Monday, April 30, 2007

SALON ESEK ESEK

Cerita ini berawal dari ajakan seorang temanku untuk
potong rambut di sebuah salon yang letaknya di sekitar
Universitas **** (edited) Jakarta pada awal bulan
Februari lalu. Maafkan, andai aku tidak dapat menulis
dengan baik.

Aku baru tahu bahwa sudah rahasia umum semua wanita yang
bekerja di salon itu bisa diajak kencan. Pada hari Sabtu
yang telah kami sepakati dengan teman dia, dan kami
janjian ketemu di salon itu jam 13:00. Aku pun meluncur
ke salon itu untuk potong rambut, sejenak aku melirik
jam tangan, terlihat jam satu kurang beberapa menit saja
dan kuputuskan untuk masuk. Seperti halnya salon-salon
biasa, suasana salon ini normal tidak ada yang luar
biasa dari tata ruangnya serta kegiatannya. Pada pertama
kali aku masuk, aku langsung menuju ke tempat meja
reception dan di sana aku mengatakan niat untuk potong
rambut. Dikatakan oleh wanita cantik yang duduk di balik
meja reception agar aku menunggu sebentar sebab sedang
sibuk semua. Sambil menunggu, aku mencoba untuk
melihat-lihat sekitar siapa tahu ada temanku, tapi tidak
terlihat ada temanku di antara semua orang tersebut.
Mungkin dia belum datang, pikirku. Kuakui bahwa hampir
semua wanita yang bekerja di salon ini cantik-cantik dan
putih dengan postur tubuh yang proporsional dan aduhai.
Kalau boleh memperkirakan umur mereka, mereka berumur
sekitar 20-30 tahun. Aku jadi teringat dengan omongan
temanku, Hanni, bahwa mereka bisa diajak kencan. Namun
aku sendiri masih ragu sebab salon ini benar-benar
seperti salon pada umumnya.

Setelah beberapa menit menunggu, aku ditegur oleh
reception bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil
menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Aku pun
menuju ke arah yang ditentukan. Beberapa detik kemudian
seorang wanita muda nan cantik menugur sambil memegang
rambutku.
"Mas, rambutnya mau dimodel apa?" katanya sambil
melihatku lewat cermin dan tetap memegang rambutku yang
sudah agak panjang.
"Mmm... dirapi'in aja Mbak!" kataku pendek.
Lalu seperti halnya di tempat cukur rambut pada umumnya,
aku pun diberi penutup pada seluruh tubuhku untuk
menghindari potongan-potongan rambut. Beberapa menit
pertama begitu kaku dan dingin. Aku yang diam saja dan
dia sibuk mulai motong rambutku. Sangat tidak enak
rasanya dan aku mencoba untuk mencairkan suasana.
"Mbak... udah lama kerja di sini?" tanyaku.
"Kira-kira sudah enam bulan, Mas... ngomong-ngomong situ
baru sekali ya potong di sini?" sambungnya sambil tetap
memotong rambut.
"Iya... kemarenan saya lewat jalan ini, terus kok ada
salon, ya udah dech, saya potong di sini. Ini juga
janjian sama temen, tapi mana ya kok belum datang?"
jawabku sedikit berbohong.
"Ooo.." jawabnya singkat dan berkesan cuek.
"Hei..." terdengar suara temanku sambil menepuk pundak.
"Eh... elo baru dateng?" tanyaku.
"Iya nih... tadi di bawah jembatan macet, mmm... gue
potong dulu yach.." jawabnya sambil berlalu.

Ngobrol punya ngobrol, akhirnya kami dekat, dan
belakangan aku tahu Stella namanya, 22 tahun, dia kost
di daerah situ juga, dia orang Manado, dia enam
bersaudara dan dia anak ketiga. Kami pun sepakat untuk
janjian ketemu di luar pada hari Senin. Untuk pembaca
ketahui setiap hari Senin, salon ini tutup. Setelah aku
selesai, sambil memberikan tips sekedarnya, aku
menanyakan apakah ia mau aku ajak makan. Dia menyanggupi
dan ia menulis pada selembar secarik kertas kecil nomor
teleponnya. Sambil menunggu Hanni, aku ngobrol dengan
Stella, aku sempat diperkenalkan oleh beberapa temannya
yang bernama Susi, Icha dan Yana. Ketiganya
cantik-cantik tapi Stella tidak kalah cantik dengan
mereka baik itu parasnya juga tubuhnya. Susi, ia
berambut agak panjang dan pada beberapa bagian rambutnya
dicat kuning. Icha, ia agak pendek, tatapannya agak
misterius, dadanya sebesar Stella namun karena postur
tubuhnya yang agak pendek sehingga payudaranya membuat
ngiler semua mata laki-laki untuk menikmatinya.
Sedangkan Yana, ia tampak sangat merawat tubuhnya, ia
begitu mempesona, lingkar pinggangnya yang sangat ideal
dengan tinggi badannya, pantatnya dan dadanya-pun sangat
proporsional.

Akhirnya kami ketemu pada hari Senin dan di tempat yang
sudah disepakati. Setelah makan siang, kami nonton
bioskop, filmnya Jennifer Lopez, The Cell. Wah, cakep
sekali ini orang, batinku mengagumi kecantikan Stella
yang waktu itu mengenakan kaos ketat berwarna biru muda
ditambah dengan rompi yang dikancingkan dan dipadu
dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami
serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya
semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan. Stella
tampak kaget, terlihat dari bergetarnya tubuh dia. Entah
ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan
kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan
sesekali meremasnya dan ia diam saja.

Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya,
di tengah jalan Stella memohon kepadaku untuk tidak
langsung pulang tapi putar-putar dulu. Kukabulkan
permintaannya karena aku sendiri sedang bebas, dan
kuputuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta.
Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga
akhirnya Stella mengatakan,
"Mmm... Will, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang
semua ini terlalu cepat, Will... aku suka sama kamu..."
katanya pelan tapi pasti.
Seperti disambar petir mendengar kata-katanya, dan
secara reflek aku menengok ke kiri melihat dia,
tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan.
Dia menatap tajam.
"Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan,
Tel?" tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.
"Aku nggak tau kenapa bahwa aku merasa kamu nggak kayak
laki-laki yang pernah aku kenal, kamu baik, dan kayaknya
perhatian and care. Aku nggak mau kalo setelah aku
pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Will. Aku nggak
mau kehilangan kamu," jawabnya panjang lebar.
"Mmm... kalo aku boleh jujur sich, aku juga suka sama
kamu, Tel... tapi kamu mau khan kalo kita nggak pacaran
dulu?" tegasku.
"Ok, kalo itu mau kamu, mmm... boleh nggak aku 'sun'
kamu, bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku
yang barusan?" tanyanya.

Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas
jadi sesak. Edan ini anak, seperti benar-benar! Sekali
lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat
dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku
tajam dan serius sekali.
"Sekarang?" tanyaku sambil menatap matanya, dan dia
menganguk pelan.
"OK, kamu boleh 'sun' aku," jawabku sambil kembali ke
jalanan.
Beberapa detik kemudian dia beranjak dari tempat
duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah "sun"
di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku
sambil memeluk. Lama sekali ia mencium dan
ditempelkannya payudaranya di lengan kiriku. Ooh, empuk
sekali, mantap!Payudaranya yang cukup menantang itu
sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku
jadi terangsang nih. Secara otomatis batang kemaluanku
pun mengeras. Dengan pelan sekali, Stella berbisik,
"Will, aku suka sama kamu," dan ia kembali mencium
pipiku dan tetap menekan payudaranya pada lengan kiriku.
Konsentrasiku buyar, sepertinya aku benar-benar sudah
terangsang dengan perlakuan Stella, dan beberapa
kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca
filmku yang hanya 50%. "Kamu terangsang ya, Will?"
tanyanya pelan dan agak lirih. Aku tidak menjawab.
Tangan kirinya mulai mengelus-elus badanku dan mengarah
ke bawah. Aku sudah benar-benar terangsang. Sekali lagi
Stella berbisik, "Will, aku tau kamu terangsang, boleh
nggak aku lihat punyamu? punya kamu besar yach!" aku
mengangguk. Dibukalah celana panjangku dengan tangan
kirinya, seperti ia agak kesulitan pada saat ingin
membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu
tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu
aku kembali memegang setir mobil.

Dielus-elus batang kemaluanku yang sudah keras dari
luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya
ke dalam dan digenggamlah kemaluanku. "Ooh..." desahku
pelan. Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak. Pertama,
ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah.
Ia cium leherku, dan ia sempat berhenti di bagian
dadaku, mungkin ia menikmati aroma parfum BULGARI-ku. Ia
makin turun dan turun ke bawah. Beberapa kali Stella
melakukan gerakan mengocok kemaluanku. Pertama-tama
dijilatinya pangkal batang kemaluanku lalu merambat naik
ke atas. Ujung lidahnya kini berada pada bagian biji
kejantananku. Salah satu tangannya menyelinap di antara
belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya.
Stella melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke
atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam
beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian
tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua
tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil.
Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi. Pelan-pelan
setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak
pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali
kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap
kali itu pula kulihat Stella masih tetap menjilati
kemaluanku dengan penuh nafsu.

Sesaat Stella kulihat melepaskan tangannya dari
kemaluanku, ia menyibakkan rambutnya ke samping tiga
jarinya kembali menarik bagian bawah batang kemaluanku
dengan sedikit memiringkan kepalanya. Stella kemudian
mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku.
Ia mulai merekahkan kedua bibirnya, dengan berhati-hati
ia memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya tanpa
tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian bergerak
perlahan-lahan semakin jauh hingga di bagian tengah
batang kemaluanku. Saat itulah kurasakan kepala
kejantananku menyentuh bagian lidahnya. Tubuhku bergetar
sesaat dan terdengar suara khas dari mulut Stella. Kedua
bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan
yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku.
Perlahan-lahan kemudian kepala Stella mulai naik.
Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik
turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga
ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala,
kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif. Begitu
sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan
jilatan Stella begitu merasuk dan menggelitik seluruh
urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya
dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah
ke bawah. Kudapatkan payudara sebelah kanan. Kubuka
telapak tanganku mengikuti bentuk payudaranya yang
bulat. Kuremas dengan lembut. Kubuka satu persatu
kancing rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan
mengikuti bentuk payudaranya. Sambil tetap mengulum,
tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik
baju ketatnya dari selipan celana panjangnya.
Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik
baju ketatnya, aku meremas-remas payudaranya yang masih
terbungkus BH. Kuremas satu persatu payudaranya sambil
mendesah menikmati kuluman pada kemaluanku.

Kuremas agak kuat dan Stella pun berhenti mengulum
sekian detik lamanya. Kuelus-elus kulit dadanya yang
agak menyembul dari BH-nya dengan sesekali menyelipkan
salah satu jariku di antara payudaranya yang kenyal.
"Agh..." desahku menikmati kuluman Stella yang makin
cepat. Aku turunkan BH-nya yang menutupi payudara
sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah
mengeras. Kupilin dengan lembut. "Ooh... esst..."
desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat
melepaskan bibirnya dari kemaluanku. Menjilat,
menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu
seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke
bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke
belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan
mataku. Stella begitu luar biasa melakukannya. Tak
sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit
kejantananku. Gila, belum pernah aku dihisap seperti
ini, pikirku. Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah
ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang
kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku
yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba
payudaranya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya
menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang
kemaluanku, dan ia terlihat tersenyum kepadaku. "Kamu
luar biasa, Tel," bisikku sambil menggeleng-gelengkan
kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya. Stella
tersenyum manis dan berkesan manja. "Eh, bisa keluar aku
kalo kamu kayak gini terus," bisikku lagi merasakan
genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada
kemaluanku. Stella tersenyum. "Kalo kamu udah nggak
pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan,"
jawabnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya keluar dan
mengenai ujung batang kemaluanku. Rupanya ia mengerti
aku sedang berjuang untuk menahan ejakulasiku.

"Aaghhh..." desahku agak keras menahan rasa ngilu. Bukan
kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak
karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik
turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku,
terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya,
terkadang ia melepaskan kuluman untuk mengambil nafas
sejenak lalu melanjutkannya lagi. Semakin lama
gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal
untuk menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku dari
payudaranya. Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kancing
celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya
terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di
balik celana dalamnya. Aku dapat rasakan rambut
kemaluannya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam
hati. Kuteruskan agak ke bawah. Stella mengubah
posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu
sisi pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua
kakinya. Dengan mudah aku dapat menyentuh kemaluannya.
Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas
kemaluannya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Ugh,
nikmat sekali nih rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan
telunjukku ke dalam lubang kemaluannya. Aku jelajahi
setiap milimeter ruangan di dalam kemaluan Stella. Aku
temukan sebuah kelentit di dalamnya. Kumainkan klitoris
itu dengan telunjukku. Ugh, pegal juga rasanya tangan
kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku
menikmati setiap kuluman Stella. Rasanya sudah beberapa
tetes spermaku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk
kepayang olehnya.

Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari
telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan
kedua jariku, Stella tampak melengkuh dan mendesah
pelan. Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan
kedua jariku di lubang kemaluannya dan Stella beberapa
menghentikan kuluman pada batang kemaluanku sambil tetap
memegang batang kemaluanku. Entah sudah berapa orang
yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau
kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli.
Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku
sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu. Kembali
Stella menjilat, menghisap dan mengulum batang
kemaluanku dan entah sudah berapa lama kami melakukan
ini. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang
dikerjakan Stella pada kemaluanku. Kali ini Stella
melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya
hingga mengenai ujung kepala kemaluanku lagi. Ia
memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang
kemaluanku. Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan.
Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada
sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kemaluanku
di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam.
"Ooh.. Tel... enakk..." desahku sambil melepaskan tangan
kiriku dari lubang kemaluannya. Kupegang kepalanya
mengikuti gerakan naik turun.

"Stella, aku sudah nggak tahannn..." kataku agak lirih
menahan ejakulasi. Namun gerakan Stella makin cepat dan
beberapa kali ia buka matanya namun tetap mengulum dan
terdengar suara-suara dari dalam mulutnya.
"Aaaagghhh..." desahku keras diiringi dengan keluarnya
sperma dari dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya.
Keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh
pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang
keluar dari dalam kemaluanku hingga akhirnya habis.
Stella tetap menjilati kemaluanku dengan lidahnya. Dapat
kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala
kemaluanku. Ugh, nikmat sekali rasanya. Setelah
membersihkan seluruh spermaku dengan lidahnya, Stella
bergerak ke atas. Kulihat dia, tampak ada beberapa
spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi
kirinya. Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku,
perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang
kemaluanku yang sudah lemas, Stella beranjak ke atas
melumat bibirku, masih terasa spermaku. Sekian detik
kami bercumbu dan aku memejamkan mata. Akhirnya ia
merapikan posisinya, ia duduk dan merapikan pakaiannya.
Aku pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan
celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku.

Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Stella dan
pada saat itu pula kami mengikat tali kasih. Awal bulan
Maret lalu Stella kembali dari Manado setelah 2 minggu
ia berada di sana dan ia tidak kembali lagi bekerja di
salon itu. Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat
di daerah Grogol, sekarang ia diterima sebagai operator
di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi
handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang
bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku
harus meninggalkan kostku. Setelah kami hidup seatap,
Stella mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia
bekerja di salon itu, ia pernah melayani pelanggannya
dan ia mengatakan bahwa semua pekerja yang bekerja di
salon itu juga pekerja seks. Stella tidak mengetahui
bagaimana asal mulanya. Stella sendiri tidak tahu apakah
salon merupakan sebuah kedok atau seks adalah sebuah
tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak keluar
salah satu karyawati di situ, seseorang harus membayar
di muka sebesar Rp 500.000. Rasanya Jakarta hanya milik
kami berdua, tiap malam setelah mandi sepulang dari
kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan
seks. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dan
entah kapan kami akan resmi menikah.

Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui
dan telah kami lalui bersama. Aku sungguh tidak peduli
dengan asal-usulnya pekerjaan Stella sebab makin hari
aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan mataku
seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.

No comments: