, namun sangat padat &lt;br /&gt;                        dan kenyal. Selama itu Win juga terus menggerak-gerakan &lt;br /&gt;                        pantatnya menggesek kemaluanku. Saya merasakan betapa &lt;br /&gt;                        enaknya saat penisku sesekali bertemu dengan vagina Win &lt;br /&gt;                        yang hangat. Ingin rasanya saya memasukan penisku saat &lt;br /&gt;                        itujuga ke dalam vaginanya, namun bisa kutahan, karena &lt;br /&gt;                        saya tidak mau hasratku menjadi menurun sebelum saya &lt;br /&gt;                        selesai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. Sehingga saya &lt;br /&gt;                        tetap bertahan sambil berkonsentrasi di kedua &lt;br /&gt;                        payudaranya yang benar-benar sempurna bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah beberapa lama lalu Win berkata, "Pindah ke &lt;br /&gt;                        tempat tidur aja yuk, nanti kamu kecapean.." Saya pun &lt;br /&gt;                        mengiyakannya lalu kami pindah ke tempat tidur. Ia lalu &lt;br /&gt;                        membaringkan tubuhnya yang polos itu di tempat tidur &lt;br /&gt;                        dengan kedua pahanya terentang lebar memperlihatkan alat &lt;br /&gt;                        kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu saya &lt;br /&gt;                        naik ke atas dan menindih tubuh Win dan bisa saya &lt;br /&gt;                        rasakan betapa halus kulit tubuhnya, begitu merasakan &lt;br /&gt;                        halusnya tubuh Win, penisku menjadi makin tegang dan &lt;br /&gt;                        saya bisa merasakan betapa kerasnya tekanan di sekitar &lt;br /&gt;                        kepalapenisku yang makin membesar seakan ingin meledak. &lt;br /&gt;                        Saya mulai mendekap tubuh Win dengan kuat sambil &lt;br /&gt;                        menggesekan tubuh dan kemaluanku ke tubuhnya. Win juga &lt;br /&gt;                        balas memeluk saya dengan kuat. Kedua pahanya menjepit &lt;br /&gt;                        pahaku dengan kuat sekali. Saat itu pikiranku &lt;br /&gt;                        benar-benar melayang entah kemana, kulit tubuh Win &lt;br /&gt;                        benar-benar halus dan licin, belum pernah saya menyentuh &lt;br /&gt;                        benda sehalus kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sambil terus menindihnya, kedua tangan saya kembali &lt;br /&gt;                        meremas-remas kedua payudaranya dan mulut saya menghisap &lt;br /&gt;                        payudaranya dan lidah saya menjilati kedua putingnya. &lt;br /&gt;                        Kadang-kadang tangan saya berpindah memegang dan meremas &lt;br /&gt;                        pantat Win yang bulat dan padat dengan kuat. Entah &lt;br /&gt;                        berapa lama kami bergulingan dan berpelukan seperti itu, &lt;br /&gt;                        namun saya benar-benar menikmati kulit tubuhnya yang &lt;br /&gt;                        halus. Sesekali saya dengar desahan nafas yang memburu &lt;br /&gt;                        darinya. Lalu dari kedua payudaranya saya mulai turun ke &lt;br /&gt;                        bawah dengan terus menciumi dan menjilati perut dan &lt;br /&gt;                        pahanya sambil mata saya memandangi vaginanya. Terus &lt;br /&gt;                        terang baru pertama kali ini saya melihat vagina wanita &lt;br /&gt;                        dengan begitu dekat dan terbuka, pada pengalaman &lt;br /&gt;                        terdahulu saya tidak sempat melihatnya karena terlalu &lt;br /&gt;                        terburu-buru. Saya tidak akan melewatkannya kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Saya coba untuk membuka vaginanya dengan kedua jari &lt;br /&gt;                        saya. Terlihat sebuah liang berwarna merah muda. Lalu &lt;br /&gt;                        saya memasukan jari tangan saya ke dalamnya. Ternyata &lt;br /&gt;                        vaginanya masih sangat rapat. Saya bisa merasakan jari &lt;br /&gt;                        tangan saya seperti terjepit di dalamnya. Rasanya hangat &lt;br /&gt;                        dan bergetar lembut, namun saya tidak memainkan jari &lt;br /&gt;                        tangan saya terlalu lama di sana, karena saya khawatir &lt;br /&gt;                        melukai alat kewanitaannya yang begitu lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kemudian saya mencoba menjilati vaginanya seperti di &lt;br /&gt;                        film BF yang pernah saya tonton. Lidah saya bergerak &lt;br /&gt;                        dengan cepat di vaginanya. Tidak tercium bau amis di &lt;br /&gt;                        vaginanya, malah ada kesan harum. Ternyata aksi saya itu &lt;br /&gt;                        cukup lumayan juga untuk seorang pemula, walaupun hanya &lt;br /&gt;                        berbekal adegan yang saya lihat di film. Begitu lidah &lt;br /&gt;                        saya menyentuh vaginanya, kedua pahanya langsung &lt;br /&gt;                        menjepit keras kepala dan wajah saya. Saya sih merasa &lt;br /&gt;                        keenakan juga karena pahanya terasa lembut sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kemudian vaginanya ditekan sekeras-kerasnya ke wajah &lt;br /&gt;                        saya sehingga saya agak kelabakan juga. Tubuhnya juga &lt;br /&gt;                        melengkung ke atas, dan kepalanya bergerak ke kiri dan &lt;br /&gt;                        ke kanan dengan nafas yang sangat kencang. Akhirnya ia &lt;br /&gt;                        menarik kepala saya ke atas dan meminta saya memasukan &lt;br /&gt;                        penisku yang sudah tegang sekali ke dalam vaginanya. &lt;br /&gt;                        Lalu saya pun memasukan kemaluanku yang lumayan panjang &lt;br /&gt;                        dan besar ke dalam vaginanya. Sambil memeluk tubuhnya &lt;br /&gt;                        yang halus kuat-kuat dan menekan tubuh saya ke &lt;br /&gt;                        payudaranya yang indah itu, saya mulai menaik-turunkan &lt;br /&gt;                        pantat saya, dan penis saya terjepit dengan kuat sekali &lt;br /&gt;                        di vaginanya. Alat kelamin saya meluncur masuk keluar &lt;br /&gt;                        dari vaginanya. Selama itu terdengar suara yang &lt;br /&gt;                        dihasilkan oleh pertemuan kedua alat kemaluan kami. Saat &lt;br /&gt;                        itu saya tidak melihat bagaimana ekspresi dari Win, &lt;br /&gt;                        sebab saat itu saya sudah terlalu sibuk dengan sensasi &lt;br /&gt;                        yang saya rasakan di seluruh tubuhku. Saya hanya bisa &lt;br /&gt;                        membenamkan seluruh wajah saya ke payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Cukup lama saya menggenjot vagina Win sampai saya merasa &lt;br /&gt;                        lelah juga. Setelah penantian yang panjang akhirnya saya &lt;br /&gt;                        mencapai puncaknya. Terasa seluruh tubuhku bergetar &lt;br /&gt;                        seolah tidak mempunyai tulang lagi, karena saya memakai &lt;br /&gt;                        pengaman, Win tidak tahu kalau saya sudah keluar. Dia &lt;br /&gt;                        mungkin mengira saya kelelahan, karena saya lihat &lt;br /&gt;                        nafasnya masih keras, makanya saya tetap genjot sampai &lt;br /&gt;                        akhirnya tubuhnya tersentak kuat tanda ia juga sudah &lt;br /&gt;                        keluar, baru saya hentikan. Setelah itu saya &lt;br /&gt;                        membersihkan diri, dari kaca saya lihat ia terbaring &lt;br /&gt;                        dengan memejamkan matanya. Saya tidak tahu apakah ia &lt;br /&gt;                        terlalu lelah atau menikmati apa yang barusan kami &lt;br /&gt;                        lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah saya selesai membersihkan diri, lalu saya duduk &lt;br /&gt;                        di sebelahnya. Saya lihat dia tersenyum ke arahku, lalu &lt;br /&gt;                        ia pun membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia berkata &lt;br /&gt;                        sambil tersenyum ke arahku, "Udah selesai kan?, sekarang &lt;br /&gt;                        pulang ya!" katanya menggoda. Mungkin karena ia &lt;br /&gt;                        menganggapku masih lebih muda darinya. Tapi saya malah &lt;br /&gt;                        berkata, "Boleh sekali lagi nggak?"Sambil &lt;br /&gt;                        menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum, ia lalu &lt;br /&gt;                        merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, dan kali &lt;br /&gt;                        ini saya berkonsentrasi pada payudaranya yang sangat &lt;br /&gt;                        padat itu. Saya saat itu bertekad untuk menikmati &lt;br /&gt;                        sepuasnya kedua payudaranya, agar tidak ada penyesalan &lt;br /&gt;                        nantinya. Bentuk payudaranya hampir sama dengan bintang &lt;br /&gt;                        BF asia yang pernah saya tonton. Bentuknya bulat kencang &lt;br /&gt;                        menjulang ke atas tidak turun, dan putingnya juga masih &lt;br /&gt;                        berwarna merah muda dan mungil. Saya mulai lagi &lt;br /&gt;                        memainkan lidah saya di payudaranya bergantian ke &lt;br /&gt;                        payudara yang kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Permainan lidah ini saya peroleh pada pengalaman saya &lt;br /&gt;                        yang kedua, di mana pada saat itu saya benar-benar &lt;br /&gt;                        menjadi objek dari seorang wanita di sebuah kompleks &lt;br /&gt;                        Jakarta Pusat. Saat itu sekujur tubuh saya dan kemaluan &lt;br /&gt;                        saya menjadi objek permainan lidah dari seorang wanita &lt;br /&gt;                        yang benar-benar ahli dan profesional sehingga pada &lt;br /&gt;                        pengalaman saya yang kedua itu, bukan saya yang &lt;br /&gt;                        mempermak wanita, tapi malah saya yang dipermak &lt;br /&gt;                        habis-habisan. Saat itu malah saya sudah mengeluarkan &lt;br /&gt;                        sperma terlebih dahulu sebelum sempat memasukan penis &lt;br /&gt;                        saya ke vaginanya, saking dahsyatnya permainan lidahnya. &lt;br /&gt;                        Untung saya saat ini masih muda sehingga saya tidak &lt;br /&gt;                        langsung lemas setelah keluar 1 atau 2 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sekarang tehnik permainan lidah itu saya coba praktekan &lt;br /&gt;                        ke Win. Sambil terus memainkan lidah saya di &lt;br /&gt;                        payudaranya, tangan saya juga terus mengusap dan &lt;br /&gt;                        meremas-remas payudaranya, sesekali saya mengisap &lt;br /&gt;                        payudaranya dengan keras, dan kadang-kadang saya &lt;br /&gt;                        menggigit payudaranya dengan lembut. Kadang-kadang saya &lt;br /&gt;                        mengisap payudaranya begitu keras sampai seakan-akan &lt;br /&gt;                        semua payudaranya ingin saya masukan ke mulut. Makin &lt;br /&gt;                        lama saya bermain di payudaranya, Win yang semula &lt;br /&gt;                        tenang, makin lama makin gelisah, tubuhnya bergerak liar &lt;br /&gt;                        ke kiri dan ke kanan, terus tubuhnya makin ditempelkan &lt;br /&gt;                        dan digesekan dengan keras ke tubuhku, dan vaginanya di &lt;br /&gt;                        gesek-gesekan ke alat vital saya. Saya mendengar &lt;br /&gt;                        nafasnya sangat keras dan terdengar desahan dari &lt;br /&gt;                        mulutnya. Karena mendengar nafas Win yang semakin &lt;br /&gt;                        memburu sambil terus meremas-remas payudaranya dan &lt;br /&gt;                        menggesekan tubuh dan kemaluanku ke tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Saya mencoba untuk melihat wajahnya. Begitu melihat &lt;br /&gt;                        wajahnya, saya sempat terpaku. Saya sempat terpana di &lt;br /&gt;                        buatnya. Terus terang saya sudah banyak bertemu dengan &lt;br /&gt;                        wanita-wanita cantik, namun baru kali ini saya melihat &lt;br /&gt;                        sebuah wajah yang sangat menakjubkan. Apa yang saya &lt;br /&gt;                        lihat saat itu adalah pemandangan yang sangat indah yang &lt;br /&gt;                        mungkin tidak akan pernah bisa saya lupakan. Di depan &lt;br /&gt;                        saya terlihat sebuah wajah wanita yang begitu cantik, &lt;br /&gt;                        anggun, damai, dengan kedua mata terpejam, dagunya agak &lt;br /&gt;                        terangkat ke atas sehingga terlihat jelas lehernya yang &lt;br /&gt;                        jenjang dengan seuntai kalung di lehernya. Tergambar &lt;br /&gt;                        jelas di wajahnya betapa ia begitu bahagia. Benar-benar &lt;br /&gt;                        pemandangan yang sangat sempurna dan sukar dilukiskan. &lt;br /&gt;                        Mungkin saat itu saya benar-benar telah merasakan cinta &lt;br /&gt;                        sesaat. Ingin rasanya saat itu saya mengecup bibirnya &lt;br /&gt;                        yang mungil itu, namun saya takut akan menghilangkan &lt;br /&gt;                        pemandangan yang mungkinkah akan bisa menyaksikannya &lt;br /&gt;                        lagi dari wanita lain. Sayang sekali saya tidak bisa &lt;br /&gt;                        melihatnya terlalu lama karena ia keburu meminta saya &lt;br /&gt;                        kembali untuk memasukan penis saya ke vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya saya kembali untuk kedua kalinya memasukan &lt;br /&gt;                        penis saya ke vaginanya, dan kali ini kami lebih liar &lt;br /&gt;                        dari yang pertama, apalagi saya sudah mengeluarkan &lt;br /&gt;                        sperma sekali, maka untuk yang kedua ini saya lebih kuat &lt;br /&gt;                        dan tahan lama dan saya lihat Win pun gerakannya lebih &lt;br /&gt;                        liar dari yangpertama kali, sekali ini dia malah &lt;br /&gt;                        berteriak kecil agak ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah saya menggenjot vagina Win dan tidak terhitung &lt;br /&gt;                        berapa kali kami bergulingan berganti posisi, kadang dia &lt;br /&gt;                        di bawah, kadang saya di atas. Akhirnya saya kembali &lt;br /&gt;                        mencapai puncaknya dan kali ini rasanya lebih dahsyat &lt;br /&gt;                        dari yang pertama. Namun saya tahu Win belum mencapai &lt;br /&gt;                        orgasme, tapi ia lalu minta ganti posisi, ia minta duduk &lt;br /&gt;                        di atas, begitu saya mencabut penis saya, terlihat bahwa &lt;br /&gt;                        sperma saya sudah keluar dan terkumpul di pengaman, tapi &lt;br /&gt;                        saya tetap memintanya untuk menggenjot dari atas, dia &lt;br /&gt;                        sempat menanyakan pada saya, "Masih kuat nggak?" Dengan &lt;br /&gt;                        wajah yakin saya bilang, "Masih.." Dan memang saat itu &lt;br /&gt;                        penis saya masih berdiri tegak, dan belum loyo, hanya &lt;br /&gt;                        saya tidak tahu apakah masih ada sperma yang tersisa. &lt;br /&gt;                        Lalu Win mulai menaik-turunkan pantatnya dengan cepat, &lt;br /&gt;                        sedangkan saya hanya berbaring santai saja menikmati apa &lt;br /&gt;                        yang masih saya nikmati, sampai akhirnya Win berteriak &lt;br /&gt;                        lirih dan mencapai orgasme, namun saya sendiri tidak &lt;br /&gt;                        berhasil mencapai orgasme saya yang ketiga, karena saya &lt;br /&gt;                        tahu untuk mencapai yang ketiga akan dibutuhkan waktu &lt;br /&gt;                        lebih lama lagi buat saya dan saya rasa waktu yang &lt;br /&gt;                        disediakan mungkin tidak cukup, maka setelah Win &lt;br /&gt;                        mencapai orgasme yang ketiga, akhirnya saya membersihkan &lt;br /&gt;                        diri, dan Win juga. Lalu saya menunggu dia berpakaian &lt;br /&gt;                        baru saya mengenakan pakaian saya. Lalu saya memberikan &lt;br /&gt;                        bayarannya dan kembali menyalaminya sambil mengucapkan &lt;br /&gt;                        terima kasih. Dia juga mengucapkan terima kasih pada &lt;br /&gt;                        saya dengan kembali tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Saya melihat wajahnya lekat-lekat untuk yang terakhir &lt;br /&gt;                        kalinya sebelum saya keluar dari kamar dan diskotik itu &lt;br /&gt;                        untuk kembali menjalani hidup sehari-hari yang penuh &lt;br /&gt;                        dengan tantangan dan tekanan, kembali bergelut dengan &lt;br /&gt;                        komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Entah kapan saya akan bertemu lagi dengan Win karena &lt;br /&gt;                        setelah hubungan saya dengan Win tersebut, saya bertekad &lt;br /&gt;                        bahwa Win adalah wanita terakhir yang pernah bercinta &lt;br /&gt;                        dengan saya selain Istri saya. Saya tidak akan &lt;br /&gt;                        mengunjungi tempat pelacuran selama-lamanya karena saya &lt;br /&gt;                        sudah mendapatkan apa yang perlu saya ketahui sebagai &lt;br /&gt;                        seorang lelaki dewasa. Saya hanya berharap mudah-mudahan &lt;br /&gt;                        istri saya nanti bisa memberikan seperti apa yang saya &lt;br /&gt;                        rasakan bersama Win. Dan nantinya saya bisa bertemu &lt;br /&gt;                        dengan Win dalam kondisi yang lebih baik bukan sebagai &lt;br /&gt;                        seorang pelacur dan pelanggannya. Tetapi sebagai seorang &lt;br /&gt;                        sahabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-4268821399015592761?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/4268821399015592761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=4268821399015592761' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4268821399015592761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4268821399015592761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/nikmat-sesaat.html' title='NIKMAT SESAAT'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-2150030716294158268</id><published>2007-05-08T03:15:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T03:24:17.578-07:00</updated><title type='text'>ADIK TANTEKU 4</title><content type='html'>Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya &lt;br /&gt;                        sambil merangkul Arie. Batang kemaluan Arie langsung &lt;br /&gt;                        masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah &lt;br /&gt;                        dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel &lt;br /&gt;                        di pundak Arie. Beberapa detik kemudian, setelah liang &lt;br /&gt;                        kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie dan dirasakannya batang kemaluan Arie &lt;br /&gt;                        sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan &lt;br /&gt;                        langsung mendorong Arie sambil pergi dan terseyum manis &lt;br /&gt;                        meninggalkan Arie yang tampak kebingungan dengan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang sedang menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendapat perlakuan itu Arie menjadi tambah bernafsu &lt;br /&gt;                        kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan &lt;br /&gt;                        lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. &lt;br /&gt;                        Lalu Arie langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk &lt;br /&gt;                        membersihkan badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah di kamar, Arie langsung membuka semua bajunya &lt;br /&gt;                        yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi &lt;br /&gt;                        dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan &lt;br /&gt;                        membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya &lt;br /&gt;                        ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung &lt;br /&gt;                        Arie teringat akan keberadaan kamar Yuni. Arie lalu &lt;br /&gt;                        pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel &lt;br /&gt;                        di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. "Yuni.. &lt;br /&gt;                        Yuni.. Yuni.." teriak Arie sambil mengetuk pintu kamar &lt;br /&gt;                        Yuni. "Masuk Kak Ariee, tidak dikunci." balas Yuni dari &lt;br /&gt;                        dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Didapatinya ternyata Yuni masih melilitkan badan dengan &lt;br /&gt;                        selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan &lt;br /&gt;                        kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia &lt;br /&gt;                        melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Arie &lt;br /&gt;                        dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu &lt;br /&gt;                        yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ada apa Kak Arie," kata Yuni sambil terus berpura-pura &lt;br /&gt;                        menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan &lt;br /&gt;                        bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang &lt;br /&gt;                        sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan &lt;br /&gt;                        yang dilakukan kakaknya dengan Arie. "Anu Yuni.. Kakak &lt;br /&gt;                        mau ikut mandi karena kamar mandi Arie airnya tidak &lt;br /&gt;                        keluar." Memang Yuni melihat dengan jelas bahwa badan &lt;br /&gt;                        Arie dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Yuni &lt;br /&gt;                        bukannya badan tapi Yuni memperhatikan diantara &lt;br /&gt;                        selangkangannya yang kelihatan mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Iseng-iseng Yuni menanyakan tentang apa yang &lt;br /&gt;                        mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar &lt;br /&gt;                        pertanyaan itu niat Arie yang akan menerangkan tentang &lt;br /&gt;                        biologi ternyata langsung kesampaian dan Arie pun &lt;br /&gt;                        langsung memperlihatkannya sambil memengang batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya, "Ini namanya penis.. Sayang," kata Arie &lt;br /&gt;                        yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Yuni &lt;br /&gt;                        menutup wajahnya dengan selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat batang kemaluan Arie yang sedang menegang itu &lt;br /&gt;                        Yuni membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang &lt;br /&gt;                        dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur &lt;br /&gt;                        tubuh Yuni yang membayangkan batang kemaluan Arie dan ia &lt;br /&gt;                        ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga &lt;br /&gt;                        ia melakukannya. Mata Yuni terus memandang Arie yang &lt;br /&gt;                        sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap &lt;br /&gt;                        kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya karena Yuni sudah dipuncak kenikmatan, ia &lt;br /&gt;                        mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah &lt;br /&gt;                        berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Yuni pergi &lt;br /&gt;                        memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Arie. &lt;br /&gt;                        Melihat kedatangan Yuni ke kamar mandi, Arie hanya &lt;br /&gt;                        tersenyum. "Kamu juga mau mandi Yun," kata Arie sambil &lt;br /&gt;                        mencubit pinggang Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Yuni yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum &lt;br /&gt;                        sambil melihat batang kemaluan Arie yang masih mengeras. &lt;br /&gt;                        "Kak boleh nggak Yuni mengelus-elus barang itu," bisik &lt;br /&gt;                        Yuni sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar &lt;br /&gt;                        permintaan itu Arie langsung tersenyum nakal, ternyata &lt;br /&gt;                        selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan &lt;br /&gt;                        hasilnya. Dalam pikiran Arie, Yuni sekarang mungkin &lt;br /&gt;                        telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah &lt;br /&gt;                        lagi Arie langsung mendekatkan batang kemaluannya ke &lt;br /&gt;                        tangan Yuni dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan &lt;br /&gt;                        Yuni yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki &lt;br /&gt;                        itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya &lt;br /&gt;                        seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat &lt;br /&gt;                        hingga membuat Arie kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aduh.. jangan keras-keras dong Yuni, nanti batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya patah." Mendengar itu Yuni menjadi sedikit &lt;br /&gt;                        kaget lalu Ari membatunya untuk memainkan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya dengan lembut. Tangan Yuni dituntunnya untuk &lt;br /&gt;                        meraba batang kemaluan Arie dengan halus lalu batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie didekatkan ke wajah Yuni agar mengulumnya. &lt;br /&gt;                        Yuni hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu &lt;br /&gt;                        Arie memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum &lt;br /&gt;                        ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen &lt;br /&gt;                        karet. Diperintah tersebut Yuni langsung menurut, &lt;br /&gt;                        mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Arie lalu &lt;br /&gt;                        Yuni memasukkan semua batang kemaluan Arie ke dalam &lt;br /&gt;                        mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Yuni &lt;br /&gt;                        terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga &lt;br /&gt;                        karena nafsunya terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah sedikit tenang, Yuni mengulum lagi batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie tanpa diperintah sambil pinggul Yuni &lt;br /&gt;                        bergoyang menyentuh kaki Arie. Melihat kejadian itu Arie &lt;br /&gt;                        akhirnya menghentikan kuluman Yuni dan langsung &lt;br /&gt;                        mengangkat Yuni dan membawanya ke ranjang yang ada di &lt;br /&gt;                        samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, &lt;br /&gt;                        dengan hangat Yuni dipeluk oleh Arie dan Yuni pun &lt;br /&gt;                        membalas pelukan Arie. Bibir Yuni yang polos tanpa &lt;br /&gt;                        liptik dicium Arie dengan penuh kehangatan dan &lt;br /&gt;                        kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu Yuni &lt;br /&gt;                        untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya &lt;br /&gt;                        naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium &lt;br /&gt;                        oleh Arie. Bila Arie menjulurkan lidahnya maka Yuni pun &lt;br /&gt;                        sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Arie. Dengan &lt;br /&gt;                        permainan itu Yuni sangat menikmatinya apalagi Arie yang &lt;br /&gt;                        bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah &lt;br /&gt;                        berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kecupan Yuni kadang kala keluar suara yang keras karena &lt;br /&gt;                        kehabisan nafas. "Pek.. pek.." suara bibir Yuni &lt;br /&gt;                        mengeluarkan suara yang membuat Arie semakin terangsang. &lt;br /&gt;                        Mendengar suara itu Arie tersenyum sambil terus &lt;br /&gt;                        memagutnya. Tangan Arie dengan terampil telah membuka &lt;br /&gt;                        daster putih yang dipakai Yuni. Dengan gerakan yang &lt;br /&gt;                        sangat halus, Arie menuntun Yuni agar duduk di pinggir &lt;br /&gt;                        ranjang dan Yuni pun mengetahui keinginan Arie itu. &lt;br /&gt;                        Bibir Yuni yang telah berubah warna menjadi merah terus &lt;br /&gt;                        dipagut Arie dengan posisi Yuni tertindih oleh Arie. &lt;br /&gt;                        Tangan Yuni terus merangkul Arie sambil bukit &lt;br /&gt;                        kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu Arie membalikkan tubuh Yuni sehingga kini Yuni &lt;br /&gt;                        berada di atas tubuh Arie, dengan perlahan tangan Arie &lt;br /&gt;                        membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Yuni. &lt;br /&gt;                        Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Yuni, Arie &lt;br /&gt;                        pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Yuni &lt;br /&gt;                        dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan &lt;br /&gt;                        panjang keluar dari mulut Yuni. "Auuu..." sambil &lt;br /&gt;                        mendekap Arie keras-keras. Melihat itu Arie semakin &lt;br /&gt;                        bersemangat. Setelah Arie berhasil membuka semua pakaian &lt;br /&gt;                        yang dikenakan Yuni, terlihat Yuni sedikit tenang iapun &lt;br /&gt;                        kembali membalikkan Yuni sehingga ia sekarang berada di &lt;br /&gt;                        atas tubuh Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan &lt;br /&gt;                        pagutannya ke bukit kemaluan Yuni yang telah terbuka &lt;br /&gt;                        dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Yuni yang &lt;br /&gt;                        kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh &lt;br /&gt;                        bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Yuni &lt;br /&gt;                        direnggangkan oleh Arie. Pagutan Arie beganti pada bibir &lt;br /&gt;                        kecil kepunyaan Yuni. Pantat Yuni terangkat dengan &lt;br /&gt;                        sendirinya ketika bibir Arie mengulum bukit kemaluan &lt;br /&gt;                        kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit &lt;br /&gt;                        kemaluan perawan membuat batang kemaluan Arie semakin &lt;br /&gt;                        ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Arie kasihan &lt;br /&gt;                        melihat Yuni karena kemaluannya belum juga merekah. &lt;br /&gt;                        Jilatan bibir Arie yang mengenai klitoris Yuni membuat &lt;br /&gt;                        Yuni menjepit wajah Arie. Semburan panas keluar dari &lt;br /&gt;                        bibir bukit kemaluan Yuni. Yuni hanya menggeliat dan &lt;br /&gt;                        menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu Arie merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, &lt;br /&gt;                        ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama &lt;br /&gt;                        menengang. Arie menarik tubuh Yuni agar pantatnya pas &lt;br /&gt;                        tepat di pinggir ranjang. Kaki Yuni menyentuh lantai dan &lt;br /&gt;                        Arie berdiri diantara kedua paha Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat kondisi tubuh Yuni yang sudah tidak menggunakan &lt;br /&gt;                        apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan &lt;br /&gt;                        Yuni yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari &lt;br /&gt;                        bibir kecilnya membuat Arie menahan nafas. Arie berdiri, &lt;br /&gt;                        dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit &lt;br /&gt;                        kemaluan Yuni. Melihat itu Yuni sedikit kaget dan merasa &lt;br /&gt;                        takut Yuni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. &lt;br /&gt;                        Melihat gejala itu Arie hanya tersenyum dan ia sedikit &lt;br /&gt;                        lebih melebarkan paha Yuni sehingga kllitorisnya &lt;br /&gt;                        terlihat dengan jelas.I a menggesek-gesekkan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya di bibir kemaluan Yuni. Sambil &lt;br /&gt;                        menggesek-gesek batang kemaluan, Arie kembali mendekap &lt;br /&gt;                        Yuni sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. &lt;br /&gt;                        Melihat Arie yang membuka tangannya, Yuni langsung &lt;br /&gt;                        merangkulnya dan mencium bibir Arie. Pagutan pun kembali &lt;br /&gt;                        terjadi, bibir Yuni dengan lahapnya terus memagut bibir &lt;br /&gt;                        Arie. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Yuni. &lt;br /&gt;                        "Aduhh... Kaak..." erang Yuni sambil merangkul tubuh &lt;br /&gt;                        Arie dengan keras. Arie meraba-raba bukit kemaluan Yuni &lt;br /&gt;                        dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang &lt;br /&gt;                        kemaluan Yuni, Arie mendorongnya perlahan dan ketika &lt;br /&gt;                        kepala kejantanan Arie masuk ke liang senggama Yuni. &lt;br /&gt;                        Yuni mengerang kesakitan, "Kak.. aduh sakit, Kak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar rintihan itu, Arie membiarkan kepala &lt;br /&gt;                        kemaluannya ada di dalam liang senggama Yuni dan Arie &lt;br /&gt;                        terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Yuni dan Arie &lt;br /&gt;                        pun berjalan lagi. Dada Arie yang besar terus &lt;br /&gt;                        digesek-gesekkan ke payudara Yuni yang sudah mengeras. &lt;br /&gt;                        Yuni yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan &lt;br /&gt;                        rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi &lt;br /&gt;                        untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan &lt;br /&gt;                        itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah &lt;br /&gt;                        nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kepala kemaluan Arie yang besar baru masuk ke liang &lt;br /&gt;                        kewanitaan Yuni, tapi jepitan liang kemaluan Yuni begitu &lt;br /&gt;                        keras dirasakan oleh batang kemaluan Arie. Sambil &lt;br /&gt;                        mencium telinga kiri Yuni, Arie kembali berusaha &lt;br /&gt;                        memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Yuni. &lt;br /&gt;                        "Aduh.. aduh.. aduh.. Kak," Mendengar rintihan itu Arie &lt;br /&gt;                        berkata kepada Yuni. "Kamu sakit Yuni," bisik Arie di &lt;br /&gt;                        telinga Yuni. "Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit &lt;br /&gt;                        biasa, sakit tapi nikmat.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar penjelasan itu, Arie terus memasukkan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah &lt;br /&gt;                        masuk semua ke dalam liang senggama Yuni. Batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie sudah masuk ke liang senggama Yuni hampir &lt;br /&gt;                        setengahnya. Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang &lt;br /&gt;                        kemaluan Yuni, kaki Yuni semakin diangkat dan tertumpang &lt;br /&gt;                        di punggung Arie. Tiba-tiba tubuh Yuni bergetar sambil &lt;br /&gt;                        merangkul Arie dengan kuat. "Aduhhh..." dan cairan &lt;br /&gt;                        hangat keluar dari bibir kemaluan Yuni, Arie dapat &lt;br /&gt;                        merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang &lt;br /&gt;                        tertancap di bukit kemaluan Yuni. Lipatan paha Yuni &lt;br /&gt;                        telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh &lt;br /&gt;                        mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Arie &lt;br /&gt;                        lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang &lt;br /&gt;                        senggama Yuni. Dengan satu kali hentakan. "Preeet..." &lt;br /&gt;                        Yuni melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan &lt;br /&gt;                        Arie. "Auh.. auh.. auh.." suara itu keluar dari mulut &lt;br /&gt;                        kecil Yuni setelah seluruh batang kejantanan Arie berada &lt;br /&gt;                        di dalam lembah kenikmatan Yuni. "Kak, Badan Yuni sesak, &lt;br /&gt;                        sulit bernafas," kata Yuni sambil menahan rasa nikmat &lt;br /&gt;                        yang tiada taranya. Mendengar itu lalu Arie membalikkan &lt;br /&gt;                        tubuh Yuni agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan &lt;br /&gt;                        posisi itu Yuni seperti pasrah dan tidak melakukan &lt;br /&gt;                        gerakan apapun selain mendekap tubuh Arie sambil &lt;br /&gt;                        meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru &lt;br /&gt;                        kali ini dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Yuni dan Arie terdiam kurang lebih lima menit. "Yuni, &lt;br /&gt;                        sekarang bagaimana badanmu," kata Arie yang melihat Yuni &lt;br /&gt;                        sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya &lt;br /&gt;                        dengan pelan-pelan. "Udah agak enakan Kak," balas Yuni &lt;br /&gt;                        sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan &lt;br /&gt;                        ke kanan. Mendapatkan serangan itu Arie langsung &lt;br /&gt;                        mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Arie dari &lt;br /&gt;                        atas ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara &lt;br /&gt;                        selangkangan Yuni dan Arie. Sambil menggoyangkan &lt;br /&gt;                        pantatnya, mulut Yuni tetap mengaduh, "Aduhhh..." &lt;br /&gt;                        Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh &lt;br /&gt;                        badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Arie. Yuni &lt;br /&gt;                        dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke &lt;br /&gt;                        samping dan ke kiri membuat Arie kewalahan ditambah lagi &lt;br /&gt;                        kuatnya jepitan bukit kemaluan Yuni yang semakin &lt;br /&gt;                        menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar &lt;br /&gt;                        paku itu putus. Beberapa menit kemudian Arie memeluk &lt;br /&gt;                        badan Yuni dengan eratnya dan batang kemaluannya &lt;br /&gt;                        berusaha ditekan ke atas membuat pantat Yuni terangkat. &lt;br /&gt;                        Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Yuni yang &lt;br /&gt;                        kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, &lt;br /&gt;                        Yuni mendesis kenikmatan sambil mengeram, "Aduhh... &lt;br /&gt;                        aduh.. Kak.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Selang beberapa menit Arie diam sambil memeluk Yuni yang &lt;br /&gt;                        masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri &lt;br /&gt;                        dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah &lt;br /&gt;                        badannya merasa sudah agak baik, Arie membalikkan tubuh &lt;br /&gt;                        Yuni sehingga sekarang tubuh Yuni berada di bawah Arie. &lt;br /&gt;                        Batang kemaluan Arie masih menancap keras di lembah &lt;br /&gt;                        kemaluan Yuni meskipun sudah mengeluarkan sperma yang &lt;br /&gt;                        banyak. Lalu kaki Yuni diangkat oleh Arie dan &lt;br /&gt;                        disilangkan di pinggul. Arie mengeluarkan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Yuni. &lt;br /&gt;                        Mendapat hal itu mata Yuni tertutup sambil &lt;br /&gt;                        membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu &lt;br /&gt;                        dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke &lt;br /&gt;                        dalam liang senggama Yuni, turun naik batang kemaluan &lt;br /&gt;                        Arie di dalam liang perawan Yuni membuat Yuni beberapa &lt;br /&gt;                        kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur &lt;br /&gt;                        dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kemaluan Yuni yang &lt;br /&gt;                        tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan &lt;br /&gt;                        berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya &lt;br /&gt;                        Arie mengerang-erang sambil memeluk tubuh Yuni dan Yuni &lt;br /&gt;                        pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, &lt;br /&gt;                        keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada &lt;br /&gt;                        taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie mendekap Yuni sambil menikmati semburan lahar panas &lt;br /&gt;                        dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Arie dan Yuni &lt;br /&gt;                        pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah &lt;br /&gt;                        kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Arie memeluk &lt;br /&gt;                        Yuni tanpa adanya gerakan begitu juga Yuni hanya memeluk &lt;br /&gt;                        Arie. Dirasakan oleh Arie bahwa batang kemaluannya &lt;br /&gt;                        mengecil di dalam liang kemaluan Yuni dan setelah merasa &lt;br /&gt;                        batang kemaluannya betul-betul mengecil Arie menjatuhkan &lt;br /&gt;                        tubuhnya di samping Yuni. Arie mencium kening Yuni. Yuni &lt;br /&gt;                        membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Arie &lt;br /&gt;                        bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki &lt;br /&gt;                        Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar itu Arie hanya tersenyum karena memang selama &lt;br /&gt;                        ini Arie mendambakan istri seperti Yuni ditambah lagi ia &lt;br /&gt;                        mengetahui bila hidup dengan Yuni maka ia akan &lt;br /&gt;                        mendapatkan segalanya. Arie mengucapkan selamat bobo &lt;br /&gt;                        kepada Yuni yang langsung tertidur kecapaian dan Arie &lt;br /&gt;                        langsung keluar dari kamar Yuni setelah Arie menggunakan &lt;br /&gt;                        pakaiannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam &lt;br /&gt;                        keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan &lt;br /&gt;                        jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante &lt;br /&gt;                        Rani dibuat kaget karena Arie langsung meraba liang &lt;br /&gt;                        kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil &lt;br /&gt;                        menegurnya. "Tante sudah pulang," tanya Arie. Sambil &lt;br /&gt;                        melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan &lt;br /&gt;                        tantenya. Lalu Arie membuka kulkas untuk mencari air &lt;br /&gt;                        putih. "Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante &lt;br /&gt;                        kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan &lt;br /&gt;                        dalam keadaan menantang," jawab Tante Rani sambil &lt;br /&gt;                        tersenyum. "Bagaimana sekarang Arie burungnya, sudah &lt;br /&gt;                        mendapatkan sarang yang baru ya.." Mendapat ejekan itu, &lt;br /&gt;                        Arie langsung kaget. "Ah Tante, mau cari sangkar di &lt;br /&gt;                        mana," jawab Arie mengelak. "Arie kamu jangan mengelak, &lt;br /&gt;                        Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru &lt;br /&gt;                        jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan &lt;br /&gt;                        Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa &lt;br /&gt;                        kamu telah bermain gila bersama Yuni dan Tante."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar itu, Arie langsung diam dan ia akan menikahi &lt;br /&gt;                        Yuni seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante &lt;br /&gt;                        Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada &lt;br /&gt;                        Arie sambil meraba batang kemaluan Arie yang sudah tidak &lt;br /&gt;                        kuat untuk berdiri. Melihat batang kemaluan Arie yang &lt;br /&gt;                        sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum. &lt;br /&gt;                        "Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa... Buktinya &lt;br /&gt;                        burung kamu tidak mau berdiri," goda Tante Rani. "Ahh &lt;br /&gt;                        nggak Tante, biasa saja kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Rani meninggalkan Arie, sambil mewanti-wanti agar &lt;br /&gt;                        menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Yuni dengan Arie &lt;br /&gt;                        dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau &lt;br /&gt;                        pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA &lt;br /&gt;                        karena Yuni masih dibawah umur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-2150030716294158268?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/2150030716294158268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=2150030716294158268' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2150030716294158268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2150030716294158268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/adik-tanteku-4.html' title='ADIK TANTEKU 4'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-875376363338568225</id><published>2007-05-08T03:12:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T03:15:28.716-07:00</updated><title type='text'>ADIK TANTEKU 3</title><content type='html'>Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Arie &lt;br /&gt;                        dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Aduh punya &lt;br /&gt;                        kamu ternyata besar juga," bisik Tante Rani mesra sambil &lt;br /&gt;                        terus memainkan batang kejantanan Arie dengan kedua &lt;br /&gt;                        tangannya. "Masa kamu tega sama Tante dengan tidak &lt;br /&gt;                        memberikan reaksi apa pun Riee," bisik Tante Rani dengan &lt;br /&gt;                        nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Arie semakin &lt;br /&gt;                        berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di &lt;br /&gt;                        depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu &lt;br /&gt;                        bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie dengan liarnya dan terlihat badan Tante &lt;br /&gt;                        Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt. &lt;br /&gt;                        "Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan &lt;br /&gt;                        begini... ayo dong gerakin tanganmu." Kata-kata itu &lt;br /&gt;                        terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Arie &lt;br /&gt;                        semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan &lt;br /&gt;                        sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Ari menegang. Arie mulai meraba-saba &lt;br /&gt;                        pantatnya dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus &lt;br /&gt;                        semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Arie dengan &lt;br /&gt;                        penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir &lt;br /&gt;                        Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di &lt;br /&gt;                        dalam batang kemaluan Arie. Mendapat serangan yang &lt;br /&gt;                        sangat berapi-api itu akhirnya Arie memutar kaki kirinya &lt;br /&gt;                        ke atas sehingga posisi Arie dan tantenya seperti huruf &lt;br /&gt;                        T.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tangan Arie semakin berani mengusap-usap pinggul &lt;br /&gt;                        tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya &lt;br /&gt;                        yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan &lt;br /&gt;                        tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu. &lt;br /&gt;                        "Ahkkk, nikmat.." Tantenya mengerang sambil terus &lt;br /&gt;                        merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil &lt;br /&gt;                        menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia &lt;br /&gt;                        merasakan akan orgasme. "Arie... Tante sudah tidak tahan &lt;br /&gt;                        lagi nich.." diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh &lt;br /&gt;                        tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam &lt;br /&gt;                        mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan &lt;br /&gt;                        aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Arie &lt;br /&gt;                        sehingga Arie dibuatnya tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aduh . aduh.. Tante nikmat sekalii..." erang tantenya &lt;br /&gt;                        semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani &lt;br /&gt;                        merintih sambil mengerang. "Aduuh Rieee.. terus &lt;br /&gt;                        tekan-tekan pantat Tante.." desah Tante Rani sambil &lt;br /&gt;                        terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal &lt;br /&gt;                        kecil itu. Arie meraba kemaluan tantenya, ternyata &lt;br /&gt;                        kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang &lt;br /&gt;                        keluar dari liang kewanitaannya. "Ariee... nah itu terus &lt;br /&gt;                        Riee.. terus.." erang Tante Rani sambil tidak &lt;br /&gt;                        henti-hentinya mengulum batang kemaluan Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kamu kok kuat sekali Riee," bisik tante rRni dengan &lt;br /&gt;                        nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie. Tante Rani setengah tidak percaya dengan &lt;br /&gt;                        kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat &lt;br /&gt;                        Arie keluar sperma. Arie berguman, "Belum tahu dia, ini &lt;br /&gt;                        belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari &lt;br /&gt;                        empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk &lt;br /&gt;                        mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang &lt;br /&gt;                        keluar seperti air hujan yang sangat deras."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat batang kemaluan Arie yang masih tegak Tante Rani &lt;br /&gt;                        semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi &lt;br /&gt;                        telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju &lt;br /&gt;                        Arie yang masih melekat di badannya. "Buka yaa Sayang &lt;br /&gt;                        bajunya," pinta Tante Rani sambil membuka baju Arie &lt;br /&gt;                        perlahan namun pasti. Setelah baju Arie terbuka, Tante &lt;br /&gt;                        Rani membuka juga celana pendek Arie agar posisinya &lt;br /&gt;                        tidak terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua &lt;br /&gt;                        tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya &lt;br /&gt;                        di depan Arie. Melihat dua gunung yang telah merekah &lt;br /&gt;                        oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang &lt;br /&gt;                        merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan &lt;br /&gt;                        ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai &lt;br /&gt;                        tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam &lt;br /&gt;                        memainkan batang kemaluan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas &lt;br /&gt;                        permadani dan ia langsung menghisap kembali batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie sambil tangannya bergantian meraba-raba &lt;br /&gt;                        sisi batang kemaluan Arie dan terus mengulumnya seperti &lt;br /&gt;                        anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh &lt;br /&gt;                        gairah. Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante &lt;br /&gt;                        Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie. Dengan keadaan itu Arie mengerang kuat &lt;br /&gt;                        sambil berkata, "Aduh Tante.. terus Tante.." Mendengar &lt;br /&gt;                        erangan Arie, Tante Rani tersenyum dan langsung &lt;br /&gt;                        mempercepat gesekannya. Melihat Arie yang akan keluar, &lt;br /&gt;                        Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan &lt;br /&gt;                        mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga &lt;br /&gt;                        warna batang kemaluan Arie menjadi kemerah-merahan dan &lt;br /&gt;                        di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang &lt;br /&gt;                        sangat tidak teratur. Arie menahan nikmat yang tiada &lt;br /&gt;                        tara sambil berkata, "Terus Tante.. terus Tante..", Dan &lt;br /&gt;                        Arie pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam &lt;br /&gt;                        batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat &lt;br /&gt;                        keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah. &lt;br /&gt;                        Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani &lt;br /&gt;                        kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua &lt;br /&gt;                        yang ada di dalam batang kemaluan Arie yang membuat Arie &lt;br /&gt;                        meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya &lt;br /&gt;                        memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah &lt;br /&gt;                        keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka &lt;br /&gt;                        akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus &lt;br /&gt;                        menyedot batang kemaluan Arie sampai keluar bunyi &lt;br /&gt;                        slurp..., slurp..., akibat sedotannya. Setelah puas &lt;br /&gt;                        menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan &lt;br /&gt;                        Arie, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan &lt;br /&gt;                        Arie dengan mulutnya yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat batang kemaluan Arie yang masih memberikan &lt;br /&gt;                        perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, "Gila &lt;br /&gt;                        kamu Rieee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. &lt;br /&gt;                        Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih &lt;br /&gt;                        menantangnya." Mendengar tantangan itu, Arie hanya &lt;br /&gt;                        tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke &lt;br /&gt;                        hadapan Arie sambil mengarahkan liang kewanitaannya &lt;br /&gt;                        untuk melahap batang kemaluan Arie. Sebelum memasukkan &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie ke liang kewanitaannya, Tante Rani &lt;br /&gt;                        terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan &lt;br /&gt;                        Arie pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi &lt;br /&gt;                        untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu &lt;br /&gt;                        dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila &lt;br /&gt;                        sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di &lt;br /&gt;                        atas batang kemaluan Arie sekarang tergeser ke &lt;br /&gt;                        belangkang sehingga batang kemaluan Arie tergesek-gesek &lt;br /&gt;                        oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendapat perlakuan itu Arie mengerang kenikmatan. "Aduuh &lt;br /&gt;                        Tante..." sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan &lt;br /&gt;                        cukup lama. "Clepp..." suara yang keluar dari beradunya &lt;br /&gt;                        dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani &lt;br /&gt;                        mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu &lt;br /&gt;                        perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Arie bergetar. &lt;br /&gt;                        Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong &lt;br /&gt;                        pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani &lt;br /&gt;                        telah berhasil menelan semua batang kemaluan Arie. Tante &lt;br /&gt;                        Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Arieee..." rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika &lt;br /&gt;                        liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan &lt;br /&gt;                        Arie. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil &lt;br /&gt;                        menikmati batang kemaluan Arie yang sudah terkubur di &lt;br /&gt;                        dalam liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Riee, Tante sudah tidak kuat lagi... Sayang.." desah &lt;br /&gt;                        Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke &lt;br /&gt;                        samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, &lt;br /&gt;                        mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke &lt;br /&gt;                        kanan. Mendapatkan permainan itu Arie mendesir, "Aduh &lt;br /&gt;                        Tante... terus Tante.." mendengar itu Tante Rani terus &lt;br /&gt;                        menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama &lt;br /&gt;                        tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Arie &lt;br /&gt;                        dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie dengan liang senggama Tante Rani. &lt;br /&gt;                        Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie jauh lebih besar bila dibandingkan dengan &lt;br /&gt;                        milik Om Budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Goyangan pantatnya semakin liar dan Arie mendekap tubuh &lt;br /&gt;                        tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar &lt;br /&gt;                        itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya &lt;br /&gt;                        pantat Tante Rani dengan paha Arie menimbulkan bunyi &lt;br /&gt;                        yang sangat menggairahkan, "Prut.. prat.. pret.." Tangan &lt;br /&gt;                        Arie merangkul tantenya dengan erat. Pergerakan mereka &lt;br /&gt;                        semakin liar dan semakin membuat saling mengerang &lt;br /&gt;                        kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan &lt;br /&gt;                        cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie. Tante Rani mengerang kenikmatan &lt;br /&gt;                        yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami &lt;br /&gt;                        rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telingan &lt;br /&gt;                        Arie. "Arieee..." suara Tante Rani bergetar, "Kamu kalau &lt;br /&gt;                        mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaaah". "Iya &lt;br /&gt;                        Tante..." jawab Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Selang beberapa menit Arie merasakan akan keluar dan &lt;br /&gt;                        tantenya mengetahui, "Kamu mau keluar yaaa." Arie &lt;br /&gt;                        merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua &lt;br /&gt;                        pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan &lt;br /&gt;                        Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulanya &lt;br /&gt;                        tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie. Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara &lt;br /&gt;                        Arie keluar dengan keras, "Tanteee.. Tanteee.." dan &lt;br /&gt;                        begitu juga Tante Rani mengerang keras, "Rieee...". &lt;br /&gt;                        Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan &lt;br /&gt;                        merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya &lt;br /&gt;                        sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya Arie dan Tante Rani diam sesaat menikmati &lt;br /&gt;                        semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga &lt;br /&gt;                        Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di &lt;br /&gt;                        pangkuan Arie. Tante Rani tersenyum, "Kamu hebat Arie &lt;br /&gt;                        seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih &lt;br /&gt;                        besar dari suaminya dan sangat menggairahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu &lt;br /&gt;                        ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa.." goda Tante &lt;br /&gt;                        Rani. Arie hanya tersenyum di goda begitu. Tante Rani &lt;br /&gt;                        lalu mencium kening Arie. Kurang lebih Lima menit batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie yang sudah mengeluarkan lahar panas &lt;br /&gt;                        bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante &lt;br /&gt;                        Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Arie. &lt;br /&gt;                        Melihat batang kemaluan Arie yang mengecil, Tante Rani &lt;br /&gt;                        tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha &lt;br /&gt;                        membuat batang kemaluan Arie tidak berdiri lagi. Untuk &lt;br /&gt;                        menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah &lt;br /&gt;                        dipijit-pijit batang kemaluan Arie tidak mau berdiri &lt;br /&gt;                        lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aduh untung batang kemaluanmu Rieee... tidak hidup &lt;br /&gt;                        lagi," bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan &lt;br /&gt;                        Arie, "Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak &lt;br /&gt;                        kuat Rieee" lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di &lt;br /&gt;                        sebelah Arie. Sesudah Tante Rani dan Arie berpanutan &lt;br /&gt;                        mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Pagi-pagi sekali Arie bangun dari tempat tidur karena &lt;br /&gt;                        mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun &lt;br /&gt;                        badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. &lt;br /&gt;                        Akhirnya Arie jalan-jalan di taman untuk mengisi &lt;br /&gt;                        kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya &lt;br /&gt;                        badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada &lt;br /&gt;                        hari itu Arie tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang &lt;br /&gt;                        sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak &lt;br /&gt;                        dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat &lt;br /&gt;                        pertarungan tadi malam dengan tantenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu Arie pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan &lt;br /&gt;                        sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang &lt;br /&gt;                        berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna &lt;br /&gt;                        merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Arie. &lt;br /&gt;                        Tante Rani mengajaknya berenang. Arie hanya tersenyum &lt;br /&gt;                        dan berkata, "Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya." &lt;br /&gt;                        Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum, &lt;br /&gt;                        soalnya Tante Rani mengetahui Arie tidak menggunakan &lt;br /&gt;                        celana renang. "Sudahlah pakai celana dalam aja," pinta &lt;br /&gt;                        Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Arie untuk &lt;br /&gt;                        berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana &lt;br /&gt;                        pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya &lt;br /&gt;                        yang berwarna biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie yang kedinginan. Loncatan yang sangat &lt;br /&gt;                        indah diperlihatkan oleh Arie sambil mendekati Tante &lt;br /&gt;                        Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah &lt;br /&gt;                        Arie. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani &lt;br /&gt;                        menjadi kejaran Arie yang ingin membalasnya. Mereka &lt;br /&gt;                        saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak &lt;br /&gt;                        kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga &lt;br /&gt;                        tertangkap. Arie langsung memeluknya erat-erat, pelukan &lt;br /&gt;                        Arie membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Udah akh Arie.. Tante capek," seru mesra Tante Rani &lt;br /&gt;                        sambil membalikkan badannya. Arie dan Tante Rani masih &lt;br /&gt;                        berada di dalam genangan kolam renang. "Kamu tidak &lt;br /&gt;                        kuliah Rieee," tanya Tante Rani. "Tidak," jawab Arie &lt;br /&gt;                        pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani. Terkena &lt;br /&gt;                        rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan &lt;br /&gt;                        ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya &lt;br /&gt;                        ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Arie. &lt;br /&gt;                        Mendapatkan perlakuan itu Arie menjadi semakin menjadi &lt;br /&gt;                        bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya &lt;br /&gt;                        tantenya tertangkap juga. "Sudah ah... Tante sekarang &lt;br /&gt;                        mau ke kantor dulu," kata Tante Rani sambil sedikit &lt;br /&gt;                        menjauh dari Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa &lt;br /&gt;                        geli melihat Arie yang celana dalamnya telah melorot di &lt;br /&gt;                        antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang &lt;br /&gt;                        sudah bangkit dari tidurnya. "Kamu tidak sadar Arie, &lt;br /&gt;                        celana dalammu sudah ada di bawah lutut.." Mendengar itu &lt;br /&gt;                        Arie langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya. &lt;br /&gt;                        Tante Rani hanya tersenyum. "Kasihan kamu, adikmu sudah &lt;br /&gt;                        bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena &lt;br /&gt;                        Tante harus sudah pergi," kata Tante Rani sambil meraba &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie yang sudah menegang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar itu Arie hanya melongo kaget. "Akhh, Tante &lt;br /&gt;                        masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja," kata &lt;br /&gt;                        Arie sambil tangannya berusaha membuka celana renang &lt;br /&gt;                        Tante Rani yang berwarna merah. Mendapat perlakuan itu &lt;br /&gt;                        Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Arie sambiil &lt;br /&gt;                        berkata, "Iyaaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan &lt;br /&gt;                        lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 04&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-875376363338568225?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/875376363338568225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=875376363338568225' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/875376363338568225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/875376363338568225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/adik-tanteku-3.html' title='ADIK TANTEKU 3'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-5273037071503886731</id><published>2007-05-08T03:05:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T03:12:23.949-07:00</updated><title type='text'>ADIK TANTEKU 2</title><content type='html'>Arie menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju &lt;br /&gt;                        rumahnya sambil berkata, "Aku tidak mungkin bisa &lt;br /&gt;                        melakukan itu Tante," Tante Rani hanya berkata, "Arie, &lt;br /&gt;                        Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, &lt;br /&gt;                        masa Arie tidak kasihan sama Tante." Tangan Tante Rani &lt;br /&gt;                        dengan berani membuka baju bagian atas dan &lt;br /&gt;                        memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah &lt;br /&gt;                        dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu &lt;br /&gt;                        menantang untuk disantap. Melihat Arie yang tidak ada &lt;br /&gt;                        perlawanan, akhirnya Tante Rani memakai kembali bajunya &lt;br /&gt;                        dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung &lt;br /&gt;                        sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Arie jadi &lt;br /&gt;                        salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kedekatan Arie dengan Yuni semakin menjadi karena bila &lt;br /&gt;                        ada PR yang sulit Yuni selalu meminta bantuan Arie. Pada &lt;br /&gt;                        saat itu Yuni mendapatkan kesulitan PR matematika. &lt;br /&gt;                        Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Arie. Pada saat &lt;br /&gt;                        itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan &lt;br /&gt;                        tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Rani yang &lt;br /&gt;                        menolak melakukan itu. Arie keluar dari kamar mandi &lt;br /&gt;                        tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Dengan jelas &lt;br /&gt;                        Yuni melihat batang kemaluan Arie yang mengerut &lt;br /&gt;                        kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, &lt;br /&gt;                        Yuni membalikkan badannya. Arie hanya tersenyum sambil &lt;br /&gt;                        berkata, "Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu &lt;br /&gt;                        dulu," goda Arie sambil menggunakan celana pendek tanpa &lt;br /&gt;                        celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie bergerak mendekati Yuni dan mencium pundaknya yang &lt;br /&gt;                        sangat putih dan berbulu-bulu kecil. "Ahh, geli Kak &lt;br /&gt;                        Arie.. Kak Arie sudah pake celana yah," tanya Yuni.&lt;br /&gt;                        "Belum," jawab Arie menggoda Yuni.&lt;br /&gt;                        "Ahh, cepet dong pake celananya. Yuni mau minta tolong &lt;br /&gt;                        Kak Arie mengerjakan PR," rengek Yuni sambil tangan &lt;br /&gt;                        kirinya meraba belakang Arie.&lt;br /&gt;                        Melihat rabaan itu, Arie segaja memberikan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya untuk diraba. Yuni hanya meraba-raba sambil &lt;br /&gt;                        berkata, "Ini apa Kak, kok kenyal." Mendapat rabaan itu &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie semakin menengang dan dalam &lt;br /&gt;                        pikirannya kalau dengan Yuni aku mau tapi kalau dengan &lt;br /&gt;                        kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih &lt;br /&gt;                        punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Rabaan Yuni berhenti ketika batang kemaluan Arie sudah &lt;br /&gt;                        menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan &lt;br /&gt;                        langsung membalikkan badannya. Arie kaget dan hampir &lt;br /&gt;                        saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit &lt;br /&gt;                        batang kemaluannya yang sudah menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Arie &lt;br /&gt;                        kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Yuni &lt;br /&gt;                        membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat &lt;br /&gt;                        Arie sudah memakai celana pendek. "Nah, gitu dong pake &lt;br /&gt;                        celana," kata Yuni sambil mencubit dada Arie yang &lt;br /&gt;                        menempel di susu kecil Yuni. "Udah dong meluknya," &lt;br /&gt;                        rintih Yuni sambil memberikan buku Matematikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Saling memeluk antara Arie dan Yuni sudah merupakan hal &lt;br /&gt;                        yang biasa tetapi ketika Arie merasakan kenikmatan dalam &lt;br /&gt;                        memeluk Yuni, Yuni tidak merasakan apa-apa mungkin &lt;br /&gt;                        karena Yuni masih anak ingusan yang badannya saja yang &lt;br /&gt;                        bongsor. Arie langsung naik ke atas ranjang besarnya dan &lt;br /&gt;                        bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun &lt;br /&gt;                        ada meja belajar tapi Arie segaja memilih itu karena &lt;br /&gt;                        Yuni sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie terasa hangat dibuatnya. Dan memang &lt;br /&gt;                        seperti dugaan Arie, Yuni tiduran di dada Arie. Pada &lt;br /&gt;                        saat itu Yuni menggunakan daster yang sangat tipis dan &lt;br /&gt;                        di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH &lt;br /&gt;                        juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Yuni tidak &lt;br /&gt;                        merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah &lt;br /&gt;                        seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sambil mengerjakan PR, pikiran Arie melayang-layang &lt;br /&gt;                        bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Yuni &lt;br /&gt;                        bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada &lt;br /&gt;                        Yuni. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila &lt;br /&gt;                        orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga &lt;br /&gt;                        pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering &lt;br /&gt;                        dilakukan oleh Arie dan Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Yuni &lt;br /&gt;                        terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Yuni &lt;br /&gt;                        yang kecil. Pikiran Arie meliuk-liuk membayangkan &lt;br /&gt;                        seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat &lt;br /&gt;                        nikmat dan sangat hangat. Ketegangan Arie semakin &lt;br /&gt;                        menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana &lt;br /&gt;                        dalam itu tersentuh oleh pinggul Yuni yang berteriak &lt;br /&gt;                        karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi &lt;br /&gt;                        Arie menerangkan tersebut ada di bawah Yuni dan pinggul &lt;br /&gt;                        Yuni sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Gerakan badan Yuni yang agresif itu membuat paha &lt;br /&gt;                        putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan &lt;br /&gt;                        kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh &lt;br /&gt;                        CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Arie naik &lt;br /&gt;                        turun. Yuni tidak peduli dengan apa yang terjadi pada &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie, malah Yuni semakin terus &lt;br /&gt;                        bermanja-manja dengan Arie yang terlihat &lt;br /&gt;                        bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran &lt;br /&gt;                        Arie semakin kalang kabut ketika Yuni mengerak-gerakkan &lt;br /&gt;                        badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya &lt;br /&gt;                        semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar &lt;br /&gt;                        Arie meraba gundukan kemaluan Yuni yang terbungkus oleh &lt;br /&gt;                        CD putih. Bukit kemaluan Yuni yang hangat membuat Arie &lt;br /&gt;                        semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin &lt;br /&gt;                        terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, &lt;br /&gt;                        yang nomor sepuluh susah."&lt;br /&gt;                        Arie membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Yuni &lt;br /&gt;                        tepat menempel di batang kemaluan Arie. Dalam keadaan &lt;br /&gt;                        itu Yuni hanya mendekap Arie sambil terus berkata, &lt;br /&gt;                        "Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya."&lt;br /&gt;                        "Boleh, tapi ada syaratnya," kata Arie sambil terus &lt;br /&gt;                        merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Yuni &lt;br /&gt;                        yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Yuni &lt;br /&gt;                        terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah &lt;br /&gt;                        badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih &lt;br /&gt;                        membuat Arie semakin panas dingin dibuatnya. Yuni hanya &lt;br /&gt;                        bertanya apa syaratnya kata Yuni sambil mengangkat &lt;br /&gt;                        wajahnya ke hadapanya Arie. Dalam posisi seperti itu &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie yang sudah menegang seakan digencet &lt;br /&gt;                        oleh bukit kemaluan Yuni yang terasa hangat. Arie tidak &lt;br /&gt;                        kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut &lt;br /&gt;                        Yuni. Yuni hanya diam dan terus menghidar ciuman itu. &lt;br /&gt;                        "Kaak... apa dong syaratnya", kata Yuni manja agresif &lt;br /&gt;                        menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya &lt;br /&gt;                        terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Arie. Gila anak &lt;br /&gt;                        ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang &lt;br /&gt;                        Yuni tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain &lt;br /&gt;                        dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun. &lt;br /&gt;                        "Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar itu Yuni hanya tertawa, suatu syarat yang &lt;br /&gt;                        mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali. Konsenterasi &lt;br /&gt;                        Arie dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang &lt;br /&gt;                        kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan &lt;br /&gt;                        Yuni yang sering terlepas karena Yuni yang banyak &lt;br /&gt;                        bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan &lt;br /&gt;                        PR-matematikanya. Yuni terus mendekap badan Arie sambil &lt;br /&gt;                        kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh &lt;br /&gt;                        paha Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Arie &lt;br /&gt;                        menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di &lt;br /&gt;                        atas bukit kemaluan Yuni. Arie semakin tidak tahan &lt;br /&gt;                        dengan kedaaan itu dan langsung meraba-raba pantat Yuni. &lt;br /&gt;                        Ketika Arie akan meraba payudara Yuni. Yuni bangkit dan &lt;br /&gt;                        terus melihat ke wajah Arie, sambil berkata, "PR-nya &lt;br /&gt;                        sudah Kaak.. Arie," sambil Menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Arie, Yuni langsung &lt;br /&gt;                        memeluk Arie erat-erat seperti memeluk bantal guling &lt;br /&gt;                        karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan &lt;br /&gt;                        oleh Arie begitu saja, Arie langsung memeluk Yuni &lt;br /&gt;                        berguling-guling sehingga Yuni sekarang berada di bawah &lt;br /&gt;                        Arie. Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu &lt;br /&gt;                        Yuni berkata, "Masa Kakak meluk Yuni nggak bosan-bosan." &lt;br /&gt;                        Berbagai alasan Arie lontarkan agar Yuni tetap mau di &lt;br /&gt;                        peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie bergerak-gerak seperti akan ada yang &lt;br /&gt;                        keluar, dan pada saat itu Yuni berhasil lepas dari &lt;br /&gt;                        pelukan Arie sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan &lt;br /&gt;                        pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aduh, Gila si Yuni masih tidak merasakan apa-apa dengan &lt;br /&gt;                        apa yang barusan saya lakukan," guman Arie dalam hati &lt;br /&gt;                        sambil terus memengang batang kemaluannya. Arie berusaha &lt;br /&gt;                        menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu &lt;br /&gt;                        tegang. "Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati &lt;br /&gt;                        kepunyaan Yuni cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan &lt;br /&gt;                        pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi &lt;br /&gt;                        badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa &lt;br /&gt;                        kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan &lt;br /&gt;                        ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. &lt;br /&gt;                        Itulah pola pikir Arie yang terus ia pertahankan. &lt;br /&gt;                        Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa &lt;br /&gt;                        Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Ketegangan batang kemaluan Arie terus bertambah besar &lt;br /&gt;                        tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. &lt;br /&gt;                        Untuk menghilangkan kepenatan Arie keluar kamar sambil &lt;br /&gt;                        membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Rani masih ada &lt;br /&gt;                        di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang &lt;br /&gt;                        dibuatnya sendiri. Tante Rani yang menggunakan daster &lt;br /&gt;                        warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak &lt;br /&gt;                        sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat &lt;br /&gt;                        dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan &lt;br /&gt;                        jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus &lt;br /&gt;                        terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat &lt;br /&gt;                        karena Tante Rani duduk di sofa yang panjang dengan kaki &lt;br /&gt;                        yang putih menjulur ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Ketenganan Arie semakin memuncak melihat keidahan tubuh &lt;br /&gt;                        Tante Rani yang sangat seksi dan mulus itu.&lt;br /&gt;                        "Kamu kenapa belum tidur Ari," kata Tante Rani sambil &lt;br /&gt;                        menuangkan segelas air susu untuk Arie.&lt;br /&gt;                        "Anu Tante, tidak bisa tidur," balas Arie dengan gugup.&lt;br /&gt;                        Memang Tante Rani yang cantik itu tidak merasa canggung &lt;br /&gt;                        dengan keberadaan Arie, ia tidak peduli dengan keberaan &lt;br /&gt;                        Ari malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di &lt;br /&gt;                        hadapan Arie yang sudah sangat terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan &lt;br /&gt;                        terhadap Arie."&lt;br /&gt;                        "Tidak apa-apa Tante, Arie mengerti tentang hal itu," &lt;br /&gt;                        jawab Arie sambil terus menahan gejolak nafsunya yang &lt;br /&gt;                        sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan &lt;br /&gt;                        Yuni yang membuat batang kemaluannya semakin menegang &lt;br /&gt;                        tidak tentu arah.&lt;br /&gt;                        "Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan," tanya Arie &lt;br /&gt;                        mengisi perbincangan.&lt;br /&gt;                        "Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek &lt;br /&gt;                        yang baru," jawab Tante Rani.&lt;br /&gt;                        Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan &lt;br /&gt;                        itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante &lt;br /&gt;                        Rani, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan &lt;br /&gt;                        tantenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie dan Tante Rani duduk di sofa yang besar sambil &lt;br /&gt;                        sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing &lt;br /&gt;                        kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Arie, Tante Rani &lt;br /&gt;                        membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih &lt;br /&gt;                        bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar &lt;br /&gt;                        gundukan kemaluannya. Mata Arie melongo tidak percaya. &lt;br /&gt;                        Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Rani, &lt;br /&gt;                        tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam &lt;br /&gt;                        mobil, sekarang Tante Rani tidak menggunakan celana &lt;br /&gt;                        dalam. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam &lt;br /&gt;                        tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Rani terus &lt;br /&gt;                        menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa &lt;br /&gt;                        ada yang gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Melihat itu Arie semakin gelisah dan tidak enak badan &lt;br /&gt;                        ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya &lt;br /&gt;                        yang semakin menegang.&lt;br /&gt;                        "Kamu kenapa Arie," tanya Tante Rani yang melihat wajah &lt;br /&gt;                        Arie keluar keringat dingin.&lt;br /&gt;                        "Nggak Tante, Arie cuma mungkin capek," balas Arie &lt;br /&gt;                        sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih &lt;br /&gt;                        milik Tante Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante &lt;br /&gt;                        Rani segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk &lt;br /&gt;                        bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya &lt;br /&gt;                        dan kemaluannya yang merekah. Melihat Arie semakin &lt;br /&gt;                        menegang, Tante Rani tersenyum dan mempersilakan Arie &lt;br /&gt;                        untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Ketegangan Arie semakin memuncak dan Arie tidak berani &lt;br /&gt;                        kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya &lt;br /&gt;                        segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. "Tante, &lt;br /&gt;                        saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara &lt;br /&gt;                        segar." Melihat Arie yang sangat tegang itu Tante Rani &lt;br /&gt;                        hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu &lt;br /&gt;                        akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur &lt;br /&gt;                        denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sebelum sampai ke paviliun belakang Arie jalan-jalan &lt;br /&gt;                        dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat &lt;br /&gt;                        kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan &lt;br /&gt;                        gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. &lt;br /&gt;                        Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak segaja &lt;br /&gt;                        ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar &lt;br /&gt;                        Pak Dadi. Arie terus mendekati kamar Pak Dadi yang &lt;br /&gt;                        kebetulan dekat dengan Paviliun. Arie mengendus-endus &lt;br /&gt;                        mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci &lt;br /&gt;                        dan dengan mudah Arie dapat melihat adegan suami istri &lt;br /&gt;                        yang sedang bermesraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Arie &lt;br /&gt;                        melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan &lt;br /&gt;                        pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya &lt;br /&gt;                        ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. &lt;br /&gt;                        Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum &lt;br /&gt;                        batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh &lt;br /&gt;                        birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan &lt;br /&gt;                        Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang &lt;br /&gt;                        dimiliki Arie. Astri terus mengulum batang kemaluan Pak &lt;br /&gt;                        Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan &lt;br /&gt;                        celananya yang telah melorot ada di lantai dengan posisi &lt;br /&gt;                        duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada &lt;br /&gt;                        bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat &lt;br /&gt;                        Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. &lt;br /&gt;                        Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak &lt;br /&gt;                        Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya &lt;br /&gt;                        karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan &lt;br /&gt;                        kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar &lt;br /&gt;                        masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka &lt;br /&gt;                        BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. &lt;br /&gt;                        Astri yang masih melekat di bandan Pak Dadi meminta Pak &lt;br /&gt;                        Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi &lt;br /&gt;                        menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya &lt;br /&gt;                        diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat &lt;br /&gt;                        bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang &lt;br /&gt;                        kejantanan Pak Dadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi &lt;br /&gt;                        mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan &lt;br /&gt;                        Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri &lt;br /&gt;                        tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan &lt;br /&gt;                        suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap &lt;br /&gt;                        bertempur. Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi &lt;br /&gt;                        dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri &lt;br /&gt;                        merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, &lt;br /&gt;                        kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya &lt;br /&gt;                        terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba &lt;br /&gt;                        buah dadanya. Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi &lt;br /&gt;                        dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena &lt;br /&gt;                        ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering &lt;br /&gt;                        dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat &lt;br /&gt;                        tubuh Arie semakin Panas dingin, entah sudah berapa &lt;br /&gt;                        menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Arie yang &lt;br /&gt;                        sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di &lt;br /&gt;                        belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Tante, kapan Tante datang", suara Arie perlahan karena &lt;br /&gt;                        takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh &lt;br /&gt;                        dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus &lt;br /&gt;                        menggandeng Arie menuju ruang tengah sambil tangannya &lt;br /&gt;                        menyusup pada kemaluan Arie yang sudah menegang sejak &lt;br /&gt;                        tadi. Sesampainya di ruang tengah, Arie duduk di tempat &lt;br /&gt;                        yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani &lt;br /&gt;                        tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal &lt;br /&gt;                        paha Arie dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang &lt;br /&gt;                        kemaluan Arie yang sudah menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti &lt;br /&gt;                        kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin &lt;br /&gt;                        susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak &lt;br /&gt;                        ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi &lt;br /&gt;                        malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante &lt;br /&gt;                        ini, juga kena marah." Tante Rani memberikan &lt;br /&gt;                        nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada &lt;br /&gt;                        diantara kedua selangkangan Arie terus digesek-gesek ke &lt;br /&gt;                        batang kemaluan Arie. "Tante tahu kamu sekarang sudah &lt;br /&gt;                        besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi &lt;br /&gt;                        kamu pura-pura tidak mau," goda Tante Rani, "Dan kamu &lt;br /&gt;                        sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip &lt;br /&gt;                        kemesraan Pak Dadi," nasehat-nasehat itu terus terlontar &lt;br /&gt;                        dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya &lt;br /&gt;                        digesek-gesekkan pada batang kemaluan Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang &lt;br /&gt;                        sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar &lt;br /&gt;                        batas kemanusiaan. "Tante jangan gitu dong, nanti saya &lt;br /&gt;                        jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai &lt;br /&gt;                        tahu." Mendengar elakan Arie, Tante Rani malah &lt;br /&gt;                        tersenyum, "Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak &lt;br /&gt;                        memberitahunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu &lt;br /&gt;                        Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi &lt;br /&gt;                        ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang &lt;br /&gt;                        menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang &lt;br /&gt;                        terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kemaluan &lt;br /&gt;                        Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi &lt;br /&gt;                        bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat &lt;br /&gt;                        seperti kemaluan gadis seumur Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani. &lt;br /&gt;                        Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk &lt;br /&gt;                        melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan &lt;br /&gt;                        selalu memberikan kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari &lt;br /&gt;                        tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar &lt;br /&gt;                        sehingga kepala batang kemaluan Arie terangkat dengan &lt;br /&gt;                        bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih &lt;br /&gt;                        itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Rani membalikkan &lt;br /&gt;                        badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa &lt;br /&gt;                        dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh &lt;br /&gt;                        bantal sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 03&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-5273037071503886731?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/5273037071503886731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=5273037071503886731' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/5273037071503886731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/5273037071503886731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/adik-tanteku-2.html' title='ADIK TANTEKU 2'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-3739456680497424473</id><published>2007-05-08T02:42:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T02:45:49.055-07:00</updated><title type='text'>ADIK TANTEKU 1</title><content type='html'>Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk &lt;br /&gt;                        di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada &lt;br /&gt;                        di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari &lt;br /&gt;                        orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi. &lt;br /&gt;                        Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu &lt;br /&gt;                        dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat &lt;br /&gt;                        sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan. &lt;br /&gt;                        Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat &lt;br /&gt;                        jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk &lt;br /&gt;                        melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil &lt;br /&gt;                        angkot minimal lima kali, itu juga dengan bantuan &lt;br /&gt;                        kendaraan roda dua yaitu ojeg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sangat beruntung bagi Arie bisa sampai menyelesaikan &lt;br /&gt;                        pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA &lt;br /&gt;                        kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus &lt;br /&gt;                        bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. &lt;br /&gt;                        Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap &lt;br /&gt;                        besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan &lt;br /&gt;                        dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang &lt;br /&gt;                        pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan &lt;br /&gt;                        dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang &lt;br /&gt;                        ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua &lt;br /&gt;                        orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan &lt;br /&gt;                        semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan &lt;br /&gt;                        kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. &lt;br /&gt;                        Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak &lt;br /&gt;                        ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat &lt;br /&gt;                        semangat Arie bertambah untuk melanjutkan ke perguruan &lt;br /&gt;                        tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk &lt;br /&gt;                        ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang &lt;br /&gt;                        tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah &lt;br /&gt;                        satu tokoh di kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Arie.." sapa ibunya ketika Arie sedang merapikan &lt;br /&gt;                        beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat &lt;br /&gt;                        dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang &lt;br /&gt;                        mungkin penegasan dari ayah Arie untuk menyakinkan bahwa &lt;br /&gt;                        anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah &lt;br /&gt;                        Oomnya. Sebetulnya orang tua Arie sudah menelepon Tuan &lt;br /&gt;                        Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Arie sangat &lt;br /&gt;                        jarang sekali bertemu maka orang tua Arie memberikan &lt;br /&gt;                        surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, &lt;br /&gt;                        di rumah Oomnya untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari &lt;br /&gt;                        keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya &lt;br /&gt;                        yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha &lt;br /&gt;                        dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat &lt;br /&gt;                        kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat &lt;br /&gt;                        berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua &lt;br /&gt;                        orang tua Arie sebetulnya tidak ada masalah, hanya &lt;br /&gt;                        karena kedua orang tua Arie yang sering memberikan &lt;br /&gt;                        nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering &lt;br /&gt;                        berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti &lt;br /&gt;                        istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana. &lt;br /&gt;                        Menurut ibu Arie, Oomnya telah berganti istri sampai &lt;br /&gt;                        dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari &lt;br /&gt;                        keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, &lt;br /&gt;                        dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari &lt;br /&gt;                        istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang &lt;br /&gt;                        keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Arie dua &lt;br /&gt;                        tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman &lt;br /&gt;                        kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas &lt;br /&gt;                        manusia, Arie langsung masuk ke sebuah kantor yang &lt;br /&gt;                        bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut &lt;br /&gt;                        oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. &lt;br /&gt;                        Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang &lt;br /&gt;                        dikenakan di bajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Selamat siang Pak," Tegur Arie kepada salah satu satpam &lt;br /&gt;                        yang ada dua orang.&lt;br /&gt;                        "Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu," jawab satpam &lt;br /&gt;                        yang bernama Asep.&lt;br /&gt;                        "Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?"&lt;br /&gt;                        "Bapak Budiman yang mana Dik," tegas satpam Asep, karena &lt;br /&gt;                        melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada &lt;br /&gt;                        bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh &lt;br /&gt;                        tahunan.&lt;br /&gt;                        "Anu Pak, apa ini PT. Rido," tanya Arie menyusul &lt;br /&gt;                        keraguan satpam. Karena sebetulnya Arie juga belum &lt;br /&gt;                        pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi &lt;br /&gt;                        bisnis yang digelutinya.&lt;br /&gt;                        "Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik &lt;br /&gt;                        perusahaan ini," tegas satpam Asep menjelaskan tentang &lt;br /&gt;                        keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.&lt;br /&gt;                        "Adik ini siapa," tanya satpam kepada Arie, sambil &lt;br /&gt;                        mempersilakan duduk di meja lobby bawah.&lt;br /&gt;                        "Saya Arie Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa &lt;br /&gt;                        Gunung Heulang."&lt;br /&gt;                        "Keponakan," tegas satpam, sambil terus mengangkat &lt;br /&gt;                        telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang &lt;br /&gt;                        menghampiri Arie sambil memberikan selamat datang di &lt;br /&gt;                        kota Bandung. "Arie.. Apa masih ingat sama Bapak," kata &lt;br /&gt;                        Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru &lt;br /&gt;                        ketemu.&lt;br /&gt;                        Mimik Arie jadi bingung karena orang yang datang ini &lt;br /&gt;                        ternyata sudah mengenalnya.&lt;br /&gt;                        "Maaf Pak, Arie Sudah lupa dengan Bapak," kata Arie &lt;br /&gt;                        sambil terus mengigat-ingat.&lt;br /&gt;                        Pak Dadi terus menerangkan dirinya, "Saya yang dulu &lt;br /&gt;                        sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Arie berumur &lt;br /&gt;                        kurang lebih lima tahun."&lt;br /&gt;                        Arie jadi bingung, "Wah, Bapak bisa saja.. mana saya &lt;br /&gt;                        ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini &lt;br /&gt;                        diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai &lt;br /&gt;                        tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun &lt;br /&gt;                        tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering &lt;br /&gt;                        minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang &lt;br /&gt;                        keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli &lt;br /&gt;                        sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang &lt;br /&gt;                        tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya &lt;br /&gt;                        sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang &lt;br /&gt;                        kurang lebih baru berumur 35 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aduh Dik Arie, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan &lt;br /&gt;                        Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Arie karena &lt;br /&gt;                        harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya &lt;br /&gt;                        diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Arie. Nah, &lt;br /&gt;                        sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan &lt;br /&gt;                        dulu," sambung Pak Dadi melihat ekpresi Arie yang &lt;br /&gt;                        sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal. &lt;br /&gt;                        Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar, &lt;br /&gt;                        "Jangan takut Dik Arie pokoknya kamu tidak akan ada &lt;br /&gt;                        masalah," tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur &lt;br /&gt;                        dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah &lt;br /&gt;                        diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa &lt;br /&gt;                        dibidang apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mendengar itu Arie menjadi tersenyum, sambil &lt;br /&gt;                        melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. &lt;br /&gt;                        Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah &lt;br /&gt;                        dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik &lt;br /&gt;                        ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok &lt;br /&gt;                        mini. Keberadaan Arie sebagai keponakan dari pemilik &lt;br /&gt;                        perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah &lt;br /&gt;                        lagi dengan postur badan Arie yang atletis dan wajah &lt;br /&gt;                        yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang &lt;br /&gt;                        tersenyum bila melewati Arie dan Pak Dadi yang sedang &lt;br /&gt;                        asyik ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Arie dan &lt;br /&gt;                        ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk &lt;br /&gt;                        pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi &lt;br /&gt;                        karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat &lt;br /&gt;                        lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk &lt;br /&gt;                        perusahaan, dan semua itu membuat Arie menjadi betah &lt;br /&gt;                        sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya &lt;br /&gt;                        pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan &lt;br /&gt;                        merek Mesri terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang &lt;br /&gt;                        terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman &lt;br /&gt;                        elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang &lt;br /&gt;                        berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah &lt;br /&gt;                        kompleks yang sangat mengah dan dijaga oleh satpam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai &lt;br /&gt;                        dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat &lt;br /&gt;                        satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik &lt;br /&gt;                        menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah &lt;br /&gt;                        yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami &lt;br /&gt;                        Pak Dadi dan Istrinya. Sedangkan pos satpam dan rumah &lt;br /&gt;                        kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang &lt;br /&gt;                        Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu &lt;br /&gt;                        menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil &lt;br /&gt;                        telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua &lt;br /&gt;                        barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh &lt;br /&gt;                        dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang &lt;br /&gt;                        dibawa Arie. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil &lt;br /&gt;                        menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke &lt;br /&gt;                        rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi &lt;br /&gt;                        masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi &lt;br /&gt;                        meninggalkan Arie, sedangkan Arie ditemani oleh Bi Enung &lt;br /&gt;                        menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil &lt;br /&gt;                        tersenyum menyapa Arie, Bi Enung pun meninggalkan Arie &lt;br /&gt;                        sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum &lt;br /&gt;                        untuk Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Tante sudah menunggu dari tadi Arie," bisiknya sambil &lt;br /&gt;                        menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat &lt;br /&gt;                        datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa", lanjut Tante &lt;br /&gt;                        Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna &lt;br /&gt;                        Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut &lt;br /&gt;                        sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh &lt;br /&gt;                        perhatian.&lt;br /&gt;                        "Tante sudah tahu bahwa Arie akan datang sekarang dan &lt;br /&gt;                        Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu &lt;br /&gt;                        karena dia sedang sibuk."&lt;br /&gt;                        Obrolan pun mengalir dengan punuh kekeluargaan, &lt;br /&gt;                        seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante &lt;br /&gt;                        Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan &lt;br /&gt;                        Arie. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat &lt;br /&gt;                        itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Arie &lt;br /&gt;                        membuat Arie salah tingkah karena celana dalam yang &lt;br /&gt;                        berwarna biru terlihat dengan jelas dan &lt;br /&gt;                        gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan &lt;br /&gt;                        menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan &lt;br /&gt;                        pinggulnya yang besar membuat kepala Arie pusing tujuh &lt;br /&gt;                        keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur &lt;br /&gt;                        Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis &lt;br /&gt;                        remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Nah, itu Yuni," kata Tante Rani sambil membawa Arie ke &lt;br /&gt;                        ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. &lt;br /&gt;                        Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi &lt;br /&gt;                        mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil &lt;br /&gt;                        tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Arie kepada Yuni. &lt;br /&gt;                        Mendapat teman baru dalam rumah itu Yuni langsung &lt;br /&gt;                        bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau &lt;br /&gt;                        untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan &lt;br /&gt;                        sendiri. "Nanti Kak Arie tidurnya sama Yuni ya Kak." &lt;br /&gt;                        Mendapat pertanyaan itu Arie dibuatnya kaget juga karena &lt;br /&gt;                        yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya &lt;br /&gt;                        hampir sama dengan Arie. Adik kakak yang sama-sama &lt;br /&gt;                        mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat &lt;br /&gt;                        cantik. Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Yuni yang &lt;br /&gt;                        meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor &lt;br /&gt;                        padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, &lt;br /&gt;                        Arie hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur &lt;br /&gt;                        badannya padahal dalam pikiran Arie, ia sudah menaruh &lt;br /&gt;                        hati pada Yuni yang mempunyai wajah yang cantik dam &lt;br /&gt;                        putih bersih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan &lt;br /&gt;                        ditemani oleh Tante Rani, Arie masuk ke kamarnya yang &lt;br /&gt;                        berdekatan dengan kamar Yuni. Memang di lantai dua itu &lt;br /&gt;                        ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. &lt;br /&gt;                        Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan &lt;br /&gt;                        Arie memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar &lt;br /&gt;                        Yuni berhadapan dengan kamar Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah membuka baju yang penuh keringat, Arie &lt;br /&gt;                        melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja &lt;br /&gt;                        terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya &lt;br /&gt;                        sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang &lt;br /&gt;                        bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel &lt;br /&gt;                        sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang &lt;br /&gt;                        sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai &lt;br /&gt;                        anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, &lt;br /&gt;                        Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di &lt;br /&gt;                        dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu &lt;br /&gt;                        membuahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Hari-hari selanjutnya Arie semakin kerasan tinggal di &lt;br /&gt;                        rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan &lt;br /&gt;                        seksi, juga kelakuaan Yuni yang menggemaskan dan &lt;br /&gt;                        kadang-kadang membuat batang kemaluan Arie berdiri. Arie &lt;br /&gt;                        semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya &lt;br /&gt;                        sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan &lt;br /&gt;                        tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung &lt;br /&gt;                        yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng &lt;br /&gt;                        Arie, tapi Arie tidak risih karena kebiasaan itu sudah &lt;br /&gt;                        dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi &lt;br /&gt;                        yang membuat kaget Arie ketika di dalam mobil, Tante &lt;br /&gt;                        Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara &lt;br /&gt;                        batin. Mendengar itu Arie kaget setengah mati karena &lt;br /&gt;                        tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani &lt;br /&gt;                        menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo &lt;br /&gt;                        saat bercinta dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Arie tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan &lt;br /&gt;                        karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu &lt;br /&gt;                        meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia &lt;br /&gt;                        mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan &lt;br /&gt;                        Tante Rani. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante &lt;br /&gt;                        Rani dengan berani tiduran di atas paha Arie sambil &lt;br /&gt;                        terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini &lt;br /&gt;                        dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Arie yang &lt;br /&gt;                        mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang &lt;br /&gt;                        di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya &lt;br /&gt;                        melorot ke bawah. Arie dengan jelas dapat melihat &lt;br /&gt;                        gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante &lt;br /&gt;                        Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan &lt;br /&gt;                        itu. Arie menelah ludah sambil terus berusaha &lt;br /&gt;                        menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika &lt;br /&gt;                        Arie akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak &lt;br /&gt;                        segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah &lt;br /&gt;                        mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah &lt;br /&gt;                        meminta Arie untuk terus merabanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 02&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-3739456680497424473?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/3739456680497424473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=3739456680497424473' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/3739456680497424473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/3739456680497424473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/adik-tanteku-1.html' title='ADIK TANTEKU 1'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-4091730778323918449</id><published>2007-05-08T02:38:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T02:42:08.858-07:00</updated><title type='text'>ABG TETANGGA</title><content type='html'>Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD &lt;br /&gt;                        porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si &lt;br /&gt;                        adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. &lt;br /&gt;                        Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku &lt;br /&gt;                        pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, &lt;br /&gt;                        karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak &lt;br /&gt;                        tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri &lt;br /&gt;                        dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku &lt;br /&gt;                        tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa &lt;br /&gt;                        berdenyut-denyut bagian pucuknya.&lt;br /&gt;                        "Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku &lt;br /&gt;                        sendiri nonton CD porno seharian", gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil &lt;br /&gt;                        segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, &lt;br /&gt;                        tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik &lt;br /&gt;                        barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. &lt;br /&gt;                        Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk &lt;br /&gt;                        jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit &lt;br /&gt;                        kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada &lt;br /&gt;                        obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir &lt;br /&gt;                        kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, &lt;br /&gt;                        tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan &lt;br /&gt;                        tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. &lt;br /&gt;                        "Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha &lt;br /&gt;                        menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca &lt;br /&gt;                        surat kabar pagi yang belum tersentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku &lt;br /&gt;                        mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga &lt;br /&gt;                        mendekat.&lt;br /&gt;                        "Selamat sore Om. Tante ada?"&lt;br /&gt;                        "Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada &lt;br /&gt;                        apa?"&lt;br /&gt;                        "Wah gimana ya.."&lt;br /&gt;                        "Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", &lt;br /&gt;                        kataku ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia &lt;br /&gt;                        duduk di kursi kosong sebelahku.&lt;br /&gt;                        "Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa &lt;br /&gt;                        bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai &lt;br /&gt;                        mekar itu.&lt;br /&gt;                        "Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."&lt;br /&gt;                        "Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari &lt;br /&gt;                        dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar &lt;br /&gt;                        bola tenis nih.&lt;br /&gt;                        "Apa saja. Pokoknya yang terbaru".&lt;br /&gt;                        "Oke silakan masuk dan pilih sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak &lt;br /&gt;                        ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.&lt;br /&gt;                        "Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, &lt;br /&gt;                        kemudian membanting pantat di sofa.&lt;br /&gt;                        Renny segera jongkok di depan televisi &lt;br /&gt;                        membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku &lt;br /&gt;                        mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari &lt;br /&gt;                        belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. &lt;br /&gt;                        Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju &lt;br /&gt;                        kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau &lt;br /&gt;                        saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak &lt;br /&gt;                        lamunan nakalku.&lt;br /&gt;                        "Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"&lt;br /&gt;                        Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski &lt;br /&gt;                        sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku &lt;br /&gt;                        uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku &lt;br /&gt;                        itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku &lt;br /&gt;                        mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke &lt;br /&gt;                        kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah &lt;br /&gt;                        kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. &lt;br /&gt;                        Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? &lt;br /&gt;                        Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu &lt;br /&gt;                        terlampiaskan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar &lt;br /&gt;                        kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. &lt;br /&gt;                        Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.&lt;br /&gt;                        "Sudah ketemu Ren?" tanyaku.&lt;br /&gt;                        "Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.&lt;br /&gt;                        "Mau lihat CD bagus nggak?"&lt;br /&gt;                        "CD apa Om?"&lt;br /&gt;                        "Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir &lt;br /&gt;                        ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan &lt;br /&gt;                        televisi kamar.&lt;br /&gt;                        "Film apa sih Om?"&lt;br /&gt;                        "Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di &lt;br /&gt;                        sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.&lt;br /&gt;                        "Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi &lt;br /&gt;                        potongan-potongan adegan orang bersetubuh.&lt;br /&gt;                        "Bagus kan?"&lt;br /&gt;                        "Ini kan film porno Om?!"&lt;br /&gt;                        "Iya. Kamu suka kan?"&lt;br /&gt;                        Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, &lt;br /&gt;                        tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk &lt;br /&gt;                        gadis itu dari belakang.&lt;br /&gt;                        "Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.&lt;br /&gt;                        "Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku &lt;br /&gt;                        yang melingkari lehernya.&lt;br /&gt;                        Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.&lt;br /&gt;                        "Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak &lt;br /&gt;                        lo.."&lt;br /&gt;                        "Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha &lt;br /&gt;                        lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku &lt;br /&gt;                        segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak &lt;br /&gt;                        memberontak.&lt;br /&gt;                        "Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah &lt;br /&gt;                        pengalaman.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal &lt;br /&gt;                        pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar &lt;br /&gt;                        vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah &lt;br /&gt;                        terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang &lt;br /&gt;                        tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi &lt;br /&gt;                        segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut &lt;br /&gt;                        celana warna hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha &lt;br /&gt;                        merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah &lt;br /&gt;                        celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku &lt;br /&gt;                        terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu &lt;br /&gt;                        begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi &lt;br /&gt;                        bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. &lt;br /&gt;                        Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu &lt;br /&gt;                        vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk &lt;br /&gt;                        liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus &lt;br /&gt;                        menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. &lt;br /&gt;                        Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah &lt;br /&gt;                        meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi &lt;br /&gt;                        dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih &lt;br /&gt;                        barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. &lt;br /&gt;                        Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku &lt;br /&gt;                        merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul &lt;br /&gt;                        kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas &lt;br /&gt;                        buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti &lt;br /&gt;                        mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium &lt;br /&gt;                        putingnya yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas &lt;br /&gt;                        rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru &lt;br /&gt;                        sekarang dia rasakan.&lt;br /&gt;                        "Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.&lt;br /&gt;                        "Iii.. iya Om. Tapi.."&lt;br /&gt;                        "Kamu pengin lebih enak lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi &lt;br /&gt;                        badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia &lt;br /&gt;                        tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar &lt;br /&gt;                        lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia &lt;br /&gt;                        masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. &lt;br /&gt;                        Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah &lt;br /&gt;                        kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak &lt;br /&gt;                        kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat &lt;br /&gt;                        kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian &lt;br /&gt;                        kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit &lt;br /&gt;                        itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga &lt;br /&gt;                        makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih &lt;br /&gt;                        agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat &lt;br /&gt;                        sebentar karena dia tampak menahan nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya &lt;br /&gt;                        sekilas.&lt;br /&gt;                        Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol &lt;br /&gt;                        perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan &lt;br /&gt;                        pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai &lt;br /&gt;                        masuk.&lt;br /&gt;                        "Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.&lt;br /&gt;                        Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa &lt;br /&gt;                        menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit &lt;br /&gt;                        kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah &lt;br /&gt;                        demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouuu..", dia &lt;br /&gt;                        menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah &lt;br /&gt;                        aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah &lt;br /&gt;                        membasahi sprei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya &lt;br /&gt;                        untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai &lt;br /&gt;                        menggenjot anak itu.&lt;br /&gt;                        "Ahh.. ohh.. asshh...", dia mengerang dan melenguh &lt;br /&gt;                        ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan &lt;br /&gt;                        kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar &lt;br /&gt;                        itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. &lt;br /&gt;                        Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya &lt;br /&gt;                        dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan &lt;br /&gt;                        atau pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"&lt;br /&gt;                        "Ouuu enak sekali Om..."&lt;br /&gt;                        Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi &lt;br /&gt;                        senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu &lt;br /&gt;                        macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. &lt;br /&gt;                        Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan &lt;br /&gt;                        sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan &lt;br /&gt;                        payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. &lt;br /&gt;                        Sungguh-sungguh beruntung aku ini.&lt;br /&gt;                        "Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil &lt;br /&gt;                        memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai &lt;br /&gt;                        klimaks.&lt;br /&gt;                        "Tapi takut Om.."&lt;br /&gt;                        "Nggak usah takut. Takut apa sih?"&lt;br /&gt;                        "Hamil"&lt;br /&gt;                        Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. &lt;br /&gt;                        Nggak mungkin hamil dong"&lt;br /&gt;                        Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku &lt;br /&gt;                        tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar &lt;br /&gt;                        berbagai gaya lewat CD".&lt;br /&gt;                        "Kalau ketahuan Tante gimana?"&lt;br /&gt;                        "Ya jangan sampai ketahuan dong"&lt;br /&gt;                        Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini &lt;br /&gt;                        Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak &lt;br /&gt;                        menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk &lt;br /&gt;                        diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa &lt;br /&gt;                        nikmatnya memerawani ABG tetangga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-4091730778323918449?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/4091730778323918449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=4091730778323918449' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4091730778323918449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4091730778323918449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/abg-tetangga.html' title='ABG TETANGGA'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-3389826775724808870</id><published>2007-05-08T02:30:00.000-07:00</published><updated>2007-05-08T02:37:19.925-07:00</updated><title type='text'>NIKMATNYA ABG</title><content type='html'>Aku kuliah di suatu perguruan tinggi swasta di Malang, &lt;br /&gt;                        yang mana cerita berawal dari Perkenalanku dengan &lt;br /&gt;                        seorang gadis SMU, gadis ini bernama Naning &lt;br /&gt;                        (panggilannya). Kuakui sangat cantik sekali karena yang &lt;br /&gt;                        kutahu banyak sekali yang suka dengannya. Perkenalanku &lt;br /&gt;                        dengannya berlanjut sampai aku mendekatinya, setelah &lt;br /&gt;                        kutahu dia sudah memiliki pacar. Tapi dalam kamusku aku &lt;br /&gt;                        harus bisa mendapatkannya, karena aku sudah terlampau &lt;br /&gt;                        jauh dan tidak ingin kehilangan dia. Namanya otak kotor &lt;br /&gt;                        sudah banyak sekali di otakku, maka dia kuhasut untuk &lt;br /&gt;                        meninggalkan pacarnya. Tapi namanya mungkin &lt;br /&gt;                        keberuntunganku dia ternyata meninggalkan sang pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Berawal setelah meninggalkan pacarnya, dia sudah dekat &lt;br /&gt;                        denganku dan dalam genggamanku. Berjanji ketemu di &lt;br /&gt;                        rumahnya setelah pulang sekolah, dia kujemput untuk &lt;br /&gt;                        kuajak ke kontrakanku. Setelah sampai di rumahku, kami &lt;br /&gt;                        langsung menuju kamarku untuk bercerita masalah-masalah &lt;br /&gt;                        yang dialaminya. Setelah beberapa waktu kami bercerita, &lt;br /&gt;                        tanpa disadari aku menatap buah dadanya yang begitu &lt;br /&gt;                        padat yang membuat pikiran kotorku mulai bekerja. Kulit &lt;br /&gt;                        putih tinggi semampai selalu menggerogoti otakku untuk &lt;br /&gt;                        menyentuhnya. Aku takut untuk memulainya, tapi dia mulai &lt;br /&gt;                        berkata, "Mas... kalau di rumah ngapain aja?" tanyanya &lt;br /&gt;                        sambil menatap mataku. Yang kutahu matanya itu memiliki &lt;br /&gt;                        magnet yang sangat besar untuk menarikku. Aku menjawab, &lt;br /&gt;                        "Yaa.. pulang kuliah langsung tidur lagi," kataku sambil &lt;br /&gt;                        aku mendekat untuk mencium harum tubuhnya. Rupanya entah &lt;br /&gt;                        kenapa nafsuku sudah tak bisa aku bendung, aku makin &lt;br /&gt;                        mendekat. Naning merasa kudekati dan berkata, "Mas kok &lt;br /&gt;                        gelisah sekali sih?" Aku menjawab sambil menahan, "Si &lt;br /&gt;                        Dul berganti posisi duduk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tanpa kusadari Naning melihat ke arah "Dul" punyaku, &lt;br /&gt;                        langsung berkata, "Ehh.. itu Mas kok keliatan?" Aku &lt;br /&gt;                        malu, tapi dia tertawa. Karena sudah ketahuan aku &lt;br /&gt;                        mendekatinya dan langsung kusergap bibirnya yang merah &lt;br /&gt;                        ranum, rupanya dia juga merasakan apa yang kurasakan. &lt;br /&gt;                        Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang &lt;br /&gt;                        sangat panjang. Tanganku mulai meraba kedua buah dadanya &lt;br /&gt;                        yang padat, dan tangan satunya ke arah kepala membelai &lt;br /&gt;                        rambutnya yang hitam panjang. Merasa sesuatu ada yang &lt;br /&gt;                        menyentuh buah dadanya, Naning mulai mengeluarkan suara &lt;br /&gt;                        yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti &lt;br /&gt;                        melakukan gerilya di sekujur tubuhnya, sampai aku &lt;br /&gt;                        membuka satu persatu pakaiannya. Dari baju kubuka &lt;br /&gt;                        terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh &lt;br /&gt;                        kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke &lt;br /&gt;                        belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah &lt;br /&gt;                        tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah terlepas, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini &lt;br /&gt;                        baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil &lt;br /&gt;                        yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning &lt;br /&gt;                        langsung menjerit seakan terbang ke awan. Wajahku &lt;br /&gt;                        bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah &lt;br /&gt;                        dadanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka &lt;br /&gt;                        celana jeans-nya. Aku takut juga, dikira laki-laki &lt;br /&gt;                        kurang ajar, namanya otak kotor, ya aku langsung saja &lt;br /&gt;                        melepas kancing celananya dan dia meneruskan membuka &lt;br /&gt;                        celananya. Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan &lt;br /&gt;                        kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku &lt;br /&gt;                        bergumam, aduh mulusnya tubuh putih ini. Tanpa pikir &lt;br /&gt;                        panjang aku langsung membuka seluruh pakaianku. Dia &lt;br /&gt;                        berkata, "Cepet Mas... aku udah gak tahan!" dengan nafas &lt;br /&gt;                        terputus-putus. Membuatku sedikit tergesa-gesa &lt;br /&gt;                        melepaskan pakaianku, mungkin dia tidak ingin melepaskan &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang baru didapat. Dia terkejut melihat si &lt;br /&gt;                        "Dul" punyaku yang besar sekali, sambil berkata, "Wahh.. &lt;br /&gt;                        Mas.. kok besar sekali?" Aku menjawab, "Akh masa sich?" &lt;br /&gt;                        sambil aku menindihkan tubuhku di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Disambut dengan kecupan bibir mungilnya, aku mulai &lt;br /&gt;                        kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang &lt;br /&gt;                        berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke &lt;br /&gt;                        rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya &lt;br /&gt;                        berkedip-kedip menahan nikmat yang dirasakan. Pinggulnya &lt;br /&gt;                        mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin &lt;br /&gt;                        mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih &lt;br /&gt;                        dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih &lt;br /&gt;                        dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan yang aku &lt;br /&gt;                        sendiri tak tahu. Mungkin itulah kesimpulanku adalah &lt;br /&gt;                        cairah dimana seorang wanita mulai terangsang. Semakin &lt;br /&gt;                        lama aku bermain, semakin dia bergerak lebih agresif &lt;br /&gt;                        dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan &lt;br /&gt;                        tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang &lt;br /&gt;                        sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia &lt;br /&gt;                        mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh &lt;br /&gt;                        mengejang. Naning berkata, "Akh... Masss... aku &lt;br /&gt;                        keluarrr..." dengan ucapan yang tak ada hentinya dan &lt;br /&gt;                        kata terakhir yang panjang, "Aaahhh..." dan seluruh &lt;br /&gt;                        tubuhnya mulai melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena &lt;br /&gt;                        akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh &lt;br /&gt;                        mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk &lt;br /&gt;                        mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata &lt;br /&gt;                        yang tegang dia melihat ke arah "Dul"-ku, seperti ingin &lt;br /&gt;                        melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, &lt;br /&gt;                        "Mas.. kok besar sekali?" seperti orang terkejut. Aku &lt;br /&gt;                        tak ambil pusing mau besar atau kecil langsung kutancap &lt;br /&gt;                        gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan "Dul"-ku ke &lt;br /&gt;                        kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena &lt;br /&gt;                        mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan &lt;br /&gt;                        layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakinya &lt;br /&gt;                        sehingga tampaklah sosok yang belum pernah kulihat. &lt;br /&gt;                        Akhirnya dia yang mengarahkan senjataku untuk masuk ke &lt;br /&gt;                        kemaluannya. Sedikit demi sedikit kutekan secara &lt;br /&gt;                        perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat &lt;br /&gt;                        badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia &lt;br /&gt;                        menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang &lt;br /&gt;                        kutahu dia mengeluarkan kata "Ssttt... aaakkkhh... terus &lt;br /&gt;                        Mass..." begitu terus, sampai kata-katanya berlanjut &lt;br /&gt;                        dengan... "Aku pingin yang lama Mass..." permintaannya &lt;br /&gt;                        harus kupenuhi dan aku juga tak ingin membuang-buang &lt;br /&gt;                        kesempatan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dengan kedua tangannya di punggungku, dia melakukan &lt;br /&gt;                        gerakan-gerakan yang membuat permainan ini semakin &lt;br /&gt;                        terasa nikmat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan &lt;br /&gt;                        mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa "Dul"-ku &lt;br /&gt;                        mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, &lt;br /&gt;                        maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk &lt;br /&gt;                        mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan &lt;br /&gt;                        sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya &lt;br /&gt;                        bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di &lt;br /&gt;                        bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan &lt;br /&gt;                        nikmat. Kuperhatikan wajahnya sepperti menahan sakit &lt;br /&gt;                        atau apa, kedua tangannya menggenggam seprai kasur dan &lt;br /&gt;                        kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan &lt;br /&gt;                        kata-kata yang tak menentu, "Aaakkhhh... Masss... &lt;br /&gt;                        jangannn... di... lepass... yang kuattt.. Mass... &lt;br /&gt;                        aaahhkk... akuuu... udahh... gaakkk.. tahaann nihh... &lt;br /&gt;                        aduhh.. Mass... enakk Mas..." dan dia mengecupkan &lt;br /&gt;                        bibirnya di keningku. Keringat mulai keluar di sekujur &lt;br /&gt;                        tubuhku dan dia tak kuhitung berapa kali si "Dul" keluar &lt;br /&gt;                        masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti &lt;br /&gt;                        memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan &lt;br /&gt;                        sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, &lt;br /&gt;                        dia pun setengah berteriak, "Aahk.. Maass... uuhggk... &lt;br /&gt;                        Masss.. eemmmhhhh..." begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di &lt;br /&gt;                        kemaluanku, rupanya dia sudah akan mencapai puncaknya. &lt;br /&gt;                        "Aaahhkk... Mas... aku.. keluar Mas.. aaahhhkk... &lt;br /&gt;                        uuughh.. Maaas..!" sambil memeluk erat tubuhku dan &lt;br /&gt;                        terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya &lt;br /&gt;                        mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai &lt;br /&gt;                        dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai &lt;br /&gt;                        menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia &lt;br /&gt;                        merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang &lt;br /&gt;                        jelas dia ingin ekali lagi mengulanginya. Aku &lt;br /&gt;                        menyuruhnya berganti posisi. Dia sekarang berada di &lt;br /&gt;                        atasku dan kulihat "Dul"-ku masih berdiri tegak menanti &lt;br /&gt;                        adanya sentuhan halus bulunya. Kedua kakiku kuluruskan, &lt;br /&gt;                        Naning mulai dengan membengkangkan kedua pahanya dan &lt;br /&gt;                        tangannya meraih "Dul"-ku dan memasukkan ke dalam &lt;br /&gt;                        vaginanya. "Blep..." begitulah kira-kira antara &lt;br /&gt;                        pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti &lt;br /&gt;                        mur dan baut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan &lt;br /&gt;                        bawah, "Aaahhkk... eeemmhhh... enaknyaa Mas..." sambil &lt;br /&gt;                        kedua tanganku membelai kedua buah dadanya dan &lt;br /&gt;                        sekali-kali kulumat salah satu dari buah dadanya itu. &lt;br /&gt;                        Rupanya Naning merasakan lain dari yang pertama yang &lt;br /&gt;                        dirasakannya. Ini kulihat dia lebih bersemangat dengan &lt;br /&gt;                        menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar. &lt;br /&gt;                        Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang &lt;br /&gt;                        sungguh nikmat sekali. Tangannya menarik kepalaku dan &lt;br /&gt;                        menyuruhnya mencium buah dadanya, aku menurut saja apa &lt;br /&gt;                        yang ingin dia lakukan dan itu rupanya berhasil. Sampai &lt;br /&gt;                        saatnya aku akan ejakulasi, kuberi tanda kepada Naning &lt;br /&gt;                        bahwa aku akan keluar. Naning pun tak ingin &lt;br /&gt;                        menyia-nyiakan usahanya untuk mencapai orgasme lagi dan &lt;br /&gt;                        berucap,&lt;br /&gt;                        "Ssst.. aaahk... Mas.. bareng yaa... aku juga akan &lt;br /&gt;                        keluar... teruss.. Mas cium teruss.. Mass... aahhkk..."&lt;br /&gt;                        Sambil aku berhitung, "Satu..."&lt;br /&gt;                        "Aaahkk..." ucapnya.&lt;br /&gt;                        "Dua...""Uuughh Masss... iiyaa... Masss.. aakuu.. &lt;br /&gt;                        aaakkhh...""Tiii... gaaa..."&lt;br /&gt;                        Kami bersama-sama mengeluarkan kata, "Aaahkkggk..." dan &lt;br /&gt;                        berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, &lt;br /&gt;                        si "Dul" memuntahkan laharnya. Naning masih terus &lt;br /&gt;                        menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua, dan setelah &lt;br /&gt;                        itu dia menciumku dengan penuh rasa sayang. "Wah.. Mas.. &lt;br /&gt;                        kamu hebat sekali yaa... seperti berpengalaman saja." &lt;br /&gt;                        Aku hanya menjawab, "Enggak ah..." dan hari-hari &lt;br /&gt;                        selanjutnya kami selalu menghabiskan waktu berdua. Tanpa &lt;br /&gt;                        ada hambatan aku melakukannya dimana saja, kapan saja, &lt;br /&gt;                        kalau ada kesempatan kami melakukan di rumahku atau di &lt;br /&gt;                        rumahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-3389826775724808870?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/3389826775724808870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=3389826775724808870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/3389826775724808870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/3389826775724808870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/nikmatnya-abg.html' title='NIKMATNYA ABG'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-4741149658735006541</id><published>2007-05-07T23:32:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:33:05.610-07:00</updated><title type='text'>MELAYU</title><content type='html'>Hallo netter dan terima kasih Jones membenarkan aku &lt;br /&gt;                        berkaria lagi. Aku nak cerita lagi antara kisah-kisah &lt;br /&gt;                        benarku dalam permainan sex terlarang untuk tatapan &lt;br /&gt;                        kelian semua. &lt;br /&gt;                        Aku masih menyewa dibilik sewaan yang pernah aku &lt;br /&gt;                        ceritakan pada kau orang dulu selepas awekku si Faridah &lt;br /&gt;                        kawin dengan Benggali boss tempat dia kerja. Owner aku &lt;br /&gt;                        ni pasangan laki-bini, laki dia aku panggil 'APEK' aja &lt;br /&gt;                        dalam usia 50an dan dia bawak teksi outstation. Anak &lt;br /&gt;                        kembar perempuan mereka sekolah tingkatan dua. &lt;br /&gt;                        Nyonya BB umur 40an, badan gempal, muka kira biasa saja. &lt;br /&gt;                        Tapi kalau dia make-up seliur juga tengok. Dia ni kerja &lt;br /&gt;                        sebagai 'casher' di sebuah bar 'KOPI KOREK'. Kata dia &lt;br /&gt;                        nak bantu laki dia cari duit sebab nak hidup senang. &lt;br /&gt;                        Laki dia tak kisah asal dia jaga anak mereka dengan &lt;br /&gt;                        baik. Nyonya ni peramah juga orangnya. Kalau nampak aku &lt;br /&gt;                        ada dibilik selalu juga sembang-sembang dengan aku tapi &lt;br /&gt;                        dia tak pernah tanya nama aku dan aku pun tak pernah &lt;br /&gt;                        tahu namanya janji sewa bilik tak miss … dia happy. Aku &lt;br /&gt;                        pun tak pernah miss bayar sewa bilik dan adakala tu aku &lt;br /&gt;                        disuruh bagi tusyen kepada kedua nak kembarnya, mereka &lt;br /&gt;                        juga suka minta bantuan hal-hal pelajaran bila  aku &lt;br /&gt;                        senang. &lt;br /&gt;                        Aku gelar dia nyonya BB sebab, ada sekali tu aku &lt;br /&gt;                        mengendap dia tengah mandi, tengok body dia tak lah &lt;br /&gt;                        steam sangat tapi bulu cipap dia mak datuk punya lah &lt;br /&gt;                        banyak … panjang dan berserabut pulak tu. Itu lah yang &lt;br /&gt;                        aku gelar dia 'Bulu Berserabut'. &lt;br /&gt;                        Ada satu malam masa dia nak pergi kerja, dia tengok aku &lt;br /&gt;                        lepak sorang-sorang kat beranda rumah dan tanya aku tak &lt;br /&gt;                        keluar ke. Aku kata tak tahu nak pergi mana. Dia kata &lt;br /&gt;                        datang lah ke bar tempat dia kerja … sana banyak amoy …. &lt;br /&gt;                        Boleh enjoy. Aku kata tengok lah. &lt;br /&gt;                        Lebih kurang jam 11 malam aku sampai ke Bar itu. Aku &lt;br /&gt;                        terus ke casher dan tegur nyonya BB. Dia happy saja &lt;br /&gt;                        tengok aku datang dan terus panggilkan seorang pelayan &lt;br /&gt;                        menunjukan table yang paling hujung sekali. Suasana di &lt;br /&gt;                        situ kira okey pada ku sebab samar-samar dan tersorok &lt;br /&gt;                        sikit. Kalau beromen orang tak nampak dan lebih privacy. &lt;br /&gt;                        Sebentar kemudian nyonya tu datang perkenalkan GRO yang &lt;br /&gt;                        agak sexy dengan miniskirt yang sangat singkat. Aku okey &lt;br /&gt;                        saja dan booking dia untuk satu jam. Nyonya kembali ke &lt;br /&gt;                        counter dia dan amoy disebelahku tu tanya aku nak minum &lt;br /&gt;                        apa. Aku kata coke saja. &lt;br /&gt;                        Lebih kurang lima belas minit sembang dengan amoy tu &lt;br /&gt;                        tangan aku mulalah meraba-raba seluruh badan dia. Dia &lt;br /&gt;                        tak kesah sebab dah memang kerja dia bagi orang raba dan &lt;br /&gt;                        korek apa yang patut. &lt;br /&gt;                        Puas aku cium bibir dia dan raba seluruh badan dia, &lt;br /&gt;                        tetek dan cipap dia pun aku ramas tapi dari luar &lt;br /&gt;                        sajalah. Batangku mula tegang. ku. Dia pun kadang-kadang &lt;br /&gt;                        merengek juga bila aku korek cipap dia dari tepi &lt;br /&gt;                        underwear dia. Aku pegang tangan dia dan letak di celah &lt;br /&gt;                        kangkangku. Dia urut dan  ramas batangku dari luar saja &lt;br /&gt;                        sambil badannya disandarkan ke dadaku sambil tanganku &lt;br /&gt;                        menyeluk cipap dia dan meramas cipap berbulu nya yang &lt;br /&gt;                        dah basah. Biji kelentit nya yang tersembul aku gentel &lt;br /&gt;                        sampai amoy tu mengepit-ngepit tanganku dengan paha dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ayooo … syeok laaa … lu pandai bikin saya steam ooo" &lt;br /&gt;                        dia merintih halus. &lt;br /&gt;                        Aku buka zipper seluarku dan 'toiiiing' batangku keluar &lt;br /&gt;                        dan berdiri tegak dengan palkon mengembang mencari &lt;br /&gt;                        mangsanya. Amoy tu terkejut melihatkan batangku yang &lt;br /&gt;                        teranggok -anggok dan terus mnggenggamnya dengan lembut &lt;br /&gt;                        dan diurut-urut. &lt;br /&gt;                        "Waaahh … lu punya lancau manyak besaaa" Dia tergamam. &lt;br /&gt;                        Dia makin geram mengocok batangku sambil memilin-milin &lt;br /&gt;                        palkonku. Aku makin asyik dan cipapnya juga makin banjir &lt;br /&gt;                        bila aku jolok jari-jariku ke lubang cipapnya. &lt;br /&gt;                        Aku suruh dia hisap batangku. Lansung dia dekat kan &lt;br /&gt;                        kepala kebatangku dan menjilat seluruh palkonku. Aku &lt;br /&gt;                        pula selak mini skirt dia dan masukan tangan kiriku &lt;br /&gt;                        dalam underwear dari punggungnya kebelahan cipap dan &lt;br /&gt;                        mengusap-usap belahan itu. &lt;br /&gt;                        Lubang cipap nya aku jolok dan kelintitnya aku gentel. &lt;br /&gt;                        Dia kulum batangku dan menghisap dan gigit-gigit kecil &lt;br /&gt;                        sekeliling batangku. &lt;br /&gt;                        "Eeemmphh … eemmhhpp .." dia merengek &lt;br /&gt;                        "Isstt.. isstt…isssstt" aku menahan kesedapan hisapan si &lt;br /&gt;                        amoy. &lt;br /&gt;                        "Kalau mau keluar .. cakap aaa" dia berpesan dan &lt;br /&gt;                        berpaling ke arah ku. &lt;br /&gt;                        "Aaaahhh .. sudah mau keluar" Aku mendeses &lt;br /&gt;                        Lansung dia keluarkan batangku dari mulutnya dan &lt;br /&gt;                        menghalakan kebawah meja kami duduk itu sambil &lt;br /&gt;                        melancap-lancap kan batangku. Aku pun pancut airmani ku &lt;br /&gt;                        keatas lantai dibawah meja itu. Tangan aku pula &lt;br /&gt;                        berlengas dek air cipap amoy tu. Dia bangun membetulkan &lt;br /&gt;                        skirtnya menghilang seketika dan kembali dengan membawa &lt;br /&gt;                        beberapa helai tisu dan suruh aku lap tanganku samentara &lt;br /&gt;                        dia lap batangku yang berlendir itu. Selepas jelaskan &lt;br /&gt;                        bil di casher dan ucap terima kasih dan beri tip kepada &lt;br /&gt;                        amoy dan nyonya BB aku pun balik. &lt;br /&gt;                        Besoknya aku tak kerja, jadi aku rilek dalam bilik saja. &lt;br /&gt;                        Masa aku keluar aku tengok nyonya BB sedang minum di &lt;br /&gt;                        dapur. Dia panggil aku dan buatkan kopi. Kami duduk &lt;br /&gt;                        sambil minum dan aku tengok kepalanya bertampal 'Koyok'. &lt;br /&gt;                        Dia kata dia pening sebab member dia belanja minum &lt;br /&gt;                        sebelum balik dari bar malam tadi. &lt;br /&gt;                        "Lu punya kawan mana lama tak nampak" dia tanya pasal &lt;br /&gt;                        Faridah. &lt;br /&gt;                        Aku kata dia dah kawin jadi aku tinggal sorang lah. Oooo &lt;br /&gt;                        … dia mengangguk. Dia tanya lagi kenapa aku tak kawin &lt;br /&gt;                        dengan awek aku tu. Aku kata dia nak cari yang kaya dan &lt;br /&gt;                        yang besaaaaar punya. &lt;br /&gt;                        Dia ketawa bila aku kata besaaar sambil menunjukkan &lt;br /&gt;                        lenganku. &lt;br /&gt;                        "Wa selalu dengar lu orang dalam bilik jerit-jerit pun &lt;br /&gt;                        dia tadak syok ka" dia ketawa lagi. &lt;br /&gt;                        Aku kata lagi apa nak buat, dia suka dia punya hal lah. &lt;br /&gt;                        Nyonya cerita kat aku dia jarang main dengan lakinya &lt;br /&gt;                        kerana laki dia ada simpan perempuan lain. Katanya lagi &lt;br /&gt;                        dalam satu bulan satu kali pun susah sebab kata lakinya &lt;br /&gt;                        dah tak syok kat dia pasal dia dah gemok. Aku simpati &lt;br /&gt;                        dengan nyonya BB dan tanya mana laki dia. Katanya sudah &lt;br /&gt;                        satu minggu tak balik - ada dengan perempuan simpanan &lt;br /&gt;                        dia lah. Aku tanya dia lagi … habis apa dia buat kalau &lt;br /&gt;                        laki dia tak ada. Dia kata  dia puaskan nafsunya dengan &lt;br /&gt;                        tengok video blue. Baru aku tahu dia banyak simpan video &lt;br /&gt;                        blue tapi sayang aku tak ada TV dan video player - dia &lt;br /&gt;                        kata kalau nak pinjam boleh. Aku kata nanti lah. &lt;br /&gt;                        Melihat dia picit-picit kepala, aku offer dia tolong &lt;br /&gt;                        picitkan. Dia kata okey .. dan bagi aku minyak cap &lt;br /&gt;                        kapak. Aku bangun berdiri dibelakannya dan picit-picit &lt;br /&gt;                        lembut dahi dia dan lumurkan minyak itu. &lt;br /&gt;                        Sambil memicit kepalanya aku tanya anak-anak dia sebab &lt;br /&gt;                        tak nampak mereka. Dia kata mereka kerumah nenek nya di &lt;br /&gt;                        Kepung petang baru balik. Ini peluang aku .. aku nak &lt;br /&gt;                        goda nyonya BB. &lt;br /&gt;                        Sambil aku picit dahinya sesekali aku picit lembut &lt;br /&gt;                        tengkuk dan leher dia. Dia pula sekejap melentok kekiri, &lt;br /&gt;                        melentuk kekanan menikmati picikan yang kadang-kadang &lt;br /&gt;                        saja aku usap lembut bagi dia steam. &lt;br /&gt;                        Batangku mula berdenyut-denyut dari balik seluar bola &lt;br /&gt;                        yang aku pakai tanpa underwear itu. Sengaja aku &lt;br /&gt;                        tempelkan batangku ke belakang nya dan aku gesel &lt;br /&gt;                        perlahan-lahan. &lt;br /&gt;                        "Aahhh … aahh" nyonya mula beriaksi. Aku dapat rasa dia &lt;br /&gt;                        menekan badannya ke belakang untuk merasai kehangatan &lt;br /&gt;                        batangku yang sedang menggesel belakangnya. &lt;br /&gt;                        Tangan ku yang sedang mengusap lembut lehernya aku &lt;br /&gt;                        turunkan ke depan. Sedikit demi sedikit tangan ku turun &lt;br /&gt;                        hingga mencecah buah dadanya yang agak besar. Dia &lt;br /&gt;                        membiarkan tanganku merewang di dadanya. &lt;br /&gt;                        "Aaaaaaahhh … aaaahhhhh" nafasnya mula terdengar. &lt;br /&gt;                        Aku mula meramas buah dadanya, sementara merebahkan &lt;br /&gt;                        kepala nya kelenganku dan sebelah tanganya memegang &lt;br /&gt;                        tangan ku dan menekan ke teteknya dengan keras. &lt;br /&gt;                        Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami selain &lt;br /&gt;                        suara rengekan si nyonya dan gerakan tangan ku. &lt;br /&gt;                        Sama-sama faham apa nak buat. Aku beranikan diri &lt;br /&gt;                        menyelak baju nya keatas. Buah dada yang besar dan masih &lt;br /&gt;                        ada bra itu terpacul. Aku tarik juga bra nya dan &lt;br /&gt;                        tersembullah gunung kembar besar tak berapa tegang itu. &lt;br /&gt;                        Aku ramas gunung kembar itu dan aku gentel dengan jari &lt;br /&gt;                        hinggga mengeras kedua--dua putingnya. &lt;br /&gt;                        Ayaaa … banyak syok oooo … lu manyak pandai. .. - Aku &lt;br /&gt;                        ramas geram gunung kembar itu lagi. Aku tunduk mula &lt;br /&gt;                        mencium dan menjilat lehernya. Nafasnya memburu &lt;br /&gt;                        kesedapan. Dari gunung kembar itu aku usap perlahan &lt;br /&gt;                        tangan ku keperutnya yang berlipat-lipat dan masukkan &lt;br /&gt;                        tangan ku ke seluar pendeknya terus ketundunnya. Agak &lt;br /&gt;                        susah juga aku nak capai cipap dia sebab  &lt;br /&gt;                        lipatan-lipatan daging di perutnya itu … kan badannya &lt;br /&gt;                        gempal. &lt;br /&gt;                        Bila tanganku tersentuh hujung pentienya aku mula &lt;br /&gt;                        menyeluk ke dalam dan terasalah bulu cipapnya yang lebat &lt;br /&gt;                        dan beserabut itu. Dia merenggangkan kakinya memberi &lt;br /&gt;                        ruang kepadaku untuk mencapai belahan cipapnya. Aku &lt;br /&gt;                        berjaya menggenggam cipapnya yang tembam itu. Jariku &lt;br /&gt;                        mula mengaluri belahannya. Aku usap perlahan-lahan &lt;br /&gt;                        belahan itu dan terasa kelentitnya berada dihujung &lt;br /&gt;                        jariku. Kelentitnya aku gentel dan usap. &lt;br /&gt;                        "Ayaaa … sedap .. ayooo … sedap … aaaaahhh" rintiha &lt;br /&gt;                        nyonya BB memenuhi ruang dapur sambil dia memaut &lt;br /&gt;                        tengkukku dan menggeselkan pipinya kepipiku. &lt;br /&gt;                        "Nyonya … saya mau jilat lu punya … boleh?" aku telah &lt;br /&gt;                        dirasuk rasa amat berahi sungguh pun perempuan dalam &lt;br /&gt;                        pelukan ku itu seorang wanita dah berumur dan gemuk &lt;br /&gt;                        pulak tu. Aku belum pernah main dengan perempuan yang &lt;br /&gt;                        bersaiz besar sebelum ini. &lt;br /&gt;                        Aku tarik, dia bangun dan mengikut aku masuk kebilikku &lt;br /&gt;                        sambil aku pastikan pintu tangga aku kunci dari dalam .. &lt;br /&gt;                        takut-takut kalau laki dia balik .. mampus. &lt;br /&gt;                        Nyonya BB berbaring di atas katil dengan baju dan bra &lt;br /&gt;                        nya masih dalam keadaan masa aku gentel tetek dia tadi. &lt;br /&gt;                        Aku lucutkan seluar pendek dan pantienya. Dia &lt;br /&gt;                        mengangkangkan kakinya dan aku terus berlutut dan &lt;br /&gt;                        membenamkan mulutku kebelahan cipap yang berserabut &lt;br /&gt;                        bulu-bulu lebat dan  panjang itu. Banyak bulunya &lt;br /&gt;                        tercabut dan masuk ke mulutku semasa aku menyonyot &lt;br /&gt;                        belahannya, aku ludah kecadar membuang bulu-bulu yang &lt;br /&gt;                        melekat dimulutku. &lt;br /&gt;                        Kelentit nya besar dan panjang menjulur keluar dekat &lt;br /&gt;                        satu inci. Kelentit itu aku kulum sambil jariku mengusap &lt;br /&gt;                        lubang cipapnya yang ternganga. Dia menggeliat dan &lt;br /&gt;                        meraung kesedapan bila kelentit dan lubangnya aku sedut &lt;br /&gt;                        dan cucuk. Banyak airnya keluar dari lubang cipap itu. &lt;br /&gt;                        Aku rasa airnya sedikit tengit tapi kerana terlalu &lt;br /&gt;                        berahi, aku jilat juga. Bibir belahan cipap itu aku kuak &lt;br /&gt;                        selebar lebarnya dan lidahku menjolok lubang nikmatnya. &lt;br /&gt;                        Nyonya BB hanya berdaya meraung dan menggeliat menerima &lt;br /&gt;                        nikmat. &lt;br /&gt;                        "Kasi masuk lu punya batang .. ayaa .. wa tak boleh &lt;br /&gt;                        tahan" dia meminta sambil merintih-rintih. &lt;br /&gt;                        Aku lucut seluar ke lantai dan mengusap-usap batangku &lt;br /&gt;                        dengan tangan. Nyonya BB terbeliak lihat batangku yang &lt;br /&gt;                        keras tegang itu. &lt;br /&gt;                        "Ayaaa .. manyak besar … cepat … kasi masuk" dia &lt;br /&gt;                        melebarkan kangkang nya sambil membuka bibir cipap &lt;br /&gt;                        dengan tangannya. Dia dah tak tahan tengok batangku yang &lt;br /&gt;                        tegap dan macho tu. &lt;br /&gt;                        Aku alas bantal kibawah punggungnya. Cipap nya terbuka &lt;br /&gt;                        lalu aku acukan batangku kelubang nikmatnya dan henjut &lt;br /&gt;                        masuk. &lt;br /&gt;                        "Ayaaaaaa … syooook …. Ayaaaa" dia meraung lagi. &lt;br /&gt;                        Aku tekan dan tarik batangku keluar masuk cipapnya tapi &lt;br /&gt;                        tak sampai pangkal sebab terhalang oleh bawah perutnya &lt;br /&gt;                        yang buncit itu. Aku tekan sekuat hati dan tarik. Aku &lt;br /&gt;                        tekan lagi dan nyonya meraung …. &lt;br /&gt;                        "Ayaaa .. gua punya air sudah keluar" dia menggigil dan &lt;br /&gt;                        mengepit linggangku dengan pahanya yang semangat tu. Dia &lt;br /&gt;                        tewas mudah dengan ku. Tak sampai lima minitpun. &lt;br /&gt;                        Kemudian aku suruh dia menonggeng aku masuk lagi &lt;br /&gt;                        batangku dari arah belakang bontot dia. Cara ini aku &lt;br /&gt;                        rasa sedap sikit sebab batang ku masuk sampai kepangkal. &lt;br /&gt;                        Bertalu talu aku henjut cipap dia dan bergegar katil &lt;br /&gt;                        dibuatnya. Puas aku merodok cipapnya aku tarik keluar &lt;br /&gt;                        batangku dan halakan kedubur dia pula. Dia toleh ke &lt;br /&gt;                        belakang dan suruh aku pelan sikit. Tak ada masaalah  &lt;br /&gt;                        batangku dapat masuk kelubang dubur dia. Aku mula henjut &lt;br /&gt;                        agak keras dan laju. Dia meraung kesedapan sambil &lt;br /&gt;                        menghentakan punggungnya kearah ku membantu melancarkan &lt;br /&gt;                        keluar masuk batangku. &lt;br /&gt;                        "Aaaahh .. saya tak boleh tahaaaan …. Hantam kuat" dia &lt;br /&gt;                        dah nak klimax lagi. Aku henjut makin laju dan dengan &lt;br /&gt;                        satu tekanan kuat sambil aku pegang pinggul dia aku &lt;br /&gt;                        ledakan airmani kedalam lubang duburnya dan nyonya BB &lt;br /&gt;                        menjerit-jerit kesedapan bila dia juga klimax. &lt;br /&gt;                        Aku capai tuala terus pergi mandi. Nyonya terus masuk &lt;br /&gt;                        kebiliknya. Aku tukar cadarku yang penuh dengan lendir &lt;br /&gt;                        airmani dan tukar dengan yang baru. Aku bawa keluar nak &lt;br /&gt;                        basuh tapi nyonya BB ambil dan tolong masukkan dalam &lt;br /&gt;                        washing machine dia. &lt;br /&gt;                        Sambil duduk-duduk didapur kami borak-borak. Dia kata &lt;br /&gt;                        belum pernah dia puas macam tadi dan dia nak main lagi &lt;br /&gt;                        kalau dia rasa gian, aku kata anytime. &lt;br /&gt;                        Nyonya BB beritahu aku amoy di bar dah cakap kat dia &lt;br /&gt;                        yang batangku besar dan panjang, itu sebab dia terasa &lt;br /&gt;                        nak main dengan aku dan amoy tu pesan suruh aku pergi &lt;br /&gt;                        sana lagi. Aku gelak saja dan tanya dia kalau aku boleh &lt;br /&gt;                        bawak amoy tu balik. Dia kata dia boleh rekemen. &lt;br /&gt;                        Aku cakap kat nyonya BB suruh dia cukur bulu berserabut &lt;br /&gt;                        dia dan dia jeling kat aku tapi tersenyum dan menganguk &lt;br /&gt;                        . OK&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-4741149658735006541?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/4741149658735006541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=4741149658735006541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4741149658735006541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4741149658735006541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/melayu.html' title='MELAYU'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-3036960937981567116</id><published>2007-05-07T23:31:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:32:07.980-07:00</updated><title type='text'>AJIE</title><content type='html'>Aku seorang wanita karir yang cukup mapan, boleh &lt;br /&gt;                        dibilang karirku sudah mencapai tingkat tertinggi dari &lt;br /&gt;                        yang pernah kuimpikan. Tahun lalu aku memutuskan keluar &lt;br /&gt;                        dari pekerjaanku yang sangat baik itu, aku ingin &lt;br /&gt;                        memperbaiki rumah tanggaku yang berantakan karena selama &lt;br /&gt;                        5 tahun ini aku dan suami tidak pernah berkomunikasi &lt;br /&gt;                        dengan baik sehingga kami masing-masing memiliki &lt;br /&gt;                        kegiatan di luar rumah sendiri-sendiri. Anak kami &lt;br /&gt;                        satu-satunya sekolah di luar negeri, kesempatan untuk &lt;br /&gt;                        berkomunikasi makin sedikit sampai akhirnya kuputuskan &lt;br /&gt;                        untuk memulai lagi hubungan dengan suamiku dari bawah. &lt;br /&gt;                        Tapi apa boleh buat semua malah berantakan, suamiku &lt;br /&gt;                        memilih cerai ketika aku sudah keluar dari karirku &lt;br /&gt;                        selama 3 bulan. Aku tak dapat menyalahkannya karena &lt;br /&gt;                        akupun tidak begitu antusias lagi setelah mengetahui dia &lt;br /&gt;                        mempunyai wanita simpanan, dan itu juga bukan salahnya &lt;br /&gt;                        maupun salahku. Kupikir itu adalah takdir yang harus &lt;br /&gt;                        kujalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sekarang usiaku sudah 39 tahun dan aku tidak pernah &lt;br /&gt;                        bermimpi untuk menikah lagi, sehari-hari aku lebih &lt;br /&gt;                        banyak berjalan-jalan dengan teman, kadang-kadamg kami &lt;br /&gt;                        traveling untuk membunuh waktu belaka. Sejak 3 bulan &lt;br /&gt;                        yang lalu aku membiarkan salah seorang keponakanku untuk &lt;br /&gt;                        tinggal di rumahku, aku tergerak menolong orang tuanya &lt;br /&gt;                        yang mempunyai ekonomi pas-pasan sehingga untuk kost &lt;br /&gt;                        tentu memerlukan biaya yang mahal, sedangkan untuk bayar &lt;br /&gt;                        kuliah saja mereka sudah bekerja mati-matian. &lt;br /&gt;                        Keponakanku bernama Ajie, usianya sekitar 22 tahun, &lt;br /&gt;                        kubiarkan ia tinggal di salah satu kamar di lantai 2. &lt;br /&gt;                        Ajie sangat sopan dan tahu diri, jadi kupikir sangat &lt;br /&gt;                        menguntungkan ada seseorang yang dapat menjaga rumahku &lt;br /&gt;                        sewaktu aku dan teman-teman traveling. Tapi ternyata &lt;br /&gt;                        Ajie membawa berkah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Pagi itu aku segan sekali bangun dari ranjang, baru &lt;br /&gt;                        kemarin malam aku kembali dari Thailand dan kebetulan &lt;br /&gt;                        hari itu adalah hari minggu, sehingga aku memutuskan &lt;br /&gt;                        akan tidur sepuas mungkin, semua pembatu libur pada hari &lt;br /&gt;                        minggu, mereka boleh kemana saja, aku tidak peduli asal &lt;br /&gt;                        jangan menganggu tidurku. Aku tergolek saja di ranjang, &lt;br /&gt;                        baju tidurku terbuat dari sutera tipis berwarna putih, &lt;br /&gt;                        kupandangi tubuhku yang mulai gempal, kupikir aku harus &lt;br /&gt;                        mulai senam lagi. Kulihat jam menunjukkan angka 10. Ah &lt;br /&gt;                        biarlah aku ingin tidur lagi, jadi aku mulai &lt;br /&gt;                        terkantuk-kantuk lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara &lt;br /&gt;                        langkah kaki di depan pintu, lalu terdengar ketukan, aku &lt;br /&gt;                        diam saja, mungkin salah seorang pembantu ingin mengacau &lt;br /&gt;                        tidurku.&lt;br /&gt;                        "Tante..., Tante...", ooh ternyata suara Ajie. Mau apa &lt;br /&gt;                        dia? Aku masih diam tak menjawab, kubalikkan badanku &lt;br /&gt;                        sehingga aku tidur telentang, kupejamkan mataku, kedua &lt;br /&gt;                        tangan kumasukkan ke bawah bantal. Ketukan di pintu &lt;br /&gt;                        berulang lagi disertai panggilan.&lt;br /&gt;                        "Persetan!", pikirku sambil terus memejamkan mata. Tak &lt;br /&gt;                        lama kemudian aku kaget sendiri mendengar pegangan pintu &lt;br /&gt;                        diputar, kulirik sedikit melalui sudut mataku, kulihat &lt;br /&gt;                        pintu bergerak membuka pelan, lalu muncul kepala Ajie &lt;br /&gt;                        memandang ke arahku, aku pura-pura tidur, aku tak mau &lt;br /&gt;                        diganggu.&lt;br /&gt;                        "Tante...?", Suaranya berbisik, aku diam saja. &lt;br /&gt;                        Kupejamkan mataku makin erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Beberapa saat aku tidak mendengar apapun, tapi tiba-tiba &lt;br /&gt;                        aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip &lt;br /&gt;                        melalui sudut mata, astaga ternyata Ajie sudah berdiri &lt;br /&gt;                        di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap &lt;br /&gt;                        tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaun tidurku, &lt;br /&gt;                        aku lupa sedang mengenakan baju tidur yang tipis apalagi &lt;br /&gt;                        dengan tidur telentang pula. Hatiku jadi berdebar-debar, &lt;br /&gt;                        kulihat Ajie menelan ludah, pelan-pelan tangannya &lt;br /&gt;                        menyingkap gaunku, hatiku makin berdebar tak karuan. Mau &lt;br /&gt;                        apa dia? Tapi aku terus pura-pura tidur.&lt;br /&gt;                        "Tante...", Suara Ajie terdengar keras, kupikir ia &lt;br /&gt;                        sedang ingin memastikan apakah tidurku betul-betul &lt;br /&gt;                        nyenyak atau tidak. Kuputuskan untuk terus pura-pura &lt;br /&gt;                        tidur. Kemudian kurasakan gaun tidurku tersingkap semua &lt;br /&gt;                        sampai leher, lalu kurasakan tangan Ajie mengelus &lt;br /&gt;                        bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tenang &lt;br /&gt;                        agar pemuda itu tidak curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena &lt;br /&gt;                        tangan kumasukkan bawah bantal jadi otomatis ketiakku &lt;br /&gt;                        terlihat. Kuintip lagi..., buseet wajah pemuda itu dekat &lt;br /&gt;                        sekali dengan wajahku, tapi aku yakin dia masih belum &lt;br /&gt;                        tahu aku pura-pura tidur, kuatur napas selembut mungkin. &lt;br /&gt;                        Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu &lt;br /&gt;                        kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin &lt;br /&gt;                        tahu apa yang akan dilakukannya terhadap tubuhku. Tak &lt;br /&gt;                        lama kemudian kurasakan tangannya meraba buah dadaku &lt;br /&gt;                        yang masih tertutup BH, mula-mula ia cuma mengelus-elus, &lt;br /&gt;                        aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu &lt;br /&gt;                        kurasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan &lt;br /&gt;                        seperti ada yg sedang bergolak di dalam tubuhku, sudah &lt;br /&gt;                        lama aku tidak merasakan sentuhan laki-laki. Sekarang &lt;br /&gt;                        aku sangat merindukan kekasaran seorang pria, aku &lt;br /&gt;                        memutuskan terus diam sampai saatnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sekarang tangan Ajie sedang berusaha membuka kancing &lt;br /&gt;                        BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan &lt;br /&gt;                        dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku &lt;br /&gt;                        ingin merintih nikmat tapi nanti malah membuatnya takut, &lt;br /&gt;                        jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan &lt;br /&gt;                        tangannya gemetar ketika memencet puting susuku, kulirik &lt;br /&gt;                        pelan, kulihat Ajie mendekatkan wajahnya kearah buah &lt;br /&gt;                        dadaku, lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku &lt;br /&gt;                        ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku &lt;br /&gt;                        terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna &lt;br /&gt;                        merah tua sudah berkilat oleh air liurnya, perasaanku &lt;br /&gt;                        campur aduk tidak karuan, nikmat sekali. Mulutnya terus &lt;br /&gt;                        menyedot puting susuku disertai dengan gigitan-gigitan &lt;br /&gt;                        kecil, tangan kanan Ajie mulai menelusuri &lt;br /&gt;                        selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku &lt;br /&gt;                        yg masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah &lt;br /&gt;                        basah atau belum, yang jelas jari-jari Ajie &lt;br /&gt;                        menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu &lt;br /&gt;                        kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku, &lt;br /&gt;                        jantungku berdebar keras sekali, kurasakan kenikmatan &lt;br /&gt;                        menjalari tubuhku. Jari-jari Ajie sedang berusaha &lt;br /&gt;                        memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas &lt;br /&gt;                        masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri &lt;br /&gt;                        sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku &lt;br /&gt;                        sambil menyentakkan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ajie!!! Ngapain kamu?", Aku berusaha bangun duduk, tapi &lt;br /&gt;                        kedua tangan Ajie menekan pundakku dengan keras. &lt;br /&gt;                        Tiba-tiba Ajie mencium mulutku secepat kilat, aku &lt;br /&gt;                        berusaha memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapi &lt;br /&gt;                        Ajie makin keras menekan pundakku, malah pemuda itu &lt;br /&gt;                        sekarang menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas &lt;br /&gt;                        ditekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya &lt;br /&gt;                        kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam &lt;br /&gt;                        mulutku, aku pura-pura menolak.&lt;br /&gt;                        "Tante..., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan &lt;br /&gt;                        ini, maafkan saya tante" Ajie melepaskan ciumannya lalu &lt;br /&gt;                        memandangku dengan pandangan meminta.&lt;br /&gt;                        "Kamu kan bisa dengan teman-teman kamu yang masih muda. &lt;br /&gt;                        Tante kan sudah tua" Ujarku lembut.&lt;br /&gt;                        "Tapi saya sudah tergila-gila dengan tante..., saya akan &lt;br /&gt;                        memuaskan tante sepuas-puasnya", Jawab Ajie.&lt;br /&gt;                        "Ah kamu..., ya sudahlah terserah kamu sajalah", Aku &lt;br /&gt;                        pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah &lt;br /&gt;                        tak tahan ingin dijamah olehnya. Kemudian Ajie &lt;br /&gt;                        melepaskan gaun tidurku, sehingga aku cuma memakai &lt;br /&gt;                        celana dalam saja. Lalu Ajie melepaskan pakaiannya, &lt;br /&gt;                        sehingga aku bisa melihat penisnya yang besar sekali, &lt;br /&gt;                        penis itu sudah menegang keras. Ajie mendekat ke arahku.&lt;br /&gt;                        "Tante diam saja ya", Kata Ajie. Aku diam sambil &lt;br /&gt;                        berbaring telentang, kemudian Ajie mulai menciumi &lt;br /&gt;                        wajahku, telingaku dijilatinya, aku mengerang-erang, &lt;br /&gt;                        kemudian leherku dijilat juga, sementara tangannya &lt;br /&gt;                        meremas buah dadaku dengan lembut. Tak lama kemudian &lt;br /&gt;                        Ajie merenggangkan kedua pahaku, lalu kepalanya menyusup &lt;br /&gt;                        ke selangkanganku. vaginaku yang masih tertutup CD &lt;br /&gt;                        dijilat dan dihisap-hisapnya, aku menggeliat-geliat &lt;br /&gt;                        menahan rasa nikmat yang luar biasa. Lalu Ajie menarik &lt;br /&gt;                        CD-ku sampai copot, kedua kakiku diangkatnya sampai &lt;br /&gt;                        pinggulku juga terangkat, sehingga tubuhku menekuk, &lt;br /&gt;                        kulihat vaginaku yang berbulu sangat lebat itu mengarah &lt;br /&gt;                        ke wajahku, punggungku agak sakit, tapi kutahan, aku &lt;br /&gt;                        ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian Ajie &lt;br /&gt;                        mulai menjilati vaginaku, kulihat lidahnya terjulur &lt;br /&gt;                        menyibak bulu vaginaku, lalu menyusup ke belahan bibir &lt;br /&gt;                        vaginaku, aku merintih keras, nikmat sekali, clitorisku &lt;br /&gt;                        dihisap-hisapnya, kurasakan lidahnya menjulur masuk ke &lt;br /&gt;                        dalam lubang vaginaku, mulutnya sudah bergelimang &lt;br /&gt;                        lendirku, aku terangsang sekali melihat kelahapan pemuda &lt;br /&gt;                        itu menikmati vaginaku, padahal kupikir vaginaku sudah &lt;br /&gt;                        tidak menarik lagi.&lt;br /&gt;                        "Enak Ajie? Bau kan?", Bisikku sambil terus melihatnya &lt;br /&gt;                        melahap lubangku.&lt;br /&gt;                        "Enak sekali tante, saya suka sekali baunya", Jawab &lt;br /&gt;                        Ajie, aku makin terangsang. Tak lama aku merasakan &lt;br /&gt;                        puncaknya ketika Ajie makin dalam memasukkan lidahnya ke &lt;br /&gt;                        dalam vaginaku.&lt;br /&gt;                        "Ajiee..., aa..., enaakk" Kurasakan tubuhku ngilu semua &lt;br /&gt;                        ketika mencapai orgasme, Ajie terus menyusupkan lidahnya &lt;br /&gt;                        keluar masuk vaginaku. Kuremas-remas dan kugaruk-garuk &lt;br /&gt;                        rambut Ajie. Kemudian kulihat Ajie mulai menjilat lubang &lt;br /&gt;                        pantatku, aku kegelian, tapi Ajie tidak peduli, ia &lt;br /&gt;                        berusaha membuka lubang pantatku, aku mengerahkan tenaga &lt;br /&gt;                        seperti sedang buang air sehingga kulihat lidah Ajie &lt;br /&gt;                        berhasil menyusup kesela lubang pantatku, aku mulai &lt;br /&gt;                        merasakan kenikmatan bercampur geli.&lt;br /&gt;                        "Terus Jie..., aduh nikmat banget, geli..., teruss..., &lt;br /&gt;                        hh...", Aku mengerang-erang, Ajie terus menusukkan &lt;br /&gt;                        lidahnya ke dalam lubang pantatku, kadang-kadang jarinya &lt;br /&gt;                        dimasukkan ke dalam lalu dikeluarkan lagi untuk dijilat &lt;br /&gt;                        sambil memandangku.&lt;br /&gt;                        "Enak? Jorok kan?".&lt;br /&gt;                        "Enak tante..., nikmat kok", Jawab Ajie, tak lama &lt;br /&gt;                        kemudian aku kembali orgasme, aku tahu lendir vaginaku &lt;br /&gt;                        sudah membanjir. Kucoba meraih penis Ajie, tapi sulit &lt;br /&gt;                        sekali. Aku merasa kebelet ingin pipis, tiba-tiba tanpa &lt;br /&gt;                        dapat kutahan air kencingku memancar sedikit, aku &lt;br /&gt;                        mencoba menahannya.&lt;br /&gt;                        "Aduh sorry Jie..., nggak tahan mau pipis dulu" Aku &lt;br /&gt;                        ingin bangun tapi kulihat Ajie langsung menjilat air &lt;br /&gt;                        kencingku yang berwarna agak kuning. Gila! Aku berusaha &lt;br /&gt;                        menghindar, tapi ia malah menyurukkan seluruh mulutnya &lt;br /&gt;                        ke dalam vaginaku.&lt;br /&gt;                        "aa..., jangan Ajie..., jangan dijilat, itu kan pipis &lt;br /&gt;                        Tante", Aku bangun berjalan ke kamar mandi, kulihat Ajie &lt;br /&gt;                        mengikutiku.&lt;br /&gt;                        "Tante pipis dulu, Ajie jangan ikut ah..., malu", Kataku &lt;br /&gt;                        sambil menutup pintu kamar mandi, tapi Ajie menahan dan &lt;br /&gt;                        ikut masuk.&lt;br /&gt;                        "Saya ingin lihat Tante".&lt;br /&gt;                        "Terserah deh".&lt;br /&gt;                        "Saya ingin merasakan air pipis tante", Aku tersentak.&lt;br /&gt;                        "Gila kamu? Masak air pipis mau...", Belum habis &lt;br /&gt;                        ucapanku, Ajie sudah telentang di atas lantai kamar &lt;br /&gt;                        mandiku.&lt;br /&gt;                        "Please tante...", Hatiku berdebar, aku belum pernah &lt;br /&gt;                        merasakan bagaimana mengencingi orang, siapa yang mau? &lt;br /&gt;                        Eh sekarang ada yang memohon untuk dikencingi. Akhirnya &lt;br /&gt;                        kuputuskan untuk mencoba.&lt;br /&gt;                        "Terserah deh..." Jawabku, lalu aku berdiri diantara &lt;br /&gt;                        kepalanya, kemudian pelan-pelan aku jongkok di atas &lt;br /&gt;                        wajahnya, kurasakan vaginaku menyentuh hidungnya. Ajie &lt;br /&gt;                        menekan pinggulku sehingga hidungnya amblas ke dalam &lt;br /&gt;                        vaginaku, aku tak peduli, kugosok-gosok vaginaku di &lt;br /&gt;                        sana, dan sensasinya luar biasa, kemudian lidahnya mulai &lt;br /&gt;                        menjulur lalu menjilati lubang pantatku lagi, sementara &lt;br /&gt;                        aku sudah tidak tahan.&lt;br /&gt;                        "Awas..., mau keluar" Ajie memejamkan matanya. Kuarahkan &lt;br /&gt;                        lubang vaginaku ke mulutnya, kukuakkan bibir vaginaku &lt;br /&gt;                        supaya air kencingku tidak memencar, kulihat Ajie &lt;br /&gt;                        menjulurkan lidahnya menjilati bibir vaginaku, lalu &lt;br /&gt;                        memancarlah air kencingku dengan sangat deras, semuanya &lt;br /&gt;                        masuk ke dalam mulut Ajie, sebagian besar keluar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tiba-tiba Ajie menusuk vaginaku dengan jarinya sehingga &lt;br /&gt;                        kencingku tertahan seketika, kenikmatan yang luar biasa &lt;br /&gt;                        kurasakan ketika kencingku tertahan, lalu vaginaku &lt;br /&gt;                        ditusuk terus keluar masuk dengan jarinya. Kira-kira 1 &lt;br /&gt;                        menit kurasakan kencingku kembali memancar dashyat, &lt;br /&gt;                        sambil pipis sambil kugosok-gosokkan vaginaku ke seluruh &lt;br /&gt;                        wajah Ajie. Pemuda itu masih memejamkan matanya. &lt;br /&gt;                        Akhirnya kulihat kencingku habis, yang keluar cuma tetes &lt;br /&gt;                        tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk &lt;br /&gt;                        ke dalam mulut pemuda itu, dan Ajie menjilat serta &lt;br /&gt;                        menghisap habis. Aku juga tak tahan, kucium mulut Ajie &lt;br /&gt;                        dengan lahap, kurasakan lendirku sedikit asin, kuraih &lt;br /&gt;                        penis Ajie, kukocok-kocok, kemudian kuselomoti penis &lt;br /&gt;                        yang besar itu. Kusuruh Ajie nungging diatas wajahku, &lt;br /&gt;                        lalu kusedot penisnya yang sudah basah sekali oleh &lt;br /&gt;                        lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang &lt;br /&gt;                        kencingnya. Ajie mulai memompa penisnya di dalam &lt;br /&gt;                        mulutku, keluar masuk seolah-olah mulutku adalah vagina, &lt;br /&gt;                        aku tidak peduli, kurasakan Ajie sedang mencelucupi &lt;br /&gt;                        vaginaku sambil mengocok lubang pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kuberanikan mencoba menjilat lubang pantat Ajie yang &lt;br /&gt;                        sedikit berbulu dan berwarna kehitam-hitaman. Tidak ada &lt;br /&gt;                        rasanya, kuteruskan menjilat lubang pantatnya, &lt;br /&gt;                        kadang-kadang kusedot bijinya, kadang-kadang penisnya &lt;br /&gt;                        kembali masuk ke mulutku. Tak lama kemudian kurasakan &lt;br /&gt;                        tubuh Ajie menegang lalu ia menjerit keras. penisnya &lt;br /&gt;                        menyemburkan air mani panas yang banyak sekali di dalam &lt;br /&gt;                        mulutku. Kuhisap terus, kucoba untuk menelan semua air &lt;br /&gt;                        mani yang rada asin itu, sebagian menyembur ke wajahku, &lt;br /&gt;                        ku kocok penisnya, Ajie seperti meregang nyawa, tubuhnya &lt;br /&gt;                        berliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah &lt;br /&gt;                        beberapa lama, akhirnya penis itu agak melemas, tapi &lt;br /&gt;                        terus kuhisap.&lt;br /&gt;                        "Tante mau coba pipis Ajie nggak?" Aku ingin menolak, &lt;br /&gt;                        tapi kupikir itu tidak fair.&lt;br /&gt;                        "Ya deh... Tapi sedikit aja" Jawabku. Kemudian Ajie &lt;br /&gt;                        berlutut di atas wajahku, lalu kedua tangannya &lt;br /&gt;                        mengangkat kepalaku sehingga penisnya tepat mengarah &lt;br /&gt;                        kemulutku. Kujilat-jilat kepala penisnya yang masih &lt;br /&gt;                        berlendir. Tak lama kemudian air pipis Ajie menyembur &lt;br /&gt;                        masuk ke dalam mulutku, terasa panas dan asin, sedikit &lt;br /&gt;                        pahit. Kupejamkan mataku, yang kurasakan kemudian air &lt;br /&gt;                        pipis Ajie terus menyembur ke seluruh wajahku, sebagian &lt;br /&gt;                        kuminum. Ajie memukul-mukulkan penisnya ke wajah dan &lt;br /&gt;                        mulutku. Setelah habis kencingnya, aku kembali menyedot &lt;br /&gt;                        penisnya sambil mengocok juga. Kira-kira 2 menit penis &lt;br /&gt;                        Ajie mulai tegang kembali, keras seperti kayu. Ajie lalu &lt;br /&gt;                        mengarahkan penisnya ke vaginaku, kutuntun penis itu &lt;br /&gt;                        masuk ke dalam vaginaku. Kemudian pemuda itu mulai &lt;br /&gt;                        memompa penis besarnya ke dalam vaginaku. Aku merasakan &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang bukan main setiap penis itu dicabut lalu &lt;br /&gt;                        ditusuk lagi. Kadang Ajie mencabut penisnya lalu &lt;br /&gt;                        memasukkannya ke dalam mulutku, kemudian kurasakan &lt;br /&gt;                        pemuda itu berusaha menusuk masuk ke dalam lubang &lt;br /&gt;                        pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Pelan-pelan..., sakit" Kataku, kemudian kurasakan penis &lt;br /&gt;                        itu menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatku, &lt;br /&gt;                        sakit sekali, tapi diantara rasa sakit itu ada rasa &lt;br /&gt;                        nikmatnya. Kucoba menikmati, lama-lama aku yang &lt;br /&gt;                        keenakan, sudah 3 kali aku mencapai orgasme, sedangkan &lt;br /&gt;                        Ajie masih terus bergantian menusuk vagina atau &lt;br /&gt;                        pantatku. Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air &lt;br /&gt;                        pipis, kulihat lantai kamar mandiku yang tadinya kering, &lt;br /&gt;                        sekarang basah semua.&lt;br /&gt;                        "aakkhh..., tante, tante..., aa" Ajie merengek-rengek &lt;br /&gt;                        sambil memompa terus penisnya di dalam lubang pantatku. &lt;br /&gt;                        Dengan sigap aku bangun lalu secepat kilat kumasukkan &lt;br /&gt;                        penisnya ke dalam mulutku, kuselomoti penis itu sampai &lt;br /&gt;                        akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penis Ajie &lt;br /&gt;                        disertai jeritan panjang, untung tidak ada orang &lt;br /&gt;                        dirumah. Air maninya menyembur banyak sekali, sebagian &lt;br /&gt;                        kutelan sebagian lagi kuarahkan ke wajahku sehingga &lt;br /&gt;                        seluruh wajahku berlumuran air mani pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kemudian Ajie menggosok penisnya ke seluruh wajahku, &lt;br /&gt;                        lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai &lt;br /&gt;                        kamar mandi. Kepuasan yang kudapat hari itu benar-benar &lt;br /&gt;                        sangat berarti. Aku makin sayang dengan Ajie. Ada saja &lt;br /&gt;                        sensasi dan cara baru setiap kali kami bercinta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-3036960937981567116?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/3036960937981567116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=3036960937981567116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/3036960937981567116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/3036960937981567116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/ajie.html' title='AJIE'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-2551221282712821536</id><published>2007-05-07T23:30:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:31:10.898-07:00</updated><title type='text'>SECRET 3</title><content type='html'>First Secret [Episode III]&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;                        Seminggu, aku tidak dapat bertemu lagi dengan Tina, &lt;br /&gt;                        karena aku ada tamu dari kantor pusat. Aku tidak sempat &lt;br /&gt;                        berkata, bertemu wajah, atau mendengar suaranya.&lt;br /&gt;                        Akhirnya, pada tanggal  14 Januari....&lt;br /&gt;                        Dia memakai baju kesukaanku, tipis dan berbunga. BHnya &lt;br /&gt;                        kelihatan dan menampakkan perbedaan antara kulitnya &lt;br /&gt;                        dengan BHnya.&lt;br /&gt;                        Dandanannya sangat sederhana, tetapi membuatnya tampil &lt;br /&gt;                        cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dia mengingatkan aku untuk rapat dengan partner kerja &lt;br /&gt;                        dari BCA di ruangan rapat. "Coba, kamu cek apakah &lt;br /&gt;                        ruangan rapatnya sudah siap", kataku alasan saja.&lt;br /&gt;                        Di dalam ruang rapat, aku bertemu dengan dia. Dia tampak &lt;br /&gt;                        menungguku juga.&lt;br /&gt;                        "Tina, maafkan yang dulu.." ...dia menggeleng, tersenyum &lt;br /&gt;                        tidak nyaman.&lt;br /&gt;                        Aku kecup keningnya.. "Pak.. "...aku ingin menyenangkan &lt;br /&gt;                        dan membayar utangku dulu.. rasanya.. tapi suasananya &lt;br /&gt;                        tidak memungkinkan.&lt;br /&gt;                        Rapat diadakan jam 13.00, tinggal 30 menit lagi. Wah! &lt;br /&gt;                        gawat, kontolku sudah tegak lagi mendengar "Paak.." dari &lt;br /&gt;                        Tina.&lt;br /&gt;                        Karena ruang rapat tidak berjendela, dan kuncinya ada di &lt;br /&gt;                        dalam, aku langsung kunci dari dalam, dan memutuskan &lt;br /&gt;                        untuk melakukannya di dalam. "Tina"..aku langsung cium &lt;br /&gt;                        dia.. aku tidak dapat menahan nafsuku untuk &lt;br /&gt;                        memasukinya.. sekarang!&lt;br /&gt;                        Aku lepas kancing baju dan roknya tapi tidak sampai &lt;br /&gt;                        terlepas. Semuanya sudah tampak, tapi tanpa melepaskan &lt;br /&gt;                        semuanya. Aku lepas sabukku dan kukeluarkan kontolku dan &lt;br /&gt;                        kupelorotkan celanaku sampai lutut.&lt;br /&gt;                        Aku cium putingnya dan langsung membuat dia mengangkat &lt;br /&gt;                        dadanya.&lt;br /&gt;                        "Ohhhhhmm... Pak.. jangan sekarang...." ..."Kamu nggak &lt;br /&gt;                        ingin ?" tanyaku.."Tapi...ss".. Memang gila, aku akan &lt;br /&gt;                        melakukannya di kantor pada jam kantor! di ruang rapat! &lt;br /&gt;                        Langsung aku naikkan bokongnya untuk duduk dan &lt;br /&gt;                        terlentang di meja rapat yang besar itu, dan aku mulai &lt;br /&gt;                        menjilati memeknya, mencari clitorisnya.."gimana rasanya &lt;br /&gt;                        ini Tiiin" aku membuat suasana nyaman..&lt;br /&gt;                        "Ahhhh... paakk.... enhhakkk"..&lt;br /&gt;                        Basah sudah memeknya, cairannya sampai membasahi daerah &lt;br /&gt;                        paha atasnya hingga turun.. aku gigit seluruh pahanya &lt;br /&gt;                        hingga memerah.. Memeknya berwarna merah muda dan sangat &lt;br /&gt;                        basah..aku coba menggosok clitorisnya dengan &lt;br /&gt;                        telunjukku.. dia bergetar &lt;br /&gt;                        hebat..."hhhhshshshhhshhshs..."&lt;br /&gt;                        Aku langsung berdiri dan menggesek-gesekkan kontolku ke &lt;br /&gt;                        atas memeknya.. dan mengenai clitorisnya. "MMhhshhs &lt;br /&gt;                        ohhsmmshhs.. Pakkk.. diapakan saya Pakkk"..."Enak, &lt;br /&gt;                        Tiinn?"&lt;br /&gt;                        "Yyyyyyaasshhh...hgnggnghhm....."..sejenak aku berpikir &lt;br /&gt;                        tentang hal yang telah aku lakukan ini. apakah Tina akan &lt;br /&gt;                        menyukainya ? atau akan menganggapku menghinanya ? .aku &lt;br /&gt;                        melihat wajahnya, tampak dia merasa nyaman sekali.. dan &lt;br /&gt;                        tidak ingin berpisah denganku.. aku menjadi ingin lebih &lt;br /&gt;                        .. Aku kaget..ketika..&lt;br /&gt;                        "Hhshshh.. mmms.." dia memalingkan muka menghindari &lt;br /&gt;                        mulutnya bersentuhan terlalu banyak denganku (mungkin &lt;br /&gt;                        takut ketahuan nantinya), sehingga dandanan di wajahnya &lt;br /&gt;                        terlihat terjaga rapi..&lt;br /&gt;                        "Ayyyyyoooo.." bisiknya merintih.&lt;br /&gt;                        AYO ? ayo apa ? pikirku ? masihkah dia ingin aku masuki &lt;br /&gt;                        ? Kupercepat gesekan kontolku, maju-mundur, kanan-kiri, &lt;br /&gt;                        dan kadang kupukulkan ke arah clitorisnya..Kepalanya &lt;br /&gt;                        goyang ke kanan kiri..&lt;br /&gt;                        "Phhhakk..." dia tarik kontolku lebih dalam dan sekarang &lt;br /&gt;                        aku yakin bahwa dia memang ingin agar aku memasukkan &lt;br /&gt;                        kontolku ke lobang memeknya!&lt;br /&gt;                        "Masukin.. sekarang .. pakkk.. ayooo... chhhhept... &lt;br /&gt;                        sgghgnnn"&lt;br /&gt;                        "Tahan ya..Thhinn" aku juga terpengaruh kelakuannya yang &lt;br /&gt;                        merangsang itu.&lt;br /&gt;                        Perlahan, kepala kontolku memasuki lobang memeknya yang &lt;br /&gt;                        hangat itu..&lt;br /&gt;                        Sempit sekali, mulutnya terbuka dan nafasnya berhenti &lt;br /&gt;                        sejenak.&lt;br /&gt;                        Aku takut dia akan berteriak.."huffffnngggg... hshhshsh"&lt;br /&gt;                        Akhirnya aku berhasil memasukkan dan kakinya mengejan &lt;br /&gt;                        kuat sekali..&lt;br /&gt;                        "Hhhhhhhhoohhhhhhmmmss... Phhhhhakkkkk.... &lt;br /&gt;                        eenhhhhakkkk... Phhakkk.."&lt;br /&gt;                        Tangannya mencengkeram lenganku dan memaksaku untuk &lt;br /&gt;                        memasukkan lebih dalamlagi.&lt;br /&gt;                        Aku tidak menyangka, bahwa Tina akan memintanya.. Aku &lt;br /&gt;                        diamkan sekitar 30 detik dulu kontolku di dalam.. dari &lt;br /&gt;                        matanya keluar air mata dan dia tersenyum kepadaku.. &lt;br /&gt;                        sambil terisak..campur tersenyum..&lt;br /&gt;                        "Hhhhk.. hhk ..Phhak.. saya malu.."&lt;br /&gt;                        "Nggak..gak apa-apa.. ayo tahan ya.."aku coba seperti &lt;br /&gt;                        membimbing dia. Jantungku berdegup kencang sekali.. aku &lt;br /&gt;                        tidak menyangka, operator teleponku sekarang sudah &lt;br /&gt;                        berhubungan sex denganku di kantor!&lt;br /&gt;                        Aku goyangkan perlahan maju-mundur.. matanya terbelalak &lt;br /&gt;                        lagi..&lt;br /&gt;                        Ternyata, dia memang perawan sekali, dia tidak pernah &lt;br /&gt;                        merasakannya dari orang lain..&lt;br /&gt;                        Kupercepat goyanganku... maju-mundur.."Hhhhhohhhh,.. &lt;br /&gt;                        Pak.. enhhakknya.." dia berbisik seperti ...terus &lt;br /&gt;                        menerus... sudah 4 kali dia mengejankan kakinya.. tanda &lt;br /&gt;                        dia orgasme..&lt;br /&gt;                        Aku merasakan kontolku berdenyut-denyut ingin &lt;br /&gt;                        mengeluarkan cairan kenikmatan segera mungkin..&lt;br /&gt;                        "Thiiinn... thinnna... huhhmmmsm" goyanganku &lt;br /&gt;                        kupercepat...."hshh hsh hshshhhe...ss"&lt;br /&gt;                        Mataku terpejam menikmati saat-saat terakhir akan &lt;br /&gt;                        terjadi...&lt;br /&gt;                        Tiba-tiba, HPku berbunyi, membuat kami kaget sekali.. &lt;br /&gt;                        kupercepat goyangan pinggulku maju-mundur.. dia tampak &lt;br /&gt;                        menjadi sangat liar, dan sangat tersiksa karena harus &lt;br /&gt;                        menahan suara agar tidak terdengar orang luar.. Aku &lt;br /&gt;                        terpaksa harus menghentikan goyanganku karena ternyata &lt;br /&gt;                        rekanku yang akan datang untuk rapat menghubungiku lewat &lt;br /&gt;                        HP itu; itu kutahu dari no. Hp yang muncul.&lt;br /&gt;                        "Halo... Joko!, oya, sampai dimana ? Oya ? udah di loby &lt;br /&gt;                        ? Ok aku turun.."&lt;br /&gt;                        Aku tutup HPku. Dan melanjutkan goyanganku... tapi, &lt;br /&gt;                        kontolku sudah mulai turun semangatnya..&lt;br /&gt;                        "Tina...." aku mencarinya..&lt;br /&gt;                        "Oyya.. pak..." ternyata dia sudah berbenah... &lt;br /&gt;                        rapi....cantik....&lt;br /&gt;                        Kukecup keningnya..."Kamu benar-benar ingin tadi ? &lt;br /&gt;                        "...."Hehhmm.." dia mengangguk.&lt;br /&gt;                        "Bapak yang pertama"....Dia membantu mengelap kontolku &lt;br /&gt;                        dengan sapu tangannya..sampai bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Perasaanku kacau balau, senang, bingung, bangga, &lt;br /&gt;                        takut....jadi satu...&lt;br /&gt;                        Aku rapat dengan rekanku tanpa konsentrasi! kontolku &lt;br /&gt;                        belum selesai bekerja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-2551221282712821536?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/2551221282712821536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=2551221282712821536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2551221282712821536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2551221282712821536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/secret-3.html' title='SECRET 3'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-6779373066156089928</id><published>2007-05-07T23:29:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:30:22.460-07:00</updated><title type='text'>SECRET 2</title><content type='html'>Teman; Terimakasih atas sambutan yang luar biasa, tetapi &lt;br /&gt;                        saya tidak menyangka karena saya hanya menuliskan &lt;br /&gt;                        langsung dari apa yang saya ingat.. termasuk suara-suara &lt;br /&gt;                        Tina, dsb, itu masih terngiang-ngiang di telingaku.. &lt;br /&gt;                        Untuk foto Tine, saya berjanji terhadap diriku sendiri &lt;br /&gt;                        untuk tidak memberikannya ke orang lain, (karena saya &lt;br /&gt;                        sendiri hanya punya pas photo 3x4nya saja, hitam &lt;br /&gt;                        putih!)..&lt;br /&gt;                        Aku menghormatinya karena dia telah menerima &lt;br /&gt;                        permintaanku..Mohon maklum.&lt;br /&gt;                        Selanjutnya, perasaanku terhadap si TINA sungguh tidak &lt;br /&gt;                        dapat kutolak! Nggak tahu, ini pasti 100% nafsu saja.. &lt;br /&gt;                        atau ada cintanya.. Karena, sekarang mataku selalu &lt;br /&gt;                        kusempatkan untuk melihat dia dari jauh saat aku lewat &lt;br /&gt;                        atau hilir mudik di kantor.&lt;br /&gt;                        Besoknya, setelah peristiwa malam itu, aku bekerja &lt;br /&gt;                        seperti biasa dan melihat Tina juga masuk, padahal aku &lt;br /&gt;                        kira dia malu dan membolos kerja. Sesekali dia melirik &lt;br /&gt;                        ke arahku, tanpa senyumnya. Aku kuatir, dia marah. &lt;br /&gt;                        Malamnya, aku rencana pulang malam lagi. Saat itu baru &lt;br /&gt;                        petang. Dan... Aku sangat terkejut, dia datang ke ruang &lt;br /&gt;                        kerjaku, untuk menyerahkan&lt;br /&gt;                        disket berisi artikel yang aku suruh dia ketik.&lt;br /&gt;                        "Pak, ini artikelnya" katanya.&lt;br /&gt;                        "Eh, Tina.. gimana kabarnya kemarin ? ditunggu orang &lt;br /&gt;                        rumah ?" kataku.&lt;br /&gt;                        "Mm.. iya.. tapi nggak apa-apa."&lt;br /&gt;                        Aku bingung sekali saat itu, aku benar-benar salah &lt;br /&gt;                        tingkah karena mengingat kelakuanku kepadanya. Tetapi, &lt;br /&gt;                        dia diam saja di samping kursiku menunggu perintah &lt;br /&gt;                        selanjutnya. Akhirnya, aku nekat! Aku memegang tangannya &lt;br /&gt;                        dan menariknya untuk aku cium. Dia menyerahkan bibirnya &lt;br /&gt;                        dan menutup matanya. Aku tahu, dia menginginkan aku &lt;br /&gt;                        seperti kemarin! Aku langsung berbisik kepadanya "Tin, &lt;br /&gt;                        aku tunggu kamu di Lantai 5 di ruang komputer, ya.." Aku &lt;br /&gt;                        langsung berangkat ke lantai 5, tanpa menunggu dia.&lt;br /&gt;                        Saat itu masih jam 6 sore, jadi masih ada beberapa &lt;br /&gt;                        karyawan yang berada di kantor. Tetapi, di ruangan &lt;br /&gt;                        komputer tidak ada orang yang ke sana. Dan aku membawa &lt;br /&gt;                        master kuncinya.&lt;br /&gt;                        Di sana, aku tunggu dia, dan akhirnya dia datang juga. &lt;br /&gt;                        "Ada apa pak ?" tanyanya seperti tidak tahu saja. Aku &lt;br /&gt;                        tidak menunggu, langsung saja aku cium dia, &lt;br /&gt;                        "ehhhhehhehhhhhmmmmm pak..." kulepas baju dan roknya &lt;br /&gt;                        "ahhhhmm ... ", BHnya sampai akhirnya dia telanjang &lt;br /&gt;                        bulat di hadapanku. Dia langsung menutup buah dadanya &lt;br /&gt;                        dengan tangan kanannya dan memeknya dengan tangan &lt;br /&gt;                        kirinya. Aku cepat-cepat mengikutinya dengan melepas  &lt;br /&gt;                        dasi, baju, celana dan celana dalamku. kontolku langsung &lt;br /&gt;                        teracung ke atas!&lt;br /&gt;                        Tangannya kubimbing untuk memegang adikku dan &lt;br /&gt;                        menggosoknya halus. Aku menyentuh putingnya dan aku tahu &lt;br /&gt;                        bahwa putingnya adalah bagian yang paling sensitif &lt;br /&gt;                        baginya. Putingnya sudah keras dan berwarna merah muda. &lt;br /&gt;                        Die menggigit bibir bawahnya sambil mengeluh terus &lt;br /&gt;                        "hhhmmm..hhmm," Dan tangan kananku, membelah celah di &lt;br /&gt;                        pangkal pahanya.. kakinya perlahan mengangkang, tanpa &lt;br /&gt;                        aku paksa. Dia tak kuat lagi menahan tubuhnya, dan &lt;br /&gt;                        bersandar ke tembok. Aku turunkan kepalaku menuju &lt;br /&gt;                        memeknya dan mulai di bagian itu.  Kakinya semakin &lt;br /&gt;                        mengangkang membentuk huruf O, dan tanpa disadarinya, &lt;br /&gt;                        bokongnya bergoyang menikmati rangsanganku lewat &lt;br /&gt;                        lidahku. "hhhhmhh... hhhssshhss... shhhshhs"&lt;br /&gt;                        dia hanya bisa menahan luapan emosinya dengan &lt;br /&gt;                        berdesis-desis.... Dia sekali-kali melihat ke arah &lt;br /&gt;                        pintu.. mungkin dia kuatir sewaktu-waktu ada orang yang &lt;br /&gt;                        masuk.&lt;br /&gt;                        "Tina, kamu masih perawan ?" aku sudah gak kuat &lt;br /&gt;                        lagi...sambil aku jilati terus clitorisnya ke &lt;br /&gt;                        atas-bawah.&lt;br /&gt;                        "Yyyyyaa..pak..shhshs..." aku sempat kaget..tapi aku &lt;br /&gt;                        teruskan..&lt;br /&gt;                        "Tin, aku akan gesekkan adikku ke adikmu, tapi gak usah &lt;br /&gt;                        dimasukkan...mau?" aku bertanya sambil menghisap &lt;br /&gt;                        clitorisnya...&lt;br /&gt;                        "Paak.. saya takuuutt..shhehsm.." jawabnya..&lt;br /&gt;                        "Kamu tak akan hamil...hanya digesek di luar saja..."&lt;br /&gt;                        Langsung saja aku naik dan mengangkat tubuhnya ke atas &lt;br /&gt;                        meja dan mengarahkan adikku ke atas memeknya. Aku dorong &lt;br /&gt;                        tubuhnya untuk telentang saja di atas meja.. Aku &lt;br /&gt;                        gesek-gesekkan tanpa memasukkannya. Pelan.... dia masih &lt;br /&gt;                        tegang... lagi... lagi...&lt;br /&gt;                        "Ohhhhhhhhmmmmm sshshshmmm... pak.... sudah pak ?" dia &lt;br /&gt;                        takut sekali..&lt;br /&gt;                        "Ya... ini yang aku maksud.., gimana...gak apa-apa ?..&lt;br /&gt;                        "Yyyaaa..hhehehhhshhshmm" dia sudah merem melek lagi.. &lt;br /&gt;                        dan aku ayunkan lagi lebih cepat, maju mundur..terus... &lt;br /&gt;                        Adikku berdenyut-denyut, ingin masuk ke lubang &lt;br /&gt;                        memeknya.. Tapi aku terus bertahan untuk tetap berada di &lt;br /&gt;                        luar. Tangannya memegang tanganku yang sedang &lt;br /&gt;                        mengarahkan adikku maju mundur. Tangannya memegang erat &lt;br /&gt;                        dan seakan ikut menggerakkan dan menyetir posisi dan &lt;br /&gt;                        arah gerakan kontolku.. Wah... dia sudah sangat &lt;br /&gt;                        menikmatinya... ohhhhh.. aku jadi tenang, karena tidak &lt;br /&gt;                        kuatir dia akan tegang lagi...&lt;br /&gt;                        Tangan kiriku, menggosok putingnya yang sangat keras dan &lt;br /&gt;                        saat ini naik-turun karena goyanganku...aku sangat tidak &lt;br /&gt;                        percaya, karena aku tidak pernah bayangkan bahwa &lt;br /&gt;                        operator telepon kantorku sekarang berada di depanku dan &lt;br /&gt;                        sekarang bertelanjang bulat! Memegangi kontolku lagi!!!&lt;br /&gt;                        Clitorisnya tampak sekali merah dan basah, dan komtolku &lt;br /&gt;                        aku arahkan ke kanan kiri. &lt;br /&gt;                        "hhhhhhhaaaahhhhhhhhhss.s....." Kaki Tina berkali-kali &lt;br /&gt;                        kejang menunjukkan dia sudah orgasme berkali-kali.&lt;br /&gt;                        Tiba-tiba, Aku tidak sadar ternyata tangan Tina menarik &lt;br /&gt;                        adikku untuk masuk ke lobang memeknya, langsung saja aku &lt;br /&gt;                        tarik! "Ohhmm pak.. annuu... shhhs... mmmasukin aja.. &lt;br /&gt;                        sshhsm cepeet.. masukin ... ajjjja... hhhhs"  Aku &lt;br /&gt;                        bingung sekali, terus terang aku ingin sekali menerobos &lt;br /&gt;                        lobangnya, tetapi dia masih perawan dan aku tadi janji &lt;br /&gt;                        untuk tidak memasukinya.. tetapi sekarang ? Dia ingin &lt;br /&gt;                        sekali! "ohhhhsmhhshsm... pak.. masukin aja, Tina &lt;br /&gt;                        pingin!!" ..aku bertambah bingung..sambil terus &lt;br /&gt;                        menggoyang..aku memastikan "tapi, kamu masih perawan kan &lt;br /&gt;                        Tin?"...dia mengangguk...dan terus mulutnya menganga.. &lt;br /&gt;                        nikmaat..&lt;br /&gt;                        TIDAK! aku memutuskan untuk menjilati dan mengisap-isap &lt;br /&gt;                        clitorisnya dengan keras agar dia merasa puas. &lt;br /&gt;                        "HHHhhhshsmmmnggggggng" dia mengejang keras dan &lt;br /&gt;                        panjang...&lt;br /&gt;                        Tapi dia menangis.."ngggghhgnn... pak.. saya malu..." &lt;br /&gt;                        Saya bingung, dan segera membantu dia membereskan &lt;br /&gt;                        bajunya...Aku peluk dia hingga dia terdiam. Kami berdiam &lt;br /&gt;                        di ruang komputer itu hingga 30 menit, untuk memastikan &lt;br /&gt;                        Tina sudah tenang. Akhirnya Tina aku suruh untuk keluar &lt;br /&gt;                        dulu, baru aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku betul-betul keringatan dibuatnya, bukan hanya &lt;br /&gt;                        goyangannya, tetapi permintaannya yang tidak &lt;br /&gt;                        kusangka-sangka untuk memasukkan kontolku ke lobang &lt;br /&gt;                        memeknya itu diluar skenarioku sendiri!!! Aku &lt;br /&gt;                        betul-betul bingung.. sekarang! Sekarang, Tina sudah &lt;br /&gt;                        berani memintanya dariku! Aku betul-betul tidak &lt;br /&gt;                        menyangka, Teman!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-6779373066156089928?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/6779373066156089928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=6779373066156089928' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/6779373066156089928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/6779373066156089928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/secret-2.html' title='SECRET 2'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-2201028941581158155</id><published>2007-05-07T23:28:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:29:35.319-07:00</updated><title type='text'>SECRET 1</title><content type='html'>Aku terpaksa ceritakan ini karena aku ingin mengetahui &lt;br /&gt;                        apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama, &lt;br /&gt;                        entah pria atau wanita. Aku berharap kita bisa saling &lt;br /&gt;                        tukar pengalaman. Karena aku tidak bisa bercerita secara &lt;br /&gt;                        enak, ya.&lt;br /&gt;                        Pokoknya seperti itulah kisahnya..&lt;br /&gt;                        Namaku Dino M Tandi, Aku adalah seorang suami dan &lt;br /&gt;                        memiliki 2 orang anak, aku sangat sayang kepada mereka. &lt;br /&gt;                        Sebagai pimpinan di suatu perusahaan ternama di &lt;br /&gt;                        Indonesia, aku&lt;br /&gt;                        memiliki banyak bawahan termasuk operator telepon &lt;br /&gt;                        kantor. Kebetulan, aku ikut memilih&lt;br /&gt;                        dan menentukan si Tina, nama operator telepon itu agar &lt;br /&gt;                        dipekerjakan di kantorku.&lt;br /&gt;                        Dia berkulit cerah, berambut sepundak, dan aku tahu &lt;br /&gt;                        giginya kurang sempurna ketika dia pertama kali &lt;br /&gt;                        tersenyum padaku saat wawancara. Tetapi, itu tidak &lt;br /&gt;                        mengurangi kecantikannya.&lt;br /&gt;                        Sudah 6 bulan sejak dia bekerja di tempatku, tanpa &lt;br /&gt;                        terasa, aku sering mendengar&lt;br /&gt;                        suaranya lewat telepon setiap kali aku minta tolong dia &lt;br /&gt;                        untuk menyambungkan telepon ke luar, atau meminta tolong &lt;br /&gt;                        untuk mengirimkan atau menerima fax.&lt;br /&gt;                        Lama-lama kedengaran suara itu sangat indah didengar.&lt;br /&gt;                        "Tin, tolong sambungkan ke 4343949, dengan pak Joko, ya &lt;br /&gt;                        .." kataku suatu hari saat meminta dia menyambungkan &lt;br /&gt;                        telepon ke partner kerja di BCA. Dia selalu menjawab &lt;br /&gt;                        dengan suara yang aku suka, "Oya, baik pak.." dan &lt;br /&gt;                        ditutupnya telepon.&lt;br /&gt;                        Demikian terus setiap hari... Suatu ketika...&lt;br /&gt;                        Dia datang pagi sekali, kebetulan aku sudah ada di &lt;br /&gt;                        kantor, bersiap untuk menandatangani berkas-berkas di &lt;br /&gt;                        meja. Ruangku, yang selalu membuat aku bisa mengamati &lt;br /&gt;                        dia dari jauh, membantu aku untuk bisa mengetahui apa &lt;br /&gt;                        yang dia lakukan. Saat itu, dia berbenah diri &lt;br /&gt;                        mengeluarkan alat kosmetik berkaca dan mulai membetulkan &lt;br /&gt;                        rias wajahnya yang terkena debu saat berangkat kantor, &lt;br /&gt;                        mungkin. Saat itu, dia mengenakan baju cream terang &lt;br /&gt;                        sehingga kelihatan BHnya yang berwarna putih bertali &lt;br /&gt;                        kecil. Bawahnya, dia memakai rok dengan belahan tidak &lt;br /&gt;                        terlalu tinggi. Sungguh cantik kelihatannya. Rambutnya &lt;br /&gt;                        yang membuat perasaanku menjadi berdegub, dia mulai &lt;br /&gt;                        menyisir rambutnya... Dia betulkan tali&lt;br /&gt;                        BHnya dan tangannya menarik-narik bentuk BHnya mungkin &lt;br /&gt;                        dirasa tak enak dipakainya, membuat aku semakin &lt;br /&gt;                        deg-degan.. Dan, ketika dia sadar aku perhatikan, dia &lt;br /&gt;                        segera tersenyum malu dan menggigit bibir bawahnya, aku &lt;br /&gt;                        terpaksa membalas senyumannya, dan berlagak serius dan &lt;br /&gt;                        tidak memperhatikannya. Wah aku berharap, dia tahu bahwa &lt;br /&gt;                        aku memang sedang memperhatikannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Suatu hari, aku panggil dia untuk mengirimkan fax dan &lt;br /&gt;                        sekaligus mengetik artikel untuk bahan promosi.&lt;br /&gt;                        "Ya pak?" dia datang ke ruang kerjaku.&lt;br /&gt;                        "Oya, duduk saja" kataku. Saat itu, dia memakai baju &lt;br /&gt;                        dengan motif kembang kecil, kain bajunya sangat &lt;br /&gt;                        transparan sehingga aku bisa lihat dia memakai BH &lt;br /&gt;                        berwarna putih.&lt;br /&gt;                        Ukurannya? Saat itu aku tidak tahu.. tapi nantinya aku &lt;br /&gt;                        tahu. Kulit lehernya yang putih bersih, membuat aku &lt;br /&gt;                        ingin terus melihat ke bawah lehernya. Sekali-kali, aku &lt;br /&gt;                        melihat bagian itu dan berusaha tidak membuat ia tahu, &lt;br /&gt;                        semoga berhasil. Dia tersenyum cerah kepadaku.&lt;br /&gt;                        "Aku ada artikel, coba kamu lihat dulu" aku suruh dia &lt;br /&gt;                        untuk lebih maju untuk melihat artikel itu. Tanpa &lt;br /&gt;                        sengaja, aku melihat belahan bajunya yang atas dan &lt;br /&gt;                        memperlihatkan belahan kecil buah dadanya yang putih &lt;br /&gt;                        itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa aku sedang melihat &lt;br /&gt;                        buah dadanya. Terus saja dia membaca artikel itu dan aku &lt;br /&gt;                        melihat buah dadanya, pikiranku sudah kemana-mana, &lt;br /&gt;                        kontolku sudah mulai mengeras.&lt;br /&gt;                        "Tolong itu ketikkan, saya tunggu hari ini, dan ini &lt;br /&gt;                        tolong difax ke Kantor Pusat, ada yang kamu tanyakan?" &lt;br /&gt;                        kataku, membuat kondisi tetap formal, agar dia tidak &lt;br /&gt;                        menyadari tindakanku.&lt;br /&gt;                        "Nggak pak, nanti segera saya ketik dan fax ini, ada &lt;br /&gt;                        yang lain, Pak?" Dia tegak kembali, dan tersenyum lagi.&lt;br /&gt;                        Sejak itu, aku menjadi terus menerus ingin &lt;br /&gt;                        memperhatikannya. Perasaanku menjadi gelisah saat aku &lt;br /&gt;                        lama tidak melihatnya. Wah gawat nih! Aku selalu &lt;br /&gt;                        membayangkan buah dadanya yang putih itu suatu saat bisa &lt;br /&gt;                        kuelus...&lt;br /&gt;                        Pada bulan Desember, hujan lebat, saat kantorku sangat &lt;br /&gt;                        sibuk dan membuat aku kerja lembur, aku harus pulang &lt;br /&gt;                        malam. Saat itu, aku tidak tahu bahwa Tina, belum juga &lt;br /&gt;                        pulang. Ternyata ia belum dijemput oleh pacarnya. Aku &lt;br /&gt;                        pergi ke Toilet, untuk cuci muka, dan mampir ke dapur. &lt;br /&gt;                        Eh! Tina ada di sana sedang membuat teh.&lt;br /&gt;                        "Lho, Tina kok belum pulang ? Sudah jam 8 malam kan?" &lt;br /&gt;                        aku coba untuk menenangkan diriku sendiri, karena aku &lt;br /&gt;                        sangat tidak menyadari bahwa aku berjumpa dia saat itu &lt;br /&gt;                        di tempat yang jarang sekali dikunjungi orang, dapur. &lt;br /&gt;                        "Ehh... iya, pak Dino.. mmm saya belum dijemput, mungkin &lt;br /&gt;                        gara-gara hujan ini.. jadinya telat.." sambutnya &lt;br /&gt;                        malu-malu..&lt;br /&gt;                        "Ooo..pacarmu ya ?" pancingku..&lt;br /&gt;                        "Hhehehemm" dia malu menjawabnya. "Wah aku juga mau tuh, &lt;br /&gt;                        kalo dibuatin Kopi, bisa ?" aku coba lagi membuat bahan &lt;br /&gt;                        percakapan.. mumpung ada kesempatan.&lt;br /&gt;                        "Oya, pak saya buatkan.."&lt;br /&gt;                        Dia langsung membuka lemari, tetapi dia tampak kesulitan &lt;br /&gt;                        mendapatkan kopinya.&lt;br /&gt;                        Belahan di paha kanannya terbuka lebar saat dia jongkok &lt;br /&gt;                        dan meraih sesuatu di dalam lemari. Putih &lt;br /&gt;                        sekali.Lengannya yang putih mulus langsung terbuka dan &lt;br /&gt;                        memperlihatkan bulu ketiaknya yang halus.. &lt;br /&gt;                        merangsangku..untuk mendekatinya.&lt;br /&gt;                        "Ada?" tanyaku. Aku duduk di kursi sebelahnya, aku &lt;br /&gt;                        perlihatkan muka yang lelah.&lt;br /&gt;                        "Sebentar pak, pasti ada... cape pak ?" tanyanya.&lt;br /&gt;                        "Ah.. biasaaa... tiap hari juga begini.. tapi kalo sudah &lt;br /&gt;                        minum kopi, hilang dah.."&lt;br /&gt;                        Ternyata, kopinya sudah habis. Dan untuk membuat dia &lt;br /&gt;                        tetap berjasa untukku, aku bilang "Ah sudahlah, teh saja &lt;br /&gt;                        nggak apa-apa" "Tapi pak, tehnya juga habis, ini tadi &lt;br /&gt;                        yang terakhir, wah..gimana nih ya .." dia sangat kuatir &lt;br /&gt;                        aku kecewa.. bingung sekali. "Ooo hohoh...wah, nggak &lt;br /&gt;                        apa-apa lah..mmm.. gimana kalo tehmu kita minum &lt;br /&gt;                        sama-sama ? nggak usah malu, aku yang minta kok..ya", &lt;br /&gt;                        "O, buat Bapak aja lah itu.. saya gampang minum air &lt;br /&gt;                        putih saja.." aku nggak kalah "Eeii.. inikan punyamu.. &lt;br /&gt;                        ayo". Akhirnya, dia mengalah juga.&lt;br /&gt;                        Bajunya sudah tidak rapi lagi, banyak belahan kancing &lt;br /&gt;                        yang terbuka karena tekukan badan saat mencari kopi &lt;br /&gt;                        untukku tadi, membuat aku bisa melihat kulitnya yang &lt;br /&gt;                        putih.. mulus...&lt;br /&gt;                        Kami duduk di meja dapur. Aku minum sedikit, dia minum &lt;br /&gt;                        juga sedikit. Dia tampak sudah merasa bahwa aku tertarik &lt;br /&gt;                        kepadanya. Beberapa kali dia menahan senyumnya,&lt;br /&gt;                        malu. Hujan di luar malah bertambah lebat...&lt;br /&gt;                        "Ayo temani aku ke ruang kerjaku, kamu bisa belajar &lt;br /&gt;                        komputer di sana". "Oya, wah nggak ngganggu nih ?"..Aku &lt;br /&gt;                        dan dia langsung menuju ke ruang kerja. Kantor sudah &lt;br /&gt;                        sepi, hanya satpam ada di luar.&lt;br /&gt;                        Karena sudah gelap, banyak lampu dimatikan, aku coba &lt;br /&gt;                        bimbing dia dengan memegang&lt;br /&gt;                        pinggangnya maju. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku &lt;br /&gt;                        sediakan dia kursi dan laptopku untuk dia gunakan. Aku &lt;br /&gt;                        buka internet dengan site perusahaanku. Dia &lt;br /&gt;                        manggut-manggut ketika aku jelaskan tentang internet. &lt;br /&gt;                        Dan aku tidak sengaja membuka hot site, karena sudah ada &lt;br /&gt;                        di history. Dia langsung ketawa "Hei.. Bapak ini, hayo.. &lt;br /&gt;                        ini juga ada di internet toh?.." tanyanya lucu. &lt;br /&gt;                        Lama-lama, pandangannya lain ke monitor laptop yang &lt;br /&gt;                        menampilkan gambar laki-laki muda sedang mengulum buah &lt;br /&gt;                        dada seorang gadis dan tangannya mengelus memek gadis &lt;br /&gt;                        itu.&lt;br /&gt;                        "Tapi, aku punya yang lebih bagus dari ini, Tin.." "Dia &lt;br /&gt;                        kaget mendengar kata-kataku tadi. Aku langsung stelkan &lt;br /&gt;                        VCD porno yang kebetulan menggambarkan situasi yang sama &lt;br /&gt;                        antara aku dengan Tina. Situasi di ruangan kantor. &lt;br /&gt;                        Adegan demi adegan membuatku terangsang meski aku sudah &lt;br /&gt;                        pernah melihatnya. Aku melihat buah dada Tina naik turun &lt;br /&gt;                        karena nafasnya yang sudah tidak beraturan lagi. Aku &lt;br /&gt;                        pura-pura biasa saja, aku tidak ingin merusak &lt;br /&gt;                        konsentrasi Tina melihat VCD itu.&lt;br /&gt;                        Dia beberapa kali menelan ludah. Aku dekati dia dari &lt;br /&gt;                        samping kiri agak ke belakang. Tanganku memegang &lt;br /&gt;                        pundaknya, perlahan.. tanpa membuatnya terkejut.&lt;br /&gt;                        "Kamu pernah melihat film seperti ini, Tin ? tanyaku.&lt;br /&gt;                        "Ah.. belum pak" jawabnya agak berbisik. Suara &lt;br /&gt;                        "ahhhh...ahhh....mmemmmm..yyeaaa.. fuck me please.." &lt;br /&gt;                        dari speaker laptopku menjadikan suasana tambah panas. &lt;br /&gt;                        kontolku sedari tadi sudah bangun, dan sakit karena &lt;br /&gt;                        terhambat celanaku. Tanganku yang sudah berada di&lt;br /&gt;                        pundaknya, kini menuruni lengannya yang berlengan baju &lt;br /&gt;                        pendek dan tipis. Aku naik-turunkan jempolku dengan &lt;br /&gt;                        halus dan pelan sekali. Dia bereaksi dengan membetulkan &lt;br /&gt;                        duduknya. Adegan hot saat itu adalah gadis yang tadi &lt;br /&gt;                        sudah berada di atas meja dan memeknya sedang dicium dan &lt;br /&gt;                        dijilati clitorisnya.&lt;br /&gt;                        "Uhhhhh.. yesss.... againnnn...Ahhhh" suara di laptopku &lt;br /&gt;                        semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;                        Hujan di luar menjadi-jadi juga. Tiba-tiba terdengar &lt;br /&gt;                        suara pager milik Tina.&lt;br /&gt;                        Dia buru-buru melihat isinya, ternyata Pacarnya tidak &lt;br /&gt;                        dapat menjemput karena kendaraanya mogok terkena banjir. &lt;br /&gt;                        Dia menjadi bingung sekali.&lt;br /&gt;                        "Lho, kan ada saya, nanti saya antar kamu ke rumah..." &lt;br /&gt;                        dan aku langsung bilang&lt;br /&gt;                        "Nggaaakk, ngapain mesti repot ?" saat dia bilang tidak &lt;br /&gt;                        ingin merepotkan aku. Akhirnya, dia menuruti saranku.&lt;br /&gt;                        Wah! konsentrasiku buyar nih! kontolku tidur kembali. &lt;br /&gt;                        Aku lihat, wajah Tina sangat lain. Saat itu, ada hal &lt;br /&gt;                        yang ingin disampaikan tetapi dia tidak berani.&lt;br /&gt;                        Aku beranikan untuk mengetahuinya...Tanganku aku &lt;br /&gt;                        letakkan di telinganya dan menyibakkan rambutnya ke &lt;br /&gt;                        belakang. Terus begitu, dan akhirnya ke alisnya. Dia &lt;br /&gt;                        tampak diam saja, dan sesekali menoleh ke wajahku dengan &lt;br /&gt;                        agak malu. Aku yakin sekali, dia menyukai perlakuanku &lt;br /&gt;                        padanya.&lt;br /&gt;                        Karena itu, aku lanjutkan dengan mendekatkan mukaku ke &lt;br /&gt;                        wajahnya. Aku elus pipinya, dan aku tempelkan hidungku &lt;br /&gt;                        ke pipinya, membuat hembusan nafasku mengenai &lt;br /&gt;                        wajahnya... "Paakk.." katanya berbisik sambil agak &lt;br /&gt;                        memejamkan matanya, tetapi, dia menjauhkan wajahnya &lt;br /&gt;                        lagi.&lt;br /&gt;                        Suara di laptopku "Come on babe... I'm cumming...deeper &lt;br /&gt;                        more deeper..." tampaknya membuat suasana menjadi lain.&lt;br /&gt;                        "Tin, boleh aku cium kamu ?" tanyaku nekat. Tanpa &lt;br /&gt;                        menunggu jawabannya, aku dekati wajahnya dan aku cium &lt;br /&gt;                        bibirnya yang kering karena suasana tegang saat melihat &lt;br /&gt;                        film itu. "Mhmemmm.. pak, saya.. mau pullmshmm" &lt;br /&gt;                        kata-katanya tidak dapat dilanjutkan, karena aku sudah &lt;br /&gt;                        mengulum lidahnya. Aku lingkarkan lenganku ke pundaknya, &lt;br /&gt;                        dan aku putar kursinya menghadap ke kiri. Tangan kiriku, &lt;br /&gt;                        sekarang menyentuh kancing baju depan dan membuka satu &lt;br /&gt;                        kancingnya. Dengan telunjuk, aku elus buah dadanya yang &lt;br /&gt;                        halus itu perlahan-lahan. Aku tidak ingin dia ketakutan.&lt;br /&gt;                        Perlahan-lahan sekali aku elus buah dadanya, tanpa &lt;br /&gt;                        membuka BHnya. Matanya merem&lt;br /&gt;                        melek, aku ingin tertawa tetapi aku tahan. Aku paham &lt;br /&gt;                        bahwa saat itu dia setuju dengan perlakuanku. Sekarang &lt;br /&gt;                        aku putar jempolku ke arah puting kirinya, "hhhhehhhh.. &lt;br /&gt;                        mmehhhmmm" Dadanya agak membusung.. Aku putar jempolku &lt;br /&gt;                        ke arah puting kanannya, "Ahhhhh, pak Dino.. ssshshsmm" &lt;br /&gt;                        Aku terus saja mengulum lidahnya, dan dia sudah &lt;br /&gt;                        menyambut ciumanku, bersemangat.&lt;br /&gt;                        Kedua putingnya terasa keras, menonjol di BHnya yang &lt;br /&gt;                        tipis itu. "Pakk..." bisiknya lagi..&lt;br /&gt;                        "Tin.. aku sudah lama ingin menciummu..." kataku untuk &lt;br /&gt;                        memancing dia berterus terang.&lt;br /&gt;                        Tangan kiriku, membuka kancing teratas, sehingga BHnya &lt;br /&gt;                        terlihat seluruhnya.&lt;br /&gt;                        "Jangan.. pakk... malu..." bisiknya. Aku teruskan dengan &lt;br /&gt;                        menarik tali BH di lengannya menurun, kiri dan kanan..&lt;br /&gt;                        "Ohhhh pakk." Dia melihat dirinya sendiri, dan dia &lt;br /&gt;                        sempatkan melihat adegan di VCD sekarang sedang &lt;br /&gt;                        memperlihatkan ke dua orang tadi sedang dalam posisi 69. &lt;br /&gt;                        "Ahhhhh... ohhhhh... mshmsmsmshmmm yesss" suara di &lt;br /&gt;                        laptop membuat aku semakin terangsang. kontolku sudah &lt;br /&gt;                        tegang lagi sekarang.&lt;br /&gt;                        Dan ternyata aku baru tahu, bahwa roknya memiliki &lt;br /&gt;                        resleting di depan panjang ke bawah. Aku coba untuk &lt;br /&gt;                        membukanya, tanganku dipegang oleh Tina keras. Dia &lt;br /&gt;                        mencabut ciumanku. "Pak... jangan pak.."&lt;br /&gt;                        "OK, Tin, aku antar kau ke toilet.. ayo" kataku &lt;br /&gt;                        tersenyum tanpa membuat dia bersalah. Langsung dia &lt;br /&gt;                        mengancing baju dan mengikutiku dari belakang. Dia tak &lt;br /&gt;                        tahu maksudku tapi dia ikut saja. Dia mengira bahwa ini &lt;br /&gt;                        sudah berakhir dan dia akan pulang.&lt;br /&gt;                        Sesampai di toilet, aku ikuti dia masuk. Di depan &lt;br /&gt;                        cermin, aku rangkul dia dan mengulangi adegan mesra di &lt;br /&gt;                        ruangan kerjaku, dan sekarang dia tahu apa yang aku &lt;br /&gt;                        lakukan, karena kami berada di depan cermin.&lt;br /&gt;                        "Paakk, saya malu" saat aku lepas seluruh kancing &lt;br /&gt;                        bajunya, dan aku lepaskan.&lt;br /&gt;                        BHnya, aku lepas dari belakang. Aku ciumi buah dadanya, &lt;br /&gt;                        sampai putingnya,&lt;br /&gt;                        keduanya....&lt;br /&gt;                        "Ohhhhhmm ...pakkk.. saya.. hhmmmmmm" tangannya memegang &lt;br /&gt;                        kepalaku, dan menekannya ke arah buah dadanya. Matanya &lt;br /&gt;                        merem, dan melihat adegan kami lewat cermin.&lt;br /&gt;                        Akhirnya, aku lepas roknya tanpa kesulitan, sekarang dia &lt;br /&gt;                        hanya memakai celana dalam, serta sepatu berhak 3 cm. &lt;br /&gt;                        Dia memalingkan badannya membelakangi cermin, untuk &lt;br /&gt;                        mengatasi malunya. Dari belakang, bokong Tina tampak &lt;br /&gt;                        merangsang ditutup celana dalam warna hitam berenda. &lt;br /&gt;                        "Pak, kenapa pak Dino melakukan ini ? Nanti ibu &lt;br /&gt;                        bagaimana ?.."dia mencoba mengingatkanku pada istriku.&lt;br /&gt;                        "Kenapa ibu? Aku sangat kangen pada kamu" aku mulai &lt;br /&gt;                        menciumi putingnya, membuat dia&lt;br /&gt;                        membusungkan dadanya..&lt;br /&gt;                        "Hohhh hhhhmm hhmhhm..." dia tidak dapat menahan &lt;br /&gt;                        suaranya..&lt;br /&gt;                        Tangan kananku mendorongnya menuju wash table yang &lt;br /&gt;                        terbuat dari beton dan panjang itu. Tanganku mulai &lt;br /&gt;                        menelusuri jembutnya yang terasa basah itu.&lt;br /&gt;                        "Paaaaak..." bisiknya..Mukanya sudah lain, dia sangat &lt;br /&gt;                        merangsang sekali saat itu. Aku turunkan celana dalamnya &lt;br /&gt;                        menuju lutut dan aku turunkan dengan kakiku.&lt;br /&gt;                        Sekarang dia telanjang bulat! Di hadapanku! Aku tidak &lt;br /&gt;                        sangka, akan menelanjangi dia seperti ini!&lt;br /&gt;                        Tangannya kubimbing menuju ke kontolku yang sudah keras. &lt;br /&gt;                        Aku masih memakai baju lengkap. Aku angkat dia duduk di &lt;br /&gt;                        atas wash table dan aku merendahkan kepalaku untuk bisa &lt;br /&gt;                        mencium memeknya. Aku lihat, bulunya tipis agak &lt;br /&gt;                        kemerahan.. rambutnya basah karena rangsanganku. &lt;br /&gt;                        Tangannya menyangga tubuhnya ke belakang dan wajahnya &lt;br /&gt;                        mendongak ke atas. Aku duduk pada lutut dan aku mulai &lt;br /&gt;                        menghisap memeknya yang sangat basah itu. Lidahku &lt;br /&gt;                        mencari clitorisnya, dan ketika ketemu, aku hisap dan &lt;br /&gt;                        elus-elus ke atas-bawah. Tangan Tina langsung menangkap &lt;br /&gt;                        kepalaku dan menjambak rambutku. "Auhhhmmmm...paakkk..." &lt;br /&gt;                        ...&lt;br /&gt;                        "Rasanya gimana Tin..." ...&lt;br /&gt;                        "paakk..saya maluuu.." tapi pinggulnya sekarang &lt;br /&gt;                        mengayun-ayun ke depan dan belakang,&lt;br /&gt;                        seirama dengan elusan lidahku. Berarti, dia sudah bisa &lt;br /&gt;                        menikmati! 5 menit aku jilat,&lt;br /&gt;                        elus, hisap clitorisnya, akhirnya kedua kakinya &lt;br /&gt;                        mengejang lurus dan tangannya&lt;br /&gt;                        menekan kepalaku keras masuk ke dalam memeknya. &lt;br /&gt;                        Sampai-sampai hidungku basah&lt;br /&gt;                        semua! Kini kutahu dia sedang orgasme.. panjang sekali!&lt;br /&gt;                        1 menit setelah dia mengatur nafasnya, aku memutuskan &lt;br /&gt;                        untuk tidak melanjutkannya, karena jam sudah menunjukkan &lt;br /&gt;                        pukul 10 malam. Aku kuatir, dia ditunggu oleh orang di &lt;br /&gt;                        rumahnya. Aku langsung membantu dia mengenakan bajunya &lt;br /&gt;                        dan dia sangat malu kepadaku. Untuk membuat dia tidak &lt;br /&gt;                        malu "Tin, aku suka kepadamu, dan kamu jangan malu &lt;br /&gt;                        kepadaku, biar kamu gak malu lagi, sekarang kamu bisa &lt;br /&gt;                        lihat kontolku dan cium juga" aku keluarkan kontolku &lt;br /&gt;                        yang masih tegang berukuran 20 cm. "Pak!, malah malu &lt;br /&gt;                        saya pak!" ... tetapi akhirnya dia mau menciumnya hanya &lt;br /&gt;                        sebentar dan tersenyum malu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya aku antar di pulang. Di jalan, kami tidak dapat &lt;br /&gt;                        berbicara apa-apa.....Aku juga tidak ingin perasaannya &lt;br /&gt;                        kacau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-2201028941581158155?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/2201028941581158155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=2201028941581158155' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2201028941581158155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2201028941581158155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/secret-1.html' title='SECRET 1'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-4526484029819798608</id><published>2007-05-07T23:27:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:28:31.588-07:00</updated><title type='text'>TANTE VIVI 05</title><content type='html'>Aku membuka mata kembali saat kurasa Tante Vivi &lt;br /&gt;                        menghentikan gerakan pinggul seksinya yang aduhai. Kini &lt;br /&gt;                        ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat basah di atas &lt;br /&gt;                        tubuhku, kedua buah dadanya yang sebesar melon menekan &lt;br /&gt;                        lunak dan terasa kenyal di dadaku. Batang penisku masih &lt;br /&gt;                        perkasa tegak 100 % walau isinya serasa sudah terkuras &lt;br /&gt;                        habis..., jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan &lt;br /&gt;                        begitu hebat meremas dan mengenyot alat kejantananku &lt;br /&gt;                        yang masih terbenam kandas di dalam situ.&lt;br /&gt;                        "mm..., bagaimana Ar..., nikmat sayangg...", bisiknya &lt;br /&gt;                        sambil memandang genit ke arahku.&lt;br /&gt;                        "Ahh..., kau luar biasa sekali Vi..", sahutku lirih. &lt;br /&gt;                        Masih lemas.&lt;br /&gt;                        "Air manimu banyak sekali Ar..", ujarnya polos. Wajahnya &lt;br /&gt;                        yang cantik kelihatan tersenyum puas bisa membuatku tak &lt;br /&gt;                        berdaya. Kuelus rambut hitamnya yang terurai panjang &lt;br /&gt;                        sampai menerpa leherku yang basah berkeringat.&lt;br /&gt;                        "Kenapa Vi...? kau tidak suka air maniku sebanyak itu.", &lt;br /&gt;                        tanyaku lemas.&lt;br /&gt;                        "iihh..., hik..., hik..., tidak Ar..., cuman..., Tante &lt;br /&gt;                        khawatir kalo sampai hamil..", bisiknya padaku tetap &lt;br /&gt;                        dengan senyum manisnya.&lt;br /&gt;                        "aah..., Vi..., kau jangan nakut-nakuti gitu dong..., &lt;br /&gt;                        kita khan cum..", Belum habis omonganku, Tante Vivi &lt;br /&gt;                        menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirku.&lt;br /&gt;                        "sstt..., Tante tau Ar..., Sudahlah..., ini cuman seks &lt;br /&gt;                        khan sayang..", bisiknya lagi.&lt;br /&gt;                        "Cupp...", Mulutku mengecup gemas bibir ranumnya yang &lt;br /&gt;                        nakal itu. Sejenak kami saling bercumbu beradu bibir, &lt;br /&gt;                        saling mengulum dan mengecup..., begitu nikmat rasa &lt;br /&gt;                        bibir Tante Vivi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Ketika kecupan mesra itu berakhir, aku berbisik mesra &lt;br /&gt;                        padanya.&lt;br /&gt;                        "Vi..., aku masih punya kejantanan yang lain..", kataku &lt;br /&gt;                        gemas.&lt;br /&gt;                        "Apa itu Ar...?", tanyanya mesra. Bibir ranumnya &lt;br /&gt;                        kelihatan basah habis kukecup dan kukulum tadi.&lt;br /&gt;                        "Kamu belum puas khan Vi...?", ujarku balas bertanya.&lt;br /&gt;                        "Iyaa Ar..., mm..., tapi Tante capek sayang...", &lt;br /&gt;                        bisiknya sambil mengerling genit.&lt;br /&gt;                        "Aku yang akan memuasimu sekarang Vi..", bisikku gemas.&lt;br /&gt;                        "mm..", ia tak menjawab, namun matanya dipejamkan seolah &lt;br /&gt;                        membayangkan apa yang akan aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku jadi bernafsu, membuat batang penisku yang masih &lt;br /&gt;                        terbenam nikmat di dalam liang vaginanya yang sempit &lt;br /&gt;                        jadi semakin berdiri dan tambah perkasa.&lt;br /&gt;                        Aku memeluk pinggang Tante Vivi yang kecil dan ramping &lt;br /&gt;                        dengan erat, sambil kubisikkan kalimat mesra di &lt;br /&gt;                        telinganya. Dengan tersenyum senang dan saling &lt;br /&gt;                        berdekapan erat kugulingkan tubuh Tante Vivi ke samping &lt;br /&gt;                        kiri tempat tidur, lalu dengan posisi batang penisku &lt;br /&gt;                        masih tetap terbenam terjepit di dalam liang vaginanya, &lt;br /&gt;                        kugulingkan tubuhku ke samping sekali lagi dan menaiki &lt;br /&gt;                        tubuh Tante Vivi yang kini ganti berada di bawah &lt;br /&gt;                        tindihanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Wooww..., nikmatnya menindih tubuh bugil montoknya yang &lt;br /&gt;                        hangat. Terasa hangat empuk dan mulus sekali kulit &lt;br /&gt;                        tubuhnya. Apalagi sembari menikmati jepitan daging &lt;br /&gt;                        tubuhnya yang sangat terlarang itu.&lt;br /&gt;                        Sejenak kami terdiam saling berpandangan mesra.&lt;br /&gt;                        "Ar..., jujur saja..., sudah berapa wanita yang pernah &lt;br /&gt;                        kamu tiduri...?", tanyanya pelan. Aku tersenyum geli &lt;br /&gt;                        mendengar pertanyaannya yang spontan dan sedikit aneh.&lt;br /&gt;                        "mm..., baru seorang saja..., Vi..", kataku terus &lt;br /&gt;                        terang.&lt;br /&gt;                        "Selva khan..?", tanyanya lagi.&lt;br /&gt;                        "Bukan Vi..., orang lain..", bisikku pelan. &lt;br /&gt;                        Pertanyaannya itu benar-benar membuat rasa bersalah itu &lt;br /&gt;                        hadir kembali dalam batinku.&lt;br /&gt;                        "mm..., kamu nakal Ar..., awas sayang jangan menghianati &lt;br /&gt;                        Selva yaahh..", bisiknya sedikit serius. Jemari &lt;br /&gt;                        tangannya mencubit pinggangku gemas.&lt;br /&gt;                        oohh..., aku tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu &lt;br /&gt;                        lama dengan soal Dina atau Selva karena hanya makin &lt;br /&gt;                        mengingatkanku dan menambah rasa bersalahku pada mereka. &lt;br /&gt;                        Aku menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum &lt;br /&gt;                        Tante Vivi dengan gemas. Tante Vivi membalas cumbuanku &lt;br /&gt;                        tak kalah mesra, kedua mulut kami saling berpagutan &lt;br /&gt;                        mesra beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ar..., puasi Tante sayang..", bisiknya manja di &lt;br /&gt;                        telingaku. Aku tersenyum penuh gairah mendengar &lt;br /&gt;                        permintaannya. Kukecup sekilas bibir ranumnya sekali &lt;br /&gt;                        lagi, lalu sambil saling berpandangan mesra, kutarik &lt;br /&gt;                        pinggulku keatas secara perlahan mengeluarkan batang &lt;br /&gt;                        penisku dari dalam jepitan liang vaginanya sampai keluar &lt;br /&gt;                        kira-kira sekitar 8-10 centi lalu dengan perlahan pula &lt;br /&gt;                        kembali kuturunkan pinggulku ke bawah memasukkan kembali &lt;br /&gt;                        alat kejantananku ke dalam liang vagina sempitnya yang &lt;br /&gt;                        seolah menyambut mesra dengan remasan dan urutan-urutan &lt;br /&gt;                        lembut penuh kenikmatan.&lt;br /&gt;                        "uuhh..". Tante Vivi merintih pelan keenakan sambil &lt;br /&gt;                        tetap tersenyum manis kepadaku. Kedua jemari tangannya &lt;br /&gt;                        mengusap-usap mesra pantatku yang lagi asyik secara &lt;br /&gt;                        teratur mulai bergerak turun naik menyetubuhinya.&lt;br /&gt;                        "Uuhh..., uuhh..., uuhh...", erang Tante Vivi lirih &lt;br /&gt;                        setiap kali batang penisku kutarik keluar menggesek &lt;br /&gt;                        daging liang vaginanya yang sempit dan licin. Untung &lt;br /&gt;                        saja air maniku yang tumpah tadi seolah membantu &lt;br /&gt;                        melicinkan pergesekan kedua alat kelamin kami. Aku &lt;br /&gt;                        merasa betapa liang vaginanya itu seolah berusaha &lt;br /&gt;                        menyedot dan mencengkeram kuat saat batang penisku &lt;br /&gt;                        berusaha menggesek keluar dan seakan seperti diremas, &lt;br /&gt;                        dilumat dan diurut begitu hebat tapi nikmat saat kembali &lt;br /&gt;                        kubenamkan batang penisku ke dalam liang vagina Tante &lt;br /&gt;                        Vivi.&lt;br /&gt;                        "Aahhgghghgh..., aahhgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mau tak mau aku kembali berkelojotan merasakan &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang tiada tara. Seakan membangun kekuatan &lt;br /&gt;                        baru ketika kenikmatan menuju puncak ejakulasi itu mulai &lt;br /&gt;                        kurasakan muncul pada sekujur batang penisku. Aku &lt;br /&gt;                        semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang &lt;br /&gt;                        semakin lama semakin cepat, kuhunjam-hunjamkan dengan &lt;br /&gt;                        gemas batang penisku keluar masuk liang vagina Tante &lt;br /&gt;                        Vivi yang makin lama kurasakan juga makin menyempit lagi &lt;br /&gt;                        seperti hendak mendekati klimaknya.&lt;br /&gt;                        "uuhh..., uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..", Tante Vivi &lt;br /&gt;                        mengerang semakin keras, kedua matanya kini dipejamkan &lt;br /&gt;                        rapat menikmati genjotan alat kejantananku yang bergerak &lt;br /&gt;                        semakin cepat seperti pompa ekplorasi minyak keluar &lt;br /&gt;                        masuk menggesek liang vaginanya. Aku tahu Tante Vivi &lt;br /&gt;                        sedang menuju puncak kenikmatan sexualnya. Kedua paha &lt;br /&gt;                        mulusnya yang mengapit lembut pinggangku sesekali &lt;br /&gt;                        dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan &lt;br /&gt;                        kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis &lt;br /&gt;                        saking tak kuatnya menahan rasa nikmat pada alat &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang sedang kusetubuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajahnya yang &lt;br /&gt;                        sedang didera pusaran kenikmatan yang kuciptakan di atas &lt;br /&gt;                        tubuhnya, seandainya saja ia juga tahu batang penisku &lt;br /&gt;                        yang sedang menggesek hebat liang vaginanya itu juga &lt;br /&gt;                        mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak gunung &lt;br /&gt;                        berapi yang hendak meletup. Namun karena ejakulasi &lt;br /&gt;                        pertamaku tadi, maka rasa nikmat luar biasa persetubuhan &lt;br /&gt;                        ini masih dapat kuredam dan kutahan lebih lama.&lt;br /&gt;                        "aahh..., Vi..., ngghh..., vaginamu nikmat sekali &lt;br /&gt;                        sayang..", erangku nakal. Tante Vivi tak menjawab, &lt;br /&gt;                        mulutnya yang menggemaskan itu hanya terus merintih &lt;br /&gt;                        berulangkali seiring dengan goyangan naik turun &lt;br /&gt;                        pinggulku yang makin kupercepat.&lt;br /&gt;                        "Uuh..., hh..., uu..., hh..., uuhh..., uuhh..", erang &lt;br /&gt;                        Tante Vivi semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Menit demi menit berlalu yang terasa begitu lama dan &lt;br /&gt;                        melelahkan, entah sudah beberapa kali nyaris saja air &lt;br /&gt;                        maniku kembali muncrat ke dalam liang vagina Tante Vivi, &lt;br /&gt;                        gara-garanya ia mengejan terlalu kuat membuat jepitan &lt;br /&gt;                        daging liang vaginanya mendadak mengerut dan mengecil. &lt;br /&gt;                        Membuat batang penisku yang sudah mulai mendekati klimak &lt;br /&gt;                        seolah dilumat-lumat dan diremas-remas hebat. Batang &lt;br /&gt;                        penisku dibuatnya kelojotan keenakan, dan kedua kakiku &lt;br /&gt;                        sampai gemetaran meredam sekuatnya badai kenikmatan yang &lt;br /&gt;                        sontak menjalar di selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sambil menggigit bibir menahan nikmat, kutelusupkan &lt;br /&gt;                        kedua jemari tanganku ke balik bokongnya yang bulat &lt;br /&gt;                        padat dan kenyal. Sembari kuremas gemas, &lt;br /&gt;                        kuhentak-hentakkan alat kejantananku keluar masuk &lt;br /&gt;                        menggesek liang vagina Tante Vivi secepat dan sekuat &lt;br /&gt;                        tenagaku. Kukayuh pinggulku naik turun dengan cepat, &lt;br /&gt;                        karena aku ingin segera menuntaskan persetubuhan ini.&lt;br /&gt;                        "uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh", aku &lt;br /&gt;                        merasa Tante Vivi begitu menyenangi permainan seks-ku &lt;br /&gt;                        yang sedikit kasar, pinggulnya sampai ikut digoyangkan &lt;br /&gt;                        kekiri dan kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang &lt;br /&gt;                        penisku yang memenuhi seluruh liang vaginanya yang &lt;br /&gt;                        semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sekitar 5 menit kemudian akhirnya pendakian puncak &lt;br /&gt;                        kenikmatan itu tergapai sudah, begitu lega rasanya &lt;br /&gt;                        melihat Tante Vivi sampai menggeliat-geliat hebat &lt;br /&gt;                        sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah dan &lt;br /&gt;                        mengejan kuat melepas kenikmatan orgasmenya yang telah &lt;br /&gt;                        menjadi penantiannya sekian lama. Mulutnya tanpa risih &lt;br /&gt;                        menjerit, memekik-mekik dan mengerang-erang dengan suara &lt;br /&gt;                        keras seakan tak peduli dengan keadaan sekeliling. &lt;br /&gt;                        Akupun tak peduli, yang jelas waktu itu tak pernah &lt;br /&gt;                        kulupakan kenikmatan yang kualami dari seorang wanita &lt;br /&gt;                        yang entah telah sekian lama hidup tanpa pemuasan batin. &lt;br /&gt;                        Kubenamkan sedalam-dalamnya seluruh batang penisku &lt;br /&gt;                        sepanjang 14 centi ke dalam liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sejenak kuhentikan gerakan naik turun pinggulku kini &lt;br /&gt;                        hanya sedikit kugerakkan memutar seolah batang penisku &lt;br /&gt;                        hendak memlintir daging liang vaginanya dan kubiarkan &lt;br /&gt;                        Tante Vivi merasakan seluruh sensasi kenikmatan puncak &lt;br /&gt;                        orgasmenya yang luar biasa. Begitu hebatnya kurasakan &lt;br /&gt;                        daging liang vaginanya menjepit batang penisku seakan &lt;br /&gt;                        hendak melumat habis, seakan dipilin-pilin dan &lt;br /&gt;                        dikenyot-kenyot kuat.&lt;br /&gt;                        "aagghhfff..., aahh", aku sampai merem melek dan &lt;br /&gt;                        mengerang keenakan menikmati liang sorga dunianya yang &lt;br /&gt;                        sedang dilanda orgasme itu. Cairan lendir orgasmenya &lt;br /&gt;                        terasa menyembur lemah menghangati dan membasahi seluruh &lt;br /&gt;                        permukaan batang kejantananku yang sedang terjepit di &lt;br /&gt;                        dalamnya.&lt;br /&gt;                        "aaww..., aaww..., sshh..., nngghh..., ngnngghh...", &lt;br /&gt;                        erang Tante Vivi karena nikmatnya.&lt;br /&gt;                        Saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas &lt;br /&gt;                        mendesak pinggulku yang juga sedang menekan alat &lt;br /&gt;                        kejantananku sedalam-dalamnya ke dalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kedua jemari tangan Tante Vivi sampai mencengkeram kuat &lt;br /&gt;                        kedua belah bokongku. Kuku-kuku jemari kedua tangannya &lt;br /&gt;                        seakan menghunjam masuk ke dalam kulit bokongku. Terasa &lt;br /&gt;                        sakit, namun aku tak peduli, kubiarkan Tante Vivi &lt;br /&gt;                        menikmati sepuasnya badai puncak orgasmenya yang &lt;br /&gt;                        panjang, kubiarkan daging liang vaginanya melumat habis &lt;br /&gt;                        batang kejantananku. Baru kali ini aku melihat seorang &lt;br /&gt;                        wanita yang orgasme saking begitu hebatnya sehingga &lt;br /&gt;                        tanpa risih lagi sampai berteriak-teriak seolah ingin &lt;br /&gt;                        melepaskan semua beban batin dalam dirinya akibat &lt;br /&gt;                        kenikmatan tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;                        "oouuhh..., uuhh..., ngghh..", erangnya keras berulang &lt;br /&gt;                        kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Mungkin hanya sekitar 6-8 detik Tante Vivi tenggelam &lt;br /&gt;                        dalam lautan kenikmatan puncak orgasmenya, terasa &lt;br /&gt;                        singkat mungkin bagiku. Ketika pantatnya kembali &lt;br /&gt;                        dihempaskan ke atas pembaringan menandakan orgasmenya &lt;br /&gt;                        mulai berakhir, sambil kucumbu mesra mulutnya yang masih &lt;br /&gt;                        merintihkan sisa-sisa rasa kenikmatannya, kugerakkan &lt;br /&gt;                        pinggulku naik turun lagi secara amat perlahan &lt;br /&gt;                        menyetubuhinya kembali.&lt;br /&gt;                        "Oouuhh...". Aku mendesah nikmat merasakan jepitan liang &lt;br /&gt;                        vaginanya yang masih ketat sehabis orgasme, Cairan &lt;br /&gt;                        lendirnya yang keluar membasahi batang penisku terasa &lt;br /&gt;                        begitu licin dan hangat. Begitu nikmatnya saat alat &lt;br /&gt;                        kejantananku kutarik melungsur keluar dari dalam liang &lt;br /&gt;                        vagina Tante Vivi, seakan diurut dan dikenyot lembut. &lt;br /&gt;                        Uuhh.., kupejamkan kedua mataku meresapi kenikmatan &lt;br /&gt;                        liang surga dunia miliknya. Secara perlahan-lahan pula &lt;br /&gt;                        setelah hampir kira2 6-8 centi-an batang penisku keluar &lt;br /&gt;                        lalu kembali kubenamkan masuk ke dalam liang vaginanya &lt;br /&gt;                        yang kini seakan meremas dan memijat lembut. Sreengg..., &lt;br /&gt;                        rasanya aliran kenikmatan yang melanda alat kejantananku &lt;br /&gt;                        membuat air maniku perlahan-lahan mulai mendesak ingin &lt;br /&gt;                        muncrat keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "oouu...", erangku keenakan saat dengan nikmatnya liang &lt;br /&gt;                        vagina Tante Vivi kembali menjepit dan mengenyot seluruh &lt;br /&gt;                        batang penisku.&lt;br /&gt;                        Begitu berulang kali, naik turun secara perlahan dengan &lt;br /&gt;                        ritme yang semakin lama semakin kupercepat menyetubuhi &lt;br /&gt;                        Tante Vivi yang kini setelah orgasmenya berakhir malah &lt;br /&gt;                        seolah hendak menggodaku. Entah sengaja atau tidak &lt;br /&gt;                        setiap kali batang penisku yang kutarik keluar hendak &lt;br /&gt;                        kubenamkam kembali menikmati jepitan daging hangatnya, &lt;br /&gt;                        pinggulnya digoyangkan manja kesamping kiri atau ke &lt;br /&gt;                        kanan, membuat alat kejantananku sampai keplintir serong &lt;br /&gt;                        kekiri atau kekanan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Vivii..., aduuhh..., nikmaatt...", erangku pelan &lt;br /&gt;                        keenakan.&lt;br /&gt;                        "Hik..., hik..., kamu mau keluar lagi sayang..", bisik &lt;br /&gt;                        Tante Vivi genit di sebelah telingaku.&lt;br /&gt;                        Aku tak menjawab dan hanya bisa merem melek menahan &lt;br /&gt;                        kenikmatan seks yang semakin lama semakin menggelora, &lt;br /&gt;                        air maniku semakin deras mengalir dan mendesak-desak di &lt;br /&gt;                        leher kepala penisku yang terjepit nikmat dalam liang &lt;br /&gt;                        vaginanya.&lt;br /&gt;                        "mm..., punyamu tegang keras sekali Ar..., hik..., &lt;br /&gt;                        hik..., sudah mau keluar yaa..", bisiknya genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Astaga..., aku tak mengira, dalam keadaan masyuk seperti &lt;br /&gt;                        ini ternyata Tante Vivi doyan sekali ngomong ngeres. &lt;br /&gt;                        Sebodo..., ahh..&lt;br /&gt;                        "Nngghh...", erangku semakin tak tahan.&lt;br /&gt;                        "mm..., keluarin dong Ar..", bisiknya genit semakin &lt;br /&gt;                        menggemaskan hati.&lt;br /&gt;                        "Ohh..., jepit lebih keras Vii..", erangku tak kalah &lt;br /&gt;                        genit.&lt;br /&gt;                        "Mm..., seperti ini Ar..., mm.."&lt;br /&gt;                        "aahhghghgghhghhghhghhgg..", Aku mendelik dan menggeram &lt;br /&gt;                        keras saat kurasakan daging liang vagina Tante Vivi &lt;br /&gt;                        mengerut dan mengecil, seakan meremas-remas, &lt;br /&gt;                        mengurut-urut dan mengenyot seluruh batang penisku yang &lt;br /&gt;                        sedang meregang menahan kenikmatan.&lt;br /&gt;                        Dan..., aahhghhghh..., aku tak kuat lagi dan menyerah...&lt;br /&gt;                        "Craatt..., Craatt..., craatt.."&lt;br /&gt;                        Air maniku bak tanggul jebol membanjir keluar dengan &lt;br /&gt;                        hebat di dalam liang vaginanya yang hangat. &lt;br /&gt;                        Kusembur-semburkan dengan nikmat sepenuh perasaan &lt;br /&gt;                        memenuhi liang senggamanya.&lt;br /&gt;                        "ooww..., mm...", Tante Vivi mendesah lirih saat air &lt;br /&gt;                        maniku menyembur-nyembur dengan kuat di dalam liang &lt;br /&gt;                        vaginanya yang hangat.&lt;br /&gt;                        "aahhahh..., ku..., hamili kau Vii..", erangku nakal, &lt;br /&gt;                        sambil terus kusembur-semburkan air maniku ke dalam &lt;br /&gt;                        rahimnya. Kuhentak-hentakkan dengan penuh nafsu alat &lt;br /&gt;                        kejantananku menggesek keluar masuk liang vaginanya yang &lt;br /&gt;                        semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya &lt;br /&gt;                        bercampur air maniku yang kental. Tante Vivi sesekali &lt;br /&gt;                        merintih kecil entah kesakitan atau nikmat menerima &lt;br /&gt;                        hunjaman batang penisku yang bergerak begitu buas &lt;br /&gt;                        mengoyak liang vaginanya yang sempit.&lt;br /&gt;                        "Ooww..., iihh..., Ar..., Nggnnhh..., uu..., tegang &lt;br /&gt;                        sekali penismu sayang...", rintihnya sambil mencengkeram &lt;br /&gt;                        bokongku yang bergerak turun naik dengan cepat dan kuat.&lt;br /&gt;                        "Aahhgghhg..., Vii..., Sayangghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung &lt;br /&gt;                        tinggi kesorga kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;                        "Uuhh..., Ar..., nggnghh..., manimu terasa kental sekali &lt;br /&gt;                        sayaang..", rintih Tante Vivi genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan &lt;br /&gt;                        sesudahnya. Tubuhku seakan lemas tak bertulang begitu 2 &lt;br /&gt;                        semburan terakhir yang merupakan semburan penghabisan, &lt;br /&gt;                        mengakhiri kenikmatan ejakulasiku. mm..., tubuhku seakan &lt;br /&gt;                        terhempas kembali jatuh ke bumi dan lemas tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku terbaring letih di atas tubuh Tante Vivi yang baru &lt;br /&gt;                        saja untuk kedua kali kureguk kenikmatan madu manis &lt;br /&gt;                        tubuhnya. Oouuh..., begitu indah rasanya meresapi &lt;br /&gt;                        sisa-sisa kenikmatan ejakulasi yang masih begitu terasa. &lt;br /&gt;                        Batang penisku yang masih terbenam di dalam liang &lt;br /&gt;                        senggamanya yang basah penuh cairan maniku yang seakan &lt;br /&gt;                        telah kehilangan kejantanannya. Loyoo..., Tetapi jepitan &lt;br /&gt;                        hangat daging liang vaginanya itu masih terasa nikmat, &lt;br /&gt;                        seakan mengurut-urut lembut. Kami saling berpelukan &lt;br /&gt;                        mesra, meresapi keindahan akhir persetubuhan yang sangat &lt;br /&gt;                        melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang &lt;br /&gt;                        tiada bandingnya di dunia ini. Kedua buah dadanya yang &lt;br /&gt;                        besar montok menekan lembut dan terasa begitu kenyal dan &lt;br /&gt;                        padat di dadaku yang bidang. Jemari kedua tangan Tante &lt;br /&gt;                        Vivi mengusap pelan dan sesekali memijit-mijit mesra &lt;br /&gt;                        pinggul dan bokongku yang terasa letih dan pegal. Mulut &lt;br /&gt;                        kami bercumbu hangat saling mengadu bibir seolah saling &lt;br /&gt;                        menukar kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Mm cuupp..., cupp..., Ar..., kau benar-benar doyan seks &lt;br /&gt;                        yaa..", bisk Tante Vivi gemas sambil berulang kali &lt;br /&gt;                        membalas kecupan bibirku yang masih bernafsu.&lt;br /&gt;                        "Cupp..., entahlah Tante..", bisikku lembut. Pertanyaan &lt;br /&gt;                        sederhananya itu seolah menyadarkanku kembali. Akal &lt;br /&gt;                        sehatku seakan kembali normal dan aahh..., rasa sesal &lt;br /&gt;                        itu kembali datang dan selalu saja datang dikala aku &lt;br /&gt;                        telah tuntas mereguk semua keinginan nafsu birahiku &lt;br /&gt;                        ingin rasanya kedua mata ini menangis mengapa aku begitu &lt;br /&gt;                        lemah dengan nafsu syahwatku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Semenit kemudian.&lt;br /&gt;                        Aku bergulir turun dari atas tubuh Tante Vivi, alat &lt;br /&gt;                        kejantananku yang mulai lemas mengecil seakan tercabut &lt;br /&gt;                        dari dalam liang vaginanya yang sempit hangat. Ia &lt;br /&gt;                        merintih kegelian.&lt;br /&gt;                        Sejenak aku termenung..., memikirkan semua perbuatanku &lt;br /&gt;                        barusan, begitu lemahnya diri ini dengan yang namanya &lt;br /&gt;                        nafsu birahi. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan &lt;br /&gt;                        semua ini kepada Selva..., aku benar-benar gila telah &lt;br /&gt;                        berani meniduri tantenya sendiri. Pikiranku seperti &lt;br /&gt;                        buntu memikirkan semuanya itu.&lt;br /&gt;                        Seakan mengerti apa yang sedang kurenungkan, Tante Vivi &lt;br /&gt;                        mencium mulutku dengan hangat dan mengulum bibir bawahku &lt;br /&gt;                        sejenak. Anehnya aku sendiri tak bisa menolak dan &lt;br /&gt;                        membiarkan semua itu.&lt;br /&gt;                        "Sudahlah Ar..., Tante mengerti apa yang kamu &lt;br /&gt;                        pikirkan..., ini cuma seks sayang..., tidak ada ikatan &lt;br /&gt;                        apapun diantara kita..,. selain..., seks..", bisiknya &lt;br /&gt;                        lembut menenangkanku.&lt;br /&gt;                        Mau tak mau aku tersenyum letih.&lt;br /&gt;                        "Yaah..., Tante..", jawabku pendek. Bingung!&lt;br /&gt;                        "mm..., kita akan melakukannya lagi khan Sayaang..", &lt;br /&gt;                        bisiknya kembali terus terang tanpa rasa sungkan lagi, &lt;br /&gt;                        sambil mengelus pipiku mesra.&lt;br /&gt;                        Aku tak menjawab..., dan hanya bisa mengeluh dalam &lt;br /&gt;                        hati..., aku sudah keranjingan seks..., bagaimanapun &lt;br /&gt;                        nantinya..., kalau Tante Vivi menginginiku lagi, aku &lt;br /&gt;                        pasti menidurinya demi sekedar kenikmatan sesaat. &lt;br /&gt;                        aahh..., aku mengeluh pendek.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-4526484029819798608?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/4526484029819798608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=4526484029819798608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4526484029819798608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4526484029819798608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/tante-vivi-05.html' title='TANTE VIVI 05'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-6546022097828846279</id><published>2007-05-07T23:26:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:27:15.177-07:00</updated><title type='text'>TANTE VIVI 04</title><content type='html'>Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, &lt;br /&gt;                        pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan &lt;br /&gt;                        yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar-benar &lt;br /&gt;                        puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan &lt;br /&gt;                        kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar &lt;br /&gt;                        jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin &lt;br /&gt;                        melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali &lt;br /&gt;                        sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan &lt;br /&gt;                        sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati &lt;br /&gt;                        permukaan bukit kemaluan lunaknya yang putih merangsang. &lt;br /&gt;                        Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit &lt;br /&gt;                        terlarang milik Tante Vivi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "oouuhh..., nngghhnngghh..., ngghh..", mulut Tante Vivi &lt;br /&gt;                        merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan &lt;br /&gt;                        nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali &lt;br /&gt;                        kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku &lt;br /&gt;                        sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan &lt;br /&gt;                        cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya &lt;br /&gt;                        demikian, lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam &lt;br /&gt;                        liang vaginanya sambil menyentil gemas daging &lt;br /&gt;                        clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang &lt;br /&gt;                        mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih &lt;br /&gt;                        mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan &lt;br /&gt;                        dengan jemari tangan kananku bibir kemaluannya yang &lt;br /&gt;                        tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak &lt;br /&gt;                        percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu &lt;br /&gt;                        lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara &lt;br /&gt;                        perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip &lt;br /&gt;                        keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang ternyata &lt;br /&gt;                        berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        oohh..., kulihat..., liang vaginanya yang terletak &lt;br /&gt;                        sedikit di atas lubang duburnya, begitu kecil dan &lt;br /&gt;                        terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah atas &lt;br /&gt;                        liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil &lt;br /&gt;                        clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. &lt;br /&gt;                        Aku sedikit heran, karena liang vagina milik Tante Vivi &lt;br /&gt;                        ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina. &lt;br /&gt;                        Aahh..., batang penisku yang sudah berdiri tegak &lt;br /&gt;                        menunggu giliran untuk take over jadi makin &lt;br /&gt;                        cenat-cenut..., teng-teng tidak karuan..., tidak tahan &lt;br /&gt;                        nih kalau sempitnya seperti ini..., bisa-bisa tidak &lt;br /&gt;                        sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat &lt;br /&gt;                        keluar..., seperti yang aku rasakan bersama Dina &lt;br /&gt;                        akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa &lt;br /&gt;                        sewaktu aku dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan &lt;br /&gt;                        dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi &lt;br /&gt;                        akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit &lt;br /&gt;                        saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu &lt;br /&gt;                        terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "A.. Aarr..., Lagi sayangghh...", Tante Vivi berbisik &lt;br /&gt;                        sedikit serak. Aku sejenak tersadar dari lamunan..., &lt;br /&gt;                        He.. He..., aku jadi geli juga..., di saat lagi asyik &lt;br /&gt;                        masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun..., &lt;br /&gt;                        ngeres lagi..., he..., he..".&lt;br /&gt;                        Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik &lt;br /&gt;                        Tante Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu &lt;br /&gt;                        kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas &lt;br /&gt;                        kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya, &lt;br /&gt;                        kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu &lt;br /&gt;                        dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, &lt;br /&gt;                        mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan &lt;br /&gt;                        Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti &lt;br /&gt;                        kalau kami berdua berciuman mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        mm..., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger &lt;br /&gt;                        McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel &lt;br /&gt;                        great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan &lt;br /&gt;                        tersendiri yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu &lt;br /&gt;                        indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan &lt;br /&gt;                        wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya &lt;br /&gt;                        dan juga suara erangan nikmatnya.&lt;br /&gt;                        mm..., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai &lt;br /&gt;                        berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua &lt;br /&gt;                        belah pahanya yang putih seksi, sambil tak &lt;br /&gt;                        henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih &lt;br /&gt;                        panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.&lt;br /&gt;                        "Aahh..., nnggngghghh..., ngghghnhgghh...", rintih Tante &lt;br /&gt;                        Vivi berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir &lt;br /&gt;                        labia mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali &lt;br /&gt;                        kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan &lt;br /&gt;                        dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah &lt;br /&gt;                        merah diantara bibir kemaluannya..., menyentil mulut &lt;br /&gt;                        liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh &lt;br /&gt;                        detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante &lt;br /&gt;                        Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa &lt;br /&gt;                        nikmat. Saat bibir dan lidahku secara bersamaan &lt;br /&gt;                        menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai &lt;br /&gt;                        pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik &lt;br /&gt;                        keras dan akhirnya mendesah panjang..., pinggulnya &lt;br /&gt;                        sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa &lt;br /&gt;                        nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat &lt;br /&gt;                        kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan &lt;br /&gt;                        kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua &lt;br /&gt;                        belah bulatan bokong Tante Vivi dan meremas-remas &lt;br /&gt;                        lembut.&lt;br /&gt;                        "Aagghh..., aoohh..., sshhghffhhghh..."&lt;br /&gt;                        Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang &lt;br /&gt;                        meregang menuju puncak kenikmatan..., Sedetik..., 2 &lt;br /&gt;                        detik..., 3 detik..., aku merasakan kedua belah pahanya &lt;br /&gt;                        yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai &lt;br /&gt;                        bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan &lt;br /&gt;                        cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar..., &lt;br /&gt;                        orgasmee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan &lt;br /&gt;                        hisapan mulutku pada daging clitorisnya dan dengan kuat &lt;br /&gt;                        kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih &lt;br /&gt;                        menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku &lt;br /&gt;                        merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante &lt;br /&gt;                        Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya &lt;br /&gt;                        seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai..., kedua &lt;br /&gt;                        matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang &lt;br /&gt;                        selangkangannya yang kosong..., dan Tante Vivi mendapati &lt;br /&gt;                        diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum &lt;br /&gt;                        penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah &lt;br /&gt;                        seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras &lt;br /&gt;                        seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah &lt;br /&gt;                        memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum &lt;br /&gt;                        lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi..., &lt;br /&gt;                        rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya &lt;br /&gt;                        orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah &lt;br /&gt;                        jalan.&lt;br /&gt;                        "K.., kkamu..., benar-benar nakal sekali Arr..., hh..., &lt;br /&gt;                        teganya kamu Sayang...", bisiknya dengan bibir gemetar. &lt;br /&gt;                        Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi &lt;br /&gt;                        menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke &lt;br /&gt;                        atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan &lt;br /&gt;                        kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu &lt;br /&gt;                        kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara &lt;br /&gt;                        bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan &lt;br /&gt;                        batang penisku yang sudah sangat tegang..., ooh..., &lt;br /&gt;                        nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi &lt;br /&gt;                        memandangku seolah ingin menelanku.&lt;br /&gt;                        "Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr...", bisiknya &lt;br /&gt;                        pelan. Aku yang masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi &lt;br /&gt;                        hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh &lt;br /&gt;                        montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua &lt;br /&gt;                        buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan &lt;br /&gt;                        memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan &lt;br /&gt;                        sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika &lt;br /&gt;                        dengan cepat Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang &lt;br /&gt;                        ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus &lt;br /&gt;                        kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat &lt;br /&gt;                        jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas &lt;br /&gt;                        batang penisku..., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya &lt;br /&gt;                        sebelah bawah..., ke depan mulut liang vaginanya..., &lt;br /&gt;                        oohh..., aku mendesah pelan menyaksikan semua itu. Aku &lt;br /&gt;                        tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa &lt;br /&gt;                        perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu &lt;br /&gt;                        ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin &lt;br /&gt;                        disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti sukar sekali &lt;br /&gt;                        memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan &lt;br /&gt;                        besar mirip punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua &lt;br /&gt;                        pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu kesulitan &lt;br /&gt;                        menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele..., &lt;br /&gt;                        sambil menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya &lt;br /&gt;                        terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak berkutat masih &lt;br /&gt;                        mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu &lt;br /&gt;                        dengan perlahan pinggulnya diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Oogghh..., Aahh..., aku mendelik dan mengerang nikmat &lt;br /&gt;                        saat dengan mata kepalaku sendiri kulihat bibir &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima &lt;br /&gt;                        tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah &lt;br /&gt;                        dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala &lt;br /&gt;                        penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut &lt;br /&gt;                        daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran &lt;br /&gt;                        kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam &lt;br /&gt;                        liang vagina Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Oougghhghh..., nngngnghhaahh...", pekikku keras menahan &lt;br /&gt;                        rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5 &lt;br /&gt;                        detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang &lt;br /&gt;                        ketat. aahh..., di dalam situ kurasakan daging vaginanya &lt;br /&gt;                        seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah &lt;br /&gt;                        diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut &lt;br /&gt;                        keenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang &lt;br /&gt;                        penisku, kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku &lt;br /&gt;                        sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya &lt;br /&gt;                        bagian bawah yang masih melakukan penetrasi. Ia kini &lt;br /&gt;                        memandangku dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya &lt;br /&gt;                        yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar &lt;br /&gt;                        dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.&lt;br /&gt;                        "Enaak..., Arr...", bisik Tante Vivi tanpa malu-malu &lt;br /&gt;                        padaku.&lt;br /&gt;                        "I..., iiyaa tantee...", sahutku gemetar menahan rasa &lt;br /&gt;                        nikmat.&lt;br /&gt;                        "Mm..., milikmu besar juga sayangg...", bisiknya lagi. &lt;br /&gt;                        Lalu dengan perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan &lt;br /&gt;                        pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata. Namun &lt;br /&gt;                        mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut &lt;br /&gt;                        menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aahhgghh...", erangku keenakan saat daging liang &lt;br /&gt;                        vaginanya yang luar biasa sempit itu mili demi mili &lt;br /&gt;                        secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan &lt;br /&gt;                        batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. &lt;br /&gt;                        Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat &lt;br /&gt;                        kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di &lt;br /&gt;                        seluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk &lt;br /&gt;                        guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis &lt;br /&gt;                        menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang &lt;br /&gt;                        terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku &lt;br /&gt;                        itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi..., &lt;br /&gt;                        dengan tanpa hambatan berarti walau terasa begitu sesak &lt;br /&gt;                        dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme &lt;br /&gt;                        semakin cepat kedalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Mm..., aahh..., mm", Tante Vivi hanya mendesah dan &lt;br /&gt;                        merintih kecil saat batang penisku yang besar dengan &lt;br /&gt;                        perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam &lt;br /&gt;                        bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya &lt;br /&gt;                        tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih &lt;br /&gt;                        tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah &lt;br /&gt;                        merem melek keenakan, kedua pahaku sampai gemetaran &lt;br /&gt;                        saking hebatnya rasa nikmat itu.&lt;br /&gt;                        "ooww..."&lt;br /&gt;                        "Aaghghghh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat &lt;br /&gt;                        penetrasi yang terakhir berlangsung. Kulihat sekilas &lt;br /&gt;                        bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung &lt;br /&gt;                        lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal &lt;br /&gt;                        sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam &lt;br /&gt;                        liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat &lt;br /&gt;                        kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu padu. &lt;br /&gt;                        Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan &lt;br /&gt;                        daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin &lt;br /&gt;                        itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut. &lt;br /&gt;                        Wooww...' ujung jemari kakiku sampai gemetaran &lt;br /&gt;                        keenakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "mm..., Bagaimana sayang..", bisik Tante Vivi pelan &lt;br /&gt;                        sambil memandangku mesra sekali.&lt;br /&gt;                        "Aahhghghg..., Nikmat sek.., kali Vii..", sahutku &lt;br /&gt;                        gemetar.&lt;br /&gt;                        Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, &lt;br /&gt;                        sementara pinggulnya menempel selangkanganku dengan &lt;br /&gt;                        ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola &lt;br /&gt;                        zakarku.&lt;br /&gt;                        "Air maniku..., mau keluar Tante...", bisikku menahan &lt;br /&gt;                        nikmat sambil setengah menggodanya.&lt;br /&gt;                        "Iihh..., Awas yaa kamu Ar..", sahutnya sambil &lt;br /&gt;                        tersenyum. Ia seolah mengerti batang penisku tidak &lt;br /&gt;                        bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya &lt;br /&gt;                        seketat itu.&lt;br /&gt;                        "Ar..., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini..., &lt;br /&gt;                        mm..., tahan ya sayang..., tunggu Tante yaa..",bisiknya &lt;br /&gt;                        begitu genit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan &lt;br /&gt;                        pinggulnya naik turun secara perlahan menggesekkan &lt;br /&gt;                        daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang &lt;br /&gt;                        sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan &lt;br /&gt;                        walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika &lt;br /&gt;                        kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.&lt;br /&gt;                        "Uuhh..., uhh..., uhh..", Tante Vivi merintih kecil saat &lt;br /&gt;                        setiap kali pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali &lt;br /&gt;                        batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang &lt;br /&gt;                        vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring &lt;br /&gt;                        dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas &lt;br /&gt;                        selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah &lt;br /&gt;                        sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yang &lt;br /&gt;                        benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya &lt;br /&gt;                        yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah &lt;br /&gt;                        kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang &lt;br /&gt;                        menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak &lt;br /&gt;                        pelan setiap kali pinggul Tante Vivi bergoyang pelan &lt;br /&gt;                        naik turun secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini &lt;br /&gt;                        sendirian. Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok &lt;br /&gt;                        tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, &lt;br /&gt;                        begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik &lt;br /&gt;                        menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas &lt;br /&gt;                        selangkanganku menikmati alat kejantananku.&lt;br /&gt;                        "Oohhaahh..., hahahhgghh...", erangku saking nikmatnya. &lt;br /&gt;                        Batang penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan &lt;br /&gt;                        dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang &lt;br /&gt;                        luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek &lt;br /&gt;                        secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali &lt;br /&gt;                        pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang &lt;br /&gt;                        penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun &lt;br /&gt;                        begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang penisku &lt;br /&gt;                        seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.&lt;br /&gt;                        "Vivi..., aagghh..., aahahhgghh...", erangku &lt;br /&gt;                        berulangkali keenakan. Kedua tanganku berusaha menahan &lt;br /&gt;                        laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun &lt;br /&gt;                        jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat &lt;br /&gt;                        bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara &lt;br /&gt;                        terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya &lt;br /&gt;                        yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku &lt;br /&gt;                        seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan &lt;br /&gt;                        dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan &lt;br /&gt;                        meredam rasa nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku &lt;br /&gt;                        sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat &lt;br /&gt;                        keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak &lt;br /&gt;                        naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang &lt;br /&gt;                        penisku ke dalam liang vagina sempitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Uuhh..., uuhh..., uu..., hh..., uuhh..", erangnya &lt;br /&gt;                        berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang &lt;br /&gt;                        berada di dalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;                        "aahahh...", aku mengerang panjang sambil sejenak &lt;br /&gt;                        menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak &lt;br /&gt;                        sampai muncrat keluar.&lt;br /&gt;                        "uuh..., kamu mau keluar sayang...", bisik Tante Vivi &lt;br /&gt;                        genit.&lt;br /&gt;                        "Iyyaa..., Vi..", sahutku gemas tanpa memanggilnya &lt;br /&gt;                        dengan sebutan Tante lagi&lt;br /&gt;                        "ooh..., Aku bener-bener tidak tahan lagi."&lt;br /&gt;                        "Hik..., hik..., oke Sayang..., kamu keluar duluan &lt;br /&gt;                        Ar..., Tante jepit lebih keras yaa Sayang...", bisiknya &lt;br /&gt;                        semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas &lt;br /&gt;                        dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil &lt;br /&gt;                        menggoyang pinggul semakin cepat naik turun, kurasakan &lt;br /&gt;                        daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih &lt;br /&gt;                        hebat, batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot &lt;br /&gt;                        hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya sekitar &lt;br /&gt;                        4 centi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        oohh..., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah &lt;br /&gt;                        kalah..., aku tak mampu menahan desakan air maniku yang &lt;br /&gt;                        sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas &lt;br /&gt;                        kedua belah payudara Tante Vivi yang besar terguncang &lt;br /&gt;                        dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras &lt;br /&gt;                        dan melepas puncak kenikmatan seks.&lt;br /&gt;                        "aagghhghghhgaahh...", Teriakku nikmat..., saat dengan &lt;br /&gt;                        hebatnya air maniku muncrat keluar dengan &lt;br /&gt;                        tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.&lt;br /&gt;                        "Craatt..., craatt..., Crraatt..., craatt.." ke dalam &lt;br /&gt;                        liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.&lt;br /&gt;                        "uu..., mm..., uu..., mm..., ooww.., banyak sekali &lt;br /&gt;                        manimu sayangghh..., uu...", desahnya lembut saat air &lt;br /&gt;                        maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa &lt;br /&gt;                        nikmat ke dalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan..., &lt;br /&gt;                        begitu tinggi..., terasa begitu nikmatnya, "Oohh...". &lt;br /&gt;                        Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak &lt;br /&gt;                        terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang &lt;br /&gt;                        vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin &lt;br /&gt;                        cepat pula batang penisku yang sedang collapse..., &lt;br /&gt;                        ejakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari &lt;br /&gt;                        memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.&lt;br /&gt;                        Crraat..., crraatt..., crraatt..., creett...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih &lt;br /&gt;                        terlena diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan &lt;br /&gt;                        air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang &lt;br /&gt;                        vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat &lt;br /&gt;                        menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh &lt;br /&gt;                        lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat &lt;br /&gt;                        terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas &lt;br /&gt;                        tanah..., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan &lt;br /&gt;                        yang terasa begitu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 05&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-6546022097828846279?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/6546022097828846279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=6546022097828846279' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/6546022097828846279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/6546022097828846279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/tante-vivi-04.html' title='TANTE VIVI 04'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-9138837136705820236</id><published>2007-05-07T23:25:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:26:03.653-07:00</updated><title type='text'>TANTE VIVI 03</title><content type='html'>Tante Vivi sambil tersenyum manis ke arahku rebah &lt;br /&gt;                        telentang dengan posisi setengah mengangkang &lt;br /&gt;                        mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling &lt;br /&gt;                        terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata memang &lt;br /&gt;                        sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali &lt;br /&gt;                        tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. &lt;br /&gt;                        Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat &lt;br /&gt;                        kemerahan mengacung ke atas seolah menantangku untuk &lt;br /&gt;                        segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat &lt;br /&gt;                        ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Tante &lt;br /&gt;                        Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan &lt;br /&gt;                        ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata &lt;br /&gt;                        tak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah &lt;br /&gt;                        mencukur habis bulu kemaluannya yang kemarin sempat &lt;br /&gt;                        kulihat begitu sangar dan vulgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        oohh..., tanpa terasa mulutku mendesah takjub &lt;br /&gt;                        menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. &lt;br /&gt;                        Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan &lt;br /&gt;                        wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit &lt;br /&gt;                        kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit &lt;br /&gt;                        kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar yang &lt;br /&gt;                        terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan &lt;br /&gt;                        bagian bawah di atas lubang duburnya yang hitaman &lt;br /&gt;                        kecoklatan. Labia Mayoranya yang sangat merangsang itu &lt;br /&gt;                        terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain &lt;br /&gt;                        meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua &lt;br /&gt;                        pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang &lt;br /&gt;                        memang sangat terlarang. Ini berarti liang vaginanya &lt;br /&gt;                        pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan &lt;br /&gt;                        lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk &lt;br /&gt;                        dari kedua belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat &lt;br /&gt;                        melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan &lt;br /&gt;                        miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung &lt;br /&gt;                        kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala penisku &lt;br /&gt;                        kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana &lt;br /&gt;                        dalam seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi &lt;br /&gt;                        dihadapanku dan membuatku takjub.&lt;br /&gt;                        oohh..., Vivi..", bisikku lemah. Batinku seolah menyerah &lt;br /&gt;                        kalah., "Maafkan aku Selva..., aku sangat &lt;br /&gt;                        mencintaimu..., tapi ini hanyalah seks..., bukan &lt;br /&gt;                        cinta..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu kreekk..., Dengan gemas kurobek celana dalamku yang &lt;br /&gt;                        terasa kecil bagi alat kelelakianku. Aku sudah tak &lt;br /&gt;                        peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku &lt;br /&gt;                        yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah &lt;br /&gt;                        mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun &lt;br /&gt;                        menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku sedikit heran juga &lt;br /&gt;                        menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit lebih &lt;br /&gt;                        besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku &lt;br /&gt;                        yang terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan &lt;br /&gt;                        saking tegangnya. Urat-urat diseluruh permukaan batang &lt;br /&gt;                        penisku sampai menonjol keluar semua membentuk &lt;br /&gt;                        guratan-guratan kasar setengah melingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya &lt;br /&gt;                        menyaksikan semua itu, perlahan-lahan aku mulai naik ke &lt;br /&gt;                        atas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah &lt;br /&gt;                        menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di &lt;br /&gt;                        pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan &lt;br /&gt;                        bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya &lt;br /&gt;                        seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit &lt;br /&gt;                        terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit tegang &lt;br /&gt;                        atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.&lt;br /&gt;                        "Vivii...", bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug &lt;br /&gt;                        kubaringkan tubuhku persis di sebelah kanan tubuhnya &lt;br /&gt;                        yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona, &lt;br /&gt;                        lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah &lt;br /&gt;                        pipinya yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ar..., beri aku kenikmatan...", bisiknya tanpa &lt;br /&gt;                        malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon. &lt;br /&gt;                        Aku tersenyum penuh gairah.&lt;br /&gt;                        "Aahh Vivi..., aku akan memberimu kepuasan..., aahh..., &lt;br /&gt;                        kau lihat penisku Vi..., dia yang akan memberimu &lt;br /&gt;                        kenikmatan...", bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau &lt;br /&gt;                        melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan &lt;br /&gt;                        keras saking kuat ereksinya.&lt;br /&gt;                        "Iihh..., hik..., hik..., kau nakal Ar..., oohh..., &lt;br /&gt;                        sshh..., lakukanlah sekarang Ar...", tiba-tiba ia &lt;br /&gt;                        berbisik sedikit keras. Aku terkaget heran.&lt;br /&gt;                        "Sekarang Tante...?", tanyaku heran, sedikit kurang &lt;br /&gt;                        sambung.&lt;br /&gt;                        "Yaa..., sekarang Ar..., naiki aku..., masuki tubuhku &lt;br /&gt;                        sekarang..., sshh...", bisiknya semakin keras. Sembari &lt;br /&gt;                        jemari tangan kirinya memegang lenganku mengajak &lt;br /&gt;                        untuk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Astagaa..., Tante Vivi begitu bernafsunya sampai tanpa &lt;br /&gt;                        sungkan-sungkan lagi memintaku untuk segera &lt;br /&gt;                        menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin &lt;br /&gt;                        mencumbunya terlebih dulu, menikmati kehalusan kulit &lt;br /&gt;                        tubuhnya, meremas-remas dan menghisap kedua puting &lt;br /&gt;                        susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah &lt;br /&gt;                        pasti mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti &lt;br /&gt;                        yang sering aku lakukan terhadap Dina. Terus terang aku &lt;br /&gt;                        sudah tergila-gila pada alat kelamin wanita. Setiap akan &lt;br /&gt;                        bersenggama dengan Dina tak pernah sekalipun aku &lt;br /&gt;                        mengawali persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku &lt;br /&gt;                        mencumbu alat kewanitaannya sampai Dina orgasme &lt;br /&gt;                        berulang-ulang. Baru setelah Dina lemas kehabisan tenaga &lt;br /&gt;                        setelah melepas kenikmatan, aku baru memasukkan batang &lt;br /&gt;                        penisku ke dalam liang vaginanya yang sempit dan licin &lt;br /&gt;                        terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya di dalam &lt;br /&gt;                        situ sampai air maniku muncrat ejakulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kita bercumbu dulu Tante...", bisikku merasa diatas &lt;br /&gt;                        angin. Aku bisa menduga mungkin Tante Vivi terlalu lama &lt;br /&gt;                        menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan &lt;br /&gt;                        untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak &lt;br /&gt;                        birahinya yang sekian lama tertahan.&lt;br /&gt;                        "aahh..., kita lakukan sekarang saja Ar...", bisiknya &lt;br /&gt;                        seolah setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun. &lt;br /&gt;                        Kuperhatikan jemari tangan kirinya kini telah berada di &lt;br /&gt;                        atas selangkangan mengusap-usap bukit kemaluannya yang &lt;br /&gt;                        montok merangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Astaga..., rupanya Tante Vivi sudah tak tahan lagi. Aku &lt;br /&gt;                        tersenyum penuh gairah, aku tahu liang vaginanya pasti &lt;br /&gt;                        sudah gatal karena sekian lama tidak dipakai. Beruntung &lt;br /&gt;                        sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama kali mencicipi &lt;br /&gt;                        dan menikmati keperawanannya..., pasti luar biasa nikmat &lt;br /&gt;                        saat pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit. &lt;br /&gt;                        mm..., aku jadi tak tahan karena teringat saat pertama &lt;br /&gt;                        kali batang penisku memasuki liang vagina Dina dan &lt;br /&gt;                        merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah &lt;br /&gt;                        bagi seorang laki-laki ketika memuntahkan air maninya &lt;br /&gt;                        dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vagina seorang &lt;br /&gt;                        wanita yang masih perawan. Saya telah mengalami hal itu &lt;br /&gt;                        dan memang luar biasa nikmat. Dan kini mungkin saatnya &lt;br /&gt;                        bagi saya untuk menikmati liang vagina seorang janda..., &lt;br /&gt;                        mm..., pikirku ngeres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Kau yakin Vi..., kita tidak bercumbu dulu sayang...", &lt;br /&gt;                        bisikku gemas.&lt;br /&gt;                        "Ar..., kamu nakal...", sahut Tante Vivi padaku, wajah &lt;br /&gt;                        cantiknya kelihatan memelas. Aku jadi geli baru pertama &lt;br /&gt;                        kali ini aku melihat seorang wanita dengan nafsu seks &lt;br /&gt;                        sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini. &lt;br /&gt;                        Tapi aku maklum karena mungkin Tante Vivi telah ngempet &lt;br /&gt;                        tidak berhubungan seks bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun &lt;br /&gt;                        aku berpantangan untuk tidak langsung menyetubuhinya. &lt;br /&gt;                        Tante Vivi bukanlah ayam betina yang langsung saja bisa &lt;br /&gt;                        digagahi. Aku ingin memberinya terlebih dahulu &lt;br /&gt;                        sensasi-sensasi seks terindah pada seluruh sekujur &lt;br /&gt;                        tubuhnya sampai ia benar-benar merasakan puncak &lt;br /&gt;                        sekaligus akhir dari pendakian indah sebelum memasuki &lt;br /&gt;                        tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan &lt;br /&gt;                        sesungguhnya. Walaupun sebenarnya aku mau saja langsung &lt;br /&gt;                        menggagahinya dan memuasinya dengan cepat, tapi bagiku &lt;br /&gt;                        itu tiada berkesan selain merasakan kenikmatan sesaat. &lt;br /&gt;                        Dan seolah bagai mimpi saja ketika akhirnya dengan sigap &lt;br /&gt;                        aku telah berada diatas tubuh Tante Vivi yang telanjang &lt;br /&gt;                        bulat dan menindihnya gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kami berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit &lt;br /&gt;                        tubuh kami saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam &lt;br /&gt;                        kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa meniduri &lt;br /&gt;                        bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang &lt;br /&gt;                        berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit &lt;br /&gt;                        kemaluan Tante Vivi yang halus dan sangat empuk. Maklum &lt;br /&gt;                        bukit kemaluannya memang relatif sangat besar dan &lt;br /&gt;                        montok. Jauh lebih montok dibanding milik Dina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dengan nakal kepala penisku menyelip diantara bibir &lt;br /&gt;                        kemaluannya yang rapat. mm..., terasa begitu nikmat saat &lt;br /&gt;                        kulit kepala penisku menggesek daging celah labia &lt;br /&gt;                        mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin &lt;br /&gt;                        mengira batang penisku ingin memasuki liang vaginanya, &lt;br /&gt;                        karena begitu kepala penisku menyelip di antara labia &lt;br /&gt;                        mayoranya kurasakan ia membuka kedua pahanya &lt;br /&gt;                        lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua &lt;br /&gt;                        belah pahanya yang langsung mengapit pinggangku lembut. &lt;br /&gt;                        Sengaja aku tidak menekan pinggulku terlalu ke bawah &lt;br /&gt;                        untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kepala penisku &lt;br /&gt;                        sampai terdorong kebawah memasuki liang vaginanya, walau &lt;br /&gt;                        aku sebenarnya juga bisa menduga pasti tidak mudah &lt;br /&gt;                        bagiku nanti memasukkan alat kejantananku ke dalam liang &lt;br /&gt;                        vaginanya. Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak &lt;br /&gt;                        berhubungan seks..., mm..., liang vaginanya pasti sempit &lt;br /&gt;                        luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sambil mengusap mesra rambut Tante Vivi yang panjang, &lt;br /&gt;                        mulutku dengan gemas kembali mengecup dan mengulum bibir &lt;br /&gt;                        Tante Vivi yang basah dan hangat. mm..., cupp..., &lt;br /&gt;                        cupp..., mulutku secara bergantian mengulum bibirnya &lt;br /&gt;                        yang atas dan yang bawah. Dengan tak kalah mesra Tante &lt;br /&gt;                        Vivi membalas cumbuanku pada bibirnya. Sesekali lidahnya &lt;br /&gt;                        dijulurkan keluar untuk dengan segera kuhisap dan &lt;br /&gt;                        kukulum mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan &lt;br /&gt;                        bibirnya. Sementara bibir kami bercumbu, kurasakan dua &lt;br /&gt;                        sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada &lt;br /&gt;                        tubuh Tante Vivi. Pertama di selangkangannya, kedua di &lt;br /&gt;                        bagian dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        mm..., kedua payudaranya yang luar biasa besar itu &lt;br /&gt;                        terasa begitu kenyal dan padat menekan nikmat dadaku, &lt;br /&gt;                        kedua puting payudaranya yang lancip seakan menggelitik &lt;br /&gt;                        kulit dadaku. Kedua jemari tangan Tante Vivi yang halus &lt;br /&gt;                        mengusap-usap gemas daging bokongku, berulang kali ia &lt;br /&gt;                        mencoba untuk menekan pantatku ke bawah agar batang &lt;br /&gt;                        penisku segera memasuki liang vaginanya, namun aku &lt;br /&gt;                        bertahan agar pinggulku tetap setengah terangkat, hanya &lt;br /&gt;                        kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara labia &lt;br /&gt;                        mayoranya. Butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada &lt;br /&gt;                        kepala penisku yang sudah setengah terjepit di bibir &lt;br /&gt;                        kemaluannya itu tidak membuatku berbuat lebih jauh lagi &lt;br /&gt;                        menuruti keinginan Tante Vivi yang sudah ngebet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sesekali Tante Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari &lt;br /&gt;                        tangan kanannya diantara selangkangan kami, lalu dengan &lt;br /&gt;                        gemas ia meremas batang penisku dan mengarahkan kepala &lt;br /&gt;                        penisku yang sudah setengah terjepit di situ ke mulut &lt;br /&gt;                        liang vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan &lt;br /&gt;                        liang vaginanya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya &lt;br /&gt;                        mantan suaminya saja dulu. Aku segera menarik pinggulku &lt;br /&gt;                        agak ke atas karena terasa geli-geli nikmat pada batang &lt;br /&gt;                        penisku yang diremasnya. Aku melepaskan ciumanku pada &lt;br /&gt;                        bibir Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aaoohh..., Tante geli ahh...", erangku setengah &lt;br /&gt;                        keenakan.&lt;br /&gt;                        "Uuhh..., kamu nakal Ar...", bisik Tante Vivi lirih. &lt;br /&gt;                        Bibirnya yang ranum kemerahan sangat basah penuh air &lt;br /&gt;                        liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak berkeringat &lt;br /&gt;                        basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin &lt;br /&gt;                        senggama. Kedua matanya yang semakin sipit memandangku &lt;br /&gt;                        lemah seolah memelas. Aku kasihan juga melihatnya.&lt;br /&gt;                        "Tante sudah kepingin sekali yaachh...", bisikku gemas &lt;br /&gt;                        melihatnya.&lt;br /&gt;                        Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya &lt;br /&gt;                        mencubit pinggangku keras-keras. Aku memekik kesakitan. &lt;br /&gt;                        "Aaooww...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir &lt;br /&gt;                        ranumnya yang basah..., hanya lima detik mulutku melepas &lt;br /&gt;                        bibirnya dan bergerak ke atas dan, "Oouuhh...", Tante &lt;br /&gt;                        Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku dengan gemas &lt;br /&gt;                        mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali gigiku &lt;br /&gt;                        setengah menggigit membuat Tante Vivi menggelinjang geli &lt;br /&gt;                        keenakan.&lt;br /&gt;                        "Nngghh..., eenngghh..., Ar...", pekiknya lirih. Ia &lt;br /&gt;                        sangat terangsang sekali dengan ulahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        30 detik kemudian dengan cepat aku menggeser tubuh ke &lt;br /&gt;                        bawah. Kini saatnya bagiku untuk bermain-main dengan &lt;br /&gt;                        kedua buah payudaranya sepuas mungkin. Kali kurebahkan &lt;br /&gt;                        perutku merapat ke tubuh Tante Vivi, dan mm..., perutku &lt;br /&gt;                        terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yang besar..., &lt;br /&gt;                        sedikit kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit &lt;br /&gt;                        agak kasar, seperti bekas kalo ada rambut yang dicukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dari dekat aku dapat menyaksikan betapa luar biasa &lt;br /&gt;                        besarnya payudara Tante Vivi, warnanya begitu putih &lt;br /&gt;                        bersih dan mulus. Kedua puting payudaranya yang kecil &lt;br /&gt;                        lucu seakan tidak sebanding dengan besar susunya, &lt;br /&gt;                        berwarna coklat kemerahan. Baru kali ini aku melihat &lt;br /&gt;                        seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama &lt;br /&gt;                        ini aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik &lt;br /&gt;                        cewek bule. Bahkan jemari tanganku yang kubuka selebar &lt;br /&gt;                        mungkin masih belum bisa melingkari bulatan kedua buah &lt;br /&gt;                        dada Tante Vivi yang extra large. Dalam hati..., susu &lt;br /&gt;                        sebesar ini berapa ukuran BH-nya yaah..., aku jadi makin &lt;br /&gt;                        tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari &lt;br /&gt;                        tanganku yang sudah melingkari kedua buah dadanya &lt;br /&gt;                        bergerak meremas-remas pelan..., wooww..., begitu &lt;br /&gt;                        kenyal, kencang dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Nngnngghh..., oouuhh", Tante Vivi memejamkan kedua &lt;br /&gt;                        matanya dan mulutnya yang basah mengerang keenakan. Aku &lt;br /&gt;                        tersenyum. "Kuperkosa habis-habisan kau nanti Tante..." &lt;br /&gt;                        bisikku dalam hati penuh nafsu. Aku menunduk dan mulutku &lt;br /&gt;                        mulai menghisap nikmat susunya yang sebelah kiri secara &lt;br /&gt;                        perlahan. Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan &lt;br /&gt;                        menggigit pelan.&lt;br /&gt;                        "Aaww..., nngghh...", Tante Vivi merintih semakin keras. &lt;br /&gt;                        Aku jadi ikutan terangsang. Mulutku mulai menghisap &lt;br /&gt;                        putingnya sedikit lebih keras dan semakin keras. Kubuka &lt;br /&gt;                        mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan susunya. &lt;br /&gt;                        Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa &lt;br /&gt;                        kempot, lidahku dengan ganas memilin-milin putingnya &lt;br /&gt;                        dengan perasaan geregetan.&lt;br /&gt;                        mm..., nikmatnya..., Pop..., pop..., berulang kali aku &lt;br /&gt;                        menghisap dan melepaskan hisapanku dengan kuat sampai &lt;br /&gt;                        berbunyi nyaring. Puas dengan hisapan, lidahku yang &lt;br /&gt;                        basah kujalarkan menjilati seluruh permukaan payudaranya &lt;br /&gt;                        sampai penuh dan basah oleh air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali &lt;br /&gt;                        memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulutku &lt;br /&gt;                        pada susunya.&lt;br /&gt;                        "Aaww..., ngghh..., aww...". Jemari tangannya tak tahan &lt;br /&gt;                        mengerumasi rambut kepalaku dengan gemas. Mulutku kini &lt;br /&gt;                        berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati &lt;br /&gt;                        susunya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri &lt;br /&gt;                        gantian kuremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang &lt;br /&gt;                        kiri, aku mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat &lt;br /&gt;                        Tante Vivi semakin menggeliat hebat keenakan.&lt;br /&gt;                        "aaww..., Ar..., hu.., hu..., sudah Ar..., ngghh..., &lt;br /&gt;                        sudah sayang...", erangnya tak kuat menahan rasa nikmat. &lt;br /&gt;                        Aku semakin bersemangat. Kuhisap, kukulum, kupilin, &lt;br /&gt;                        kukenyot dan kujilati payudaranya yang kanan &lt;br /&gt;                        berulang-ulang kali tanpa ampun, membuat Tante Vivi &lt;br /&gt;                        berulangkali pula memintaku untuk segera menyudahi.&lt;br /&gt;                        "aaww..., sudah sayang..., aduuh..., hu.., huu.., &lt;br /&gt;                        ngghh..., k..., kau nakal Ar...", erang Tante Vivi &lt;br /&gt;                        sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku tak &lt;br /&gt;                        peduli, cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu &lt;br /&gt;                        kedua belah payudaranya yang besar. Mungkin sekitar 10 &lt;br /&gt;                        menitan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah puas barulah aku dapat melihat kedua buah &lt;br /&gt;                        dadanya yang tadinya begitu putih mulus dan bersih itu &lt;br /&gt;                        kini sampai basah penuh liur, dan di sana sini tampak &lt;br /&gt;                        kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama disekitar &lt;br /&gt;                        kedua putingnya yang kini tampak semakin merah saja, &lt;br /&gt;                        kulihat ada sedikit guratan merah di situ mungkin bekas &lt;br /&gt;                        gigitanku tadi..., gemass sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit &lt;br /&gt;                        berair dan memerah, bibirnya gemetar. Wajah cantiknya &lt;br /&gt;                        itu kelihatan sedikit geregetan.&lt;br /&gt;                        "Kamu benar-benar nakal sekali Ar..., Awas kamu yaa...", &lt;br /&gt;                        bisiknya lirih padaku seakan ingin membalas dendam. Aku &lt;br /&gt;                        tersenyum padanya, lalu tiba-tiba kedua jemari tangannya &lt;br /&gt;                        tadi mendorong kepalaku ke bawah.&lt;br /&gt;                        mm..., rupanya Tante Vivi ingin aku mencumbu alat &lt;br /&gt;                        kemaluannya. Wooww..., ini favoritku malah..., dengan &lt;br /&gt;                        sigap aku menggeser ke bawah..., mm terasa enaak saat &lt;br /&gt;                        perutku menggesek bukit kemaluannya. Lidahku kujulurkan &lt;br /&gt;                        menjilati permukaan perutnya yang halus dan sejenak &lt;br /&gt;                        sempat kugelitik lubang pusarnya dengan lidah dan &lt;br /&gt;                        bibirku. Dan ketika mukaku sampai di atas &lt;br /&gt;                        selangkangannya..., wooww...,ini dia ee..., alamak &lt;br /&gt;                        indahnya alat kemaluan milik Tante Vivi ini. Begitu &lt;br /&gt;                        putih dan mulus sesuai dengan warna kulit tubuhnya, &lt;br /&gt;                        disana-sini masih bisa terlihat secara samar kehitaman &lt;br /&gt;                        bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya &lt;br /&gt;                        itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit &lt;br /&gt;                        kecil di atas selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak kurang &lt;br /&gt;                        dari 15 centi bibir labia mayoranya yang tebal saling &lt;br /&gt;                        menutup sangat rapat satu sama lain membentuk lekukan &lt;br /&gt;                        celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang &lt;br /&gt;                        duburnya yang kecil berwarna hitam kecoklatan. Liang &lt;br /&gt;                        vaginanya seolah tertutup rapat tersembunyi oleh &lt;br /&gt;                        ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat &lt;br /&gt;                        kemaluannya benar-benar memabukkanku. Hidungku &lt;br /&gt;                        kembang-kempis menarik napas panjang menghirup aroma &lt;br /&gt;                        nikmat bau alat kelaminnya.&lt;br /&gt;                        Mm..., memang aku begitu menyukai bau alat kelamin &lt;br /&gt;                        wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun berbeda dengan &lt;br /&gt;                        milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat &lt;br /&gt;                        kemaluan Tante Vivi yang besar ini dapat kuduga memiliki &lt;br /&gt;                        liang senggama yang lebih panjang dan dalam. mm..., &lt;br /&gt;                        pasti daya tampung air maninya pasti banyak sekali. &lt;br /&gt;                        Seolah mengerti pikiranku, batang penisku yang sudah &lt;br /&gt;                        ereksi bak pisang raja itu manggut-manggut pelan &lt;br /&gt;                        mengiyakan walau sudah terjepit di atas kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tiba-tiba tanpa kuduga tangan Tante Vivi menekan &lt;br /&gt;                        kepalaku ke bawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi &lt;br /&gt;                        mukaku langsung nyosor terbenam ke dalam selangkangannya &lt;br /&gt;                        yang putih merangsang. Hidungku sampai amblas masuk &lt;br /&gt;                        terjepit diantara labia mayoranya yang tebal. Aku tidak &lt;br /&gt;                        bisa bernapas bebas, yang kurasakan hidungku hanya bisa &lt;br /&gt;                        menghisap udara bercampur aroma khas bau alat &lt;br /&gt;                        kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari &lt;br /&gt;                        sela-sela bibir kemaluannya. Sementara mulutku yang &lt;br /&gt;                        menekan bukit kemaluannya agak sebelah bawah terasa pas &lt;br /&gt;                        berada dimulut liang vaginanya. Aku tak menyia-nyiakan. &lt;br /&gt;                        Lidahku langsung kujulurkan ke bawah sepanjang mungkin &lt;br /&gt;                        menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan secara &lt;br /&gt;                        perlahan mulai memasuki liang vaginanya yang terasa &lt;br /&gt;                        sempit dan licin. Aku kira cairan lendir vaginanya mulai &lt;br /&gt;                        mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika lidahku &lt;br /&gt;                        yang masuk sekitar 1 centi ke dalam, liang vaginanya &lt;br /&gt;                        terasa penuh dengan cairan lendir yang sedikit amis &lt;br /&gt;                        namun nikmat dirasakan. Mulutku sampai mengecap nikmat &lt;br /&gt;                        berulangkali menyedot cairan vaginanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang &lt;br /&gt;                        panjang keenakan..., pinggulnya terkadang digoyangkan &lt;br /&gt;                        lembut kekiri-kanan dan juga keatas menikmati cumbuanku.&lt;br /&gt;                        "aagghghh..., nggnnhhfff..., sshh..., aarr...", pekiknya &lt;br /&gt;                        nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepalaku ke &lt;br /&gt;                        bawah, membenamkan mukaku seluruhnya ke bukit &lt;br /&gt;                        kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku &lt;br /&gt;                        semakin tak bisa bernafas, hidungku seolah tenggelam &lt;br /&gt;                        terjepit diantara bibir kemaluannya yang tebal. Bau khas &lt;br /&gt;                        alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski membuatku &lt;br /&gt;                        semakin terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan &lt;br /&gt;                        napas juga. Kususupkan kedua jemari tanganku menyusuri &lt;br /&gt;                        ke bawah ke balik bulatan pantatnya yang kenyal dan &lt;br /&gt;                        padat, tanganku mulai meremas gemas lalu dengan buas &lt;br /&gt;                        kugoyang-goyangkan mukaku mengusap ke seluruh permukaan &lt;br /&gt;                        bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk. &lt;br /&gt;                        Hidungku mengambil napas sebentar lalu dengan gairah &lt;br /&gt;                        tinggi kembali kuselipkan diantara bibir kemaluannya &lt;br /&gt;                        menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya dengan &lt;br /&gt;                        ujung hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali &lt;br /&gt;                        kutelusupkan sekitar 1 centi memasuki liang vagina &lt;br /&gt;                        sempitnya, menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina &lt;br /&gt;                        merahnya sembari terus menyedot cairan lendir miliknya &lt;br /&gt;                        yang masih tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 04&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-9138837136705820236?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/9138837136705820236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=9138837136705820236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/9138837136705820236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/9138837136705820236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/tante-vivi-03.html' title='TANTE VIVI 03'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-8964766204367990804</id><published>2007-05-07T23:23:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:24:39.633-07:00</updated><title type='text'>TANTE VIVI 02</title><content type='html'>Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan &lt;br /&gt;                        aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program &lt;br /&gt;                        aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan &lt;br /&gt;                        sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu &lt;br /&gt;                        membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak &lt;br /&gt;                        juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku &lt;br /&gt;                        sudah hampir setengah 12 malam.&lt;br /&gt;                        "Sudah malem Tante..., besok-besok khan masih bisa &lt;br /&gt;                        belajar Tante..., mm sekarang saya pulang dulu ya &lt;br /&gt;                        Tante...", kataku sambil setengah berjalan hendak keluar &lt;br /&gt;                        kamar.&lt;br /&gt;                        "Iya deh..., waah..., makasih ya Ar..., kamu pinter &lt;br /&gt;                        sekali mm..., Tante gimana harus ngucapin terima kasih &lt;br /&gt;                        sama kamu Ar..., hik..., hik..", tanyanya sambil tertawa &lt;br /&gt;                        kecil.&lt;br /&gt;                        "aah..., Tante ini ada-ada aja..., sudah deh..., sudah &lt;br /&gt;                        malem Tante...", jawabku sambil berjalan keluar, Tante &lt;br /&gt;                        Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. &lt;br /&gt;                        Sambil berjalan aku tersenyum, "Gilaa...", Tante Vivi &lt;br /&gt;                        begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku &lt;br /&gt;                        duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak &lt;br /&gt;                        terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus &lt;br /&gt;                        erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika &lt;br /&gt;                        tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan &lt;br /&gt;                        kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai &lt;br /&gt;                        begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku &lt;br /&gt;                        kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak &lt;br /&gt;                        tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh &lt;br /&gt;                        Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak &lt;br /&gt;                        jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih &lt;br /&gt;                        setengah merinding, aku langsung memegang lengan &lt;br /&gt;                        kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik &lt;br /&gt;                        tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear..., saya &lt;br /&gt;                        memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aduuh..., Ar..., ada apa sih kamu..", pekiknya.&lt;br /&gt;                        "Anuu Tante..., laba-laba gedhe...", sahutku sambil &lt;br /&gt;                        memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen &lt;br /&gt;                        sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin &lt;br /&gt;                        orang aja" bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum &lt;br /&gt;                        sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante &lt;br /&gt;                        Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ar...", bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan &lt;br /&gt;                        terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat &lt;br /&gt;                        sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat &lt;br /&gt;                        sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan &lt;br /&gt;                        sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit &lt;br /&gt;                        sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, &lt;br /&gt;                        hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan &lt;br /&gt;                        bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah &lt;br /&gt;                        terbuka..., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan &lt;br /&gt;                        kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan &lt;br /&gt;                        lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. &lt;br /&gt;                        Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama &lt;br /&gt;                        Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku &lt;br /&gt;                        mencegahnya..., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya &lt;br /&gt;                        seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama &lt;br /&gt;                        sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku &lt;br /&gt;                        di luar kesadaran..., dan dalam 2 detik bibirku telah &lt;br /&gt;                        mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. &lt;br /&gt;                        Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku &lt;br /&gt;                        menikmati kelembutan bibir hangatnya..., terasa manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, &lt;br /&gt;                        meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika &lt;br /&gt;                        aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka...&lt;br /&gt;                        " ooh...", bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu &lt;br /&gt;                        berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku &lt;br /&gt;                        melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan &lt;br /&gt;                        sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga &lt;br /&gt;                        baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak &lt;br /&gt;                        memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat &lt;br /&gt;                        betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. &lt;br /&gt;                        Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka &lt;br /&gt;                        barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup &lt;br /&gt;                        kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah &lt;br /&gt;                        terbuka dan merekah basah menawan hati.&lt;br /&gt;                        "Tan.., te..., apa yang kulakukan...", bisikku masih &lt;br /&gt;                        setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona &lt;br /&gt;                        kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia hanya tersenyum &lt;br /&gt;                        setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami &lt;br /&gt;                        berdua terdiam..., hening dalam pikiran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri, &lt;br /&gt;                        terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap &lt;br /&gt;                        orang..., aahh tetapi..., kenapa ada sesuatu yang lain &lt;br /&gt;                        pada tubuhku..., sesuatu yang aku begitu sangat &lt;br /&gt;                        mengenalnya..., astaga..., aku merasa batang penisku &lt;br /&gt;                        telah berdiri tegak..., tuing..., tuiing..., gilaa &lt;br /&gt;                        begitu cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak &lt;br /&gt;                        celana dalamku seolah ingin berontak keluar.&lt;br /&gt;                        "Sudahlah Ar... ", bisik Tante Vivi lirih, memecah &lt;br /&gt;                        keheningan itu. Aku tersadar pula.&lt;br /&gt;                        "Maafkan Ari Tante..., sa..., saya..., teringat Selva &lt;br /&gt;                        Tante...", sahutku setengah gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang &lt;br /&gt;                        barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman &lt;br /&gt;                        mesra.&lt;br /&gt;                        "Kamu rindu Ar..., sama dia...", tanyanya seolah &lt;br /&gt;                        melupakan peristiwa yang barusan. Aku sedikit bernapas &lt;br /&gt;                        lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku &lt;br /&gt;                        tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa &lt;br /&gt;                        meredam rasa maluku.&lt;br /&gt;                        "Eehh..., iya Tante...", sahutku beralasan.&lt;br /&gt;                        "Ya sudahlah..., tidak pa-pa Ar...", sahutnya enteng. &lt;br /&gt;                        Mau tak mau aku jadi bingung juga melihat sikapnya. &lt;br /&gt;                        Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya &lt;br /&gt;                        secara disengaja, itu tidak apa-apa?&lt;br /&gt;                        "Tante tidak marah...?", tanyaku balik. Entah kenapa aku &lt;br /&gt;                        seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul &lt;br /&gt;                        keberanianku.&lt;br /&gt;                        "Tidak Ar...", jawabnya sambil tetap tersenyum manis. &lt;br /&gt;                        Kedua matanya memandangku dengan sejuta arti. Dalam &lt;br /&gt;                        pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik &lt;br /&gt;                        dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai &lt;br /&gt;                        seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan &lt;br /&gt;                        cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, &lt;br /&gt;                        apalagi soal perilaku seks. Sikap Tante Vivi seperti itu &lt;br /&gt;                        seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir &lt;br /&gt;                        cepat, menimbang..., dan memutuskan. Sampai disitu jalan &lt;br /&gt;                        pikiranku menjadi buntu..., yang ada hanyalah..., nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, &lt;br /&gt;                        kuraih tubuh Tante Vivi yang masih berada di hadapanku &lt;br /&gt;                        dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja..., ia &lt;br /&gt;                        sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas &lt;br /&gt;                        saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam &lt;br /&gt;                        dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan &lt;br /&gt;                        memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis &lt;br /&gt;                        bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan &lt;br /&gt;                        semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin &lt;br /&gt;                        terpana.&lt;br /&gt;                        "Apa yang ingin kau lakukan Ar...", bisiknya lirih &lt;br /&gt;                        setengah kelihatan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa &lt;br /&gt;                        sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa &lt;br /&gt;                        jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya &lt;br /&gt;                        yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra &lt;br /&gt;                        sambil berbisik.&lt;br /&gt;                        "Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan...", bisikku &lt;br /&gt;                        pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan &lt;br /&gt;                        bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan &lt;br /&gt;                        burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.&lt;br /&gt;                        "Kau yakin Ar...", tanya Tante Vivi lirih. Ooh..., &lt;br /&gt;                        desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku &lt;br /&gt;                        membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.&lt;br /&gt;                        "Yaa..., Tante...", sahutku tanpa mengerti maksud &lt;br /&gt;                        pertanyaannya. Dengan cepat aku sudah membayangkan &lt;br /&gt;                        keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan &lt;br /&gt;                        payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit &lt;br /&gt;                        tubuhnya dan..., aahh bukit kemaluannya yang besar..., &lt;br /&gt;                        wooww...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan &lt;br /&gt;                        beningnya, aku merasa seolah telah memasuki liang &lt;br /&gt;                        vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua &lt;br /&gt;                        belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik &lt;br /&gt;                        celana jeans ketatnya.&lt;br /&gt;                        "Oouuhh... ", Tante Vivi mengeluh lirih.&lt;br /&gt;                        Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa &lt;br /&gt;                        menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar &lt;br /&gt;                        terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah &lt;br /&gt;                        diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan &lt;br /&gt;                        dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan &lt;br /&gt;                        itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante &lt;br /&gt;                        Vivi dan memperkosa sepuasnya.&lt;br /&gt;                        "aah..., ki.. Kita ke kamar Tante...", bisikku semakin &lt;br /&gt;                        bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot &lt;br /&gt;                        dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan &lt;br /&gt;                        mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar &lt;br /&gt;                        begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. &lt;br /&gt;                        Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari &lt;br /&gt;                        sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat &lt;br /&gt;                        padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak &lt;br /&gt;                        bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu &lt;br /&gt;                        ingin sekali meraba selangkangan atau meremas &lt;br /&gt;                        payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan &lt;br /&gt;                        romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan &lt;br /&gt;                        selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi sangat &lt;br /&gt;                        menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak &lt;br /&gt;                        berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku &lt;br /&gt;                        membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. &lt;br /&gt;                        ooh..., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya &lt;br /&gt;                        beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula &lt;br /&gt;                        hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan &lt;br /&gt;                        hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah &lt;br /&gt;                        melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan &lt;br /&gt;                        mengusap mesra rambut kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Batang kejantananku terasa semakin besar dan mendesak &lt;br /&gt;                        liar di dalam CD-ku. Teng..., teng..., teng..., aku &lt;br /&gt;                        mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh &lt;br /&gt;                        kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku &lt;br /&gt;                        yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan &lt;br /&gt;                        menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku &lt;br /&gt;                        telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan akal &lt;br /&gt;                        sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. &lt;br /&gt;                        Kenikmatan seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah &lt;br /&gt;                        membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging &lt;br /&gt;                        segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan &lt;br /&gt;                        bibirku pada bibir Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        aah..., wajah cantiknya itu kelihatan semakin &lt;br /&gt;                        berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah &lt;br /&gt;                        indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola &lt;br /&gt;                        matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku &lt;br /&gt;                        melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot &lt;br /&gt;                        matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan &lt;br /&gt;                        hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia pasti jelas &lt;br /&gt;                        sudah tak perawan lagi,... aku hanya bisa menduga-duga &lt;br /&gt;                        dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya &lt;br /&gt;                        selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Aku menginginkanmu, Tante...", bisikku padanya terus &lt;br /&gt;                        terang. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu, namun &lt;br /&gt;                        bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri. &lt;br /&gt;                        Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk &lt;br /&gt;                        mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.&lt;br /&gt;                        "oouh..., Ar..., Tante juga ingin..., oouhh..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, &lt;br /&gt;                        badanku membungkuk dan meraih tubuh montok Tante vivi &lt;br /&gt;                        dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat &lt;br /&gt;                        tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan &lt;br /&gt;                        manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu &lt;br /&gt;                        masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam &lt;br /&gt;                        kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara &lt;br /&gt;                        jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan &lt;br /&gt;                        wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu &lt;br /&gt;                        kubopong seperti ini.&lt;br /&gt;                        "Kamu ganteng Ar...", bisiknya padaku mesra sambil &lt;br /&gt;                        tersenyum manis.&lt;br /&gt;                        "Kamu juga cantik Tante...", balasku tak kalah mesra. &lt;br /&gt;                        Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.&lt;br /&gt;                        "Ar..., panggil aku Vivi saja yaa...", ujar Tante Vivi &lt;br /&gt;                        padaku. Aku mengangguk senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari &lt;br /&gt;                        boponganku di sisi kiri tempat tidurnya. Kami berdua &lt;br /&gt;                        saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter. &lt;br /&gt;                        Aah..., kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku &lt;br /&gt;                        ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, &lt;br /&gt;                        lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, &lt;br /&gt;                        bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan &lt;br /&gt;                        kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya &lt;br /&gt;                        yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis &lt;br /&gt;                        remaja, pahanya yang seksi dan aah..., kubayangkan &lt;br /&gt;                        betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu &lt;br /&gt;                        menonjol dari balik celana jeansnya..., mm..., betapa &lt;br /&gt;                        nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang &lt;br /&gt;                        vaginanya yang sempit dan hangat..., mm akan kutumpahkan &lt;br /&gt;                        sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya &lt;br /&gt;                        sebagai bukti kejantananku..., "Oohh.., Vivi...", &lt;br /&gt;                        bisikku dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan &lt;br /&gt;                        kenikmatan.&lt;br /&gt;                        "Ar..., kamu duluan sayang...", bisik Tante Vivi, &lt;br /&gt;                        membuyarkan fantasi seks-ku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia &lt;br /&gt;                        mengetahui apa yang ada dalam pikiranku kedua jemari &lt;br /&gt;                        tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya &lt;br /&gt;                        sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua &lt;br /&gt;                        bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju &lt;br /&gt;                        kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak &lt;br /&gt;                        tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi tahu &lt;br /&gt;                        betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam &lt;br /&gt;                        CD-ku seolah memberontak ingin keluar. aah..., dengan &lt;br /&gt;                        cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu &lt;br /&gt;                        dengan cepat..., srrt..., kulemparkan bajuku sekenanya &lt;br /&gt;                        ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari &lt;br /&gt;                        tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda..., srrt..., &lt;br /&gt;                        kutarik kaos singletku keatas sampai lepas dan kulempar &lt;br /&gt;                        sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari &lt;br /&gt;                        gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan &lt;br /&gt;                        menarik turun ritsluiting celana panjangku dan sruut..., &lt;br /&gt;                        langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana &lt;br /&gt;                        baggy dari katun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Ooh...", Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku &lt;br /&gt;                        yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya &lt;br /&gt;                        meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya &lt;br /&gt;                        yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang &lt;br /&gt;                        hitam seakan setengah melotot pula memandang ke tubuhku &lt;br /&gt;                        bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum &lt;br /&gt;                        geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku &lt;br /&gt;                        yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai &lt;br /&gt;                        kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam &lt;br /&gt;                        celana dalamku. Begitu besar dan tebal mendongak ke atas &lt;br /&gt;                        persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan &lt;br /&gt;                        bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang &lt;br /&gt;                        penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14 &lt;br /&gt;                        centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang &lt;br /&gt;                        paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip &lt;br /&gt;                        sekali dengan milik bintang film porno "Rocco &lt;br /&gt;                        Siffredi"..., montok dan berurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal &lt;br /&gt;                        itu dari balik celana dalam. mm..., terasa begitu &lt;br /&gt;                        nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar &lt;br /&gt;                        dan menempel pada jemari tanganku. mm..., bagaimanapun &lt;br /&gt;                        juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut &lt;br /&gt;                        keperawanan Dina. Tass..., Sekelebat bayangan wajah Dina &lt;br /&gt;                        seolah berada di depan pelupuk mataku. Aku seolah &lt;br /&gt;                        tersadar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Astaga..., aah..., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku &lt;br /&gt;                        seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk. Dan &lt;br /&gt;                        ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku &lt;br /&gt;                        semakin menjerit. aah..., apa yang aku lakukan Selva..? &lt;br /&gt;                        Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku &lt;br /&gt;                        mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang &lt;br /&gt;                        mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain &lt;br /&gt;                        pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan &lt;br /&gt;                        melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap &lt;br /&gt;                        Tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yang &lt;br /&gt;                        menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan &lt;br /&gt;                        indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang lagi. &lt;br /&gt;                        Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu &lt;br /&gt;                        seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata &lt;br /&gt;                        menanti perang di batinku akan berakhir. Aku merasa &lt;br /&gt;                        imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh &lt;br /&gt;                        dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante &lt;br /&gt;                        Vivi sudah tak berada di hadapanku lagi. Semula aku &lt;br /&gt;                        sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri &lt;br /&gt;                        dan..., Astagaa..., mataku terbeliak kaget menyaksikan &lt;br /&gt;                        pemandangan indah yang begitu luar biasa..., begitu &lt;br /&gt;                        mempesona..., begitu menggairahkan..., begitu aahh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan &lt;br /&gt;                        tubuh Tante Vivi yang kini ternyata telah berada di atas &lt;br /&gt;                        pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu &lt;br /&gt;                        putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, &lt;br /&gt;                        jauh lebih putih dari tubuh Dina..., memamerkan semua &lt;br /&gt;                        keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya &lt;br /&gt;                        yang bak gadis usia remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 03&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-8964766204367990804?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/8964766204367990804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=8964766204367990804' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/8964766204367990804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/8964766204367990804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/tante-vivi-02.html' title='TANTE VIVI 02'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-6982584945248408062</id><published>2007-05-07T23:22:00.002-07:00</published><updated>2007-05-07T23:23:44.714-07:00</updated><title type='text'>TANTE VIVI 01</title><content type='html'>Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. &lt;br /&gt;                        Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun &lt;br /&gt;                        saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk &lt;br /&gt;                        menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.&lt;br /&gt;                        9.15 malam: Aku masih ragu-ragu..., berangkat..., &lt;br /&gt;                        tidak..., berangkat..., tidak.&lt;br /&gt;                        9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar &lt;br /&gt;                        menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Lho..., Ar..., kok kamu belum berangkat, bisa dateng &lt;br /&gt;                        tidak Ar?..", tanyanya kendengaran agak kecewa.&lt;br /&gt;                        "Mm..., gimana ya Tante..., agak gerimis nih di &lt;br /&gt;                        sini...", sahutku beralasan.&lt;br /&gt;                        "Masa iya Ar..., yaah..., kalo gitu Tante jemput aja &lt;br /&gt;                        yaa...", balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi &lt;br /&gt;                        blingsatan dibuatnya.&lt;br /&gt;                        "Waah..., tidak usah deh Tante..., okelah saya ke sana &lt;br /&gt;                        sekarang Tante..., mm Selva saya ajak ya Tante...", &lt;br /&gt;                        sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak &lt;br /&gt;                        mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku &lt;br /&gt;                        tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang &lt;br /&gt;                        malam-malam. Tapi...&lt;br /&gt;                        "iih..., jangan Ar..., Selva jangan diajak..., mm &lt;br /&gt;                        pokoknya ke sini aja dulu Ar..., yaa..., Tante &lt;br /&gt;                        tunggu..., Klik", sekali lagi seolah disengaja Tante &lt;br /&gt;                        Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia &lt;br /&gt;                        mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada &lt;br /&gt;                        waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva &lt;br /&gt;                        kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. &lt;br /&gt;                        Wuueek..., kaya pakar wae..., sekarang baru kena &lt;br /&gt;                        getahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar &lt;br /&gt;                        agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik &lt;br /&gt;                        air gerimis malam yang dingin&lt;br /&gt;                        .Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat &lt;br /&gt;                        Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi &lt;br /&gt;                        sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum &lt;br /&gt;                        dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.&lt;br /&gt;                        Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi &lt;br /&gt;                        rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia &lt;br /&gt;                        mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.&lt;br /&gt;                        "aahh..., akhirnya dateng juga kamu Ar...", katanya &lt;br /&gt;                        ramah dari balik pintu depan.&lt;br /&gt;                        "Iya..., Tante...", sahutku berusaha ramah, bagaimanapun &lt;br /&gt;                        aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam &lt;br /&gt;                        kehujanan lagi.&lt;br /&gt;                        "Agak gerimis ya Ar...", tanyanya seolah tak mau tau.&lt;br /&gt;                        "Hsii...", Tanpa sadar aku terbersin.&lt;br /&gt;                        "Eehh..., kamu Flu Ar...", tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab &lt;br /&gt;                        terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk &lt;br /&gt;                        ke dalam dan menutup pintu. "Klik...", sekaligus &lt;br /&gt;                        menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku &lt;br /&gt;                        sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak &lt;br /&gt;                        meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu &lt;br /&gt;                        tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat &lt;br /&gt;                        dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Pipimu dingin sekali Ar..., kamu pasti masuk angin &lt;br /&gt;                        yaa..., Tante bikinin susu jahe anget yaa...", sahutnya &lt;br /&gt;                        lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat &lt;br /&gt;                        sekali dengan mukaku. "Duh..., cantiknya". Kulitnya yang &lt;br /&gt;                        putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit &lt;br /&gt;                        sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa &lt;br /&gt;                        celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya &lt;br /&gt;                        yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan &lt;br /&gt;                        begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum &lt;br /&gt;                        kecil melihatku setengah melongo.&lt;br /&gt;                        "Kamu duduk dulu Ar..., Tante ke belakang dulu...", &lt;br /&gt;                        sahutnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan &lt;br /&gt;                        bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke &lt;br /&gt;                        belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm &lt;br /&gt;                        kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat &lt;br /&gt;                        langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu &lt;br /&gt;                        kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta &lt;br /&gt;                        memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan &lt;br /&gt;                        dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya &lt;br /&gt;                        seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif &lt;br /&gt;                        panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup &lt;br /&gt;                        sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, &lt;br /&gt;                        membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk &lt;br /&gt;                        tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya &lt;br /&gt;                        yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. &lt;br /&gt;                        Begitu gemulai bagai penari Jaipong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa &lt;br /&gt;                        empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan &lt;br /&gt;                        tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam &lt;br /&gt;                        bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di &lt;br /&gt;                        belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa &lt;br /&gt;                        lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai &lt;br /&gt;                        kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. &lt;br /&gt;                        Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak &lt;br /&gt;                        sampai mengamati lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas &lt;br /&gt;                        besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena &lt;br /&gt;                        asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan &lt;br /&gt;                        senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku &lt;br /&gt;                        jadi ikutan senang.&lt;br /&gt;                        "Waah..., asiik nih kelihatannya..., wangi lagi &lt;br /&gt;                        baunya..., mm..", kataku spontan.&lt;br /&gt;                        "Pelan-pelan Ar..., masih panas...", sahutnya pendek, &lt;br /&gt;                        sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa &lt;br /&gt;                        risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.&lt;br /&gt;                        "Gimana kuliah Selva Ar..., kapan nih rencana mau &lt;br /&gt;                        majunya...", tanya Tante Vivi kemudian.&lt;br /&gt;                        "Entah Tante..., setahu saya sih bulan depan ini dia &lt;br /&gt;                        harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal &lt;br /&gt;                        maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..", sahutku &lt;br /&gt;                        polos.&lt;br /&gt;                        "iih.., kamu ini gimana sih Ar..., pacarnya sendiri kok &lt;br /&gt;                        tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya...", ujar &lt;br /&gt;                        Tante Vivi setengah bercanda.&lt;br /&gt;                        "aah..., Tau aja Tante..., tidak salah...", sahutku &lt;br /&gt;                        sambil ketawa nyaring.&lt;br /&gt;                        "Kamu menyukai dia Ar...", tanya Tante Vivi kemudian, &lt;br /&gt;                        seolah setengah malas menanggapi candaku.&lt;br /&gt;                        " Waah..., Tante ini gimana sih..., ya jelas dong &lt;br /&gt;                        Tante..., lagipula sekarang kami sudah sangat serius &lt;br /&gt;                        menjalin hubungan ini..., saya mencintainya Tante...", &lt;br /&gt;                        sahutku sedikit serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih &lt;br /&gt;                        terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya &lt;br /&gt;                        yang tak terlalu lebar.&lt;br /&gt;                        "Tidak Ar..., Tante khan cuman nanya..., soalnya Tante &lt;br /&gt;                        lihat Selva sayang sekali sama kamu...", ujarnya &lt;br /&gt;                        kemudian.&lt;br /&gt;                        "Jangan kuatir deh Tante...", sahutku pelan sambil &lt;br /&gt;                        mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya &lt;br /&gt;                        itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di &lt;br /&gt;                        lidah dan kerongkonganku.&lt;br /&gt;                        "Komputernya di taruh mana Tante...", tanyaku tanpa &lt;br /&gt;                        memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk &lt;br /&gt;                        menghabiskan minumanku.&lt;br /&gt;                        "Tuh..., di kamar kerja Tante...",sahutnya pendek. &lt;br /&gt;                        Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi &lt;br /&gt;                        yang berada di sebelahku.&lt;br /&gt;                        "Lalu tunggu apalagi nih...", ujarku setengah bercanda.&lt;br /&gt;                        "Apanya...?", tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. &lt;br /&gt;                        Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.&lt;br /&gt;                        "Lhoh..., katanya pengen diker..., eeh diajarin...", &lt;br /&gt;                        lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, &lt;br /&gt;                        jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. &lt;br /&gt;                        Untung tidak kebablasan ngomomg.&lt;br /&gt;                        "ooh..., iya.., aduuh Tante sampai kaget..., Yuk ke &lt;br /&gt;                        kamar Ar...", sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami &lt;br /&gt;                        berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia &lt;br /&gt;                        maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang &lt;br /&gt;                        dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan &lt;br /&gt;                        pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi &lt;br /&gt;                        lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada &lt;br /&gt;                        di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke &lt;br /&gt;                        sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah &lt;br /&gt;                        setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Masuk Ar..., sorry ruangannya agak berantakan...", &lt;br /&gt;                        ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam &lt;br /&gt;                        ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup &lt;br /&gt;                        besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi &lt;br /&gt;                        walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai &lt;br /&gt;                        persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah &lt;br /&gt;                        karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa &lt;br /&gt;                        majalah wanita yang halamannya masih terbuka &lt;br /&gt;                        disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang &lt;br /&gt;                        cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah &lt;br /&gt;                        buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 &lt;br /&gt;                        kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah &lt;br /&gt;                        hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang &lt;br /&gt;                        berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar &lt;br /&gt;                        Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah..., &lt;br /&gt;                        ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran &lt;br /&gt;                        sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari &lt;br /&gt;                        ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna &lt;br /&gt;                        merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan &lt;br /&gt;                        kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur &lt;br /&gt;                        terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Waduuh..., ini tempat kerja apa kamar Tante...?", &lt;br /&gt;                        tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini &lt;br /&gt;                        terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang &lt;br /&gt;                        berukuran 3x4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi &lt;br /&gt;                        sebesar ini.&lt;br /&gt;                        "Dua-duanya Ar..., ya kamar kerja ya..., tempat &lt;br /&gt;                        tidur..., mm..., Tante khan cuman sendirian di rumah ini &lt;br /&gt;                        Ar...", sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.&lt;br /&gt;                        "Sendirian..., maksud Tante?", tanyaku kepadanya tak &lt;br /&gt;                        mengerti.&lt;br /&gt;                        "Lhoh..., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu..., &lt;br /&gt;                        Tante khan..., sudah bercerai Ar...", sahutnya kemudian. &lt;br /&gt;                        Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya &lt;br /&gt;                        sedikit terpatah-patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Astaga..., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru &lt;br /&gt;                        menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi &lt;br /&gt;                        menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini &lt;br /&gt;                        Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun..., kenapa aku &lt;br /&gt;                        tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku &lt;br /&gt;                        datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat &lt;br /&gt;                        orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu &lt;br /&gt;                        kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku &lt;br /&gt;                        datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. &lt;br /&gt;                        Jadii..., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi &lt;br /&gt;                        teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang &lt;br /&gt;                        pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, &lt;br /&gt;                        terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya &lt;br /&gt;                        mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar &lt;br /&gt;                        merayu. Jangan-jangan..., pikirku mulai ngeres lagi.&lt;br /&gt;                        "ooh..., maaf Tante saya baru tahu sekarang...", ujarku &lt;br /&gt;                        lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.&lt;br /&gt;                        " Udahlah Ar..., itu masa lalu..., tidak usah diungkit &lt;br /&gt;                        lagi...", ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada &lt;br /&gt;                        setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang &lt;br /&gt;                        indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari &lt;br /&gt;                        tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di &lt;br /&gt;                        depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah &lt;br /&gt;                        berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan &lt;br /&gt;                        di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak &lt;br /&gt;                        membantunya.&lt;br /&gt;                        "Sini Ari bantu Tante...", kataku pendek. Tanpa menoleh &lt;br /&gt;                        ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah &lt;br /&gt;                        yang masih tersisa.&lt;br /&gt;                        "iih sudah Ar..., tidak usah..., kok kamu ikutan &lt;br /&gt;                        repot...",sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah &lt;br /&gt;                        cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka &lt;br /&gt;                        menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku &lt;br /&gt;                        sempat terpana selama 2 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        " Tante tidak menikah lagi...?", tanyaku padanya tanpa &lt;br /&gt;                        sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, &lt;br /&gt;                        jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata &lt;br /&gt;                        tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.&lt;br /&gt;                        "Siapa yang mau sama aku Ar...?"&lt;br /&gt;                        "aah..., Ari kira banyak Tante..."&lt;br /&gt;                        "Siapaa...?"&lt;br /&gt;                        "Ari juga mau Tante...", kataku cuek, karena maksudku &lt;br /&gt;                        memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa &lt;br /&gt;                        tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke &lt;br /&gt;                        samping.&lt;br /&gt;                        "Hik..., hik..., kamu ini ada-ada aja Ar..., jangan &lt;br /&gt;                        nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki &lt;br /&gt;                        jaman sekarang...", ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk &lt;br /&gt;                        diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli &lt;br /&gt;                        melihatnya melamun sambil memegangi majalah.&lt;br /&gt;                        "Kenapa Tante... ", tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit &lt;br /&gt;                        kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum &lt;br /&gt;                        kecut ia hanya menjawab pendek.&lt;br /&gt;                        "Sudahlah Ar..., jangan bicara masalah itu...". Akupun &lt;br /&gt;                        tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa &lt;br /&gt;                        yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu &lt;br /&gt;                        sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung &lt;br /&gt;                        saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga &lt;br /&gt;                        aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa &lt;br /&gt;                        tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan &lt;br /&gt;                        CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke &lt;br /&gt;                        output soundcard, sambung ke stavolt..., sudah beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Sudah beres Tante..., mm..., mau sambung ke &lt;br /&gt;                        internet...?", tanyaku puas. Agak keringetan juga &lt;br /&gt;                        rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.&lt;br /&gt;                        "aah masa...?, secepat itu Ar...?", tanya Tante Vivi &lt;br /&gt;                        yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah &lt;br /&gt;                        kananku, asyik melihatku bekerja.&lt;br /&gt;                        "Lha..., iya..., gampang khan...", sahutku pendek. &lt;br /&gt;                        Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah &lt;br /&gt;                        tak yakin.&lt;br /&gt;                        "Makanya dicoba dulu dong Tante..., biar tidak &lt;br /&gt;                        nanya-nanya lagi..., mana nih stop kontaknya", tanyaku &lt;br /&gt;                        kemudian.&lt;br /&gt;                        "iih..., hik..., hik..., gitu aja sewot..., jahat kamu &lt;br /&gt;                        Ar..., hik..., hik..., ehem..., itu ada di belakang meja &lt;br /&gt;                        sebelah bawah Ar...", jawabnya sambil setengah tertawa &lt;br /&gt;                        kecil.&lt;br /&gt;                        Aku melongok ke bawah meja..., astaga di bawah situ &lt;br /&gt;                        berarti mestinya aku harus merangkak di situ..., sejenak &lt;br /&gt;                        aku melongo.&lt;br /&gt;                        "Kenapa Ar...?"&lt;br /&gt;                        "Ooh tidak Papa Tante..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk &lt;br /&gt;                        ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil &lt;br /&gt;                        tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. &lt;br /&gt;                        Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, &lt;br /&gt;                        maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan &lt;br /&gt;                        sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang &lt;br /&gt;                        kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa &lt;br /&gt;                        dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke &lt;br /&gt;                        stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku &lt;br /&gt;                        langsung membalikkan tubuh dan astaga..., aku terhenyak &lt;br /&gt;                        kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok &lt;br /&gt;                        membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku &lt;br /&gt;                        menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat &lt;br /&gt;                        baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis &lt;br /&gt;                        kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke &lt;br /&gt;                        bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang &lt;br /&gt;                        sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang &lt;br /&gt;                        sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak &lt;br /&gt;                        buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat &lt;br /&gt;                        melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah &lt;br /&gt;                        susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. &lt;br /&gt;                        Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah &lt;br /&gt;                        kecoklatan. "Yaa aammpuunn...", bisikku lirih tanpa &lt;br /&gt;                        sadar, "Ia tidak pake Behaa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa &lt;br /&gt;                        yang sedang kupelototi, 5 detik saja..., bagiku itu &lt;br /&gt;                        sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia &lt;br /&gt;                        menjerit lirih.&lt;br /&gt;                        "iih...", serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, &lt;br /&gt;                        tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas &lt;br /&gt;                        leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan &lt;br /&gt;                        mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, &lt;br /&gt;                        akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri &lt;br /&gt;                        di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, &lt;br /&gt;                        akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        "Maaf Tante..., sa..., Ari tidak sengaja...", ujarku &lt;br /&gt;                        cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya &lt;br /&gt;                        hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.&lt;br /&gt;                        "Sudahlah..., Ar...", sahutnya pendek. Dalam hati aku &lt;br /&gt;                        berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Bersambung ke bagian 02&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-6982584945248408062?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/6982584945248408062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=6982584945248408062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/6982584945248408062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/6982584945248408062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/tante-vivi-01.html' title='TANTE VIVI 01'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-8883810600784247618</id><published>2007-05-07T23:22:00.001-07:00</published><updated>2007-05-07T23:22:47.484-07:00</updated><title type='text'>PANGANDARAN</title><content type='html'>Pengalaman ini terjadi waktu saya masih di SMA. &lt;br /&gt;                        Menjelang perpisahan SMA, saya dan teman-teman sekelas &lt;br /&gt;                        berencana untuk pergi ke Pangandaran. Di sana, kita &lt;br /&gt;                        menginap di sebuah penginapan yang jaraknya dekat dengan &lt;br /&gt;                        pantai. Kita semua benar-benar bersenang-senang, &lt;br /&gt;                        keliling pantai bersama-sama. Pada malamnya banyak &lt;br /&gt;                        temanku yang jalan-jalan menyusuri pantai sama cewek &lt;br /&gt;                        atau cowoknya masing-masing. Saking asyiknya, mereka &lt;br /&gt;                        sampai lupa pulang, ceritanya sih mereka bersetubuh sama &lt;br /&gt;                        pasangannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Di malam kedua, teman-temanku sedang keluar semua. &lt;br /&gt;                        Tinggallah saya dengan teman cewek saya (Eva).&lt;br /&gt;                        Saya tanya dia, "Eva, kenapa kok tidak keluar?".&lt;br /&gt;                        Dengan entengnya dia menjawab, "Tidak ah, saya lagi &lt;br /&gt;                        sedikit pusing".&lt;br /&gt;                        Mendengar jawabannya seperti itu, otomatis saya sebagai &lt;br /&gt;                        temannya harus menjaga dia (masa` ditinggal sendiri?). &lt;br /&gt;                        Malam itu saya menemaninya di kamarnya sambil nonton TV. &lt;br /&gt;                        Waktu jam 8 malam, dia mandi (katanya sih gerah). Saya &lt;br /&gt;                        sih cuek saja. Setelah 15 menit dia mandi, dia &lt;br /&gt;                        memanggilku minta dibawakan handuk (Dia kelupaan). Ya &lt;br /&gt;                        sudah, saya ambilin. Tapi saya kaget ketika dia minta &lt;br /&gt;                        handuk itu langsung saja dibawa masuk ke kamar mandi dan &lt;br /&gt;                        pintunya tidak dikunci. Pertama saya gugup sekali. &lt;br /&gt;                        Dengan perlahan-lahan saya masukin tanganku untuk &lt;br /&gt;                        memberikan handuk ke dia. Lalu dia menjawab, "Duh, Wolf &lt;br /&gt;                        tanganku nggak nyampe.., saya lagi ada di shower nih..., &lt;br /&gt;                        Masuk saja deh. tidak apa-apa". Mendengar ajakan itu, &lt;br /&gt;                        saya masuk. Dengan pelan saya taruh handuk itu di tempat &lt;br /&gt;                        wastafel yang jaraknya ketika di sebelah shower yang &lt;br /&gt;                        tertutup tirai tipis. Tapi saya kaget banget, ketika &lt;br /&gt;                        saya lagi meletakkan handuk. Tangannya yang basah nongol &lt;br /&gt;                        menyentuh tanganku. Lalu setelah itu dia keluar berbugil &lt;br /&gt;                        ria dari shower dengan tubuh yang masih basah total. &lt;br /&gt;                        Pada waktu itu, penglihatanku terarah ke dua payudaranya &lt;br /&gt;                        yang besar, padat, dan indah. Lalu kulitnya yang putih &lt;br /&gt;                        bersih. Pokoknya pemandangan itu membuat penisku tegang &lt;br /&gt;                        banget. Setelah itu dia langsung meraih tangan ku dan &lt;br /&gt;                        mengusapkan tangan kananku itu ke payudaranya yang indah &lt;br /&gt;                        itu seraya berkata "ooh, Wolf. Rasakanlah payudaraku ini &lt;br /&gt;                        dan rasakan pula detak jantungku yang berdebar." Telapak &lt;br /&gt;                        tanganku diusapkannya di payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Dia berkata "ooh, Wolf. Saya sudah tidak tahan lagi. &lt;br /&gt;                        Usaplah payudaraku ini dan kita main yuk!". Sebagai &lt;br /&gt;                        cowok normal, saya pasti ereksi. Lalu pelan-pelan tangan &lt;br /&gt;                        kananku memeras payudaranya yang kanan. "Yaa, itu Wolf. &lt;br /&gt;                        Nikmat sekali. Teruskan Wolf!". Sewaktu tanganku meremas &lt;br /&gt;                        pelan payudaranya, Tangan Eva dengan ringan membuka &lt;br /&gt;                        kancing-kancing bajuku. Setelah kancing bajuku terlepas &lt;br /&gt;                        semua, Bibirnya yang ranum dan merah merekah itu &lt;br /&gt;                        pelan-pelan mencium dan menjilati dadaku. Lidahnya yang &lt;br /&gt;                        panjang itu terasa nikmat sekali di dadaku. Lalu dia &lt;br /&gt;                        kubalas dengan tangan kananku yang kuarahkan ke &lt;br /&gt;                        pantatnya yang besar dan bersih dan tangan kiriku &lt;br /&gt;                        memeluknya yang diteruskan dengan ciuman saya yang hot &lt;br /&gt;                        di bibirnya itu. Dia mengerang dan menikmatinya, &lt;br /&gt;                        beberapa detik kemudian tangannya membuka retseleting &lt;br /&gt;                        celanaku dan kemudian memelorotinya. Begitu celana &lt;br /&gt;                        dalamku dibuka, penisku yang sudah ereksi dari tadi &lt;br /&gt;                        langsung meloncat keluar. Melihat penisku yang sudah &lt;br /&gt;                        membesar dan memanjang, dia langsung membungkukkan &lt;br /&gt;                        badannya dan mulutnya itu dengan pelan mengulum penisku. &lt;br /&gt;                        Terasa nikmat sekali "Aah..., Eva..., enak Va..., &lt;br /&gt;                        terusin Va!". Lidahnya itu dengan leluasa menjilati &lt;br /&gt;                        permukaan penisku dan puncaknya, lidahnya diarahkan ke &lt;br /&gt;                        pucuk penisku. Setelah berselang beberapa detik, giginya &lt;br /&gt;                        itu langsung menggigit penisku dan langsung mengocoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah setengah jam kita melakukan foreplay di kamar &lt;br /&gt;                        mandi, ternyata dia masih belum puas juga. "Wolf, yuk &lt;br /&gt;                        kita lanjutin di tempat tidur! saya pengin lebih hot &lt;br /&gt;                        lagi". Dengan perlahan, saya angkat dia dalam keadaan &lt;br /&gt;                        sama-sama telanjang bulat. Setelah sampai di pinggir &lt;br /&gt;                        tempat tidur, perlahan-lahan saya taruh badannya di atas &lt;br /&gt;                        tempat tidur. Masih dalam keadaan membungkuk, saya ciumi &lt;br /&gt;                        bibirnya dan saya jilat payudaranya yang makin membesar &lt;br /&gt;                        itu. "Oyaa, terusin Wolf, terusin", Mendengar omongannya &lt;br /&gt;                        saya jadi semakin buas menikmati tubuhnya. Saya rebahkan &lt;br /&gt;                        badannya menjadi dalam keadaan telentang, susunya yang &lt;br /&gt;                        membesar terlihat bagai Gunung Bromo yang menjulang &lt;br /&gt;                        tinggi. Payudaranya itu langsung saya serbu dengan &lt;br /&gt;                        jilatan lidahku. Setelah itu, mulutku diarahkan ke arah &lt;br /&gt;                        selangkangannya. Terlihat bulu vaginanya lebat bak hutan &lt;br /&gt;                        perawan yang masih belum terjamah. Dengan asyik, &lt;br /&gt;                        tanganku mengobrak-abrik bulu vaginanya dan terlihatlah &lt;br /&gt;                        dinding daging tipis alias vaginanya. Langsung saya &lt;br /&gt;                        jilati vaginanya dengan buas dan Eva langsung menjerit &lt;br /&gt;                        kenikmatan sambil mengerang dan berkata "Terusin Wolf, &lt;br /&gt;                        terusin". Masukin lidahmu itu ke 'dompet'ku". Anehnya &lt;br /&gt;                        vaginanya yang rata-rata orang bilang vagina cewek itu &lt;br /&gt;                        biasanya kebanyakan bau tak sedap, tapi vagina Eva &lt;br /&gt;                        terasa harum dan nikmat. Baunya yang justru harum itu &lt;br /&gt;                        membuat saya makin terangsang lagi untuk lebih lama &lt;br /&gt;                        menikmati vaginanya. Sambil menciumi vaginanya, kedua &lt;br /&gt;                        tanganku juga meraba kedua belah payudaranya, Eva hanya &lt;br /&gt;                        mengerang lagi dan memegang kedua tanganku dengan erat. &lt;br /&gt;                        Setelah setengah jam saya terus begitu, akhirnya Eva &lt;br /&gt;                        minta posisinya diganti ke atas. Saya turuti dech, masa &lt;br /&gt;                        saya terus yang gerilya? Saya langsung pindah jadi di &lt;br /&gt;                        bawah dan eva di atas. Sebelum mulai aksinya, Eva &lt;br /&gt;                        pertama-tama meremas sendiri kedua payudaranya dan mimik &lt;br /&gt;                        wajahnya itu yang membuatku tambah syuur. Sehabis &lt;br /&gt;                        meremas-remas sendiri kedua payudaranya, dia langsung &lt;br /&gt;                        memulai aksinya dengan mencium dan menjilati bibirku &lt;br /&gt;                        seraya tangannya meremas-remas dadaku yang agak bidang &lt;br /&gt;                        dan meraba-raba puting susuku. Bibirnya benar-benar &lt;br /&gt;                        fantastik, terasa nikmat dan pokoknya tidak bisa saya &lt;br /&gt;                        uraikan dengan kata-kata. Puas dengan menciumi dan &lt;br /&gt;                        menjilati bibirku, perhatiannya mengarah pelan-pelan ke &lt;br /&gt;                        bawah. Pertama-tama dia menciumi dan menjilati leherku &lt;br /&gt;                        dan kadang-kadang menggigit leherku, serasa benar-benar &lt;br /&gt;                        nikmat. Sambil menikmati leherku, tangan kanannya &lt;br /&gt;                        berpindah posisi menjadi di penisku. Dengan enaknya dia &lt;br /&gt;                        mengocok penisku, ke atas..., ke bawah..., ke atas... &lt;br /&gt;                        Dan seterusnya. Kocokannya benar-benar membuat mataku &lt;br /&gt;                        merem melek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Kemudian setelah menciumi, menjilati dan menggigit &lt;br /&gt;                        leherku, matanya tertuju ke dadaku. Lidahnya langsung &lt;br /&gt;                        menjilati puting susuku. Tapi dia cuma sebentar &lt;br /&gt;                        menjilati puting susuku, perhatiannya langsung tertuju &lt;br /&gt;                        ke penisku yang sudah besar dari tadi. Bibirnya langsung &lt;br /&gt;                        menjilat penisku, terasa nikmat sekali. Lidahnya itu &lt;br /&gt;                        yang membuatku puas sekali, dengan pelan-pelan lidahnya &lt;br /&gt;                        mnjilati penisku sambil tangannya yang kecil itu terus &lt;br /&gt;                        mengocoknya. "Aach Eva..., Nikmat sekali Va Ohh", Selang &lt;br /&gt;                        beberapa menit kemudian, sewaktu dia masih mengocok &lt;br /&gt;                        penisku. Terasa ada sesuatu yang hangat mengalir dari &lt;br /&gt;                        penisku dan serasa hendak meletus keluar. saya bilangin &lt;br /&gt;                        ke Eva, "Awas Va, saya mau keluar Va. Tahan dulu &lt;br /&gt;                        kocokanmu, Jangan sampai spermaku keluar Va saya masih &lt;br /&gt;                        pengin nerusin Va!!", Tapi dengan cuek dia malah &lt;br /&gt;                        bertambah giat dan keras mengocok penisku sambil &lt;br /&gt;                        lidahnya menjilati pucuk penisku. Beberapa menit &lt;br /&gt;                        kemudian keluarlah cairan kenikmatan yang berwarna putih &lt;br /&gt;                        yang disebut sperma. Dan spermaku mengenai mulutnya dan &lt;br /&gt;                        ada sebagian yang sengaja dijilat dan ditelan Eva. &lt;br /&gt;                        Terasa nikmat sekali!, Eva terus menjilati sisa-sisa &lt;br /&gt;                        sperma yang keluar dari penisku. Sementara Eva masih &lt;br /&gt;                        sibuk dengan penisku, aku istirahat sejenak dalam &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang tiada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Sewaktu saya masih istirahat, terasa Eva masih sibuk &lt;br /&gt;                        dengan penisku. Karena saya kasihan Eva belum mencapai &lt;br /&gt;                        orgasme, Langsung saja saya bangun dan meneruskan aksi. &lt;br /&gt;                        Saya suruh Eva pindah posisi jadi di bawah, langsung dia &lt;br /&gt;                        turuti. Sejenak sebelum memasukkan penisku, saya kocok &lt;br /&gt;                        sebentar penisku agar membesar dan Eva membantuku dengan &lt;br /&gt;                        ikut mengocoknya. Selang beberapa detik kemudian penisku &lt;br /&gt;                        langsung berdiri lagi dan langsung saya masukkan ke &lt;br /&gt;                        vaginanya. Eva langsung teriak dan mengerang kenikmatan, &lt;br /&gt;                        "Aacchh". Tetapi terasa posisiku kurang nikmat, saya &lt;br /&gt;                        cabut lagi penisku dan saya taruh bantal di atas pantat &lt;br /&gt;                        Eva supaya penisku terasa nikmat masuk divaginanya. &lt;br /&gt;                        Begitu saya masukin penisku dalam-dalam, terasa &lt;br /&gt;                        vaginanya hangat dan sudah penuh cairan yang membuat &lt;br /&gt;                        penetrasi penisku terasa nikmat dan licin. Ini pertanda &lt;br /&gt;                        Eva sudah mengalami orgasme sebelum saya masukin &lt;br /&gt;                        penisku. Penisku, aku tarik pelan-pelan, masukin lagi &lt;br /&gt;                        pelan-pelan dan demikian seterusnya. Eva lagi-lagi &lt;br /&gt;                        berteriak kecil dan mengerang. Saya biarin Eva berteriak &lt;br /&gt;                        dan mengerang, saya terusin aksiku dengan membuat &lt;br /&gt;                        variasi seperti menggoyang pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Selang 45 menit saya meneruskan aksiku, Eva pelan-pelan &lt;br /&gt;                        berbisik "Wolf, saya sudah tidak kuat lagi..., saya &lt;br /&gt;                        sudah pengin keluar..., Cairan spermaku sudah mau &lt;br /&gt;                        keluar!". Ternyata benar juga, beberapa detik kemudian &lt;br /&gt;                        di penisku terasa ada banyak cairan yang menyelimuti. &lt;br /&gt;                        Saya biarkan penisku di dalam vagina Eva selama beberapa &lt;br /&gt;                        menit selama Eva orgasme. Sebab saya baca, cewek senang &lt;br /&gt;                        kalau sewaktu dia orgasme, penis cowoknya berada &lt;br /&gt;                        dalam-dalam di vaginanya. Dan benar juga kata buku, Eva &lt;br /&gt;                        terlihat sangat puas. Begitu dia selesai orgasme, &lt;br /&gt;                        beberapa menit kemudian selama penisku masih di dalam, &lt;br /&gt;                        terasa spermaku masih mau keluar. Buru-buru saya cabut &lt;br /&gt;                        penisku dari vagina Eva dan Eva langsung menyambutnya &lt;br /&gt;                        dengan kuluman yang hebat sekali. Sekali lagi spermaku &lt;br /&gt;                        langsung tumpah ke arah muka Eva, sekeliling bibirnya &lt;br /&gt;                        langsung dipenuhi dengan spermaku yang ternyata banyak &lt;br /&gt;                        sekali. Sebagian cairan putih itu masuk ke mulutnya dan &lt;br /&gt;                        sebagian ada yang tumpah ke payudaranya dan ke sprei. &lt;br /&gt;                        Eva memintaku untuk menjilat spermaku yang tumpah ke &lt;br /&gt;                        payudaranya dan saya turuti. Lidahku menyapu sisa-sisa &lt;br /&gt;                        spermaku di payudaranya dan Eva terlihat benar-benar &lt;br /&gt;                        menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        Setelah puas, saya dan dia langsung lemas dan langsung &lt;br /&gt;                        tidur sambil dalam keadaan polos sampai pagi (tanpa &lt;br /&gt;                        berselimut). Pagi-paginya dia sudah bangun dan nonton TV &lt;br /&gt;                        masih dalam keadaan telanjang. Langsung tubuhnya yang &lt;br /&gt;                        indah itu saya tutupi dengan jaketku supaya tidak masuk &lt;br /&gt;                        angin, dia menolak seraya berbisik, "Wolf, lue hebaat &lt;br /&gt;                        sekali tadi malam. Baru lu cowok yang bisa muasin saya. &lt;br /&gt;                        cowok yang lain yang pernah nidurin saya terasa hambar. &lt;br /&gt;                        saya pengin lagi Wolf. saya pengin pagi dan malam &lt;br /&gt;                        selanjutnya kita terus bertelanjang bugil dan main &lt;br /&gt;                        terus. Kita cek out saja dari penginapan ini. Kita &lt;br /&gt;                        bilang ke anak-anak kalau kita ada urusan lain dan harus &lt;br /&gt;                        cepat pulang ke Bandung. Terus kita cek in ke hotel &lt;br /&gt;                        lain". Ternyata saya lebih gila daripada dia, saya &lt;br /&gt;                        terima saja. Beberapa jam kemudian teman-temanku datang, &lt;br /&gt;                        saya langsung pamit mau pulang sama Eva. Mereka percaya &lt;br /&gt;                        saja.&lt;br /&gt;                        Langsung deh kita cabut dan cek in di penginapan yang &lt;br /&gt;                        jauh dari mereka. Dan pengalaman itu diteruskan di hotel &lt;br /&gt;                        yang baru, siang malam saya dan Eva mengadakan pesta &lt;br /&gt;                        seks tanpa istirahat. Kecuali buat makan, dan minum. &lt;br /&gt;                        Setiap kali sehabis bersetubuh, saya dan Eva merasakan &lt;br /&gt;                        kenikmatan yang tiada tara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-8883810600784247618?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/8883810600784247618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=8883810600784247618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/8883810600784247618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/8883810600784247618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/pangandaran.html' title='PANGANDARAN'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-4569632829262334944</id><published>2007-05-07T23:21:00.001-07:00</published><updated>2007-05-07T23:21:52.597-07:00</updated><title type='text'>NYOKAP</title><content type='html'>Gue mau nyeritain pengalaman gue yang aneh tapi lucu, deh. ‘Kali aje elu elu &lt;br /&gt;semua pade ketawa.&lt;br /&gt;Ceritanya gini, waktu itu gue kebetulan lagi mandi dan ada yang ketok-ketok &lt;br /&gt;pintu terus kedengeran suara nyokap gue, katanya biar gue mandinya agak cepetan &lt;br /&gt;abis dia mau berak. Tapi apa boleh buat, gue lagi bersiin memek gue, trus gue &lt;br /&gt;buka aja pintunya dan gue suruh dia masuk. Karena nyokap udah kagak tahan lagi, &lt;br /&gt;langsung aja nyelonong, jadi berduaan deh kita di dalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berak, nyokap cebok dan kelihatan, deh, jembutnye yang lebat tapi &lt;br /&gt;memeknya kagak kelihatan lantaran ketutupan ame jembut yang udah kayak utan &lt;br /&gt;belantara gitu. Trus nyokap ngomong ke gue kalo’ jembut gue juga lebat banget, &lt;br /&gt;karena nyokap juga suka bercanda, ya gue tanya aja sama dia apa gue boleh liat &lt;br /&gt;memeknya. Eh, dia kasih liat juga, lho.&lt;br /&gt;Mungkin juga karena sama-sama cewek dan apalagi gue adalah anaknya sendiri, jadi &lt;br /&gt;dia kagak malu. Lumayan indah juga, sih, hampir sama ama yang pernah gue liat di &lt;br /&gt;majalah porno ama film cabul. Bibir memeknya berwarna merah muda dan sudah agak &lt;br /&gt;keluar, dan kelihatan masih seger banget. Kayaknya nyokap gue ini rajin juga &lt;br /&gt;dalam hal pemeliharaan memek.&lt;br /&gt;Udah liat begitu gue bilang ame tuh nyokap kalau memeknya seindah seperti yang &lt;br /&gt;di majalah cabul ama filem jorok, trus dia ngomong, “Masa, Lin. Kamu udah &lt;br /&gt;sering, ya, liat-liat yang begituan.”&lt;br /&gt;Gue bilang aja, “Emang bener, kok, Ma. Malah suka diliatin yang lagi dijilatin. &lt;br /&gt;Kelihatan merangsang juga, Ma. Aaaa…..aah, Mama kayak pura-pura nggak tau aja. &lt;br /&gt;Punya Mama juga sering ‘kan dijilatin ama Papa.”&lt;br /&gt;Nyokap gue agak melotot meliat ke gue sambil ngomong, “Hush, kamu ‘ni ngomong &lt;br /&gt;sembarangan aja. Jangan gitu, ah.” Terus gue godain lagi, &lt;br /&gt;“Kira-kiraaaaa…………Ellin boleh nggak, Ma, nyoba njilatin memeknya Mama.” Nyokap &lt;br /&gt;melotot lagi sambil ngomong, “Udah, ah, kamu ‘ni kayak orang kurang kerjaan &lt;br /&gt;aja.” Trus gue rayu lagi, “Yaaaa…… Mama orang Ellin cuma ngajak becanda gitu aja &lt;br /&gt;marah. Masak, sih, Ma ama anak sendiri yang sesama cewek, Mama nggak mau. &lt;br /&gt;Sekaliiii…aja, deh, Ma.”&lt;br /&gt;Nyokap terus menyanggupi, “Ya udah, ya udah. Tapi hanya sekedar coba sekali ini &lt;br /&gt;aja, lho.” Gue cuma ngangguk sambil senyum gembira dan nyokap duduk lagi di &lt;br /&gt;kloset tetapi di atas tutupnya, terus gue jongkok di depan kedua kakinya dan &lt;br /&gt;pelan-pelan nyokap mulai ngangkang. Wah !! OK banget, deh, memeknya, gue liatin &lt;br /&gt;‘bentar dan trus gue julurin lidah gue dan gue sentuh-sentuhin di depan bibir &lt;br /&gt;memeknya. Masih basah karena kena air waktu nyokap cebok tadi. Tapi gue cuek aja &lt;br /&gt;dan mulai, deh, gue berani njilatin semuanya sembari kedua tangan gue &lt;br /&gt;ngelus-ngelus daerah deket pangkal kedua pahanya. Lama-lama enak juga rasanya &lt;br /&gt;karena gue juga kebayang action-action yang ada di blue film yang pernah gue &lt;br /&gt;liat sama temen-temen.&lt;br /&gt;Nggak lama kemudian kedengeran, deh, suara nyokap mendesah dan agak merintih. &lt;br /&gt;Emh, emh, uuuuh, uuuu…..uuuuh. Wah ! rupanya nyokap udah mulai keenakan &lt;br /&gt;terangsang. Ya gue terusin aja soalnya gue juga tambah seneng. Lama-lama nyokap &lt;br /&gt;semakin sering merintih keenakan sambil nyebutin nama gue, Elliiii….iin, &lt;br /&gt;uuuuu….uuh, Liiii…..in, Elliiiiii…..in, emmmmm…mmmh, uuuu…..uuuh. Gue liatin &lt;br /&gt;matanya udah merem ikut nikmatin rasa enak.&lt;br /&gt;Trus keluar, deh, cairan-cairan dari memek nyokap, baunya kurang bisa gue &lt;br /&gt;sebutin tetapi sempet gue jilat juga, rasanya asin dan kecut. Rupanya nyokap &lt;br /&gt;udah nyampe kli- maksnye dan kelihatan dia agak lemes. Gue tanya, “Gimana, Ma. &lt;br /&gt;Enak Ma?” Terus nyokap ngejawab sambil senyum dan melambaikan tangan kanannya ke &lt;br /&gt;arah muka gue, “Lumayan juga. Sialan kamu, ah. Ada-ada aja.” Abis itu gue tanya &lt;br /&gt;lagi, “Kita gantian. Mau nggak, Ma?” Langsung dia jawab, “Eh !!! Kamu ‘ni kok &lt;br /&gt;jadi nglunjak. Udah, ah.” Mulai gue rayu lagi, “Yaaaaaa…….Mama payah. Nggak &lt;br /&gt;feee..eer. Curang.” Nyokap ngomong agak ngotot, “Ya jiiii…iijik donk Lin. Kamu &lt;br /&gt;‘ni apa-apan, sih.” Trus gue berlagak marah sambil cemberut, “Ya, udah !!!!” &lt;br /&gt;Tapi nyokap nimpalin lagi, “Lhooo…..Kamu, kok, jadi gitu siiii….iiih.&lt;br /&gt;Gue ama nyokap diem sebentar, tapi nyokap akhirnya ngajakin juga, “Ya udah, Lin, &lt;br /&gt;sini, deh, mama kerjain daripada kamu cemberut aja. Tapi sekali ini aja, lho.” &lt;br /&gt;Akhirnye gue mulai senyum lagi dan ngomong ke nyokap, “Tapi, Ma.” Belum gue &lt;br /&gt;selesai nyokap nyamber lagi, “Tapi apa lagi.” Gue sambung lagi, “Mama juga harus &lt;br /&gt;telanjang donk biar kayak di filem jorok.” Nyokap ngejawab lagi, “Aduh, Lin, &lt;br /&gt;kamu ini cerewet banget, deh.” Gue mau berpura-pura marah lagi, &lt;br /&gt;“Yaaaaa……..Mama.”&lt;br /&gt;Terus nyokap mulai buka-bukain baju dan BH-nya. Kelihatan toketnya yang bulet &lt;br /&gt;cukup gede tapi udah mulai turun. Asik juga, sih, sempet gue elus-elus dan &lt;br /&gt;remes-remes. Udah gitu nyokap nyuruh gue duduk di kloset kayak dia tadi. &lt;br /&gt;Langsung aje gue kangkangin kaki gue lebar- lebar karena gue udah kepengen &lt;br /&gt;banget. Nyokap ngeliat sebentar ke memek gue sembari ngomong, “Punya kamu masih &lt;br /&gt;rapet. Perawan, sih.” Abis itu, gila, nyokap tanpa ngomong lagi langsungjilatin &lt;br /&gt;memek gue. Wuah ! Rasanya darah gue jadi panas, rasa geli dan enak di memek &lt;br /&gt;terasa hebat banget. Mata gue arahin ke bawah, wah !! gila, lidah nyokap gue &lt;br /&gt;lincah banget gerakannye ngeji- latin memek gue.&lt;br /&gt;Terus kedua tangannya membuka belahan memek gue yang masih rapet dan lidahnya &lt;br /&gt;dimasukin. Uuuuuu…..uuuuh asik banget. Nyokap matanya lihat ke arah muka gue dan &lt;br /&gt;brenti’ sebentar terus nanya, “Gimana Lin. Enak?” Gue jawab aja, “OK banget, Ma. &lt;br /&gt;Terus donk Ma.” Langsung aje nyokap nyamber memek gue lagi, malah sekarang lebih &lt;br /&gt;ganas lagi. Bibir mulutnya ikut beroperasi nyiumin memek gue seperti orang &lt;br /&gt;ciuman mulut ame mulut. Busyet deh ! Asik banget. Mata gue ampe merem terus gue &lt;br /&gt;merintih keenakan. Uuuuuuh, uuuuuuh, aaaaah, Maaaaa…., emmmmm….mh.&lt;br /&gt;Lama-lama gue terasa mau pipis dan langsung gue agak treak, “Maaa…..,Maaa….., &lt;br /&gt;mau pipis, Ma.” Langsung aje nyokap brentiin jilatannya dan gue juga langsung &lt;br /&gt;jongkok sembari ngangkang dansyurrrrrrr……………. air pipis gue keluar semua dan &lt;br /&gt;rasanya nikmaaaaa…..aat banget. Terasa yang keluar banyak banget. Gue nggak &lt;br /&gt;perhatiin apa cairan yang kayak punya nyokap juga keluar dari memek gue.&lt;br /&gt;Abis itu nyokap nanya, “Puas Lin. Enak? He’eh?” Gue ngangguk sembari senyum. &lt;br /&gt;Trus nyokap nyebokin memek gue dengan sabun ampe busanya banyak banget. Terasa &lt;br /&gt;enak lagi elusan tangan nyokap gue. Abis itu kita berdua pada pake baju dan gue &lt;br /&gt;nanya lagi ke nyokap, “Kapan-kapan lagi, ya, Ma. Mama juga suka ‘kan.” Sembari &lt;br /&gt;buka pintu kamar mandi nyokap ngomong, “Bodo’ ah. Ayo keluar. Udah kelamaan di &lt;br /&gt;dalem.” Tapi gue bisa tebak kalo’ nyokap gue doyan banget cuma nggak mau terus&lt;br /&gt;terang aja. Yang penting sekarang gue udah punya pengalaman lah main &lt;br /&gt;jilat-jilatan memek ame nyokap. Enak juga lho.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-4569632829262334944?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/4569632829262334944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=4569632829262334944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4569632829262334944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4569632829262334944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/nyokap.html' title='NYOKAP'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-2518243626277014658</id><published>2007-05-07T23:20:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:21:13.829-07:00</updated><title type='text'>PENGHIBUR HATI</title><content type='html'>Ditinggal mati oleh isteri di usia 39 tahun bukan hal yang menyenangkan. Namaku &lt;br /&gt;Ardy, berasal dari kawasan Timur Indonesia, tinggal di Surabaya. Isteriku Lia &lt;br /&gt;yang terpaut lima tahun dariku telah dipanggil menghadap hadirat penciptanya. &lt;br /&gt;Tinggal aku seorang diri dengan dua orang anak yang masih membutuhkan perhatian &lt;br /&gt;penuh. Aku harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka. Bukan hal yang mudah. &lt;br /&gt;Sejumlah teman menyarankan untuk menikah lagi agar anak-anak memperoleh ibu &lt;br /&gt;baru. Anjuran yang bagus, tetapi saya tidak ingin anak-anak mendapat seorang ibu &lt;br /&gt;tiri yang tidak menyayangi mereka. Karena itu aku sangat hati-hati. &lt;br /&gt;Kehadiran anak-anak jelas merupakan hiburan yang tak tergantikan. Anita kini &lt;br /&gt;berusia sepuluh tahun dan Marko adiknya berusia enam tahun. Anak-anak yang lucu &lt;br /&gt;dan pintar ini sangat mengisi kekosonganku. Namun kalau anak-anak lagi berkumpul &lt;br /&gt;bersama teman-temannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari telah &lt;br /&gt;larut malam dan anak-anak sudah tidur, kesepian itu semakin menyiksa. Sejalan &lt;br /&gt;dengan itu, nafsu birahiku yang tergolong besar itu meledak-ledak butuh &lt;br /&gt;penyaluran. Beberapa teman mengajakku mencari wanita panggilan tetapi aku tidak &lt;br /&gt;berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aku bermasturbasi. &lt;br /&gt;Sesaat aku merasa lega, tetapi sesudah itu keinginan untuk menggeluti tubuh &lt;br /&gt;seorang wanita selalu muncul di kepalaku.&lt;br /&gt;Tidak terasa tiga bulan telah berlalu. Perlahan-lahan aku mulai menaruh &lt;br /&gt;perhatian ke wanita-wanita lain. Beberapa teman kerja di kantor yang masih &lt;br /&gt;lajang kelihatannya membuka peluang. Namun aku lebih suka memiliki mereka &lt;br /&gt;sebagai teman. Karena itu tidak ada niat untuk membina hubungan serius. Di saat &lt;br /&gt;keinginan untuk menikmati tubuh seorang wanita semakin meningkat, kesempatan itu &lt;br /&gt;datang dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Senja itu di hari Jumat, aku pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan &lt;br /&gt;di sepanjang Jalan Darmo. Maklum sudah mulai gelap dan aku tidak terburu-buru. &lt;br /&gt;Di depan hotel Mirama kulihat seorang wanita kebingungan di samping mobilnya, &lt;br /&gt;Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tidak ada &lt;br /&gt;orang yang peduli. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak tahu apa yang hendak &lt;br /&gt;dilakukan. Rupanya mencari bantuan. Aku mendekat.&lt;br /&gt;“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanyaku sopan.&lt;br /&gt;Ia terkejut dan menatapku agak curiga. Saya memahaminya. Akhir-akhir ini banyak &lt;br /&gt;kejahatan berkedok tawaran bantuan seperti itu.&lt;br /&gt;“Tak usah takut, Mbak”, kataku.”Namaku Ardy. Boleh saya lihat mesinnya?”&lt;br /&gt;Walaupun agak segan ia mengucapkan terima kasih dan membuka kap mesinnya. &lt;br /&gt;Ternyata hanya problema penyumbatan slang bensin. Aku membetulkannya dan mesin &lt;br /&gt;dihidupkan lagi. Ia ingin membayar tetapi aku menolak. Kejadian itu berlalu &lt;br /&gt;begitu saja. Tidak kuduga hari berikutnya aku bertemu lagi dengannya di &lt;br /&gt;Tunjungan Plaza. Aku sedang menemani anak-anak berjalan-jalan ketika ia &lt;br /&gt;menyapaku. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia tersenyum manis kepada keduanya.&lt;br /&gt;“Sekali lagi terima kasih untuk bantuan kemarin sore”, katanya,”Namaku Mei. &lt;br /&gt;Maaf, kemarin tidak sempat berkenalan lebih lanjut.”&lt;br /&gt;“Aku Ardy”, sahutku sopan.&lt;br /&gt;Harus kuakui, mataku mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita itu &lt;br /&gt;jelas turunan Cina. Kontras dengan pakaian kantor kemarin, ia sungguh menarik &lt;br /&gt;dalam pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu &lt;br /&gt;dengan kaos putih berlengan pendek dan leher rendah. Pakaiannya itu jelas &lt;br /&gt;menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang ranum berukuran kira-kira 38 &lt;br /&gt;menonjol dengan jujurnya, dipadu oleh pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar &lt;br /&gt;indah digantungi oleh dua bongkahan pantat yang besar.&lt;br /&gt;“Kok bengong”, katanya tersenyum-senyum,”Ayo minum di sana”, ajaknya.&lt;br /&gt;Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja. Ia menggandeng kedua anakku &lt;br /&gt;mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yang tak pernah &lt;br /&gt;kulakukan. Kami duduk di meja terdekat sambil memperhatikan orang-orang yang &lt;br /&gt;lewat.&lt;br /&gt;“Ibunya anak-anak nggak ikut?” tanyanya.&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab. Aku melirik ke kedua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk &lt;br /&gt;menghindari air mata.&lt;br /&gt;“Ibu sudah di surga, Tante”, kata Marko polos. Ia memandangku.&lt;br /&gt;“Isteriku sudah meninggal”, kataku. Hening sejenak.&lt;br /&gt;“Maaf”, katanya,”Aku tidak bermaksud mencari tahu”, lanjutnya dengan rasa &lt;br /&gt;bersalah.&lt;br /&gt;Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. &lt;br /&gt;Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang &lt;br /&gt;mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berusia 32 &lt;br /&gt;tahun dan telah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak. Selama &lt;br /&gt;pembicaraan itu sulit mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol &lt;br /&gt;padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya &lt;br /&gt;itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku &lt;br /&gt;menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.&lt;br /&gt;“Nggak berpikir menikah lagi?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Rasanya nggak ada yang mau sama aku”, sahutnya.&lt;br /&gt;“Ah, Masak!” sahutku,”Aku mau kok, kalau diberi kesempatan”, lanjutku sedikit &lt;br /&gt;nakal dan memberanikan diri.”Kamu masih cantik dan menarik. Seksi lagi.”&lt;br /&gt;“Ah, Ardy bisa aja”, katanya tersipu-sipu sambil menepuk tanganku. Tapi nampak &lt;br /&gt;benar ia senang dengan ucapanku.&lt;br /&gt;Tidak terasa hampir dua jam kami duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak &lt;br /&gt;minta pulang. Mei, wanita Cina itu, memberikan alamat rumah, nomor telepon dan &lt;br /&gt;HP-nya. Ketika akan beranjak meninggalkannya ia berbisik,&lt;br /&gt;“Saya menunggu Ardy di rumah.”&lt;br /&gt;Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yang mau menolak kesempatan berada bersama &lt;br /&gt;wanita semanis dan seseksi Mei. Aku mengangguk sambil mengedipkan mata. Ia &lt;br /&gt;membalasnya dengan kedipan mata juga. Ini kesempatan emas. Apalagi sore itu &lt;br /&gt;Anita dan Marko akan dijemput kakek dan neneknya dan bermalam di sana.&lt;br /&gt;“OK. Malam nanti aku main ke rumah”, bisikku juga, “Jam tujuh aku sudah di &lt;br /&gt;sana.” Ia tersenyum-senyum manis.&lt;br /&gt;Sore itu sesudah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aku membersihkan sepeda &lt;br /&gt;motorku lalu mandi. Sambil mandi imajinasi seksualku mulai muncul. Bagaimana &lt;br /&gt;tampang Mei tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya yang bugil. Dan pasti &lt;br /&gt;sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh semontok dan selembut itu. &lt;br /&gt;Apalagi aku sebetulnya sudah lama ingin menikmati tubuh seorang wanita Cina. &lt;br /&gt;Tapi apakah ia mau menerimaku? Apalagi aku bukan orang Cina. Dari kawasan Timur &lt;br /&gt;Indonesia lagi. Kulitku agak gelap dengan rambut yang ikal. Tapi.. Peduli amat. &lt;br /&gt;Toh ia yang mengundangku. Andaikata aku diberi kesempatan, tidak akan &lt;br /&gt;kusia-siakan. Kalau toh ia hanya sekedar mengungkapkan terima kasih atas &lt;br /&gt;pertolongaku kemarin, yah tak apalah. Aku tersenyum sendiri.&lt;br /&gt;Jam tujuh lewat lima menit aku berhasil menemukan rumahnya di kawasan Margorejo &lt;br /&gt;itu. Rumah yang indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua dengan lampu depan &lt;br /&gt;yang buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang wanita separuh baya &lt;br /&gt;membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;“Pak Ardy?” ia bertanya, “Silahkan, Pak. Bu Mei menunggu di dalam”, lanjutnya &lt;br /&gt;lagi.&lt;br /&gt;Aku mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun &lt;br /&gt;menghilang ke dalam. Selang semenit, Mei keluar. Ia mengenakan baju dan celana &lt;br /&gt;santai di bawah lutut. Aku berdiri menyambutnya.&lt;br /&gt;“Selamat datang ke rumahku”, katanya.&lt;br /&gt;Ia mengembangkan tangannya dan aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di &lt;br /&gt;pipiku. Ini ciuman pertama seorang wanita ke pipiku sejak kematian isteriku. Aku &lt;br /&gt;berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah dan duduk di sofa yang empuk. &lt;br /&gt;Mulutku seakan terkunci. Beberapa saat bercakap-cakap, si pembantu rumah tangga &lt;br /&gt;datang menghantar minuman.&lt;br /&gt;“Silahkan diminum, Pak”, katanya sopan, “Aku juga sekalian pamit, Bu”, katanya &lt;br /&gt;kepada Mei.&lt;br /&gt;“Makan sudah siap, Bu. Saya datang lagi besok jam sepuluh.”&lt;br /&gt;“Biar masuk sore aja, Bu”, kata Mei, “Aku di rumah aja besok. Datang saja jam &lt;br /&gt;tiga-an.”&lt;br /&gt;Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.&lt;br /&gt;“Ayo minum. Santai aja, aku mandi dulu”, katanya sambil menepuk pahaku.&lt;br /&gt;Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di saat itu kuperhatikan. Pakaian &lt;br /&gt;santai yang dikenakannya cukup memberikan gambaran bentuk tubuhnya. Buah dadanya &lt;br /&gt;yang montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Pantatnya yang besar dan bulat &lt;br /&gt;berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat dan mulus ditopang &lt;br /&gt;oleh betis yang indah.&lt;br /&gt;“Santai saja, anggap di rumah sendiri”, lanjutnya sebelum menghilang ke balik &lt;br /&gt;pintu.&lt;br /&gt;Dua puluh menit menunggu itu rasanya seperti seabad. Ketika akhirnya ia muncul, &lt;br /&gt;Mei membuatku terkesima. Rambutnya yang panjang sampai di punggungnya dibiarkan &lt;br /&gt;tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna &lt;br /&gt;cream dipadu celana berenda berwarna serupa.&lt;br /&gt;Tetapi yang membuat mataku membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, sehingga &lt;br /&gt;pakaian dalamnya jelas kelihatan. BH merah kecil yang dikenakannya menutupi &lt;br /&gt;hanya sepertiga buah dadanya memberikan pemandangan yang indah. Celana dalam &lt;br /&gt;merah jelas memberikan bentuk pantatnya yang besar bergelantungan. Pemandangan &lt;br /&gt;yang menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahiku. Kemaluanku mulai &lt;br /&gt;bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.&lt;br /&gt;“Aku tahu, Ardy suka”, katanya sambil duduk di sampingku, “Siang tadi di TP &lt;br /&gt;(Tunjungan Plaza) aku lihat mata Ardy tak pernah lepas dari buah dadaku. Tak &lt;br /&gt;usah khawatir, malam ini sepenuhnya milik kita.”&lt;br /&gt;Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kami &lt;br /&gt;sudah lekat berpagutan. Aku merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalam pelukanku. &lt;br /&gt;Tangaku mulai bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari buah dadanya yang &lt;br /&gt;montok itu. Ia menggeliat-geliat agar tanganku lebih leluasa bergerak sambil &lt;br /&gt;mulutnya terus menyambut permainan bibir dan lidahku. Lidahku menerobos mulutnya &lt;br /&gt;dan bergulat dengan lidahnya.&lt;br /&gt;Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yang kukenakan dan meraba-raba perut dan &lt;br /&gt;punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi pahanya yang &lt;br /&gt;mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya, &lt;br /&gt;kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak. &lt;br /&gt;Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yang masih tertutup &lt;br /&gt;celana dalam tipis. Jariku menelikung ke balik celana dalam itu dan menyentuh &lt;br /&gt;bibir kemaluannya. Ia mengaduh pendek tetapi segera bungkam oleh permainan &lt;br /&gt;lidahku. Kurasakan badannya mulai menggeletar menahan nafsu birahi yang semakin &lt;br /&gt;meningkat.&lt;br /&gt;Tangannyapun menerobos celana dalamku dan tangan lembut itu menggenggam batang &lt;br /&gt;kemaluan yang kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang. Ukuran &lt;br /&gt;tegang penuh kira-kira 15 cm dengan diameter sekitar 4 cm. Senjata kebanggaanku &lt;br /&gt;inilah yang pernah menjadi kesukaan dan kebanggaan isteriku. Aku yakin senjataku &lt;br /&gt;ini akan menjadi kesukaan Mei. Ia pasti akan ketagihan.&lt;br /&gt;“Au.. Besarnya”, kata Mei sambil mengelus lembut kemaluanku.&lt;br /&gt;Elusan lembut jari-jarinya itu membuat kemaluanku semakin mengembang dan &lt;br /&gt;mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan leherku dan &lt;br /&gt;sejalan dengan itu melepaskan bajuku. Segera setelah lepas bajuku bibir &lt;br /&gt;mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya. &lt;br /&gt;Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya kembali menerobos celanaku &lt;br /&gt;dan menggenggam kemaluanku yang semakin berdenyut-denyut. Aku pun bergerak &lt;br /&gt;melepaskan pakaian tidurnya. Rasanya seperti bermimpi, seorang wanita Cina yang &lt;br /&gt;cantik dan seksi duduk di pahaku hanya dengan celana dalam dan BH.&lt;br /&gt;“Ayo ke kamar”, bisiknya, “Kita tuntaskan di sana.”&lt;br /&gt;Aku bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan &lt;br /&gt;seksi itu kurengkuh ke dalam pelukanku. Kuangkat tubuh itu dan ia bergayut di &lt;br /&gt;leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku membuat nafasku terengah-engah &lt;br /&gt;nikmat. Buah dadanya yang sungguh montok dan lembut menempel lekat di dadaku. &lt;br /&gt;Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yang lebar dan empuk. &lt;br /&gt;Aku menariknya berdiri dan mulai melepaskan BH dan celana dalamnya.&lt;br /&gt;Ia membiarkan aku melakukan semua itu sambil mendesah-desah menahan nafsunya &lt;br /&gt;yang pasti semakin menggila. Setelah tak ada selembar benangpun yang menempel di &lt;br /&gt;tubuhnya, aku mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yang mengagumkan itu. &lt;br /&gt;Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur dengan mata agak sipit seperti &lt;br /&gt;umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai sampai di punggungnya. Buah dadanya &lt;br /&gt;sungguh besar namun padat dan menonjol ke depan dengan puting yang &lt;br /&gt;kemerah-merahan. Perutnya rata dengan lekukan pusar yang menawan. Pahanya mulus &lt;br /&gt;dengan pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang besar bulat &lt;br /&gt;padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh &lt;br /&gt;pemandangan yang indah dan menggairahkan birahi.&lt;br /&gt;“Ngapain hanya lihat tok,” protesnya.&lt;br /&gt;“Aku kagum akan keindahan tubuhmu”, sahutku.&lt;br /&gt;“Semuanya ini milikmu”, katanya sambil merentangkan tangan dan mendekatiku.&lt;br /&gt;Tubuh bugil polos itu kini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aku ke atas &lt;br /&gt;ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada dan perutku terus &lt;br /&gt;menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaku. Tangannya lincah melepaskan &lt;br /&gt;celanaku. Celana dalamku segera dipelorotnya. Kemaluanku yang sudah tegang itu &lt;br /&gt;mencuat keluar dan berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku &lt;br /&gt;itu. Kurasakan sensai yang luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar &lt;br /&gt;kemaluanku dalam mulutnya. Aku mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi &lt;br /&gt;gila itu.&lt;br /&gt;Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan &lt;br /&gt;diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah &lt;br /&gt;dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku &lt;br /&gt;mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras &lt;br /&gt;diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada &lt;br /&gt;kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang &lt;br /&gt;menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata &lt;br /&gt;dan menjulurkan lidahku ke pusarnya.&lt;br /&gt;“Auu..” erangnya, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritnya semakin keras.&lt;br /&gt;Mulutku semakin mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yang mulus &lt;br /&gt;padat itu membuka, menampakkan lubang surgawinya yang telah merekah dan basah. &lt;br /&gt;Rambut hitam lebat melingkupi lubang yang kemerah-merahan itu. Kudekatkan &lt;br /&gt;mulutku ke lubang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke dalam lubang yang telah &lt;br /&gt;basah membanjir itu. Ia menjerit dan spontan duduk sambil menekan kepalaku &lt;br /&gt;sehingga lidahku lebih dalam terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing &lt;br /&gt;kepanasan. Pantatnya menggeletar hebat sedang pahanya semakin lebar membuka.&lt;br /&gt;“Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritnya keras.&lt;br /&gt;Aku tahu tidak ada sesuatu pun yang bakalan menghalangiku menikmati dan &lt;br /&gt;menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aku tak ingin menikmatinya &lt;br /&gt;sebagai orang rakus. Sedikit demi sedikit tetapi sangat nikmat. Aku terus &lt;br /&gt;mempermainkan klitorisnya dengan lidahku. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya &lt;br /&gt;ke atas dan memegang kepalaku erat-erat. Ia melolong keras.&lt;br /&gt;Pada saat itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia sudah mencapai orgasme yang &lt;br /&gt;pertama. Aku berhenti sejenak membiarkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah &lt;br /&gt;aku menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhnya itu. Kembali erangan &lt;br /&gt;suaranya terdengar tanda birahinya mulai menaik lagi. Tangannya terjulur &lt;br /&gt;mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku telah tegak sekeras beton. Ia &lt;br /&gt;meremasnya. Aku menjerit kecil, karena nafsuku pun sudah diubun-ubun butuh &lt;br /&gt;penyelesaian.&lt;br /&gt;Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku &lt;br /&gt;bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima penetrasi &lt;br /&gt;kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yang terserak. Mulutnya &lt;br /&gt;terus menggumam tidak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan pantatku. Batang &lt;br /&gt;kemaluanku berkilat-kilat dan memerah kepalanya siap menjalankan tugasnya. &lt;br /&gt;Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia semakin menggelinjang seperti &lt;br /&gt;kepinding.&lt;br /&gt;“Cepat.. Cepat.. Aku sudah nggak tahan!” jeritnya.&lt;br /&gt;Kuturunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!&lt;br /&gt;Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam. &lt;br /&gt;Tetangga sebelah mungkin bisa mendengar lolongannya itu. Aku berhenti sebentar &lt;br /&gt;membiarkan dia menikmatinya. Lalu kutekan lagi pantatku sehingga kemaluanku yang &lt;br /&gt;panjang dan besar itu menerobos ke dalam dan terbenam sepenuhnya dalam liang &lt;br /&gt;surgawi miliknya. Ia menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar lebih dalam &lt;br /&gt;menerima diriku. Sejenak aku diam menikmati sensasi yang luar biasa ini. Lalu &lt;br /&gt;perlahan-lahan aku mulai menggerakkan kemaluanku. Balasannya juga luar biasa.&lt;br /&gt;Dinding-dinding lubang kemaluannya berusaha menggenggam batang kemaluanku. &lt;br /&gt;Rasanya seberti digigit-gigit. Pantatnya yang bulat besar itu diputar-putar &lt;br /&gt;untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang seirama dengan &lt;br /&gt;genjotanku di kemaluannya. Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis &lt;br /&gt;mulutnya menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan kemudian &lt;br /&gt;jeritan panjang terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya dengan &lt;br /&gt;mulutku. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa &lt;br /&gt;bertarung dengan kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung dengan &lt;br /&gt;lidahnya.&lt;br /&gt;“OH..”, erangnya, “Lebih keras sayang, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!”&lt;br /&gt;Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku. &lt;br /&gt;Pahanya semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya &lt;br /&gt;seirama dengan gerakan pantatku. Di saat itulah kurasakan gejala ledakan magma &lt;br /&gt;di batang kemaluanku. Sebentar lagu aku akan orgasme.&lt;br /&gt;“Aku mau keluar, Mei”, bisikku di sela-sela nafasku memburu.&lt;br /&gt;“Aku juga”, sahutnya, “Di dalam sayang. Keluarkan di dalam. Aku ingin kamu di &lt;br /&gt;dalam.”&lt;br /&gt;Kupercepat gerakan pantatku. Keringatku mengalir dan menyatu dengan keringatnya. &lt;br /&gt;Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua buah dadanya. &lt;br /&gt;Diiringi geraman keras kuhentakkan pantatku dan kemaluanku membenam &lt;br /&gt;sedalam-dalamnya. Spermaku memancar deras. Ia pun melolong panjang dan &lt;br /&gt;menghentakkan pantatnya ke atas menerima diriku sedalam-dalamnya. Kedua pahanya &lt;br /&gt;naik dan membelit pantatku. Ia pun mencapai puncaknya. Kemaluanku &lt;br /&gt;berdenyut-denyut memuntahkan spermaku ke dalam rahimnya. Inilah orgasmeku yang &lt;br /&gt;pertama di dalam kemaluan seorang wanita sejak kematian isteriku. Dan ternyata &lt;br /&gt;wanita itu adalah Mei yang cantik bahenol dan seksi.&lt;br /&gt;Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu &lt;br /&gt;perlahan-lahan aku mengangkat tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang berbinar &lt;br /&gt;karena birahinya telah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.&lt;br /&gt;“Ardy, kamu hebat sekali, sayang”, katanya, “Sudah lebih dari setahun aku tidak &lt;br /&gt;merasakan lagi kejantanan lelaki seperti ini.”&lt;br /&gt;“Mei juga luar biasa”, sahutku, “Aku sungguh puas dan bangga bisa menikmati &lt;br /&gt;tubuhmu yang menawan ini. Mei tidak menyesal bersetubuh denganku?”&lt;br /&gt;“Tidak”, katanya, “Aku malah berbangga bisa menjadi wanita pertama sesudah &lt;br /&gt;kematian isterimu. Mau kan kamu memuaskan aku lagi nanti?”&lt;br /&gt;“Tentu saja mau”, kataku, “Bodoh kalau nolak rejeki ini.” Ia tertawa.&lt;br /&gt;“Kalau kamu lagi pingin, telepon saja aku,” lanjutnya, “Tapi kalau aku yang &lt;br /&gt;pingin, boleh kan aku nelpon?”&lt;br /&gt;“Tentu.. Tentu..”, balasku cepat.&lt;br /&gt;“Mulai sekarang kamu bisa menyetubuhi aku kapan saja. Tinggal kabarkan”, &lt;br /&gt;katanya.&lt;br /&gt;Hatiku bersorak ria. Aku mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang &lt;br /&gt;lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Lapar &lt;br /&gt;katanya dan pingin makan.&lt;br /&gt;Malam itu hingga hari Minggu siang sungguh tidak terlupakan. Kami terus berpacu &lt;br /&gt;dalam birahi untuk memuaskan nafsu. Aku menyetubuhinya di sofa, di meja makan, &lt;br /&gt;di dapur, di kamar mandi dalam berbagai posisi. Di atas, di bawah, dari &lt;br /&gt;belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi. Dapat &lt;br /&gt;ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut dengan aneka pertemuan lain. &lt;br /&gt;Kadang-kadang kami mencari hotel tetapi terbanyak di rumahnya. Sesekali ia &lt;br /&gt;mampir ke tempatku kalau anak-anak lagi mengunjungi kakek dan neneknya. &lt;br /&gt;Pertemuan-pertemuan kami selalu diisi dengan permainan birahi yang panas dan &lt;br /&gt;menggairahkan.&lt;br /&gt;Satu malam di kamar tidurnya. Setelah beberapa kali orgasme iseng aku &lt;br /&gt;menggodanya.&lt;br /&gt;“Mei”, kataku, “Betapa beruntungnya aku yang berkulit gelap ini bisa menikmati &lt;br /&gt;tubuhmu bahenol, seksi, putih dan mulus seorang wanita Cina.”&lt;br /&gt;Ia malah tertawa. tahu apa jawabannya? “Tulisan yang paling indah di atas kertas &lt;br /&gt;putih justru harus dengan tinta hitam.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-2518243626277014658?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/2518243626277014658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=2518243626277014658' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2518243626277014658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/2518243626277014658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/penghibur-hati.html' title='PENGHIBUR HATI'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-805162924497030679.post-4272840305642090900</id><published>2007-05-07T23:19:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T23:20:21.102-07:00</updated><title type='text'>HADIAH ULTAH</title><content type='html'>Hubunganku dengan Mei (baca “Penghibur Hati Yang Sepi“) semakin hari semakin &lt;br /&gt;akrab. Hari-hari kami terasa indah. Wanita cantik dan seksi itu ternyata sangat &lt;br /&gt;liar kalau di atas ranjang. Nafsu seksnya besar dan terus menerus butuh &lt;br /&gt;pemuasan. Akupun dengan senang hati melayaninya. Apalagi ia sangat akrab dengan &lt;br /&gt;kedua anakku, Anita dan Marko. Mereka sering diajak jalan-jalan dan diberi &lt;br /&gt;hadiah. Melihat keakraban mereka aku berpikir, apakah Mei dapat menjadi ibu baru &lt;br /&gt;bagi mereka. &lt;br /&gt;“Anak-anak kelihatannya suka denganmu, Mei”, kataku satu malam sesudah melewati &lt;br /&gt;satu ronde persetubuhan yang panas, “Mereka kelihatannya mau kalau kamu menjadi &lt;br /&gt;ibu baru mereka. Bagaimana pendapatmu?”&lt;br /&gt;“Kita jalani saja seperti ini dulu”, kata Mei menanggapi, “Aku memang menantikan &lt;br /&gt;kata-kata ini. Aku senang kalau diberi kesempatan menjadi ibu bagi Anita dan &lt;br /&gt;Marko. Namun lingkungan keluargaku masih agak sulit menerima kamu, maaf, yang &lt;br /&gt;bukan keturunan Cina. Tapi kupikir lama-lama mereka juga akan mau. Sabarlah, &lt;br /&gt;sayang. Lagi pula tidak banyak bedanyakan. Aku selalu siap untuk kamu kapan &lt;br /&gt;saja”, lanjutnya.&lt;br /&gt;Aku paham sepenuhnya. Sejak mengenalku kami rutin bertemu untuk hubungan seks. &lt;br /&gt;Paling kurang beberapa kali seminggu, kecuali kalau lagi saat menstruasinya. &lt;br /&gt;Akhir pekan selalu menjadi kesempatan terindah. Ia mengakui kalau ia ketagihan &lt;br /&gt;bersetubuh denganku. Selalu orgasme, begitu katanya. Karena itu ia selalu &lt;br /&gt;menantikan saat-saat pertemuan. Aku merasa bangga karena kapan saja aku dapat &lt;br /&gt;menikmati tubuh Mei yang cantik dan seksi itu. Menggumuli tubuhnya yang mulus &lt;br /&gt;dengan buah dada yang montok dan pantat yang besar itu menjadi kebanggaan &lt;br /&gt;tersendiri. Mungkin karena selalu puas bersetubuh denganku, ia menjanjikan &lt;br /&gt;hadiah kejutan untuk ulang tahunku.&lt;br /&gt;“Aku ingin memberi hadiah khusus buatmu”, katanya empat hari sebelum ulang &lt;br /&gt;tahunku.&lt;br /&gt;“Apa itu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Kalau disampaikan sekarang itu bukan kejutan namanya”, katanya, “Yakin deh, &lt;br /&gt;pasti akan menyenangkan hadiahnya.”&lt;br /&gt;“Tapi anak-anak pasti merayakannya pada hari itu”, kataku.&lt;br /&gt;“Yah, kita rayakan sehari sesudahnya”, katanya, “Untuk itu mulai besok sampai &lt;br /&gt;hari itu kita tidak bertemu”, lanjutnya.&lt;br /&gt;Aku mengerti. Hadiah khususnya itu ternyata hubungan seks, tapi pasti dengan &lt;br /&gt;cara yang khusus. Apa ada pesta berdua dengan cahaya lilin? Dilanjutkan dengan &lt;br /&gt;hubungan kelamin yang penuh gelora? Ataukah menginap di satu hotel sambil saling &lt;br /&gt;memberi kenikmatan? Terserah dia saja. Toh namanya hadiah.&lt;br /&gt;Ternyata hari-hari menanti hadiah itu sungguh menyiksa. Aku selalu merindukan &lt;br /&gt;tubuh montok itu. Aku menelponnya tetapi ia hanya menjawab dengan tertawa-tawa. &lt;br /&gt;Ia pasti tahu kalau aku sudah tidak dapat menahan birahiku yang menggelora.&lt;br /&gt;Hari ulang tahunku. Di kantor teman-temanku menyanyikan “Happy Birthday to you” &lt;br /&gt;dan ada ucapan selamat. Yang membuatku terkejut adalah kartu ucapan selamat atas &lt;br /&gt;adanya “pendamping” baruku, “Congratulations for your new beautiful soul mate!”&lt;br /&gt;“Aku dukung, Mas Ardy”, kata Ibu Nadya kepala bagianku.&lt;br /&gt;“Dukung apa, Bu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Alaa.. Mas Ardy ini ada aja”, sela Santi yang lincah, “Kan sudah ada pendamping &lt;br /&gt;baru. Cantik lagi. Siapa namanya? Kenalin ke kita, dong”, godanya.&lt;br /&gt;“Namanya, Mei”, kataku karena tak ada pilihan lain, “Tapi belum jelas nih. &lt;br /&gt;Jangan dulu deh ucapan selamatnya, nanti keburu bubarkan repot,”&lt;br /&gt;Siang itu di kantor aku tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Aku hanya &lt;br /&gt;mereka-reka, pesta seks apa yang disediakan Mei untuk merayakan hari ulang &lt;br /&gt;tahunku. Menunggu sehari saja rasanya sangat lama. Akhirnya toh hari yang &lt;br /&gt;dinantikan itu tiba. Mei menelpon, jam tujuh sudah harus ada di rumahnya.&lt;br /&gt;Jam tujuh malam itu aku sudah di depan rumahnya. Ternyata pintu pagar tidak &lt;br /&gt;dikunci. Ada kertas kecil di pintu minta agar pagar dikunci. Aku menguncinya dan &lt;br /&gt;terus ke pintu depan. Ternyata pintu itu sedikit terbuka. Aku masuk. Ruangan &lt;br /&gt;depan kosong. Aku terus melangkah ke dalam. Begitu aku masuk ruang tengah, Mei &lt;br /&gt;menyongsongku.&lt;br /&gt;“Selamat Ulang Tahun!” serunya.&lt;br /&gt;Aku segera merangkul tubuhnya ke dalam pelukanku. Bibirku mencari bibirnya dan &lt;br /&gt;dengan buas melumat bibir itu setelah empat hari tidak merasakannya.&lt;br /&gt;“Uhmm.. Uhmm..”, gumamnya gelagapan menghadapi seranganku.&lt;br /&gt;Ia sepertinya mau bicara tetapi aku tak memberinya kesempatan. Lidahku menerobos &lt;br /&gt;masuk ke mulutnya dan mempermainkan lidahnya. Tangan kiriku kulingkarkan ke &lt;br /&gt;lehernya dan tangan kananku meraih pantatnya. Kutekan tubuhnya ke arahku membuat &lt;br /&gt;ia tidak dapat bergerak ke mana-mana. Di saat itulah kudengar suara.&lt;br /&gt;“Ehem..”, suara seorang wanita.&lt;br /&gt;Aku terkejut dan melepaskan pelukanku. Aku menoleh. Di atas sofa ruang tengah &lt;br /&gt;duduk seorang wanita lain. Aku kaget bukan kepalang. Wanita itu senyum-senyum &lt;br /&gt;menatapku salah tingkah. Pastilah wajahku memerah seperti udang rebus.&lt;br /&gt;“Makanya tahan-tahan sedikit”, kata Mei sambil tertawa menggoda.&lt;br /&gt;Aku terdiam tidak tahu mau bicara apa.&lt;br /&gt;“Ada yang nonton, tuh”, lanjutnya, “Ayo mari aku kenalin. Ini Yen, sepupuku, “&lt;br /&gt;“Yen”, kata wanita itu malu-malu sambil menyorongkan tangannya.&lt;br /&gt;“Ardy”, sahutku sambil menjabat tangannya.&lt;br /&gt;“Cantik, kan”, kata Mei.&lt;br /&gt;Aku memandang lekat wanita itu. Seperti Mei, wanita ini pun keturunan Cina. Ia &lt;br /&gt;lebih tinggi dari Mei, sekitar 170 cm. Rambutnya yang panjang hingga menyentuh &lt;br /&gt;pinggul dibiarkan tergerai. Ia memakai blouse kuning pucat berleher rendah &lt;br /&gt;dengan lengan pendek berenda, dipadu dengan celana sebatas lutut dari bahan &lt;br /&gt;denim sebatas lutut. Mataku dengan cepat merayap ke dadanya yang jelas semontok &lt;br /&gt;dada Mei. Pinggangnya cukup ramping walau tidak seramping Mei, diimbangi oleh &lt;br /&gt;pantatnya yang besar. Betisnya bulat padat. Jelas ia lebih muda dari Mei.&lt;br /&gt;“Aku sudah sering mendengar cerita tentang Kho Ardy dari Ci Mei”, kata Yen, &lt;br /&gt;“Jadinya penasaran aku, pingin kenalan,”&lt;br /&gt;“Apa kata Mei”, pancingku. Yen tersenyum malu-malu.&lt;br /&gt;“Ha ha..”, ia tertawa, “Katanya Kho Ardy orangnya baik, sabar, romantis dan.. Hi &lt;br /&gt;hi..”&lt;br /&gt;“Hi hi apa”, potongku.&lt;br /&gt;“Kuat”, katanya tertawa sambil menutup mulutnya.&lt;br /&gt;“Ada aja Mei ini”, sahutku agak malu sambil menoleh ke Mei. Tapi dalam hati aku &lt;br /&gt;jelas sangat berbangga.&lt;br /&gt;“Kan benar, apa yang aku ceritakan”, sahut Mei, “Dan yang paling penting”, &lt;br /&gt;lanjutnya sambil merangkul bahu Yen, “Kami berdua adalah hadiah ulang tahunmu,”&lt;br /&gt;Aku tertegun tak mampu berkata-kata. Mimpi apa aku semalam? Kedua wanita Cina &lt;br /&gt;seksi menawan ini menjadi hadiah ulang tahunku? Keduanya berdiri di hadapanku &lt;br /&gt;sambil mengikik. Kupandangi keduanya lurus-lurus dengan mata berbinar. Waooh! &lt;br /&gt;Tak dapat kubayangkan seperti apa sensasi di ranjang nanti diapit oleh dua &lt;br /&gt;wanita Cina cantik, bahenol dan seksi ini.&lt;br /&gt;“Wah, sudah nafsu nih”, goda Mei. Yen tertawa pelan menimpali.&lt;br /&gt;“Abis hadiahnya istimewa begini”, sahutku.&lt;br /&gt;Keduanya mendekatiku. Mei merangkulku ketat dan mendaratkan ciumannya &lt;br /&gt;bertubi-tubi. Kurasakan padat tubuhnya. Buah dadanya yang montok lembut dan &lt;br /&gt;menggairahkan itu menekan dadaku. Kurengkuh pantatnya dan kurapatkan ke tubuhku.&lt;br /&gt;“Selamat Ulang Tahun, sayang”, katanya.&lt;br /&gt;Dilepaskannya tubuhku. Yen mendekatiku. Kurangkul ia ke dalam pelukanku. Ia &lt;br /&gt;mencium pipiku kiri dan kanan. Buah dadanya yang montok dan kenyal itu menekan &lt;br /&gt;dadaku. Tubuh seksi itu bergetar. Denyut jantungnya terasa olehku. Tanganku &lt;br /&gt;melingkar ke bongkahan pantatnya yang bulat padat itu dan kurengkuh rapat ke &lt;br /&gt;tubuhku. Ia menggeletar dalam pelukanku ketika kudaratkan ciumanku ke bibirnya. &lt;br /&gt;Ia menyambut hangat. Kujulurkan lidahku dan menerobosi mulutnya. Lidahku segera &lt;br /&gt;disambut oleh permainan lidahnya. Celanaku mulai terasa sesak karena gerakan &lt;br /&gt;kemaluanku yang mengeras.&lt;br /&gt;“Sudah.. sudah..”, potong Mei, “Nanti diteruskan. Sekarang kita makan dulu, “&lt;br /&gt;Aku melepaskan Yen dari pelukanku walaupun nafsu birahiku mulai meningkat ingin &lt;br /&gt;segera dituntaskan. Kami beralih ke ruang makan menikmati hidangan yang sudah &lt;br /&gt;tersedia. Kulihat ada sebotol anggur merah. Makam malam terasa sangat indah &lt;br /&gt;dalam cahaya lilin. Rasa bangga menyelimuti benakku. Bayangkan! Di tengah &lt;br /&gt;ruangan yang romantis dengan hidangan yang enak dalam temaram cahaya lilin, aku &lt;br /&gt;duduk menikmati anggur merahku dengan diapit dua wanita cantik bermata sipit nan &lt;br /&gt;bahenol dan seksi.&lt;br /&gt;Aku tidak ingin terburu-buru menikmati semua ini walaupun senjata andalanku di &lt;br /&gt;bawah sana telah semakin tidak sabar, ingin segera menyatu dengan tubuh-tubuh &lt;br /&gt;seksi ini bergiliran. Keduanya pasti tahu dari gerak mataku yang jelalatan, &lt;br /&gt;melompat dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun aku tidak ingin memberi &lt;br /&gt;kesan liar. Terutama untuk Yen, kesan pertama ini harus indah dan romantis &lt;br /&gt;sehingga di masa depan tetap ada kesempatan untuk menggarapnya.&lt;br /&gt;Seperti Mei, Yen juga sudah menjanda sekitar enam bulan. Ditinggal suami yang &lt;br /&gt;pergi dengan wanita lain katanya. Usianya 29 tahun, tiga tahun lebih muda dari &lt;br /&gt;Mei, sepuluh tahun lebih muda dariku. Dalam hati aku berpikit, kok bisa ya, &lt;br /&gt;wanita secantik ini bisa ditinggal suami, minggat dengan wanita lain. Pasti &lt;br /&gt;bodoh lelaki itu. Tapi itu bukan persoalanku. Yang jelas ia ada di sini malam &lt;br /&gt;ini untukku. Malam ini kesempatan terbuka lebar bagiku untuk menikmati tubuhnya. &lt;br /&gt;Perbedaan sepuluh tahun sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk urusan ranjang. &lt;br /&gt;Waahh.. Betapa beruntungnya aku.&lt;br /&gt;Selesai makan malam, aku diminta menanti di ruang tengah. Keduanya menghilang ke &lt;br /&gt;lantai atas. Aku menungguh dengan jantung berdebaran. Lampu-lampu diredupkan. &lt;br /&gt;Dan dari lantai atas kulihat keduanya turun dengan membawa kue ulang tahun &lt;br /&gt;dihiasi lilin beryala berbentuk angka 39.&lt;br /&gt;“Happy Birthday to you”, keduanya bernyanyi, “Happy birthday to you. Happy &lt;br /&gt;birthday, Dear Ardy. Happy birthday darling!”&lt;br /&gt;Pemandangan di depanku sungguh-sungguh indah. Sambil memegang kue ulang tahun &lt;br /&gt;itu, keduanya ternyata hanya mengenakan BH dan celana dalam. Mei memakai BH dan &lt;br /&gt;celana dalam berwarna merah hati, sedangkan Yen mengenakan BH dan celana dalam &lt;br /&gt;hitam. Sangat kontras di kulit keduanya yang putih bersih. Buah dada keduanya &lt;br /&gt;menyembul dari BH kecil yang hanya menutupi sepertiga buah dada itu. Dalam &lt;br /&gt;temaram lampu yang redup kulit keduanya yang putih nampak sangat indah.&lt;br /&gt;Pusar di perut itu nampak menawan. Paha-paha padat itu menopang pinggul yang &lt;br /&gt;bundar dan digantungi oleh bongkah-bongkan pantat yang padat dan bulat. Celana &lt;br /&gt;dalam kecil yang menutupi pangkal paha menampilkan pemandangan yang sungguh &lt;br /&gt;menggairahkan. Kemaluanku mengeras dan berdenyut-denyut, tidak sadar menanti &lt;br /&gt;saat nikmat menyatu dengan kedua tubuh menawan itu.&lt;br /&gt;Setelah meletakkan kue dihiasi lilin bernyala itu di depanku, Mei memintaku &lt;br /&gt;berdiri. Lalu keduanya melepaskan pakaianku satu per satu. Bajuku, sepatuku, &lt;br /&gt;kaos kaki, celanaku, dan kaos dalamku. Yang tertinggal hanyalah celana dalamku &lt;br /&gt;yang sudah tidak mampu menyembunyikan kemaluanku yang sudah menggunung. Mei &lt;br /&gt;merapat ke sisi kiriku sedangkan Yen ke sisi kananku. Keduanya menggelayut ke &lt;br /&gt;dua lenganku sehingga tonjolan buah dada masing-masing menempel erat di &lt;br /&gt;lenganku.&lt;br /&gt;“Ayo, lilinnya ditiup dan kuenya dipotong”, kata Yen.&lt;br /&gt;Aku duduk diapiti oleh keduanya dengan tubuh menempel erat ke tubuhku. Kutiup &lt;br /&gt;lilin itu dan memotong kuenya. Potongan pertama kusuapkan ke mulut Mei dan yang &lt;br /&gt;kedua ke mulut Yen. Setelah toast anggur merah, mulailah aku menikmati hadiah &lt;br /&gt;ulang tahunku. Aku menyandar di sofa dan kubiarkan kedua wanita cantik itu &lt;br /&gt;melakukan apa yang mereka mau. Setelah masing-masing memperoleh ciuman di bibir, &lt;br /&gt;mulailah mereka beraksi.&lt;br /&gt;Mula-mula kedua puting susuku dikulum keduanya. Mei mengulum di sebelah kiri dan &lt;br /&gt;Yen di sebelah kanan. Lalu masing-masing mulai bergerak ke arahnya sendiri. Mei &lt;br /&gt;mulai menelusuri perutku dan mengarahkan jilatan-jilatannya ke bawah, sedangkan &lt;br /&gt;Yen mulai merambati dada dan leherku dengan jilatan dan hisapan. Aku &lt;br /&gt;menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang mulai menjalari seluruh tubuhku. &lt;br /&gt;Tanganku mulai aktif bergerilya. Buah dada keduanya menjadi sasaranku. Kucari &lt;br /&gt;pengait BH keduanya dan kulepaskan. Buah dada keduanya menyembul keluar bebas &lt;br /&gt;dengan indahnya. Tangan kiriku mencari-cari buah dada Mei dan meremasnya. &lt;br /&gt;Sejalan dengan itu kutarik Yen merapat. Dengan segera mulutku mengerkah buah &lt;br /&gt;dadanya yang ternyata lebih besar dari punyanya Mei.&lt;br /&gt;“Ooohh..” erang Yen. Ditekannya kepalaku sehingga wajahku terbenam di belahan &lt;br /&gt;dadanya yang montok itu.&lt;br /&gt;“Kita tuntaskan di kamar”, kata Mei tiba-tiba.&lt;br /&gt;Kurangkul kedua wanita itu pada pinggul masing-masing. Bertiga kami melangkah ke &lt;br /&gt;kamar tidur Mei di lantai atas hanya dengan mengenakan celana dalam &lt;br /&gt;masing-masing. Keduanya mengikik kecil merasakan kenakalan tanganku yang telah &lt;br /&gt;menyeruak ke balik celana dalam mereka masing-masing dan mengusap-usap pantat &lt;br /&gt;mereka. Rasanya sudah tidak sabar untuk menenggelamkan diri ke dalam pelukan &lt;br /&gt;keduanya secara bergiliran.&lt;br /&gt;Kamar tidur Mei harum dan romantis. Kamar ini telah puluhan kali menjadi saksi &lt;br /&gt;pertemuanku penuh birahi dengan Mei. Ranjang lebar ini menjadi saksi bisu &lt;br /&gt;jeritan-jeritan kenikmatan Mei dan erangan penuh kenikmatanku. Entah sudah &lt;br /&gt;berapa banyak spermaku tercecer di atas ranjang ini bercampur dengan cairan &lt;br /&gt;vagina Mei. Dan malam ini kamar ini sekali lagi menjadi saksi sejarah baru &lt;br /&gt;diriku, bersetubuh sekaligus dengan dua orang wanita Cina yang cantik, bahenol &lt;br /&gt;dan seksi.&lt;br /&gt;Mei dan Yen segera melepaskan celana masing-masing. Kuminta keduanya berdiri &lt;br /&gt;berjajar. Dalam cahaya lampu yang sengaja diredupkan kedua tubuh bugil itu &lt;br /&gt;nampak sangat indah. Keduanya berputar bak peragawati mempertontonkan tubuh &lt;br /&gt;telanjangnya. Keduanya lalu mendekatiku dan merebahkan tubuhku ke atas ranjang. &lt;br /&gt;Yen cepat meloroti celana dalamku. Kemaluanku yang besar dan panjang itu segera &lt;br /&gt;mencuat tegak di hadapannya.&lt;br /&gt;“Waoo.. Gedenya”, seru Yen tertahan.&lt;br /&gt;Jemari Yen yang lentik dan lembut itu segera menggenggam batang kemaluanku. &lt;br /&gt;Diremas-remas sebentar dan dielus-elus lembut. Aku mengerang-ngerang kenikmatan. &lt;br /&gt;Kuraih tubuh montok Mei dan buah dadanya segera menjadi bulan-bulanan mulutku. &lt;br /&gt;Sementara itu Yen mulai mempermainkan lidahnya di seputar pusarku dan semakin &lt;br /&gt;mendekati pangkal pahaku. Batang kemaluanku itu ada dalam genggamannya. Tangan &lt;br /&gt;kananku meraih buah dada Yen dan meremas-remasnya, sementara tangan kiriku &lt;br /&gt;merayap di sela-sela paha Mei. Jari-jariku merambah bulu-bulu kemaluannya yang &lt;br /&gt;lebat dan terbenam ke lubang basah kemaluannya.&lt;br /&gt;“Aaacch..”, erang Mei sambil menekan kepalaku lebih erat ke dadanya.&lt;br /&gt;Jari-jariku semakin keras mencengkeram buah dada Yen ketika lidahnya yang lincah &lt;br /&gt;semakin mendekati batang kemaluanku yang semakin keras dan berdenyut-denyut. &lt;br /&gt;Ketika lidahnya semakin lidahnya menyentuh batang kemaluanku aku merasakan &lt;br /&gt;sensasi yang hebat dan mulut mungilnya itu dengan segera menelan senjata &lt;br /&gt;kebanggaanku itu.&lt;br /&gt;Sementara itu Mei semakin menggelinjang dan kemaluannya semakin basah oleb &lt;br /&gt;banjir cairan vaginanya. Sambil terus mengulum kemaluanku Yen melepaskan &lt;br /&gt;tanganku yang meremas buah dadanya. Tangan itu dituntun ke arah selangkangannya. &lt;br /&gt;Tanganku segera menyapu kemaluannya yang berbulu lebat itu dan jemariku segera &lt;br /&gt;tenggelam ke lubang yang sudah basah oleh cairan vaginanya. Puas mengulum &lt;br /&gt;kemaluanku Yen minta buah dadanya dikulum. Segera Mei menggantikannya mengulum &lt;br /&gt;kemaluanku. Erangan dan lenguhan memenuhi ruangan. Tubuh Yen menggeletar hebat &lt;br /&gt;menandakan birahinya makin menggila butuh pelampiasan. Kupikir sudah saatnya &lt;br /&gt;menyetubuhi kedua wanita ini. Aku merebahkan keduanya hingga menelentang &lt;br /&gt;berjejer.&lt;br /&gt;“Yen duluan”, bisik Mei terengah-engah.&lt;br /&gt;Yen telentang dengan mata tertutup dan paha yang sudah terbuka lebar siap &lt;br /&gt;disetubuhi. Aku memegang kedua pahanya dan beringsut mendekat. Mei menempelkan &lt;br /&gt;kedua buah dadanya di punggungku dan lidahnya bergerilya di seputar leher dan &lt;br /&gt;kupingku. Kuarahkan batang kemaluanku yang sudah keras dan tegak. Kuusap-usap di &lt;br /&gt;bibir lubang kemaluan Yen. Ia mendesis dan mulai menggelinjang, tidak sabar &lt;br /&gt;menanti saat-saat penetrasi. Ujung kemaluanku perlahan-lahan mulai menguak bibir &lt;br /&gt;kemaluannya yang telah basah. Mulutnya terbuka dan terdengar keluhan kecil. Aku &lt;br /&gt;berhenti sejenak. Ia membuka matanya dan di saat itulah kusentakkan pantatku ke &lt;br /&gt;depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaa..”, Yen menjerit.&lt;br /&gt;Kemaluanku yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam lubang kemaluannya, &lt;br /&gt;lancar seperti di jalan tol. Yen menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar &lt;br /&gt;kemaluanku dapat menyuruk lebih dalam. Aku berhenti dan membiarkan ia &lt;br /&gt;menikmatinya. Nikmat rasanya kemaluanku digigit-gigit oleh dinding vaginanya. Ia &lt;br /&gt;mendesis-desis dan mengerang-erang nikmat. Lalu perlahan tetapi pasti aku mulai &lt;br /&gt;menggerakkan pantatku maju mundur. Erangan Yen semakin keras. Buah dadanya &lt;br /&gt;bergoncang-goncang hebat seirama dengan genjotanku. Rambutnya yang panjang &lt;br /&gt;terserak-serak, membuat ekspresi wajahnya yang menahankan kenikmatan itu menjadi &lt;br /&gt;sangat menarik.&lt;br /&gt;Aku mengatur ritme genjotanku agar ia dapat menikmatinya. Aku mempercepat &lt;br /&gt;gerakan pantatku. Kenikmatan yang semakin menggila membuat ia mencengkam kedua &lt;br /&gt;lenganku. Ketika ia semakin menjerit-jerit, aku memperlambat bahkan menghentikan &lt;br /&gt;genjotanku. Ia mendesah-desah kecewa. Di saat ia masih mendesah-desah, kembali &lt;br /&gt;aku menyentakkan pantatku dan mengocok dengan cepat. Kembali jeritannya memenuhi &lt;br /&gt;ruangan itu.&lt;br /&gt;“Cepat.. Cepat..” gumamnya tidak karu-karuan, “Aku mau keluar..”&lt;br /&gt;Kupercepat tempo genjotanku. Tiba-tiba ia menarik tubuhku hingga rebah &lt;br /&gt;sepenuhnya di atas tubuhnya. Kubenamkan wajahku di lehernya mengiringi jeritan &lt;br /&gt;kenikmatan yang dilepaskannya.&lt;br /&gt;“Aaahh..”, jeritnya.&lt;br /&gt;Tubuh montoknya itu bergetar hebat. Pantatnya dihentak-hentakkannya ke atas. &lt;br /&gt;Pahanya terangkat dan membelit pantatku sehingga menyatu sepenuhnya. Aku diam &lt;br /&gt;memberikan kesempatan kepadanya untuk menikmati orgasmenya. Tubuhnya &lt;br /&gt;bergetar-getar diiringi desah nafas terengah-engah. Rasanya dunia ini dilupakan &lt;br /&gt;kalau tidak karena desahan Mei yang berbaring di sebelah kami. Mei ternyata &lt;br /&gt;sedang asyik mempermainkan vaginanya sendiri. Kurasa ini saat yang tepat untuk &lt;br /&gt;menyetubuhi Mei. Apalagi aku belum orgasme sehingga kemaluanku masih tegak.&lt;br /&gt;“Sekarang giliran Mei”, bisikku di telinganya.&lt;br /&gt;Yen mengangguk pelan dan melepaskan pelukannya. Ia menelentang seperti kehabisan &lt;br /&gt;tenaga di sebelah Mei. Aku beralih ke Mei. Kutarik tangannya. Ia segera membuka &lt;br /&gt;pahanya lebar-lebar. Kemaluannya sudah basah dan merekah, rupanya sudah tak &lt;br /&gt;sabar menunggu gilirannya digenjot. Aku merayap mendekatinya. Kemaluanku masih &lt;br /&gt;basah dan berkilat-kilat oleh cairan vagina Yen. Kuarahkan ujung kemaluanku ke &lt;br /&gt;lubang kemaluannya.&lt;br /&gt;Mei memejamkan matanya sambil memegang kain seprei yang sudah acak-acakan itu, &lt;br /&gt;menanti saat-saat sensasional penetrasi batang kemaluanku. Ujung kemaluanku &lt;br /&gt;menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak di antar bibir-bibir itu mencari jalan &lt;br /&gt;masuk. Aku menurunkan pantatku sedikit dan kurasakan kemaluanku mulai memasuki &lt;br /&gt;kemaluannya. Mei mulai mendesah-desah. Aku menariknya keluar lagi. Ia mendesah &lt;br /&gt;lagi seperti kecewa. Di saat itu aku menyurukkan kemaluanku ke dalam lobang &lt;br /&gt;surgawinya.&lt;br /&gt;“Aaa..” Mei menjerit keras.&lt;br /&gt;Matanya membelalak. Kemaluanku kutancapkan dalam-dalam di lubang kemaluannya. &lt;br /&gt;Setelah jeritannya berubah menjadi erangan, aku mulai menggerak-gerakkan &lt;br /&gt;pantatku maju mundur. Kususupkan tanganku ke bawah lengannya dan merangkul erat &lt;br /&gt;bahunya. Mulutku kubenamkan ke leherya yang jenjang. Ia melingkarkan tangannya &lt;br /&gt;ke punggungku dan memelukku erat-erat. Pantatnya yang bundar besar itu &lt;br /&gt;diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Mulutnya terus menerus mengeluarkan &lt;br /&gt;desisan, erangan dan jeritan, mengiringi sodokan-sodokan kemaluanku yang semakin &lt;br /&gt;menggila. Jepitan dinding vaginanya terasa sangat nikmat.&lt;br /&gt;“Lebih keras.. Lebih keras lagi..” erang Mei.&lt;br /&gt;Aku memompanya semakin bersemangat. Peluh mengucur dari seluruh tubuhku, &lt;br /&gt;bercampur dengan keringatnya. Aku mengangkat sedikit dadaku. Mulutku segera &lt;br /&gt;menerkam buah dada kirinya yang berguncang-guncang itu. Ia mengerang dan menekan &lt;br /&gt;kepalaku ke dadanya. Dari buah dada kiri aku beralih ke kanan. Ia menceracau &lt;br /&gt;semakin tak menentu. Pahanya membuka dan menutup. Kecipak cairan vaginanya &lt;br /&gt;semakin memperbesar nafsuku.&lt;br /&gt;“Aku mau keluar”, katanya terputus-putus.&lt;br /&gt;“Aku juga”, sahutku merasakan desakan magma spermaku yang akan memancar.&lt;br /&gt;“Di dalam saja, sayang”, bisiknya.&lt;br /&gt;Karena ingin mencapai orgasme bersama-sama, aku meningkatkan kecepatan genjotan &lt;br /&gt;kemaluanku. Mei menjerit-jerit semakin keras. Aku menggeram dan menggigit &lt;br /&gt;lehernya. Ia merangkulku erat-erat. Kuku-kukunya terasa menembus daging &lt;br /&gt;punggungku. Akhirnya oleh satu hentakan keras aku membenamkan kemaluanku &lt;br /&gt;dalam-dalam diiringi lolongan panjang Mei membelah udara malam. Pantatnya &lt;br /&gt;dihentak-hentakkan ke atas. Pahanya terangkat membelit pinggangku seakan memeras &lt;br /&gt;setiap tetes spermaku menyembur ke dalam rahimnya. Kurasakan banjir lahar &lt;br /&gt;spermaku deras memancar. Aku letih, Mei juga.&lt;br /&gt;Sekitar sepuluh menit aku diam membiarkan kenikmatan itu mengendur &lt;br /&gt;perlahan-lahan. Lalu aku melepaskan diriku dari pelukan Mei dan terhempas ke &lt;br /&gt;atas kasur empuk spring-bed Mei, tepat di antara Mei dan Yen. Kedua wanita &lt;br /&gt;montok itu seperti dikomando merapat ke arahku. Buah dada keduanya menyentuh &lt;br /&gt;dadaku dan paha kiri Mei serta paha kanan Yen sama-sama membelit pahaku. &lt;br /&gt;Keduanya menciumku dengan lembut.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Kho”, kata Yen. Aku hanya mengangguk-angguk kecil.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat beristirahat, kami beralih ke kamar mandi dan membersihkan &lt;br /&gt;tubuh. Kedua wanita itu memandikanku. Mereka menyirami tubuhku dengan air hangat &lt;br /&gt;dan menggosokkan body foam. Yang menarik, gosokan itu tidak dibuat dengan tangan &lt;br /&gt;tetapi dengan buah dada masing-masing. Acara mandi erotik ini jelas memancing &lt;br /&gt;nafsu birahiku. Perlahan-lahan kemaluanku mulai bangun lagi. Uh.. Sungguh acara &lt;br /&gt;mandi malam yang tak terlupakan.&lt;br /&gt;“Wuii.. Si ujang sudah bangun nih”, goda Mei sambil mengelus kemaluanku, &lt;br /&gt;“Sesudah ini kita akan mulai ronde kedua”, lanjutnya.&lt;br /&gt;Acara mandi selesai dan kami kembali ke ruang tengah lantai bawah. Bertiga kami &lt;br /&gt;tidak mengenakan sehelai benangpun. Sepenuhnya bugil. Kupandangi dua wanita Cina &lt;br /&gt;yang menawan ini. Mereka lagi menuang anggur. Yen membawa dua gelas, satu &lt;br /&gt;diserahkan kepadaku.&lt;br /&gt;“Untuk si jantan yang berulang tahun”, kata Mei, “Semoga tetap kuat perkasa,”&lt;br /&gt;“Untuk Mei dan Yen”, sahutku, “Semoga tetap seksi dan menawan,”&lt;br /&gt;“Untuk kita bertiga”, kata Yen, “Semoga jadi group seks yang kompak,”&lt;br /&gt;Gila! Dunia apa yang sedang aku masuki sekarang ini? Rasanya seperti bermimpi, &lt;br /&gt;tetapi ini bukan mimpi. Ini sungguh kenyataan. Mengapa menolak untuk menikmati &lt;br /&gt;semua ini. Kedua wanita itu kini merapat ke tubuhku dan memulai aksinya.&lt;br /&gt;“Sekarang kita main di sini saja”, kata Mei.&lt;br /&gt;Aku dan Yen tidak menjawab. Setuju saja. Apa sih salahnya bersetubuh di atas &lt;br /&gt;karpet lembut ruang tengah ini? Keduanya segera tenggelam dalam aksinya &lt;br /&gt;masing-masing. Rabaan dan elusan disertai jilatan dan kecupan menjalari seluruh &lt;br /&gt;tubuhku, mengiringi kedua tanganku yang bebas bergerilya di setiap lekuk tubuh &lt;br /&gt;keduanya. Pada saat kedua tanganku melingkar ke pantat keduanya dan merasakan &lt;br /&gt;betapa montok dan padat pantat keduanya, timbul ideku untuk menyetubuhi keduanya &lt;br /&gt;dalam doggy-style. Kemaluanku dengan segera tegang kembali oleh ide menarik ini.&lt;br /&gt;“Ayo, Mei dan Yen”, kataku, “Sekarang kalian berlutut di lantai. Aku mau &lt;br /&gt;doggy-style, “&lt;br /&gt;Tanpa berkata-kata kedua wanita itu saling memandang dan tertawa mengikik. Lalu &lt;br /&gt;keduanya segera berlutut membelakangiku. Keduanya saling bertaut lengan, biar &lt;br /&gt;bisa saling membagi kenikmatan mungkin. Pemandangan di depanku sungguh indah. &lt;br /&gt;Aku memandang kedua bokong yang besar, putih, mulus dan padat itu. Di antara &lt;br /&gt;paha itu nampak gundukan rambut kemaluan masing-masing yang lebat dan hitam. Di &lt;br /&gt;sela-sela rambut itu nampak bibir-bibir kemaluan yang merekah merah, siap untuk &lt;br /&gt;digenjot bergantian.&lt;br /&gt;“Ayo Kho”, kata Yen, “sudah nggak sabar nih!”&lt;br /&gt;Aku mendekati dan mengelus-elus pantat keduanya. Ketika jari-jariku mulai &lt;br /&gt;merayapi bibir kemaluan, keduanya mendesis serentak. Jari-jariku menyeruak ke &lt;br /&gt;antara bibir-bibir vagina itu dan mempermainkan kedua klitoris. Keduanya &lt;br /&gt;serentak menjerit kecil dan mendongak. Sungguh sensasi yang indah. Kemaluanku &lt;br /&gt;yang sudah sekeras senapan itu kuarahkan ke bokong Mei. Tanpa kesulitan aku &lt;br /&gt;menembus kemaluannya yang telah basah licin itu.&lt;br /&gt;Beberapa menit bermain dengan Mei, aku lalu beralih ke Yen. Ia pun menjerit &lt;br /&gt;kecil ketika kemaluanku menerobosi lubang surgawinya. Kukocok-kocok perlahan &lt;br /&gt;lalu semakin cepat. Ia mengerang semakin keras tak terkendali. Beberapa menit &lt;br /&gt;aku pun beralih ke Mei. Begitu seterusnya, sehingga kedua wanita itu semakin &lt;br /&gt;penasaran.&lt;br /&gt;Malam semakin larut, namun untuk kami bertiga waktu tidak lagi penting. Yang &lt;br /&gt;penting sekarang ialah bagaimana meraih kenikmatan bersama-sama. Aku mulai &lt;br /&gt;merasa letih juga. Maka ingin kuakhiri dulu ronde kedua ini. Aku memegang bokong &lt;br /&gt;Mei dan menyodoknya keras-keras. Ia menjerit keras dan terus mengerang-erang tak &lt;br /&gt;karuan ketika kemaluanku bergerak lincah keluar masuk kemaluannya. Ketika &lt;br /&gt;kulihat ia mencengkram keras karpet aku tahu ia akan keluar. Aku mempercepat &lt;br /&gt;gerakanku dan menghentak keras. Mei menjerit keras dan rebah ke atas karpet. Aku &lt;br /&gt;mengikutinya dan beberapa saat menindihnya.&lt;br /&gt;Melepaskan diri dari Mei aku beralih ke Yen yang setia menanti. Dengan cepat aku &lt;br /&gt;menghujamkan senjata kebanggaanku ke dalam kemaluannya. Seperti Mei ia pun &lt;br /&gt;menjerit keras. Rambutnya yang panjang itu kujambak sehingga ia mendongak ke &lt;br /&gt;atas sambil terus mengerang. Bunyi pantatnya yang beradu dengan pahaku seakan &lt;br /&gt;menjadi irama kenikmatan yang tak ada duanya. Aku pun merasa akan segera &lt;br /&gt;orgasme. Rambutnya semakin keras kutarik sehingga ia semakin mendongak. &lt;br /&gt;Pantatnya melengkung ke atas dan buah dadanya yang besar itu berguncang-guncang, &lt;br /&gt;seirama dengan gerakan pantatku.&lt;br /&gt;“Aaauu, Kho” jeritnya, “Aku mau keluar!”&lt;br /&gt;“Aku juga”, balasku.&lt;br /&gt;Serentak dengan jambakan rambutnya, mengiringi jeritan panjangnya, aku &lt;br /&gt;menghentakkan pantatku keras-keras. Ia rubuh ke atas karpet ditindih olehku. Di &lt;br /&gt;saat itu kurasakan deras spermaku memancar ke dalam rahimnya. Aku letih, juga &lt;br /&gt;Mei dan Yen. Aku diam membatu di atas pantat Yen yang montok. Mei merangkak &lt;br /&gt;mendekat dan mengelus-elus kepalaku.&lt;br /&gt;Aku bangun. Yen juga. Sempoyongan ia berjalan dan duduk di sofa. Kakinya terbuka &lt;br /&gt;lebar dan dapat kulihat leleran spermaku menetes dari vaginanya. Aku &lt;br /&gt;menghempaskan tubuhku di samping kirinya. Kurangkul bahunya. Mei mendekat dan &lt;br /&gt;duduk di sebelah kiriku. Kedua tanganku merangkul punggung keduanya dan &lt;br /&gt;menggapai buah dada kanan Yen dan buah dada kiri Mei. Kugenggam kedua buah dada &lt;br /&gt;itu erat-erat.&lt;br /&gt;“Terima kasih Mei, terima kasih Yen”, kataku, “Terima kasih untuk kado ulang &lt;br /&gt;tahunya, “&lt;br /&gt;Keduanya menatapku, mengangguk dan tertawa gelak-gelak.&lt;br /&gt;“Tidak pernah terpikir dalam hidupku dapat mengumbar nafsu dengan dua wanita &lt;br /&gt;Cina yang cantik menawan, bahenol, montok dan seksi”, kataku.&lt;br /&gt;“Kho tak usah takut”, sahut Mei, “Kami akan siap untuk Kho Ardy kapan saja,”&lt;br /&gt;“Untuk lelaki sekuat Kho Ardy, Yen dan Mei akan siap selalu”, timpal Yen.&lt;br /&gt;Sejak peristiwa hadiah ulang tahun itu, aku jadi selalu punya wanita yang siap &lt;br /&gt;melayani nafsuku. Kalau Mei lagi menstruasi, Yen pasti siap untukku. Begitu juga &lt;br /&gt;sebaliknya. Namun kami juga sering berkumpul bertiga untuk saling berbagi &lt;br /&gt;kenikmatan.&lt;br /&gt;Sekali di rumah Mei, larut malam setelah menyetubuhi keduanya secara bergiliran, &lt;br /&gt;iseng aku menggoda keduanya.&lt;br /&gt;“Aku sudah punya dua wanita Cina yang cantik dan seksi”, kataku, “Kapan dua ini &lt;br /&gt;akan bertambah?”&lt;br /&gt;“Kho Ardy pingin tambah lagi”, kata Yen di luar dugaanku, “Mudah, Kho. Akan Yen &lt;br /&gt;atur. Mau tambah satu atau dua lagi, terserah Kho Ardy aja,”&lt;br /&gt;Aku terkejut dan menoleh ke Mei.&lt;br /&gt;“Nggak usah khawatir”, lanjut Mei, “Akan ada saatnya hadiah baru lagi. Tapi &lt;br /&gt;harus hemat-hemat tenaganya. Soalnya wanita Cina itu nafsunya gede-gede. Haha..”&lt;br /&gt;Aku terkejut tetapi juga berbangga. Gimana ya rasanya kalau sekali waktu &lt;br /&gt;dikerubuti empat wanita cinta yang cantik dan bahenol seperti Mei dan Yen?&lt;br /&gt;“Tapi”, kataku terus menggoda, “Kalian nggak nyesal disetubuhi lelaki bukan &lt;br /&gt;Cina, apalagi yang berasal dari KTI sepertiku?”&lt;br /&gt;“Ah”, renggut Mei manja, “Tentu aja tidak. Hitung-hitung mendukung program &lt;br /&gt;pemerintah yakni pembauran,”&lt;br /&gt;“Pembauran ada macam-macam, Kho”, lanjut Yen, “Ada yang berbaur dalam pekerjaan, &lt;br /&gt;rumah, profesi dan pergaulan. Untuk kita bertiga, yah berbaur kelamin aja,”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/805162924497030679-4272840305642090900?l=bluemesum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bluemesum.blogspot.com/feeds/4272840305642090900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=805162924497030679&amp;postID=4272840305642090900' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4272840305642090900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/805162924497030679/posts/default/4272840305642090900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bluemesum.blogspot.com/2007/05/hadiah-ultah.html' title='HADIAH ULTAH'/><author><name>amara</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel
